Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS DIKSI, GAYA BAHASA, DAN CITRAAN DALAM EMPAT CERITA ANAK INDONESIA KARYA MURTI BUNANTA Meliala, Roy Raja Sukmanta; Widodo, Sahid Teguh; Subiyantoro, Slamet
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 18, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v18i1.12149

Abstract

This research examines four stories of Indonesian children "The Youngest Frog, Si Molek, Masarasenani and The Sun, and also Tiny Boy" by Murti Bunanta. These children's stories come from different region in Indonesia but have similarities and differences in each story. This descriptive analysis uses a stylistic approach that emphasizes the unity of story construction with the theme presented. Elements that are considered and checked are diction, style, and imagery. The result showed is the dominant diction can be seen in denotation with 49 data or 53.85 percentage. The dominant language style can be seen in asidenton language with 16 data or 25.8 percentage. The dominant or multiple images can be seen in visual images with 27 data or 36.99 percentage.
Ungkapan Kearifan Kultural tentang Aturan Adat Bujang Gadis dan Kawin dalam Undang-Undang Simbur Cahaya Kesultanan Palembang 1824 Wijaya, Satria; Widodo, Sahid Teguh; Subiyantoro, Slamet
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol 2, No 1 (2018): JURNAL KREDO VOLUME 2 NO 1 TAHUN 2018
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.88 KB) | DOI: 10.24176/kredo.v2i1.2553

Abstract

Kajian Semiotika Teks Undang-Undang SImbur Cahaya Hukum Adat Kesultanan Palembang
THE ILLOCUTION SPEECH ACT OF LUDRUK JOKO SAMBANG PENDEKAR GUNUNG GANGSIR SHOW Luckiyanti, Reska; Widodo, Sahid Teguh; Sulistyo, Edy Tri
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.96 KB) | DOI: 10.24036/ld.v11i1.7946

Abstract

AbstractThis research analysed the utterance used in Ludruk, a traditional art originated from East Java. The utterance were used in accordance with the story performed by the artists. This article describes the category of illocution, function, and the purpose of the illocution in the Ludruk Joko Sambang Pendekar Gunung Gangsir showed in Kediri on 2017 by a group of East Java Ludruk artists. The research is descriptive qualitative identifying the illocution speech acts in the Ludruk. Research data are the containing speech act in the Ludruk artists’ dialogue. Data analysis technique is conducted systematically as follows: (1) Transcribing the utterance and translating the Java language into Indonesia language, (2) Categorizing the data, included the illocution utterance, (3) Analyzing data, how the context, function and its purpose. It is found four utterances categories, namely: (1) Assertive category of complaining, suggesting, fulminating, stating, and revealing mode; (2) Expressive category of giving advice, and requesting; (3) Commissive mode category of offering and promising; (4) Expressive mode category of thanking and fulminating. The declarative category is not found in the Ludruk show utterance.  Based on the classification of realization is also found that each utterance has a function to persuade the hearer to do something based on context.Keywords/phrases: pragmatics, illocution speech act, ludrukTINDAK TUTUR ILOKUSI PADA PEMENTASAN LUDRUK JOKO SAMBANG PENDEKAR GUNUNG GANGSIRAbstrakPenelitian ini menganalisa ujaran yang digunakan dalam Ludruk, kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Timur. Tuturan digunakan sesuai dengan konteks cerita yang dimainkan oleh para pemeran. Artikel ini mendeskripsikan kategori tuturan ilokusi, fungsi, dan maksud dari ilokusi pada pementasan Ludruk lakon  Joko Sambang Pendekar Gunung Gangsir yang dipentaskan di Kediri tahun 2017 oleh kumpulan seniman ludruk Jawa Timur.Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kulitatif dengan objek penelitian tindak tutur ilokusi yang dituturkan oleh pemain ludruk. Data penelitian berupa ujaran yang terdapat pada dialog pemain ludruk yang mengandung tindak tutur ilokusi. Teknik analisis data dilakukan secara terstruktur, yaitu dengan langkah sebagai berikut: (1) mentraskripsi data dan menerjemahkan ujaran dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia, (2) mengelompokan data yang telah diperoleh, termasuk pada kategori  tuturan ilokusi, (3) menganalisis tiap kategori data yang telah terkumpul, bagaimana konteks, maksud dan fungsinya. Ditemukan empat  kategori tuturan, yakni: (1) Kategori asertif dengan modus mengeluh, mengusulkan, mengecam, menyatakan, mengungkapkan; (2) Kategori ekspresif  dengan modus menasihati, dan memerintah; (3) Kategori komisif modus yang muncul menawarkan, menjanjikan; (4) Kategori ekspresif modus yang muncul  terima kasih dan mengecam. Kategori deklaratif tidak ditemukan pada tuturan pementasan ludruk tersebut. Berdasarkan klasifikasi mengenai relisasijuga ditemukan bahwa setiap tuturan tersebut memiliki fungsi untuk mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan tindakan sesuatu yang sesuai dengan konteksnya.Kata Kunci/frase: pragmatik, tindak tutur ilokusi, ludruk
THE EXISTENCE OF TADUT AND ANDAI – ANDAI IN SOUTH BENGKULU SOCIETY Sady, Rominto; Andayani, Andayani; Widodo, Sahid Teguh
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.27 KB) | DOI: 10.24036/ld.v11i2.8510

Abstract

The study aims to describe the existence of tadut and andai-andai in South Bengkulu society. The research problem discussed is how the existence of tadut and andai-andai in South Bengkulu society. This research conducts phenomenology appoarch with qualitatively descriptive method. The results of this research showed that tadut and andai-andai in South Bengkulu began to be abandoned by the people around there. This is indicated with rarely performances of the folklores and the young generation prefers to western culture than them. The capable efforts to preserve the two folklores are the synergy between the community of people and the government in making inheritance a more interesting, for example by making it in the form of audio visuals, establishing customary institutions in each village, documenting the two folklores, holding their competencies, and including them into the school curriculum.
MASA KEEMASAN TEATER TRADISIONAL MENDU KALIMANTAN BARAT Wirawan, Gunta; Waluyo, Herman J.; Suwandi, Sarwiji; Widodo, Sahid Teguh
Magistra Andalusia: Jurnal Ilmu Sastra Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/majis.2.1.25.2020

Abstract

The benefits of studying history, in addition to remembering the past, are also valuable lessons for future generations. Through history, the younger generation knows the cultural treasures of the nation so that they can preserve them. One of the original arts belonging to West Kalimantan is the traditional theater mendu. This theater was successful at the beginning of its emergence (1876 AD) until the Japanese colonial era. After that it was dim because society was forbidden by Japan to gather and associate. Mendu was bloated again and became the belle of the 80's which was driven by the maestro Sataruddin Ramli (1948 - 2015). However, this particular art of West Kalimantan is now only a memory. This research aims to describe the golden age of West Kalimantan's traditional theater. The method used is descriptive qualitative form with a literature study approach. The results of the study describe (1) the glory period from the beginning of the emergence of the mendu to the Japanese occupation (1876 - 1942), (2) the traditional theater of the mendu became the belle of the community (1980s - 2000s). Factors that cause the mendu golden period include because in the past the world of entertainment was not yet sophisticated and modern, the characteristics of the traditional and simple community, the story that was served favored by the community at that time, the participation of the Regional Government of West Kalimantan, as well as coaching was held for the younger generation.
OPTIMALISASI TINDAK TUTUR EKSPRESI GURU SEBAGAI WUJUD KESANTUNAN PESERTA DIDIK SMK YANG UNGGUL DI ERA MEA Reska Luckiyanti; Sahid Teguh Widodo; Edy Tri Sulistyo
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan ujung tombak dalam pendidikan, sudah menjadi kewajiban guru memberikan contoh yang baik bagi peserta didiknya. Salah satunya melalui tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ekspresif merupakan tuturan yang mengungkapkan sikap psikologis terhadap suatu keadaan yang tersirat. Tindak tutur eksprsif misalnya dengan memberikan contoh kecil, namun dapat memberikan dampak  yang positif bagi mereka. Hal tersebut dapat diaplikasikan dalam mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengucapkan belasungkawa dan lainnya. Hal tersebut secara tidak langsung akan mendisain dan mentransfer sesuatu pada peserta didik, yang kelak dapat mempermudah mereka ketika berkecimpung di dunia kerja. SMK merupakan suatu lembaga pendidikan yang menyiapkan peserta didiknya untuk siap kerja, dan siap bersaing  menghadapai zaman yang semakin berkembang. MEA merupakan proyek yang telah lama disiapkan oleh anggota ASEAN, yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian ASEAN. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban Indonesia untuk mempersiapan kualitas dan meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan negara lainnya, hal tersebut dibuktikan oleh pemerintah dengan membuka sekolah kejuruan di berbagai wilayah. Berdasarkan  hal tersebut dipilih judul dalam artikel ilmiah ini, Optimalisasi tindak tutur ekspresif guru sebagai wujud kesantunan peserta didik SMk yang unggul di Era MEA. Kata Kunci:  Tindak Tutur Guru, Kesantunan Peserta Didik SMK,MEA
MEMBANGUN MORALITAS GENERASI MUDA DENGAN PENDIDIKAN KEARIFAN BUDAYA MADURA DALAM PAREBASAN Hani’ah Hani’ah; Sahid Teguh Widodo; Sarwiji Suwandi; Kundharu Shaddhono
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan kearifan budaya Madura sebagai dasar pembangunan moralitas generasi muda. Penelitian ini berusaha menggali informasi tentang nilai-nilai kearifan budaya Madura yang terdapat dalam Parebasan. Nilai-nlai kearifan budaya masyarakat Madura yang terdapat dalam Parebasan menarik untuk digali, mengingat masyarakat Madura dikenal memiliki ikatan budaya yang cukup kuat. Masyarakat Madura dalam praktik-praktik kehidupan bermasyarakat dipandang masih memegang teguh nilai-nilai kearifan budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. Penelitian ini merupakan penelitian etnolinguistik, yaitu studi bahasa kaitannya dengan budaya tempat bahasa tersebut hidup dan berkembang. Etnolinguistik digunakan sebagai pendekatan  untuk mengidentifikasi hubungan antara kelompok masyarakat dan praktik-praktik komunikasi. Parebasan (proverb) merupakan salah satu bentuk praktik komunikasi masyarakat Madura yang digunakan secara turun temurun dengan maksud dan tujuan tertentu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Parebasan (proverb) merupakan salah satu kearifan budaya masyarakat Madura yang dapat dijadikan konsep baru, yaitu pendidikan kearifan budaya. Dengan konsep tersebut maka akan sangat membantu masyarakat dalam membangun moralitas generasi muda seperti yang diharapkan. Kata-kata Kunci: moralitas, generasi muda, parebasan, kearifan budaya, masyarakat
REVITALISASI PERAN BUDAYA LOKAL DALAM MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) Yanuar Bagas Arwansyah; Sarwiji Suwandi; Sahid Teguh Widodo
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) saat ini menjadi fokus dalam pengembangan dan internasionalisasi bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini merevitalisasi peran budaya lokal sebagai identitas nasional dalam pembelajaran BIPA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan pentingnya revitalisasi budaya lokal dalam pembelajaran BIPA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih kurangnya bahan ajar BIPA yang menyertakan budaya lokal Indonesia di dalamnya. Oleh karena itu, revitalisasi budaya lokal dalam pembelajaran BIPA perlu dilakukan. Revitalisasi budaya lokal dalam pembelajaran BIPA selain dapat digunakan sebagai materi ajar, juga dapat digunakan oleh pengajar BIPA sebagai sarana memperkenalkan budaya dan tradisi-tradisi lokal-nasional di mata internasional -khususnya pembelajar BIPA-, menjadikan budaya lokal lebih diperhatikan dan dapat kembali eksis di tengah masuknya budaya asing di era globalisasi, memperkuat identitas bangsa Indonesia dengan budaya lokal-nasional yang beragam. Selain itu, memperkenalkan budaya lokal Indonesia kepada pembelajar BIPA juga menjadikan mereka mudah menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.Kata Kunci: revitalisasi, budaya, identitas nasional, pembelajaran, BIPA
CERITA RAKYAT SUNAN MURIA: PENDEKATAN STRUKTURAL DAN NILAI KARAKTER Hidar Amaruddin; Yanuar Bayu Isnaeni; Herman J. Waluyo; Sahid Teguh Widodo
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.965 KB) | DOI: 10.15408/dialektika.v6i2.13561

Abstract

Abstract: This article aims to describe the structure contained in Sunan Muria Folk Literature and describe the character values in Sunan Muria Folk Literature. This research is a qualitative descriptive study. The type of plot used in Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency is a straight or advanced plot. The dominant figure in the Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency is a good human character. More background is used in this folk literature. Sunan Muria Folk Literature in Kudus Regency contains varied suggestions. The character values in this folk literature include religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, independence, democratization, friendship/ communicative, peace, social life, and the value of responsibility. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang terkandung dalam Sastra Rakyat Sunan Muria dan menguraikan nilai-nilai karakter dalam Sastra Rakyat Sunan Muria. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Jenis plot yang digunakan dalam Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus adalah plot lurus atau maju. Tokoh dominan dalam Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus adalah karakter manusia yang baik. Latar belakang tempat lebih banyak digunakan dalam literatur rakyat ini. Sastra Rakyat Sunan Muria di Kabupaten Kudus berisi saran variatif. Nilai-nilai karakter yang dalam literatur rakyat ini antara lain nilai religi, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kemandirian, demokratisasi, persahabatan/komunikatif, damai, kehidupan sosial, dan nilai tanggung jawab. 
KONSTRUKSI NAMA ORANG JAWA STUDI KASUS NAMA-NAMA MODERN DI SURAKARTA Sahid Teguh Widodo
Humaniora Vol 25, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.403 KB) | DOI: 10.22146/jh.1815

Abstract

Nama Jawa adalah bentuk ucapan yang memiliki bentuk, struktur, dan makna yang menarik. Nama Jawa modern memiliki beragam bentuk dan makna. Berdasarkan data yang dianalisis, tampak jelas bahwa kecenderungan nama modern disusun dari lebih dari satu unsur dari nama tersebut. Namun, masih dapat ditemukan juga nama-nama tunggal, nama yang hanya terdiri dari satu elemen tunggal. Kasus ini sangat menarik untuk dilihat dan dipelajari lebih dalam, terutama yang berkaitan dengan konstruksi (komposisi) penamaan Jawa. Pemahaman proses konstruksi dari nama Jawa sangat penting untuk mengetahui selera budaya, keinginan, harapan, dan cita-cita masyarakat yang terus berubah dari waktu ke waktu.