cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 6 (2023)" : 5 Documents clear
Literature Review: Perbedaan Budaya Negara Individualis dan Kolektivis Antesenden Manajemen Privasi di Jejaring Sosial (SNS) Sonia Bella Prastika; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p211-222

Abstract

In this Literature Review, we examine the psychological antecedents of privacy management strategies on social networking (SNS) sites and expand our understanding of collective privacy management by using articles that review various individualistic and collectivistic countries. In these countries, there are differences regarding privacy management in social networks (SNS). Articles were collected using the systematic review method through a search process on Google Scholar to sort articles according to the topic of privacy management in individualistic and collectivistic countries. The results of the articles are based on predetermined categories, namely based on point results (Dutch America), (German America), (Korean Chinese America), and (Singaporean American Korean). So, in this case, it is proven that America, as an individualistic country, holds the highest privacy management power compared to collectivistic countries such as China, Korea, the Netherlands, Germany, and Singapore. In addition, the authors found that, in general, users' privacy attitudes, social norms, and self- or collective control beliefs substantially predicted the adoption of privacy management strategies. These findings contribute to explaining the adoption of behavioral privacy management strategies by users. We conclude with global and country-specific recommendations regarding future privacy designs for privacy management. AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah pemeriksaan anteseden psikologis dari strategi manajemen privasi di situs jejaring sosial (SNS) dan memperluas pemahaman untuk manajemen privasi kolektif. Menggunakan artikel yang mengulas Negara individualistik dan kolektivistik. Terlihat adanya perbedaan pada Negara tersebut mengenai manajemen privasi di jejaring sosial (SNS). Artikel dikumpulkan menggunakan metode systematic review melalui proses pencarian pada google scholar dan memilah artikel yang sesuai dengan topik manajemen privasi di Negara individualistik dan kolektivistik. Hasil artikel berdasarkan kategori yang telah ditentukan yaitu berdasarkan point result (Amerika Belanda), (Amerika Jerman), (Amerika Cina Korea) (Amerika Singapura Korea). Sehingga dalam hal ini terbukti bahwa Amerika sebagai Negara individualistik memegang kekuasaan manajemen privasi tertinggi dibandingkan dengan Negara koletivistik seperti cina, korea, belanda, jerman dan singapura. Selain itu, penulis menemukan bahwa secara umum sikap privasi pengguna, norma sosial, dan keyakinan kontrol diri atau kolektif secara substansial memprediksi penerapan strategi manajemen privasi. Temuan ini berkontribusi pada penjelasan penerapan strategi manajemen privasi perilaku oleh pengguna.
Sleep Paralysis Ditinjau dari Perspektif Neuropsikologi: Kajian Literatur Basa Dewangga Yuda; Gemma Gelvani Putri; Nadhif Ramadhan; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p223-226

