cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
RESILIENCY OF SMALL-SCALE COMMON CARP (Cyprinus carpio) FARMERS IN WEST PAGADEN RURAL AREA OF SUBANG - WEST JAVA (Daya Lenting Pembudidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio) Skala Kecil di Perdesaan Kecamatan Pagaden Barat Subang – Jawa Barat) Carolina Carolina
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18732

Abstract

ABSTRACTSince early 1980s, freshwater fish farming was introduced as an economic activity to the rural community in Subang, West Java Province. Until presently, 5% of the population participate on it, specifically as common carp (Cyprinus carpio) cultivators in freshwater ponds ecosystem. The economic gain from the carp farming triggers vast development indicated by significant landscape conversion from rice fields to fish ponds. Environmental limitation does not seem to become their major concern, because good yields which means good income is their main driving factor to extend and intensify common carp aquaculture. Recognizing the important role of small scale fish farms in West Java common carp production system, we explore their resiliency in confronting challenges encountered in managing the freshwater ecosystem. Utilizing participatory observation and interview, we explore their socio-ecological resilience from the perception of human and nature interaction. The study area is Pagaden Sub District in Subang - West Java. Descriptive analysis is used to articulate the phenomenon enfolded in a socio-ecological framework of thinking. It can be concluded that high dependency to the aquaculture activity, has reached a situation in which ecologically sound technology should be introduced. Included in a scheme of technical assistance which specifically designed to meet the need and in harmony with the socio-cultural characters of small-scale fish farmers, the technology introduction should be carried out to spur the sustainable aquaculture in Subang West Java. This should be a proposed agenda for the local government in support to aquaculture sustainable development.ABSTRAKSejak awal tahun 1980, budidaya ikan air tawar diperkenalkan sebagai kegiatan ekonomi masyarakat desa di wilayah Subang, Propinsi Jawa Barat. Dewasa ini, sekitar 5% populasi terlibat di kegiatan tersebut, terutama sebagai pembudidaya ikan mas (Cyprinus carpio) di ekosistem kolam air tawar. Pendapatan yang diperoleh dari kegiatan budidaya ikan mas telah memicu terjadinya percepatan laju pembangunan yaitu dengan adanya perubahan lansekap dari petak-petak sawah menjadi kolam-kolam ikan. Keterbatasan lingkungan tampaknya tidak dipertimbangkan, karena hasil panen yang tinggi atau keuntungan usaha menjadi tujuan pokok perluasan atau pun intensifikasi kegiatan budidaya ikan mas. Mengingat peran penting pembudidaya ikan skala kecil di rantai produksi ikan mas di Jawa Barat, kami melakukan kajian terhadap daya lenting mereka dalam menghadapi tantangan mengelola ekosistem budidaya ikan air tawar. Dengan memanfaatkan metoda pengamatan-partisipatif dan wawancara mendalam, data dan informasi dari para pelaku budidaya ikan mas skala kecil di Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang Jawa Barat ditelusur. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memberikan ruang artikulatif dalam mengurai fenomena lapangan yang dirangkum dalam kerangka pikir sosio-ekologi. Dapat disimpulkan bahwa meskipun mereka memiliki kearifan lokal tersendiri dalam membudidayakan ikan mas di kolam air tawar, ketergantungan yang tinggi pada kegiatan akuakultur ikan mas, telah sampai pada situasi diperlukannya pengenalan teknologi budidaya yang ramah lingkungan. Pengenalan teknologi tersebut seyogyanya disertai strategi pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter sosial-budaya para pembudidaya ikan mas skala kecil. Hal ini perlu dijadikan agenda pemerintah daerah untuk diterapkan demi keberlanjutan pengelolaan ekosistem akuakultur di Subang – Jawa Barat. 
OPTIMASI PROSES PEMBUATAN BRIKET BIOMASSA MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI GUNA MEMENUHI KEBUTUHAN BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG RAMAH LINGKUNGAN (Optimization of Biomass Briquettes Production Process Using Taguchi Method) Musabbikhah Musabbikhah; Harwin Saptoadi; Subarmono Subarmono; Muhammad Arif Wibisono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18733

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang dihadapi pembuat dan pengguna briket adalah briket yang dihasilkan kualitasnya rendah ditinjau dari nilai kalor. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas briket terbaik dari limbah biomassa dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif rumah tangga yang murah dan ramah lingkungan guna mewujudkan masyarakat mandiri energi. Metode yang digunakan untuk menentukan kualitas briket adalah metode Taguchi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tekanan pengepressan, waktu penahanan, model cetakan, suhu pengeringan, lama pengeringan dan komposisi bahan, sedangkan variabel terikat adalah nilai kalor briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas briket terbaik ditinjau dari nilai kalor tertinggi yaitu pada setting parameter A2B1C2D2E2F1, artinya tekanan pengepressan 225 kg/cm2, waktu penahanan 5 menit, model cetakan sarang tawon (kotak), suhu pengeringan 60 °C, lama pengeringan 3 hari, perbandingan limbah jarak pagar : arang sekam : arang tempurung kelapa : perekat adalah 5 : 3: 2 : 1. Rata-rata nilai kalor biobriket yang dihasilkan sebesar 5.323 kal/g. Hal ini menunjukkan bahwa briket mempunyai nilai kalor yang tinggi dan memenuhi SNI, sehingga briket layak untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.ABSTRACTProblems that encountered on manufacturers and users of briquettes is low quality of the briquettes in terms of heat value. The aim of this research is to determine the best quality of the briquette which is made from biomass waste. The briquette is expected to be used to fulfill the need of inexpensive and environmentally friendly of alternative household fuel, by which the energy independent community could be realized.The method used to determine the quality of the briquette is Taguchi method. The independent variables involved are compressive strength, holding time, mold model, drying temperature, drying time and material composition. The dependent variable is the highest heat value of the briquette. The results show that based on the highest heat value, the best briquette quality is parameter setting of A2B1C2D2E2F1, which means that the compressive strength is 225 kg/cm2, the holding time is 5 minutes, the mold model is honeycomb of box, drying temperature is 60 °C, drying time is 3 days and the ratio of Jatropha Curcas waste : rice husk charcoal : coconut shell charcoal : adhesive is 5 : 3: 2 : 1. The average heat value of briquette is 5,323 cal/g. This matter the briquettes show that high heat value and feasible of recommendation by SNI, and so briquette decent to fulfill the need of environment friendly alternative fuel.
SPECIFIC ALLOCATION FUND FOR ENERGY EFFICIENCY TO INCREASE QUALITY OF THE ENVIRONMENT IN INDONESIA (Mekanisme Dana Alokasi Khusus Efisiensi Energi dalam Mendukung Perbaikan Lingkungan di Indonesia) Joko Tri Haryanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18734

Abstract

ABSTRACTRelated to the climate change and economic development of environmentally friendly (green economy) issues, the President has committed to reducing emissions of greenhouse gases (GHG) by 26% on their own sources (BAU), and up to 41% with international support in 2020 through Presidential Decree No. 61 in 2011 about the National Action Plan for Greenhouse Gas Emission Reduction (RAN-GRK). In addition to regulating the sectors that are considered to be the largest contributor to GHG emissions, the regulation also establishes funding sources RAN-GRK either through the APBN, APBD, as well as a variety of other sources constituted under the legislation. The main research question are; Is specific allocation fund (DAK) can be used to fund energy efficiency?; if so, what procedure should be done? and how monitoring and evaluating of the energy efficiency of the use of DAK ? To answer those questions, researcher using qualitative library research, cross sectional collection of data for intensive analysis, interviews to some leading experts in the field and a number of Focused Group Discussions were also conducted to construct the policy analysis. Based on the analysis of the mechanism of transfer to the regions in Indonesia, it is possible to enlarge of DAK field for energy efficiency by asking Line Minister to proposed mechanism and send to the Ministry of Finance. This can be addressed to support the achievement of environmental friendly activities and reduce the burden of state budget subsidies. Some of things that must be done is to propose the allocation of DAK EE into government programs and to develop a variety of specificized and technical indicators related.ABSTRAKTerkait dengan komitmen dalam mengatasi dampak perubahan iklim serta isu pengembangan ekonomi rendah karbon, Pemerintah telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2011 tentang rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Nasional (RAN-GRK) tahun 2020 sebesar 26% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan pendanaan asing. Dalam Perpres tersebut telah diatur sektor-sektor apa saja yang dianggap menjadi sumber emiten terbesar termasuk sektor energi, sekaligus adanya kewajiban pendanaan APBN/APBD dalam mengatasinya. Di sisi lain, kegiatan efisiensi energi tercatat sebagai salah satu aksi penurunan emisi GRK yang cukup signifikan dalam sektor energi baik untuk bangunan maupun mesin. Sayangnya kegiatan tersebut membutuhkan investasi yang cukup besar. Akibatnya kegiatan efisiensi energy menjadi tidak menarik. Di sinilah peran pendanaan APBN/ APBD menjadi sangat krusial. Terkait dengan pengaturan pengalokasian pendanaan APBN/APBD inilah peran Kemenkeu menjadi sangat vital, khususnya dalam mekanisme pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) yang menjadi kewenangannya. Dari hasil analisis, mekanisme alokasi DAK ternyata memungkinkan untuk ditujukan bagi pendanaan kegiatan efisiensi energi. Namun demikian, mekanisme yang harus dijalankan lebih difokuskan kepada inisiatif Kementerian/Lembaga (K/L) yang berwenang dalam pengusulan alokasi DAK tersebut.
DAMPAK KEGIATAN PELEDAKAN PERTAMBANGAN ANDESIT TERHADAP LINGKUNGAN PEMUKIMAN DI GUNUNG SUDAMANIK KECAMATAN CIGUDEG KABUPATEN BOGOR (The Impact of Blasting Activities for Andesite Mining to Residential Environment at Mount Sudamanik Cigudeg Bogor) Aljon Albertus Manotar Simbolon; Muhamad Yani; Irzaman Irzaman
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18735

Abstract

ABSTRAKAspek lingkungan hidup kemungkinan terganggu akibat kegiatan eksploitasi sumber daya alam. Mineral dan batuan sebagai salah satu sumber daya alam pada umumnya tersebar di daerah terpencil yang masih memerlukan pengembangan. Pada sisi ini, kehadiran perusahaan pertambangan sangat penting peranannya bagi kemajuan dan pembangunan serta meretas keterisolasian suatu daerah. Wilayah sekitar Gunung Sudamanik, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor tumbuh dan berkembang karena pertambangan andesit. Gunung Sudamanik telah dan masih dieksploitasi lima perusahaan tambang andesit yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan luas total Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) seluas 113 hektar. Pada tahun 2012, total produksi batuan kelima perusahaan adalah 3.984.785 ton atau rata-rata 332.065,4 ton per bulan. Produksi batuan tersebut dihasilkan dari peledakan yang dapat mencapai lima kali peledakan atau lebih setiap hari. Getaran dan bunyi ledakan yang disebabkan peledakan ini kemungkinan berdampak terhadap lingkungan hidup, terutama pada konstruksi rumah dan kenyamanan masyarakat yang bermukim di sekitar kaki Gunung Sudamanik. Pemukiman penduduk yang paling dekat lokasi peledakan andesit berada pada tiga kampung/dusun yaitu Kampung Kadaung, Lebakwangi Lapangan dan Lebakwangi Girang. Ketiga kampung tersebut secara administratif berada dalam Desa Rengasjajar. Rumah warga pada pemukiman yang paling dekat ke lokasi peledakan batuan andesit berjarak sekitar 337 – 616 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian 90,5 kg bahan peledak delay yang sama pada jarak 148 m mengakibatkan tingkat getaran tanah maksimum 7,71 mm/s yang telah melewati baku mutu kelas 3 SNI 7571 : 2010. Dan pemakaian bahan peledak mulai dari 77,4 kg sampai 1310,4 kg setiap peledakan tidak menimbulkan dampak kebisingan pada pemukiman warga.ABSTRACTLiving environment aspects are possibility disrupted by the exploitation of natural resources. Minerals and rocks as one of the natural resources in general are scattered in remote areas that still need development. On this side, the presence of mining companies is important for the progress and development as well as rip off the isolation area. The region around Mount Sudamanik, Cigudeg District, Bogor Regency grows due to the mining of andesite rock. Mount Sudamanik has been and is being mined out by five companies that have mining business license (IUP) covering an area of 113 hectares of region mining business permit (WIUP). In 2012, total andesite production of the all company reached 3,984,785 tons, or an average of 332,065.4 tons per month. Production of these andesite generated from blasting that can reach five times the blasting or more every day. Ground vibrations and air blast caused by blasting probably effect to the living environment, mainly to the house construction and comfort communities who resides around the foot of Mount Sudamanik. Three villages are situated at the nearest the andesite mining inculuding Kampung Kadaung, Lebakwangi Lapangan and Lebakwangi Girang. Residential homes on the nearest location to the andesite blasting is about 337- 616 meters. The results showed that the use of 90.5 kg of explosives same delay at distance 148 resulted in maximum ground vibration levels of 7.71 m/s that have full filled the quality standard of the third grade SNI 7571: 2010. And the use of explosives ranging from 77.4 kg to 1310.4 kg blasting did not cause any noise impact on residential areas. 
DAMPAK KEBERADAAN PERUSAHAAN AIR MINUM DALAM KEMASAN DI KLATEN-JAWA TENGAH PADA SITUASI PEREKONOMIAN MASYARAKAT (Impact of Presence of Botled Drinking Water Corporation in Klaten-Central Java on Economic Situation of Community) Joko Mariyono; Muhammad Atiq Zambani
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18736

Abstract

ABSTRAKKeberadaan sebuah perusahaan akan berpengaruh pada masyarakat sekitar. Kajian ini menganalisis dampak ekonomi perusahaan air minum dalam kemasan di Kabupaten Klaten terhadap kehidupan masyarakat di sekitar perusahaan. Data dikumpulkan dengan wawancara pada 300 rumah tangga. Wawancara berdasarkan kuesioner yang terstruktur. Analisis dilakukan pada pendapatan rumah tangga, konsumsi dan investasi pendidikan anak. Analisis data menggunakan model pertumbuhan dan pengambilan keputusan, yang diestimasi dengan model ekonometrik. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberadaan perusahaan telah memperbaiki kehidupan masyarakat di sekitar perusahaan. Keberadaan perusahaan telah meningkatkan pendapatan yang cepat sehingga dapat mengejar tingkat pendapatan masyarakat lain yang lebih sudah lebih baik. Sebagai akibat kenaikan pendapatan yang cepat, konsumsi keluarga meningkat dan mendorong investasi pendidikan anak. Investasi pendidikan anak sangat penting karena merupakan usaha untuk meningkatkan sumberdaya manusia. Generasi penerus yang terdidik dan berkualitas akan menentukan pembangunan bangsa. Meskipun keberadaan perusahaan telah berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, perusahaan tidak serta merta dapat mengexploitasi sumber daya air tanpa batas. Perusahaan masih harus bertanggung jawab untuk melakukan konservasi lingkungan agar penggunaan sumber daya air tetap lestari dan bermanfaat bagi masyarakat. ABSTRACTThe existence of a corporation will affect the surrounding community. This study analyzes the economic impacts of the presence of the botled drinking water corporation in Klaten District on the livelihood of people around the firm. Data were collected by interviewing 300 households. Interviews were based on a structured questionnaire. Analysis was conducted on household income, consumption and education investment of children. Income growth and decision-making models were used and estimated using econometric models. The results show that the presence of company has been improving the livelyhood of people around the company. Family income has increased and levelled others with higher income levels. As a result of the rapid increase in income, household consumption increased and encouraged education investment. The education of children is important because it attempts to improve the quality of human resource. The next educated and qualified generation determines development of the nation. Although the presence of company has provided desirable economic impacts on the community, it does not immediately mean that the company can extract water resource without limitation. The company still has responsibility to conserve the environment such that the use of water resource is sustainable and benefits community.
KEANEKARAGAMAN STRUKTUR TEGAKAN HUTAN ALAM BEKAS TEBANGAN BERDASARKAN BIOGEOGRAFI DI PAPUA (Diversity of Stand Structure in Logged-Over Forest Based on Papua Biogeography) Relawan Kuswandi; Ronggo Sadono; Nunuk Supriyatno; Djoko Marsono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18737

Abstract

ABSTRAKKegiatan penebangan berdampak pada perubahan komposisi dan struktur tegakan, penyebaran jenis pohon, kesamaan komunitas dan keragaman jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman struktur dan komposisi tegakan pada hutan bekas tebangan berdasarkan bioregion di Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi dan struktur secara ekologi berbeda yang ditunjukkan dengan nilai indeks kesamaan jenis yang rendah. Jenis-jenis penyusun tegakan pada tingkatan semai, pancang, tiang dan pohon dari tiap-tiap lokasi hampir semua berbeda. Namun ada beberapa jenis yang sama ditemui mendominasi pada lokasi PT. TTL dan PT. MML seperti Vatica rassak dan Syzygium sp. Kerapatan tegakan di PT. TTL lebih tinggi dibanding dengan kedua lokasi, sementara PT. WMT adalah lokasi dengan kerapatan tegakan paling rendah. Keragaman tegakan di PT. WMT adalah yang paling tinggi, sedangkan keragaman tegakan di PT. TTL adalah yang paling rendah. ABSTRACTSelective logging result in change in species composition, stand structure, species distribution, stand diversity and evenness. The aims of this study were to analyse biogeographically diversity of composition and structure of stands in logged-over forest in Papua. Results revealed that composition and structure differ ecologically among biogeographic region in which similarity indices were low. Then, composition species in PT. TTL, PT. MML and PT. WMT was deferent for seedlings, saplings, poles and trees, but for same species such as Vatica rassak and Syzygium sp were present and dominant in PT. TTL and PT. MML. Stand density in PT. TTL was the highest while the lowest stand density was in PT. WMT. Diversity in PT. WMT was highest while the lowest diversity was in di PT. TTL.
KERAGAMAN FLORA DI LAHAN REKLAMASI PASCA TAMBANG BATUBARA PT BA SUMATERA SELATAN (Flora Diversity at Post-Coal Mining Reclamation in the PT BA South Sumatera) Riswan Riswan; Umar Harun; Chandra Irsan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18738

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilaksanakan di lahan reklamasi Air Laya, tambang batubara PT BA Tanjung Enim pada Januari sampai Maret 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi flora pada lahan reklamasi pascatambang batubara, PT BA, Tanjung Enim. Petak contoh diletakkan pada lahan reklamasi yang berumur 20, 15, 10 dan 1 tahun. Petak contoh di buat enam petak empat persegi secara net sampling, di mana untuk pohon berukuran 20 m x 20 m; tiang berukuran 10 m x 10 m; pancang berukuran 5 m x 5 m; dan semai dibuat empat persegi berukuran 2 m x 2 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis flora yang dominan pada tingkat pohon dan sebagian pada tingkat pancang pada berbagai umur reklamasi adalah Acacia auriculiformis. Pada tingkat tiang flora jenis jati (Tectona grandis) adalah jenis flora tingkat tiang yang hanya ditemukan pada plot umur 20 tahun dan jenis A. auriculiformis dan Eucalyptus deglupta pada plot umur 15 tahun. Sengon (Paraserianthes falcataria) mendominasi pada tingkat pancang pada plot umur 1 tahun. Beberapa jenis flora indigen yang dapat ditemukan di lahan bekas tambang batubara yaitu Leban (Vitex pinnata) dan Keliat (Syzygium spp.) serta Suket kudalang (Oplismenus burmannii) pada tingkat flora bawah yang tumbuh liar. Dominansi oleh flora introduksi (A. auriculiformis) pada berbagai plot umur reklamasi menurunkan flora indigen. Hal ini bisa dilihat dari nilai INP tertinggi secara umum didominasi oleh akasia berdaun kecil (A. auriculiformis) pada umur 20, 15 dan 10 tahun setelah reklamasi tambang. ABSTRACTThe research was conducted in the post-mining land reclamation of PT BA, Tanjung Enim in January to March 2013. The objective of the research was to know the composition and structure of flora in the post-mining reclamated of PT BA, Tanjung Enim. Plots research designed based on the age land reclamatied as follows 20, 15, 10 and 1 year after reclamation is made six square plots as net samplings. Plots sized of tree was 20 m x 20 m, Plot-sized of pole was 10 m x 10 m, plot-sized of sapling was 5 m x 5 me, plot-sized of seedling was 2 m x 2 m, respectively. The results showed that the dominant of flora species in the tree and saplings stage at various ages reclamation was Acacia auriculiformis, in the pole stage was Tectona grandis at the age of 20 year and A. auriculiformis and Eucalyptus deglupta at the age of 15 year, at the saplings plot at the age of 1 year is dominated by Sengon (Paraserianthes falcataria), respectively. This research showed that some indigenous flora species that found and grown in the coal mined lands was Leban (Vitex pinnata), Keliat (Syzygium spp.), Miyang grass (Oplismenus burmannii) and seduduk (Melastoma sylvaticum). The research inicated that dominated species by A. auriculiformis at variuos of age plots cause decrease indegenous flora. The highest of IVI found in the post-mining reclamation dominated by A. auriculiformis at aged 20, 15 and 10 years after land reclamated.
RESPON SEMUT TERHADAP KERUSAKAN ANTROPOGENIK DALAM HUTAN LINDUNG SIRIMAU AMBON (Ants Response to Damage Anthropogenic in Sirimau Forest Ambon) Fransina Latumahina; Musyafa Musyafa; Sumardi Sumardi; Nugroho Susetya Putra
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18739

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji respon semut terhadap kerusakan habitat akibat kehadiran manusia dalam hutan lindung Sirimau Ambon. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2011 hingga Juli 2012. Respon semut diketahui dengan pendekatan kekayaan, kelimpahan, keragaman, frekuensi dan tanggap fungsional terhadap kerusakan antropogenik dalam hutan lindung melalui metode line transect. Parameter tambahan yang diamati adalah faktor iklim mikro, sifat fisik dan kimia tanah. Hasil penelitian menemukan 23 spesis semut, 16601 individu, kelimpahan spesis tertinggi sebesar 0,158, frekuensi 32,44 % dan indeks keragaman sebesar 2,92 yang tergolong sedang. Kelompok fungsional semut terbagi menjadi kelompok oppurtunist (1 spesis), generalized myrmicinae (1 spesis), specialis predator (4 spesis), tropical climate specialis (6 spesis), dominant dolichoderinae (4 spesis), subordinate camponitini (6 spesis) dan criptic species (4 spesis). Faktor antropogenik yang menyebabkan kerusakan habitat hutan lindung yakni pembukaan wilayah hutan, penebangan pohon, pembakaran hutan, perladangan berpindah dan pembangunan fisik akibatnya terjadi fragmentasi dan degradasi habitat yang diikuti dengan ketidakseimbangan lingkungan dan komponen ekosistem.ABSTRACTThis study aims to know response ants to damage due to presence of human in Sirimau forest Ambon. The research was conducted from June 2011 until July 2012. Research to obtains data about richness, abundance, diversity, frequency and functional response from ants to anthropogenic damage in Sirimau forest with line transect method. Additional parameters measured were microclimate factors, physical and chemical of soil. The study found 23 species of ants, 16.601 individuals with highest species abundance of 0.158, 32.44% frequency and diversity index of 2.92 were classified as moderate. Functionally ants found in the group classified are oppurtunist (1 species), generalized myrmicinae (1 species), specialist predators (4 species), tropical climate specialists (6 species), dominant dolichoderinae (4 species), subordinate camponitini (6 species) and criptic species (4 species). Anthropogenic factor have contribute to destruction of forest habitat through opening forests, logging, forest fires and shifting cultivation. Anthropogenic damage in secondary forest causing fragmentation and degradation, followed by imbalance of environment and ecosystem components.
DAMPAK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT TERHADAP TINGKAT KEMATANGAN DAN LAJU PENURUNAN PERMUKAAN TANAH (The Impact of Development of Industrial Plantation Forest Acacia crassicarpa in Peatland Towards the Maturity) Yunita Lisnawati; Haryono Suprijo; Erny Poedjirahajoe; Musyafa Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18740

Abstract

ABSTRAKPembangunan hutan tanaman di lahan gambut tidak terlepas dari sorotan isu negatif lingkungan terkait dengan penurunan kedalaman muka air tanah, sehingga terjadi perubahan ekosistem asli. Kegiatan reklamasi lahan untuk HTI Acacia crassicarpa dalam jangka panjang disinyalir akan menimbulkan dampak negatif terhadap perubahan karakteristik tanah gambutnya seperti tingkat kematangan dan laju penurunan permukaan tanah gambut (subsiden). Kajian mengenai dampak pembangunan HTI di lahan gambut terhadap tingkat kematangan dan laju subsiden perlu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kondisi exsisting daya dukung lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematangan gambut baik secara vertikal (berdasarkan kedalaman gambut) maupun secara horizontal (berdasarkan jarak dari bibir kanal) dan mengetahui laju subsiden sebagai dampak dari reklamasi lahan gambut menjadi HTI A. crassicarpa. Penelitian dilakukan di PT AA, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau. Plot penelitian ditempatkan dalam satu transek sepanjang 100 m yang dibuat tegak lurus dengan kanal tersier, terdapat 12 plot dan dalam satu transek terdapat 3 titik pengamatan sehingga total titik pengamatan adalah 36 titik. Parameter yang diamati adalah dinamika kedalaman muka air tanah, nilai kadar serat tanah gambut dan laju subsiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan kedalaman muka air tanah gambut di lokasi penelitian hanya mempengaruhi tingkat kematangan gambut pada kedalaman kurang dari 2 m, sedangkan jarak kanal tersier sebesar 125 m tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kematangan gambut. Pada kedalaman kurang dari 2 m tingkat kematangan gambut lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Pembangunan HTI A. crassicarpa di lokasi penelitian menyebabkan laju subsiden sebesar rata-rata 5,5 cm/tahun. ABSTRACTThe establishment of forest on peat areas is insepatable from the glare of the negative environmental issues associated with a decrease in the depth of water table which then result in a change of the original ecosystem. Long-term land reclamation activities for HTI Acacia crassicarpa is supposed to give a negative impact on changes in the peat soil characteristics such as level of maturity and the rate of decrease in surface peat soil (subsidence). Studies on the impact of HTI development in peat areas particularly on the level of maturity and rate of subsidence need to be done in order to provide information regarding the carrying capacity of the land exsisting condition. This study aims at evaluating the maturity level of the peat either vertically (based on the depth of peat) or horizontally (based on the distance from the lips of the canal) and determining the rate of subsidence as a result of reclamation of peatlands into plantations A. crassicarpa. The study was conducted in PT. AA, Rasau Kuning District, Siak, Riau. Research plots were placed in a 100 m long transects that were perpendicular to the tertiary canal. There are 12 plots and, transects consist of 3 observation points, so the total observation point is 36 points. Parameters measured were the dynamics of groundwater depth, the value of peat fiber content and the rate of subsidence. The results show that the impact of changes in the water table depth of peat soil in the study area only affects the level of maturity of peat at depths less than 2 m, whereas the tertiary canals distance of 125 m did not significantly affect the level of maturity of peat. At a depth of less than 2 m of peat maturity level is higher than the layer below it. A. crassicarpa plantation development in the study area leads to subsidence rate by an average of 5.5 cm / year.
PERAN UNSUR CUACA TERHADAP PENINGKATAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG LADA DI SENTRA PRODUKSI LADA DAERAH SULAWESI TENGGARA (The Role of Weather Elements Toward Increased Foot Rot Disease on Black Pepper in the Production Center of Southeast Sulawesi) La Ode Santiaji Bande; Bambang Hadisutrisno; Susamto Somowiyarjo; Bambang Hendro Sunarminto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 2 (2015): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18741

Abstract

ABSTRAKPengendalian penyakit tanaman di sentra produksi lada melalui modifikasi lingkungan merupakan pilihan bijak dalam upaya pengurangan penggunaan pestisida. Penyakit busuk pangkal batang lada telah menyebabkan penurunan produksi lada di berbagai daerah sentra rempah. Penyakit ini semakin meningkat dengan adanya pergeseran cuaca yang tidak menentu. Interaksi antar unsur cuaca dan kondisi agroekosistem diduga mempengaruhi perkembangan penyakit busuk pangkal batang lada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antar unsur cuaca (suhu udara, kelembapan udara, jumlah hari hujan, total curah hujan), suhu tanah, dan lengas tanah terhadap terjadinya peningkatan penyakit busuk pangkal batang lada pada berbagai kondisi agroekosistem lada. Penelitian dilaksanakan di sentra pertanaman lada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Analisis lintas digunakan untuk mengetahui hubungan antar unsur cuaca dengan intensitas penyakit busuk pangkal batang lada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa unsur cuaca mempengaruhi peningkatan intensitas penyakit busuk pangkal batang lada. Unsur cuaca yang secara langsung menyebabkan peningkatan intensitas penyakit busuk pangkal batang lada pada tiap daerah bervariasi dan paling dominan adalah curah hujan. Unsur cuaca yang mempengaruhi peningkatan intensitas penyakit di Kabupaten Konawe Selatan adalah curah hujan dan lengas tanah, di Kabupaten Konawe oleh suhu udara, kelembapan udara, dan curah hujan, sedangkan di Kabupaten Kolaka oleh jumlah hari hujan, dan curah hujan.ABSTRACTControl of plant diseases in black pepper production centers through environmental modification is a wise choice in efforts to reduce the use of pesticides. The foot rot disease causes production of black pepper has been undergoing a decrease in center spices. The irregular change of the weather was strongly assumed to be the cause of the occurrence of the black pepper foot-rot disease. The interactions between agroecosystems condition and weather elements to influence the development of foot rot disease. The aims of this research were to analyze the relationship between the weather elements (temperature, humidity, number of rainy days, total rainfall), soil temperature, and soil moisture toward the prevalence of the black pepper foot-rot disease in various condition of the agriculture ecosystem. The research applied the following methods survey in the areas of black pepper plantations in the Province of South-East Sulawesi. Path analysis was used to determine the relationship between the weather elements with the intensity of foot rot disease. The results shows that the contributory causes of foot rot disease on black pepper are weather condition. The weather elements directly causing the disease intensity progress of foot root varied in each region and the most dominant weather element was rainfall. The increase of the disease intensity in South Konawe District was caused by the increase in rainfall and soil moisture. In Konawe District, it is caused mainly by rainfall, humidity and air temperature, in Kolaka District it is caused by the number of rainy days and rainfall.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue