cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2010): Juli" : 7 Documents clear
KEMAMPUAN GENTENG PLASTIK BERGELOMBANG (CORRUGATED PLASTIC) SEBAGAI BIOFILTER PARTIKEL AMONIAK DAN BAHAN ORGANIK DI MEDIA BUDIDAYA DAN LIMBAH CAIR BUDIDAYA IKAN (Performance of Corrugated Plastic as Biofilter of Ammonia Particle and Organic Material) Muslim Muslim
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18705

Abstract

ABSTRAKPertumbuhan budidaya ikan dalam beberapa dekade ini berkembang sangat pesat, hal ini karena permintaan akan ikan meningkat. Meningkatnya kegiatan budidaya ikan selalu diiringi dengan meningkatnya limbah yang dihasilkan. Hal ini akan sangat cepat berpengaruh bila sistem budidaya yang dipakai adalah semi intesif atau intensif. Limbah tersebut harus segera dihilangkan atau dikurangi, karena akan berdampak pada ikan yang dibudidaya dan lingkungan seperti sungai dan laut. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui kemampuan genteng plastik bergelombang mengurangi limbah yang dihasilkan budidaya ikan yaitu Total Suspended Sediment (TSS), Suspended Sediment (SS), amoniak dan bahan organik (COD). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa air limbah budidaya ikan yang mengandung TSS, SS, amoniak dan bahan organik setelah dilewatkan dengan genteng plastik bergelombang konsentrasinya menurun dengan tingkat efisiensi pengurangan yang terjadi di dalam kolam ikan dan di luar kolam ikan adalah sebagai berikut: 74,51% dan 54,42% (TSS); 39,20% dan 49,12% (SS); 19,82% dan 14,2% (amoniak); dan 24,82% dan 22,47% (COD). Ternyata genteng plastik bergelombang mempunyai tingkat pengurangan (g/m3/hr) dan tingkat pengurangan spesifik (mg/m2/hr) terhadap kandungan amoniak lebih efektif bila dibandingkan dengan material lain seperti plastic rolls, scrub pads, pipa PVC dan lain sebagainya. ABSTRACTAquaculture has been developing rapidly during the last few decades; it is due to the increase of fish demand. Increasing aquaculture activities especially with semi-intensive and intensive system have significant effect on waste production, which has to be removed or to be reduced quickly because will effect on fish in rearing tank and environment when through away to environment such as river and sea. The objectives of this study were to know the capability of corrugated plastic to remove or to reduce wastes content produced by aquaculture activities, i.e, Total Suspended Sediment (TSS), Suspended Sediment (SS), ammonia and organic matter (COD). The result of the study showed that corrugated plastic effectively reduced TSS, SS, ammonia and COD both within rearing tank and in the outside of rearing tank with removal efficiency: 74.51% and 54.42% (TSS); 39.20% and 49.12% (SS); 19.82% and 14.2% (ammonia); and 24.82% and 22.47% (COD). When corrugated plastic is compared with other materials such as plastic rolls, scrub pads, PVC pipes etc, it is shown that corrugated plastic performed significantly higher removal rate (g/m3/d) and specific removal rate (mg/m2/d) to ammonia.
LIFE CYCLE ASSESSMENT PILIHAN PENGELOLAAN SAMPAH : STUDI KASUS WILAYAH KARTAMANTUL PROPINSI D.I. YOGYAKARTA (Life Cycle Assessment of Solid Waste Management Options : Case Study of the KARTAMANTUL Regions, Province of D.I.Yogyakarta) Made Gunamantba; Chafid Fandeli; Shalibuddin Djalal Tandjung; Sarto Sarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18706

Abstract

ABSTRAKBerbagai skenario sistem pengelolaan sampah telah dikembangkan dan dibandingkan untuk sampah yang dikelola di wilayah KARTAMANTUL dengan menggunakan metodologi life cycle assessment (LCA). Metode pengelolaan sampan yang dipertimbangkan dalam skenario adalah landfilling tanpa atau dengan pemungutan energi, insinerasi, gasifikasi, dan anaerobic digestion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai indikator dampak dalam menentukan pilihan sistem pengelolaan sampah yang paling sesuai dari aspek lingkungan. Jumlah sampah yang dikelola ditetapkan sebagai unit fungsi dari sistem yang diarnati. Life cycle inventory (LCI) dilakukan dengan melibatkan asumsi-asumsi pada masing-masing metode pengolahan dalam sistem pengelolaan sampah. Produksi energi dan inventori emisi dihitung dan diklasifikasikan ke dalam kategori dampak pemanasan global, asidifikasi, eutrofikasi, dan pembentukan oksidan fotokimia. Indikator kategori dampak dikuantifikasi dengan faktor ekuivalensi dari emisi yang sesuai untuk mengembangkan kinerja lingkungan dari masing-masing skenario. Pada sebagian besar kategori dampak gasifikasi langsung ditemukan sebagai metode pengelolaan yang paling layak, kecuali untuk kategori asidifikasi. Analisis sensitivitas telah digunakan untuk menguji perubahan hasil dalam berbagai variasi masukan tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil secara keseluruhan. Oleh karena itu, alternatif terbaik terhadap sistem pengelolaan yang ada saat ini dapat diidentifikasi. ABSTRACTVarious solid waste management (SWM) system scenarios were developed and compared for solid waste managed in  KARTAMANTUL region by using life cycle assessment (LCA) methodology. The solid waste management methods considered in the scenarios were landfilling without and with energy recovery, incineration, gasification, and  anaerobic digestion. The goal of the study was to assess indicators in determining the most suitable environmentally aspect of SWM system options. The functional unit of the study was the ammount of solid waste managed. The life cycle inventory analysis carried out by including the assumtions made for each processes in the SWM system. Energy production and inventory emissions were calculated and classified in to impact categories; global warming, acidification, eutrophication, and photochemical oxidant. Impact categories indicator were quantified with equivalence factors of relevan emissions to develope the environmental profiles of each scenario. In most of the categories, direct gasification was found to be the most feasible method, except the acidification. Sensitivity analysis has been used to test some of the assumptions used in the influence of variety input to the results but none have effect on the overall result. Therefore, the best alternative to the existing SWM can be identified. 
KAJIAN EROSI MARIN SEBAGAI PENYEBAB DEGRADASI KEPESISIRAN KOTA TERNATE (The Study of Marine Erosion as A Coastal Degradation in Ternate City) Adnan Sofyan; Sunarto Sunarto; Sudibiyakto Sudibiyakto; Latif Sahubawa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18707

Abstract

ABSTRAKErosi marin yang terjadi di Kota Ternate telah banyak menimbulkan kerugian terhadap masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah kepesisiran. Erosi marin juga menyebabkan luas hutan mangrove di beberapa desa yang terletak di pantai menjadi berkurang bahkan hilang. Perubahan garis pantai berupa pengurangan pantai karena erosi pantai yang bervariasi terutama pada hampir sebagian besar di sepanjang pantai bagian Barat dari Kota Ternate, seperti di pantai Gambesi, pantai Sasa, pantai Castela, pantai Rua, pantai Taduma, pantai Togafo, pantai Takome. Erosi marin yang terjadi di Kola Ternate dominan dipengaruhi oleh faktor angin, pasang surut, arus, dan gelombang. Gelombang yang bersifat destruktif umumnya memiliki sifat yang merusak, hal ini dapat terjadi karena sifat gelombang yang destruktif mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang sangat tinggi. Ini terutama terjadi pada musim Utara. ABSTRACT Marine erosion that occurred in Ternate City has a lot of harm to society, especially people who live in the coastal area. Marine erosion also causes extensive mangrove forests in some villages which are located on the shore is reduced and even disappeared. Shoreline changes was reduced due to marine erosion that vary primarily in most of the shore along the western part of  Ternate City, as Gambesi on the shore, shore Sasa,  shore Kastela, shore Rua, shore Taduma, shore Togafo, shore Takome.  Dominantfactor of marine erosion that occurred in Ternate City is influenced by wind, tide, current, and waves. Destructive waves generally have a destructive nature, this could happen because of the destructive nature of the wave height and velocity has a very high. This was especially true in northern season.
ALOKASI PENDAPATAN DARI JASA PENGURANGAN EMISI MELALUI PENCEGAHAN DEFORESTASI: SEBUAH TINJAUAN ALOKASI BENEFIT DAN KERANGKA HUKUM FISKAL (Alocation of Benefit from Emission Reduction Service Through Deforestation Avoided: An Overview of Benefit) Mamat Rahmat
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18708

Abstract

ABSTRAKDeforestasi menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 18% dari total emisi gas rumah kaca per tahun. REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forests Degradation) adalah mekanisme yang dikembangkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca akibat deforestasi dan degradasi hutan. Para pihak menginginkan agar REDD juga berperan dalam pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar hutan di negara berkembang. Masyarakat sekitar hutan merupakan salah satu pihak yang berhak untuk memperoleh alokasi dari pendapatan tersebut. Peraturan perundangan yang mengatur alokasi pendapatan dari REDD hingga saat ini belum tersedia. Paper ini mengemukakan gagasan mengenai proporsi alokasi pendapatan dari REDD. Upaya ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam menyusun peraturan perundangan yang diperlukan. Proporsi hipotetik alokasi pendapatan yang dikemukakan di sini diupayakan untuk mengakomodir para pihak, antara lain: pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat sekitar hutan. Proporsi hipotetik tersebut merupakan hasil tinjauan terhadap kerangka hukum fiskal yang tersedia dan azas alokasi benefit. ABSTRACTDeforestation contributed to green house gas emission until 18% of total emission per year. REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forests Degradation) is a mechanism developed for reducing green house gas emission from deforestation and forest degradation. Annex 1 countries insist Non Annex 1 countries (developing countries) to implement REDD as well as poverty eradication of local community. Local community is a considered stakeholder to get benefit from deforestation avoided service. On the other hand, the legal status of benefit allocation mechanism is unavailable. This paper contributed a hypothetical allocation to stakeholders. The stakeholders involve in this mechanism are: national government, local government and local community. The hypothetical proportion has been resulted by an overview of recent legal framework of fiscal and benefit allocation analysis.
KAJlAN EKONOMI PEMANFAATAN KAWASAN STADION KRIDOSONO SEBAGAI RUANG HIJAU KOTA YOGYAKARTA (Economic Study for Utilization of Kridosono Stadium Area as An Urban Green Space of Yogyakarta Municipality) Amiluhur Soeroso
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18709

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengukur kelayakan ekonomi taman kota Kridosono sebagai barang publik yang diharapkan secara langsung fokus pada kualitas lingkungan alam. Data digali dari wawancara terhadap penduduk Kota Yogyakarta. Kesediaan membayar (willingness to pay, WTP) terhadap model permintaan diestimasi dengan metode valuasi kontingensi yang selanjutnya digunakan untuk menghitung surplus konsumen. Hasil kajian mengindikasikan jika nilai manfaat ekonomi lahan Stadion Kridosono adalah berkisar US$ 27 juta (IDR 257 miliar) per tahun, melebihi dari harga pasamya sebesar US$ 7,8 juta or IDR 74 miliar. Dengan demikian, kajian ini memberikan pengetahuan kepada pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan untuk mengelola, pendanaan dan mengalokasikan sumberdaya. Pemanfaatan bagian lahan Stadion Kridosono sebagai taman kota akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan jika digunakan sebagai areal komersial. Harapan yang baik tergantung pada taman kota, karena akan membantu mengurangi gas rumah kaca seperti Karbon dioksida, Methana, Nitrogen oksida, Hidro-fluorokarbons, Perflurokarbon dan Sulfur heksafluorida yang dihasilkan kendaraan bermotor. ABSTRACTObjective of the study is measuring economy feasibility of Kridosono urban park as a public goods that expected directly addresses the issues of natural environmental quality. Data were obtained from interviews toward local resident of Yogyakarta municipality. Hereafter, willingness to pay (WTP) toward demand models were estimated by contingent valuation method (CVM) and used to derive total consumer surplus. The results indicate that economic value of Kridosono Stadium land is about US$ 27 million (IDR 257 billion) per annum, more than its market price i.e. amount US$ 7.8 million or IDR 74 billion. Thus, the study gives stakeholders knowledge of decision making for managing, funding and alocating resources. Utilization part of Kridosono Stadium land as urban park will give bigger benefit than it would be this for commercial interest. Auspicious is hanging on the urban park, because it will help eliminate greenhouse gases i.e. Carbon dioxide, Methane, Nitrous oxide, Hydro-fluorocarbons, Perflurocarbon and Sulfur hexafluoride which is produced by motor vehicle.
MASYARAKAT BADUY, HUTAN, DAN LINGKUNGAN (Baduy Community, Forest, and Environment) Gunggung Senoaji
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18710

Abstract

ABSTRAKMasyarakat Baduy merupakan masyarakat yang hidupnya mengasingkan diri di pedalaman Banten Selatan. Masyarakat Baduy terkenal sebagai masyarakat yang mampu mengelola hutan dan lingkungannyadengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi masyarakat Baduy dan lingkungan serta bagaimana mereka memanfaatkannya dengan arif dan bijaksana. Metode dasar yang digunakanadalah metode survey dengan beberapa teknik PRA. Penelitian dilakukan di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Propinsi Banten. Data yang dikumpulkan, baik data primer ataupun data sekunder, kemudian dianalisis dengan analisis dekriptif kualitatif dan kuantitatif. Luas wilayah Baduy adalah 5.101,8 hektar, terdiri dari areal budidaya seluas 2.570 hektar (50,4 %) dan areal perlindungan lingkungan seluas 2.532 hektar (49,6 %). Jumlah penduduknya sebanyak 11.172 jiwa (2.948 KK). Seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai petani padi kering (huma) dengan sistem perladangan berpindah yang diatur oleh adat. Areal perlindungan lingkungannya terdiri dari hutan lindungan kampung dan hutan tutupan yang mutlak hanya untuk kawasan perlindungan. Dalam pengelolaan lingkungannya, masyarakat Baduy berpegang pada aturan adat yang intinya adalah pengaturan tata ruang yang tegas untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. ABSTRACTBaduy community is people that lives in rural areas-in Banten Selatan  They are able to manage the forest and the environment well. This study aims to identify Baduy society and the environment and how they treat it with the wise and prudent. Basic method used is survey method with several techniques PRA. Research is done in Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak. Banten Province. Data was described qualitatively and quantitatively analyzed. The Baduy area is 5101.8 hectares, consists of the cultivation area of 2,570 hectares (50.4%) and the area environmental protection of 2532 hectares (49.6%). The population of 11,172 people (2,948 families). All the Baduy communities are farmers of dry rice (huma) with the shifting cultivation system. The area of environmental protection consists of hutan tutupan and hutan lindungan kampung. In the management of the environment, community Baduy hold on customary rules which regulate the management of protected areas and cultivation areas
KAJIAN FUNGSI EKOLOGI JALUR HIJAU JALAN SEBAGAI PENYANGGA LINGKUNGAN PADA TOL JAGORAWI (Study of the Ecological Function of Roadside Greenery as Environmental Buffer on Jagorawi Highway) Imawan Wahyu Hidayat
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 17, No 2 (2010): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18711

Abstract

ABSTRAKTujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi jalur hijau jalan Tol Jagorawi sebagai penyangga dan pendukung keamanan pengguna pada tiga fungsi utama, yaitu pereduksi polusi udara, peredam kebisingan, dan pembatas ruang. Studi lapangan dilaksanakan melalui tiga segmen pengamatan. Metode komparatif digunakan untuk mengukur kesesuaian dan ketepatan tanaman pada jalur hijau jalan Tol Jagorawi berdasarkan peraturan dan prinsip ilmu arsitektur lanskap. Hasil studi mengindikasikan bahwa pemilihan tanaman, struktur, pola, dan konfigurasinya tidak sesuai dan tidak tepat untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut. Jalur hijau jalan pada seluruh segmen mencapai tingkatan sedang: 44,26% (I); 47,54%-50,32% (II); 49,35%-50,74% (III) untuk pereduksi polusi udara, tingkatan buruk hingga baik: 32,67%-41,67% (I); 30,0% (II); 59,33%-69,67% (III) untuk peredam kebisingan, tingkatan sedang hingga baik: 56,00%-57,33% (I); 57,69%-58,85% (II); 62,83%-69,67% (Ill) untuk fungsi pembatas ruang, dan tingkatan sedang hingga baik: 56,00%-58,17% (I); 57,50%- 58,46% (II); 59,42% (III) untuk fungsi estetika. Studi ini merekomendasikan bahwa perencanaan jalur hijau jalan yang baik memerlukan pemilihan tanamanyang tepat berdasarkan struktur, performa,pola penanaman, dan konfigurasinya untuk mencapai keefektifan peranjalur hijau jalan sebagai penyangga lingkungan dan mendukung keamanan pada Tol Jagorawi. ABSTRACTThe objectives of this study were to evaluate roadside greenery in Jagorawi Highway as buffer and supporting factor of user safety in three major functions, such as air pollutant reduction, noise abatement, and space barrier. Fieldwork study was conducted to three segments of observation. The comparative method used to measure plants suitability and compatibility in roadside greenery of Jagorawi Highway according to the regulations and principles of landscape architecture science. The study results indicated that plants selection, structures, patterns, and configurations were not suitable and not compatible for supporting those functions. The roadside greenery at all segments achieved moderate grades: 44,26% (I); 47,54%-50,32% (II); 49,35%-50,74% (III) for air pollutant reduction, bad to good grades: 32,67%-41,67% (I); 30,0% (II); 59,33%-69,67% (III) for noise abatement, moderate to good grades: 56,00%-57,33% (I); 57,69%-58,85% (II); 62,83%-69,67% (III) for space barrier function, and moderate to good grades: 56,00%-58,17% (I); 57,50% -58,46% (II); 59,42% (III) for aesthetic function. This study was recommended that a good roadside greenery planning needs an appropriate plants selection based on structure, performance, planting pattern, and configuration to achieve the effectiveness of roadside greenery role as environment buffer and supporting the safety in Jagorawi Highway.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue