cover
Contact Name
Davit Nugraha
Contact Email
pharmacogenius@gmail.com
Phone
+6285314834050
Journal Mail Official
pharmacogenius@gmail.com
Editorial Address
Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacy Genius
ISSN : -     EISSN : 29644771     DOI : https://doi.org/10.56359/pharmgen.v2i1
Core Subject : Health, Science,
A manuscripts submitted to Pharmacy Genius should be an original research article related to the field of the all scopes of Pharmaceutical Science such as: 1. Pharmaceutics, 2. Biopharmaceutics, 3. Drug Delivery System, 4. Physical Pharmacy, 5. Chemical Pharmacy, 6. Pharmaceutical Technology, 7. Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, 8. Pharmacology and Toxicology, 9. Pharmacokinetics, 10. Pharmaceutical Chemistry, 11. Pharmaceutical Biology, 12. Community and Clinical Pharmacy, 13. Regulatory Affairs and Management Pharmacy, 14. and Alternative Medicines.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius" : 6 Documents clear
Pengaruh Pemberian Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan, Self Management, Dan Kadar Glukosa Darah Pasien DMT2 Afresa Bias Putri Enarga; Peppy Octaviany Dian Megasari; Dwi Novitasari; Aditya Rendra Pranadipta
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.288

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolisme yang menyumbang 90% - 95%. Keberhasilan terapi DMT2 adalah pengobatan dan self management yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Edukasi adalah aspek penting dalam proses penatalaksanaan DM karena kurangnya edukasi dapat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Pengetahuan yang cukup membuat pasien memahami kondisi sakitnya sehingga akan mendorong melakukan self management dan kadar glukosa darah akan terkontrol. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik responden DMT2; pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah; jenis obat yang digunakan. Metode: Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden DMT2 dengan kriteria inklusi pasien rawat jalan usia 20-65 tahun, data diambil dengan wawancara, pemberian kuesioner dan rekam medik. Intrumen penelitian berupa kuesioner DKQ24 dan DMSQ. Analisis data univariat dengan uji distribusi frekuensi dan uji paired t-test. Analisis bivariat dengan uji wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pasien yang banyak terdiagnosa DM adalah usia >45 tahun, jenis kelamin perempuan, lama DM 1-5 tahun, dan tingkat pendidikan SD. Hasil uji bivariat menunjukan ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah (0,000<0,05). Obat yang paling banyak digunakan adalah metformin (20%). Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah. Obat yang paling banyak dikonsumsi adalah metformin (20%). Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolisme yang menyumbang 90% - 95%. Keberhasilan terapi DMT2 adalah pengobatan dan self management yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Edukasi adalah aspek penting dalam proses penatalaksanaan DM karena kurangnya edukasi dapat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Pengetahuan yang cukup membuat pasien memahami kondisi sakitnya sehingga akan mendorong melakukan self management dan kadar glukosa darah akan terkontrol. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik responden DMT2; pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah; jenis obat yang digunakan. Metode: Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden DMT2 dengan kriteria inklusi pasien rawat jalan usia 20-65 tahun, data diambil dengan wawancara, pemberian kuesioner dan rekam medik. Intrumen penelitian berupa kuesioner DKQ24 dan DMSQ. Analisis data univariat dengan uji distribusi frekuensi dan uji paired t-test. Analisis bivariat dengan uji wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pasien yang banyak terdiagnosa DM adalah usia >45 tahun, jenis kelamin perempuan, lama DM 1-5 tahun, dan tingkat pendidikan SD. Hasil uji bivariat menunjukan ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah (0,000<0,05). Obat yang paling banyak digunakan adalah metformin (20%). Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah. Obat yang paling banyak dikonsumsi adalah metformin (20%).
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Persepsi Masyarakat Tentang TB Paru di Barlingmascakeb Jawa Tengah Cecep Darwis Muttaqin; Galih Samodra; Khamdiah Kusuma
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.289

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB Paru) adalah penyakit yang dapat menular melalui udara dan memiliki potensi untuk memengaruhi berbagai jaringan tubuh, dengan notifikasi sekitar 42.000 kasus dan jumlah kasus ini terdistribusi di seluruh kabupaten di Jawa Tengah. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang TBC di Barlingmascakeb Metode: penelitian kuantitatif, desain penelitian deskriptif corelation study dengan pendekatan cross sectional. Menggunakan questioner berbasis online dengan platform google form, Populasi diambil berdasarkan masyarakat yang di Barlingmascakeb Jawa Tengah. Ukuran sampel ditentukan berdasarkan Confidence Level 95% dan Margin of Error 5%, sehingga diperoleh jumlah minimum dari sampel adalah 385 jiwa. Analisis univariat digunakan untuk menginterpretasikan karakteristik dan gambaran masyarakat Barlingmascakeb terkait penyakit TB Paru, yang diungkapkan dalam bentuk peresntasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang TB Paru cenderung baik dengan nilai persentase rata-rata yang didapat lebih > 70%, namun tingkat persepsi menunjukkan bahwa persepsi mereka cenderung rendah nilai persentase < 50%. Kesimpulan: Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang TB Paru cenderung baik, tingkat persepsi menunjukkan bahwa persepsi mereka cenderung rendah. Temuan ini dapat sebagai acuan Farmasi dengan meninjau gambaran masyarakat tentang TB untuk peningkatan edukasi dan pengembangan kepatuhan pengobatan di masyarakat.
Pengaruh Riwayat Pengobatan Pasien TB Terhadap Kejadian TB MDR di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Vidia Putri Kusumandari; Sunarti Sunarti; Desy Nawangsari
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.294

Abstract

Pendahuluan: TB MDR merupakan kondisi dimana Mycobacterium tuberculosis telah resisten terhadap rifampisin (RIF) dan Isoniazid (INH) yang merupakan obat anti TB lini pertama yang paling efektif untuk melawan dan mengeliminasi Mycobacterium tuberculosis. Hubungan antara status riwayat pengobatan dengan kejadian TB MDR dan pasien yang tidak tuntas dalam pengobatan berpeluang 16 belas kali lebih besar mengalami TB MDR TB MDR saat ini menjadi salah satu ancaman dalam pengendalian TB. Penderita TB dengan pengobatan sebelumnya tidak adekuat beresiko mengalami resistensi OAT sebesar 40 kali dibandingkan penderita TB yang sembuh atau TB dengan pengobatan yang adekuat. Riwayat pengobatan pasien yang paling banyak menyebabkan kejadian TB MDR adalah kasus kambuh, kasus lost to follow up, kasus gagal terapi, kasus baru. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh riwayat pengobatan sebelumnya terhadap kejadian TB MDR di Poli Paru RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain studi crossectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan seluruh populasi diambil menjadi sampel, Sampel dalam penelitian ini adalah pasien TB yang positif resistan obat dan didapatkan sampel sebanyak 62 pasien. Data diambil dengan melihat rekam medis pasien. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pada riwayat pengobatan TB sebelumnya yang berpengaruh terhadap kejadian TB MDR adalah pasien baru dengan nilai p value 0,037 dan pasien kambuh dengan nilai p value 0,022, sehingga diharapkan pemantauan lebih kepada pasien dengan riwayat tersebuat untuk menurunkan prevalensi kejadian TB MDR di Indonesia.  Kesimpulan: Pasien baru dan pasien kambuhan menjadi riwayat pengobatan yang berpengaruh terhadap kejadian TB MDR, dengan nilai p value 0,022 dan 0,037 menandakan hubungan yang signifikan terhadap kejadian TB MDR, sedangkan pasien gagal terapi dan pasien Lost To Follow up tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Hasil Ekstraksi Bertingkat Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Siti Muawanah; Dina Febrina; Sunarti Sunarti
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.296

Abstract

Pendahuluan: Salah satu tumbuhan yang diyakini memiliki manfaat untuk pengobatan adalah bunga telang (clitoria ternatea L). Kandungan senyawa dalam bunga telang (Clitoria ternatea L) memiliki berbagai macam khasiat bagi kesehatan, namun pemanfaatan bahan alam tetap harus mempertimbangkan kandungan senyawa didalamnya sehingga penting dilakukan skrining fitokimia sehingga dapat diketahui ketepatan informasi tentang senyawa yang terkandung dalam bahan alam tersebut. Skrining fitokimia merupakan langkah awal untuk mengetahui kandungan bahan aktif yang merupakan metabolit sekunder pada tumbuhan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa dalam bunga telang (clitoria ternatea L) melalui uji skrining fitokimia. Metode: Pada penelitian ini digunakan mentode eksperimental dengan melakukan pembuatan simplisia dari bunga telang (clitoria ternatea L), lalu di maserasi bertingkat dengan tiga variasi pelarut (n-heksana, etil asetat, dan metanol), dan ekstrak cair dikentalkan. Hasil  ekstrak kental bunga telang  dilakukan uji skrining fitokimia (alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, terpenoid/steroid dan tanin). Hasil: Hasil skrining fitokimia untuk ekstrak n-heksan didapatkan bahwa semua uji menunjukkan hasil positif kecuali pada uji saponin, sedangkan pada ekstrak etil asetat didapatkan hasil bahwa semua uji skrining fitokimia positif semua dan pada uji dengan ekstrak metanol didapatkan hasil bahwa semua uji skrining fitokimia positif kecuali pada uji terpenoid. Kesimpulan: Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, terpenoid/steroid dan tanin pada ekstrak bunga telang.
Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Fermentasi Terhadap Sifat Organoleptik dan Aktivitas Antioksidan Teh Kombucha Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Dwi Syaji Wahyuningtias; Aditya Silvia Fitriana; Desy Nawangsari
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.297

Abstract

Pendahuluan: Bunga telang (Clitoria ternatea L.) memiliki potensi farmakologi sebagai agen antioksidan. Bunga telang dapat dijadikan bahan untuk pembuatan minuman kombucha, yang merupakan produk hasil fermentasi teh dan gula menggunakan simbion bakteri dan ragi yang dikenal sebagai SCOBY. Secara umum, proses fermentasi kombucha dilakukan pada suhu ruang selama sekitar 7 hari. Suhu dan durasi fermentasi memiliki peran krusial dalam setiap tahap proses fermentasi ini Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perngaruh suhu fermentasi 18, 25 dan 30oC dan lama waktu (hari ke-0, 3, 6, 9, 12 dan 15) terhadap sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan yang dihasilkan Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen yang melibatkan analisis pengujian aktivitas antioksidan dengan metode spektrofotometer UV-Vis Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu fermentasi tidak memiliki dampak signifikan pada karakteristik organoleptik, nilai aktivitas antioksidan tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai signifikansi ANOVA sebesar 0,678 (p > 0,05). Sebaliknya, lama waktu fermentasi secara nyata mempengaruhi perubahan sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan pada teh kombucha bunga telang. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi ANOVA IC50 adalah 0,000 (p < 0,05) untuk sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan. Kesimpulan: Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa suhu tidak memiliki dampak pada perubahan sifat organoleptik, kadar flavonoid, dan aktivitas antioksidan pada kombucha bunga telang. Sebaliknya, durasi fermentasi memiliki pengaruh yang signifikan pada perubahan sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan pada teh kombucha bunga telang.
Gambaran Hubungan Tingkat Pengetahuan Dismenorea Terhadap Perilaku Swamedikasi Primer Siswi Kelas Viii Smpn 1 Padaherang T.A 2022/2023 Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Widhy Rahmadilla Garnadi; Davit Nugraha; Nurhidayati Harun; Rian Ismail
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.298

Abstract

Pendahuluan: Di Indonesia tidak ada angka pasti mengenai jumlah penderita dismenorea, dikarenakan lebih banyak perempuan yang mengalami dismenorea tidak melaporkan atau berkunjung kedokter dan lebih memilih melakukan tindakan swamedikasi. Rasa malu ke dokter dan kecendrungan untuk meremehkan penyakit tertentu di Indonesia tidak dapat dipastikan secara mutlak. Boleh dikatakan 90% perempuan Indonesia pernah mengalami dismenorea. Tujuan: Mengetahui gambaran swamedikasi dismenorea pada remaja SMPN 1. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Pre Experimental dengan desain one grup pretest-posttest. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi berupa wawancara pada suatu kelompok. pengukuran dilakukan dengan kuesioner yang sudah tervalidasi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan sebelum penelitian kepada 238 responden yang dilakukan peneliti kepada 48 responden. Hasil: Uji validitas ini dilakukan oleh 48 responden kepada santri Pondok Pesantren Asy-Syifa Padaherang, karena responden memiliki kriteria yang hampir sama dengan siswi SMPN1 Padakherang. Syarat untuk dinyatakan valid apabila nilai r hitung hasilnya lebih besar dari r tabel. Jika nilai validitas setiap jawaban yang didapatkan ketika memberikan daftar pertanyaan nilainya lebih besar dari 0,3 maka item pertanyaan tersebut dikatakan valid. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan dan swamedikasi pada siswi SMPN 1 Padaherang, dengan mengambil 48 responden maka peniliti dapat menarik kesimpulan sebagai Tingkat pengetahuan swamedikasi pada siswi SMPN 1 Padaherang adalah cukup baik dengan persentase 64%. Tingkat pengetahuan dismenorea pada siswi SMPN 1 Padaherang adalah baik dengan persentase 70%. Adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi dismenorea (p=0,06) pada siswi SMPN 1 Padaherang Swamedikasi dismenorea pada siswi SMPN 1 Padaherang masing-masing mayoritas memilih Feminax sebagai pilihan obat, apotek sebagai sumber medapatkan obat, informasi teman /keluarga sebagai pertimbangan memilih obat, anggapan penyakit ringan sebagai alasan melakukan swamedikasi, memiliki sekala nyeri katagori ringan dan memperoleh hasil dari swamedikasi yaitu rasa sakit berkurang.

Page 1 of 1 | Total Record : 6