cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 444 Documents
KAJIAN KARAKTERISTIK MUARA CILIWUNG DENGAN MODEL BUDGET NITROGEN (Assessment of Ciliwung Estuary Characteristic with Nitrogen Budget Model) Devi Dwiyanti Suryono; Setyo S. Moersidik
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18722

Abstract

ABSTRAKPerairan muara merupakan perairan yang mempunyai karakteristik yang khas karena dipengaruhi oleh faktor hidrodinamika dan pola musim, yaitu musim timur dan musim barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan metode perhitungan biogeokimia berdasarkan pendekatan LOICZ pada perairan muara Ciliwung dan memperoleh informasi tentang karakteristik nitrogen pada perairan muara Ciliwung. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pada musim timur dan musim barat perairan muara Ciliwung berperan sebagai nitrogen. Pada musim timur perairan muara Ciliwung bersifat autotrofik, sedangkan pada musim barat perairan tersebut bersifat heterotrofik. Hal ini dicirikan melalui siklus nitrogen dengan laju fiksasi lebih besar daripada laju respirasi pada musim timur, sedangkan pada musim barat yang terjadi adalah sebaliknya, laju respirasi lebih besar dibandingkan dengan laju fiksasinya, sebesar 21,14 mg/hari. ABSTRACTEstuarine ecosystem was an unique ecosystem because of the hydrodynamic factor and seasonal pattern i.e. east season and west season, that influence the characteristic of the estuarine. The purpose of this study was to apply the LOICZ biogeochemical budgeting approach to Ciliwung estuary and to get the information about nitrogen budget in Ciliwung estuary. Based on the analysis the function of the estuary was as source of nitrogen on west season and east season. Nitrogen budget of the Ciliwung estuary obtained that the system was autotrophic while in east season, and tend to heterotrophic in west season. This condition was indicated that in the east season the fixation rate was more than respiration rate, but in west season the respiration rate was more than fixation rate with the respiration rate is 21.14 mg/day.  
PERENCANAAN SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DOMESTIK KOTA BOGOR MENGGUNAKAN AIR HUJAN UNTUK DEBIT PENGGELONTORAN (Planning of Domestic Wastewater Sewerage in Bogor City Using Rainwater for Flushing Flowrate) Allen Kurniawan; Nura Adithia Dewi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18723

Abstract

ABSTRAKSistem penyaluran air limbah merupakan bagian penting dalam sistem prasarana perkotaan. Tujuan penelitian ini merancang konfigurasi sistem penyaluran air limbah domestik dan memodifikasi sistem drainase skala mikro di Kota Bogor untuk memenuhi debit penggelontoran. Data penelitian berupa data sekunder dari instansi terkait, studi pustaka, dan hasil beberapa penelitian terdahulu. Perkiraan jumlah penduduk setiap kelurahan pada tahun perencanaan 2035 menggunakan metode geometrik. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dibangun pada dua lokasi yaitu IPAL 1 di Kelurahan Bantarjati dan IPAL 2 di Kelurahan Mekarwangi. Perencanaan blok pelayanan sebanyak 254 buah dan jumlah manhole sebanyak 334 buah. Perhitungan kebutuhan air bersih menghasilkan nilai debit jam puncak air limbah (Qjp) rata-rata sebesar 5,75 L/detik. Debit air bersih menghasilkan perkiraan sebesar 80% air limbah. Nilai Qp pada inlet IPAL 1 sebesar 0,59 m3/detik dengan diameter 900 mm, sedangkan nilai Qp pada inlet IPAL 2 sebesar 1,42 m3/detik dengan diameter 1000 mm. Pengaliran air limbah diusahakan secara gravitasi dengan kedalaman galian maksimum sebesar 6 m. Sistem drainase skala mikro dirancang untuk memenuhi debit penggelontoran. Perhitungan intensitas hujan terpilih menggunakan Metode Sherman. Titik penggelontoran sebanyak 53 titik dengan debit penggelontoran rata-rata sebesar 0,03 m3/detik. Debit saluran drainase rata-rata sebesar 0,25 m3/detik.ABSTRACTSewerage system is an important part of the urban infrastructure. The research objectives were to design a system configuration domestic wastewater sewerage and modify drainage systems in Bogor City for flushing discharge. The research used secondary data from relevant institutions, literature, and the results of previous researches. Estimated of the population of each village in 2035 used geometric method. Wastewater Treatment Plant (WWTP) would be constructed in two locations in Bantarjati and Mekarwangi Village. Planning of services area included 254 blocks and the number of manholes were 334. Clean water which produced peak hours flowrate (Qph) was 5.75 L/sec. Water flowrate produced an estimated of 80% wastewater flowrate. Q peak at the inlet of the WWTP 1 was 0.59 m3/sec with diameter of 900 mm, while Q peak at the inlet of the WWTP 2 was 1.42 m3/sec with diameter of 1000 mm. The stream of wastewater carried out by gravity with the maximum digging depth of 6 m. The system of micro-scale drainage was designed to supply flushing flowrate. Rainfall intensity calculation is done using the Sherman Method with period of 20 years rain repetition. Flushing points were 53 with flowrate average of 0.03 m3/sec. Drainage flowrate average was 0.25 m3/sec. Micro-scale drainage was designed rectangular. Result of the width and height average dimension were 0.43 m and 0.42 m, respectively.
NILAI EKONOMI KARBON HUTAN RAWA GAMBUT MERANG KEPAYANG, PROVINSI SUMATERA SELATAN (Economic Value of Carbon of Merang Kepayang Peat Swamp Forest, South Sumatera Province) Nur Arifatul Ulya; Sofyan P. Warsito; Wahyu Andayani; Totok Gunawan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18724

