cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 46, No 1 (2018)" : 6 Documents clear
Senyapan dalam Tuturan Berbahasa Indonesia: Studi terhadap Tuturan pada“Debat Pilkada DKI 2017” Wira Kurniawati
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.039 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.165

Abstract

The purpose of this study is to describe the pause in the production of Indonesian speech in terms of duration, percentage, and reason of pause. This data is released on the pause in the speech delivered by the candidate for governor and vice governor in the event of “2017 Governor Candidate Debate of DKI Jakarta". Data is captured by recording all debate events from the youtube.com. Speech is then transcribed orthographically with the help of Praat version 5, then classified according the purposes. The results show that the existing silence is varied, ranging from very short pause (37 ms) to very long pause (3,633 ms). However, the average pause (499.89 ms) remains in normal pause. The percentage of speaker silence can be said to be quite large because it takes 20.71% or a fifth of the total speech duration. Meanwhile, the reason for pause is divided into two, which is because it is intentional and because it is not intentional. Intentional pause arises from respiration, lingual unit segmentation, grammatical pause, and also expression; unintentional disappearance can occur because of the mental processes experienced by speakers in planning and producing speech, that is because unpreparedness speakers start the utterance, caution choosing words, the mistakes, the pressure, and change the content of the speech.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan senyapan dalamtuturan lisan berbahasa Indonesia dari segi durasi, persentase, serta alasannya. Data diambil dari tuturan calon gubernur dan wakil gubernur dalam acara “Debat Calon Gubernur DKI Jakarta 2017”. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunduh keseluruhan tayangan acara dari youtube.com. Tuturan ditranskripsi secara ortografis, lalu diidentifikasi dengan bantuan Praat versi 5, kemudian diklasifikasi berdasar tujuan penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa durasi senyapan sangat variatif, mulai dari senyapan sangat pendek sekali (37 md) hingga sangat panjang (3.633 md). Namun, rata-ratanya (499,89 md)berada dalam senyapan normal. Adapun persentase senyapan cukup besar karena membutuhkan waktu 20,71% atau seperlima lebih durasi bicara total. Alasan penutur senyap ada dua: disengaja dan tidak disengaja. Senyapan yang disengaja terjadi karena pernapasan, segmentasi satuan lingual, jeda gramatikal, serta pemberian ekspresi.Senyapan tidak disengaja terjadi karena proses mental yang dialami penutur dalam merencanakan dan memproduksi tuturannya, yaitu ketidaksiapan memulai tuturan, kehati-hatian memilih kata, adanya kekeliruan, adanya tekanan, dan pengubahan isi tuturan. 
KAJIAN STRUKTURAL WANDA WAYANG DURGA DALAM PERSPEKSTIF CERITA PEWAYANGAN SUDAMALA DAN BUDAYA JAWA Restu Budi Setiawan; Sahid Teguh Widodo; Suyitno Suyitno
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.85 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.161

Abstract

This article want to describe and explain about the meaning of wanda wayang Durga gagrag Surakarta on Javanese culture perspective. Wanda wayang Durga which explain in this article consist of the Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, and wanda wewe. The approach which used on this research is structuralism-semiotic approach from Levi-Strauss model. This approach is chosen because it is considered can explain the object deeper from two side that are outside structure or surface-structure and inside structure or deep- structure. Material object of this research is the figure of Durga from many kind of wanda. Formal object of this research is structural analysis. Primary data on in this research is document wanda wayang of Durga figure. Therefore, the secondary data are interview document and literature review. Analysis data technique on this research consist on four phases, that are data collected phase, data reduction, data presentation, and conclusion drawing.Artikel ini mengupas makna dari wanda wayang Durga gagrag Surakarta dalam perspektif cerita pewayanganSudamala dan kebudayaan Jawa. Pedekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme semiotik model Levi Strauss yang menjelaskan suatu objek kajian secara struktural melalui dari dua sisi yaitu struktur luar yang dikenal dengan istilah surface structure dan struktur dalam   yang dikenal dengan istilah deep structure. Objek material dari penelitian ini adalah sosok Durga yang terdapat dalam berbagai macam wanda tersebut diatas. Objek formal penelitian ini adalah sebuah kajian struktural. Data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah dokumen wanda wayang tokoh Durga, sedangkan data sekundernya adalah wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi empat tahap, yakni tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Temuan yang terdapat dalam penelitian ini diantaranya adalah berbagai macam wanda wayang tokoh Durga dalam pewayangan gaya Surakarta yang diantaranya adalah Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, wanda reca, wanda ngerik, wanda ratudan wanda wewe.
Pemertahanan dan Pengembangan Bahasa Indonesia (Indonesian Language Maintenance And Development) Dewa Putu Wijana
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.188 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.166

Abstract

The success of the Indonesian nation to bring Malay language into a national language is a remarkable achievement that is not necessarily done by other nations.Many countries in the world, such as India, Philippines, Singapore, and so on have not succeeded in following the success of the Indonesian nation in establishing their language policy line. However, this success is not supported by the positive attitude of its speakers to maintain and develop its national language. In this regard, the pride of Indonesian and the pride of local languages as an element of Indonesian language and cultural development must be continuously improved. Keberhasilan bangsa Indonesia mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa nasional merupakan prestasi yang luar biasa yang belum tentu dapat dilakukan oleh bangsa lain. Banyak negara di dunia, seperti India, Filipina, Singapura, dan sebagainya sampai sekarang belum berhasil mengikuti kesuksesan bangsa Indonesia dalam menetapkan garis kebijakan kebahasaannya. Namun, keberhasilan ini ternyata tidak didukung oleh sikap positif para penuturnya untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa nasionalnya. Sehubungan dengan itu, kebanggaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah sebagai unsur pengembangan bahasa  dan budaya Indonesia harus terus ditingkatkan. 
PERSEPSI TINDAK TUTUR EKSPRESIF MARAH MASYARAKAT SUKU BETAWI DI KECAMATAN BEJI, DEPOK: KAJIAN SOSIO- PRAGMATIK Wiwiek Dwi Astuti
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.27 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.162

Abstract

The present study gives a comprehensive account of preception of angry speech act by Betawenese when they are ‘asked’ to do something by others. Based on the problem, this study aims to describe the expres- sive perception of Betawi people anger when they are 'asked' to do something by others in the form of speech. The data source is questionerre distributed to 30 people who live in Beji Depok district. This study applies descriptive method of qualitative approach. The result shows that forms of anger expressive speech act preception are (1) expressions ‘aduh’ or ‘waduh’, (2) the use of words or questions, (3) the expressions of refutation, (4) experssions of prohibition, and (5) swearing expressions.The social factors influencing expressions are (1) anger to the parents, (2) to the superiors, (3) to strangers, (4) to older people with higher economic status, (5) to older people with the same economic status, (6) to older people with lower economic status, (7) people of the same age with higher economic status, (8) to people of the same age with the same economic status, (9) to people the same age with lower economic status people, (10) to younger people with higher economic status, (11) to younger people with the same economic status, (12) to young- er people with lower economic status.Masalah yang diangkat dalam penelitian ini ialah persepsi tindak tutur ekspresif marah  penu-tur suku Betawi ketika ‘diminta/disuruh’ melakukan sesuatu oleh orang lain. Berdasarkan ma- salah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi ekpresif marah masyarakat Betawi ketika mereka ‘diminta/disuruh’ melakukan sesuatu oleh orang lain dalam bentuk tuturan. Sumber data penelitian ini ialahdata kuesioner yang disebarkan kepada responden sebanyak tiga puluh orang . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian persepsi tindak tutur ekspresif marah ini ialahpenggunaan ungkapan aduh atau waduh, (2)penggunaan kata atau ungkapan pertanyaan, (3) penggunaan ungkapan penolakan, (4) penggunaan ungkapan larangan, dan (5) penggunaan ungkapan umpatan. Faktor sosial yang berpengaruh dalam ekspresi marah ialah (1) marah kepada orang tua, (2) marah kepada atasan, (3) marah kepada orang yang tidak dikenal, (4) marah  kepada orang yang lebih tua status ekonomi lebih tinggi, (5) marah kepada orang yang lebih tua status ekonomi sama, (6) marah kepada orang yang lebih tua status ekonomi lebih rendah, (7) tutur marah kepada orang yang sebaya status ekonomi lebih tinggi, (8) marah kepa- da orang yang sebaya status ekonomi sama, (9)  marah kepada orang yang sebaya status ekonomi lebih rendah, (10) marah kepada orang yang lebih muda status ekonomi lebih tinggi, (11) marah kepada orang yang lebih muda status ekonomi sama, dan (12) marah kepada orang yang lebih muda status ekonomi lebih rendah.
Strategi dan Fungsi Tindak Tutur Direktif dalam Poster Pendidikan Nanik Sumarsih
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.195 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.163

Abstract

This study discusses a directive speech act in educational posters. The purpose of this study is to know strategy and function of the directive speech act in educational poster. The data in this study are words, terms, phrases, sentences, and discourses containing directive speech act. The source of data is taken from educational posters found on educational websites. Data collection in this study uses a scrutiny method refer to technique of record. Data analysis uses pair method. The result shows that based on speech mode, the directive speech strategy used includes direct and indirect strategies. Six functions of speech act are found in education posters, namely (1) prohibiting function, (2) inviting function, (3) command function, (4) counseling function, (5) satire / criticizing function, and (6) ) request/appeal function. Kajian ini membahas tindak tutur direktif dalam poster pendidikan. Kajian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui strategi dan fungsi tindak tutur direktif dalam poster pendidi- kan. Data dalam penelitian ini berupa data yang berwujud kata, istilah, ungkapan, kalimat, wacana yang mengandung tindak tutur direktif. Adapun sumber data diambil dari poster pendidikan yang ditemukan dalam situs-situs pendidikan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik catat. Analisis data menggunakan metode padan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar modus tuturannya, strategi tindak tutur direktif yang digunakan meliputi strategi langsung dan strategi tidak langsung. Ditemukan enam fungsi tindak tutur direktif yang terdapat dalam poster pendidikan, yaitu (1) fungsi melarang, (2)  fungsi mengajak, (3) fungsi menyuruh/memerintah, (4) fungsi menasihati, (5) fungsi menyindir/mengkritik, dan (6) fungsi meminta/mengimbau.
LAGU ISTIKHARAH CINTA KARYA YEDO KURNIAWAN DARI GRUP SIGMA, DUMAI: INTUISI MUSIKAL SEBAGAI METODE PENCIPTAAN DALAM KAJIAN HIPERSEMIOTIK Zulkarnaen Iskandar Zaini; Wilma Sriwulan; Zainal Warhat
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.387 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.164

Abstract

This research discusses about the creation of Istikharah Cinta song written by Yedo Kurniawan of Sigma Group Dumai City, in which the song was created with musical intuition. The purpose of this research is to understand how far the interrelation between the literation which derived from literature work and listened-song, which then acquired and became the intuition of the artist or the song writer such as Yedo Kurniawan. This research uses descriptive analytic method through literature study. The research result shows that the creation of Yedo Kurniawan's Istikharah Cinta song was inspired from his personal experience before marrying his beloved woman, his intuition which influenced by the songs he used to listen, literature work, and from his experiences which related to music. Istikharah Cinta is the most famous song of Sigma that it is accepted by Nasheed Lover, and both national and international music label.Penelitian  ini membahas tentang penciptaan lagu Istikharah Cinta oleh Yedo Kurniawan grup Sigma dari Kota Dumai yang mengandalkan intuisi musikal dalam penciptaannya. Tujuan penelitan untuk mengetahui sejauh mana keterkaitan antara literasi yang bersumber dari karya sastra dan lagu-lagu yang sering didengar melekat dan menjadi intuisi kepada pengkarya/pencipta lagu seperti Yedo Kurniawan.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terciptanya lagu Istikharah Cinta ciptaan Yedo Kurniawan terinspirasi dari pengalaman pribadi sebelum menikahi perempuan pilihannya, intuisi yang diperoleh dari lagu-lagu yang sering didengar, karya sastra yang dibaca, dan pengalaman yang berkaitan dengan musik. Lagu Istikharah Cinta paling tenar dalam grup Sigma sehingga diterima oleh kalangan pencinta Nasyid dan label music, baik nasional maupun mancanegara.

Page 1 of 1 | Total Record : 6