cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 9 (2024)" : 5 Documents clear
Menelusuri Penyebab, Dampak, dan Solusi dalam kasus Pseudocyesis: Sebuah Tinjauan Literatur Fadilah, Moza A.; Erdenwarmansyah, Renandry P. P.; Saputri, Rizkyta S.; Lestari, Laila I.
Flourishing Journal Vol. 4 No. 9 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i92024p439-448

Abstract

Pseudocyesis or false pregnancy is a condition where a woman feels all the symptoms of pregnancy, but there is no fetus in the uterus. The research aimed to understand the rare phenomenon of pseudocyesis that occurs in the community, starting from factors, impacts, and prevention and treatment solutions. The method used in this research is literature review and uses secondary data from previous studies. Data was obtained from journal portals such as Google Scholar and Sage Journal with the keywords “Pseudocyesis” and “Pregnancy”. The author used journals from 2001 to 2024. Many factors including psychological factors, endocrinological disorders, and social culture can influence. The impacts experienced by women with pseudocyesis include physical, social, medical, emotional and psychological impacts. Solutions that can be provided are conducting physical examinations on women, conducting consultations, and seeking professional assistance related to interventions that can help, as well as providing understanding to those closest to providing dukungan to women. The implication of this study is that women are expected to pay more attention to their health and keep away from conditions that trigger excessive stress. The closest environment, especially spouses and families, can provide dukungan for a better prognosis. AbstrakPseudocyesis atau kehamilan semu merupakan kondisi dimana wanita merasakan semua gejala kehamilan, namun tidak terdapat janin di dalam rahim. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk memahami fenomena langka pseudocyesis yang terjadi di masyarakat mulai dari faktor, dampak, solusi pencegahan, serta penanganannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review atau kajian literatur, dan memakai data sekunder dari penelitian sebelumnya. Data didapat dari portal jurnal seperti Google Scholar dan Sage Journal dengan kata kunci “pseudocyesis” dan “kehamilan”. Penulis menggunakan jurnal dalam rentang waktu 2001 hingga 2024. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pseudocyesis merupakan kondisi yang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya faktor psikologis, gangguan endokrinologi dan sosial budaya. Dampak yang dialami oleh wanita dengan pseudocyesis meliputi dampak fisik, sosial, medis, emosi dan psikologis. Solusi yang dapat diberikan yaitu melakukan pemeriksaan fisik pada wanita, melakukan konsultasi, serta mencari bantuan profesional terkait dengan intervensi yang dapat membantu, serta memberikan pemahaman kepada orang-orang terdekat agar memberikan dukungan kepada wanita. Implikasi dari penelitian ini adalah diharapkan wanita lebih memperhatikan kesehatannya dan menjaga terhindar dari kondisi yang memicu stres berlebih. Lingkungan terdekat terutama pasangan dan keluarga dapat memberikan dukungan untuk prognosis yang lebih baik.
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kecenderungan Narsistik Perempuan Dewasa Awal Pengguna TikTok Putri, Dylla Kartika Ayu; Harsono, Yudi Tri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 9 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i92024p430-438

Abstract

The use of social media, especially TikTok, can have negative impacts on its users, such as the emergence of narcissistic tendencies. One factor contributing to the emergence of narcissistic tendencies is the lack of self-acceptance in individuals. Individuals in early adulthood are among the most active users of TikTok. At this stage, individuals explore various things to form their self-integration. One of the ways to explore oneself is through social media. The purpose of this study is to explore the relationship between self-acceptance and narcissistic tendencies among young adult women who use TikTok. The participants in this study were young adult women aged 20 to 40 who were selected using an accidental sampling method. In this study, a total of 156 participants were involved. The results of this study showed that there was a correlation or relationship between self-acceptance and narcissistic tendencies among young adult women who use TikTok (r = -0.269; p < .001). The strength of the relationship is weak and the direction is negative, indicating that the higher the self-acceptance, the lower the narcissistic tendencies. AbstrakPenggunaan media sosial khususnya TikTok dapat memiliki dampak negatif pagi penggunanya, seperti munculnya kecenderungan narsistik. Salah satu faktor dari munculnya kecenderungan narsistik adalah kurangnya penerimaan diri yang dimiliki individu. Individu pada tahap dewasa awal merupakan salah satu pengguna aktif TikTok. Pada tahapan ini, individu mencoba mengeksplorasi berbagai hal untuk membentuk integrasi dirinya. Eksplorasi diri yang dilakukan salah satunya melalui media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hubungan penerimaan diri dengan kecenderungan narsistik perempuan dewasa awal pengguna TikTok. Partisipan dalam penelitian ini adalah perempuan dewasa awal berusia antara 20 hingga 40 tahun yang dipilih dengan menggunakan metode sampling aksidental. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 156 partisipan yang terlibat. Penelitian ini menunjukkan hasil terdapat korelasi atau hubungan penerimaan diri dengan kecenderungan narsistik pada perempuan dewasa awal pengguna TikTok (r = -0,269; p < .001). Tingkat hubungannya lemah dan arahnya negatif meenunjukkan semakin tinggi penerimaan diri maka semakin rendah kecenderungan narsistik.
Gambaran Hubungan Parasosial Pembaca Dewasa Awal dengan Karakter Fiksi dalam Webtoon Wiweka, Charisma Septian; Syavitri, Risya Meidhina; Samodra , Wisnu
Flourishing Journal Vol. 4 No. 9 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i92024p386-411

Abstract

Early adults with age range of 18-40 y.o., are included in Erikson's psychosocial stage with the task of intimacy versus isolation. This means individuals must be able to build intimate relationships or become socially isolated. Intimate relationships formed may take a different form than usual. One is the way individuals form types of parasocial relationships, with fictional characters in some cases. On the other hand, there is one media that is developing rapidly and is famous for the nature and depiction of its fictional characters, namely webtoon. Departing from this phenomenon, this research aims to explore the description of the parasocial relationships of early adult readers with fictional characters in webtoons. The method used is a qualitative research method with a phenomenological approach model. Data collection was carried out using semi-structured interviews and data was analyzed using thematic analysis techniques. Based on the analysis of data that has been collected, results show that parasocial relationships of early adult readers with fictional characters in webtoons are manifested in two different types: romantic and non-romantic parasocial relationships. These parasocial relationships are also formed in affective, behavioral, cognitive and decisional manifestations, with characteristics of one-way relationship and having parasocial paradox. AbstrakIndividu dewasa awal, dengan rentang usia 18-40 tahun, termasuk dalam tahap psikososial oleh Erikson sebagai tahap perkembangan dengan tugas intimacy versus isolation. Hal ini berarti individu harus bisa membangun hubungan intim atau menjadi terisolasi secara sosial. Seiring berubahnya zaman, hubungan intim yang dibentuk dalam masa dewasa awal ini bisa jadi berbentuk berbeda daripada umumnya. Salah satunya adalah cara individu dewasa awal membentuk jenis hubungan parasosial, dengan karakter fiksi pada beberapa kasus. Di sisi lain, pada dekade terakhir terdapat satu media yang sedang berkembang pesat dan terkenal dengan sifat dan penggambaran karakter fiksinya, yaitu media webtoon. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi gambaran hubungan parasosial pembaca dewasa awal dengan karakter fiksi di dalam webtoon. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan model pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur dan data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Berdasarkan analisis data yang sudah dikumpulkan, didapatkan hasil bahwa hubungan parasosial pembaca dewasa awal dengan karakter fiksi di webtoon terwujud dalam dua jenis hubungan yang berbeda, yaitu hubungan parasosial romantis dan non-romantis. Hubungan parasosial tersebut juga terbentuk dalam manifestasi afeksi, perilaku, kognitif, serta desisional, dengan karakteristik hubungan satu arah dan memiliki paradoks parasosial.
Hubungan Stigma Afiliasi dan Kualitas Hidup Pengasuh Anak Gangguan Spektrum Autisme Masyithah, Izza Ulya; Bisri, Moh.
Flourishing Journal Vol. 4 No. 9 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i92024p412-429

Abstract

Autism spectrum disorder is a neurological and developmental disorder that affects an individual's ability to behave and perform social interaction, learning and communication. Autism spectrum disorder cases not only affect the individual but also affect family life. The quality of life of caregivers of children with autism spectrum disorders is not only faced with the level of the child's autism disorder but also the negative social attitudes of society, which in this case is affiliate stigma. This study aims to determine the relationship between affiliate stigma and the quality of life of caregivers of children with autism spectrum disorders. The research method used is a quantitative method with a correlational research design. The population of this research is the community of caregivers of autistic children in Malang City with 42 community members participating. The results of this study found that there was a significant relationship between affiliate stigma and the quality of life of caregivers of children with autism spectrum disorders and it was negatively correlated a coefficient of -0.536. This shows that the lower the level of stigmatization of belonging, the higher the level of quality of life. AbstrakGangguan spektrum autisme merupakan gangguan neurologis dan perkembangan yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berperilaku serta melakukan interaksi sosial, belajar dan komunikasi. Kasus gangguan spektrum autism tidak hanya mempengaruhi individu melainkan juga mempengaruhi kehidupan keluarga. Kualitas hidup pengasuh anak dengan gangguan spektrum autism tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat gangguan autisme anak, tetapi juga sikap sosial negatif masyarakat yang dalam hal ini adalah stigma afiliasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stigma afiliasi dan kualitas hidup pengasuh anak gangguan spektrum autisme. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Populasi penelitian ini yakni komunitas para pengasuh anak autis di Kota Malang dengan jumlah responden yang berpartisipasi sebanyak 42 anggota komunitas. Hasil penelitian ini ditemukan terdapat hubungan yang signifikan antara stigma afiliasi dan kualitas hidup pengasuh anak gangguan spektrum autisme serta berkorelasi secara negatif dengan koefisien -0,536. Hal ini menunjukkan semakin rendah tingkat stigma afiliasi maka akan semakin tinggi tingkat kualitas hidup.
Gambaran Strategi Koping pada Guru Pendamping Khusus Hanani, Media; Harsono, Yudi Tri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 9 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i92024p449-469

Abstract

The comparison of the number of shadow teachers to children with special needs is still far from ideal. This causes pressure on shadow teachers because of the increasing number of tasks carried out which has an impact on decreasing performance, so that an appropriate strategy is needed to manage this pressure. Therefore, this study was conducted with the aim of seeing a picture of the coping strategies used by shadow teachers. This study is a qualitative study with a case study approach. The participants in this study were shadow teachers in Pekalongan City. The data collection technique used in this study was a semi-structured in-depth interview. The data analysis method used was thematic data analysis. While the data validity method in this study used participant check data validity. The results of the study found that coping strategies focused on problem solving were more widely used in dealing with stress while solving the source of the problems experienced. Meanwhile, emotional-focused coping strategies were also used side by side with problem-focused coping to help manage negative emotions from the stress experienced to help determine more effective problem-solving actions. AbstrakPerbandingan jumlah guru pendamping khusus dengan anak berkebutuhan khusus masih jauh dari ideal. Hal tersebut menimbulkan tekanan bagi guru pendamping khusus karena semakin banyaknya tugas yang dilakukan hingga berdampak pada menurunnya kinerja, sehingga diperlukan strategi yang sesuai dalam mengelola tekanan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat gambaran strategi koping yang digunakan pada guru pendamping khusus. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan penelitian ini merupakan guru pendamping khusus di Kota Pekalongan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam semi terstruktur. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah analisis data tematik. Sedangkan metode validitas data dalam penelitian ini menggunakan validitas data cek partisipan. Hasil penelitian yang ditemukan menunjukkan bahwa strategi koping berfokus penyelesaian masalah lebih banyak digunakan dalam mengatasi tekanan sekaligus menyelesaikan sumber permasalahan yang dialami. Sementara strategi koping berfokus emosi juga digunakan berdampingan dengan koping berfokus penyelesaian masalah untuk membantu mengelola emosi negatif dari tekanan yang dialami sehingga membantu menentukan tindakan penyelesaian masalah secara lebih efektif.

Page 1 of 1 | Total Record : 5