Abstract

ABSTRAKHutan rawa gambut menyimpan cadangan karbon baik di tanah maupun di atas tanah. Hutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK) merupakan kawasan hutan yang berada di kubah gambut terbesar di Sumatera Selatan, yaitu Kubah Gambut Merang (KGM), yang didalamnya terdapat gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter. Meskipun menurut aturan KGM seharusnya dikonservasi, pada kenyataannya kawasan HRGMK dihadapkan pada konversi. Konversi HRGMK diduga akan mengakibatkan terganggunya fungsi hutan rawa gambut sebagai cadangan karbon dunia sehingga akan menyebabkan terjadinya emisi karbon ke atmosfer dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan HRGMK sebagai penyimpan cadangan karbon. Hasil penelitian diharapkan menjadi acuan pelestarian HRGMK sebagai stabilisator iklim dunia. Nilai ekonomi karbon HRGMK ditaksir dengan menggunakan harga bayangan. Harga karbon yang digunakan untuk menaksir nilai ekonomi karbon diperoleh dengan metode benefit transfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total karbon HRGMK adalah US$ 1.591.878.378,00 atau Rp. 14.002.162.211.645,00. Nilai tersebut sebagian besar berasal dari cadangan karbon di bawah tanah.ABSTRACTPeat swamp forests store aboveground and belowground carbon. Merang Kepayang Peat Swamp Forest (MKPSF) is a forest area which is located in Merang Peat Dome (MPD), the largest peat dome in South Sumatra, with peat thickness more than 3 meters. Although the order should be conserved MPD, in fact MKPSF area exposed to the conversion. MKPSF conversion would presumably result in impaired function of peat swamp forest as world's carbon storage that will be caused carbon emissions into the atmosphere in large quantities. This study aimed to determine the economic value of the HRGMK as carbon storage. The results are expected to be justifications for conservation of MKPSF as climate stabilizers. The economic value of carbon HRGMK assessed using shadow pricing method. The carbon price used to assess the economic value of carbon derived by benefit transfer method. The results showed that the total carbon value of HRGMK is U.S. $ 1,591,878,378.00 or Rp. 14,002,162,211,645.00. This value is largely derived from belowground carbon.
KONDISI HABITAT DAN EKOSISTEM MANGROVE KECAMATAN SIMPANG PESAK, BELITUNG TIMUR UNTUK PENGEMBANGAN TAMBAK UDANG (Habitat Conditions and Mangrove Ecosystem in Simpang Pesak District, East Belitung for Development of Shrimp Pond) Endang Juwita; Kadarwan Soewardi; Yonvitner Yonvitner
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18725

Abstract

ABSTRAKKondisi habitat dan eksosistem mangrove menjadi aspek penting dalam pengembangan usaha perikanan budidaya di wilayah pesisir. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kondisi habitat dan ekosistem mangrove berdasarkan kualitas perairan, tanah, dan vegetasi mangrove serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan di empat desa Kecamatan Simpang Pesak Kabupaten Belitung Timur pada bulan April – November 2013. Hasil penelitian menunjukkan kualitas air seperti salinitas 28–30, suhu 27–36 oC, pH 7–7,5, kecerahan 50–70, TSS 11–85 mg/L dan kekeruhan 0,91–46,00 NTU, yang rata-rata tidak melebihi ambang batas baku mutu untuk tambak udang dan biota laut, sedangkan kualitas tanah yaitu tekstur tanah (liat berpasir), pH tanah 4,8–6,8 dan bahan organik tanah 9–13% juga menunjukkan nilai yang tidak lebih dari ambang batas yang ditentukan. Kajian lainnya yaitu kondisi mangrove dengan kisaran indeks nilai penting 0–300 menunjukkan mangrove yang berperan dalam ekosistem tersebut dan dalam status mutu baik yang didukung dengan kerapatan 460 pohon/hektar. Oleh karena itu, nilai kerapatan yang tinggi dapat mendukung kegiatan pengembangan tambak udang yaitu dengan konsep ramah lingkungan (silvofisheries). Selain secara ekologi, secara sosial masyarakat juga mendukung pengembangan budidaya tambak udang (wawancara) dengan menyediakan (sewa) lahan dan tidak mengabaikan kerusakan lingkungan yaitu tetap mempertahankan mangrove.ABSTRACTThis research discusses about conditions of habitats and mangrove ecosystems which become an important aspect to develop a good aquaculture in coastal areas. This study aims to analyze the condition of the habitat and mangrove ecosystem based on the quality of water, soil, vegetation of mangroves, and socio-economic conditions of the social community. The study was conducted in four villages in Simpang Pesak, East Belitung Regency from April to November 2013. The results showed the indicator for water quality such as salinity 28-30, temperature 27-36 oC, pH 7-7.5, visibility 50-70, TSS 11-85 mg/L and turbidity 0.91-46.00 NTU, are on average rate so it does not exceed the threshold quality standards for shrimp and marine life. Besides, the quality of the soil, which is indicated by the soil texture (sandy clay), soil pH 4.8-6.8 and soil organic matter 9-13% also showed that it was not exceed a specified threshold too. Advance studies represent mangrove condition with important value index range from 28.30-69.94 showed that mangrove hold an important role in these ecosystem and in good quality supported by the density of 460 trees/ha. Therefore, the value of high density can support the development of shrimp farming that have an environmentally friendly concepts (silvofisheries). Social community can also supports the development of aquaculture shrimp. Interview results showed community provides (lease) of land and try to preserve the mangrove condition to protect it from the environmental damage.
SEBUAH DILEMA PERTANIAN ORGANIK TERKAIT EMISI METAN (A Dilemma on Organic Farming in Relation to Methane Emission) Ernitha Panjaitan; Didik Indradewa; Edhi Martono; Junun Sartohadi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18726

Abstract

ABSTRAKGas metana (CH4) adalah salah satu gas rumah kaca yang cukup berperan setelah CO2. Peningkatan metana di atmosfer pada belakangan ini perlu diantisipasi mengingat daya pemanasan global yang ditimbulkannya per satu molekul gas metana di troposfer 21 kali lebih tinggi daripada daya pemanasan satu molekul CO2. Tanah sawah adalah salah satu kontributor gas metana sekitar 10-15%. Metana diproduksi sebagai hasil akhir dari proses dekomposisi mikrobial bahan organik secara anaerobik oleh bakteri metanogen. Emisi gas metana ditentukan oleh pengelolaan air, pengolahan tanah, varietas, dan iklim. Seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat, serta ramah lingkungan, maka permintaan akan beras organik meningkat, sehingga perlu diupayakan dengan giat intensifikasi maupun ekstensifikasi budidaya padi organik. Namun, budidaya padi organik menghadapi dilema yaitu peningkatan produksi gas metana lebih tinggi daripada budidaya padi konvensional.ABSTRACTMethane (CH4) is the second main type of gas after CO2 in contributing global warning. The increasing of methane in our atmosphere should be anticipated because its effect of single molecule of methane to the warning up our trophosphere is 21 times higher than single molecule of CO2 . Paddy field soils as one of contributors produce 10-15 % of methane in our atmosphere. The methane is produced as results of microbial processes on aerobic organic matters decomposition by metanogene bacteria. The amount of methane production is determined by soil water management, crop species, and climate. In line with the community awarness in healthy and environmental friendly product of food, the demand of organic rice has increased. However, the organic farming has trade off situation due to its methane production higher than the conventional farming.
USAHA DOMESTIFIKASI TUMBUHAN POKEM (Setaria italica L.) MASYARAKAT LOKAL PULAU NUMFOR, KABUPATEN BIAK NUMFOR SEBAGAI UPAYA MENUNJANG KETAHANAN PANGAN NASIONAL (The Effort of Domestication of Pokem {Setaria italica (L.) Beauv} by Local Communities) Suharno Suharno; Supeni Sufaati; Verena Agustini; Rosye Hefmi Rechnelty Tanjung
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18727

Abstract

ABSTRAKDaya dukung lingkungan (habitat) sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Usaha domestikasi tumbuhan pokem (Setaria italica L.) di Pulau Numfor Kabupaten Biak Numfor telah diusahakan sejak lama oleh masyarakat lokal. Tumbuhan yang termasuk kelompok rumput–rumputan (Familia: Poaceae) telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan dan proses budidaya yang dilakukan oleh masyarakat lokal di pulau Numfor sebagai upaya dalam memenuhi bahan pangan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha budidaya pokem telah lama berlangsung secara turun–temurun sejak nenek moyang mereka tinggal di Pulau Numfor. Sistem budidaya yang mereka lakukan masih tergolong sederhana (konvensional). Masyarakat memanfaatkan lahan di sekitar kampung masing–masing karena mudah terjangkau. Sistem pertanian yang dilakukan masih dengan pola ladang berpindah. Kondisi sumber daya alam di wilayah pulau ini sangat terbatas. Kondisi tanah berkapur dan ketidaktersediaan tanaman sagu sebagaimana sumber bahan pangan utama orang Papua menyebabkan masyarakat berusaha menyediakan bahan pangan lokal, termasuk pokem. Nilai gizi biji tanaman ini cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu upaya dalam mengatasi ketahanan pangan nasional.ABSTRACTCarrying capacity of the habitat plays important role in the fulfillment of human needs. The effort of pokem plant {Setaria italica (L.) Beauv} domestication in Numfor Island, Biak Numfor regency has been started by local communities since long time ago. The Plant grouping as grass (Family: Poaceae) have been used as local foodstuff. The aim of the study is to know the usage and cultivation of the plant performed by local communities in Numfor Island in strugling of fulfilling local foodstuff.  The result showed cultication of pokem has been done from one to other generation since their ancestors had arrived for the first time in the Numfor Island. Culture systems that they do are still relatively simple (conventional). Community has used of land around the village because it is easily affordable. Agricultural system is still done with the pattern of shifting cultivation. Condition of natural resources in the area of the island is very limited. The soils is calcareous and unavailability of sago palm as a major food source among Papuans enable the community to find  the alternative sources to provide local food, including pokem. The nutritional value of the seeds of this plant is quite high, so it would be possible to develope as one candidate to strengthen national food security.
PENGARUH UMUR POHON, BONITA DAN POSISI AKSIAL BATANG TERHADAP STRUKTUR MAKROSKOPIS DAN KUALITAS KAYU JATI SEBAGAI BAHAN FURNITUR (Effect of Tree Age, Site Quality Index and Trunk Axial Position on Macroscopic Structure and Quality of Teak Wood) Yustinus Suranto; Tibertius Agus Prayitno; Djoko Marsono; Johanes Pramana Gentur Sutapa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18728

