cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2020): December 2020" : 7 Documents clear
Strengthening Islamic Environmental Awareness through Exploring Poetry as a Learning Resource in Social Studies Mutiani Mutiani; Rusma Noortyani; Tetep Tetep; Jumriani Jumriani; Triani Widyanti
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.059 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3387

Abstract

This article aims to describe how an anthropocentric perspective can lead to an ethical solution to resolving the ecological crisis. The ecological crisis should be seen as a misrepresentation of the role of human beings in exceeding the limits of environmental exploitation as mandated in Islam. Therefore, education should be used in offering solutions and innovations in the various scholarly disciplines, such as social studies. One innovation is the use of poetry as a learning resource for social studies. Poetry exploration is devoted to utilizing the value of local poetry. A qualitative approach is used to describe a value-based social studies learning concept. This study focuses on the poem of Huma Yang Perih, which describes agricultural conditions in South Kalimantan that have begun to be abandoned by farmers. Even though the poem was published in 1978, this condition has persisted to this day. Through Huma Yang Perih, it is hoped that we can reflect on the importance of human continuity at all times, so that humanity no longer underestimate the changing lifestyles rural people and their migration to cities. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pandangan antroposentrisme sebagai cara etis untuk menuntaskan krisis ekologi. Krisis ekologi, patut dipandang sebagai bentuk kesalahan peran manusia dalam melampaui batas eskploitasi lingkungan sebagaimana diamanatkan dalam Islam. Oleh karena itu, diperlukan ruang edukasi sebagai satu solusi dan inovasi di bidang pembelajaran, seperti IPS. Satu inovasi yang dimaksudkan adalah pemanfaatan puisi sebagai sumber belajar IPS. Eksplorasi puisi dikhususkan dengan pemanfaatan nilai dari puisi lokal. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan makna yang relevan dengan konsep pembelajaran IPS berbasis nilai. Hasil penelitian menjelaskan puisi Huma Yang Perih yang menggambarkan kondisi pertanian di Kalimantan Selatan yang sudah mulai ditinggalkan petani. Meski puisi tersebut terbit tahun 1978, kondisi tersebut tetap bertahan hingga saat ini. Melalui Huma Yang Perih, diharapkan kita bisa merefleksikan betapa pentingnya kesinambungan manusia setiap saat. Sehingga masyarakat tidak lagi menganggap remeh untuk mengubah gaya hidup pedesaan dan bermigrasi ke perkotaan
Articulation of Indigenous Traditions in Tourism: A Case Study of Kenduri Sko in Kerinci, Jambi Mufdil Tuhri; Deki Syaputra ZE
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.737 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3251

Abstract

This study examines the practice of Kenduri Sko, one of the local traditions of the Kerinci people that has been rarely practiced. Since 2017, the government of Sungai Penuh City took over the management of the practice turning it into an annual tourist attraction called as the Festival of Kenduri Sko. This paper argues that the articulation of this indigenous tradition, and its combination with religion and tourism has stimulated the attempt to preserve indigenous practices through a strategic relationship between government officials and local actors. To show how this the case, we discuss the theory of indigenous religions and the theory of articulation. We use qualitative methods and conducted field studies on the Kerinci People who live in Sungai Penuh City. The article concludes that this kind of articulation has succeeded in placing indigenous peoples as the main actors of the initiative, where the government plays a supporting role in preserving the traditions. This article also recommends a synergistic relationship between the local government and the community to maintain the tradition through various events such as festivals, art performances, and other such projects. Penelitian ini mengkaji praktek Kenduri Sko sebagai salah satu tradisi lokal masyarakat Kerinci yang sudah jarang dilakukan. Sejak tahun 2017, Pemerintah Kota Sungai Penuh mengambil alih praktik tersebut sebagai ikon pariwisata yang disebut dengan Festival Kenduri Sko yang diadakan setiap tahun. Artikel ini berpendapat bahwa artikulasi adat istiadat, agama, dan pariwisata telah mendorong upaya pelestarian praktik adat melalui hubungan strategis antara pejabat pemerintah dan aktor lokal. Untuk membangun argumen ini, artikel ini mengelaborasi teori agama leluhur dan teori artikulasi. Artikel ini menggunakan metode kualitatif serta melakukan studi lapangan terhadap Masyarakat Kerinci yang berdomisili di Kota Sungai Penuh. Artikel ini menyimpulkan bahwa artikulasi semacam itu telah berhasil menempatkan masyarakat adat sebagai aktor utama dimana peran pemerintah sebagai aktor pendukung dalam pelestarian tradisi. Artikel ini juga merekomendasikan adanya hubungan yang sinergis antara pemerintah lokal dan masyarakat untuk mempertahankan tradisi luluhur melalui berbagai macam acara seperti festival, pergelaran seni dan semacamnya
Glocal Radicalism: The Phenomenon of Local Islamic Radicalism in the Structure of Global Radicalism Nani Widiawati
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.991 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3423

Abstract

This article aims to reveal the dynamic factors of glocal radicalism, the tendency of superiority in the global structure, and the strategies to address the problem of glocal radicalism. Tracing the local and global context in analyzing the phenomenon of radicalism in Islam is important because both are the main variables so that this phenomenon can be comprehensively understood. This writing is qualitative research focuses on analyzing written sources about the facts of radicalism in global and local structures using analysis-interpretive methods and digital data analysis techniques. In this way, it is found that the dynamic factors of local radicalism are indirectly part of the structure of global radicalism, born of or as an implication of the systematic propaganda of that structure, namely structural violence in the dynamics and dialectics of global forces that influence social, political, and economical processes of Islamic countries. There is a tendency for superior that is reflected in the Islamophobia phenomenon and global political reflection. In this case, the moral-based multiculturalism educational approach and the virtual approach have a strategic role to address this problem Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan faktor dinamis radikalisme glokal, kecenderungan superioritas dalam struktur global, serta strategi untuk menyikapi problem radikalisme glokal. Penelusuran konteks lokal dan global dalam menganalisis fakta radikalisme dalam Islam menjadi penting sebab keduanya merupakan variabel utama sehingga fakta tersebut dapat dipahami secara komprehensif. Tulisan merupakan penelitian kualitatif yang memokuskan pada telaah sumber tertulis tentang fakta radikalisme dalam struktur global dan lokal dengan metode analisis-interpretatif dan teknik analisis data digital. Dengan cara demikian, ditemukan bahwa faktor dinamis radikalisme lokal secara tidak langsung menjadi bagian dari struktur radikalisme global, lahir dari atau sebagai implikasi dari propaganda sistematis dari struktur tersebut, yaitu kekerasan struktural dalam dinamika dan dialektika kekuatan-kekuatan global yang memengaruhi proses sosial, politik, dan ekonomi negara-negara Islam. Terdapat kecenderungan superiorisme yang tercermin dalam fenomena islamofobia dan refleksi politik global. Dalam hal ini, pendekatan pendidikan multikulturalisme berbasis moral serta pendekatan virtual memiliki peran strategis untuk menyikapi problem ini.
Responding to Islamophobia by Internalizing the Value of Islam Rahmatan lil Alamin through Using the Media Muhamad Parhan; Mohammad Rindu Fajar Islamy; Nurti Budiyanti; Risris Hari Nugraha; Pandu Hyangsewu
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.355 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3695

Abstract

This article focuses on an inaccurate understanding of Islam that causes hatred, anxiety, and unfounded fear of the Muslim community. On account of this view of Islam, Muslims face hostility, discrimination, intolerance, and racism. This attitude is increasingly seen in mass media propaganda that presents a partial and inaccurate view of the religion. Islam is presented as a violent belief system and is responsible for radicalism and terrorism. The media greatly influences social reality. They function as a spectacle, but they also influence public opinion on a range of issues. The research design of this paper uses literature review with descriptive analysis. The results show that internalizing the Islamic value of rahmatan lil alamin (“being a mercy to the world”) through the media is a solution that can rectify misconceptions about Islam. Along with the foundation of amar ma’ruf nahi munkar (“enjoining the good and forbidding the evil”), the value of “being a mercy to the world” can transform people into educators (muaddib), agents of correct information (musaddid), reformers (mujaddid), unifiers (muwahhid), and fighters (mujahid). Artikel ini fokus terhadap pemahaman Islam dengan perspektif yang salah, sehingga menimbulkan kebencian, kecemasan, dan ketakutan yang tidak berdasar serta berlebihan kepada individu maupun komunitas Islam. Akibatnya timbul permusuhan, diskriminasi, intoleransi, dan rasisme. Sikap ini semakin terlihat melalui propaganda media massa yang menampilkan kontroversi yang tidak benar dan parsial terhadap Islam, media merepresentasikan Islam dengan kekerasan dan radikal melalui fenomena terorisme. Kehadiran media sangat berpengaruh terhadap realitas sosial yang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan tetapi menjadi tuntunan yang menggiring opini publik dalam merubah sikap, pandangan, dan perilaku. Desain penelitian menggunakan literature review dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Internalisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin melalui media merupakan solusi dalam meluruskan pemahaman yang keliru tentang Islam, yang berfungsi sebagai pendidik (muaddib), agen informasi yang benar (musaddid), menjadi pembaharu (mujaddid), pemersatu (muwahhid), dan pejuang (mujahid) dengan dasar amar ma’ruf nahi munkar.
The Mitoni Tradition as Social, Cultural, and Spiritual Reinforcement of Javanese Society Nana Najmina; Eny Kurdarini
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.147 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3296

