cover
Contact Name
Rosid Bahar
Contact Email
rosidbahar@gmail.com
Phone
+6282111688459
Journal Mail Official
mahadaly@idrisiyyah.ac.id
Editorial Address
Pagendingan, Jatihurip, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46153
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Published by Ma'had Aly Idrisiyyah
ISSN : -     EISSN : 28082044     DOI : https://doi.org/10.58572/hkm.v1i2
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam provides an international scholarly forum for research on Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic, and other aspects of Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought in all times and places. By promoting an understanding of the richly variegated Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought in both thought and practice and in its cultural and social contexts, the journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all fields of Islamic studies.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia" : 10 Documents clear
Peranan Pondok Pesantren Terhadap Pembentukan Karakter Anak Didik di Zaman Globalisasi Emi Sriwahyuni
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.193 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.8

Abstract

Karakter itu terjadi karena perkembangan dasar yang sudah ter-kena pengaruh ajar dalam sebuah pesantren memiliki unsur utama yaitu, kyai, santri, pondok, masjid dan kitab kuning. Pada masa era globalisasi ini pesantren masih tetap bertahan, malah peranan-pe-ranan pondok pesantren sangaatlah penting dalam menunjang dan membentuk karakter anak di karenakan semakin banyaknya penga-ruh dari luar masuk sehingga membuat pengaruh yang bersifat negatif pun sangat banyak apalagi dengan teknologi yang sangat canggih hari membuat krisis karakter yang terjadi namun tentunya tidak menghilangkan dampak positifnya juga. Penelitian ini bertu-juan untuk mengetahui peranan pondok pesantren terhadap pem-bentukan karakter anak di zaman globalisasi ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan menggunakan pengum-pulan data kemudian dianalisis mengunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan pondok pesanten terhadap karakter pembentukan karakter anak di masa sekarang sangatlah penting disebabkan di dalam pondok pesantren sangat kental sekali dengan ilmu agama sehingga dan agamalah petunjuk dan pembimbing dalam kehidupan yang sekarang dan yang akan datang. Adapun permasalahan yang timbul pada penelitian ini adalah bagaimana strategi pendidikan pondok pesantren dalam membentuk karakter anak. Kajian ini memfokuskan perhatiannya pada pondok pesantren terhadap pembentukan karakter anak.
Bermursyid Kepada Mursyid Yang Sudah Wafat Menurut Para Sadat Shufiyah Rizal Fauzi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.301 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.9

Abstract

Menghilangkan amradh qalbiyah (penyakit hati) menurut para Ulama hukumnya wajib, dan tidak dapat dilakukan tanpa bimbingan Wali Mursyid. Sehingga mayoritas Ulama Salaf dan Khalaf menghukumi wajib mencari Mursyid zamannya yang tidak terputus silsilahnya dan berada dalam bimbingannya. Permasalahan muncul ketika suatu Tarekat tidak memiliki Mursyid yang meneruskan Mursyid sebelumnya, atau tidak meyakini adanya penerus dari Mursyid yang sudah wafat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kepustakaan dengan pendekatan kajian teks kitab-kitab tasawuf yang menjadi rujukan dikalangan ahli-ahli Tarekat tasawuf. Menurut Syaikh Ibn ‘Arabi, bahwa bermursyid kepada yang sudah wafat dan tidak lagi mencari Mursyid penggantinya maka tidak dikategorikan shuhbah kepada Mursyid dan sulit meraih bimbingannya secara paripurna. Menurut Ahmad Musthafa al-‘Alawi, mursyid yang masih hidup, wakil dari Rasulullah dan seluruh Mursyid sebelummya yang sudah wafat sehingga bermursyid kepada mursyid yang masih hidup akan memperolah bimbingan yang paripurna. Menurut Syaikh ‘Abdul Wahhab asy-Sya’rani, kewajiban bagi murid apabila Syaikhnya wafat untuk segera bermursyid kepada yang masih hidup untuk melanjutkan dan menambah bimbingan Mursyid sebelumnya. Berkata Syaikh Ahmad Tijani kepada murid-murid yang datang setelahnya dan berguru kepadanya “ketahuilah bahwa Allah menjadikan berdasarkan ilmunya yang terdahulu bahwa al-madad itu berlaku setiap zaman beserta ahli zamannya (mursyid zamannya), barang siapa yang merasa cukup dengan ucapan-ucapan Mursyid sebelumnya dari yang sudah wafat, maka hatinya akan di cap dengan terhijab dari wushul. Murid yang berguru kepada Mursyid yang sudah wafat kondisinya ada 3 macam: 1) menolak kepada Mursyid yang mendapat istikhlaf, maka dia ingkar kepada Mursyid zamannya, dan terhalang dari bimbingan Mursyid sebelumnya, 2) ragu kepada Mursyid yang melanjukan karena diduga keras tidak mendapatkan istikhlaf, penunjukan, atau wasiat dari Mursyid sebelumnya, 3) tidak mempercayai sama sekali yang mengklaim sebagai Mursyid pelanjut, maka wajib bagi murid yang ragu dan tidak percaya, untuk mencari dan bersandar kepada Allah untuk diperjumpakan dengan Mursyid zamannya.
Pertemuan Agung Filsafat dan Tasawuf Endang Syarif Hidayat
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.687 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.10

Abstract

Salah satu penyebab kemunduran islam adalah jauhnya umat islam dari pengetahuan filsafat dan tasawuf. Dampak dari menjauhi filsafat, umat islam mundur dalam pengetahuan sain, sehingga kebanyakan negara islam berada dalam posisi negara berkembang. Dampak dari menjauhi tasawuf, umat islam kesulitan merasakan ihsan, sehingga terhambat lahirnya ulama-ulama pewaris Nabi Muhammad Saw, yang suka di sebut para wali Allah yang ditakuti dan disegani manusia muslim maupun non muslim, karena limpahan karaomahnya. Tulisan sederhana ini, berharap dapat membangunkan tidur panjang umat islam, yang senantiasa membenturkan pengetahuan filsafat dan tasawuf, yang telah berlangsung lama, terutama semenjak dibenturkannya ulama – ulama yang menguasai filsafat dan tasawuf, seperti Imam Ghozali dan Ibnu Rusd dan lain-lain. Sehingga sampai saat ini jarang ditemukan, pengetahuan filsafat yang di kaji dalam pesantren yang mendalami tasawuf. Atau pengetahuan tasawuf, jarang ditemukan dalam kajian filsafat. Padahal dalam pengetahuan tasawuf, ada golongan yang disebut tasawuf falsafi. Semoga, tulisan sederhana ini dapat memberikan daya tarik kembali bagi umat islam untuk mendalami filsafat dan tasawuf.
Al-Attas Dan Istac Epitome Universitas Islam Untung Margono
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.118 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.11

Abstract

Universitas Islam merupakan replika manusia paripurna (al-insān al-kāmil). Manusia paripurna berkulminasi pada diri Rasulullah saw. selanjutnya pada diri para pewaris ilmunya. Penelitian beri-kut bertujuan untuk mengekspos ide serta konsep institusi pendidikan tinggi Islam (lit. al-jāmi‘ah al-islamiyyah) yang dipropos dan dirangkai bina oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Meng-gunakan pendekatan diskriptif kualitatif, tulisan ini menemukan bahwa: institusi pendidikan tinggi Islam harus memiliki visi, misi, dan objektif yang jelas di mana pada gilirannya dapat melahirkan manusia yang beradab. Oleh karenanya, rangkaian kurikulum yang komprehensif yang di dalamnya memuat kurikulum ilmu fardu ain dan ilmu fardu kifayah harus terbingkai.
The Concept Of “Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jamā‘Ah” Revisited Baharudin Abdul Rahman
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.462 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.12

Abstract

Understanding about the meaning of “Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah” in the hadith which reads: "sa-Taftariqu 'Ummatī' alā Tsalātsatin wa Sab'īna Firqatin al-Nājiyatun Minhā Wāhidatan wa al-Bāqūna halkā," Qāla wa Man al-Nājiyah? Qāla: "Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah," Qīla wa Mā al-Sunnah wa al-Jamā‘ah ,? Qāla: "Mā Anā 'Alayhi wa Ashhābī" caused a polemic among Muslim scholars, not only among hadits scholars, but also among the kalām scholars. Using semantic analysis, this study found that the expression “ahl al-sunnah wa al-jamā‘ah” no longer refers to one of the groups of the kalām sect, it refers to those who follow the institutions of the prophet Muḥammad(may peace be upon him) and his shaḥābah. The breakers and heretics, they are no longer considered ahl al-sunnah wa al-jamā‘ah and gain salvation.
Peranan Pondok Pesantren Terhadap Pembentukan Karakter Anak Didik di Zaman Globalisasi Sriwahyuni, Emi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.8

Abstract

Karakter itu terjadi karena perkembangan dasar yang sudah ter-kena pengaruh ajar dalam sebuah pesantren memiliki unsur utama yaitu, kyai, santri, pondok, masjid dan kitab kuning. Pada masa era globalisasi ini pesantren masih tetap bertahan, malah peranan-pe-ranan pondok pesantren sangaatlah penting dalam menunjang dan membentuk karakter anak di karenakan semakin banyaknya penga-ruh dari luar masuk sehingga membuat pengaruh yang bersifat negatif pun sangat banyak apalagi dengan teknologi yang sangat canggih hari membuat krisis karakter yang terjadi namun tentunya tidak menghilangkan dampak positifnya juga. Penelitian ini bertu-juan untuk mengetahui peranan pondok pesantren terhadap pem-bentukan karakter anak di zaman globalisasi ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan menggunakan pengum-pulan data kemudian dianalisis mengunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan pondok pesanten terhadap karakter pembentukan karakter anak di masa sekarang sangatlah penting disebabkan di dalam pondok pesantren sangat kental sekali dengan ilmu agama sehingga dan agamalah petunjuk dan pembimbing dalam kehidupan yang sekarang dan yang akan datang. Adapun permasalahan yang timbul pada penelitian ini adalah bagaimana strategi pendidikan pondok pesantren dalam membentuk karakter anak. Kajian ini memfokuskan perhatiannya pada pondok pesantren terhadap pembentukan karakter anak.
Bermursyid Kepada Mursyid Yang Sudah Wafat Menurut Para Sadat Shufiyah Fauzi, Rizal
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.9

Abstract

Menghilangkan amradh qalbiyah (penyakit hati) menurut para Ulama hukumnya wajib, dan tidak dapat dilakukan tanpa bimbingan Wali Mursyid. Sehingga mayoritas Ulama Salaf dan Khalaf menghukumi wajib mencari Mursyid zamannya yang tidak terputus silsilahnya dan berada dalam bimbingannya. Permasalahan muncul ketika suatu Tarekat tidak memiliki Mursyid yang meneruskan Mursyid sebelumnya, atau tidak meyakini adanya penerus dari Mursyid yang sudah wafat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kepustakaan dengan pendekatan kajian teks kitab-kitab tasawuf yang menjadi rujukan dikalangan ahli-ahli Tarekat tasawuf. Menurut Syaikh Ibn ‘Arabi, bahwa bermursyid kepada yang sudah wafat dan tidak lagi mencari Mursyid penggantinya maka tidak dikategorikan shuhbah kepada Mursyid dan sulit meraih bimbingannya secara paripurna. Menurut Ahmad Musthafa al-‘Alawi, mursyid yang masih hidup, wakil dari Rasulullah dan seluruh Mursyid sebelummya yang sudah wafat sehingga bermursyid kepada mursyid yang masih hidup akan memperolah bimbingan yang paripurna. Menurut Syaikh ‘Abdul Wahhab asy-Sya’rani, kewajiban bagi murid apabila Syaikhnya wafat untuk segera bermursyid kepada yang masih hidup untuk melanjutkan dan menambah bimbingan Mursyid sebelumnya. Berkata Syaikh Ahmad Tijani kepada murid-murid yang datang setelahnya dan berguru kepadanya “ketahuilah bahwa Allah menjadikan berdasarkan ilmunya yang terdahulu bahwa al-madad itu berlaku setiap zaman beserta ahli zamannya (mursyid zamannya), barang siapa yang merasa cukup dengan ucapan-ucapan Mursyid sebelumnya dari yang sudah wafat, maka hatinya akan di cap dengan terhijab dari wushul. Murid yang berguru kepada Mursyid yang sudah wafat kondisinya ada 3 macam: 1) menolak kepada Mursyid yang mendapat istikhlaf, maka dia ingkar kepada Mursyid zamannya, dan terhalang dari bimbingan Mursyid sebelumnya, 2) ragu kepada Mursyid yang melanjukan karena diduga keras tidak mendapatkan istikhlaf, penunjukan, atau wasiat dari Mursyid sebelumnya, 3) tidak mempercayai sama sekali yang mengklaim sebagai Mursyid pelanjut, maka wajib bagi murid yang ragu dan tidak percaya, untuk mencari dan bersandar kepada Allah untuk diperjumpakan dengan Mursyid zamannya.
Pertemuan Agung Filsafat dan Tasawuf Hidayat, Endang Syarif
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.10

Abstract

Salah satu penyebab kemunduran islam adalah jauhnya umat islam dari pengetahuan filsafat dan tasawuf. Dampak dari menjauhi filsafat, umat islam mundur dalam pengetahuan sain, sehingga kebanyakan negara islam berada dalam posisi negara berkembang. Dampak dari menjauhi tasawuf, umat islam kesulitan merasakan ihsan, sehingga terhambat lahirnya ulama-ulama pewaris Nabi Muhammad Saw, yang suka di sebut para wali Allah yang ditakuti dan disegani manusia muslim maupun non muslim, karena limpahan karaomahnya. Tulisan sederhana ini, berharap dapat membangunkan tidur panjang umat islam, yang senantiasa membenturkan pengetahuan filsafat dan tasawuf, yang telah berlangsung lama, terutama semenjak dibenturkannya ulama – ulama yang menguasai filsafat dan tasawuf, seperti Imam Ghozali dan Ibnu Rusd dan lain-lain. Sehingga sampai saat ini jarang ditemukan, pengetahuan filsafat yang di kaji dalam pesantren yang mendalami tasawuf. Atau pengetahuan tasawuf, jarang ditemukan dalam kajian filsafat. Padahal dalam pengetahuan tasawuf, ada golongan yang disebut tasawuf falsafi. Semoga, tulisan sederhana ini dapat memberikan daya tarik kembali bagi umat islam untuk mendalami filsafat dan tasawuf.
Al-Attas Dan Istac Epitome Universitas Islam Margono, Untung
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.11

Abstract

Universitas Islam merupakan replika manusia paripurna (al-insān al-kāmil). Manusia paripurna berkulminasi pada diri Rasulullah saw. selanjutnya pada diri para pewaris ilmunya. Penelitian beri-kut bertujuan untuk mengekspos ide serta konsep institusi pendidikan tinggi Islam (lit. al-jāmi‘ah al-islamiyyah) yang dipropos dan dirangkai bina oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Meng-gunakan pendekatan diskriptif kualitatif, tulisan ini menemukan bahwa: institusi pendidikan tinggi Islam harus memiliki visi, misi, dan objektif yang jelas di mana pada gilirannya dapat melahirkan manusia yang beradab. Oleh karenanya, rangkaian kurikulum yang komprehensif yang di dalamnya memuat kurikulum ilmu fardu ain dan ilmu fardu kifayah harus terbingkai.
The Concept Of “Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jamā‘Ah” Revisited Rahman, Baharudin Abdul
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v2i1.12

Abstract

Understanding about the meaning of “Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah” in the hadith which reads: "sa-Taftariqu 'Ummatī' alā Tsalātsatin wa Sab'īna Firqatin al-Nājiyatun Minhā Wāhidatan wa al-Bāqūna halkā," Qāla wa Man al-Nājiyah? Qāla: "Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah," Qīla wa Mā al-Sunnah wa al-Jamā‘ah ,? Qāla: "Mā Anā 'Alayhi wa Ashhābī" caused a polemic among Muslim scholars, not only among hadits scholars, but also among the kalām scholars. Using semantic analysis, this study found that the expression “ahl al-sunnah wa al-jamā‘ah” no longer refers to one of the groups of the kalām sect, it refers to those who follow the institutions of the prophet Muḥammad(may peace be upon him) and his shaḥābah. The breakers and heretics, they are no longer considered ahl al-sunnah wa al-jamā‘ah and gain salvation.

Page 1 of 1 | Total Record : 10