Abstract

The paralysis that occurs when waking up causes fear and anxiety, called sleep paralysis (SP). SP occurs between the stages of sleep and wakefulness. When SP occurred, the subject felt fully awake but unable to move, perceived with sensations such as chest pressure, shortness of breath, and hallucination of images of scary figures. The muscle paralysis that occurs in REM functions to protect oneself from making dangerous movements while dreaming. Muscle atonia that continues into the next stage causes SP. SP is often identified with folklore related to supernatural phenomena. The hallucinations that arise in SP are associated with creepy creatures in certain cultural contexts. For example, in Indonesia, it is commonly referred to as trance due to the disturbance of spirits. Neurologically, SP can be explained scientifically where during sleep, the CNS remains active, but muscle movement is paralyzed. The shadows seen in SP are influenced by cognitive roles. Several factors are thought to cause SP, including sleep quality, psychological factors such as trauma and anxiety, and stressful environmental factors. AbstrakKelumpuhan yang terjadi ketika bangun tidur menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Secara medis, kondisi ini disebut dengan sleep paralysis (SP) atau kelumpuhan tidur yang terjadi antara tahap tidur dan terjaga. Pada SP, subjek seolah-olah merasa terjaga sempurna, namun tidak mampu bergerak, disertai sensasi berupa dada terasa tertekan, sesak napas, dan muncul bayangan sosok menyeramkan. Kelumpuhan otot gerak yang terjadi REM berfungsi untuk melindungi diri agar tidak melakukan gerakan membahayakan ketika sedang bermimpi. Atonia otot yang berlanjut ke tahap berikutnya menimbulkan SP. SP kerap diidentikkan dengan folklore terkait fenomena supranatural. Halusinasi yang muncul pada SP dikaitkan dengan makhluk menyeramkan di konteks budaya tertentu, misalnya di Indonesia yang familiar disebut “ketindihan” akibat gangguan makhluk halus. Secara neurologis, SP dapat dijelaskan secara ilmiah dimana pada saat tidur CNS tetap aktif namun otot gerak mengalami kelumpuhan. Bayangan yang terlihat pada SP dipengaruhi oleh peran kognitif. Beberapa faktor diduga menjadi penyebab munculnya SP, diantaranya kualitas tidur, faktor psikologis berupa trauma dan kecemasan, serta faktor lingkungan yang penuh tekanan.
Literature Review Perilaku Prososial: Faktor Pengaruh, Manfaat, dan Penelitian Perilaku Prososial di Indonesia Zanjabila Ubaida; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p227-234

Abstract

Prosocial behavior is one of the most important behaviors in social life. In practice, there are a variety of influencing factors that can lead to variations in the level of prosocial behavior in different cultures or countries. This study aims to review the influence factors of prosocial behavior, the impacts, and benefits of prosocial behavior, and to review research related to prosocial behavior in Indonesia. This study reviews and systematically reviews ten articles on the theme of prosocial behavior using different methodologies and approaches. From the literature review that has been conducted, there are several factors that influence the level of individual prosocial behavior, namely parental expectations, empathy, target power, and parenting patterns in the individual's early development phase. Then, prosocial behavior has an impact or benefit, namely it can increase the level of happiness in individuals to be one factor that can be a predictor in the formation of close and warm relationships between mothers and children. In addition, research related to prosocial behavior conducted in Indonesia shows that there are no significant differences in the level of prosocial behavior in Indonesian society, even though Indonesia is a country with a variety of values and cultures. AbstrakPerilaku prososial merupakan salah satu perilaku yang penting ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam praktiknya, terdapat berbagai macam faktor pengaruh yang dapat menyebabkan variasi pada tingkat perilaku prososial di budaya atau negara yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas terkait faktor pengaruh dari perilaku prososial, manfaat dari perilaku prososial, serta mengulas terkait penelitian perilaku prososial di Indonesia. Penelitian ini meninjau serta mengulas secara sistematik sepuluh artikel dengan tema perilaku prososial yang menggunakan metodologi serta pendekatan yang berbeda. Dari literatur review yang telah dilakukan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi tingkat perilaku prososial individu, yaitu parental expectations, empati, target’s power, dan pola pengasuhan di fase perkembangan awal individu. Kemudian, perilaku prososial memiliki manfaat yaitu dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan pada individu menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi pemrediksi dalam terbentuknya hubungan yang akrab dan hangat antara ibu anaknya. Selain itu, penelitian terkait perilaku prososial yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat perilaku prososial pada masyarakat Indonesia meskipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan variasi nilai serta kebudayaan.
Peran Kepribadian Hardiness terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir Sofia Nuryanti; Patrick Karsten Welas
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p235-242

Abstract

Students generally undergo lecture activities to prepare themselves to enter the workforce. However, in reality, many university graduates are still not working. Hardiness personality is often associated with an individual's ability to deal with pressure, in this case, faced by them when entering the world of work. This study aims to determine the role of hardiness personality attributes in predicting work readiness in final-year students. Respondents in this study amounted to 157 final-year students who were collected using the accidental sampling technique. Work readiness is measured by adapting the work readiness scale of Caballero's Work Readiness Scale (WRS) (2011) and personality hardiness is measured by using the Dispositional Resilience Scale or DRS-15 developed by Bartone (2013). Data analysis techniques and hypothesis testing were carried out using a simple linear regression research method using JASP software version 0.16.4. The results showed that hardiness personality played a significant role in predicting work readiness in final-year students, with an effective contribution value of 0.195, or 19.5%. AbstrakMahasiswa pada umumnya menjalani kegiatan perkuliahan untuk mempersiapkan dirinya dalam memasuki lapangan pekerjaan. Walau demikian, pada kenyataannya masih banyak dari lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja. Kepribadian hardiness seringkali dikaitkan dengan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan, dalam hal ini dihadapi oleh mereka dalam memasuki dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran atribut kepribadian hardiness dalam memprediksi kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Responden penelitian ini berjumlah 157 mahasiswa tingkat akhir yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Kesiapan kerja diukur dengan mengadaptasi skala kesiapan kerja Work Readiness Scale (WRS) milik Caballero (2011) dan kepribadian hardiness diukur dengan menggunakan skala Dispositional Resilience Scale atau DRS-15 yang dikembangkan oleh Bartone (2013). Teknik analisis data serta uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode penelitian regresi linear sederhana dengan menggunakan software JASP versi 0.16.4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian hardiness berperan signifikan dalam memprediksikan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir, dengan nilai kontribusi efektif sebesar 0.195, atau 19.5%.
Are We Different?, Tinjauan Kepribadian secara Lintas Budaya dalam Implikasinya terhadap Kehidupan Manusia Rayza Ilfie Azkya Ashgarie; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p243-260

Abstract

This article aims to find out personality with cross-cultural views and its various implications for human life. The process of compiling this article uses a qualitative approach in the form of a literature review. The results obtained are that cross-cultural personality has at least implications for changes in personality, maturity, religiosity, culture shock, motivation and cognition, enjoyment of entertainment, cultural intelligence, bullying behavior, subjective well-being, and self-representation. In addition, intercultural personality differences were also obtained on the continents of Asia vs. Europe, Asia vs. America, and Europe vs. America. Based on the implications, there are three levels of implications, namely cultural differences in personality affect these implications differently, such as changes in personality; cultural differences in personality affect these implications in the same way, such as enjoying entertainment; and cultural differences in personality do not greatly affect these implications such as bullying behavior. Meanwhile, by region, Asia tends to be collectivist, so it has a closer personality than Europe and America. America tends to be individual, so it is more open than Asia and Europe, and Europe can be both collectivist and individualist depending on who the comparison is. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian dengan tinjauan lintas budaya dalam berbagai implikasinya terhadap kehidupan manusia. Proses penyusunan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif berjenis literature review. Adapun hasil yang diperoleh yakni kepribadian secara lintas budaya berimplikasi setidaknya terhadap perubahan kepribadian, kedewasaan, religiusitas, culture shock, motivasi dan kognitif, menikmati hiburan, kecerdasan budaya, perilaku bullying, subjective well-being, dan representasi diri. Selain itu, diperoleh juga perbedaan kepribadian antarbudaya secara benua Asia vs Eropa, Asia vs Amerika, dan Eropa vs Amerika. Berdasarkan implikasi, terdapat tiga tingkat implikasi yakni perbedaan kepribadian secara budaya mempengaruhi implikasi tersebut secara berbeda pula seperti perubahan kepribadian, perbedaan kepribadian secara budaya mempengaruhi implikasi tersebut secara sama seperti menikmati hiburan, dan perbedaan kepribadian secara budaya tidak terlalu mempengaruhi implikasi tersebut seperti perilaku bullying. Sedangkan berdasarkan wilayah, Asia cenderung kolektivis sehingga berkepribadian tertutup daripada Eropa dan Amerika, Amerika cenderung individual sehingga lebih terbuka daripada Asia dan Eropa, dan Eropa dapat bersifat kolektivis dan individualis bergantung pada siapa pembandingnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5