cover
Contact Name
Yusran
Contact Email
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282136764704
Journal Mail Official
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jalan H.M.Yasin Limpo No.36, Romang Polong, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kode Pos 92118
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Tafsere
ISSN : 23552255     EISSN : 29628474     DOI : -
Core Subject : Religion,
Tafsere is a peer-reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of the Quran from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with Quranic Studies, Qur’anic sciences, Living Quran, Quranic Studies across different areas in the world, Methodology of the Quran, and Tafsir studies. Tafsere was published by the Department of Quranic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 2 (2022)" : 6 Documents clear
Al-Nas Wa Al-Iqtido' Lidia Nur Eka Safitri
Jurnal Tafsere Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu Ushulu Al-Fiqh memiliki metode penunjukan makna ayat sebelum melahirkan hukum shara’. Kelompok Hanafiah membagi metode penunjukan makna (dilalah ayat) ke dalam empat tingkatan yakni ’ibarah nas, ’isharah nas}, dilalah nas, dan iqtido’ al-nas. Jika seseorang memahami Alquran tanpa menggunakan dilalah ayat, maka pemahamannya akan kering dan tidak utuh. Pada penelitan ini, penulis menggunakan metode library research dengan metode induktif dan deduktif. Artikel ini akan membahas mengenai metode penunjukan makna ayat ketika tidak terdapat lafal dalam nas yakni dilalah nas dan iqtido’ al-nas. Dilalah nas adalah petunjuk yang dipahami dengan ‘illah hukum yang sama. Salah satu contoh dilalah nas dalam Alquran adalah seperti yang terdapat pada QS: Al-Isra’:32. Sedangkan iqtido’ nas penunjukan nas pada suatu makna yang tidak disebutkan, namun kebenarannya dapat diperkirakan sesuai makna shara’. Contohnya yang terdapat dalam QS: Yusuf :82.
Kaidah Kritik Matan Hadis Menafsirkan Al-Qur'an Hadari
Jurnal Tafsere Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur’an dan Hadis sebagai warisan monumental telah mengalami fase kesejarahan yang panjang di samping mendapat perlakuan yang berbeda dalam proses identifikasi, kodifikasi, dan pemeliharaannya. Fase kesejarahan Al-Qur’an dengan kesemua proses-proses sebagaimana disebutkan tadi dikoordinir oleh Khalifah, disosialisasikan oleh Gubernur, dan dikontrol secara ketat oleh hafalan segenap kaum Muslimin. Akan halnya dengan Hadis, prosesnya melalui sikap perorangan (non-konsensus) yang berlangsung dalam kurun waktu empat abad hingga akhirnya sampai pada ulama kolektor kitab hadis standar dengan format penyajian yang berbeda, yakni format muṣannif, musnad, sunan, ṣaḥīḥ, al-jāmiʻ, mustadrak dan lain-lainnya. Itulah sebabnya mengapa kritik terhadap Al-Qur’an tidak segencar kritik terhadap Hadis, baik yang datang dari kalangan orientalis, al-muḥaddiṡūn, maupun yang datang dari kalangan inkār al-Sunnah. Terbunuhnya ‘Umar bin Khaṭṭāb tidak banyak mempengaruhi perkembangan Ilmu Kritik Hadis. Namun terbunuhnya ‘Uṡmān bin ‘Affān serta al-Husein bin ‘Alī yang diiringi kelompok politik dalam tubuh umat Islam, sangat berpengaruh terhadap perkembangan kritik Ilmu Hadis. Karena untuk memperoleh legitimasinya, masing-masing kelompok itu mencari dukungan dari Hadis Nabi saw. Dan apabila Hadis yang dicarinya tidak ditemukan mereka kemudian membuat Hadis palsu.
Makna Ayat-Ayat Teguran Terhadap Nabi Muhammad SAW (Studi Analisis Surat Ali Imran: 128, Al-Anfal: 67, Al-Taubah: 43, dan Al-Kahfi: 23-24 Imam Mukhlis
Jurnal Tafsere Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nabi Muhammad Saw merupakan seorang yang memiliki budi pekerti dan akhlak yang agung. Pujian ini telah dinyatakan oleh Alquran dalam surah al-Qalam ayat ke 4. Disisi lain, Alquran juga menyajikan ayat-ayat lain yang berisikan teguran untuk sang Nabi. Terdapat 8 poin teguran Allah untuk Nabi Muhammad Saw dikarenakan kekeliruannya dalam mengambil keputusan. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan, bukankah Nabi Saw seorang yang memiliki sifat maksum? Artikel ini akan mengkaji hubungan antara kemaksuman Nabi Saw dengan ayat-ayat teguran. Dalam artikel ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif. Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa ayat-ayat teguran untuk Nabi Muhammad Saw tidaklah menggugurkan kemaksuman yang dimilikinya. Alasannya, karena Nabi Saw memiliki kedudukan (maqam) spiritual yang tinggi. Sehingga tatkala melakukan tindakan yang kurang tepat, maka hal itu akan terlihat di mata orang awam sebagai sebuah kesalahan. Selain itu, ayat-ayat teguran merupakan pembelajaran baru bagi Nabi Muhammad Saw dan juga untuk ummat Islam.
