cover
Contact Name
Yusriadi
Contact Email
yusriadi@iainptk.ac.id
Phone
+6282155562873
Journal Mail Official
jurnalpkk@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.iainptk.ac.id/index.php/JPKK/about/editorialTeam
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman
ISSN : -     EISSN : 29870607     DOI : https://doi.org/10.24260
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman (JPKK) adalah open akses untuk peneliti, akademisi dan praktisi. Jurnal ini menyediakan wadah untuk menerbitkan hasil penelitian atau artikel review yang berkaitan dengan bidang pengajaran, pembelajaran, pengembangan kurikulum, lingkungan belajar, pendidikan guru, teknologi pendidikan, sosial budaya, studi masyarakat dan khazanah Islam. Di bawah penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, terbit tiga kali dalam setahun, sejak Desember 2022
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2025)" : 3 Documents clear
WARISAN TRADISI PERAWATAN BAYI DAN PANTANGAN IBU MENYUSUI PADA SUKU JAWA, BUGIS, DAN MADURA DI KALIMANTAN BARAT Silviani, Luluk
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i3.4814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik perawatan bayi dan pantangan ibu menyusui pada masyarakat suku Jawa, Bugis, dan Madura di Kalimantan Barat. Praktik ini merupakan bagian dari warisan budaya yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada tiga informan yang dipilih mewakili fenomena yang terjadi dan dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Jawa, Bugis, dan Madura memiliki praktik tradisional seperti memandikan bayi dengan air hangat, membedong (membungkus dengan kain), memijat dengan ramuan herbal, serta menjaga pantangan makanan bagi ibu menyusui. Pantangan yang umum ditemui meliputi larangan keluar rumah setelah magrib, larangan ibu menyusui mengonsumsi makanan pedas, amis, atau berminyak, serta larangan membawa bayi keluar rumah pada usia tertentu. Masyarakat Bugis cenderung memadukan perawatan tradisional dan modern, sedangkan masyarakat Jawa dan Madura lebih mempertahankan cara tradisional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi perawatan bayi memiliki nilai kultural yang penting, namun memerlukan edukasi agar selaras dengan prinsip kesehatan modern. This study aims to describe infant care practices and breastfeeding restrictions among Javanese, Bugis, and Madurese communities in West Kalimantan as part of cultural heritage that is still practiced today. The study employed a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with three purposively selected informants and analyzed using thematic analysis techniques. The findings reveal that these communities have traditional practices such as bathing babies in warm water, swaddling, massaging with herbal mixtures, and imposing dietary restrictions on breastfeeding mothers. Common prohibitions include not leaving the house after sunset, avoiding spicy, fishy, or oily foods for breastfeeding mothers, and restrictions on taking infants outside at certain ages. Bugis communities tend to combine traditional and modern care, while Javanese and Madurese communities mostly adhere to traditional methods. The study concludes that traditional infant care practices carry significant cultural values but require health education to align with modern healthcare principles.
Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan: Tinjauan Literatur Sistematis tentang Peluang, Masalah Etika, dan Implikasi Pedagogis Efendi, Zakaria; Hanim, Meysella Al Firdha; Santoso, Adi
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i3.5052

Abstract

Integrasi cepat Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang menuntut kajian kritis terkait nilai pedagogis, implikasi etis, dan transformasinya. Studi ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka PRISMA untuk menganalisis 15 artikel terindeks Scopus yang diterbitkan pada periode 2020–2025 dan diperoleh secara sistematis dari berbagai basis data akademik utama. Hasil studi mengidentifikasi tiga tema utama. Pertama, AI menawarkan peluang pedagogis yang signifikan melalui pembelajaran adaptif, umpan balik personal, dan otomatisasi asesmen yang secara kolektif meningkatkan keterlibatan mahasiswa serta mendukung praktik mengajar berbasis data. Kedua, literatur menyoroti tantangan etis berupa privasi data, bias algoritmik, dan kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan otomatis, sehingga menegaskan urgensi pembentukan kerangka etika dan regulasi yang kuat. Ketiga, implikasi pedagogis integrasi AI menuntut pengembangan literasi AI pada pendidik, perancangan ulang strategi pembelajaran, dan kesadaran kritis terhadap peran teknologi dalam membentuk praktik pendidikan. Sebagai respons atas fenomena tersebut, studi ini menegaskan perlunya model tata kelola AI dalam pendidikan yang berpusat pada manusia (human-centered governance model) dengan menempatkan nilai-nilai pedagogis, keadilan, dan otonomi guru sebagai fondasi utama. Implementasi model ini mencakup tiga strategi: (1) integrasi literasi etika-AI dalam kurikulum pendidikan guru agar mereka mampu menilai dan memandu penggunaan teknologi secara kritis; (2) kolaborasi lintas disiplin antara pendidik, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan panduan etik yang kontekstual; serta (3) penguatan riset empiris berbasis lokal untuk memastikan penerapan AI selaras dengan kebutuhan sosial, budaya, dan pendidikan di tingkat akar rumput. Dengan pendekatan ini, AI tidak hanya dipahami sebagai inovasi teknologi, melainkan juga sebagai instrumen reflektif untuk merumuskan ulang pedagogi, etika, dan tata kelola ekosistem pembelajaran digital yang berkeadilan dan berkelanjutan. The rapid integration of Artificial Intelligence (AI) into education presents both opportunities and challenges that demand critical examination of its pedagogical values, ethical implications, and transformative impact. This study employs a Systematic Literature Review (SLR) using the PRISMA framework to analyze fifteen Scopus-indexed articles published between 2020 and 2025, systematically retrieved from major academic databases. The findings identify three major themes. First, AI offers substantial pedagogical opportunities through adaptive learning, personalized feedback, and automated assessment, collectively enhancing student engagement and supporting data-driven teaching practices. Second, the literature highlights ethical challenges such as data privacy, algorithmic bias, and the lack of transparency in automated decision-making, emphasizing the urgency of establishing robust ethical frameworks and governance mechanisms. Third, the pedagogical implications of AI integration call for the development of AI literacy among educators, the redesign of learning strategies, and critical awareness of technology’s role in shaping educational practice. In response to these issues, this study argues for the establishment of a human-centered AI governance model in education, grounded in pedagogical values, equity, and teacher autonomy. The proposed solution involves three interrelated strategies: (1) integrating ethical-AI literacy into teacher education curricula to foster critical and responsible use of technology; (2) promoting cross-disciplinary collaboration among educators, technologists, and policymakers to develop contextually grounded ethical guidelines; and (3) strengthening empirical, locally grounded research to ensure AI implementation aligns with socio-cultural and educational realities. Through this framework, AI is not merely viewed as a technological innovation, but as a reflective instrument to reframe pedagogy, ethics, and governance toward a more just and sustainable digital learning ecosystem.
Landasan Onto-Epistemik Kesetaraan Gender Perspektif Filsafat Islam Kontemporer Qur’any, Fardiana Fikria; Fitriyanto, Andry
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i3.5124

Abstract

Penelitian ini memfokuskan pembahasan pada landasan ontologis dan epistemologis tentang konsep kesetaraan gender dalam perspektif Filsafat Islam Kontemporer. Pandangan filosof muslim pada tulisan ini mencakup pemikiran Murtadha Muthahhari dan pemikir muslim setelahnya seperti Mohsen Gharawiyan dan Hossein Ziai. Dengan menggunakan model studi literatur, pemaparan kajian ini dilakukan secara deskriptif-analitis. Pertama, penulis melakukan rumusan teoretis terkait dengan relasi yang saling memengaruhi antara ideologi, pandangan dunia, dan struktur berpikir dalam pandangan folosof muslim. Konsep inilah yang akan menjadi kerangka pemikiran pembahasan berikutnya. Kedua, penulis melakukan analisis terhadap perempuan dan perannya sebagai objek kajiannya. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa filsafat Islam memiliki struktur berpikir tersendiri yang melihat perempuan sebagai makhluk yang setara dari segi ontologis dan epistemologis. Hal tersebut dapat dilihat dari indikator (1) kesetaraan ontologis yang didasarkan pada kesamaan asal-usul metafisis dan hakikat kemanusiaan; (2) pengakuan terhadap agensi epistemik perempuan dalam kapasitas rasional, perolehan pengetahuan, dan kontribusi intelektual; (3) kesetaraan potensi dalam mencapai aktualisasi spiritual dan kesempurnaan moral. Akan tetapi ketika terikat dalam relasi kehidupan antara lak-laki dan perempuan perlu adanya penerapan nilai yang didasari oleh basis pengetahuan dan pandangan dunia tentang perempuan. Dengan kata lain, pembagian peran pada ranah sosial harus diambil berdasarkan kesepakatan laki-laki dan perempuan itu sendiri secara sadar. This study focuses on the ontological and epistemological foundations of the concept of gender equality from the perspective of contemporary Islamic philosophy. The philosophical views examined in this paper include the thought of Murtadha Muthahhari and subsequent Muslim thinkers such as Mohsen Gharawiyan and Hossein Ziai. By employing a literature study model, this research is presented through a descriptive-analytical approach. First, the author formulates a theoretical framework concerning the interrelated relationship between ideology, worldview, and the structure of thought within the perspectives of Muslim philosophers. This concept serves as the framework for the subsequent discussion. Second, the author analyzes women and their roles as the object of the study. The findings of this study indicate that Islamic philosophy possesses a distinctive intellectual structure that views women as equal beings from both ontological and epistemological perspectives. This can be observed through several indicators: (1) ontological equality based on the similarity of metaphysical origin and human essence; (2) recognition of women’s epistemic agency in terms of rational capacity, acquisition of knowledge, and intellectual contribution; and (3) equality of potential in achieving spiritual actualization and moral perfection However, within the context of relational life between men and women, it is necessary to apply values grounded in a knowledge base and a particular worldview concerning women. In other words, the distribution of roles in the social sphere should be determined based on the conscious agreement of both men and women themselves.

Page 1 of 1 | Total Record : 3