cover
Contact Name
Makhrus
Contact Email
almanar.jurnal@gmail.com
Phone
+6285648630339
Journal Mail Official
almanar.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis
ISSN : 24776017     EISSN : 25802577     DOI : https://doi.org/10.35719/amn.v8i2.23
The Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis aims to encourage and promote the study of the Qur’an and Hadith from a wide range of scholarly perspectives. The topic covers all related issues in the study of the Quran and Hadith, including: Linguistic, Literary, and Thematic Perspective of the Qur’an and Hadith Qur’an and Hadith Commentaries The Qur’an, Hadith, and Other Traditions Methods and Approaches to the Qur’an and Hadith The Societal Qur’an and Hadith Translation of the Qur’an
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2021)" : 5 Documents clear
Islam Kaffah dan Relevansinya dengan Masyarakat Indonesia yang Plural dalam Perspektif al-Qur’an Ruston Nawawi
Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.211 KB) | DOI: 10.35719/amn.v7i2.1

Abstract

Islam is a religion that is syâmil (covering everything) and Kamil (perfect). As a religion that is shahil, Islam explains everything and regulates all matters: aqeedah, worship, morals, food, clothing, muamalah, ‘uqûbât (legal sanctions), and others (QS. An-Nahl [16]: 89). Islam was brought by the Prophet Muhammad in order to guide his people to a straight path so that people will survive in the world and the hereafter. Islam is not only confession but more important is how in daily life and behavior in accordance with the provisions set by shari’a. Humanity consists of various nations and tribes that have different skin colors, languages, customs, and tendencies. To be able to live together in a state of peace and prosperity and be able to work together and help fellow human beings and can maintain unity (ukhuwah) among Muslims.
Metode Pemahaman Hadis Tata Cara Salat Masa Pandemi Menurut Imam Syafi’i Fatihunnada; Rofiatul Uzma; Sahabuddin S
Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.639 KB) | DOI: 10.35719/amn.v7i2.10

Abstract

Dewasa ini virus corona (covid-19) telah tersebar di Negara kita, wabah virus ini sangatlah berbahaya bahkan bisa mengakibatkan kematian. Pemerintah Negara pun sudah menghimbau kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah disosialisasikan agar dapat meminimalisir angka penyebaran virus corona. Namun dalam waktu dekat ini muncul pertanyaan dari sebagian masyarakat terkait hukum melaksanakan salat jum’at dan salat lima waktu berjamaah di masjid dengan menerapkan protokol kesehatan (seperti merenggangkan shaf salat karna adanya physical distancing), hukum memakai masker ketika salat, dan tata cara melaksanakan salat jum’at karena akibat physical distancing menjadi sangat terbatas kapasitas berjamaah dalam masjid. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis terkait pemahaman hadis-hadis mukhtalif menurut Imam Syafi’i tentang hadis perintah merapatkan shaf dan hadis larangan menutup mulut ketika salat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hadis tentang perintah merapatkan shaf, berdasarkan sabda Nabi Saw: “Luruskanlah shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bagian dari ditegakkannya salat.” Metode Imam Syafi’i dalam teori ilmu hadis mukhtalif perintah dan larangan yaitu dengan membandingan satu riwayat hadis dengan riwayat lainnya dan pendekatan melalui teori bahasa. Maka hasil dari hukum merapatkan shaf adalah sunnah. Sedangkan hadis tentang larangan menutup mulut ketika salat, Nabi Saw, bersabda: “Bahwasanya Nabi Saw, melarang menjulurkan pakaian dalam salat dan melarang seseorang menutupi mulutnya ketika salat.” Hal ini menurut Imam Syafi’i boleh menutup mulut ketika salat, karena menggunakan masker ketika salat itu tidak menjadi penghalang sujud, karena menurutnya hidung tidak termasuk rukun sujud, dan di sisi lain adanya pandemi corona menjadi udzur syar’i karena dapat membahayakan kesehatan.
Pengaruh Bahasa Ibrani Pada Teks Al-Qur'an dalam Perspektif Abraham Geiger Umi Wasilah Firdausiyah
Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.442 KB) | DOI: 10.35719/amn.v7i2.11

Abstract

Fokus penelitian dalam penulisan artikel ini mengkaji tentang pandangan Abraham Geiger mengenai al-Qur’an. Tujuan dari penelitian untuk melihat pandangan Geiger dalam menelaah kemurnian al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penlitian ini berupa kualitatif jenis library research dengan metode analisis-deskriptif, yang dibantu dengan teori cakrawala dari Hans George Gadamer sebagai jembatan untuk mengungkap pandangan Geiger dalam menelaah kemurnian al-Qur’an. Hasil dari penelitian ini memberikan penjelasan bahwa menurut Abraham Geiger, al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam bukanlah kitab otentik, transenden, dan orisinil, sebab di dalamnya banyak ajaran-ajaran yang dikonstruksi dan diimitasi dari agama Yahudi. Seperti halnya mengenai linguistik kosa-kata dalam al-Qur’an, konsep agama termasuk pandangan hidup, aturan dan moral, serta kisah-kisah dalam al-Qur’an. Kendati demikian respon dari cendekiawan muslim terhadap tanggapa Geiger berupa penekanan dan penegasan bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci dan kitab wahyu yang tidak bisa diragukan keotentikkan dan keorisinilannya, sebab Islam tidak hadir di ruang hampa, melainkan hadir di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai culture yang berbeda, sehingga menjadi wajar jika adanya akulturasi tradisi-budaya dan bahasa dengan agama lain
Konsep Iman dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwīr dan Tafsir Al-Mizan : Studi Komparatif Muhammad Uzaer Damiri
Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.238 KB) | DOI: 10.35719/amn.v7i2.17

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menyingkap konsep Iman dalam perspektif tafsir Al-Tahrīr Wa al-Tanwīr dan tafsir Al-Mīzān dan membandingkannya dengan mengungkap sisi persamaan dan perbedaan. Terdapat tiga sub bahasan yang dieksplorasi dalam artikel ini, yaitu: 1) Konsep Iman dalam dalam perspektif tafsir Al-Tahrir Wa al-Tanwīr dan Al-Mīzān, 2) Bertambah dan berkurangnya Iman dalam perspektif dua tafsir tersebut, 3. Relasi Iman dan Islam menurut dua tafsir tersebut. Untuk merealisasikan tersebut, peneliti menggunakan metode alisis teks dengan pendekatan tafsir metode tafsir Muqāran.
al-Ulama al-Indonesiun fi Dirasah al-Hadits al-Mu'ashirah Ade Pahrudin
Al-Manar: Jurnal Kajian Alquran dan Hadis Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.517 KB) | DOI: 10.35719/amn.v7i2.19

Abstract

Ramadan is the ninth month of the Hijri month. A month in which the Qur’an was revealed, forgiveness and mercy, so there are many scholars throughout the Islamic world recently and in the past who are interested in this month. One of them is Indonesian Islamic scholar, Syaikh Taufiq Hakim. He wrote a book called "The Virtues of Ramadan". The author quoted in his book fifty hadiths on the merit of Ramadan. However, the author transmitted these hadiths without mentioning their source, chain of transmission, and authenticity of hadith. Therefore, this research was carried out to find out the truth about the sources of these hadiths and the degree of their validity. This research is focused on the first twenty-five hadiths from his book. This research aims to know the authenticity of the hadith mentioned in the book with two points: First, to verify the authenticity of the hadiths identified by numbers - that is, the first hadith to the twenty-fifth -which the author narrated. Second, track the location of the hadith and select proof of the hadith ruling. After the research, the researcher found twenty-five hadiths: five of them are authentic, nine of them are weak, four of them are fabricated, and seven of them have no basis.

Page 1 of 1 | Total Record : 5