cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2012)" : 6 Documents clear
Kombinasi Boraks dan Asam Borat sebagai Bahan Penghambat Api dan Antirayap Pada Kayu Meranti Merah Mahdi Santoso; Sutjipto A. Hadikusumo; Abdul Aziz
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.254 KB) | DOI: 10.22146/jik.5735

Abstract

Kayu mempunyai sifat yang mudah terbakar dan sebagian besar mempunyai keawetan alami yang rendah. Perbaikan kualitas kayu dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut, salah satunya dengan mengimpregnasikan bahan kimia yang bersifat menghambat api dan beracun terhadap organisme perusak kayu. Tujuan penelitian ini adalah melihat kemampuan boraks:asam borat (1:1) untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering dan mengetahui proses pengawetan yang efektif. Penelitian ini menggunakan kayu meranti merah (Shorea spp) berukuran 6 x 15 x 500 cm. Waktu pengawetan adalah 1, 2, dan 3 jam serta konsentrasi bahan pengawet 7% dalam 5 ulangan. Metode pengawetan menggunakan metode sel kosong dengan tekanan 12 kg/cm2 . Pengujian ketahanan terhadap api mengacu pada ASTM E 69-02 prosedur B, pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering mengacu pada metode rayap makan tanpa pilihan. Parameter yang diamati ialah absorpsi, retensi aktual, intensitas bakar, suhu pembakaran maksimal, lama pembaraan, mortalitas rayap kayu kering, pengurangan berat contoh uji, derajat kerusakan dan kondisi fisik sampel setelah uji bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi boraks:asam borat (1:1) memiliki efektivitas yang tinggi untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering. Proses pengawetan yang paling efektif adalah lama penekanan 2 jam dengan absorpsi 331 kg/m3 ; retensi aktual 28,8 kg/m3 ; intensitas bakar 10,9%; suhu pembakaran maksimal 140ºC; lama pembaraan 1,03 menit; mortalitas rayap kayu kering 100%; pengurangan berat contoh uji 0,002%; serta derajat kerusakan kategori ringan.Katakunci: penghambat api, anti rayap, boraks, Shorea spp, Cryptotermes cynocephalus Borax and Boric Acid Combination As Fire Retardant and Anti-termite Agents on Red Meranti WoodAbstractWoods have properties which are easy to be ignited by fire and most of them have a low natural durability. Therefore, it is required to improve the quality of wood by impregnating the fire-retardant and anti-termites possessed chemicals. The aim of this research was to investigate the effect of impregnation duration by combination of borax:boric acid ( 1:1) against the fire and termites. This study used red meranti wood (Shorea spp) with the dimension of 6 x 15 x 500 cm. The pressure times were 1, 2, and 3 hours as the concentration of borax:boric acid was 7% in 5 replications. Empty cell method was applied as preservation method by 12 kg/cm2 of pressure. Testing the fire resistance referred ASTM E 69-02 B and anti-termite evaluation was conducted by no-choice feeding method. Observed parameters were absorption, actual retention, burn intensity, maximum combustion temperature, glowing time, termite mortality, mass loss, the degree of damage and visual observation. The results showed that the combination of borax: boric acid (1: 1) could improve the quality of red meranti samples against the fire and termite attacks. The most effective impregnation process were 2 hours of pressing time to obtain the 331 kg/ m3 of absorption; actual retention of 28.8 kg/ m3; burnt intensity of 10.9%; maximum combustion temperature of 140ºC; glowing time of 1.03 minutes, termite mortality of 100%; mass loss of 0.002%; and mild degrees of damage category.
Utilization of Carbonized Wood from Tropical Fast-Growing Trees for Functional Materials Joko Sulistyo; Toshimitsu Hata; Sri Nugroho Marsoem
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.173 KB) | DOI: 10.22146/jik.5736

Abstract

Pembangunan hutan tanaman dari jenis-jenis cepat tumbuh di kawasan tropis menimbulkan limbah biomassa kayu yang sebagian saat ini digunakan untuk kayu bakar dan sebagian lain digunakan untuk produksi arang dengan tujuan penggunaan yang terbatas. Pengembangan material-material fungsional untuk berbagai aplikasi teknik dengan memanfaatkan arang kayu dari jenis pohon cepat tumbuh harus mempertimbangkan struktur mikro dan struktur pori dalam arang kayu yang berhubungan dengan kondisi karbonisasi. Ulasan ini meliputi kemajuan penelitian-penelitian saat ini pada karbonisasi kayu dari pohon cepat tumbuh tropis, mekanisme perkembangan struktur mikro dan struktur pori dalam arang kayu selama karbonisasi, pemanfaatan yang tepat dari struktur mikro dan porositas dalam arang kayu untuk pengembangan material-material fungsional serta usaha dan peningkatan pengembangan material-material fungsional menggunakan arang kayu dari pohon cepat tumbuh tropis.Katakunci: arang kayu, material fungsional, pohon cepat tumbuh, karbonisasi Utilization of Carbonized Wood from Tropical Fast-Growing Trees for Functional MaterialsAbstractEstablishment of fast-growing tree species plantations in tropical areas generate wood biomass residue in which some of them are currently utilized for heating fuel and some others are used for charcoal production with limited purposes. The development of functional materials for engineering applications utilizing carbonized wood from fast-growing trees species have to consider the microstructure and pore structure in carbonized wood which has a relationship to the carbonization conditions. This review covers the current researches on progress in the carbonization of wood from tropical fast-growing trees, mechanism of the microstructure and pore structure development in carbonized wood during carbonization, proper utilizations of the microstructure and porosity in carbonized wood for the development of functional materials and efforts and enhancing the development of functional materials using carbonized wood from tropical fast-growing trees.
Analisis Transisi Lahan di Kabupaten Gunungkidul dengan Citra Penginderaan Jauh Multi Temporal Wahyu Wardhana; Junun Sartohadi; Lies Rahayu; Andri Kurniawan
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.715 KB) | DOI: 10.22146/jik.5737

Abstract

Kabupaten Gunungkidul dulu terkenal tandus kering gersang pada tahun 1940-1970-an tetapi kini telah menjadi hijau kembali. Proses ini disebut dengan proses transisi. Penelitian ini memberikan bukti empirik melalui alat bantu analisis perubahan spasial dan penginderaan jauh yang hasilnya kemudian digunakan untuk memodelkan proses tahapan transisi sebagaimana model menurut Mather (1992) dan Hosunuma (2002). Tahapan transisi saat ini menurut model tersebut adalah menuju tahap akhir dari proses pertumbuhan. Yang unik dari proses transisi di wilayah ini adalah model penutupan/penggunaan lahan yang dominan dengan bentuk pemukiman/pekarangan, sawah tadah hujan dan tegalan/ladang (sesuai SNI 7645-2010). Model ini dapat dikatakan merupakan model penyusun ekosistem baru yang terjadi dalam proses transisi yang berbeda dari model penutupan sebelumnya yang berupa hutan campuran sebagaimana dijelaskan oleh Nibbering (1991). Model ini merupakan bentuk kompromi sosial-ekologis hasil proses rehabilitasi saat itu yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun oleh Pemerintah Daerah dengan program INPRES Penghijauan dari Pemerintah Pusat saat itu. Pembelajaran yang menarik dari proses transisi adalah kembalinya lahan bervegetasi menjadi sebuah ekosistem baru di Gunungkidul melalui dominasi penutupan/penggunaan lahan pemukiman (pekarangan), sawah tadah hujan dan tegalan/ladang. Bentuk-bentuk ini merupakan proses kompromi yang menjadi faktor keberhasilan rehabilitasi yang dilakukan saat itu.Katakunci: Gunungkidul, transisi hutan, rehabilitasi, perubahan spasial, penginderaan jauh Analysis on the Land Transition in Gunungkidul using Multi Temporal Remote SensingAbstractGunungkidul was well known as barren area during 1940-1970 but now becomes fully vegetated. This process called the transition process. This study provided empirical evidences by spatial changes and remote sensing analysis and then the results were used for modelling of  the transition phases according to Mather (1992) and Hosunuma (2002). According to the model, the current transition phase is close to the final stage of the growth process. A unique phenomenon of the transition process of re-vegetation is that the regions dominated by settlement/yard, rain fed and upland/fields (in accordance to SNI 7645-2010). This model could be categorize as model of new ecosystem in the transition process, which is different from the previous one. The previous model was in the form of mixed forest as described by Nibbering(1991). This model is a compromise form of socio-ecological aspect as a result of the rehabilitation process, which was conducted by either the public or the Local Government based on Greening  Program of the Central Government according to Presidential Instruction. Interested learning from the process of re-vegetation transition is that the formations of re-vegetation lead to a new ecosystem in Gunungkidul through the dominance of settlement, rain field and upland.
PERLINDUNGAN RUANG JELAJAH BANTENG DALAM KESENJANGAN SISTEM KAWASAN KONSERVASI DI KABUPATEN BANYUWANGI PROPINSI JAWA TIMUR Muchammad Taufik Tri Hermawan; Muhammad Baiquni; Muhammad Ali Imron
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.492 KB) | DOI: 10.22146/jik.5738

Abstract

Kawasan konservasi memiliki peranan yang penting dalam konservasi keanekaragaman hayati. Namun banyak keanekaragaman hayati yang belum terlindungi dalam sistem kawasan konservasi yang ada. Tulisan ini memaparkan kesenjangan sistem kawasan konservasi terhadap perlindungan ruang jelajah banteng (Bos javanicus) yang ada di wilayah Kabupaten Banyuwangi bagian selatan serta strategi untuk pemenuhannya. Penelitian dilakukan di wilayah antara kawasan Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Kajian dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis kesenjangan (gap analysis) yang dikembangkan oleh Scott dkk (1987). Persebaran banteng dipetakan dan ditumpang susunkan dengan kawasan konservasi yang ada menggunakan aplikasi perangkat lunak ArcGIS 10.1. Kebijakan publik dan mekanisme pasar yang terkait dengan perlindungan kawasan dan keanekaragaman hayati dikaji untuk melihat peluang bagi perlindungan ruang jelajah banteng yang tidak terlindungi dalam sistem kawasan konservasi yang ada. Ruang jelajah banteng di wilayah Banyuwangi bagian selatan mencakup juga wilayah di luar kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri. Bukti kehadiran banteng dijumpai di wilayah kelola Perum Perhutani KPH Banyuwangi Selatan dan juga wilayah pemukiman masyarakat. Alokasi kawasan lindung dalam RTRW Kabupaten Banyuwangi 2012-2032 meskipun sudah merupakan perluasan dari cakupan kawasan konservasi namun masih tidak mencukupi bagi perlindungan ruang jelajah banteng di Kabupaten Banyuwangi. Upaya konservasi keanekaragaman hayati berbasis mekanisme pasar lebih berpotensi untuk melindungi penggunaan ruang jelajah banteng di kawasan antara Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri.Katakunci: Kesenjangan kawasan konservasi, ruang jelajah Banteng, Banyuwangi, Rencana Tata Ruang Wilayah, Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi Protection of Banteng Home-range within the Protection Areas Sistem Gaps in the Banyuwangi Regency - East Java ProvinceAbstractProtected areas hold an important role in biodiversity protection. However, various biodiversity are still unprotected in the existing protected areas system. This paper explains the protected areas system gap for banteng (Bos javanicus) home range in the south area of Banyuwangi district and options of its fulfillment. This research was done in area between Meru Betiri National Park and Alas Purwo National Park, Banyuwangi District, East Java. Study was done using gap analysis, developed by Scott et al. (1987). Banteng home range area was mapped and overlayed with protected area distribution using ArcGis 10.1. Public policy and market mechanism related to area protection and biodiversity was reviewed to perceive opportunity to protect banteng home range areas outside of existing protected areas. Banteng home range also consisted area outside Alas Purwo National Park and Meru Betiri National Park. Evidence of banteng presence could be seen in KPH Banyuwangi Selatan concession and settlement area. In Banyuwangi district spatial plan of 2012-2032 protection areas allocation is advanced from the protected areas, but are still not enough to protect banteng homerange. The HCVF scheme based on market mechanism are more potential to protect banteng home range in areas between Alas Purwo National Park and Meru Betiri National Park.
PRAKIRAAN KELAYAKAN FINANSIAL PEMBANGUNAN TEGAKAN JATI PLUS PERHUTANI (JPP) DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN RANDUBLATUNG Slamet Riyanto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.805 KB) | DOI: 10.22146/jik.5777

Abstract

Pasca keberhasilan penelitian dan pengujian bahan pertanaman yang dihasilkan dari pemuliaan tanaman jenis jati, Perum Perhutani telah menetapkan bahan pertanaman dengan materi genetik unggul yang disebut dengan Jati Plus Perhutani (JPP) digunakan dalam skala operasional menggantikan bahan pertanaman jati yang sudah ada sebelumnya. JPP diharapkan memiliki produktivitas lebih tinggi sehingga pada umur daur yang pendek dapat menghasilkan volume kayu yang sama dengan jati daur panjang yang selama ini menyusun tegakan. Pembangunan tegakan JPP merupakan kegiatan investasi dengan menggunakan sejumlah faktor produksi untuk menghasilkan manfaat di waktu mendatang dan oleh karenanya diperlukan evaluasi finansial untuk mengetahui apakah kegiatan tersebut memberikan harapan keuntungan komersial (commercial profitability). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proyek pembangunan tegakan JPP dari aspek finansial dengan menggunakan model daur berkelanjutan atau yang dikenal dengan Model Faustmann atau Nilai Harapan Lahan. Panjang daur tegakan jati dianalisis pada umur 20 tahun sebagaimana rancangan JPP sebagai tanaman jati berdaur pendek. Estimasi volume kayu tebangan penjarangan dan tebangan akhir daur menggunakan rekonstruksi model pertumbuhan dan hasil tegakan jati yang dikembangkan oleh Suprijadi (2010) yaitu kemiripan model pertumbuhan JPP dengan model pada tabel tegakan jati WvW Bonita V dan model pertumbuhan jati daur pendek di Costarica yang dikembangkan oleh Perez (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan tegakan jati berdaur pendek dengan menggunakan bahan pertanaman JPP secara finansial layak untuk dilaksanakan. Nilai Harapan Lahan dari sebidang lahan yang ditanami dengan tegakan JPP adalah sebesar Rp 10.162,656/Ha. Analisis kepekaan menunjukkan bahwa profitabilitas pembangunan JPP relatif kuat terhadap perubahan yang tidak dikehendaki di masa mendatang seperti penurunan produksi, harga produk dan kenaikan biaya pembangunan tegakan.Katakunci: jati plus Perhutani, daur pendek, keuntungan komersial, daur berkelanjutan, nilai harapan lahan The Estimation of Financial Feasibility of the Development of Superior Teak Stand in The Forest Management Unit of RandublatungAbstractAfter the success of teak plant breeding research, Perum Perhutani had set material plantation with superior genetic called Jati Plus Perhutani (JPP) to be used in operational scale. Combined with intensively silvicultural treatment, JPP was expected and assumed to be high productivity stand so that the in the short rotation could produce the merchantable volume equal to volume of woods from long rotation teak plantation. Stand development was an investment activity by employing a number of factors of production to generate a number of benefits in the future. Therefore the financial evaluation was required to determine whether the investment could provide commercial profitability to its owner. The main objective of this study was to evaluate financial performance of development of short rotation teak stand (JPP) by using continuous rotation model called Faustmann Formula or Land Expected Value. Estimation of harvested merchantable volume from thinning and final clear cutting used growth and yield model reconstruction developed by Suprijadi (2010). The model was based on the assumption of similarity between growth and yield depicted in normal table of teak (WvW Table 1932) in site class V and growth and yield model of short rotation of teak plantation in Costarica developed by Perez (2005). The result of this study showed that plantation of the JPP was financially feasible to be implemented as indicated in the Land Expected Value of Rp 10.162.656/Ha. Sensitivity analysis also showed that the profitability of development of JPP stand relatively robust against unexpected changes in the future such as decreasing in production and price and increasing in costs. At all scenarios in the sensitivity analysis, the development of JPP stand was still feasible.
Potensi Biomasa dan Simpanan Karbon Jenis-jenis Tanaman Berkayu di Hutan Rakyat Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Ris Hadi Purwanto; Rohman Rohman; Ahmad Maryudi; Teguh Yuwono; Dwiko Budi Permadi; Makmun Sanjaya
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.679 KB) | DOI: 10.22146/jik.5778

Abstract

Selain menghasilkan kayu perkakas dan kayu bakar, hutan rakyat sebagaimana hutan pada umumnya juga berfungsi sebagai penyimpan karbon, sehingga memainkan peran yang sangat penting di dalam siklus karbon global (the global carbon cycle). Penelitian ini dilakukan untuk (a) mengetahui jenis-jenis tanaman berkayu mulai dari tingkat tiang (poles: D = 10 cm) di hutan rakyat Desa Nglanggeran, (b) mengetahui karakteristik pertumbuhan tanaman berkayu penyusun hutan rakyat meliputi pertumbuhan diameter batang setinggi dada, tinggi, kerapatan pohon dan luas bidang dasarnya, dan (c) mengetahui kandungan biomasa dan karbon. Hasil penelitian ini menunjukkan ada 25 jenis tanaman berkayu yang ditanam dan dikembangkan oleh masyarakat petani hutan rakyat di Desa Nglanggeran yang sebagian besar menanam dan mengembangkan jenis tanaman mahoni. Rata-rata diameter batang setinggi dada untuk jenis-jenis tanaman berkayu mulai tingkat tiang (poles: dbh = 10 cm) adalah 20,8 cm (kisaran: 17,0 - 27,3 cm), dan tinggi rata-rata 15,0 cm (kisaran: 11,6 - 20,6 cm). Jumlah pohon per hektar 162 pohon yang terdiri dari jenis mahoni (67 pohon/ha), akasia (38 pohon/ha), sonokeling (25 pohon/ha), jati (9 pohon/ha), sengon (3 pohon/ha) dan jenis lainnnya (20 pohon/ha). Rata-rata luas bidang dasar 4,918 m2 /ha. Rata-rata simpanan biomasa sebesar 38,106 ton/ha yang terdiri dari jenis mahoni 23,119 ton/ha, akasia 7,036 ton/ha, sonokeling 3,440 ton/ha, jati 1,614 ton/ha, sengon 0,464 ton/ha dan jenis lainnya 2,434 ton/ha. Bila diasumsikan 50 % berat biomasa adalah karbon maka rata-rata simpanan karbon di hutan rakyat Desa Nglanggeran sebesar 19,053 ton/ha yang terdiri dari jenis mahoni 11,560 ton/ha, akasia 3,518 ton/ha, sonokeling 1,720 ton/ha, jati 0,807 ton/ha, sengon 0,232 ton/ha dan jenis lainnya 1,217 ton/ha. Penelitian tentang potensi biomasa dan simpanan karbon hutan di hutan rakyat memberi peluang hutan rakyat dalam menyambut era perdagangan karbon.Katakunci: potensi biomasa, simpanan karbon, jenis-jenis tanaman berkayu, hutan rakyat Biomass Potentials and Carbon Storage of Wooden Plants in the Community Forest of Nglanggeran Village, Gunungkidul Regency, YogyakartaAbstractCommunity forests, like any other forests, do not only produce timber and fire-woods but they also function as carbon storage, and therefor they play a very important role in the global carbon cycle. This research aims were (a) determining the types of perennial woods (diameter at breast height, D = 10 cm which grown on community forest of Ngalaggeran Village, (b) determining the growth characteristics of vegetations which make up the community forest, including diameter at breast height, height of trees, tree density and basal area, and (c) determining the biomass and carbon storage in the community forests of Nglanggeran Village.The research used the allometric method to assess the biomass of mahagony, acacia, sonokeling, teak, sengon and the others. The research result showed that there were 25 species of perennial woods, which cultivated by the community forest’s farmers in Nglanggeran Village, most of which is mahagony. The average of stem diameter at breast was 20.8 cm (range between 17.0 and 27.3 cm), and the average height was 15.0 cm (range between 11.6 and 20.6 cm). The tree density per hectare was 162, consisting mostly of mahagony (67 trees per hectare) acacia (38 trees per hectare), sonokeling (25 trees per hectare), teak (9 trees per hectare), sengon (3 trees per hectare) and the others (20 trees per hectare). The average of basal area was 4.918 m2 per hectare. The average biomass was 38.106 tons per hectare which include mahagony 23.119 tons per hectare, acacia 7.036 tons per hectare, sonokeling 3.440 tons per hectare, teak 1.614 tons per hectare, sengon 0.464 ton per hectare and others 2.434 tons per hectare. If it is assumed that 50% of biomass weight is carbon, then the average carbon storage at Nglanggeran Village community forest is 19.053 tons per hectare, which include mahagony 11.560 tons per hectare, and the others 1.217 tons per hectare. The research about forest biomass and carbon stock in a community forest provides a chance of the community forest in preparing to face the carbon trading era.

Page 1 of 1 | Total Record : 6