cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (1999)" : 8 Documents clear
JENIS KODE DAN FUNGSI KODE DALAM WACANA KHOTBAH JUMAT: STUDI KASUS EMPAT MASJID DI YOGYAKARTA Amir Ma'ruf
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.769 KB) | DOI: 10.22146/jh.636

Abstract

Istilah wacana yang bagi ilmuwan sosial lainnya sering disebut diskursus (Oetomo, 1993: 3) muncul di Indonesia dari istilah Inggris discourse sekitar tahun 1970-an (Djajasudarma, 1994 :1) . Istilah wacana dipahami sebagai suatu unit bahasa yang lebih Iuas daripada kalimat yang membawa amanat yang lengkap . Lengkap dalam arti selesai dan bermakna (Ma'ruf, 1999:23) . Khotbah Jumat dikatakan sebagai wacana karena khothah Jumat merupakan tuturan khatib yang disampaikan sebelum salat Jumat di masjid atau suatu tempat yang digunakan sebagai masjid untuk mengajak jamaahnya agar senantiasa bertakwa kepada Allah swt. Dalam penyampaian khotbah Jumat itu digunakan kode-kode . Kode (code) yang berarti tanda (Echols, J.M. et al. 1995: 122) bukanlah tanda atau isyarat gerak-gerik sekitar kepala, anggota tubuh, serta isyarat benda lainnya yang digunakan untuk berkomunikasi, tetapi merupakan tanda (kata-kata, tulisan) yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1996:510). Dalam hal ini Pateda (1987 : 83-84) menyebutkan bahwa seseorang yang melakukan pembicaraan sebenamya mengirimkan kode-kode kepada lawan bicaranya . Kode itu secara Humankra No. 11 Mei- Agustus 1999 alamiah dihasilkan oleh alat bicara manusia . Kode-kode itu hares dimengerti oleh kedua belah pihak. Karena setiap kali terjadi perubahan bunyi, terjadi perubahan makna . Menurut Wardhough (1988 : 86) kode mengacu kepada bahasa atau varianlragam suatu bahasa . Dengan demikian, disimpulkam bahwa kode itu tidak lain merupakan bahasa dan variasinya. Dalam tulisan ini dibicarakan jenis dan fungsi kode dalam wacana khothah Jumat.
TRANSFER OF JAVANESE CULTURE IN THE PRODUCTION OF ENGLISH UTTERANCES AND ITS POSSIBLE IMPACT ON INTER-CULTURAL INTERACTION FX Nadar
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.61 KB) | DOI: 10.22146/jh.657

Abstract

This brief paper discusses the ways Javanese speaking English produce utterances in English which show transfer and influence from Javanese culture . It argues that cultural transfer from first language has possible negative impact in intercultural interaction . First, some important characteristics of Javanese culture will be discussed, then examples of utterances commonly produced by Javanese speaking English will be given . The writer collected the data from his classroom activities, his personal experience and also from limited studies on the ways Javanese speaking English produce certain acts by using questionnaires . Finally this paper argues that as cultural transfer may influence the smoothness of interaction between Javanese speaking English with speakers English of other cultures and particularly with native speakers of English, it is essential that teachers as well as learners of English in Indonesia should be aware of such cultural transfer and include the discussion of cultural differences in their teaming process.
IMPERATIF DALAM BAHASA INDONESIA : PENANDA-PENANDA KESANTUNAN LINGUISTIKNYA R Kunjana Rahardi
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.148 KB) | DOI: 10.22146/jh.658

Abstract

Terdapat empat pemarkah kesantunan linguistik (linguistic politeness) tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia . Keempat pemarkah tersebut adalah (1) panjang pendek tuturan, (2) urutan tutur, (3) intonasi dan isyarat kinesik, (4) ungkapan-ungkapan penanda kesantunan . Sedikitnya terdapat 10 macam ungkapan pemarkah yang dapat menentukan kesantunan linguistik tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia . Pemarkah-pemarkah kesantunan linguistik tuturan imperatif tersebut adalah tolong, mohon, silakan, marl, biar, ayo, coba, harap, hendak(lahlnya), dan sudi kiranyalsudilah kiranyalsudi apalah kiranya . 1. Pengantar Sesuai dengan judulnya, di dalam tulisan ini akan diperikan penanda-penanda kesantunan linguistik tuturan imperatif bahasa Indonesia . Yang dimaksud dengan penanda kesantunan linguistik (linguistic politeness) adalah ungkapan entitas linguistik yang kehadirannya dalam tuturan menyebabkan to turan tersebut menjadi Iebih santun dibandingkan dengan tuturan sebelumnya . Di samping kesantunan jenis yang pertama itu dalam linguistik terdapat jenis kesantunan lain yang kemunculannya bukan didasarkan pada hadir tidaknya ungkapan entitas linguistik, melainkan karena terdapatnya entitasentitas nonlinguistik yang sifatnya pragmatik . Kesantunan jenis kedua itu lazim disebut de- 16 I Doktor, Magister Humaniora, staf pengajar ASMI Santa Maria, Yogyakarta . ngan kesantunan pragmatik (pragmatic politeness). Karena berbagai keterbatasan, yang akan diperikan di dalam tulisan singkat ini hanyalah kesantunan jenis pertama . Dengan demikian jenis kesantunan yang kedua berada di luar lingkup tulisan ini . Data penulisan singkat ini didapatkan secara lokasional dari sumber data tertulis maupun lisan yang terdapat di dalam pemakaian bahasa Indonesia keseharian (ordinary language) . Data tersebut didapatkan dengan cara melakukan penyimakan terhadap pemakaian bahasa tulis maupun lisan . Di samping itu, data tulisan singkat ini juga didapatkan dengan cara mengadakan percakapan dengan mitra tutur yang dalam kesehariannya berbahasa Indonesia . Dengan perkataan lain, data penulisan ini didapatkan dengan menerapkan metode simak dan metode cakap seperti yang lazim digunakan di dalam penelitian-penelitian linguistik struktural . Karena penulis merasa memiliki distansi lingual yang masih berkadar kuat dengan bahasa Indonesia, data penulisan ini pun juga dibangkitkan secara kreatif dad intuisi lingual penulis. Dalam hal yang terakhir ini data harus dikenai teknik triangulasi terlebih dahulu untuk menguji keabsahannya sebagai data penulisan ilmiah .
PELACUR, WANITA TUNA SUSILA, PEKERJA SEKS, DAN "APA LAGI" : STIGMATISASI ISTILAH Koentjoro Koentjoro; Sugihastuti Sugihastuti
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.613 KB) | DOI: 10.22146/jh.660

Abstract

Dalam sebuah pengantar rapat penyusunan protap (prosedur tetap) penanganan HIV/AIDS di Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang kepala kantor wilayah departemen tertentu berulang kali menyebut istilah pekerja seks dan pekerja seks komersial (PSK) untuk menggantikan istilah pelacur. Ketika itu, kami tanyakan apakah istilah pekerja seks dan pekerja seks komersial itu merupakan istilah resmi pemenntah untuk menggantikan istilah pelacur? Jawabnya adalah tidak . Dikatakannya bahwa istilah pekerja seks dan pekerja seks komersial sekarang sudah lazim dikatakan dan ditulis oleh banyak orang. Dua kata IN merupakan terjemahan dan sex worker yang dijumpai pada beberapa buku bacaannya . Istilah pelacur penting didiskusikan dalam parafrasenya dengan istilah lain . Mengapa penting? Jawabnya adalah bahwa istilah ini, menyangkut masalah stigma . Masalah stigma berkaitan erat dengan istilah pemahaman, pemaknaan, dan penerimaan sebuah istilah, perilaku, atau gejala perilaku tertentu. Oleh karena itu, mendiskusikan istilah pelacur dan istilah lain yang gayut dengannya menjadi sangat penting dan diperlukan. Pemberian arti dan makna sebuah istilah menjadi sangat penting manakala kita kemudian melihat dampak penlaku yang ditimbulkan oleh proses pemaknaan, pemahaman, dan penerimaannya . Untuk hal itu, tulisan ini menguraikan dan membahas berbagai istilah yang gayut dengan istilah pelacur, misalnya, wanita tuna sustla, pe- 30 PELACUR, WANITA TUNA SUSILA, PEKERJA SEKS, DAN "APA LAGI" : STIGMATISASI ISTILAH kerja seks, pekerja seks komersial, dan yang lainnya .
REALISME DALAM JAGAT TEATER Bakdi Soemanto
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1698.273 KB) | DOI: 10.22146/jh.661

Abstract

Pada suatu senja tanggal 1 Maret 1923, di rumah Ang Jan-Goan di kawasan Jatinegara Jakarta tempo doeloe, berkumpul beberapa pemuda terpelajar . Kebanyakan mereka adalah pelajar AMS bagian A (Sastra Barat) dan B . Di samping itu, juga ada di antara mereka "mahasiswa" Sekolah Dokter Jawa . Jan-Goan menunjukkan kepada mereka hasil kerjanya yang terbaru, sebuah manuskrip terjemahan lakon dalam bahasa Melajoe Renda yang berjudul Moesoenja Orang Banjak' . Lakon ini adalah karangan seorang dramawan Norwegia, Henrik Ibsen (1828-1906) namanya, yang judul aslinya tidak pernah dikenal di Indonesia, En Folkefiende yang diselesaikan pads tahun 1882 . Diduga Jan-Goan tidak menerjemahkan lakon itu dan bahasa aslinya, tetapi lewat versi bahasa Belanda Een Volksvijand atau versi bahasa Inggris, An Enemy of the People . Sebagaimana pendahulunya, Kweek Tek-Hoay pada tahun 1919 yang menerjemahkan karya Philp Oppenheim dan Lauw Giok-Lan pads tahun 1909 menerjemahkan sejumlah lakon yang sexing dimainkan oleh rombongan toneel Belanda, Jan-Goan melanjutkan tradisi baru itu. Jakob Sumardjo2 mencatat bahwa apa yang dikerjakan oleh orang-orang Cina peranakan terpelajar itu tidak ada hubungannya dengan kegiatan teater komersial, misalnya rombongan Miss Riboet's Orion, Dardanella, dan sebagainya . Mungkin perlu ditegaskan bahwa kegiatan kaum terpelajar ini dapat dikatakan sebagai suatu counter culture terhadap mereka . Diduga kegiatan kaum 34 terpelajar ini memang tidak untuk mereka, bahkan tidak akan pemah untuk mereka, sebab kegiatan kaum terpelajar itu merupakan suatu antitesis terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Orion, Dardanella, Bangsawan, Komedie Stamboel, dan sebagainya. Walaupun anggota kelompok sandiwara komersial itu tidak dapat dikatakan berbuta huruf, mereka hidup dan menjaga hidup terns dalam jagat pikir kebudayaan oral dan bukan kebudayaan tulis . Oleh karena itu, cara mereka bermain iebih loose dan bebas dan segala patokan main tidak seperti yang tampak pada teater Ibsen, George Bernard Shaw (1856-1950), George Jan Nathan (1882-1952), Konstantin Stanislavsky (1865- 1938), dan lain-lain, juga teknik staging yang dituntut oleh lakon yang diterjemahkan oleh Jan-Goan, Moesoenja Orang Banjak. Di Indonesia, Henrik Ibsen dikenal melalui lakon-lakon yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan versi bahasa Belanda atau Inggris, misalnya Gengangere (1881) yang dalam bahasa Inggris disebut Ghosts dan Vildanden (1884), yang sexing dikenal sebagai The Wild Duck. Pada tahun 1970-an, Vildanden sangat populer di kalangan para pecinta sandiwara radio berbahasa Jawa dengan judul Bekisar yang disiarkan setiap Minggu malam sesudah Warta Berita pukul 22.00 WIB . Sandiwara auditif IN tampil secara serial di RRI Nusantara Ii, Yogyakarta, dengan sutradara almarhum Sumardjono, dan dibintangi oleh tokoh-tokoh drama radio terkemuka, antara lain Mohamad Habib Bari dan Hastin Atas Asih
Bukan Dua Sisi Dari Sekeping Mata Uang Pernaskahan dan Perteksan dalam Tradisi Sastra Melayu Klasik Sudibyo Sudibyo
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.455 KB) | DOI: 10.22146/jh.662

Abstract

Dalam tradisi kesusastraan Melayu klasik, jarang terjadi suatu teks muncul hanya dalam satu naskah. Pada umumnya, sebuah teks hadir melalui beberapa naskah dan dengan wajah yang berbeda-beda . Hal ini disebabkan oleh beberapa hal . Pertama, adanya keinginan yang kuat untuk menyebarkan informasi yang terkandung dalam teks yang dipandang penting yang menyebabkan teks periu ditransmisikan . Kedua, dalam perjalanannya, teks melintasi bates ruang dan waktu yang berakibat teks rentan terhadap perubahan. Perubahan ini terutama disebabkan oleh resepsi dan interpretasi dalam proses transmisi dengan tujuan menyesuaikan salinan dengan suatu kondisi tertentu. Ketiga, teks sendin kadang-kadang memuat imbauan agar dirinya direnovasi, dikoreksi, dan disempumakan (Kratz, 1981 : 233) . Keempat, adakalanya dalam proses transmisi dipergunakan referensi yang menyebabkan terjadinya percampuran tradisi (Teeuw, 1986: 7) . Semua ini dimungkinkan karena teks Nadir dalam onimitas (bdk. Genette, 1997 : 39) dan anonimitas (Braginsky, 1993 :2) . Dalam tradisi kesusastraan Melayu klasik, onimitas, dalam hal ini onimitas peran naratorial diwujudkan dengan penyebutan nama did, dalang, yang empunya cerita, paramakawi, 52 bujangga, dagang, gharib, musafir, dan faqir (Koster, 1997 : 54). Onimitas peran naratorial ini hampir selalu berhubungan dengan fungsi dan genre sastra tertentu . Dalang, misalnya, dapat dipastikan mengacu pada cerita-cerita yang berfungsi menghibur atau melipur . Wahananya berupa hikayat dan syair percintaan, keajaiban, dan petualangan, misalnya cerita Panji dan cerita wayang, baik berupa prosa maupun puisi . Dagang hanya muncul dalam cerita-cerita yang berfungsi memberi faedah atau member manfaat. Adapun genre yang menjadi medianya adalah cermin-cermin didaktis bagi para raja dan pegawai istana, antologi-antologi didaktis, dan kronik-kronik sejarah (lihat Braginsky, 1994 : 2). Gharib, musafir dan faqir hadir dalam cerita-cerita yang berfungsi menyucikan rohani atau hail nurani manusia . Genre yang menjadi wahananya ialah kitab-kitab agama, tasawuf, hagiografi, dan alegori-alegori sufi, balk berupa prosa maupun puisi .
TENTANG HUKUM ESTETIKA Heru Marwata
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.772 KB) | DOI: 10.22146/jh.663

Abstract

Sekarang ini beredar buku- buku yang dapat dikatakan sebagai pemandu bagi para penulis pemula . Isi buku-buku seperti itu biasanya penjelaasan tentang bagaimana cara menulis, berisi teori dan sekaligus contoh pemraktekkannya . Dalam buku-buku itu tentu saja terdapat pula hal-hal yang disarankan untuk ditempuh dan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan . Inilah yang menggelitik penulis untuk membahas hukum estetika, khususnya tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menulis .
SEMIOTIKA SEBAGAI TEORI MEMBACA DAN PROBLEMNYA ; SEBUAH CATATAN SINGKAT Muhammad Arif Rokhman
Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.294 KB) | DOI: 10.22146/jh.664

Abstract

Definisi dalam Konteks Pembicaraan tentang semiotika2 akan sangat menarik karena, dalam kenyataannya, bidang tersebut tidak terbatas pada satu disiplin tertentu . Pada dasamya, semiotika adalah ilmu tentang tanda . Dalam contoh kehidupan sehari-hari, seseorang dapat diketahui sedang mempunyai perasaan tertentu, misalnya, dart gerak-gerak tubuh dan ekspresi wajahnya. Seseorang yang sedang gembira akan menunjukkan wajah yang ceria, mata yang berbinar, dan jika sangat intens, akan berbicara amat cepat. Sebaliknya, pada saat seseorang sedang merasa sedih, wajahnya, mimiknya, dan gerak tubuhnya akan menunjukkan gejala yang lebih lamban, muram, dan mungkin diam . Asal mula semiotik ini tidak banyak diketahui . Ilmu ini muncul dad usaha para ahli pengobatan pertama di dunia Barat untuk mengetahui bagaimana interaksi antara tubuh dan jiwa bekerja dalam lingkup budaya tertentu. Dalam kenyataannya, pada penggunaannya yang tertua, istilah semiotics 3 diterapkan pada studi tentang pola simtomsimtom fisik yang dapat diamati dan ditimbulkan oleh penyakit-penyakit tertentu . Hippocrates, bapak ilmu kedokteran, mengamati cara-cara yang ditunjukkan dan dihubungkan oleh seorang individu dengan simtomatologi yang berhubungan dengan penyakit sebagai dasar untuk melaksanakan diagnosis dan merumuskan prognosis yang sesuai . Ahli pengobatan lain, Galen dan Pergamum jugs menyebut diagnosis sebagai proses semiosis (Sebeok, 1994 : xi) Istilah semiotika (atau semiotics) kemudian menjadi istilah yang biasa digunakan untuk menunjuk studi tentang kapasitas bawaan manusia untuk memproduksi dan memahami tanda-tanda dad berbagai jenis (dart yang merupakan sistem penandaan fisiologi yang sederhana hingga yang mengungkapkan struktur simbolik yang sangat kompleks) . Asal-usul kata ini dapat dilacak dari kata Yunani, sema (tanda pemarkah), yang juga merupakan akar dari istilah yang berkaitan, semantics, studi tentang makna. Komponen-komponen primer dart proses mental dalam semiotika ini dilihat sebagai tanda (yakni suatu ikon atau image yang representative, kata, dan sebagainya), objek yang diacu (balk yang abstrak maupun kongkrit), dan makna yang muncul ketika tanda dan objek dihubungkan bersama-sama dengan asosiasi (Sebeok,1994 : )ii) .

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

1999 1999


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue