cover
Contact Name
Nasri
Contact Email
nasri@unhas.ac.id
Phone
+62411-589592
Journal Mail Official
jpkwallacea@unhas.ac.id
Editorial Address
Kampus Tamalanrea Fakultas Kehutanan UNHAS, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Published by Universitas Hasanuddin
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea (JPK Wallacea) was found in 2012. Initially, this journal was a regular scientifically reviewed printed journal focusing on the Conservation of Biological Resources. We are particularly interested in conservation issues in the biogeographical region of Wallacea, but related conservation issues from other parts of the world are also welcome.
Articles 195 Documents
Land capability evaluation for land use recommendation in Lawo watershed Mahendra Harjianto; Naik Sinukaban; Suria Darma Tarigan; Oteng Haridjaja
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.137 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2016.vol5iss1pp1-11

Abstract

The changes of forest uses into agricultural land is a serious problem in Lawo watershed, South Sulawesi. Agricultural practices without implementing soil conservation and adequate agro-technology has caused high level of soil erosion and low land productivity. Management in Lawo watershed must be done with integrated soil and water conservation in order to increase agricultural production. This effort can be done with land capability evaluation. The purpose of this study is to evaluate the land capability of Lawo watershed using land capability category for data analysis. The results showed that Lawo watershed is dominated by land capability of class III with erosion (middle) as the dominant limiting factor which covers about 17,476.42 ha (49.68%). In addition, the class of land capability is followed by class IV with the slope (moderately steep) as the limiting factor and erodibility of soil (middle) covering about 10,059.8 ha (28.6%), land capability of class VI with slope (Steep) as the limiting factor with 7,638.32 ha (21.72%) coverage area. Land with class III can be recommended for dryland farming with adequate application of agro-technology, and water and soil conservation. While class IV and VI are not recommended for agricultural activities but for private forest or plantation forest.
Sebaran Spasial Tumbuhan Penghasil Minyak Kayu Putih di Taman Nasional Wasur Edy Junaidi; Aji Winara; Mohamad Siarudin; Yonky Indrajaya
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1880.832 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp101-113

Abstract

Pemanfaatan jenis tanaman penghasil minyak kayu putih di Taman Nasional(TN) Wasur perludidukung data dan informasi yang akurat. Hal ini menjadi penting mengingat eksploitasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan terganggunya fungsi kawasantamannasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial tigajenis tanaman penghasil kayu putih, yaitu jenis Asteromyrtus symphyocarpa, Melaleuca cajuputidan Melaleuca viridiflorayang ada di kawasan TN Wasur. Secara umum sebaran tigajenis tanaman penghasil kayu putih sebagian besar berada pada wilayah Yanggandur.Pusat sebaran ketiga jenis kayu putih ini berada di sekitar Kampung/Desa Yanggandur, Mbembi, Wasur dan Sota.Sebaran ketiga jenis penghasil minyak kayu putih ini sebagian besar terdapat di sekitar rawa, khususnya di Rawa Sermayam, Rawa Buaya dan Rawa Biru. Luas habitat ketiga jenis penghasil kayu putih adalah 103.011,75 ha. A. symphyocarpa merupakan jenis yang mendominasi Taman Nasional Wasur yaitu 8,30% dari luas taman nasional, diikuti oleh jenis M. cajuputi seluas 8,27% dan M. viridiflora seluas 7,03%. Jenis A. symphyocarpaumumnya dominan tumbuh pada jenis tanah Kambisol, sedangkan M. cajuputi dan M. viridiflora tumbuh dominan pada jenis tanah Kambisol dan Gleysol.
Ekosistem Hutan Pegunungan Bawah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: Hotspot Keanekaragaman Hayati Burung dan Manajemen Konservasinya Indra A.S.L.P. Putri
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.07 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp115-128

Abstract

Hutan pegunungan bawah dikenal sebagai salah satu hotspot keanekaragaman hayati. Namun informasi mengenai keanekaragaman hayati burung yang terdapat di ekosistem ini tergolong masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi ilmiah mengenai ekosistem hutan pegunungan bawah yang kaya akan keanekaragaman hayati burung dan manajemen konservasinya. Pengumpulan data keanekaragaman burung dilakukan di tiga lokasi ekosistem hutan pegunungan bawah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) dan dilakukan dengan menggunakan metode count point. Analisis data dilakukan dengan menggunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Weiner, indeks kemerataan jenis Pielou, indeks dominasi Simpson, indeks kekayaan jenis Margalef dan indeks kesamaan jenis Sorensen. Beda nyata pada populasi burung yang dijumpai di lokasi penelitian diuji dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekosistem hutan pegunungan bawah TN Babul kaya akan keanekaragaman hayati burung, kaya akan spesies endemik, langka dan dilindungi. Kondisi populasi burung tergolong baik, meskipun terdapat perbedaan nyata pada jumlah individu burung yang dijumpai di lokasi penelitian akibat adanya perbedaan tingkat gangguan oleh manusia. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan pemahaman masyarakat tentang zonasi, serta partisipasi berbagai pihak bagi peningkatan peran dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi. Selain itu juga diperlukan adanya kesinambungan program konservasi yang dilaksanakan oleh pihak TN Babul, agar kelestarian ekosistem hutan pegunungan bawah dan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya tetap lestari.
Parameter genetik pada kombinasi uji provenan dan uji keturunan Araucaria cunninghamii asal Manokwari (Papua) di Bondowoso, Jawa Timur Dedi Setiadi; M. Anis Fauzi
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.376 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp129-136

Abstract

Araucaria cunninghamii sebagai bahan baku pulp serat panjang perlu dipertimbangkan di masa mendatang yang saat ini masih diimport dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pulp serat panjang di Indonesia. Sumber benih unggul dari jenis tersebut perlu dipersiapkan sejak dini untuk mengetahui peningkatan genetik yang dihasilkan. Kombinasi uji provenan dan uji keturunan A.cunninghamii di Bondowoso, Jawa Timur adalah salah satu penelitian yang dibangun untuk menghasilkan benih A.cunninghamii yang berkualitas di masa yang akan datang. Plot ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap berblok (RCBD) dengan 28 famili, 4 pohon per plot dan 8 blok dengan jarak tanam 4 x 3 m. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada umur 5 dan 10 tahun rerata tinggi dan diameter pohon berturut-turut sebesar 5,47 m; 8,20 cm dan 16,05 m; 20,59 cm, rerata volume pohon/ha sebesar 8,02 m3/ha dan 74,52 m3/ha; riap volume pohon sebesar 1,60 m3/ha/tahun; 7,45 m3/ha/tahun. Pada umur 5 tahun berbeda nyata terhadap diameter batang, sedangkan pada umur 10 tahun menunjukkan perbedaan yang nyata antar provenan terhadap kedua sifat yang diukur. Pada umur 5 dan 10 tahun nilai heritabilitas famili dan individu tergolong sedang, h2f = 0,4 - 0,5 , h2i = 0,2 - 0,3 dan h2f = 0,40 - 0,47, h2i = 0,28 - 0,29 sedangkan heritabilitas di dalam famili (h2wf) sebesar 0,41 - 0,48. Korelasi genetik umur 5 dan 10 tahun cukup tinggi (rg=0,62; 0,82). Taksiran peningkatan genetik untuk tinggi pohon dan diameter batang dari hasil seleksi di dalam famili adalah sebesar 0,10% dan 0,07% pada umur 5 tahun serta 0,53% dan 1,01% pada umur 10 tahun.
Uji Coba Hibrid Morus khunpai dan M. indica Sebagai Pakan Ulat Sutera (Bombyx mory Linn.) Nurhaedah Muin; Heri Suryanto; Minarningsih
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.269 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp137-145

Abstract

Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu faktor penentu kontinuitas pemeliharaan ulat sutera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kecocokan hibrid jenis Morus khunpai dan jenis M.indica (hibrid KI) sebagai pakan ulat sutera yang dapat dilihat pada kualitas kokon dan serat sutera yang dihasilkan. Hibrid KI tersebut merupakan hasil persilangan terkendali dari induk betina M.khunpai dan induk jantan M.indica S-54. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Variabel yang diamati adalah persentase larva mengokon, persentase kokon normal, bobot kokon, bobot kulit kokon, ratio kulit kokon dan panjang serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kokon dan serat ulat sutera yang diberi pakan tanaman murbei hibrid jenis M.khunpai dan M.indica (hibrid KI) cenderung menunjukkan nilai lebih rendah dibanding murbei induk (M.khunpai, M.indica) dan kontrol (M.nigra) Kondisi ini menunjukkan bahwa kecocokan hibrid jenis M.khunpai dan M.indica (hibrid KI) sebagai pakan ulat sutera cenderung belum terlihat.
Uji antagonisme Trichoderma spp. terhadap Ganoderma sp. yang menyerang tanaman sengon secara in vitro Benyamin Dendang
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.025 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp147-156

Abstract

Ganodermasp.adalah cendawan patogen yang dapat menyebabkan penyakit busuk akar pada tanaman sengon (Falcataria mollucana). Ganodermasp. sulit dideteksi karena gejalanyamirip dengan gejala penyakit akar lainnya.Penelitian dilaksanakan di LaboratoriumFakultas Kehutanan IPByang bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan diameter koloni Ganodermasp. dan Trichodermaspp. dan mempelajari kemampuan Trichoderma spp.dalammenghambat pertumbuhan koloni isolat Ganodermasp. pada media PDA dan MEA secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter koloni isolat Ganodermasp. pada media PDA (7,09 mm/hari)lebih cepat daripada pertumbuhan pada media MEA (5,41 mm/hari).Laju pertumbuhan diameter koloni isolat Trichodermaspp. pada media PDA diperoleh nilai rata-rata secara berturut-turut yaitu T. viride(69,67 mm/hari), T. harzianum(56,49 mm/hari), dan T. pseudokoningii(42,04 mm/hari). Sedangkan pada media MEA diperoleh nilai rata-rata tertinggi dari pertumbuhan diameter koloni isolat berturut-turut untuk T. pseudokoningii(77,29 mm/hari), T. harzianum(66,50 mm/hari), dan T. viride(59,67 mm/hari). Persentase penghambatan Trichodermaspp.tertinggi ditunjukkan oleh T. harzianum(73,60%) dibandingkanT. pseudokoningii(59,76%), dan T. viride(46,47%).
Local perspectives on tenure rights and conflict in FMU Rinjani Barat, West Nusa Tenggara Province Cecep Handoko; Yumantoko
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.26 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp157-170

Abstract

Local perspectives on tenurial rights and conflict needs to be known in overcoming forest tenurial conflict thoroughly. Aiming at knowing this local perspective, study was conducted in FMU Rinjani Barat in 2013 at the villages of Senaru, Santong and Rempek, North Lombok District. Research activities included literatures review, and interview. Data were analyzed using CDA and multiple linier regression. Results indicated that there is need for rearrangement of forest rule and the propriety of the rule, improving forest management, and accommodation to various interests on forest land as well as resources. In high forest destruction condition, forest tenurial conflict resolution should be done in the context of sustainable management which was accompanied by an increase in communication, cooperation, alignment, and mentoring to community. Related to these efforts, law enforcement is needed for improving sustainability of management, and avoiding irregularities in implementation of forest management.
Karakteristik Pertumbuhan Cendana (Santalum album Linn.) Asal Populasi Pulau Sumba Sumardi; Hery Kurniawan; Misto
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.895 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp171-177

Abstract

Cendana (Santalum album Linn.) merupakan jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan adanya kandungan minyak atsiri pada kayu terasnya. Nilai ekonomi tinggi pada kayu cendana mendorong tindakan eksploitasi terhadap jenis tersebut. Eksploitasi tanpa diimbangi dengan upaya regenerasi berdampak pada penurunan populasi di alam yang mengakibatkan penurunan variasi genetik jenis tersebut. Penyelamatan materi genetik yang masih tersisa dapat dilakukan dengan konservasi Ex-Situ sekaligus digunakan sebagai populasi dasar untuk tujuan pemuliaan di masa mendatang. Pada tahun 2013, Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPK Kupang) telah membangun plot konservasi Ex-Situ cendana yang berasal dari populasi Pulau Sumba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan pengaruh faktor genetik terhadap karakteristik atau sifat pertumbuhan cendana dari populasi Pulau Sumba sampai dengan umur 6 bulan setelah penanaman. Rancangan penelitian disusun dengan rancangan Incomplete Block Design (IBD) yang terdiri dari 57 famili, single treeplot dan 5 blok sebagai ulangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman uji sampai dengan umur 6 bulan masing-masing sebesar 37,36 cm dan 3,88 mm. Taksiran nilai heritabilitas famili (h2f) untuk tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0,80 dan 0,55.
Kesesuaian Media Tabur, Sapih dan Naungan pada Semai Lada-Lada (Micromelum minutum Wight & Arn) sebagai Pakan Larva Papilio peranthus untuk Pembinaan Habitat Kupu-Kupu Heri Suryanto
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.783 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp179-184

Abstract

Kupu-kupu merupakan fauna khas di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung namun jumlahnya semakin lama semakin menurun. Upaya menjaga keberlangsungan ekosistem hutan terutama spesies kupu-kupu adalah dengan melaksanakan penanaman tumbuhan pakan larva (host plant) kupu-kupu. Salah satunya jenisnya adalah lada-lada (Micromelum minutum). Hal yang terpenting pada penanaman tanaman pakan adalah ketersediaan bibit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui media tabur, sapih dan naungan yang sesuai dengan lada-lada untuk produksi bibit yang optimal. Kegiatan ini dilakukan di persemaian dengan pengamatan pada perlakuan media tabur, media sapih dan naungan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Micromellum minutum dapat berkecambah dengan baik pada media pasir, tanah dan arang sekam padi maupun serbuk gergaji sedangkan media sapih dan naungan terbaik adalah campuran tanah, pupuk kandang dan sekam padi komposisi 1:1:1 dengan intensitas naungan 50%.
Variation among Populations and Correlation among Seedling Characters of White Jabon (Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser) under Drought and Water Logging Stress Dede J. Sudrajat; Iskandar Z. Siregar; Nurul Khumaida; Ulfah J. Siregar; Irdika Mansur
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1194.895 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2016.vol5iss1pp13-24

Abstract

Drought and water logging stress are the most critical environmental factors that affect tree seedling survival and growth in the field. In this study, 12 populations of white jabon (Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser) were evaluated to determine the genetic variability among populations and correlation among morphophysiological seedling characters under drought and water logging stresses. Two research units were carried out by the randomized complete design with 2 x 12 factorial arrangements, i.e. (1) drought stress (2 treatments) and population (12 populations), and (2) water logging stress (2 treatments) and population (12 populations). Results showed that the responses of seedling traits were varied among populations under drought and waterlogging stresses. White Jabon seedling has higher adaptation to water logging stress than to drought stress. Kampar and Gowa populations have better adaptation to water logging stress. In drought stress, Gowa population had better adaptation followed by Nusa Kambangan population. Seedling height, total biomass and proline content characters based on value of broad sense heritability and correlation among characters, could be considered as important indicators for improvement programs for drought tolerance, while in the water logging stress, height, total biomass, root length and leaf area could be considered as important indicators for improvement program of white Jabon for tolerance on waterlogged sites.

Page 6 of 20 | Total Record : 195