cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2024)" : 5 Documents clear
Coping Mechanism Remaja Akhir Pasca Putus Cinta Sitompul, Rianti Natasya; Rakhmaditya Dewi Noorrizki
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p59-63

Abstract

The problem of adolescents' helplessness in coping with stress is a problem that can interest researchers to examine more deeply because adolescents who cannot cope tend to harm themselves, such as attempting suicide. This study aims to understand coping mechanisms after a breakup in late adolescence. The research method used in this study is a qualitative approach with descriptive analysis. The subjects of this study were five adolescents aged nineteen to twenty years who were students at the State University of Malang and had experienced or were currently experiencing a breakup. This study shows that five subjects going through a breakup or have experienced a breakup use problem-focused, emotion-focused, meaning-focused, and social coping (seeking support). Based on the results of the interviews that have been conducted, three subjects use problem-focused coping; one subject uses emotion-focused coping, and one subject uses meaning-focused and social coping, where the subject manages the meaning of the situation and seeks emotional support from friends or family. AbstrakMasalah ketidakberdayaan remaja dalam mengatasi stres adalah permasalahan yang dapat menarik minat peneliti untuk menelaah lebih dalam dikarenakan remaja yang tidak bisa melakukan coping cenderung untuk menyakiti diri, seperti mencoba untuk bunuh diri. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk memahami coping mechanism setelah putus cinta pada remaja akhir. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Subjek penelitian ini adalah lima remaja yang berusia sembilan belas tahun hingga dua puluh tahun, merupakan mahasiswa di Universitas Negeri Malang dengan kategori pernah atau sedang mengalami putus cinta. Penelitian ini menunjukkan bahwa lima subjek yang sedang putus cinta atau sudah mengalami putus cinta menggunakan strategi coping berfokus pada masalah, coping berfokus pada emosi, coping berfokus pada makna, dan coping sosial (mencari dukungan). Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, tiga subjek menggunakan coping yang berfokus pada masalah, satu subjek menggunakan coping yang berfokus pada emosi, satu subjek menggunakan coping yang berfokus pada makna dan sosial, yang dimana subjek mengelola makna situasi dan mencari dukungan emosional dari teman atau keluarga.
Gambaran Kesehatan Mental pada Remaja Korban Toxic Parenting di Sidoarjo Sanjaya, Frisca Aulia Permata; Wanesti, Nabilah Silvania; Lestari, Orchida Adi; Edy, Dewi Fatmasari
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p71-83

Abstract

Parents become the main foundation for children in the formation and development of children's character. Still, sometimes, there are children who grow up in conditions of parents who treat children harshly and arbitrarily to "poison" their mental and psychological conditions of children. This study aims to examine more deeply the picture of mental health in adolescents who are victims of toxic parenting. Qualitative research method with a case study approach. Determination of informant criteria using purposive sampling, such as adolescents with toxic parents in Sidoarjo. Data analysis used Miles and Huberman's interactive analysis. The results of the study can describe how mental health in adolescents who have toxic parents can vary depending on how adolescents perceive and deal with problems with their parents. The difference in adolescent mental health lies in the experiences and environmental conditions that can influence it. Toxic parenting impacts adolescents such as feelings of fear, shutting down, and difficulty in expressing emotions. The impact faced by adolescents is overcome by listening to music and going out for fresh air. AbstrakOrang tua menjadi landasan utama anak dalam pembentukan dan pengembangan karakter anak, namun terkadang terdapat anak yang tumbuh di dalam kondisi orang tua yang memperlakukan anak secara kasar, semena-mena hingga “meracuni” kondisi mental dan psikis anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai gambaran kesehatan mental pada remaja yang menjadi korban dari toxic parenting. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan kriteria informan menggunakan purposive sampling seperti remaja dengan orang tua toxic di Sidoarjo. Analisis data menggunakan analisis interaktif milik Miles dan Huberman. Hasil penelitian dapat menggambarkan kesehatan mental pada remaja yang memiliki orang tua yang toxic dapat berbeda-beda tergantung pada cara remaja memandang dan menghadapi permasalahan dengan orang tuanya. Perbedaan kesehatan mental remaja terletak pada pengalaman dan kondisi lingkungan sekitar dapat mempengaruhi. Toxic parenting memberikan dampak kepada remaja seperti perasaan takut, menutup diri, dan kesulitan dalam mengekspresikan emosi. Dampak yang dihadapi oleh remaja diatasi dengan mendengarkan musik dan keluar mencari udara segar.
Coping Mechanism terhadap Stress Akademik pada Mahasiswa Ismi Aisya Saptyaning Ambarwati; Sabila Jannati; Khairina, Nadia
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p47-58

Abstract

Studying and carrying out academic activities undertaken by students is inseparable from academic stress. Academic problems, such as many assignments, pressure during exams, and a low GPA, cause this academic stress. Stress experienced by students will cause various responses that cause individuals to have different coping mechanisms. This study aims to discover the importance of coping mechanisms when facing stressful situations and the difference between problem-focused and emotional-focused coping. This research uses qualitative methods through observation and interviews, and then data analysis is carried out using descriptive analysis techniques. This research includes two aspects, in the first aspect, namely problem-focused coping, the subject uses coping strategies actively, seeking instrumental support, releasing behavior, making positive meaning, and planning. Meanwhile, in the second aspect, namely emotion-focused coping, the subject expresses emotions, distracts himself, goes into denial, uses substances, and seeks emotional support, entertainment, acceptance, religiosity, and self-blame. The research results provide an understanding that there are various coping strategies used by students in dealing with academic stress situations, where each student has different strategies and cannot be the same. AbstrakProses menuntut ilmu dan melaksanakan aktivitas akademik yang dijalani oleh mahasiswa tidak terlepas dari yang namanya stress akademik. Stress akademik ini dikarenakan beberapa permasalahan akademik, seperti tugas yang banyak, tertekan saat akan menjalani ujian, dan IPK yang rendah. Stress yang dialami mahasiswa nantinya menimbulkan berbagai respon yang menyebabkan individu mempunyai coping mechanism yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya memiliki coping mechanism ketika menghadapi situasi stres dan mengetahui perbedaan antara problem-focused coping dan emotion-focused coping. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara yang kemudian dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Penelitian ini meliputi dua aspek, pada aspek pertama yaitu problem-focused coping, subjek menggunakan strategi coping secara aktif, mencari dukungan instrumental, pelepasan perilaku, memaknai secara positif, dan perencanaan. Sedangkan pada aspek kedua yaitu emotion-focused coping, subjek meluapkan emosi, mengalihkan diri, melakukan penyangkalan, penggunaan zat, mencari dukungan emosional, hiburan, penerimaan, religius, dan menyalahkan diri. Hasil penelitian memberikan pemahaman bahwa terdapat beragam strategi coping yang digunakan oleh mahasiswa dalam menghadapi situasi stres akademik, dimana setiap mahasiswa memiliki strategi yang berbeda-beda dan tidak dapat disamakan.
Peningkatan Adiksi Internet Selama Pandemi COVID-19 Ditinjau Dari Perspektif Psikologi Sosial Annisyah Rahmania Rayhan; Alvania Claresta Sarah Christian; Afi Rizqi Zakaria; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p64-70

Abstract

Pemberlakuan berbagai kebijakan sebagai respon dari penyebaran pandemi COVID-19 di seluruh dunia yang bertujuan untuk mencegah bertambahnya angka pasien positif COVID-19 ini menimbulkan berbagai macam dampak. Salah satunya adalah naiknya angka adiksi atau kecanduan internet. Tujuan dari penelitian ini adalah guna mengetahui bagaimana pandangan ilmu psikologi sosial dalam melihat kenaikan angka kecanduan internet yang terjadi selama pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah eksplanasif dengan pendekatan kualitatif. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa faktor penyebab yang berkorelasi dengan kenaikan angka kecanduan internet ini adalah faktor psikologis dan tujuan serta motivasi dari penggunaan internet itu sendiri. Teori lainnya yang dapat menjelaskan kenaikan tersebut adalah social exchange and interdependence theory, fearful attachment style, dan social comparison theory. Agar angka kecanduan internet ini tidak semakin bertambah, kita dapat menekannya dengan melakukan usaha kontrol diri baik secara mandiri maupun dengan bantuan orang lain di mana upaya tersebut akan semakin maksimal apabila dibarengi dengan motivasi yang kuat dan efikasi diri yang positif. AbstractThe implementation of various policies in response to the spread of the COVID-19 pandemic around the world was carried out to prevent an increase in the number of positive COVID-19 patients from causing various kinds of impacts, one of which is increasing the number of internet addictions. The purpose of this research was to find out how social psychology considered the increasing number of internet addictions. The method is used for explanatory purposes with a qualitative approach. The analysis results show that the causative factors that correlate with the increase in the number of internet addictions are psychological factors and the purpose and motivation of using the internet. Other theories that can explain the increase are social exchange and interdependence theory, fearful attachment theory, and social comparison theory. We can prevent an increase in the number of Internet addictions by exercising self-control, both independently and with the assistance of others. If there is strong motivation and positive self-efficacy, these efforts will be maximized.
Pengembangan Aktualisasi Diri: Kajian Pustaka tentang Faktor Penghambat dan Strategi Pendukung Fahmida Azzahra; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p84-92

Abstract

According to Maslow, every person has five basic needs, one of which is the need for self-actualization, which occupies the highest position in the level of needs. This article aims to determine the importance of self-actualization and the factors that influence self-actualization through a literature review method. The literature was selected based on research articles published in journals over the last five years, which were then analyzed based on aspects of the five levels of human needs according to Abraham Maslow. The analysis results show that the driving factors for self-actualization are motivation, failure, belief or mindset, courage, social relationships, and self-acceptance. There are two inhibiting factors, namely internal factors, which include not knowing one's potential, feelings of doubt and fear, and looking too simply at life, while external factors include community culture, environmental factors, and bullying. Self-actualization can be achieved through strategies such as knowing yourself, building self-confidence and self-compassion, building a growth mindset, maintaining mental health (psychological well-being), being oriented toward others (client-centered), as well as carrying out various positive activities. AbstrakMenurut Maslow, setiap orang memiliki lima kebutuhan dasar, Salah satunya kebutuhan aktualisasi diri, yang menduduki posisi tertinggi dalam tingkatan kebutuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya aktualisasi diri beserta faktor-faktor yang memengaruhi aktualisasi diri melalui metode literature review. Pustaka dipilih berdasarkan artikel penelitian yang diterbitkan pada jurnal selama lima tahun terakhir, yang kemudian dianalisis berdasarkan aspek lima tingkat kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pendorong aktualisasi diri adalah motivasi, kegagalan, keyakinan atau mindset, keberanian, hubungan sosial, dan penerimaan diri. Faktor penghambatnya terdapat dua yaitu faktor internal, yang meliputi ketidak-tahuan akan potensi yang dimilikinya, perasaan ragu dan takut, serta terlalu memandang sederhana kehidupan, sedangkan faktor eksternal meliputi budaya masyarakat, faktor lingkungan, dan bullying. Aktualisasi diri dapat dicapai melalui strategi seperti mengenali diri sendiri, membangun kepercayaan diri, mencintai diri (self-compassion), membangun pola pikir yang berkembang (growth mindset), menjaga kesehatan mental (psychological well-being), berorientasi pada orang lain (client centered), serta melakukan berbagai kegiatan positif.

Page 1 of 1 | Total Record : 5