cover
Contact Name
Sanya Anda Lusiana
Contact Email
sanyalusiana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ejournal.gemkes@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padang Bulan II Kelurahan Hedam Distrik Heram, Jayapura, Papua
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Gema Kesehatan
ISSN : 20885083     EISSN : 26548100     DOI : https://doi.org/10.47539/gk.v15i1
Core Subject : Health,
Gema kesehatan is published by Poltekkes Kemenkes Jayapura twice a year. p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100. Kemdikbudristek has accredited the Gema Kesehatan journal to rank four from 2019 to 2023 based on the decree:164/E/KPT/2021. We believe that open-source knowledge is able to produce something more treasured, giving an advantage to researchers, policy-makers and society in general. By collaborating committedly with authors, reviewers and editors we guarantee that the academic community will be given free access to explore into a wealth of highest quality research. All articles are published under a Creative Commons license: Attribution 4.0 International (CC-BY-SA) http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/, indicative of the fact that authors retain the copyrights of their work and hence, can freely use, reuse and share their articles. Prademic also allows authors to post their work online to any academic repository any time they wish. Gema Kesehatan (GK) implements the PKP Preservation Network (PKP PN), as can be seen in the records of The Keepers Registry and Garuda
Articles 136 Documents
STUDI KUASI EKSPERIMENTAL: PENGARUH WHITE NOISE DALAM PIJAT BAYI TERHADAP KUALITAS TIDUR BAYI: THE EFFECT OF WHITE NOISE DURING INFANT MASSAGE ON INFANT SLEEP QUALITY: A QUASI-EXPERIMENTAL STUDY Hasna Hanifa; Noviyati Rahardjo Putri; Angesti Nugraheni; Luluk Fajria Maulina; Nurul Jannatu Wahidah
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.517

Abstract

Faktor untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak ditinjau dari kualitas tidur. Gangguan tidur banyak terjadi pada bayi usia 6-12 bulan yang menyebabkan kualitas tidur bermasalah. Salah satu terapi non-farmakologi dalam menangani masalah tidur bayi yaitu pijat bayi. Selain itu, sebagai upaya pendukung untuk menghidupkan suasana pijat yang tenang adalah dengan musik. White noise dapat membantu meningkatkan kualitas tidur bayi, sehingga dapat dikombinasikan dalam pijat bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh white noise dalam pijat bayi terhadap kualitas tidur bayi. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental dengan pre-post test control group design. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Sebanyak 60 bayi usia 6-12 bulan dibagi menjadi 2 kelompok, yakni 30 bayi kelompok intervensi diberikan white noise dalam pijat bayi dan 30 bayi kelompok kontrol hanya diberi pijat bayi. Sebelum dan sesudah intervensi data kualitas tidur bayi diukur dengan kuesioner BISQ (Brief Infant Sleep Questionnaire) dan dianalisis dengan uji Independent Sample T Test. Hasil analisis didapatkan p = 0,042 yang artinya white noise dalam pijat bayi berpengaruh terhadap kualitas tidur bayi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu white noise dapat digunakan sebagai terapi musik tambahan untuk meningkatkan kualitas tidur bayi. Kata kunci: Kualitas Tidur Bayi, Pijat Bayi, White Noise Factors supporting child growth and development can be assessed from the perspective of sleep quality. Sleep disturbances frequently occur in infants aged 6–12 months and may lead to poor sleep quality. One non-pharmacological therapy commonly used to address infant sleep problems is infant massage. In addition, a supportive approach to creating a calm massage environment is the use of musimusic can be used to create a calm and soothing atmosphere during massage sessions. White noise has been shown to help improve infant sleep quality and therefore can be combined with infant massage. This study aimed to determine the effect of white noise during infant massage on infant sleep quality. This study employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest control group. Total sampling was used as the sampling technique. A total of 60 infants aged 6–12 months were divided into two groups: 30 infants in the intervention group received white noise during infant massage, while 30 infants in the control group received infant massage only. Infant sleep quality was measured before and after the intervention using the Brief Infant Sleep Questionnaire (BISQ) and analyzed using the Independent Sample T-test. The results showed a p-value of 0.042, indicating that white noise during infant massage had a significant effect on infant sleep quality. In conclusion, white noise can be used as an additional music therapy to improve infant sleep quality. Keywords: Baby Massage, Infant Sleep Quality, White Noise  
KAITAN ASPEK SOSIODEMOGRAFI ORANG TUA DENGAN KEJADIAN EARLY CHILDHOOD CARIES (STUDI CROSS-SECTIONAL PADA RA/TK ARRISALAH KOTA PADANG): PARENTAL SOCIODEMOGRAPHIC FACTORS AND EARLY CHILDHOOD CARIES: A CROSS-SECTIONAL STUDY AT RA/TK ARRISALAH, PADANG CITY Arymbi Pujiastuty; Surma Adnan; Ulfah Ramadhani; Sukma Fatimah Azzahra
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.518

Abstract

Proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia pada kelompok usia 3-4 tahun sebesar 42.7% dan pada kelompok usia 5 tahun sebesar 56.8%. Prevalensi Early Childhood Caries (ECC) di Kota Padang pada anak usia 2-3 tahun masih tinggi yaitu 72.9%, dengan rata-rata pengalaman karies 3-4 gigi tiap anak. Perilaku orang tua mengabaikan kesehatan gigi dan mulut anak usia dini (dental neglect) berdampak semakin tingginya angka penyakit gigi dan mulut anak usia dini, salah satunya adalah Early Childhood Caries (ECC). Faktor sosiodemografi seperti pendidikan, pekerjaan, pendapatan, serta keikutsertaan dalam program jaminan kesehatan ditemukan mempunyai hubungan tidak langsung terhadap perilaku kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan faktor sosiodemografi orang tua dengan kejadian Early Childhood Caries (ECC). Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2025 dengan desain studi analitik dan pendekatan cross-sectional, Pengambilan sampel memakai teknik purpossive sampling sebanyak 54 anak usia dini  yang bersekolah di RA/TK Arrisalah Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Variabel Sosiodemografi diukur melalui kuesioner dan variabel ECC diukur dengan melakukan pemeriksaan intra oral anak usia dini memakai indeks def-t.  Data hasil penelitian dianalisa dengan uji Chi-Square. Hasil analisa ditemukan karakteristik sosiodemografi orang tua didominasi oleh pendidikan tinggi, pekerjaan dengan status sedang, pendapatan dengan kategori mampu dan memiliki jaminan kesehatan. Skor def-t anak usia dini rata-rata 6.81±4.794 dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan status jaminan kesehatan orang tua dengan status karies anak usia dini (P>0.05). Kata kunci: Anak Usia Dini, Early Childhood Caries (ECC), Orang Tua, Sosiodemografi The proportion of dental and oral health problems in Indonesia was 42.7% among children aged 3-4 years and 56.8% among children aged 5 years. The prevalence of Early Childhood Caries (ECC) among children aged 2-3 years in Padang City remains high at 72.9%, with an average caries experience of 3-4 teeth per child. Parental neglect of oral health care in early childhood (dental neglect) contributes to the increasing prevalemce of dental and oral diseases among young children, one of which is Early Childhood Caries (ECC). Sociodemographic factors such as education, occupation, income, and participation in health insurance programs have been reported to have an indirect association with health behavior. This study aimed to determine the relationship between parental sociodemographic factors and the incidence of  Early Childhood Caries (ECC). The study was conducted in February 2025 using an analytical study design with a cross-sectional approach. Sampling was carried out using a purposive sampling technique involving 54 children enrolled at RA/TK Arrisalah, Koto Tangah District, Padang City. Sociodemographic variables were measured using questionnaires, while ECC status was assessed through intraoral examinations using the def-t index. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that most parents had a high educational level, moderate employment status, sufficient income, and health insurance coverage. The mean def-t score among children was 6.81±4.794, and no significant relationship was found between parental education, occupation, income, and health insurance status with ECC status among children (P>0.05).   Keywords: Early Childhood, Early Childhood Caries (ECC), Parents, Sociodemograpic Factors  
DURASI PUASA PRAOPERATIF DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN PASCA OPERASI BEDAH ORTOPEDI: PREOPERATIVE FASTING DURATION AND POSTOPERATIVE SLEEP QUALITY IN ORTHOPEDIC SURGERY PATIENTS Anis Laela Megasari; Ika Subekti Wulandari
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.522

Abstract

Puasa praoperatif merupakan prosedur standar untuk mencegah aspirasi selama anestesi, namun durasi yang melebihi rekomendasi masih sering terjadi dan berpotensi menimbulkan dampak fisiologis maupun psikologis pada pasien. Kondisi ini diduga memengaruhi luaran pascaoperasi, termasuk kualitas tidur yang berperan penting dalam proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan durasi puasa praoperatif dengan kualitas tidur pascaoperasi pada pasien bedah ortopedi. Penelitian menggunakan desain deskriptif potong lintang dengan menggunakan purposive sampling. Total responden pada penelitian ini sebanyak 200 pasien dewasa yang menjalani operasi ortopedi elektif. Data durasi puasa makanan padat dan cairan dicatat sebelum induksi anestesi, sedangkan kualitas tidur dinilai menggunakan Richards–Campbell Sleep Questionnaire. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi chi square test. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien (82%) menjalani puasa lebih dari 6 jam. Rerata skor RCSQ adalah 37.22 yang menunjukkan kualitas tidur cenderung rendah. Proporsi kualitas tidur buruk secara signifikan lebih tinggi pada kelompok puasa >6 jam (92.7%) dibandingkan kelompok ≤6 jam (58.3%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara durasi puasa praoperatif dan kualitas tidur pascaoperasi (p = 0.003). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara durasi puasa praoperatif dan kualitas tidur pascaoperasi pada pasien bedah ortopedi, dimana durasi puasa yang lebih lama berkaitan dengan penurunan kualitas tidur setelah operasi. Kata kunci: Bedah Ortopedi, Kualitas Tidur, Pascaoperasi, Puasa Praoperatif Richards–Campbell Sleep Questionnaire Preoperative fasting is a standard procedure intended to prevent pulmonary aspiration during anesthesia. However, fasting durations exceeding recommended guidelines remain common and may lead to physiological and psychological consequences in patients. This condition may influence postoperative outcomes, including sleep quality, which plays an important role in the recovery process. This study aimed to analyze the association between preoperative fasting duration and postoperative sleep quality in patients undergoing orthopedic surgery. This study employed a descriptive cross-sectional design using purposive sampling. A total of 200 adult patients undergoing elective orthopedic surgery were included in the study. The duration of fasting for solid foods and clear fluids was recorded prior to anesthesia induction, while sleep quality was assessed using the Richards–Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ). Bivariate analysis was performed using the Chi-square test. The results showed that most patients (82%) fasted for more than 6 hours. The mean RCSQ score was 37.22, indicating generally poor sleep quality. The proportion of poor sleep quality was significantly higher in the group with fasting duration >6 hours (92.7%) compared to the group with fasting duration ≤6 hours (58.3%). The Chi-square test demonstrated a statistically significant association between preoperative fasting duration and postoperative sleep quality (p = 0.003). In conclusion, there was a significant association between preoperative fasting duration and postoperative sleep quality among orthopedic surgery patients, in which longer fasting duration was associated with poorer postoperative sleep quality. Keywords : Orthopedic Surgery, Postoperative, Preoperative Fasting, Richards–Campbell Sleep  Questionnaire, Sleep  quality  
PROFIL DASAR FUNGSI HATI DAN GINJAL PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT: BASELINE HEPATIC AND RENAL FUNCTION PROFILES IN CHILDREN WITH ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA Danny Meganingdyah Primartati; Noor Fadillah; Aulia Risqi Fatmariza; Fathul Hidayatul Hasanah; Aprilia Kusumaningrum; Rahmad Darmawan; Heka Mareta Nugraheni
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.524

Abstract

Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan keganasan tersering pada anak dan membutuhkan terapi intensif yang berpotensi menimbulkan komplikasi organ. Penilaian fungsi hati dan ginjal dasar pada saat diagnosis penting dilakukan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang aman sebelum inisiasi kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil fungsi hati dan ginjal dasar pada anak dengan LLA yang baru terdiagnosis. Penelitian ini menggunakan desain observasional potong lintang dan dilakukan di pusat rujukan hematologi-onkologi anak pada periode Juli 2024 hingga Januari 2025. Subjek penelitian adalah 40 anak berusia ≤18 tahun dengan diagnosis LLA yang belum mendapatkan terapi. Parameter fungsi hati yang dinilai meliputi aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT), dan albumin serum, sedangkan parameter fungsi ginjal meliputi blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin serum. Analisis statistik mencakup analisis deskriptif, uji perbandingan berdasarkan usia dan jenis kelamin, serta analisis korelasi antarparameter. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan AST dan ALT pada sebagian pasien dengan korelasi positif yang kuat (r = 0.707; p < 0.001), yang mencerminkan stres hepatoseluler dini. Kadar albumin relatif terjaga dan tidak berkorelasi bermakna dengan transaminase, menunjukkan fungsi sintetik hati yang masih baik. Parameter ginjal umumnya berada dalam batas normal, dengan korelasi positif bermakna antara BUN dan kreatinin (r = 0.314; p = 0.048), mengindikasikan variasi subklinis fungsi ekskresi ginjal. Tidak ditemukan perbedaan bermakna berdasarkan usia dan jenis kelamin, kecuali kreatinin yang dipengaruhi faktor fisiologis usia. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi fungsi hati dan ginjal dasar memiliki signifikansi klinis penting dalam penatalaksanaan awal LLA anak, meskipun kelainan yang ditemukan bersifat ringan dan subklinis. Kata kunci: Karakteristik Dasar, Leukemia Limfoblastik Akut, Onkologi Anak, Profil Ginjal, Profil Hati Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common childhood malignancy and requires intensive chemotherapy that may predispose patients to organ-related complications. Assessment of baseline hepatic and renal function at diagnosis is essential to support safe clinical decision-making prior to treatment initiation. This study aimed to describe baseline hepatic and renal function profiles in children with newly diagnosed ALL. A cross-sectional observational study was conducted at a tertiary pediatric hematology–oncology center between July 2024 and January 2025. Forty treatment-naive children aged ≤18 years with confirmed ALL were included. Baseline hepatic function parameters assessed included aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), and serum albumin, while renal function parameters included blood urea nitrogen (BUN) and serum creatinine. Statistical analyses comprised descriptive analysis, comparisons by on age and sex, and correlation analyses among laboratory parameters. Elevated AST and ALT levels were observed in a subset of patients, with a strong positive correlation between the two enzymes (r = 0.707; p < 0.001), indicating hepatocellular stress at diagnosis. Serum albumin levels were generally preserved and showed no significant correlation with transaminases, suggesting intact hepatic synthetic function despite elevated enzyme levels. Renal function parameters were largely within age-appropriate ranges, with a significant positive correlation between BUN and serum creatinine (r = 0.314; p = 0.048), reflecting subtle variations in renal excretory function without overt impairment. No significant differences in hepatic or renal parameters were observed according to age or sex, except for creatinine, which likely reflected physiological age-related variation. These findings suggest that mild hepatic and renal alterations may already be present at diagnosis in pediatric ALL. Systematic baseline evaluation of organ function, even when abnormalities appear subclinical, remains clinically important for treatment planning, monitoring strategies, and prevention of therapy-related complications. Keywords: Acute Lymphoblastic Leukemia, Baseline Characteristics, Hepatic Profile, Pediatric Oncology, Renal Profile
RISIKO LEPTOSPIROSIS PADA AKTIVITAS KERJA PETUGAS KEBERSIHAN DI KOTA SEMARANG: STUDI KUALITATIF: LEPTOSPIROSIS RISK IN THE WORK ACTIVITIES OF SANITATION WORKERS IN SEMARANG CITY: A QUALITATIVE STUDY Aerrosa Murenda Mayadilanuari; Meita Fransiska Dara Antindi; Aliya Rachma Tingka Pitatan; Adellia Retno Sulistyana; Crishtopher Arthur Fernando; Michael Benedict Sanjaya
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.525

Abstract

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok pekerja dengan paparan lingkungan berisiko tinggi seperti petugas kebersihan. Tingginya kasus leptospirosis di Kota Semarang menunjukkan adanya potensi risiko yang signifikan pada kelompok pekerja ini, terutama di wilayah yang sering banjir dan memiliki sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko leptospirosis berdasarkan kondisi lingkungan kerja, aktivitas kerja, pemahaman, persepsi risiko, perilaku pencegahan, serta dukungan yang diterima petugas kebersihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap tujuh petugas kebersihan, serta triangulasi sumber untuk meningkatkan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja didominasi oleh kondisi berisiko seperti genangan air, lingkungan lembap, drainase terbuka, dan keberadaan tikus, serta aktivitas kerja yang melibatkan kontak langsung dengan sampah basah dan air kotor yang dilakukan secara berulang. Penggunaan alat pelindung diri belum dilakukan secara konsisten, dan pemahaman responden mengenai leptospirosis masih terbatas meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko pekerjaan. Selain itu, keterbatasan edukasi kesehatan dan dukungan institusi turut memengaruhi upaya pencegahan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa petugas kebersihan memiliki risiko tinggi terhadap leptospirosis sehingga diperlukan penguatan edukasi kesehatan, peningkatan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, serta perbaikan sistem keselamatan dan kesehatan kerja sebagai upaya pencegahan yang berkelanjutan. Kata kunci: Kesehatan kerja, Leptospirosis, Petugas kebersihan, Studi kualitatif Leptospirosis is a zoonotic disease that remains a significant public health problem, particularly among workers exposed to high-risk environmental conditions, such as sanitation workers. The high incidence of leptospirosis in Semarang City indicates a substantial risk for this occupational group, especially in flood-prone areas with inadequate environmental sanitation. This study aimed to analyze the risk of leptospirosis based on working environmental conditions, work activities, knowledge, risk perception, preventive behavior, and institutional support among sanitation workers. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through field observations and in-depth interviews with seven sanitation workers. Source triangulation was applied to enhance data validity. The findings revealed that the working environment was dominated by high-risk conditions, including standing water, humid environments, open drainage systems, and the presence of rodents, as well as routine activities involving direct contact with wet waste and contaminated water. The use of personal protective equipment (PPE) was not consistently practiced, and respondents’ knowledge of leptospirosis remained limited despite their awareness of occupational health risks. In addition, limited health education and institutional support contributed to inadequate preventive practices. In conclusion, sanitation workers are at high risk of leptospirosis, highlighting the need for strengthened health education, improved compliance with PPE use, and enhanced occupational health and safety systems as sustainable preventive measures. Keywords: Leptospirosis, Occupational Health, Qualitative Study, Sanitation Workers
ANALISIS SEBARAN KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN WERU, KABUPATEN SUKOHARJO: GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM-BASED ANALYSIS OF DENGUE HEMORRHAGIC FEVER CASE DISTRIBUTION IN WERU SUBDISTRICT, SUKOHARJO REGENCY Nina Arifah; Sinta Novratilova; Wahyu Ratri Sukmaningsih
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.534

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit berbasis vektor yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan pola sebaran yang dipengaruhi faktor lingkungan dan kependudukan. Pendekatan analisis spasial skala mikro masih terbatas, sehingga diperlukan integrasi metode seperti autokorelasi, overlay, dan buffering untuk mendukung intervensi yang lebih tepat sasaran. Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, merupakan wilayah dengan kasus tertinggi pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran spasial kasus DBD serta hubungannya dengan kepadatan penduduk dan curah hujan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif autokorelasi dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis melalui pemetaan tematik, overlay, buffering, serta uji Bivariate Moran’s I dan Moran scatterplot menggunakan data sekunder tahun 2024 tingkat desa. Hasil menunjukkan bahwa hubungan spasial antara kepadatan penduduk dan curah hujan dengan kasus DBD bersifat lemah dan tidak membentuk klaster signifikan (Moran’s I mendekati nol dan negatif). Namun, terdapat konsentrasi kasus tinggi di Desa Tegalsari dan Karakan yang dipengaruhi faktor lingkungan lokal seperti drainase dan kedekatan spasial. Kesimpulan menunjukkan bahwa distribusi DBD lebih dipengaruhi oleh heterogenitas lingkungan mikro dibandingkan faktor makro, sehingga pengendalian perlu difokuskan pada intervensi berbasis mikro area di sekitar zona risiko. Kata kunci: Analisis Spasial, Curah Hujan, Demam Berdarah Dengue, Kepadatan Penduduk, Sistem Informasi Geografis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a vector-borne disease that remains a public health problem in Indonesia, with its distribution pattern influenced by environmental and demographic factors. Micro-scale spatial analysis approaches remain limited; therefore, the integrating of methods such as autocorrelation, overlay, and buffering is necessary to support more targeted interventions. Weru Subdistrict, Sukoharjo Regency, recorded the highest number of DHF cases in 2024. This study aimed to analyze the spatial distribution pattern of DHF cases and its relationship with population density and rainfall. The study employed a quantitative spatial autocorrelation approach using a Geographic Information System (GIS) framework, including thematic mapping, overlay, buffering, and Bivariate Moran’s I testing, and Moran scatterplot analysis based on village-level secondary data from 2024. The results showed that the spatial relationship between population density, rainfall, and DHF cases was weak and did not form significant clusters (Moran’s I values were colose to zero and negative). However, a high concentration of cases was identified in Tegalsari and Karakan Villages, which was influenced by local environmental factors such as drainage conditions and spatial proximity. In conclusion, the distribution of DHF was more strongly influenced by micro-environmental heterogeneity than by macro-level factors. Therefore, control strategies should focus on micro-area-based interventions in high-risk zones. Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, Geographic Information System, Population Density, Rainfall, Spatial Analysis