cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
EFEK POLIMORFISME GENA NITRIT OKSIDA SINTASE3(NOS3) TERHADAP KADAR NITRIT OKSIDA DAN TEKANAN DARAH PADA INDIVIDU TERPAPAR PLUMBUM (The Effect of Polymorphisms Gene Nitric Oxide Synthase3 (NOS3) to Nitric Oxide Level and Blood Pressure on Lead-exposed Men) Hernayanti Hernayanti; Sukarti Moeljopawiro; Ahmad Hamim Sadewa; Bambang Hariono; Subagus Wahyuono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 2 (2012): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18532

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efek polimorfisme gena nitrit oksida sintase3 terhadap kadar nitrit oks ida (NO) dan tekanan darah pada individu terpapar Plumbum. Metode penelitian menggunakan metode survai dengan rancangan kasus kontrol. Subjek kasus terdiri dari 30 orang pekerja bengkel mobil dan 30 orang subjek kontrol berasal dari pedesaan yang mewakili area yang tidak terpolusi Pb.Genotip individu ditentukan dengan metode PCR~RFLP. Parameter yang diukur adalah kadar NO, tekanan darah sistolik dan diastolik serta kadar Pb. Data dianalisis menggunakan uji t independent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% dari subjek kasus, terdeteksi sebagai individu pembawa polimorfisme gena NOS3 dengan genotip GA, sedangkan 60% dari subjek kasus dan subjek kontrol terdeteksi sebagai individu nonpolimorfisme gena NOS3 dengan genotip GG. Hasil uji t menunjukkan untuk parameter NO, tekanan sistolik, diastole serta Pb menunjukkan perbedaan yang sangat nyata an tara individu pembawa polimorfisme gena NOS3 dengan individu nonpolimorfisme. Kadar NO individu pembawa polimorfisme NOS3 lebih rendah dibandingkan individu nonpolimorfism. Sebaliknya kadar Pb, tekanan sistolik dan diastole individu pembawa polimorfisme gena NOS3 lebih tinggi dibandingkan individu nonpolimorfisme. Kesimpulan yang diperoleh adalah adanya polimorfisme gena NOS3 dan paparan Pb menyebabkan ketersediaan NO makin rendah dan meningkatkan kadar Pb, tekanan sistolik dan diastolik. Individu terpapar Pb pembawa polimorfisme gena NOS3 beresiko mengalami penyakit hipertensi yang lebih parah dibandingkan individu nonpolimorfisme terpapar Pb.ABSTRACTThe aim of  these research were to identify  the effect of polymorphisms gene NOS3 to nitric oxide level and blood pressure on lead-exposed men. The research used survey method and case control design. These cases of subject were 30 autorepair workers and 30 subject control from village as non polluted area.  The genotype of individu  investigated  by  Polimerase Chain Reaction (PCR)- Restriction Fragment Length Polymorphisms (RFLP). The main parameters were nitric oxide (NO), blood pressure systole, dyastole and blood lead level. The data were analyzed by t test independent. These result showed that 40 % of cases subject  were detected as  individual polymorphism of gene NOS3 with GA alel. In contrast 60 %  of cases subject and control subject were detected as non individual polymorphism with GG alel. Result t test for three parameters i.e. NO, systole, diastole blood pressure and lead showed highly significant difference (p=0) between individual polymorphism and non polymorphism.  These research can be concluded that polymorphism of gene NOS3 on lead-exposed men influence bioability of  NO, systole and diastole blood pressure. Blood lead level, systole and diastole of individual polymorphism  are  higher than individual polymorphism. The risk of hypertension are more seriously on polymorphisms lead-exposure worker than non polymorphisms.
EFEKTIVITAS PENGOPERASIAN INSTALASI PENGOLAH AIR LIMBAH (IPAL) PERUSAHAAN PERAIH SERTIFIKASI ISO 14001 DI KAWASAN SIMONGAN KOTA SEMARANG (The Effectivity of Waste Water Treatment Plan Operated by Industrial Companies Holding ISO 14001 Certificate) Zaenuri Zaenuri
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 2 (2012): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18533

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengoperasian instalasi pengolah air limbah (IPAL) perusahaan peraih sel1ifikasi ISO 14001 di Kawasan Simongan Kota Semarang. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-komparatif dan inferensial dengan menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan, pada perusahaan farmasi, rata-rata konsentrasi TSS, BOD, dan COD periode 1989-1998 (sebelum memperoleh ISO 14001) masing-masing sebesar 92,3229 mg/I, 45,5022 mg/I, dan 87,3691 mg/I, sedangkan rata-rata pH sebesar 7,2388. Parameter BOD dan COD memenuhi baku mutu, pH dalam interval baku mutu yang ditetapkan, sedangkan TSS berada di atas baku mutu.ABSTRACTThis research was intended to analyze the effectivity of  waste water treatment plan operated by industrial companies holding ISO 14001 certificates in Simongan Area of SemarangCity. The data were analyzed descriptively, comparatively and inferentially using t-tests. The analyses showed that prior to obtaining ISO 14001 certificate (1989-1998), the pharmaeutical company had its average concentrations of TSS, BOD, and COD of 92.3229, 45.5022 and 87.3691 mg/l respectively, with an average pH of 7.2388. These parameters of BOD and COD had already met the prevailing standard qualities, the TSS parameter was above the standard quality, and the pH was within the prevailing standard quality interval. After obtaining the ISO 14001 certificate (2005-2008), this pharmaeutical company was able to maintain all of the key parameters to meet the prevailing stadard qualities. In case of the galvanizing company prior to obtaining ISO 14001 certificate (1989-1998), its average concentrations of TSS and CN were 256.3469 and 0.25575 mg/l respectively (above the prevailing standard qualities), those for total Cr, C+6, Cu, Zn, Ni, and Pb were 0.0510, 0.0036, 0.236060, 0.7242, 0.01790 and 0.0286 mg/l respectively (still under the prevailing standard qualities), while the an average pH was within the standard quality interval. After obtaining ISO 14001 certificate (2006-2008), this galvanizing company was able to improve all of the key parameters to meet the prevailing stadard qualities. It was then inferred that the water treatments were operated effectively by the two ISO 14001 certificate achievers.
PENENTUAN KRITERIA NUTRIEN UNTUK PENILAIAN STATUS TROFIK PERAIRAN WADUK MRICA BANJARNEGARA, INDONESIA (Determination of nutrient criteria for assessing trophic status of Mrica Reservoir Banjarnegara, Indonesia) Agatha Sih Piranti; Sudarmadji Sudarmadji; Agus Maryono; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 2 (2012): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18534

Abstract

ABSTRAKSaat ini kriteria nutrien yang sering digunakan untuk penilaian status trofik suatu badan air di Indonesia adalah berdasarkan OEeD (1982), dan Mason (1991) yang merupakan hasil kajian status trofik danau dan waduk di wilayah empat musim (temperate). Kriteria tersebut bila digunakan untuk waduk di Indonesia sering tidak mencerminkan kondisi yang sebenamya karena ada perbedaan mekanisme terjadinya eutrofikasi di wilayah tropis dan temperate (Huszar et al., 2006). Tujuan peneiitian ini adalah mengkaji hubungan antara konsentrasi nutrien dengan biomassa algae sebagai dasar untuk menentukan kriteria nutrien yang tepat sebagai upaya penentuan kriteria trofik waduk di Indonesia. Metode peneiitian menggunakan survei dengan mengambil sampel air sebulan sekali selama 1 (satu) tahun mulai Maret 2009 -Februari 2010 di 11 (sebelas) lokasi di perairan Waduk Mrica Banjamegara. Variabel penelitian adalah Total Nitrogen (TN), Total Fosfat (TP), nitrat (NO]), ortofosfat (P04), ammonia ~), TN/TP, dan klorofil. Kesimpulan adalah kriteria TP untuk mencapai fase eutrofik pad a musim penghujan lebih tinggi (TP ~ 1,55 mg/I) dibandingkan musim kemarau (TP ~ 1,33). Pada musim penghujan maupun kemarau total nitrogen (TN) bukan merupakan nutrien pembatas. Nutrien (N dan P) yang tinggi (bahkan mencapai 10 kali iipat lebih tinggi dibandingkan kriteria nutrien dari wilayah temperate) tidak menirnbulkan blooming. Terjadinya blooming algae di Waduk Mrica disebabkan adanya operasional waduk dan didukung oieh kondisi iklim (cahaya dan suhu) yang tidak menjadi faktor pembatas pertumbuhan algae. Oleh karena itu, kriteria nutrien untuk danau di wilayah sub tropis tidak cocok bila digunakan untuk penilaian status trofik untuk waduk di Indonesia.ABSTRACTA nutrient criteria currently used for the assessment of trophic status of water bodies in Indonesia are based on OECD (1982), and Mason (1991) resulted from lakes and reservoirs’ trophic status study of temperate region. These criteria when used for reservoirs in Indonesia often did not reflect the actual conditions because there are differences in the mechanisms of eutrophication in tropical and temperate regions (Huszar et al., 2006). The purposes of this research  were to study the relationship between nutrient and algae biomass in order to determine nutrient criteria properly for assessing the trophic levels of reservoir waters in Indonesia.This research was conducted by surveys by taking samples of water once a month for 1 (one) year from March 2009 to February 2010 in eleven locations of Mrica reservoir. Research variables were total nitrogen (TN), total posfat (TP), nitrate (NO3), orthophosphate (PO4), ammonium (NH4), TN/TP, NO3/PO4 and chlorophyll. It can be concluded that The TP criteria of eutrophic phase during rainy season (TP > 1,55 mg/l) was higher than of dry season (TP > 1,33). During both rainy or dry season TN was not a limiting nutrient of algae growth even it was always needed. The very high nutrient (even ten-fold higher than in temperate region) not resulted in algae bloom. This might due to the process of electricity generating and flushing also the climate regimes (light and temperature) were not become a limiting factor for algae growth. Therefore, the nutrient criteria based on temperate region was not work properly if used for assessment of trophic status in Indonesia. 
IMPLEMENTASI DIMENSI LINGKUNGAN DALAM PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI PONDOK PESANTREN MODERN SELAMAT KENDAL (Implementation of Environmental Dimension Into Education for Sustainable Development at Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal) Sri Ngabekti; S. Djalal Tandjung; Wuryadi Wuryadi; R. Rijanta
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 19, No 2 (2012): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18535

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Implementasi Dimensi Lingkungan dalam Pendidikan untuk Pembangunan Berke1anjutan (PPB) di Pondok Pesantren. Setting penelitian: Pondok Pesantren Modem Selamat Kendal yang sudah ada motivasi dalam pengelolaan lingkungan fisik dan biologis. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif-induktif yang mengedepankan adanya interaksi dan observasi partisipatif dengan subjek yang diteliti, dan melakukan observasi, dan wawancara dengan komunitas pondok pesantren. Pemilihan sampel secara purposive, accidental, dan snow-ball sampling. Kondisi lingkungan fisik, biologis, dan sosial-budaya diobservasi secara mendalam. Hasil wawancara ditranskrip, kemudian disajikan secara deskriptif Data penelitian kualitatif berupa naratif, deskriptif, dokumen pribadi, catatan lapangan, dokumen pondok pesantren, foto, video-tapes, dan hasil rekarnan CCTV. Guna memperoteh validitas data, komponen analisis data yang dilakukan adalah pengelompokan data, refleksi, dan triangulasi. Hasil eksplorasi implementasi dimensi lingkungan daiam PPB di Pondok Pesantren Modem Selamat Kendal menemukan bahwa dimensi lingkungan fisik, bioiogis, dan sosial-budaya, telah diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh komunitas pondok. Implementasi ini juga didukung oleh faktor lain yakni kurikulum, proses pembeJajaran pengetahuan umum dan agama, serta faktor spiritual Pendirinya.ABSTRACTThe aim of the study was to explore the Implementation of the Environmental Dimension in Education for a Sustainable Development (EfSD) in Pondok Pesantren. The study setting: Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal which has been motivated  to manage the physical and biological environments. The type of the study was qualitative-inductive which set forth the participative interaction and observation with the study subject, and by observing and interviewing the pondok pesantren community. Samples were selected by using purposive, accidental and snow-ball sampling techniques. The phyiscal, biological and sociocultural environments were observed intensively. The result of the interviews were transcribed, and were  descriptive analysis. The qualitative data were collected in the form of narrative, descriptive, personal documents, field notes, school documents, photos, video tapes, and CCTV recordings.  To validate the data, the data were analyzed by grouping the data, the reflections and the triangulations.  The result showed that the phyiscal, biological and sociocultural environment dimensions have been implemented well in the daily life of all members of the school community. The implementation was also supported by other factors, i.e. the curriculum, learning process of the general knowledge and religion, as well as the spiritual factors of the Founders.
KAJIAN BENTUK DAN SENSITIVITAS RUMUS INDEKS PI, STORET, CCME UNTUK PENENTUAN STATUS MUTU PERAIRAN SUNGAI TROPIS DI INDONESIA (Assessment of the Forms and Sensitivity of the Index Formula PI, Storet, CCME for The Determination of Water Quality Status) Sri Puji Saraswati; Sunyoto Sunyoto; Bambang Agus Kironoto; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18536

Abstract

ABSTRAKMetode-metode Pollution Index (USA), metode Storet (USA) dan metode CCME (Canada) adalah metode indeks kualitas air (IKA) untuk penentuan status mutu air. Dua yang pertama banyak digunakan praktisi lingkungan di Indonesia karena dirujuk dalam Keputusan Menteri  Lingkungan Hidup No. 115/2013. Ketiganya dapat menghitung IKA dengan baku mutu kualitas air lokal sungai kajian. Mengingat negara penyusun metode tersebut  berbeda kondisi lingkungannya dan masing-masing metode mempunyai faktor spesifik untuk menghitung IKA, maka perlu dikaji kesesuaian masing-masing metode untuk diterapkan di sungai tropis Indonesia. Masing-masing metode akan dikaji bentuk persamaan dan  sensitivitasnya dengan menggunakan banyak parameter kualitas air dan menggunakan jumlah parameter kualitas air tertentu mengacu pada metode IKA yang dikembangkan di negara tropis lainnya. Kajian menggunakan data pemantauan “Prokasih” di sungai Gadjah Wong Yogyakarta tahun 1996/1997 - 2011/2012. Penelitian ini dilakukan dalam rangka menyusun metode IKA sungai tropis Indonesia pada umumnya dan di sungai Gadjah Wong khususnya serta program pengelolaan kualitas air untuk pengendalian pencemaran air sungai, dengan target konservasi air sungai yang multifungsi atau overall/general use(memenuhi kriteria kesehatan  air baku, memenuhi kriteria estetika serta kriteria ekologi/aman bagi kehidupan di perairan). Hasil kajian menunjukkan bahwa dibandingkan 2 metode lainnya, metode CCME dinilai paling obyektif (secara statistik) menghitung IKA perairan sungai Gadjah Wong. CCME paling sensitif merespon dinamika indeks mutu air di setiap lokasi pemantauan,  lebih universal untuk dapat diaplikasikan di luar negara penyusunnya. Namun untuk diaplikasikan di sungai Gadjah Wong, metode CCME perlu diadaptasi terhadap beberapa hal yaitu jumlah dan jenis parameter kualitas air yang dianggap signifikan, jumlah dan kelas mutu air. Adaptasi mempertimbangkan program pengendalian pencemaran air dan strategi operasional/manajemen aliran sungai yang ekologis dan berkelanjutan. Skor batas dan makna setiap kelas mutu air dalam IKA harus diverifikasi terhadap data lingkungan lain misal hasil biotilik ataupun bioassay sehingga status indeks kualitas air tidak bertentangan dengan kondisi biologi di sungai. Pelibatan parameter bakteriologi kualitas air (Escherichia Coli dan Total Coliform) serta Electric Conductivity/EC sebagai parameter kualitas air signifikan dalam metode IKA masih perlu dikaji lebih lanjut  untuk pengembangan metode IKA khas perairan sungai di negara tropis Indonesia. ABSTRACTPollution Index method (USA), Storet method (USA)  and CCME (Canada) method  are  water quality index (WQI) methods used to determine water quality status of a river, the first two are widely used by environmental practioners in Indonesia since it is referred  by Environmental Ministry Regulation No. 115/2003.  These methods can be used based on local water quality standard. Considering that the country of WQI methods were developed have different environmental condition and each method has its own characteristics to calculate the index,  it is necessary to review a suitable WQI method for Indonesia tropical stream in general and for Gadjah Wong stream in particular. This research reviewed the form of the formula of each index, then analyze  the sensitivity of each index by  using many water quality parameters with and without bacteriology, and reducing the number of water quality parameters similar to those WQI index developed in other tropical countries. Indexes are reviewed using “Prokasih” (Clean River Program) monitoring data at Gadjah Wong stream from 1996/1997 to 2011/2012. Water quality statuses are reviewed in the contex of river water quality management for water pollution prevention, with the target of river water conservation which is “multifunction” or “overall/generall use” to meet health criteria for raw water, aesthetical criteria and ecological safety for aquatic life. Research conclusion showed that compared to the other 2 methods, CCME is considered as the most objective (statistically) to determine water quality index for river waters. It is also the most sensitive to respond to the dynamic of water quality index at each monitoring location (spatial & temporal). This method is also considered as more universally applicable outside of the country it was developed. To be applied at Gadjah Wong stream however, CCME index method needs to be adapted on the number and types of significant water quality parameters. The number of quality status classes of CCME index should be limited to simplify water quality management as well as ecological and sustainability of operational & management strategy. Score limit of  every class and significance of water quality classes need to be verified againts other environmental data such as results from biomonitoring and bioassay, the status results of the water quality index should not contradict with the stream biological condition. The use of bacteriology (Escherichia Coli and Total Coliform) and Electrical Conductivity/EC water quality parameters as criteria should be further reviewed for development of WQI method specific for Indonesia tropical stream
PENURUNAN KADAR PROTEIN LIMBAH CAIR TAHU DENGAN PEMANFAATAN KARBON BAGASSE TERAKTIVASI (Protein Reduction of Tofu Wastewater Using Activated Carbon Bagasse) Candra Purnawan; Tri Martini; Shofiatul Afidah
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18537

Abstract

ABSTRAKPenurunan kadar protein limbah tahu telah dilakukan dengan pemanfaatan karbon Bagasse teraktivasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum dari karbon teraktivasi NaOH dan H2SO4 dalam menurunkan kadar protein limbah cair tahu dan mengetahui jenis isoterm adsorpsi dari karbon aktif yang digunakan untuk menyerap protein limbah cair tahu. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi NaOH yang optimum untuk aktivasi karbon aktif 15%, massa optimum karbon bagasse teraktivasi NaOH adalah 2 g dan penurunan kadar proteinnya 71,95%, sedangkan massa optimum karbon bagasse teraktivasi H2SO4 adalah 1 g dengan penurunan kadar protein sebesar 38,19%. Waktu kontak optimum karbon bagasse teraktivasi  NaOH dan H2SO4 adalah 12 jam. Adsorpsi protein oleh karbon bagasse teraktivasi NaOH mengikuti isoterm adsorpsi Langmuir dan Freundlich sedangkan karbon bagasse teraktivasi H2SO4 dominan mengikuti isoterm Freundlich. ABSTRACTThe protein reduction of tofu wastewater using activated carbon from bagasse  had been conducted. The purposes of this research were to analysis optimum condition of activated carbon bagsse using NaOH and H2SO4 for reduction protein in tofu wastewater, and analysis adsorption isotherm of activated carbon with protein. The result showed that optimum mass of carbon bagasse activated NaOH was  2 g with 71.95% protein reduction, while carbon bagasse activated H2SO4 has 1 g with 38.19% protein reduction. The optimum contact time between protein and activated carbon (with NaOH and H2SO4) was happened in 12 hours. Adsorption protein with carbon bagasse activated NaOH had followed Langmuir and Freundlich adsorption isotherm, while adsorption with carbon bagasse activated H2SO4 dominantlyhad followed Freundlich adsorption isotherm
KANDUNGAN KADMIUM (Cd) PADA TANAH DAN CACING TANAH DI TPAS PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Cadmium (Cd) Content in Soil and Earthworms in Piyungan Controlled Landfill Municipal Waste Disposal, Bantul Yogyakarta Special District) Heny Mayasari Setyoningrum; Suwarno Hadisusanto; Tukidal Yunianto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18538

Abstract

ABSTRAKAnalisis kandungan logam berat cadmium (Cd) pada tanah dan cacing tanah telah dilakukan di TPAS Piyungan Bantul untuk mengetahui tingkat pencemaran Cd dalam tanah. Penelitian dibagi menjadi penelitian di lapangan yang meliputi pengambilan sampel tanah-cacing tanah dan pengukuran parameter lingkungan, serta penelitian di laboratorium yang meliputi analisis kandungan kadmium, bahan organik dan tekstur tanah. Tingkat pencemaran kadmium ditentukan menggunakan Indeks Kontaminasi-Polusi. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan kadmium pada tanah di TPAS Piyungan antara tidak terdeteksi (< 0.01) – 0.47 ppm. Kandungan kadmium di TPAS Piyungan lebih rendah dibandingkan jumlah maksimum kadmium yang diperbolehkan di tanah dan khusus untuk zona III dan zona I titik sampling 1 dan 2 lebih tinggi dari standar kandungan kadmium pada tanah yang bebas polusi, sedangkan kandungan kadmium pada tanah kontrol lebih rendah dibandingkan kandungan kadmium secara umum pada tanah bebas polusi tersebut. Kandungan kadmium dalam tanah di lokasi TPAS tidak selalu lebih tinggi bila dibanding kontrol. Cacing tanah mengandung kadmium antara 0.35 – 0.45 ppm, kandungan kadmium dalam cacing tanah di beberapa lokasi TPAS lebih rendah dibanding kontrol. Tingkat pencemaran kadmium di TPAS Piyungan berada pada tingkat kontaminasi sangat ringan hingga kontaminasi sangat berat. Lokasi TPAS yang masih aktif digunakan memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi bila dibanding lokasi lain. Rasio kadmium pada tanah dan cacing tanah di TPAS Piyungan adalah 0.13 : 1.75. ABSTRACTCadmium (Cd) analysis has been done at Piyungan TPAS (Piyungan TPAS, stands for Tempat Pembuangan Akhir Sampah) for knowing the level of Cd contamination insoil. The research was divided into in-sites study, which consisted of soil and earthworms sampling, and soil environmental factors measurement, and laboratory analysis, which consisted of cadmium content, organic compounds and soil textures analysis. Cadmium pollution level analyzed with Contamination-Pollution Index. The results showed that cadmium content in soil were undetected (<0.01) – 0.47 ppm, it had lower content than maximum cadmium content allowed in soil. Especially for zone III and zone I sampling point 1 and 2, they had higher soil cadmium content than cadmium content standard for unpolluted soil, and for control areas, they had lower cadmium content than maximum cadmium content allowed in soil. The cadmium content inPiyungan TPASsoilwere not alwayshigher than control sites. Earthworms contained 0.35 – 0.45 ppm of cadmium and in several Piyungan TPAS’s zones contained less cadmium thancontrol sites. Cadmium pollution level were ranged from very slight contamination to very severe contamination. The active area of Piyungan TPAS had a worse cadmium contamination than other area. Cadmium ratio in soil and in earthworms were 0.13 : 1.75.
PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN MELALUI EVALUASI PROGRAM KONVERSI MINYAK TANAH KE LPG DI PULAU GILI RAJA-SUMENEP (Developing Renewable Energy Through An Evaluation for A Program of Kerosene Conversion to LPG in Gili Raja Island - Sumenep) Nian Riawati; Anggraeni RR. E. W. Eksi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18539

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengevaluasi program konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada kelompok sasaran di pulau Gili Raja kabupaten Sumenep Jawa Timur. Kajian sebelumnya terhadap program ini masih bersifat formatif dengan fokus efisiensi dan efektivitas implementasi. Dengan menggunakan metode Minimum Evaluation Procedure (MEP) penelitian ini mempertanyakan implementasi program secara runtut, mulai output, outcome sampai impact. Melalui pendekatan kualitatif penelitian ini dapat mendeskripsikan konteks dan setting secara alamiah. Hasil penelitian menunjukkan adanya pungutan dalam proses distribusi paket program, rendahnya akses atau penggunaan paket program serta tidak adanya dampak program. Selain itu, ditemukan adanya potensi lokal berupa kotoran ternak yang dapat dikembangkan menjadi sumber daya energi terbarukan. Berdasarkan hal itu, disarankan sebuah program dapat dikembangkan secara asimetris sesuai dengan kondisi lokasi dan kelompok sasaran, terjadinya komunikasi intensif antara pelaksana program dengan kelompok sasaran serta stakeholders lainnya. Berdasarkan potensi kelompok sasaran di pulau Gili Raja, hendaknya dikembangkan kebijakan energi alternatif biogas untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat serta mendukung pencapaian tujuan kebijakan energi nasional. ABSTRACTThe purpose of this research is to evaluate the conversion programfrom kerosene to Liquefied Petroleum Gas (LPG) on a target group in Gili Raja island of SumenepMunicipal, East Java. Previous study on this program was quite formative one and focusing on the efficiency and the effectiveness of the program implementation. In addition, by applying Minimum Evaluation Procedure’s (MEP) method, this research questioned the implementation of the program consecutively from the output, the outcome as well as the impact. Furthermore, through a qualitative approach, this research will be able to describe context and setting naturally. Result of the research shows that there is illegal fees (levies) in the process of distributing the program package, also the limited access or the low utilization of the program package, as well as the non-existing evidence of the program’s impact. Furthermore, it is found a local potential in the form of renewable energy that is generated from livestock’s feces. Hence, it is recommended to establish a program, asymmetrically, in accordance with the local condition and the target group that ensures the occurrence of an intensive communication amongst program implementer, target group, and other stakeholders. Moreover, based on the potency of the target group of Gili Raja, an alternative policy on renewable energy should be developed in order to fulfill the need of energy for Gili Raja’s people, as well as to support the achievement of the National energy policy.
LIFE CYCLE COSTING DAN EKSTERNALITAS BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT DAN MINYAK ALGA DI INDONESIA (Life Cycle Costing and Externities of Palm and Algal Biodiesel in Indonesia) Arif Dwi Santoso; Sudaryono Sudaryono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18540

Abstract

ABSTRAKBiaya produksi biodiesel menjadi salah satu hambatan program konversi bahan bakar minyak ke biodiesel negara-negara termasuk Indonesia dalam upaya mengantipasi terjadinya krisis energi. Salah satu penyebab biaya produksi yang tinggi adalah karena variabel biaya produksi yang diperbandingkan selama ini belum sepenuhnya mencerminkan keseluruhan potensi yang terkandung dalam biodiesel. Potensi biodiesel yang tergolong ke dalam komoditas lingkungan seperti sifat terbarukan, rendah dalam penggunaan lahan, dan ramah lingkungan perlu dimasukkan dalam perhitungan agar mendapatkan perbandingan perhitungan yang obyektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan komoditas lingkungan pada stuktur biaya produksi biodiesel dari minyak sawit dan minyak alga. Nilai komoditas lingkungan diperkirakan dengan metode metode benefit transfer dan untuk memperlihatkan nilai keuntungan digunakan pendekatan willing to pay (WTP). Nilai-nilai komoditas lingkungan diacu dari hasil perhitungan perangkat lunak Environmental Priority Strategy (EPS) versi 2000. Untuk kasus Indonesia, nilai komoditas lingkungan EPS diinferensi dengan elastisitas berdasarkan dari perbandingan nilai pendapatan per kapita negara Swedia dan Indonesia. Hasil penelitian menyatakan bahwa analisis life cycle costing (LCC) yang diaplikasikan dengan menambahkan variabel eksternalitas dapat memberikan informasi yang detil tentang komposisi biaya produksi biodiesel dan dapat digunakan sebagai metode untuk mendapatkan gambaran total biaya produksi yang paling kompetitif dari beberapa sumber.  Analisis juga menyimpulkan bahwa variabel eksternalitas turut mempengaruhi kenaikan total biaya produksi biodiesel hingga 14%. Hasil analisis profitabilitas menyatakan bahwa pasokan biomasa alga untuk produksi biodiesel lebih terjamin dan berkelanjutan dibandingkan biomasa sawit karena kendala teknis dan non teknis pada produksi biomasa alga lebih mudah diatasi selain itu juga keunggulan perannya dalam mitigasi GRK yang turut memperbesar peluang sebagai bahan utama biodiesel di masa depan. ABSTRACTThe high cost of biodiesel production was to be an obstacle conversion to biodiesel fuel including Indonesia due to anticipate the energy crisis. The high cost of production due to the variable cost of production has not fully comparable reflect the overall potential contained in biodiesel. Potential biodiesel belonging to the commodity nature of the environment such as renewable biomass, low in land use, and environmentally friendly should be included in the calculation in order to obtain an objective comparison of the calculations.This study aimed to evaluate the effect of adding commodities to the structure of the production cost of biodiesel between palm oil and algal oil. Estimated value of the commodity by the method of benefit transfer method shows the value used is the approach gains willingness to pay (WTP). Environmental commodity values referenced from the calculation software Environmental Priority Strategy (EPS) version 2000. For the case of Indonesia, the commodity value of the elasticity was infered EPS basis of comparison of income per capita of Sweden and Indonesia.The results stated that the analysis of life cycle costing (LCC) applied by adding variable externalities can provide detailed information about the composition of biodiesel production costs and can be used as a method to get a total picture of the most competitive production costs from several sources. The analysis also concluded that the externality variables also affect the total cost of biodiesel production by up to 14%. Profitability analysis stated that the algal biomass for biodiesel production more secure and sustainable than palm biomass due to technical and non-technical constraints on the production of algal biomass more easier to treat but it also advantages role in GHG mitigation that helped widen the opportunities as the main ingredient of biodiesel in the futur 
HUBUNGAN KEDEKATAN EKOLOGIS ANTARA FAUNA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK TANAH GAMBUT YANG DIDRAINASE UNTUK HTI Acacia crassicarpa (Ecological Proximity Relationship Between Soil Fauna and The Characteristics of Drained Peatland for Industrial Plantation) Yunita Lisnawati; Haryono Suprijo; Erny Poedjirahajoe; Musyafa Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 2 (2014): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18541

Abstract

ABSTRAKPengelolaan lahan gambut untuk pengembangan HTI Acacia crassicarpa diawali dengan pembuatan saluran drainase dan pembukaan lahan (land clearing) yang kemudian dilanjutkan dengan penyiapan lahan untuk penanaman, sedangkan kegiatan pemeliharaan meliputi pemberantasan gulma dengan menggunakan herbisida dan pemupukan. Kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan tentunya mempunyai dampak bagi kondisi ekologis lahan gambut. Perubahan kondisi ekologis terjadi karena perubahan lahan yang selanjutnya berpengaruh terhadap kelimpahan dan keragaman fauna tanah.Kelimpahan dan keragaman fauna tanah serta fungsi ekosistem menunjukkan hubungan yang sangat kompleks dan belum banyak diketahui dengan pasti. Kecenderungan fauna tanah untuk memilih suatu habitat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kedekatan ekologis antara karakteristik tanah gambut yang didrainase untuk HTI A. crassicarpa dengan kelimpahan fauna tanahnya. Penelitian dilakukan di HTI lahan gambut  PT. Arara Abadi, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau.  Pengambilan sampel fauna tanah dengan metode pencuplikan contoh tanah yang berukuran 25 x 25 x 25 cm3, pemisahan fauna tanah dengan tanah dilakukan dengan menggunakan modifikasi corong barlese.  Parameter yang diamati adalah kelimpahan dan keragaman fauna tanah, kematangan gambut (C/N), kadar air gambut, dan kedalaman muka air tanah gambut. Untuk menilai kedekatan ekologis digunakan analisis hirarki.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fauna tanah tertinggi terdapat pada tegakan A. crassicarpa umur 2 tahun. Keragaman jenis fauna tanah di lokasi penelitian termasuk melimpah sedang dengan nilai H’ 1,2. Formicidae berpotensi sebagai bioindikator kelembaban tanah gambut yang rendah yang dicirikan dengan kandungan kadar air yang rendah dan mempunyai tingkat kematangan gambut yang lebih tinggi. Entomobryidae berpotensi sebagai bioindikator kadar air yang tinggi dan mempunyai tingkat kematangan yang masih rendah. ABSTRACTManagement of peatlands for HTI cultivation of Acacia crassicarpa begins by making drainage ditches and land clearing, followed by the preparation of land for planting. As for the maintenance activity, it includes weed control using herbicides and fertilizer. Management and maintenance activities certainly have implications for the ecological condition of peatlands, where the changes in ecological conditions due to land conversion will impact the abundance and diversity of soil fauna. Abundance and diversity of soil fauna and ecosystem function showed a very complex relationship not widely known this far.  Soil fauna tendency to select certain habitat is affected by several ecological factors, both biotic and abiotic. The study aims to assess the ecological proximity between the characteristics of peatland drained for HTI cultivation of A. crassicarpa and the abundance of soil fauna. The study was conducted in HTI peatlands of PT. Arara Abadi, Rasau Kuning District, Siak Regency, Riau. Soil fauna sampling was conducted by taking soil sample of 25 x 25 x 25 cm in size.  Separation of soil fauna from the soil was performed by a modification to a barlese funnel. Observed variables were the abundance and the diversity of soil fauna, peat maturity (C/N), water contentof peatand ground water table.  For observing ecological proximity, hierarchical analysis was used.  Result showed that the highest of soil fauna abundance was found in A. crassicarpa stand, 2 year’s old of age. The species diversity of soil fauna in research location included as medium abundant by H’ value 1,2. Formicidae was potential become a low level-humidity bioindicators of peatsoil, which described by those pattern : low water content and higher level of peat maturity. Entomobryidae was potential become a high water content  bioindicator and low level of peat maturity.

Page 11 of 45 | Total Record : 444


Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue