cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 547 Documents
Induksi Haploid Ganda pada Padi Japonica (Oryza sativa L. spp. Japonica), Indica (Oryza sativa L. ssp. Indica), dan Hibrida Japonica x Indica Dian Catur Prayantini, Panjisakti Basunanda, dan Rudi Hari Murti
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 1 (2013): Juni
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.239 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2523

Abstract

INTISARIKultur anter digunakan untuk mendapatkan galur homozigot secara cepat dan meningkatkan efisiensi seleksi. Japonica secara umum relatif mudah dikulturanterkan, berkebalikan dengan indica yang bersifat rekalsitran. Penelitian ditujukan untuk mendapatkan  komposisi  media  dan  praperlakuan  yang  sesuai  untuk  kultur  anter japonica  dan  indica,  mengetahui  pengaruh  latar  belakang  kelompok  genetik  padi terhadap induksi haploid, dan mengintroduksi sifat responsif terhadap kultur anter dari japonica melalui persilangan ke dalam indica yang rekalsitran. Penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2009 sampai dengan Desember 2012 di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman PT BISI International Tbk, Kediri, Jawa Timur. Sembilan genotipe digunakan sebagai sumber anter pada penelitian yang mewakili japonica, indica dan F1 hasil japonica dengan indica.Praperlakuan malai pada suhu 40C selama 8 hari, menggunakan modifikasi N6 + NAA 2 ppm + kinetin 0,5 ppm + sukrosa 54 g/L + putrescin 0,1644 g/L + Phytagel 2,5 g/L dapat digunakan pada    hibrida hasil persilangan japonica dengan indica. Praperlakuan malai pada suhu 40C selama 9 hari menggunakan media modifikasi N6 + 2,4-D 2,5 ppm + kinetin  0,5 ppm + AgNO3 10 ppm + maltosa 40 g/L + Phytagel 2,5 g/L dan modifikasi N6+ 2,4-D 2,5 ppm + kinetin 0,5 ppm + maltosa 50 g/L + AgNO3 10 ppm + Phytagel  2,5 g/L dapat digunakan untuk meningkatkan pembentukan kalus pada japonica dan beberapa genotipe indica. Lima galur haploid ganda berhasil diperoleh dari hasil persilangan ‘Ciuhao’ dan ‘Basmati’. Persilangan antara japonica dan indica efektif untuk meningkatkan respon hibrida terhadap media kultur anter dan memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan tanaman haploid ganda dibandingkan dengan tetua indica-nya.Kata kunci : Oryza sativa L., kultur anter, haploid ganda
Evaluasi Daya Gabung Karakter Hasil dan Komponen Hasil Lima Galur Mentimun Gungun Wiguna, Aziz Purwantoro, dan Nasrullah
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 1 (2013): Juni
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.432 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2524

Abstract

INTISARIPendugaan daya gabung umum tetua dan daya gabung khusus persilangan diperlukan sebagai pedoman untuk memilih tetua secara efektif dalam program hibridisasi. Penelitian bertujuan untuk menduga nilai daya gabung lima galur mentimun hasil persilangan berdasarkan rancangan dialel metode 2 model 1 menurut griffing. Hibridisasi dilakukan di Lembang dari bulan Oktober 2011 hingga Mei 2012. Evaluasi tetua dan F1 dilakukan di Lembang dan Subang dari bulan Juli hingga Oktober 2012, mengunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga  ulangan  pada  tiap  lokasi. Hasil penelitian menunjukkan DGU dan DGK sangat berbeda nyata untuk semua karakter. Interaksi DGU×lokasi sangat nyata untuk karakter panjang buah dan diameter buah, serta nyata pada karakter berat per buah. Interaksi DGK×lokasi  sangat nyata untuk karakter diameter buah. Galur P1 memiliki nilai daya gabung umum terbaik untuk karakter berat buah per tanaman. Galur P3 memiliki  nilai  daya  gabung umum terbaik  untuk  karakter jumlah buah per tanaman. Kombinasi persilangan yang memiliki nilai DGK tinggi untuk karakter hasil dihasilkan oleh hibrida P1×P2, P1×P5, P2×P5, dan P3×P4.Kata kunci : mentimun, DGU, DGK
Pengaruh Vernalisasi Umbi Terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Pembungaan Bawang Merah (Allium cepa L. Aggregatum group) di Dataran Rendah Jasmi, Endang Sulistyaningsih, dan Didik Indradewa
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 1 (2013): Juni
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.969 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2525

Abstract

INTISARIBiji  bawang  merah  sebagai  bahan  tanam  memiliki  posisi   strategis beberapa tahun terakhir. Meskipun demikian, kemampuan berbunga tanaman bawang merah cukup terbatas khususnya pada penanaman di dataran rendah. Di dataran  rendah,  jumlah  tangkai  bunga  yang  dihasilkan  per  individu  tanaman sangat terbatas. Beberapa hasil penelitian sebelumnya memberikan informasi bahwa perlakuan vernalisasi mampu meningkatkan pembentukan bunga pada tanaman bawang merah, khususnya pada penanaman di dataran tinggi. Pada penanaman bawang merah di dataran rendah, informasi mengenai pengaruh perlakuan vernasilasi terhadap kemampuan berbunga hingga saat ini belum ada. Oleh karena itu, penelitian terkait hal tersebut cukup penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian adalah 1) mengidentifikasi pengaruh lama vernalisasi terhadap pertumbuhan, pembungaan serta hasil umbi dan biji bawang merah dan 2) menentukan lama vernalisasi yang optimum untuk meningkatkan pertumbuhan, pembungaan serta hasil umbi dan biji bawang merah.  Penelitian dilaksanakan di Kebun Tridharma Fakultas Pertanian UGM, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dari bulan Oktober 2011 – Januari 2012. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok  lengkap  faktorial  dengan  3  blok  sebagai  ulangan.  Faktor  pertama adalah varietas yaitu: Katumi, Biru, Bima dan Tiron. Faktor kedua adalah lama vernalisasi yaitu tanpa vernalisasi, vernalisasi selama 4 minggu, 5 minggu, dan 6 minggu. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, diameter umbi, berat segar, dan berat kering jemur umbi. Analisis pertumbuhan meliputi indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, dan indeks panen. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa lama vernalisasi yang optimal untuk peningkatan berat segar umbi varietas Bima adalah 12-13 hari, dengan indikasi peningkatan berat segar umbi hingga mencapai 14,47 g. Berat kering umbi terbaik dihasilkan oleh varietas Bima (6,00 g) dengan lama vernalisasi 13-14 hari. Pembungaan tidak terjadi pada semua perlakuan  yang diuji sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan vernalisasi tidak mampu menginduksi pembungaan pada tanaman bawang merah yang ditanam di dataran rendah yang dikarenakan faktor lingkungan (suhu, angin) rata- rata cukup tinggi dan panjang penyinaran yang rendah pada saat penelitian berlangsung.Kata kunci : bawang merah, varietas, vernalisasi, pembungaan.
Induksi Poliploidi dengan Kolkisina pada Kultur Meristem Batang Bawang Wakegi (Allium x wakegi Araki) Mita Setyowati , Endang Sulistyaningsih, Aziz Purwantoro
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 1 (2013): Juni
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.478 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2526

Abstract

INTISARIBawang wakegi tidak dapat berbunga sehingga tidak menghasilkan biji. Akibatnya, bawang wakegi memiliki keragaman genetik yang sempit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi kolkisina optimum untuk induksi poliploidi bawang wakegi dan mendapatkan tanaman bawang wakegi poliploid. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada bulan Juni 2011 sampai Januari 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAKL faktorial 2 faktor dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah kultivar yaitu ‘Lembah Palu’, ‘Palasa’, dan ‘Sumenep’. Faktor kedua adalah konsentrasi kolkisina yaitu 0 g.L-1, 0,5 g.L-1; 1 g.L-1; dan 1,5 g.L-1 dengan lama inkubasi tiga hari. Pengamatan dilakukan pada umur 2 hingga 8 minggu setelah tanam di dalam botol untuk parameter pertumbuhan dan morfologi serta sitologinya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kromosom 2n=32 (tetraploid) diperoleh pada kultivar ‘Palasa’ dengan perlakuan kolkisina 0,5 dan 1,5 g.L-1 serta kultivar ‘Sumenep’ dengan perlakuan kolkisina 1 g.L-1. Tanaman poliploid tersebut diatas memiliki ukuran sel, ukuran stomata dan epidermis lebih besar serta densitas stomata lebih sedikit dibandingkan tanaman kontrol.Kata kunci : bawang wakegi, poliploidi, kolkisina, invitro
Pertumbuhan dan Hasil Jagung pada Berbagai Pemberian Pupuk Nitrogen di Lahan Kering Regosol Jemfris H.H. Sonbai, Djoko Prajitno, dan Abdul Syukur
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 1 (2013): Juni
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.684 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2527

Abstract

ABSTRACTNitrogen is a macro-nutrient that is the primary determinant in corn crop production  that is cultivated  on dry land. Corn production  can be increased by providing inorganic and organic fertilizer.The purpose of the research is to discover the influence of carbamide (urea fertilizer) and cow manure fertilizer levels on the growth of corn production on regosol  dry  land.  The  research  was  conducted  from  March-June,  2012,  at the Gadjah Mada University (UGM) Agriculture Faculty Tridarma Garden, in Banguntapan. The experimental design uses a Complete Group Random Design (RAKL) which consists of two factors. The first factor provides three different amounts of carbamide (100 kg/ha, 150 kg/ha, and 200 kg/ha). The second factor has three different amounts of cow manure fertilizer (10 t/ha, 15 t/ha, and 20 t/ha).The research findings show that the plant height, leaf width, total plant net weight, blossom period, harvest period, seed weight, chlorophyll level, and N-leaf level are influenced by the amount of carbamide, while the amount of cow manure fertilizer can repair the physiological and chemical nature of the soil. There is no relationship between carbamide and cow manure fertilizer levels on corn growth and productivity levels. The use of carbamide has a significant influence on corn growth and productivity  on regosol dry land. The average corn productivity  on regosol dry land with 200 kg/ha of carbamide is 7.38 t/ha, while lamuru corn has a harvest potential of 7.6 t/ha.Key words:   nitrogen,    cow    manure    fertilizer,  regosol    dry    land,    corn, physiological, growth, harvest.
The Dynamics of Nitrate Reductase in Tea Leaves M. Husian Kasim, Taryono, Sriyanto Waluyo, and Hari Kartiko
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 1 (2013): Juni
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.902 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2528

Abstract

ABSTRACTCrop productivity depends on adequate nitrogen supply. Nitrate is one form of nitrogen in the soil which is absorbed by plant root and the process of nitrate reduction in plant cells was catalyzed by nitrate reductase, therefore NRA might be able to be used as biochemical tools to estimate tea leaves productivity and the dynamics of NRA can be used to check the nitrogen availability in the soil.To study the dynamic of nitrate reductase in respond to fertilizer application, an experiment which includes two factors i.e. plant materials and nitrogen fertilizer application was conducted during rainy season at experimental field of Pagilaran tea plantation. Factorial treatment design with plant materials i.e. 2 vegetative origin of TRI-2024 and TRI-2025 and 1 seed origin  were used as first factor, while 2 dosages of nitrogen fertilization (0 and 250 kg/ha urea + 60 kg/ha SP36 + 60 kg/ha KCl) used as the second factor with 3 replications. The activity of nitrate reductase was then measured every week continuously started 8 weeks before fertilizer application (WBF) and ended 8 weeks after fertilizer application (WAF).There result showed that the dynamics of NRA was depend on soil moisture and nitrate availability in the soil. When urea was used as nitrogen source, urea will be hydrolyzed first to produce ammonium and then ammonium will be nitrified to nitrate. This process could be studied from NRA in tea leaves, though NRA seemed could not be used as biochemical  tool to estimate  tea leaves productivity.Keyword : Nitrat reductase, tea, production
Morphogenetic Variation of Shallot (Allium cepa L. Aggregatum Group) Alfu Laila, Endang Sulistyaningsih, and Arif Wibowo
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Desember
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.541 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2529

Abstract

ABSTRACTThere are many shallot cultivars cultivated in Java with varying greatly morphological traits and yield. Morphological and yield variation indicate that there are genetic variation and varying in resistance to pest and disease. One of major disease that cause yield losses of shallot is Fusarium Basal Rot (FBR) caused by Fusarium oxysporum f. sp. cepae (Foc). The pathogen could cause yield losses of shallot in field up to 90%.The number of sixteen shallot cultivars were collected and studied for determining polymorphisms of nuclear based on Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD) and the morphological traits. Potted research was conducted at greenhouse from December to February 2012, in Department of Agriculture, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Four shallot cultivars were selected for study the response to Foc under biofertilizer application. They were Kuning, Trisula, Tiron, and Crok cultivars. The field experiment was carried out from June to August 2012 at the Agricultural Training, Research and Development Station (ATRD/KP4) in Kalitirto, Sleman, Yogyakarta. The research design was split plot 4 x 4, with three replications. The plots consisted of shallot which cultivated in Foc inoculation, biofertilizer application, combination of Foc inoculation and biofertilizer application, and without any treatments. The subplot consisted of shallot cultivars. All data were statistically analyzed using the variance analysis. Standard error was tested to determine the significant differences among treatment means.Similarity coefficient among shallot cultivars as revealed by UPGMA cluster analysis of RAPD markers generated to molecular dendogram. The similarity of genetic dendogram ranged from 0.85 to 0.66 and separated of cultivars into two groups. Based on morphological analysis, there were variations of all variable that tested. Mophological dendogram made possible to identify four group.Fusarium Basal Rot (FBR) incidence caused by seedborne was 6.94%. Biofertilizer application could not decrease significantly FBR incidence but it could increase number of bulb per plant in Crok and Kuning cultivars. FBR incidence with 43.75% caused by Foc inoculation was significantly decreasing plant height, number of bulbs, diameter of bulbs, and length of bulbs. However, yield of shallot decreased significantly  from  1.05  kg/m2 to  0.63  kg/m2 when  the  shallot  plantation  was inoculated by Foc. The shallot plantation was inoculated by Foc under biofertilizer application did not show significantly decreasing FBR incidence and increasing the yield. FBR incidence and yield of Trisula, Crok and Tiron cultivars did not show difference significantly from Kuning cultivar as susceptible to Foc.Key words: cultivar, shallot, RAPD, Fusarium oxysporum f. sp. Cepae (Foc), biofertilizer
Uji Kebenaran Enam Kultivar Cabai Keriting (Capsicum annuum L.) Fahrudin, Panjisakti Basunanda, dan Aziz Purwantoro
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Desember
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.473 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2530

Abstract

INTISARICabai adalah salah satu sayuran yang paling penting di Indonesia, terutama pada pemanfaatannya yang luas dan bernilai ekonomi tinggi. Permintaan untuk menanam sayuran asal Amerika Selatan ini selalu tinggi, meningkatkan pelaporan praktek-praktek pelanggaran dalam pasokan benih, dalam bentuk sengaja mengurangi atau mengubah kemurnian kultivar,  yang melanggar praktik bisnis yang baik.  Untuk  menanggulangi praktek  pelanggaran seperti  itu, kontrol rutin pada benih yang dijual di tingkat petani perlu dilakukan. Sayangnya, prosedur standar untuk kontrol tersebut belum  tersedia di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk  memberikan prosedur yang dapat dianggap sebagai awalan dan mungkin menjadi pembahasan pada perkembangan selanjutnya.Enam kultivar cabai dikumpulkan dari pasar terbuka.  'Lado',  yang  merupakan produk  populer  dari  East  West  Seed,  diperoleh  dari  pasar  di  Medan  (A1), Makassar (A2), Tangerang (A3), dan Mataram (A4). 'Princess-06', sebuah produk dari PT Benih Inti Subur Intani, diperoleh dari Lembang (B1), Sleman (B2), dan Mataram (B3). Empat kultivar berikutnya adalah produk dari P T Oriental Seed Indonesia. 'OR Charming' diperoleh dari Serang, dan 'OR Twist 22', 'OR Twist 33', dan  'OR  Twist  42'  diperoleh  dari  Magelang.  Dua  lokasi  yang  dipilih  untuk penelitian ini: Krukut, Depok, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga Oktober tahun 2012 (+ 90  m dpl) dan Cikole,  Lembang, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga November 2012  (+ 1.250  m dpl).  Keseragaman dalam dan di antara sumber-sumber pasar dalam satu kultivar diuji berdasarkan karakter fenotipik kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan karakter yang sama, kesesuaian pada deskripsi dari masing-masing kultivar juga diuji.Keseragaman dalam dan di antara sumber-sumber pasar dari kultivar yang sama terbukti sah, berdasarkan karakter kualitatif maupun kuantitatif. Hasil ini didasarkan  pada  analisis  varians  untuk  sifat  kuantitatif dan didukung dengan analisa komponen utama. Ambang batas untuk sifat kuantitatif, memperhitungkan penyimpangan maksimum 5% dari jumlah sampel.Uji kebenaran deskripsi berdasarkan pada karakter kualitatif menyimpulkan bahwa hampir semua ciri sesuai dengan deskripsi masing-masing kultivar. Beberapa perbedaan diasumsikan sebagai hasil salah tafsir. Namun, pada karakter kuantitatif menunjukkan performa lebih rendah di kedua lokasi, performa diamati untuk semua sampel pada semua variabel kuantitatif dengan hanya sejumlah kecil outlier (pencilan). Hasilnya menimbulkan dugaan bahwa uji performa untuk pendaftaran kultivar dilakukan di bawah lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan pada penelitian ini, dan hasil ini menimbulkan isu ketidakstabilan.Kata kunci: uji kebenaran deskripsi, cabai, agromorfologi, uji keseragaman.
Pengaruh Asam Humat Sebagai Pelengkap Pupuk Terhadap Ketersediaan dan Pengambilan Nutrien pada Tanaman Jagung di Lahan Kering Kecamatan Bayan-NTB D. Hermanto, N.K.T. Dharmayani, R. Kurnianingsih, dan S.R. Kamali
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Desember
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.449 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2531

Abstract

INTISARISuatu studi tentang pengaruh asam humat sebagai pelengkap pupuk terhadap ketersediaan dan pengambilan nutrienpada tanaman jagung di lahan kering Kec. Bayan Kab.Lombok Utara - NTB telah dilakukan.Penelitian dimulai dengan pemetaan lahan dan menganalisis beberapa sifat fisik dan kimia tanah sebelum penanaman jagung dilakukan.Lahan pertanian kec. Bayan memiliki sifat fisik bertekstur pasir, struktur lepas dan berwarna coklat kemerahan dengan derajat keasaman netral (pH 6,97 pada kedalaman 0–20 cm dan pH 6,8 pada kedalaman 21–40 cm). Selain itu tanahini mempunyai kandungan hara  (Corganik, N, P, K) tersediakan rendah pada kedalaman 0–20 cm dan 21–40 cm berturut-turut yaitu 0,912% dan 1,150%; 0,064% dan 0,074%; 0,001% dan 0,005%; 0,290% dan 0,310%. Sedangkan logam Zn dan Fe pada kedalaman 0–20 cm dan 21–40 cm berturut-turut yaitu 0,002% dan 0,002%; 2,006% dan 1,950%. Penerapan asam humat sebagai pelengkap pupuk mampu meningkatkan ketersediaan dan pengambilan unsur hara bagi tanaman. Ketersediaan dan pengambilan N,P,K, Zn dan Fe tertinggi ditemukan pada perlakuan asam humat 20 kg ha-1 bersama pupuk NPK dosis 100%. Aplikasi asam humat pada tanah terbukti meningkatkan pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, berat, kandungan nutrisi buah jagung).Takaranpaling efisien untuk pemupukan adalah asam humat 20 kg ha-1 bersama 150 kg ha-1 urea, 200 kg ha-1 SP36 dan 50 kg ha-1 KCl.Kata kunci:asam humat, tanaman jagung, ketersediaan dan pengambilan nutrien, lahan kering.
Induksi Ketahanan Tanaman Jagung (Zea mays L.) Terhadap Penyakit Bulai Melalui Seed Treatment Serta Pewarisannya pada Generasi S1 Hoerussalam, Aziz Purwantoro, dan Andi Khaeruni
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Desember
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.06 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2532

Abstract

INTISARIKetahanan terhadap penyakit merupakan salah satu sifat yang sangat penting dalam pemuliaan tanaman karena mempengaruhi kualitas dan tingkat produksi tanaman. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit adalah melalui induksi ketahanan sistemik yang dipicu oleh pengaplikasian elisitor dengan melibatkan koordinasi dan ekspresi dari gen tertentu (gen SAR) serta ditandai oleh akumulasi senyawa tertentu seperti asam salisilat atau asam jasmonat.Penelitian terdiri dari tiga bagian percobaan, yaitu: 1. Seleksi galur. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan galur yang mengalami peningkatan status ketahanan dan memilih satu dari enam galur yang paling responsif terhadap perlakuan (elisitor). Percobaan menggunakan enam varietas jagung hibrida C02, C05, C13, C19, C20 dan SC 4D-139 yang diaplikasikan empat macam elisitor, yaitu Plant Growth Promoting Rhizobakteri (PGPR) Bio1 dan Bio2, asam salisilat (Abio1), serta Benzothiadiazole-S-Methyl (Abio2) melalui seed treatment. Percobaan dilakukan di lapang dengan menggunakan tanaman penyebar (spreader) sebagai sumber inokulum. Benih yang sudah di treatment kemudian ditanam, dan diamati sampai umur 42 hari setelah tanam. Evaluasi perubahan status ketahanan dilakukan dengan cara membandingkan status ketahanan asal (non treatment) dengan status ketahanan setelah diinduksi. Tanaman dari varietas yang mengalami peningkatan status ketahanan akan di selfing untuk mendapatkan benih generasi S1. 2. Status ketahanan terinduksi yaitu verifikasi ketahanan terimbas di tingkat fisiologis dan molekuler melalui pengukuran asam salisat dan deteksi gen PR-1 menggunakan teknik PCR. 3. Evaluasi pewarisan ketahanan pada generasi hasil selfing (S1) dari varietas yang mengalami peningkatan status ketahanan.Hasil menunjukkan jagung galur C20 paling responsif terhadap keempat macam elisitor dan mengalami peningkatan status dari agak rentan menjadi agak tahan ( perlakuan Bio1 dan Abio1) dan menjadi tahan (perlakuan Bio2 dan Abio2). Verifikasi secara fisiologis dan molekular menunjukan bahwa kandungan asam salisilat cenderung mengalami peningkatan setelah inokulasi P. maydis dibandingkan dengan sebelum inokulasi patogen dan terdeteksi gen PR-1 pada tanaman dari varietas C20 hasil treatment. Sementara itu, analisis studi pewarisan menunjukkan peningkatan ketahanan galur jagung C20 diturunkan pada populasi generasi S1 dan mengikuti pola pewarisan Mendel untuk rasio 15:1.Kata kunci: induksi ketahanan, elisitor, asam salisilat, PGPR, pathogenesis-related protein

Page 2 of 55 | Total Record : 547


Filter by Year

1969 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): December Vol 10, No 2 (2025): August Vol 10, No 1 (2025): April Vol 9, No 3 (2024): December Vol 9, No 2 (2024): August Vol 9, No 1 (2024): April Vol 8, No 3 (2023): December Vol 8, No 2 (2023): August Vol 8, No 1 (2023): April Vol 7, No 3 (2022): December Vol 7, No 3 (2022): December (In Press) Vol 7, No 2 (2022): August Vol 7, No 1 (2022): April Vol 6, No 3 (2021): December Vol 6, No 2 (2021): August Vol 6, No 1 (2021): April Vol 5, No 3 (2020): December Vol 5, No 2 (2020): August Vol 5, No 1 (2020): April Vol 4, No 3 (2019): December Vol 4, No 2 (2019): August Vol 4, No 1 (2019): April Vol 3, No 3 (2018): December Vol 3, No 2 (2018): August Vol 3, No 1 (2018): April Vol 2, No 3 (2017): December Vol 2, No 2 (2017): August Vol 2, No 1 (2017): April Vol 1, No 3 (2016): December Vol 1, No 2 (2016): August Vol 1, No 1 (2016): April Vol 18, No 3 (2015): December Vol 18, No 2 (2015): August Vol 18, No 1 (2015): April Vol 17, No 1 (2014): Juni Vol 16, No 2 (2013): Desember Vol 16, No 1 (2013): Juni Vol 15, No 2 (2012): Desember Vol 15, No 1 (2008): Juni Vol 14, No 2 (2007): Desember Vol 14, No 1 (2007): Juni Vol 13, No 2 (2006): September Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 2 (2005): Desember Vol 12, No 1 (2005): Juni Vol 11, No 2 (2004): Desember Vol 11, No 1 (2004): Juni Vol 10, No 2 (2003): Desember Vol 10, No 1 (2003): Juni Vol 9, No 2 (2002): November Vol 9, No 1 (2002): Juni Vol 8, No 2 (2001): November Vol 8, No 1 (2001): Juni Vol 7, No 2 (2000): November Vol 7, No 1 (2000): Juli Vol 6, No 2 (1998): September Vol 5, No 4 (1994): September Vol 5, No 3 (1993): September Vol 5, No 2 (1992): September Vol 5, No 1 (1992): April Vol 4, No 8 (1992): Februari Vol 4, No 7 (1991): September Vol 4, No 6 (1991): Juli Vol 4, No 5 (1989): Februari Vol 4, No 4 (1987): Februari Vol 4, No 3 (1986): Juli Vol 4, No 2 (1986): April Vol 4, No 1 (1986): Februari Vol 3, No 8 (1984): Juli Vol 3, No 7 (1984): April Vol 3, No 6 (1984): Februari Vol 3, No 5 (1982): Desember Vol 3, No 4 (1981): Desember Vol 3, No 3 (1981): Oktober Vol 3, No 2 (1981): Agustus Vol 3, No 1 (1981): Juni Vol 2, No 8 (1980): Oktober Vol 2, No 7 (1980): Juni Vol 2, No 6 (1979): Mei Vol 2, No 5 (1978): Desember Vol 2, No 4 (1978): Juli Vol 2, No 3 (1977): Desember Vol 2, No 2 (1977): Juni Vol 2, No 1 (1976): Desember Vol 1, No 8 (1976): Desember Vol 1, No 7 (1973): Mei Vol 1, No 6 (1972): Juni Vol 1, No 5 (1970): Juni Vol 1, No 1-2 (1969): Agustus-Desember Vol 1, No 4 (1969): Desember Vol 1, No 3 (1969): Mei More Issue