cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1: Desember 2022" : 6 Documents clear
Implementasi Doktrin Sola Gratia dalam Menuntaskan Amanat Agung Andreas Sese Sunarko
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.94

Abstract

The Great Commission is a command given by the Lord Jesus to His disciples before HE ascended to heaven and is now the duty of believers. This Great Commission is an urgent thing to do because it concerns the safety of human beings. The essence of the Great Commission is to deliver the news of salvation sourced from the Grace of Allah (Sola Gratia), which distinguishes it from other sources of salvation. Through this article, the author wants to convey the implementation of the doctrine of Sola Gratia in completing the Great Commission. The author uses a descriptive qualitative method with a research library approach that uses various sources, including books and journal articles related to this article. The author finally concludes that an effective way to complete the Great Commission is to convey the gospel, which is a gift of God (Sola Gratia) to man given through the atoning sacrifice of the Lord Jesus Christ, not by human effort alone.  AbstrakAmanat Agung adalah perintah yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-muridNya sebelum DIA naik ke sorga dan sekarang menjadi tugas orang- orang percaya. Amanat Agung ini merupakan hal yang urgent untuk dilakukan karena menyangkut keselamatan manusia. Essensi dari Amanat Agung adalah menyampaikan berita keselamatan yang bersumber pada Anugerah Allah (Sola Gratia), hal inilah yang menjadi pembeda dari sumber keselamatan lainnya. Melalui artikel ini penulis ingin menyampaikan implementasi doktrin Sola Gratia dalam menuntaskan Amanat Agung. Metode yang penulis gunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan library riset yang menggunakan berbagai sumber -sumber diantaranya buku-buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan artikel ini. Penulis akhirnya menemukan kesimpulan bahwa cara yang efektif untuk menuntaskan Amanat Agung itu adalah menyampaikan Injil yang merupakan anugerah Allah (Sola Grattia) bagi manusia yang di berikan lewat korban penebusan Tuhan Yesus Kristus, bukan karena usaha manusia semata.   
Makna kata “Sepadan” dalam Kejadian 2:18 sebagai Pedoman bagi Relasi Suami-Istri dalam Keluarga Kristen Agustina Pasang; Ronald Samuel Wuisan
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.81

Abstract

 Issues around men and women, husband and wife, are not something new because it has occurred since the fall of man into sin, as explained in Genesis 3; that is why it is important to understand the meaning of the word commensurate so that both men and woman, husband or the wife can place herself in carrying out her duties and functions in accordance with the mandate given by God. This study aims to find the meaning of “comparable” in Genesis 2:18 as a guide for conjugal relations in Christian families. In reviewing this topic, the research method used is qualitative research with a literature study approach and exegesis of the text of Genesis 2:18. Conclusion: being “equal” does not only depend on one particular person but requires the role of all aspects in it both as a husband (male), woman (wife) and children, so that it becomes a fully integrated family, especially in the context of a Christian family. AbstrakPersoalan di seputar laki-laki dan perempuan, suami dan istri bukanlah sesuatu yang baru karena telah terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa sebagaimana dijelaskan dalam Kejadian 3, itu sebabnya penting untuk memahami arti kata sepadan sehingga baik laki-laki atau perempuan, baik suami atau istri dapat menempatkan diri dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan amanat yang diberikan Tuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan makna kata “sepadan” dalam Kejadian 2:18 sebagai pedoman bagi relasi suami-istri dalam keluarga Kristen. Dalam mengkaji topik ini metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature dan terhadap teks Kejadian 2:18 dengan pendekatan eksegese dan eksposisi. Kesimpulan: menjadi “Sepadan” tidak hanya bergantung pada satu pribadi tertentu saja melainkan memerlukan peranan dari semua aspek yang ada di dalamnya baik sebagai seorang suami (laki-laki), perempuan (istri) dan anak-anak, sehingga menjadi satu keluarga yang utuh secara khusus dalam konteks sebagai keluarga Kristen. 
Strategi Pendidikan Kristiani dalam Mempresentasikan Injil bagi Anak Sekolah Minggu Prasekolah Bulanda Agata; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.99

Abstract

The world of children in preschool is when children are again in the phase of having fun and playing with the family and the outside environment. The preschool age, which is 3-6 years old, is when children enjoy playing while learning. This is a time when children need to be introduced to the education that begins with the knowledge of the truth of God's word from Sunday school activities and introduces them to basic education about the truth of the gospel from the Biblical story. The importance of this research is to cultivate spirituality early for children at preschool age; that is, since children are 3-6 years old, they need a good and correct spiritual life through preaching the gospel and presenting the gospel to children of preschool age. The need for Christian religious education for children at an early age where children need to be reached and introduced to the truth from God's word, to Christ, and children really need guidance from educators, whether they be Christian religious educators, Sunday school teachers or parents also need to play an important role in educating by introducing the truth of the stories in the Bible. Evangelism is one good strategy to reach children by presenting the gospel and the great message in preschool Sunday schools. The purpose of this writing is to find out that strategies in learning Christian religious education are very important for educators, especially for Sunday school teachers, to present the gospel and the great message for Sunday school children in ministry, bringing up creative ideas in teaching strategies. through Sunday school preschool.  Abstrak: Dunia anak-anak dimasa prasekolah merupakan masa di mana anak-anak lagi pada fase senang-senang dan bermain dengan lingkungan keluarga dan lingkungan luar. Diusia prasekolah yaitu umur 3-6 tahun ini adalah masa anak-anak senang dalam bermian sambil belajar. Masa ini adalah masa anak-anak perlu untuk dikenalkan akan pendidikan yang dimulai dar pengenalan akan kebenaran dari firman Tuhan dari kegiatan sekolah Minggu dan mengenalkan kepada mereka pendidikan dasar tentang kebenaran injil dari cerita Alkitab. Pentingnya penelitian ini adalah menumbuhkan kerohanian sejak dini bagi anak-anak diusia prasekolah yaitu sejak anak-anak berumur 3-6 tahun, mereka memerlukan kehidupan kerohanian yang baik dan benar melalui pemberitaan injil, mempresentasikan injil bagi anak-anak usia prasekolah. Perlunya pendidikan agama Kristen bagi anak-anak di usia dini di mana anak-anak itu perlu untuk dijangkau dan dikenalkan akan kebenaran dari firman Tuhan, kepada Kristus, dan anak sangat perlu pembinaan dari para pendidik entah itu pendidik agama Kristen, guru sekolah Minggu maupun orang tua juga perlu berperan penting untuk mendidik dengan mengenalkan akan kebenaran dari cerita yang ada didalam Alkitab. Penginjilan adalah salah satu strategi yang baik untuk dilakukan supaya bisa menjangkau anak-anak dengan mempresentasikan injil dan amanat agung disekolah Minggu prasekolah. Tujuan dari penulisan ini adalah mengetahui bahwa strategi dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen sangat penting untuk para pendidik terutama bagi guru sekolah Minggu untuk dapat mempresen-tasikan injil dan amanat agung bagi anak-anak sekolah Minggu dalam pelayanan, memunculkan akan ide-ide kreatif dalam strategi pengajaran melalui sekolah Minggu prasekolah. 
Putri Yefta, Korban Perang Sang Ayah: Menafsir Ulang Hakim-Hakim 11:29-40 Agustina Raplina Samosir
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.77

Abstract

The interpretation of Jephthah's vows is divided into two major views: pro-life (Jephthah did not sacrifice his daughter as a burnt sacrifice) and counter-life (Jephthah sacrificed his daughter as a burnt sacrifice). These two views have their own arguments. The interpretation of pro-life holds that Jehovah was so opposed to human sacrifice that Jephthah offered his daughter as a man of God in the Temple. On the contrary, the counterlife interpretation considers evidence primarily of the naming of Jephthah's daughter among the daughters of Israel that Jephthah offered his daughter as a burnt sacrifice. According to the author, many interpretations of pro-life ignore the evidence of the sacrifice of Jephthah's daughter. On the other hand, the interpretation of counterlife needs to look at other evidence in favor. The narrative interpretation of Judges 11:29-40 will show that Jephthah's innocent daughter was the victim of her father's war. This research aims to find that Jephthah offered his daughter as a burnt sacrifice because Jephthah had to be responsible for fulfilling his vows. Besides, there was no voice from heaven to prevent his daughter's sacrifice or offer a substitute. Jephthah's daughter fell victim to her father's war. From the beginning, Jephthah risked his entire home to become a victim of the postwar war. Jephthah offered his daughter a burnt sacrifice because Jephthah had to be responsible for fulfilling his vows. There was no voice from heaven to prevent his daughter's sacrifice or offer a substitute. AbstrakTafsiran atas nazar Yefta terbagi menjadi dua pandangan besar yakni prokehidupan (Yefta tidak mengorbankan anak perempuannya sebagai kurban bakaran) dan kontrakehidupan (Yefta mengorbankan anak perempuannya sebagai kurban bakaran). Dua pandangan ini memiliki argumentasi masing-masing. Tafsiran prokehidupan berpandangan bahwa Yahwe sangat menentang kurban manusia sehingga Yefta mempersembahkan anak perempuannya sebagai abdi Allah di Bait Suci. Sementara itu, tafsiran kontrakehidupan mempertimbangkan bukti terutama pengenangan nama anak perempuan Yefta di antara putri-putri Israel bahwa Yefta mempersembahkan anak perempuannya sebagai kurban bakaran. Menurut penulis, tafsiran prokehidupan banyak mengabaikan bukti pengurbanan anak perempuan Yefta. Di sisi lain, tafsiran kontrakehidupan perlu melihat bukti lain yang mendukung. Tafsir ulang atas Hakim-hakim 11:29-40 akan memperlihatkan bahwa anak perempuan Yefta yang tidak bersalah menjadi korban perang ayahnya. Sejak awal Yefta merisikokan seisi rumahnya untuk menjadi korban perang pascaperang. Yefta mempersembahkan anak perempuannya sebagai kurban bakaran sebab Yefta mesti bertanggung jawab untuk memenuhi nazarnya dan tidak ada suara dari surga yang mencegah pengurbanan anak perempuannya tersebut atau menawarkan kurban pengganti.  
Teologi Paulus tentang Pengharapan Hidup Kekal dalam Surat Titus Ayub Rusmanto; Yohanes Joko Saptono
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.79

Abstract

Artikel ini berangkat dari mencari Kitab Titus adalah surat yang ditulis Paulus kepada Titus yang dikategorikan dalam surat pastoral. Surat Titus ini pendek terdiri dari 3 pasal dan 46 ayat. aplikasipun membentangkan perilaku Kristen yang layak dan menegaskan bahwa perilaku Kristen harus didasarkan pada kebenaran Kristen. Penulis berfokus teologis tentang Paulus tentang masa kini abadi, masa yang akan datang dalam kitab Titus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif berusaha mendeskrepsikan serial kehidupan sebelumnya, masa kini yang akan datang dengan eksegesis yaitu dengan menjelaskan atau hermeneutik teks. Artikel ini bertujuan untuk meneliti terus hidup masa kini, masa akan datang yang terkandung dalam (Tit. 1:2; 2:13; 3:7).Paulus memberikan penuntun kepada orang Kristen untuk tetap mengharapkan penggenapan dari penghargaan yang diberikan kepada Allah yang Mahabesar dan kita Yesus Kristus” (Tit. 2:13). Orang-orang tidak percaya pada dasarnya masa kini telah menjalani kehidupan di zaman baru hidup di dalam Kristus dan eskatologi atau hidup kekal masa yang akan datang. 
Ekopedagogi sebagai Fungsi Praksis Imago Dei dalam Menjaga dan Merawat Lingkungan Agustin Soewitomo Putri
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.82

Abstract

The world is in a state of environmental crisis, disaster, and various problems that touch the interests of many people's lives. In this case, the Bible reveals that likeness to God is a form of responsibility to deal with this problem. In God's likeness, there is a mandate and responsibility for caring for nature to the next generation. One of the implementations that can be carried out is through eco-pedagogy. The world, which is entering the era of society 5.0, is pulling humanity forward in a technological development that cannot be avoided, and preserving the environment is a generational educational task that affects the comfort of the "home" where we live. Using the library research method, this article describes eco-pedagogy as the implementation of the task of being like God, which can be part of the answer to today's ecological problems.  AbstrakDunia ada dalam kondisi krisis lingkungan, bencana dan berbagai problematika yang menyentuh kepada kepentingan hidup orang banyak. Dalam hal ini Alkitab menguak tentang keserupaan dengan Allah menjadi wujud tanggung jawab untuk menghadapi persoalan tersebut. Di dalam keserupaan dengan Allah, dijumpai sebuah mandat dan tanggung jawab pemeliharaan alam kepada keturunan berikutnya dan salah satu pelaksanaan yang dapat dilaksanakan adalah melalui ekopedagogi. Dunia yang memasuki  Era society  5.0 ini menarik maju manusia dalam sebuah perkembangan tehnologi yang tidak dapat dihindarkan, dan pelestarian terhadap lingkungan menjadi tugas pendidikan generasi yang mempengaruhi kenyamanan “rumah” di mana kita tinggal. Dengan metode penelitian kepustakaan, artikel ini memaparkan ekopedagogi sebagai pelaksanaan tugas keserupaan dengan Allah yang mampu menjadi sebagian jawaban terhadap permasalah ekologi masa kini.

Page 1 of 1 | Total Record : 6