Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 2 (2018)"
:
10 Documents
clear
Analisis Penurunan Muka Tanah DKI Jakarta dengan Metode Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar (DINSAR)
Cyntia, I Putu Pudja
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (806.928 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19712
Penurunan muka tanah di DKI Jakarta dipengaruhi oleh beberapa faktorutama, antara lain jumlah bangunan yang meningkatkan beban permukaan tanah, masih banyak masyarakatnya yang memanfaatkan sumber air tanah sebagai sumber pokok air bersih, serta struktur geologi yang didominasi dengan aluvial. Sehingga penurunan muka tanah di DKI Jakarta relatif terus-menerus terjadi. Untuk mengetahui penurunan muka tanah ini digunakan metode penginderaan jarak jauh, yakni metode DifferentialInterferometry Synthetic Apertur Radar (DInSAR) yang memanfaatkan citra satelitdata radar (SAR Sentinel-1A) pada tahun 2016 dan 2017. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai penurunan rata-rata di kota administrasi DKI Jakarta pada tahun 2016 cukup signifikan jika dibandingkan pada tahun 2017.
Identifikasi Material dengan Tomografi Muon Kosmik Menggunakan Detektor Berbasis CMOS Memanfaatkan Webcam
Muhammad Rizky Nurawan;
Dhio Alfafian;
Akhmad Saufi;
Rafif Tri Adi Baihaqi;
Cukup Mulyana;
Nowo Riveli
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (417.233 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19710
Partikel muon (μ) adalah partikel elementer yang dihasilkan oleh sinar kosmik ketika menembus ke permukaan bumi dan dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Muon memiliki muatan negatif seperti halnya elektron dengan massa 207 kali dari massa elektron atau 105,7 MeV/c2. Waktu hidup muon sekitar 1.5 μs (proper time) bergerak dengan kecepatan 0.994c. Sekitar 10.000 muon mencapai setiap meter persegi permukaan bumi setiap menit. Keberadaan muon dapat dimanfaatkan dalam kehidupan, untuk mendiagnosa lokasi keberadaan sebuah objek ditempat yang tersembunyi. Prinsipnya sama seperti halnya sinar X, dengan prinsip mengolah citra dapat dimanfaatkan untuk diagnosa kondisi tulang, gigi serta organ tubuh yang lain. Permasalahannya untuk memanfaatkan muon di berbagai macam sektor kehidupan adalah alat detektornya memerlukan teknologi yang canggih, biaya yang besar. Untuk mengatasi permasalahan ini, kami memiliki gagasan untuk membuat alat pendeteksi muon dengan prinsip dan teknologi yang relatif sederhana sehingga dengan mudah dapat dilakukan oleh siapapun. Prinsip kerjanya Muon ditangkap oleh sensor CMOS, interaksi antara sensor CMOS dengan muon mengeksitasi energi elektron yang menghasilkan arus listrik kemudian di konversi ke tegangan , dengan menggunakan perangkat lunak Python hasil tangkapan citra muon oleh CMOS diolah sehingga memberikan informasi tentang intensitas, dan frekuensi (jumlah muon yang menumbuk per satuan luas/per satuan waktutertentu).
Penentuan Daerah Rawan Bencana Sambaran Petir di Wilayah Kabupaten dan Kota Bandung Jawa Barat
Erwan Susanto
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (511.5 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19728
Petir merupakan salah satu fenomena alam yang sangat berbahaya karena besarnya energi yang dikeluarkan setiap kali petir menyambar bisa mencapai jutaan volt. Besarnya energi tersebut dapat menghancurkan apa saja yang disambarnya. Kejadian petir, khususnya petir tipe CGselalu bersinggungan dengan aktivitas manusia sehingga tidak jarang petir menyebabkan kerugian material atau bahkan menyebabkan kematian. Kabupaten dan Kota Bandung merupakan pusat pemerintahan dari Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk yang sangat padat sehingga harus mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan. Penelitian ini menggunakan data petir tipe CG (Cloud to Ground) tahun 2017 hasil rekaman sensor Lightning Detector BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daerah yang rawan terhadap bencana sambaran petir di Kabupaten dan Kota Bandung. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi informasi bagi pemerintah dan masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung untuk mengantisipasi bencana sambaran petir. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial dengan metode classtering. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada 4 kecamatan yang rawan bencanaa sambaran petir yaitu Kecamataan Lembang, Cisarua, Cipeundeuy dan Cikalong Wetan.
Pengujian Konsentrator Cahaya Tipe Fixed-Mirror Distributed Focus (FMDF) dengan Penerima Berbahan Besi
Dimas Panglima Putera;
Otong Nurhilal
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.132 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19713
Konsentrator cahaya adalah salah satu perangkat kolektor yang mampu mengkonsentrasikan cahaya pada satu titik melalui proses pemantulan dari cermin cekung/parabola. Salah satu tipe konsentrator adalah tipe Fixed-Mirror Distributed Focus (FMDF). FMDF adalah kolektor cahaya dengan posisi dan sudut reflektor tetap. Adapun penerima akan bergerak mengikuti pergerakan titik fokus yang dihasilkan reflektor. Pada penelitian ini telah dibuat FMDF dengan diameter lingkaran parabola 56 cm dan kedalaman 15 cm. Sebagai reflektor digunakan cermin datar dengan ukuran 2 x 2 cm yang ditempelkan pada permukaan parabola. Cahaya yang digunakan berasal dari lampu incandesent 275 Watt yang diatur intesitasnya dengan dimmer. Dalam pengujian alat FMDF dilakukan tiga variasi waktu lamanya penyinaran yaitu 5 menit, 10 menit dan 15 menit untuk setiap sudut datang dan intensitas cahaya. Dari hasil pengujian diperoleh nilai temperatur tertinggi untuk masing-masing variasi waktu sebesar 40,2°C, 41,2°C, dan 42,1°C pada intenitas 2100 lux dengan sudut datang cahaya tegak lurus terhadap permukaan FMDF. Dari hasil perhitungan efisiensi diperoleh nilai efisiensi menurun dengan lamanya penyinaran dan meningkatnya intensitas.
Identifikasi Fenomena Hujan Es Berbasis Analisis Faktor Cuaca Menggunakan Citra Satelit Himawari-8 dan Data Upper Air Sounding (Studi Kasus : Kejadian Hujan Es Tanggal 20 Maret 2018 di Depok)
Fajar Sidiq Ariwibowo;
Anang Ahmad Khairin Nur, Indra
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (643.99 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19729
Pada tanggal 20 Maret 2018 telah terjadi fenomena langka berupa hujan es disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah kota Depok. Berkaitan dengan hal itu dilakukan penelitian berdasarkan analisis data citra satelit Himawari-8 kanal IR menggunakan software SATAID dapat diketahui bahwa suhu puncak awan mengalami penurunan yang signifikan mencapai -73,2 oC dan diperoleh nilai indeks CAPE (Convective Available Potential Energy) sebesar 1093 J/kg yang mendeskripsikan kondisi stabilitas atmosfer. Berdasarkan anomali SST menunjukan perairan di lautJawa dan Samudera Hindia menghangat berkisar antara 1,0 – 1,5 oC sehingga mendukung pembentukan awan konvektif. Peta streamline menunjukan adanya belok anangin sehingga menimbulkan penumpukan massa udara dan pembentukan awan konvektif diatas sebagian besar wilayah pulau Jawa. Hasil penelitian dan analisis sounding dengan menggunakan software RAOB diperoleh lapisan freezing level pada ketinggian 4950 m dan temperature surface di kota depok berkisar 24,0- 25,0 oC sehingga memungkinkan jatuhnya endapan dalam bentuk kristal es.
Wristband Inovatif Penghilang Kantuk Saat Belajar dengan Sensor Detak Jantung Berbasis IOTc
Azka Zakiyyatuddin;
Aldo, Dian Afif;
Aditianto Ramelan
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (342.175 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19714
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah keadaanmengantuk ketika melaksanakan berbagai aktivitas. Salah satunya seperti yang biasa dialami oleh pelajar ketika belajar atau ujian. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat untuk menghilangkan rasa kantuk pada saat menjalankan aktivitas. Kanmuru Wristband merupakan produk penghilang kantuk dengan basis teknologi sensor detak jantung. Kanmuru akan mendeteksi perubahan detak jantung pada pengguna, ketika detak jantung turun di bawah standar maka sensor akan mengkomunikasikannya melalui sistem nodeMCU kemudian meneruskannya ke aktuator vibration motor, buzzer dan/atau penyengat listrik sehingga akan ada getaran, suara nyaring, dan/atau sengatan listrik yang akan memberikan efek kejut kepada pengguna sesuai mode yang dipilih sehingga kantuk akan hilang. Selain itu, wristband ini dapat dihubungkan dengan android untuk memantau nilai BPM yang tercatat setiap waktunya, mengatur batasan BPM ngantuk, dan mengubah mode alat sesuai kebutuhan. Inovasi ini akan membantu mewujudkan SDGS poin ke-8 : Increasing labour productivity.
Analisis Pendekatan Empiris PGA (Peak Ground Acceleration) Pulau Bali Menggunakan Metode Donovan, MC. Guirre dan M.V. Mickey
Emi Ulfiana;
Said A. Rumy;
Rian Pratama;
Puji Ariy
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (502.015 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19730
Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) adalah faktor lokal yang dapat berupa keadaan geologi atau karakteristik suatu wilayah. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan nilai PGA pada suatu wilayah terkait perbedaan karakteristik geologi. Nilai PGA pada umumnya didapatkan dari hasil observasi rekaman akselerograf, namun dikarenakan keterbatasan alat akselerograf pada suatu wilayah, maka perhitungan PGA dilakukan dengan pendekatan empiris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rumus empiris Donovan, Mc. Guirre, dan M.V. Mickey terhadap kecocokan nilai PGA pulau Bali berdasarkan peta guncangan tanah, baik berupa Shakemap maupun peta Seismic Hazard pulau Bali. Penelitian menggunakan 738 data parameter gempa bumi dari katalog BMKG dan USGS pada rentang waktu Januari 1963 hingga Oktober 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan dua metode empiris lainnya, metode empiris Donovan adalah pendekatan empiris paling baik yang dapat digunakan untuk menghitung nilai PGA di Pulau Bali.
Penentuan Variabilitas Awan Menggunakan Satelit Himawari-8 Di Bandara Tunggulwulung sebagai Dampak Fenomena Siklon Tropis Cempaka
Desnaeni Hastuti;
Prasetyo Umar Firdianto;
Yanuar Henry
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1720.428 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19715
Pada tanggal 27 November 2017 jam 19.00 WIB terjadi fenomena Siklon Tropis Cempaka di Perairan Selatan Jawa. Fenomena tersebut disebabkan oleh anomali dan kenaikan suhu permukaan laut yang cukup signifikan di wilayah tersebut sehingga memicu transfer energi yang besar dalam interaksi laut dan atmosfer. Akibatnya terjadi perubahan cuaca terutama kondisi awan yang dapat mengganggu kegiatan penerbangan di Bandara Tunggulwulung, Cilacap Jawa Tengah. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar pengaruh fenomena tersebut terhadap wilayah Pulau Jawa. Data yang digunakan adalah reanalisis suhu permukaan laut dari AVHRR-NOAA, Satelit Himawari-8 Kanal IR, data Radiosonde dan Sinoptik dari Stasiun Meteorologi Cilacap, data Streamline dari BoM, dan data curah hujan Satelit GSMAP selama periode Siklon Tropis Cempaka. Metode yang digunakan adalah teknik Dvorak, teknik HCAI, dan komposit pemetaan secara spasial dan temporal. Dapat diketahui bahwa suhu permukaan laut pada saat itu lebih 28,4 oC dengan anomalinya sebesar lebih dari 0,2 oC. Intensitas Siklon Tropis yang terjadi mencapai T-Number 2,5, kecepatan maksimum di sekitar Siklon ± 35 knot, dan pusat tekanan rendah mencapai 997 mb. Terdapat daerah konvektif kuat disekitar wilayah Siklon dan sangat mempengaruhi sistem cuaca yang terjadi. Sirkulasi udara tertarik ke arah pusat Siklon dan kondisi atmosfer cukup labil. Selain itu, kecepatan angin permukaan mengalami peningkatan hingga mencapai 14 knot sehingga mengakibatkan terjadinya fenomena banjir. Curah hujan yang terjadi di Selatan Pulau Jawa mencapai lebih dari 200 mm/hari.
Analisis Kejadian Hujan Es Berdasarkan Kondisi Atmosfer dan Citra Satelit Himawari-8 (Studi Kasus: Magelang, 24 Januari 2018)
Anendha Destantyo Nugroho;
Ahmad Fadlan
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (976.553 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19711
Fenomena hujan es termasuk fenomena ekstrem yang jarang terjadi di Indonesia karena wilayah Indonesia memiliki lapisan beku yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara lainnya. Wujudnya yang seperti butiran es menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat sehingga kadang disambut dengan antusias, padahal jika hujan es terjadi dalam ukuran yang cukup besar dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Proses terjadinya hujan es memiliki kaitan yang erat dengan perubahan lingkungan seperti perubahan suhu, kelembaban dan tekanan udara yang dapat menjadi tolak ukur dalam menyaksikan tanda-tanda terjadinya hujan es. Pada tanggal 24 Januari 2018 sekitar pukul 13.20 WIB hingga 13.30 WIB telah terjadi kejadian cuaca ekstrem yang berupa hujan es di Magelang tepatnya daerah Mertoyudan. Dengan mengacu pada data AWS (Automatic Weather Station) yang dipasang di kawasan Candi Borobudur yang diolah secara statistik serta data citra satelit himawari-8 dianalisis menggunakan aplikasi SATAID. Hasil penelitian dan analisis menunjukan bahwa telah terjadi kejadian hujan es yang di buktikan dengan data AWS yang mengalami perbedaan suhu yang cukup signifikan pada selang jam 12.00 WIB hingga 16.00 WIB sebesar 7.8 °C. Berdasarkan pemantauan citra satelit himawari-8 menunjukkan bahwa pada saat kejadian terdapat gumpalan awan berwarna putih di atas Kabupaten Magelang dan sekitarnya. Suhu puncak awan rendah saat itu sebesar -77.5°C yang diindikasikan sebagai awan Cumulonimbus
Studi tentang Fenomena Borneo Vortex terhadap Variabilitas Awan di Kalimantan Barat (Studi Kasus Tanggal 11-13 Januari 2018)
Khalid Fikri Nugraha Isnoor;
Prasetyo Umar Firdianto;
Asri Susilawati
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (791.612 KB)
|
DOI: 10.24198/jiif.v2i2.19727
Pada tanggal 11-13 Januari 2018 telah terjadi hujan lebat dan menyebabkan banjir bandang di beberapa wilayah Kalimantan Barat. Hal ini disebabkan curah hujan sangat tinggi yang mencapai 212 mm/hari. Diketahui bahwasanya terjadi fenomena Borneo Vortex di wilayah perairan Pulau Kalimantan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh fenomena Borneo Vortex terhadap variabilitas awan saat kejadian tersebut. Data yang digunakan adalah Satelit Himawari-8, data curah hujan di delapan titik pengamatan dan Sinoptik, Streamline, dan Radiosonde. Metode yang digunakan adalah teknik HCAI dan Split WindowsSatelit Himawari-8, analisisskala regional, sertaanalisisskalalokal. Hasilnya adalah Borneo Vortex memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi awan di wilayah tersebut. Awan terkonsentrasi dalam sistem tertutup dengan didominasi oleh awan konvektif tebal (dense) dan Cumulonimbus pada ketinggian lebih dari 16 km, suhu puncak awan mencapai -82oC yang lebih dari 3 jam. Selain itu, fenomena Siklon Tropis Joyce di Barat Laut Australia turut mempengaruhi sirkulasi udara.