cover
Contact Name
Sarah Wassar
Contact Email
jurnalredominate@gmail.com
Phone
+6281314842590
Journal Mail Official
jurnalredominate@gmail.com
Editorial Address
STT Kerusso Indonesia Jl. Bambu Kuning Selatan RT 003 RW 004 Bekasi 17114
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27162877     DOI : https://doi.org/10.59947
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani, merupakan wadah publikasi ilmiah dari hasil penelitian Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani, serta diperuntukkan bagi semua dosen maupun peneliti, baik di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia maupun institusi lain yang memiliki bidang kajian yang sama. Jurnal Redominate menggunakan sistem double-blind review. Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal REDOMINATE adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologis sistematika 3. Kepemimpinan Kirsten 4. Pelayanan Kristiani 5. Pendidikan Kristiani 6. Konseling Kristen
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1: Juni 2021" : 6 Documents clear
Pentingnya Apologetika Menrut 1 Petrus 3:15 bagi Penginjilan Lucky Antonio
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.24

Abstract

Apologetics as a branch of Theology is based on the main purpose that is to bring people to maturity and spread the Gospel. Reading the Bible in a holistic way, apologetics has been executed since the very beginning of the world’s existance and apologetics was started by God Himself when He answered those who opposed Him. Appologetics has continued to the first church and up to now when proofing the truth of the Christian belief during evangelisation and even as an act of counselling. The connection between apologetics and evangelisation is quite close, as apologetics try to answer the questionings of the Chritian beliefs,which could be a direct act of evangelisation. Wilbur Smit wrote “a spoken or written accountability of what we are doing or the Truth we are believing”. Wilbur Smit believes that being accountable is part of our conviction. Very fundamental as an apologetic is that he should have a deep conviction and sanctifies Christ in his life. This is a key factor, because the presuppostion here is that the Jesus Christ is Lord of the thoughts of an apologetic. The apologetic arguments should be towards the Lordship of Jesus Christ and wisdom of God and founded on the fear of the Lord. Foolishnes of unbelief is not to be exposed for apologetic is as neutral as other human activity. Any apologetic argument should have the Truth of God as the presupposition. Abstrak Dasar pikir inilah apologetika sebagai cabang ilmu teologia mempunyai tujuan utamanya adalah mendewasakan umat dan memberitakan Injil. Mencermati Alkitab secara holistik, aplogetika sudah diterapkan sejak keberadaan dunia dan apologetika diawali oleh TUHAN sendiri dalam memberi jawaban kepada para penentang-Nya. Kegiatan apologetika terus berlanjut sampai pada gereja awal sampai sekarang ini sebagai kegiatan menyatakan kebenaran keyakinan Kristen seperti di dalam kegiatan penginjilan bahkan sampai kepada tindakan konseling. Relasi apologetika dan penginjilan mempunyai keterikatan yang erat. Keterikatan ini tampak dari jawaban atas pertanyaan iman Kristen (apa yang diyakini) yang adalah sebuah penginjilan secara langsung. Wilbur Smit menuliskan “suatu Pertanggungjawaban lisan atau suatu uraian lisan untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita telah lakukan atau kebenaran yang kita percayai”. Maksud Wilbur Smit adalah pertanggungjawaban adalah bagian dari apa yang diyakini. Sebuah hal yang mendasar yang harus diketahui seorang apologis adalah harus memiliki keyakinan penuh dan menguduskan Kristus di dalam hidupnya. Hal ini penting karena presuposisi Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam pikiran seorang apologis adalah dasar utama. Argumentasi apologis harus berpresuposisikan ke-Tuhanan Yesus Kristus dan bijaksana berdasarkan takut akan Tuhan. Kebodohan yang tidak percaya tidak dipertunjukkan, karena argumentasi apologetika tidak lebih netral dari pada aktivitas manusia yang lain. Dalam argumentasi apologetika harus berpresuposisikan kebenaran Allah.
Kecerdasan Spiritual sebagai Dasar Terbentuknya Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Kristen Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto; Andreas Fernando
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.20

Abstract

This study aims to describe the role of spiritual intelligence in increasing the professionalism of Christian Religious Education teachers. The professionalism of Christian Religious Education teachers plays an important role in the success of giving birth to students with Christ's character. Spiritual intelligence is the result of an intimate and intense relationship with God. Through this research, the author conveys that through spiritual intelligence, God actually speaks and guides teachers in living their professional lives and responsibilities. The indicators of spiritual intelligence presented in this study help to understand how spiritual intelligence actually works. The research method used is qualitative. Collecting data using the method of observation and literature study. The results of the study concluded that when a teacher has spiritual intelligence, the ability to understand the nature of oneself is created, able to understand God's will so that the spirit to move his life is the Holy Spirit. Thus his existence both body and soul (all thoughts and feelings) is directed to become a teacher similar to the Lord Jesus Christ. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan peranan kecerdasan spiritual dalam peningkatan profesionalitas guru pendidikan agama Kristen.  Profesionalitas pada guru PAK memegang berperan penting dalam keberhasilan melahirkan anak didik yang berkarakter Kristus. Kecerdasan spiritual merupakan hasil dari hubungan yang intim dan intens dengan Tuhan. Melalui penelitian ini penulis menyampaikan bahwa melalui kecerdasan spiritual, sejatinya Allah berbicara dan menuntun para guru dalam menjalani hidup dan tanggung jawab profesinya. Indikator-indikator kecerdasan spiritual yang dikemukakan dalam penelitian ini membantu memahami bagaimana sesungguhnya kecerdasan spiritual bekerja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Pengumpulan data menggu-nakan metode observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ketika seorang guru memiliki kecerdasan spiritual maka tercipta kemampuan memahami hakikat diri, mampu memahami kehendak Tuhan sehingga spirit untuk menggerakkan hidupnya adalah Roh Kudus. Dengan demikian keberadaan dirinya baik tubuh dan jiwa (segenap pikiran dan perasaan) terarah untuk menjadi guru yang serupa dengan Tuhan Yesus Kristus.
Tinjauan Teologis tentang Tarian dan Manfaatnya bagi Pertumbuhan Rohani Eunike Eunike
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.21

Abstract

Dance is strongly connected to life, freedom, salvation, restoration and victory over the enemies. The Bible uses the word dance for the first time in the verse when Miriam took her tambourine and led the Israelites in a victorious dance after they had been set free from the Egyptians, who chased them into the red sea. God gave them salvation, victory, deliverance, and life. Miriam’s dance was a respond and expression of victory over the enemies (Ex. 15:20). Dance or body movement is a language of communication equal to words, music, or other expressed art. For this reason, when a dance is communicating the word of God, for certain people or in certain situations then it could be called a prophetic dance. To be a dancer is a great calling. A calling to bring back what has been taken from heaven, a calling to love God more and more, a calling to make a new covenant between men and God. Prophetic dance is a way to serve God through dance. In this way a dancer is not an artist who chooses to be served rather than to serve. But the principle is when one is appointed to be a leader, the more is his responsibility to serve his brethrens. Every movement is a body language to communicate the messages. Within the context of dance, every movement should carry a message in a way that people would understand the meaning when they see the dance. Abstrak Tarian mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan kehidupan, kebebasan, keselamatan, pemulihan, dan kemenangan atas musuh-musuh. Alkitab menyebutkan kata tarian yang pertama di ayat tentang Miryam. Ketika dia mengambil tambourinenya dan memimpin orang Israel dalam sebuah tarian kemengangan setelah mereka dibebaskan dari orang-orang Mesir yang mengejar mereka di Laut Merah. Tuhan memberikan keselamatan, kemenangan, kebebasan, dan kehidupan. Tarian Miryam adalah respon dan ekspresi kemenangan atas musuh-musuh (Kel.15:20). Tarian atau gerakan tubuh adalah sebuah bahasa komunikasi sama seperti kata-kata, musik, atau kesenian yang dapat dilihat. Maka dari itu, ketika tarian sedang mengkomunikasikan Firman Tuhan untuk sebagian orang dan dalam situasi tertentu, inilah yang disebut profetik. Menjadi penari adalah sebuah panggilan yang sangat besar. Panggilan untuk mengembalikan apa yang pernah hilang dari Sorga, panggilan untuk mencintai Tuhan lebih dan lebih lagi, panggilan untuk membuat sebuah perjanjian yang baru antara umat manusia dengan Tuhan. Pelayanan tarian adalah cara melayani Tuhan melalui tarian. Artinya seorang penari bukanlah menjadi artis yang ingin untuk dilayani daripada melayani. Tetapi prinsip adalah semakin diangkat menjadi pemimpin, maka semakin besar tanggung jawab untuk melayani saudara-saudara. Setiap gerakan adalah bahasa tubuh yang mengkomunikasikan setiap pesan. Di dalam konteks tarian, setiap gerakan harus menyampaikan makna yang dapat dimengerti oleh orang yang melihatnya.
Makna ‘’Didiklah Orang Muda’’ menurut Amsal 22:6 dan Relevansinya bagi Gereja Immanuela Deru
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.22

Abstract

Education is very vital to improve the quality of human resource. Therefore moral and spiritual education is very important for men in order to change the mindset, character, and increasing intelligence. Jesus startyed his ministry educating or teaching (Matthew 4:23). Every one who heard his teaching and believed him always experiences a change of attitude from bad to good (the apostles, Zaccheus, Samaritan woman). The Lord Jesus understood very well that education consists of very important teachings for one’s life. Teaching the Word of God contributed to the growth of the faith of the early church. It even contributed to the growth in quantity (Acts 2:41-42). The first and major Education agent here is the family. Parents are the main teacher for their children. Not only family, but then there is the church for the believers. As one of the assignments of the church is teaching (didache). The church has to teach or educate the people according to the Bible. Christian education needs to have the basic understanding that God is the source of knowledge or the Truth.3 The most important purpose of a Christian education is helping the students to know God through Jesus Christ, through His Word. To be able to achieve this, we need to have educators who deeply know God, through Jesus Christ and have experienced spiritual renewal. Abstrak Pendidikan sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu pendidikan baik secara moral maupun keagamaan sangat penting bagi seseorang, agar dapat mengubah pola pikir, karakter, dan meningkatkan kecerdasan. Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia dengan mendidik atau mengajar (Matius 4:23). Setiap orang yang mendengar pengajaran-Nya dan mempercayai-Nya senantiasa mengalami suatu perubahan sikap, yaitu dari yang tidak baik menjadi baik (Para Rasul, Zakheus, Perempuan Samaria). Tuhan Yesus sangat memahami bahwa pendidikan berupa pengajaran sangat penting bagi kehidupan seseorang. Pertumbuhan jemaat mula-mula juga tidak lepas dari peranan pengajaran akan Firman Tuhan, sehingga jemaat mengalami pertumbuhan baik secara kualitas (iman) maupun kuantitas (jumlah) dengan pesat (Kis 2:41-42). Agen pendidikan yang terutama adalah keluarga. Orang tua adalah guru utama bagi para anak-anaknya. Tidak hanya keluarga, agen pendidikan lainnya bagi orang percaya adalah gereja. Salah satu tugas gereja adalah pengajaran (didache). Gereja harus memberikan pengajaran atau didikan yang benar secara Alkitabiah. Pendidikan atau pengajaran kristiani mempunyai pemahaman bahwa Allah adalah sumber pengetahuan dan kebenaran sejati.3 Maka tujuan tertinggi dari pendidikan atu pengajaran kristeaniadalah membantu peserta didik untuk belajar mengenal Allah di dalam Yesus Kristus melalui firman-Nya. Untuk mencapai tujuan itu, tentunya diperlukan pendidik yang sungguh-sungguh mengenal Allah di dalam Yesus Kristus dan mengalami pembaharuan secara spritual.
Relasi Pemberitaan Injil dengan Eskatologi menurut Matius 24:14 Indriati T jipto Purnomo
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.23

Abstract

Eschatology is a branch of Theology, focusing on what will happen in the last days of the world and human history, studying into a season that will take place in the future, that is a reality that the history of the world and all the human beings would finally reach a consumed end. This is actually a process that is progressing toward a-by-God-appointed-end. God with all His understanding has decided and determined since eternity. Speaking of the endtimes means the hope of those who believe, because at that time the glorious coming of Christ shall be fulfilled and the established Kingdom of God will be marked with the judgment seat for the living and the dead. In the beginning of Jesus’ministry He proclaimed repentance and the Kingdom of God (Matthew 4:17). Mark explained at the start of his ministry, John was imprisoned, Jesus appeared and proclaimed the Gospel, about ther Kingdom of God. He said: “The time is fulfilled, and the Kingdom of God is at hand; repent and believe in the Gospel.” (Mark 1:14-15) The purpose of proclaiming the Gospel is for those who hear it will repent and believe in the Gospel. Jesus clearly showed there is a relevance between sharing the Gospel and eschatology. Abstrak Eskatologi merupakan salah satu cabang ilmu teologi yang membahas tentang peristiwa-peristiwa terakhir dalam sejarah dunia dan manusia, mempelajari tentang suatu masa yang akan terjadi dimasa yang akan datang yaitu suatu kenyataan bahwa sejarah dunia beserta dengan segenap umat manusia akhirnya akan mencapai suatu titik konsumasi . Proses ini adalah proses sejarah yang sesungguhnya yang bergerak menuju suatu akhir yang telah ditentukan Tuhan. Allah dengan keputusan kebijaksanaan-Nya telah menentukan dan diputuskan oleh Allah sejak kekal. Berbicara tentang akhir zaman berarti berbicara tentang pengharapan orang percaya, karena pada waktu itu kedatangan Kristus yang dipenuhi dengan kemuliaan-Nya dan hadirnya Kerajaan Allah yang ditandai dengan adanya penghakiman bagi orang yang hidup dan yang mati. Pada awal pelayanan Yesus, Ia memberitakan tentang pertobatan dan Kerajaan Allah (Mat 4:17). Markus menjelaskan permulaan pelayanan Yesus ketika Yohanes Pembaptis ditangkap. Yesus tampil dan memberitakan Injil Allah tentang kerajaan Allah, kata-Nya waktunya “sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:14-15); Pemberitaan Injil bertujuan agar orang yang mendengar pemberitaan tersebut bertobat dan percaya kepada Injil. Yesus menunjukkan bahwa adanya relasi antara pemberitaan Injil dengan Eskatologi.
Studi Aplikatif tentang Kerendahan Hati dan Keteladanan Hamba Kristus pada Anggota Komsel Pradana, di GBI Stairway From Heaven, Bandung: Sebuah Refleksi atas Matius 11:29 Andri Budiman
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.45

Abstract

 With humility and example, servants of Christ will further build faith, provide a positive impact through exemplary repentance, both spiritually and morally, and further provide growth in faith, accompanied by examples for cell group members. Applying humility and the example of a servant of Christ can positively impact the cell group members where they are, both in society, the church, and the environment. That is why humility and the example of a servant of Christ are absolute things for every true believer, and this is a critical topic to discuss and apply. The research method used is a descriptive qualitative research method. From the research results, it was found that the application of humility and the example of servants of Christ is nothing new. Since the Old Testament, humility and being an example of a servant of God have been emphasized. In the New Testament, the Lord Jesus Christ, the Son of God and who became the Son of Man, always gives teaching, testimony, calls, and shows learning to His disciples with humility and a dignified example. In general, humility and the example of Christ can have a positive and more substantial impact than words alone. The authority and power of a servant of Christ who has humility and example is very relevant for the members of the cell group they teach or lead. AbstrakDengan kerendahan hati dan keteladanan hamba kristus akan lebih membangun iman, memberikan dampak positif melalui keteladanan dalam pertobatan, baik secara rohani maupun secara etika moral dan selanjutnya memberikan pertumbuhan iman yang disertai keteladanan bagi anggota kelompok sel. Penerapan kerendahan hati dan keteladana hamba kristus ini dapat membawa dampak yang positif bagi anggota kelompok sel dimana mereka berada, baik di kalangan masyarakat, gereja dan lingkungan. Itulah sebabnya, kerendahan hati dan keteladana hamba kristus menjadi hal yang mutlak bagi setiap orang percaya sejati dan hal ini menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas dan diterapkan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penerapan kerendahan hati dan keteladanan hamba kristus, sebenarnya bukan hal yang baru. Dari masa Perjanjian Lama sudah ditekankan untuk memiliki kerendahan hati dan keteladanan sebagai hamba Allah. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus Kristus yang adalah anak Allah dan yang menjadi Anak manusia selalu memberikan pengajaran, kesaksian dan memanggil serta menunjukan pembelajaran kepada murid-muridNya dengan penuh kerendahan hati dan keteladanan yang penuh wibawa. Pada umumnya kerendahan hati dan keteladanan bahwa kristus dapat membawa dampak yang positf dan lebih kuat dari pada perkataan semata. Wibawa dan kuasa sebagai hamba Kristus yang memiliki kerendahan hati dan keteladanan sangatlah berkaitan bagi angota kelompok sel yang diajar atau dipimpinya.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6