Pelecehan Seksual Dalam Al-Qur'an Muhammad Rifqi Afrizal; Ryan Sauqi; Tsani Mubarok Bih; Tadzkirotul Ulum
Jurnal Tafsere Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dikenal sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari sinilah, gejala sosial yang disebut dengan pelecehan sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat, yang biasanya terjadi pada kaum perempuan. Perilaku yang dapat dianggap sebagai tindak kekerasan terhadap perempuan ialah perilaku yang dilakukan oleh seseorang, yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, rasa cemas bahkan yang dapat menimbulkan efek trauma. Menurut Komnas Perempuan, yang dicatatkan pada CATAHU pada tahun 2020, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan 299.911 kasus. Dalam hal ini, perilaku kekerasan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, akan tetapi juga dapat berbentuk kekerasan yang non fisik. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya persoalan reaksi jender yang sangat luas dan kompleks dalam aspek kehidupan manusia, seperti terdapat pada moral, agama, iman dan lain-lain. Tindakan pelecehan ini sering terjadi pada perempuan, akan tetapi dalam pandangan para tokoh lain dapat juga terjadi pada laki-laki. Selanjutnya, bentuk pelecehan terhadap perempuan dilakukan dengan memaksakan kehendak dari pelaku tanpa adanya keinginan dari korban yang berkaitan dengan seksualitas. Dalam ajaran Islam, tindakan pelecehan seksual terhadap perempuan tidak dibenarkan karena telah keluar dari jalur syariat, dan merupakan tindakan tercela. Akan tetapi, Islam juga memberi hukuman bagi pelaku pelecehan seksual tersebut. Dan, Alquran memberikan penjelasan bahwa hal-hal yang mendekati zina tidak diperbolehkan, apalagi sampai melakukan perbuatan pelecehan seksual terhadap perempuan.
Tafsir Al-Muzammil (Kajian Metodologis atas Tafsir Kiai Ahmad Marzuki Hasan) Fathullah Marzuki
Jurnal Tafsere Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap metodologi penafsiran Kiyai Ahmad Marzuki Hasan terkait metode, sumber dan corak penafsirannya didalam Tafsir Surah Al-Muzzammil. Rumusan masalahnya ada tiga yaitu apa hakikat Metode penafsiran Kiayi Ahmad Marzuki Hasan dalam Tafsir Surah al-Muzzammil?, bagaimana Bentuk Penafsirannya?, dan bagaimana Corak Penafsirannya?. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber data premiernya adalah Kitab Tafsir Surah al-Muzzammil Karya Kiayi Ahmad Marzuki Hasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama, Metode penafsiran yang digunakan oleh Kiayai Ahmad Marzuki Hasan adalah metode Ijmali, hal tersebut dapat dilihat dari penjelasan terhadap ayat secara garis besar, menggunakan sub bahasan dalam rangkaian ayat-ayat, penjelasan singkat, dan tidak berpanjang lebar menjelaskan kata demi kata dari berbagai aspek keilmuan seperti kata dari aspek Bahasa, balaghah, nahwu serta perbandingan tafsir-tafsir sebagaimana metode muqaran, hal ini dikarenakan focus penafsirnnya adalah nilai dakwah dan implikasinya dalam kehidupan pendengarnya, mengingat tafsir ini adalah kitab yang ditransformasikan dari rekaman ceramah dalam bentuk kaset. Kedua, bentuk penafsirannya berbentuk Tafsir bi al-Ma’sur, hal tersebut tergambar dan sesuai dengan metodologi tafsir bi al-Ma’sur yang terlah disepakati, sebagai contoh dalam menafsirkan QS al-Muzzammil: 5-8 diawali dengan menafsirkan dengan ayat lain dalam QS al-Isra’ 79. Selain itu, penafsiran Surah al-Muzzammil ini dikaithubungkan dengan hadis-hadis nabi saw. Ketiga, dengan menganalisis tafsir surah al-Muzzammil karya Kiayai Ahmad Marzuki Hasan, peneliti menyimpulkan bahwa dominasi corak yang mewarnai tafsir ini adalah corak al-Adab al-ijtima’i oleh karena penafsirannya yang selalu dikait hubungkan dengan isu factual dan terkini dalam masyarakat dimasa beliau menafsirkan surah ini. Hal ini tentu tidak lepas dari pengaruh orang tua dan gurunya Darwis Zakaria yang menekankan Pendidikannya pada hukum dan dakwah.
Tikrar (Pengulangan) Dalam Al-Qur'an Asmullah
Jurnal Tafsere Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah pokok dalam tulisan ini adalah berusaha untuk mengkaji atau mengelaborasi secara mendalam tentang tikrār (pengulangan) dalam al-Qur’ān. Tujuannya adalah: 1) untuk mengkaji atau mengelaborasi hakekat tikrār (pengulangan) dalam al-Qur’ān, dan 2) untuk melacak dan mendeskripsikan kaedah tafsīr yang berkaitan dengan tikrār (pengulangan) dalam al-Qur’ān. Untuk menjawab masalah ini, maka digunakan pendekatan normatif, kontekstual, dan historis dengan metode penelitian yang bersifat deskriptif-analitis dengan cara mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi ayat-ayat al-Qur’ān dan pendapat para pakar yang terkait dengan tikrār (pengulangan) dalam berbagai kitab atau tulisan-tulisan agar diperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan akurat. Adapun hasil kajian dari tulisan ini menunjukkan bahwa pengulangan ayat-ayat al-Qur’ān mempunyai maksud dan tujuan tersendiri, bahkan hal itu menjadikan ayat-ayat al-Qur’ān menjadi sangat indah, puitis, dan romantis, sehingga tidak membosankan untuk dibaca, didengar, dan dikaji makna yang terkandung di dalamnya. Pengulangan (tikrār) dalam al-Qur’ān terjadi karena ada sebab, di antaranya karena ayat tersebut amat penting untuk diperhatikan, terkait dengan ayat sebelumnya, makna yang terdapat di dalamnya berbeda, peristiwanya jauh atau ada hikmah dibalik pengulangan tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 6