Abstract

ABSTRAKPenggunaan kayu jati muda merupakan solusi alternatif terhadap terbatasnya ketersediaan bahan baku yang dihadapi oleh industri mebel. Kayu muda cenderung memiliki kayu berkualitas rendah. Salah satu pengukur kualitas kayu adalah sifat struktur makroskopik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur pohon, bonita dan posisi aksial batang terhadap struktur makroskopis kayu dan kualitas kayu. Tiga puluh enam pohon jati muda ditebang dari kawasan hutan KPH Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Tiga cakram berketebalan 3 cm diambil dari masing-masing posisi aksial batang, yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung. Pengukuran proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun dilakukan berdasarkan perbedaan warna alami dan dengan menggunakan lembaran plastik transparan bergambar pola milimeter. Data dianalisis dengan analisis varians dalam rancangan acak lengkap berblok yang disusun secara faktorial. Pengujian lanjutan dilakukan dengan uji HSD Duncan. Kualitas kayu ditentukan dengan analisis determinan berdasarkan kurva normal Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi tiga faktor tidak berpengaruh terhadap proporsi kayu teras, dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi kelas umur dan bonita pengaruh nyata terhadap proporsi kayu teras dan dimensi lingkarah tahun. Posisi aksial batang berpengaruh secara nyata terhadap proporsi kayu teras dan berpengaruh sangat nyata terhadap dimensi lingkaran tahun. Semakin mendekat pada posisi pangkal batang, semakin tinggi proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi tiga faktor yaitu kelas umur V, bonita 4 dan posisi tengah batang menghasilkan kualitas kayu tertinggi, yaitu kelas 2, dan interaksi kelas umur V, bonita 3 dan bagian ujung batang menghasilkan kualitas terendah, yaitu kelas 4. Penggunaan kayu berbasis kualitas akan memaksimalkan nilai guna dan meningkatkan umur pakai produk, sehingga mengurangi intensitas penebangan hutan dan lebih ramah lingkungan hidup.ABSTRACTYoung teak utilization is an alternative solution of limited raw materials faced by furniture industry. Young wood tends to have a low-quality wood. One element for measuring wood quality is wood macroscopic structure properties. This study was aimed to determine the effect of tree age, site quality index and axial stem position on wood structures and wood quality. Thirty-six young teak trees were harvested on forest areas of Kendal Forest District, Central Java Province. Three disks were taken from each trunk, namely from the butt, middle and upper parts. Heartwood proportion and annual ring dimensions were measured based on natural color difference by using millimeter grid apparatus. Data were analyzed by using variance analysis arranged in blocked factorial and further testing were performed by using HSD Duncan. Wood quality was analyzed using determinant method which elaborated based on Z norm curve. Results showed that interaction of three factors did not affect on heart-wood proportion and growth ring dimensions. Interaction of age classes and site quality index influence significantly on heart-wood proportion and growth ring dimensions. Stem axial position significantly affects on heart-wood proportion and very significantly effect on growth ring dimensions. The lower wood position, the higher heart-wood proportion and the wider growth ring dimensions. Interaction of three factors namely class age V, site quality index 4 and middle trunk position has a highest wood quality, namely class 2, but interaction of age class V, site quality index 3 and top trunk has the lowest one, namely class 4. The use of wood-based quality will maximize the value and increase the product lifespan, thereby reducing the intensity of logging and become more environmental friendly.
KEARIFAN LOKAL PENGGUNAAN KAYU GELAM DALAM TANAH RAWA GAMBUT DI KALIMANTAN TENGAH (Local Wisdom of Utilization of Gelam Wood on Peatswamp Land of Central Kalimantan) Wahyu Supriyati; Tibertius Agus Prayitno; Sumardi Sumardi; Sri Nugroho Marsoem
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18729

Abstract

ABSTRAKMasyarakat di daerah rawa gambut memerlukan kayu sebagai cerucuk atau tiang pancang rumah. Kayu Gelam (Maleleuca sp) ditemukan melimpah di hutan rawa gambut di Kalimantan. Kayu Gelam termasuk kelas awet 3 yang berarti hanya dapat dipergunakan di bila berhubungan dengan tanah selama 3 tahun. Kenyataan yang ada kayu Gelam sebagai cerucuk /tiang pancang rumah dalam tanah rawa tetap kuat lebih selama lebih dari 30 tahun. Pemanfaatan kayu ini mendukung untuk konservasi hutan rawa gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melestarikan hutan di peatwamp melalui penghematan pemanfaatan kayu yaitu dengan mempelajari pengaruh lama penimbunan dan letak radial terhadap sifat fisika, mekanika dan kandungan silika kayu Gelam. Penelitian dilakukan pada kayu Gelam yang telah ditimbun dalam rawa gambut selama 10, 19, 31 dan 38 tahun. Sifat kayu yang dianalisis adalah sifat fisika mekanika mengikuti BS No 373. Uji silika dengan spektrometer. Analisis menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktorial. Hasil menunjukkan bahwa lama penimbunan meningkatkan berat jenis kayu Gelam secara signifikan. Semakin lama penimbunan, semakin tinggi berat jenis (0,54-0,75). Persamaan yang diperoleh Y=0,449+0,063x1+0,01x2 (Y=BJ kering tanur, x1= lama penimbunan, x2= letak radial). Pengaruh lama penimbunan pada kekerasan sejalan dengan BJ. Kadar silika kayu Gelam meningkat dengan semakin lama penimbunan. Lama penimbunan (10-38 tahun) meningkatkan BJ kering tanur 28,13 %, kekerasan 12,83%; kandungan silika 1,25%. Penggunaan kayu Gelam merupakan kearifan lokal yang terbukti melestarikan lingkungan karena menghemat pemanfaatan kayu yang dinyatakan dengan kualitas kayu Gelam yang relatif tidak menurun dalam penimbunan.ABSTRACTLocal community on peatswamp area need woods as poles. Gelam (Maleleuca sp) wood is found abundantly in peatswamp forest area in Kalimantan. It is 3th durability class and expected to withstand up to three years of utilitation outdoor. However, gelam wood used for house poles in peatswamp could be still strong enough more than 30 years. Utilization this wood supports to conservation of peatswamp forest. The aim of this research is to study the effect of burying time and radial position to physical, mechanical properties and silica content of gelam The research was conducted by gelam wood which buried in peatswamp for several years namely 10, 19, 31 and 38 years. Wood properties that analyzed were physical and mechanical properties followed the British Standard No. 373. Silica testing by spectrometer. Analyze use factorial experimental of Completely Random Design. The result showed that wood specific gravity significantly increase with the lenght of burying time. The longer burying time, the higher wood specific gravity (0.54 to 0.75). Equation Y=0.449+0.063x1+0.01x2 (Y=oven dry SG, x1=burying time, x2=radial posision). The effect of burying time on hardness parallel with wood specific gravity. Burying time factor increase value of specific gravity 28.13 %, hardness 12.83%; silica content 1.25%. The use of gelam wood support to conserve the environment because it saves wood utilization expressed by gelam wood quality relatively undegradation in burial.
KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN, TANAH DAN SUNGAI DI DESA SINGENGU, KECAMATAN KOTANOPAN KABUPATEN MANDAILING NATAL , SUMATERA UTARA (Environmental Wisdom on Management of Forest, Soil and River in Singengu Village, Kotanopan District) Cut Nuraini
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18730

