cover
Contact Name
Eko Pramudya Laksana
Contact Email
publisher@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
historiography.journal@um.ac.id
Editorial Address
Gedung A6, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5, Malang Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Historiography
ISSN : -     EISSN : 27984907     DOI : 10.17977
Core Subject : Humanities, Social,
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2024)" : 9 Documents clear
Landreform dan konflik atas tanah di Perkebunan Glenmore 1947-1970 Faizin, Ahmad Nor
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p170-186

Abstract

Abstract This article is set against the background of the agrarian conflict that occurred in Glenmore Plantation from 1947-1970. The purpose of this study is to narrate chronologically the action of land claims to the implementation of land reform as a conflict resolution that occurred in Glenmore Plantation. Researchers use historical methods consisting of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography in an attempt to reconstruct the event. The sources obtained are from archives, newspapers and interviews. The results of this study explain where in the early days of independence the Dutch Government who felt that they still had rights to their plantation companies, regained control and reorganized plantation land. On the other hand, the community also has an assumption, where they also have the right to manage plantation land as a result of independence. As a result, claims to plantation land were inevitable from the early days of independence until the passing of the 1960 Law. Landreform in 1970 ended land claims at Glenmore Plantation. Abstrak Tulisan ini dilatarbelakangi dari konflik agraria yang terjadi di Perkebunan Glenmore dari tahun 1947-1970. Tujuan dari penelitian ini adalah menarasikan secara kronologis aksi klaim tanah hingga pelaksanaan landreform sebagai resolusi konflik yang terjadi di Perkebunan Glenmore. Peneliti menggunakan metode sejarah yang terdiri dari pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi dalam usaha merekonstruksi kembali peristiwa tersebut. Adapun sumber yang diperoleh adalah dari arsip, koran dan wawancara. Hasil dari penelitian ini memaparkan dimana pada masa awal kemerdekaan Pemerintah Belanda yang merasa masih memiliki hak atas perusahaan perkebunannya, kembali menguasai dan mengatur kembali tanah perkebunan. Di sisi lain masyarakat juga memiliki anggapan, dimana mereka juga berhak untuk mengelola tanah perkebunan sebagai hasil dari kemerdekaan. Akibatnya aksi klaim atas tanah perkebunan mulai terjadi sejak masa awal kemerdekaan hingga disahkannya UUPA 1960. Landreform yang terjadi pada tahun 1970 di Perkebunan Glenmore mengakhiri aksi klaim tanah.
Strategi promosi museum di era digital dengan optimalisasi media sosial dan pemilihan brand ambassador Hasan, Zainul
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p122-131

Abstract

Abstract Museums are a place that can be a source of learning for students and the general public. The problem in the digital era is that museum displays and promotions that are less attractive can reduce visitor interest because they can access a lot of information without having to go somewhere. The use of social media as a promotional tool accompanied by the selection of Brand Ambassadors has an important role in introducing the museum more widely. Through good and interesting promotions, the museum will have a good brand image to attract visitors. This literature review article aims to explain the importance of museum promotion in the digital era by utilizing various social media platforms and selecting Brand Ambassadors. Descriptive analysis and strengthening reflections on field conditions are used to strengthen the article.Abstrak Museum merupakan salah satu tempat yang bisa menjadi sumber belajar bagi para pelajar maupun masyarakat umum. Permasalahan yang dihadapi pada era digital adalah tampilan dan promosi museum yang kurang menarik dapat menurunkan ketertarikan pengunjung karena sudah bisa menjangkau banyak informasi tanpa harus hadir ke suatu tempat. Pemanfaatan media sosial sebagai alat promosi disertai dengan pemilihan brand ambassador memiliki peran yang cukup penting untuk mengenalkan museum secara lebih luas. Melalui promosi yang baik dan menarik, museum akan memiliki brand image yang bagus untuk menarik pengunjung. Artikel kajian kepustakaan ini bertujuan untuk menjelaskan pentingnya promosi museum di era digital dengan memanfaat berbagai platform media sosial dan pemilihan brand ambassador. Analisis deskriptif dan penguatan refleksi kondisi lapangan digunakan untuk memperkuat pembahasan.
Pemanfaatan virtual tour museum dalam mengenalkan perkembangan teknologi informasi bagi generasi Z (studi kasus: Museum Teknoform Universitas Dinamika) Koentjoro, Edo Yonatan; Putra, Galih Permata
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p187-196

Abstract

Abstract Generation Z (a group of individuals born between 1990 and 2010) is more inclined to adapt to an environment inseparable from technology. However, they lack of knowledge about the origins of technology. Through a case study conducted at the Teknoform Museum of Universitas Dinamika, research was carried out to examine the usefulness of the Virtual Tour 360 as a medium for introducing museums to Generation Z. Based on a qualitative research approach using descriptive analysis methods, researchers attempted to discover the benefits of the Teknoform Museum Virtual Tour already implemented at Universitas Dinamika. Based on the collected data, it was found that the presence of the Teknoform Museum Virtual Tour is still considered effective in introducing the museum to visitors.Abstrak Generasi Z (kelompok individu yang lahir di tahun 1990-2010) lebih banyak beradaptasi di dalam lingkungan yang tidak bisa lepas dengan teknologi. Namun mereka sering kali tidak memahami dari mana teknologi itu berasal. Melalui studi kasus pada Museum Teknoform Universitas Dinamika, dibuatlah sebuah penelitian yang membahas tentang kegunaan Virtual Tour 360 sebagai media pengenalan museum kepada generasi Z. Berbasis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif, peneliti mencoba mencari kebermanfaatan virtual tour Museum Teknoform yang sudah dipakai di Universitas Dinamika. Berdasarkan data yang telah diperoleh, ditemukan bahwa keberadaan virtual tour Museum Teknoform masih dianggap mampu untuk memperkenalkan museum kepada para pengunjung. 
Potensi pengembangan pariwisata berkelanjutan pada museum universitas Riyani, Nurkhasanah Eka; Tanudirdjo, Daud Aris
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p132-145

Abstract

Abstract Museums has an important role to play in the Sustainable Development Goals (SDGs) agenda. Among the many types of museums, university museums have the most potential to play this role. The management of university museums under higher education institutions allows easier access to developments in science and technology including various research and innovations that respond to sustainable development goals. This research aims to examine the potential for developing a sustainable tourism model in the campus environment by university museums with a case study of cultural heritage tour activities at Gadjah Mada University campus. This research is a qualitative research that will be analyzed through potential analysis. The result is that there are several locations in the UGM campus environment that can be used as tourist destinations by carrying out the concept of sustainability as an effort to educate the importance of public awareness of sustainable development.Abstrak Bidang permuseuman memiliki peran penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Di antara banyak jenis museum, museum universitas memiliki potensi yang paling unggul dalam menjalankan peran ini. Pengelolaan museum universitas di bawah institusi perguruan tinggi memungkinkan akses yang lebih mudah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk di dalamnya berbagai penelitian dan inovasi yang merespons tujuan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pengembangan model pariwisata berkelanjutan di lingkungan kampus oleh museum universitas dengan studi kasus kegiatan tur warisan budaya kampus Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang akan dianalisis melalui analisis potensi. Hasilnya terdapat beberapa lokasi di lingkungan kampus UGM yang dapat dijadikan destinasi wisata dengan mengusung konsep keberlanjutan sebagai upaya edukasi pentingnya kesadaran publik terhadap pembangunan berkelanjutan.
Persepsi guru mata pelajaran sejarah tentang implementasi Kurikulum Merdeka di SMAN 1 Kedunggalar Kabupaten Ngawi Aji, Meru Pangesthi; Widiadi, Aditya Nugroho
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p197-208

Abstract

Abstract As a new policy, the implementation of the Merdeka Curriculum cannot be separated from the pros and cons among teachers. Including among history teachers at SMAN 1 Kedunggalar, Ngawi Regency, which is still in the process of adjusting from the 2013 Curriculum to the Merdeka Curriculum. This study uses a qualitative approach in order to understand the problems studied based on the participants' perspectives, in this case, the perceptions of history subject teachers regarding the Merdeka Curriculum and how it is implemented in history learning. The results of this study indicate that the Implementation of Merdeka Curriculum at SMA Negeri 1 Kedunggalar has provided positive benefits for educators and students through new learning models such as Project Based Learning (PJBL) which are considered capable of increasing learning enthusiasm, creativity, and student involvement. The Strengthening the Pancasila Student Profile (P5) program is also considered to have a positive impact in shaping student character in accordance with the values of Pancasila. However, there are shortcomings related to the lack of history lesson time due to difficulties in managing time between the P5 program and history materials. Therefore, it is hoped that there will be further socialization and training on Merdeka Curriculum at SMA Negeri 1 Kedunggalar.Abstrak Sebagai sebuah kebijakan baru, implementasi Kurikulum Merdeka tidak bisa lepas dari pro-kontra di kalangan para guru. Termasuk diantara para guru sejarah di SMAN 1 Kedunggalar Kabupaten Ngawi yang masih proses penyesuaian dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat memahami masalah-masalah yang dikaji berdasar perspektif partisipan, dalam hal ini adalah persepsi guru mata pelajaran sejarah mengenai Kurikulum Merdeka dan bagaimana pengimplentasiannya dalam pembelajaran sejarah. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Kedunggalar telah memberikan manfaat positif bagi pendidik dan siswa melalui model pembelajaran baru seperti Project Based Learning (PJBL) yang dianggap mampu meningkatkan semangat belajar, kreativitas, dan keterlibatan siswa. Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) juga dianggap berdampak positif dalam membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Namun, ada kekurangan terkait kurangnya waktu pelajaran sejarah karena kesulitan dalam pengaturan waktu antara program P5 dan materi sejarah. Oleh karena itu, diharapkan adanya sosialisasi dan pelatihan lebih lanjut tentang Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Kedunggalar.
Transformasi kalender Saka (Sūryasiddhānta) menuju kalender Gregorian di Jawa dan Asia Tenggara Supriyanto, Mahathelge Ahmad
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p146-155

Abstract

Abstract The purpose of this article is to understand the transformation or change in the use of calendars in the Java and Southeast Asia regions. The year in the Saka calendar itself starts from the coronation day of Maharaja Kanishka I which fell in 78 AD, where that day was then referred to as the 1st day of the 1st month of the 1st year of Saka. The new year in the Saka year usually falls after the first new moon in March in the Gregorian calendar, or after the dead moon (tilem sasih) in the month of Kasanga in the Saka calendar. The Saka calendar originates from India and was adapted by the Javanese people who adhere to the Hindu-Buddhist religion. The Saka year starts from 78 AD, which is considered the year of the accession of Aji Saka, the legendary figure who brought script and civilization to Java. The Saka calendar system consists of 12 months which refers to the lunisolar system, which is a system that combines the rotation of the sun and moon.Abstrak Tujuan dari tulisan ini adalah memahami bagaimana transformasi atau perubahan penggunaan kalender yang berada pada wilayah Jawa dan Asia Tenggara. Tahun dalam kalender Saka sendiri dimulai dari hari penobatan Maharaja Diraja Kanishka I yang jatuh pada tahun 78 Masehi, di mana hari itulah yang kemudian disebut sebagai tanggal 1 bulan 1 tahun 1 Saka. Tahun baru di tahun Saka biasanya akan jatuh setelah bulan baru pertama bulan Maret kalender Masehi, atau setelah bulan mati (tilem sasih) bulan Kasanga kalender Saka. Kalender Saka berasal dari India dan diadaptasi oleh masyarakat Jawa yang menganut agama Hindu-Budha.  Tahun Saka dimulai dari tahun 78 Masehi, yang dianggap sebagai tahun naik tahtanya Aji Saka, tokoh legendaris yang membawa aksara dan peradaban ke Jawa. Sistem kalender Saka terdiri dari 12 bulan yang merujuk pada sistem lunisolar, yaitu sistem yang menggabungkan perputaran matahari dan bulan.
Biografi poststrukturalis Effendi seniman Sukuraga Kota Sukabumi Jawa Barat 1962-2022 Rizky, Eva Nikmatul
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p209-224

Abstract

Abstract Effendi, who is often called Kang Fendi Sukuraga, was born in Sukabumi on April 16, 1958. Moving from one region to another helped in improving Effendi’s social habitus development. Start from living at his grandfather’s house in Jakarta, followed his Uncle to Semarang, lived in Yogyakarta and Bali to study art. Finally, he decided to settle down in his hometown at Sukabumi City. His disposition of a hard work habit makes him keep trying and never give up even when he faces difficulties. The aims of this study were to know and understand the process by which Effendi can become a successful Sukuraga artist. This study used a historical method (heuristic, criticism, interpretation, and historiography). The results of this study were Effendi’s journey in achieving success was obtained by going through various obstacles and problems: from parents who were against Effendi going to art school, Effendi dropped out from technical school and fled to Jakarta, then followed his Uncle to Semarang, became a busker in Semarang and Yogyakarta, until he had to switch between SSRI.Abstrak Effendi atau yang kerap dipanggil Kang Fendi Sukuraga lahir di Sukabumi pada 16 April 1958. Pindah dari satu wilayah ke wilayah lain, mematangkan habitus sosial Effendi. Dimulai dari tinggal di rumah Kakeknya di Jakarta, ikut Paman ke Semarang, tinggal di Yogyakarta hingga Bali untuk bersekolah seni. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menetap di kampung halamannya di Sukabumi. Disposisi pekerja keras sebagai habitus membuatnya terus berusaha dan pantang menyerah meski ditimpa kesulitan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui dan memahami proses Effendi bisa sukses menjadi seniman Sukuraga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi). Hasil dari penelitian ini adalah perjalanan Effendi dalam meraih kesuksesan diperoleh dengan melewati berbagai rintangan dan permasalahan: dari orang tua yang menentang Effendi bersekolah seni, Effendi putus sekolah teknik dan kabur ke Jakarta, lalu ikut Paman ke Semarang, menjadi pengamen di Semarang dan Yogyakarta, hingga ia harus berpindah-pindah SSRI.
Terdegradasinya otoritas Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, 1968-1998 Yusuf, Nur Fadilah
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p156-169

Abstract

Abstract In many cases, the struggle for space becomes a contestation that invites academics and the public to see what is happening in it. The Jakarta Arts Council and the local government in Jakarta are a clear example of the struggle for space that took place at Taman Ismail Marzuki. In fact, this arts center was built based on discussions between artists and the governor at that time, but after the change of power, policies also changed so that the adjustment between patron-client experienced adaptations that must be understood in a historical context. This research uses the historical method as a stage to reconstruct historical events in a writing. In the end, through history, we can know what is happening today about the authority of the Jakarta Arts Council at the Jakarta Arts Center Taman Ismail Marzuki is a process of struggle between art and politics in the hegemonic New Order era. Therefore, this article also discusses chronologically the degradation of the authority of the Jakarta Arts Council in Taman Ismail Marzuki caused by several factors such as political policies and governor changes, as well as government bureaucratic intervention in the arts. Abstrak Dalam banyak kasus, perebutan ruang menjadi satu kontestasi yang mengajak kaum akademisi dan masyarakat untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya. Dewan Kesenian Jakarta dan pemerintah daerah di Jakarta adalah contoh nyata terkait dengan perebutan ruang yang terjadi di Taman Ismail Marzuki. Padahal, pusat kesenian ini, dibangun atas diskusi antara para seniman dengan gubernur waktu itu, tetapi setelah pergantian kekuasaan, kebijakan juga ikut berganti sehingga penyesuaian antara patron-klien mengalami adaptasi yang harus dipahami dalam konteks sejarah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah sebagai tahapan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah dalam sebuah tulisan. Pada akhirnya, melalui sejarah, kita dapat mengetahui apa yang terjadi hari ini tentang otoritas Dewan Kesenian Jakarta di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki adalah proses pergulatan antara seni dan politik pada era Orde Baru yang menghegemoni. Maka dari itu, artikel ini juga membahas secara kronologi terkait dengan terdegradasinya otoritas Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti politik kebijakan dan pergantian gubernur, serta intervensi birokrasi pemerintahan di pusat kesenian.
Mausoleum Djamijah Pacitan: arti khusus dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah lokal di Pacitan Asy'ary, Widya Hafidh
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i22024p225-234

Abstract

Abstract This research discusses the special meaning of one of the Dutch tombs in Pacitan, namely the Djamijah Pacitan Mausoleum. The Djamijah Pacitan Mausoleum was chosen as the research object because the tomb has buildings and epitaphs that are relatively intact and not many researchers have discussed it. The aim of this research is to find out the special meaning contained in the Djamijah Pacitan Mausoleum in the form of carved symbols and the contents of the epitaph. Data obtained from literature study and historical research methods. The data was analyzed and then interpreted to find out the special meaning of the Djamijah Pacitan Mausoleum. The epitaph data that can be read is analyzed regarding the condition of the damage, the contents of the existing inscriptions, and the engraving symbols used. This data is correlated with historical data obtained from literature review. The results of the analysis can be used as a history learning resource for high school students. With this research, it is hoped that the Djamijah Pacitan Mausoleum can be used as a history learning resource for students.Abstrak Penelitian ini meneliti tentang arti khusus pada salah satu makam Belanda di Pacitan yakni Mausoleum Djamijah Pacitan. Mausoleum Djamijah Pacitan dipilih sebagai objek penelitian karena makam tersebut memiliki bangunan dan epitaf yang relatif masih utuh serta masih tidak banyak peneliti yang membahasnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui arti khusus pada Mausoleum Djamijah Pacitan berupa simbol-simbol ukiran dan isi epitaf. Data diperoleh dari studi pustaka dan metode penelitian sejarah. Data dianalisis lalu diinterpretasi untuk mengetahui arti khusus dari Mausoleum Djamijah Pacitan. Data epitaf yang bisa dibaca kemudian dianalisa tentang kondisi kerusakan, isi inskripsi yang ada, serta simbol ukiran yang digunakan. Kemudian data tersebut dikorelasikan dengan data yang didapatkan dari kajian pustaka. Hasil analisa dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah untuk SMA. Melalui penelitian ini, diharapkan bahwa Mausoleum Djamijah Pacitan dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah lokal untuk siswa.

Page 1 of 1 | Total Record : 9