Abstract

This study examines how the social, cultural and spiritual values of the Mitoni tradition has “strengthened” the social and spiritual culture of the Javanese Muslim community. The Mitoni tradition is one of the best preserved tradition of the Javanese people from generation to generation, especially in Central Java. However, this tradition has received a lot of criticism from conservative religious adherents who accuse it of being a deviant practice. Yet this tradition embodies social, cultural and spiritual values that teach people to live together to create social harmony. This research uses a qualitative descriptive approach. It argues that Mitoni tradition contains irreplaceable cultural-historical values. By carrying out the tradition, the community hopes that someday the young generation can live in security and can embody good moral and personal traits that can then strengthen their social and spiritual bonds with fellow human beings. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji nilai sosial, kultural dan spiritual tradisi Mitoni sebagai “penguatan” sosial kebudayaan spiritual masyarakat Muslim Jawa. Tradisi  Mitoni ini merupakan salah satu adat yang sangat dilestarikan oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah yang dilakukan secara turun-temurun.  Hanya saja, tradisi  ini banyak mendapatkan kritikan dari aliran keagamaan konservatif yang menuduh sebagai tradisi menyimpang dari ajaran Islam. Padahal semestinya, tradisi mengandung nilai sosial, kultur dan spiritual dalam tradisi ini yang mengajarkan masyarakat untuk hidup bersama untuk menciptakan harmoni sosial.  Penelitiaan ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Maka hasil kajian ini bahwa tradisi Mitoni mengandung banyak nilai-nilai historis dan kultural. Dengan melaksanakan tradisi mitoni masyarakat berharap kelak anak yang akan lahir diberi keselamatan dan dapat menjadi anak yang memiliki kepribadian yang baik serta dapat menjadi suri tauladan, selain itu dengan mengadakan tradisi tersebut secara tidak langsung mereka sudah mempererat tali silaturrahmi antar sesama. 
The Contribution of KH. Said Agil Siradj’s Leadership in Fighting Radicalism: A Language Communication Strategy Bambang Hariyanto
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.719 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3766

Abstract

This article aimed to describe Said Agil Siradj's (SAS’s) communication strategy at the anniversary of Fatayat NU in 2019. Radicalism and terrorism have become a real threat to world peace and human values. In Indonesia, it has been categorised as an extraordinary crime, particularly since the Bali bombings in 2002. The act of anticipation has been issued by forming anti-terrorism regulation to prevent and crackdown of its action. Nevertheless, this effort is not sufficient to eradicate terrorism action. Collaboration with religious institutions is needed to deal with the questions of the religious doctrines. Therefore, the participation of religious leaders from the Islamic organisations such as Nahdlatul Ulama (NU) is essential.. The study employs a descriptive qualitative approach of critical discourse analysis, focusing on the illocutionary acts of speech acts theory. The data of the research was transcribed from the video of SAS’s speech on YouTube channel. The result shows that the speaker used types of illocutionary acts; representatives, directives, commisives, expressives, and declarations. These expressions are used to command, persuade, and warn the listeners. Meanwhile, the Islamic terms were used as a discursive practice to maintain a good relationship between a leader and the followers.     Tulisan ini menjelaskan tentang bagaiamana Said Agil Siradj (SAS) mempengaruhi pendengarnya pada acara ulang tahun Fatayat NU ke-73 tahun 2019. Radikalisme dan terorisme telah menjadi ancaman bagi perdamaian dan nilai-nilai kemanusian. Di Indonesia, tindak terorisme telah menjadi bentuk kejahatan yang luar biasa sejak kejadian bom Bali 2002. Bentuk antisipasi telah dilakukan yakni dengan menerbitkan undang-undang anti-terorisme untuk menangkal dan mengatasi aksi terorisme. Penegakan hukum dan kebijakan regulasi telah dikeluarkan dalam rangka menangkalnya. Namun demikian, tindakan ini belum cukup memadai dalam pemberantasan terorisme. Kolaborasi dengan Lembaga-lembaga keagamaan diperlukan guna menjawab terkait doktrin-doktirn keagamaan. Oleh karena itu partisipasi para pemimpin agama dan organisasi keislaman seperti NU adalah penting. Namun demikian pelibatan organisasi keagamaan dalam kontek ini telah memicu munculnya perdebatan terutama Ketika organisasi tersebut mendominasi peran dalam ranah public.  Studi ini didesain berdasarkan deskripsi kualitatif pada pendekatan analisis wacana kritis yang berfokus pada tindak illokusi berdasarkan teori tindak tutur. Data penelitian ini diambil dari transkripsi Video SAS yang diambil dari YouTube. Selanjutnya data dianalisis menggunakan teori tindal ilokusi dan analsis wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembicara menggunakan tipe-tipe tindak tutur pada bentuk representasi, direktif, komisif, ekspresi dan deklarasi. Ekpresi-ekpresi tersebut digunakan untuk memerintah, membujuk dan melarang para pendengarnya.Adapun istilah-istilah keislaman digunakan sebagai praktik diskursif guna membangun hubungan social antara pemimpin dan pengikutnya. 
The Young Kyai (Lora) and Transformation of the Pesantren in Madura Umiarso El-Rumi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.595 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3484

Abstract

This research focuses on the leadership of the A’wam Council, group of young religious scholars or kyai (Lora) at the Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura Islamic Boarding School, in carrying out institutional transformation of the pesantren (traditional Islamic boarding schools). As the protector of religious-culture, Lora not only preserves the various acpects of religion such as marriage and security (by performing the rituals of tahlil, or yasinan) but also maintains public morality and good social and political relations in the community. Lora functions as the a protector of culture and religion (amanah or public trust) in order to increase the social capital of the pesantren (enriching social networks). Using the collective leadership theory by O’Neill & Berinkerhoff and a qualitative approach through observation, interviews, and documentation, this article finds that Lora leadership made use of Islamic values in transforming this institution from a traditional pesantren (salaf) to modern one (khalaf). This process was coupled with the development of an interconnective-integralist paradigm that led to a new pesantren model that not only preserves the traditional methods but also adopted new developments in contemporary thought, namely combining and integrating religious knowledge with general science Riset ini memfokuskan pada dinamika kepemimpinan Dewan A’wam –yang merupakan kumpulan kyai muda (Lora) di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura- dalam melakukan transfomasi kelembagaan pesantren. Sebagai pelindung budaya-agama, Lora tidak hanya memposisikan diri untuk menjaga berbagai dimensi agama seperti pernikahan dan keselamatan (tahlil, atau yasinan), namun juga menjaga moralitas budaya masyarakat serta dinamika sosial politik. Konsistensi dalam peran sebagai pelindung budaya-agama difungsikan oleh Lora untuk menumbuhkan modal sosial pesantren (amanah dan jejaring sosial). Dengan menggunakan teori kepemimpinan kolektif oleh O’Neill & Berinkerhoff dan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumtasi, artikel ini menemukan bahwa kepemimpinan Lora didasarkan pada nilai-nilai religius Islam di dalam melakukan pengelolaan pesantren hingga mampu bertransformasi dari pesantren tradisional (salaf) ke modern (khalaf). Proses tersebut dirangkai dengan perkembangan paradigma interkonektif-integralis yang berimplikasi pada model pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama akan diganti dengan nuansa baru, yaitu memadukan dan mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum

Page 1 of 1 | Total Record : 7