Abstract

ABSTRAKDesa Singengu adalah desa pertama yang dibangun oleh leluhur orang-orang marga Lubis pada saat turun gunung. Warga desa Singengu meyakini bahwa hutan, tanah dan sungai tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk beraktivitas mencari nafkah, tetapi juga memiliki nilai ias (suci). Area-area tertentu di dalam hutan dan sungai dianggap taboo (pantang) untuk dimasuki. Pelanggaran atas larangan tersebut diyakini akan mendapatkan kutukan dari roguk (penunggu). Penelitian ini terkait dengan dua realitas, yaitu tangible (nyata) dan intangible (tidak nyata) sehingga paradigma yang tepat untuk menggali makna dibalik fenomena dua realitas tersebut adalah fenomenologi. Metode fenomenologi yang digunakan adalah fenomenologi Husserlian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian hutan dan sungai dilakukan melalui dua cara, yaitu peraturan tertulis dalam bentuk uhum dohot ugari (aturan/ketentuan adat yang dibuat oleh leluhur) dan mitos tentang rarangan (larangan) dan roguk (penunggu) sehingga beberapa area tertentu menjadi ‘terlarang’ bagi aktifitas manusia. Warga desa Singengu mengelola, memanfaatkan dan melestarikan lingkungan hutan-sungai melalui konsep taboo (pantang) sebagai pangolat (pembatas) tempat, sehingga terbentuklah dua jenis tempat, yaitu tempat-tempat yang boleh dilakukan aktifitas di dalamnya dan tempat-tempat yang dilarang.ABSTRACTSingengu is the first village that was built by the ancestors of the Lubis clan people on the way down the mountain. Singengu people believe that forest, soil and river are not only used as a place to indulge for a living, but it also has ias (sacred) value. Specific areas within the forest and river is considered taboo (abstinence) to be entered. Violation of the ban is believed to be getting the curse of roguk (gatekeepers/guardian). Research on systems management, utilization and conservation of forest, soil and river is related with two realities, namely the tangible (real) and intangible (not-real) so that the appropriate paradigm to explore the meaning behind two reality phenomena is phenomenology method. Phenomeology method which is used is Husserlian phenomenology. The results showed that the system of management, utilization and conservation of forest and river done in two ways, namely in the form of written rules uhum dohot ugari (rules /regulations made by ancestral custom) and myths about rarangan (ban) and roguk (gatekeepers) so that certain areas be 'forbidden'/prohibited for human activities. Singengu people manage, utilize and conserve the forest, soil and river environments through concepts taboo (abstinence) as pangolat (barrier/delimiter) places, thus forming two types of places, places that may do the activities in it and forbidden places.
PENGELOLAAN DAN KONSERVASI SATWA BERBASIS KEARIFAN TRADISIONAL DI PAPUA (Wildlife Management and Conservation Based on Traditional Wisdom in Papua) Freddy Pattiselanno; Jacob Manusawai; Agustina Y.S. Arobaya; Herman Manusawai
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18731

Abstract

ABSTRAKKearifan tradisional didefinisikan sebagai sistem sosial, politik, budaya, ekonomi dan lingkungan dalam kehidupan suatu komunitas tertentu yang dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan konsep kearifan tradisional dalam akitivitas perburuan satwa pada kelompok etnik tertentu di Papua sebagai langkah alternatif konservasi satwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kearifan tradisional oleh masyarakat asli Papua bervariasi antara satu dengan lainnya. Konsep-konsep yang berhasil diidentifikasi dan masih tetap dipraktekkan sampai dengan saat ini di antaranya teknik dan peralatan berburu, lokasi perburuan, musim berburu dan target perburuan. Kesemuanya adalah potensi yang harus dilestarikan dan deikembangkan guna menunjang program konservasi satwa di Papua.ABSTRACTTraditional wisdom is defined as social, politic, culture, economics and environment system in particular communities life which dynamic, sustainably and acceptable. This article aimed to discuss traditional wisdom concept in wildlife hunting by some ethnic groups in Papua as an alternative way on wildlife conservation. The study indicated that traditional wisdom aspect of the native Papuan was varies among others. An identified concept of traditional wisdom which still put into practice around the study site was technique and tools of hunting, location, hunting season and hunting target. This concept is the potency which could be sustained and developed in order to support the wildlife conservation program in Papua.

Filter by Year

2001 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue