cover
Contact Name
Heffry V. Dien
Contact Email
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Phone
+62811432676
Journal Mail Official
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Kampus Unsrat, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
Memuat hasil penelitian dan critical review (tinjauan kritis) tentang ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan yang mencakup, tapi tidak terbatas pada bidang: rancang bangun dan hidrodinamika alat tangkap ikan, rancang bangun dan hidrodinamika kapal perikanan, operasi penangkapan ikan, meteo-oseanografi perikanan dan kelautan, daerah penangkapan ikan, biologi perikanan, pengelolaan perikanan dan kelautan
Articles 212 Documents
Pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan pancing dasar di perairan Marore Kecamatan Kepulauan Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe (The effect of different kind of baits on the catch of bottom hand line inMarore waters, Marore Islands District Sangihe Islands Regency) Jenly G. Onthoni; Lefrand Manoppo; Revols D. Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.17005

Abstract

Marore Island is one of the northernmost outermost islands in the territorial waters of Indonesia. The problems that often hamper the development of outer islands are the low ability of the community to manage the potential of marine resources and the lack of production facilities and infrastructure. Characteristic of an archipelagic region is to have relatively high fishery resources, but very susceptible to environmental degradation with very dynamic and unpredictable meteorological conditions. Bottom hand line is one of the many fishing gear used by fishermen in Marore Island to catch bottom fish; but it is not yet known which bait is most effective for catching the fish. Therefore this study aims to study the effect of different kind of bait on the catch of bottom hand line, and to identify the catch. This research was conducted in November until December 2016 with experimental method. The baits used consist of mackerel fish (Decapterus macarellus), selar (Selaroides sp.), frigate tuna (Auxixrochei.) and squid (Loligo sp.); the data were analyzed using randomized block design.  Total catch of 136 fish; which consists of 6 families, 14 genera and 24 species.  Analysis of variance show that the use of mackerel bait is no different from frigate tuna, but significantly different from selar; the use of frigate tuna bait is not significantly different from selar.Keywords: Outer Island, Marore Island, coral fishes, bottom hand lineABSTRAKPulau Marore adalah salah satu pulau terluar paling utara di wilayah perairan Indonesia. Permasalahan yang sering menghambat perkembangan pulau-pulau terluar seperti Pulau Marore adalah masih rendahnya kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya laut dan minimnya sarana dan prasarana produksi. Ciri khas suatu wilayah kepulauan adalah memiliki sumberdaya perikanan yang relative tinggi, tetapi sangat rentan terhadap degradasi lingkungan dengan kondisi meteorologis yang sangat dinamis dan sulit diprediksi. Pancing dasar merupakan salah satu alat tangkap yang banyak di gunakan oleh nelayan di PulauMarore untuk menangkap ikan-ikan dasar; tetapi belum diketahui umpan mana yang paling efektif untuk menangkap ikan-ikan tersebut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan pancing dasar; dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap.  Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2016 dengan metode eksperimental. Umpan yang digunakan terdiri dari ikan layang (Decapterusmacarellus), selar (Selaroides sp.), tongkol (Auxix rochei.) dan cumi-cumi (Loligo sp.).dan data dianalisis menggunakan rancangan acak kelompok.  Hasil tangkapan total sebanyak 136 ekor; yang terdiri dari 6 famili, 14 genus dan 24 spesiesikan. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan pada pancing dasar memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukkan bahwa penggunaan umpan cumi berbeda sangat nyata dengan ketiga umpan lainnya. Penggunaan umpan laying tidak berbeda dengan umpan tongkol tetapi berbeda sangat nyata dengan umpan selar. Penggunaan umpan tongkol tidak berbeda nyata dengan umpan selar.Kata-kata kunci: PulauTerluar, PulauMarore, ikan-ikankarang, pancing dasar
Kajian aspek teknis unit penangkapan kapal pole and line yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (Study of technical aspects of pole and line fishing catching unit at Bitung Oceanic Fishing Port) Sutrisno .; Meta S. Sompie; Janny F. Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.17008

Abstract

The objective of the research is to know technical aspect of pole and line fishing unit based at Bitung Oceanic Fishing Port. This thesis is expected to be an information for of Indonesia people especially North Sulawesi to efforts increase and development of pole and line fishing units. The method used in this thesis is descriptive method of technical aspects such as ship size, number of trips, number of anglers, number of catches. Data were analyzed descriptively by comparing technical variables that influence the catch, then the analysis result presented in graph. In general this research is a non hypothesis so that in the step of his research does not need to formulate of hypothesis. From the data of the research of the pole and line fishing gear in the Bitung Oceanic Fishing Port, where is the main ship size varies with length (L) from 25.37 to 28.75 m, breadt (B) from 4.50 to 5.17 m, depth (D) from 2.20 to 2.65 m, and length overall (Loa) from 30.55 to 33.15 m, and the size of fishing gear with the length of rod used varies also between 2.15 to 3.15 m, made entirely of bamboo material with a diameter of 3 cm. The length of the rope used varies from 2.50 to 3.10 m, made of nylon material, used fishing rods numbered 4 to 6, made of tin, the number of fishing gear that was taken each ship varies between 50 to 100 pieces. The number of catches from January to November 2016 skipjack (katsuwonus pelamis) of 7,922,288 kg with 218 trip trips, carried out by 8 ships with 20 to 25 persons.Keywords: ship size, number of trips, number of bait, number of anglers and catch ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui aspek teknis unit penangkapan kapal pole and line yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi rakyat Indonesia khususnya Sulawesi Utara untuk kemudian dilakukan usaha peningkatan dan pengembangan unit penangkapan kapal pole and line.  Metode yang digunakan dalam Skripsi ini adalah metode deskriptif yaitu aspek teknis seperti ukuran kapal, jumlah trip, jumlah pemancing, jumlah hasil tangkapan dan ketersediaan umpan. Data dianalisis secara deskriptif yaitu dengan membandingkan variabel-variabel teknis yang mempengaruhi hasil tangkapan, selanjutnya hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik. Pada umumnya penelitian ini merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Dari data hasil penelitian mengenai alat tangkap kapal pole and line yang berpangkalang di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, dimana ukuran utama kapal bervariasi dengan ukuran panjang (L) berkisar antara 25,37 – 28,75 m, Lebar (B) berkisar antara 4,50 – 5,17 m, Dalam (D) berkisar antara 2,20 – 2,65 m, dan panjang keseluruhan (Loa) berkisar antara 30,55 – 33,15 m, dan ukuran alat tangkap dengan panjang joran yang digunakan bervariasi juga antara 2,15-3,15 m, terbuat seluruhnya dari bahan bambu dengan diameter pangkal 3 cm. Panjang tali yang digunakan bervariasi dari 2,50-3,10 m, terbuat dari bahan nilon, mata pancing yang digunakan berukuran nomor 4-6, terbuat dari besi yang dilapisi timah, jumlah alat tangkap yang dibawa setiap kapal bervariasi antara  50-100 buah. Jumlah hasil tangkapan dari bulan Januari s/d November 2016 adalah: ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sebanyak 7.922.288 kg dengan jumlah trip 218 trip, yang dilaksanakan oleh 8 buah kapal dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 20 - 25 orang.Kata Kunci : Ukuran Kapal, Jumlah Trip, Jumlah Umpan, Jumlah Pemancing dan Hasil Tangkapan.
Fluktuasi hasil tangkapan mini purse seine yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Bitung (Catch fluctuations of mini purse seine landed in Oceanic Fisheries Port, Bitung) Sunarto Sunarto; Isrojaty Johanes Paransa; Alfred Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.18664

Abstract

Fish catches landed in the Oceanis Fisheries Port (OFP), Bitung, are mackerel (Decapterus sp), ray finned bony fish (Euthynus sp), yellowstripe scad (Selaroides sp), and mackerel (Rastrelliger sp). This study used descriptive method and aimed to know the composition and the fluctuation of mini purse seine catches landed in OFP Bitung, to know the catch per unit effort (CPUE), and to analyze the fishing season.  Catch composition in 2012-2016 consisted of Euthynnus spp. (37.30%), Decapterus sp. (27.59%), Selaroides sp. (25.89%), and Rastrelliger sp. (9.22%). The highest total number of catch occurred in 2014 (650.29 tons), then in 2015 (509. 91 ton), and 2016 (338.31 tons). The highest CPUE was recorded in 2012 and 2013, in November and August, respectively. In 2014, the highest occurred in September then December. In 2015, the highest was found in  January then March. In 2016, the highest was recorded in June than October and November. Fishing season in 2012 and 2013 occurred in October and August; In 2014, the highest was in September then December; in 2015, the highest occurred in January, and in 2016, the highest was in June.Keywords; mini purse seine, small pelagic fish, CPUE, fishing season ABSTRAK Hasil tangkapan yang di daratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Bitung , adalah ikan layang (Decapterus sp), ikan tongkol (Euthynus sp), ikan selar (Selaroides sp), dan ikan kembung (Rastrelliger sp). Penelitian menggunakan metoda deskriptif, bertujuan mengetahui komposisi dan fluktuasi jumlah tangkapan mini purse seine yang didaratkan di PPS Bitung, mengetahui tingkat upaya penangkapan dengan mini purse seine, menganalisis musim penangkapan ikan dengan mini purse seine yang didaratkan di PPS Bitung.  Komposisi jumlah tangkapan mini purse seine rata-rata Tahun 2012 - 2016 terdiri ikan tongkol (37,30%); ikan layang (27,59%), ikan selar (25,89%) dan ikan kembung (9,22%). Total jumlah tangkapan tertinggi terjadi pada Tahun 2014 (650,29 ton), kemudian Tahun 2015 (509, 91 ton) dan Tahun 2016 (338,31 ton).  tingkat upaya penangkapan ikan (CPUE) dengan mini purse seine Tahun 2012 dan 2013, tertinggi pada bulan November kemudian Agustus; Tahun 2014 tertinggi bulan September kemudian Desember; Tahun 2015 tertinggi bulan Januari kemudian Maret; Tahun 2016 tertinggi bulan Juni kemudian Oktober dan November. Musim penangkapan ikan dengan mini purse seine Tahun 2012 dan 2013 terjadi pada bulan Oktober dan Agustus; Tahun 2014 tertinggi bulan September kemudian Desember; Tahun 2015 tertinggi bulan Januari dan Tahun 2016 tertinggi di bulan Juni.Kata-kata kunci, mini purse seine, pelagis kecil, CPUE, musim penangkapan
Strapping band sebagai asesori pada jaring insang dasar untuk meningkatkan hasil tangkapan (Strapping band as accessories in bottom gill net to increase catches) Isrojaty Johanes Paransa; Sudirman .; Emil Reppie
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.18812

Abstract

This study was aimed at analyzing the use of strapping band on the fish catch of bottom gill net. It was carried out by installing strapping bands on the sinker line with interval distance of 30 cm. 50 cm. and 90 cm, respectively. The traditional bottom gill net was used as control treatment. Fishing operations were conducted for 10 trips. Results showed that fish catches consisted of 12 species. The use of different strapping band distances obtained 109 individuals of fish for 30 cm distance, 76 individuals for 60 cm, and 45 individuals for 90 cm, respectively. Nevertheless, an optimal distance determination of the strapping band needs to be done in order to maximize the catch.Keywords: bottom gill net, strapping band, demersal fish ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis penggunaan strapping band terhadap hasil tangkapan pada jaring insang dasar. Penelitian dilakukan dengan mengoperasikan jaring insang dasar yang telah dipasang strapping band dan jaring insang dasar sebagai kontrol. Jarak antar strapping band masing-masing adalah 30 cm, 60 cm, dan 90 cm. Operasi penangkapan dilakukan sebanyak 10 trip dengan hasil tangkapan terdiri dari 12 spesies ikan dasar. Penggunaan jarak strapping band masing-masing memperoleh hasil tangkapan sebanyak 109 ekor untuk jarak 30 cm, 76 ekor untuk jarak 60 cm dan 45 ekor untuk jarak 90 cm. Meskipun demikian, penentuan jarak yang optimal untuk penempatan strapping band perlu dilakukan untuk memaksimalkan hasil tangkapan.Kata-kata Kunci: jaring insang, strapping band, ikan dasar.
Fluktuasi Musiman Cakalang (Katsuwonus pelamis): Studi Kasus Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (Seasonal Fluctuation of Skipjack (Katsuwonus pelamis): Case Study of Bitung Oceanic Fishing Port) Ismanto A.R. Taib; Lusia Manu; Alfred Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.18853

Abstract

In this study we determined the seasonal catch fluctuations of skipjack (Katsuwonus pelamis) which landed at the Bitung Oceanic Fishing Port using descriptive method through case study approach. Data were analysed using analyzes period methods. The results indicated that the high seasonal index occurred from March to October, where the peak season occurred in May and August, and the respective indexes were 0.23 and 0.22 or equivalent to the catch average of 2.98 and 3.00 tons; and the low fishing season index was from November to February, which the lowest seasonal index of -0.36 occurred in December or equivalent to the catch average of 1.56 tonKeywords: fishing season, fluctuation, skipjack, Bitung ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi musim penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra Bitung dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan studi kasus. Data dianalasis menggunakan metode analisis periode.  Hasil penelitian menunjukkan Indeks musim yang besar terjadi pada bulan Maret sampai Oktober, dimana puncak musim terjadi pada bulan Mei dan Agustus dengan index masing-masing sebesar 0,23 dan 0,22 atau hasil tangkapan rata-rata 2,98 dan 3,00 ton, dan indeks musim penangkapan terkecil berada pada bulan November – Februari, dimana indeks musim terendah terjadi pada bulan Desember yakni sebesar 0,36 atau rata-rata tangkapan sebesar1,56 tonKata-kata kunci : Musim penangkapan, fluktuasi, Cakalang, Bitung
Produktivitas purse seiner 15 – 30 GT penangkap ikan layang (Decapterus sp) (Productivity of Scads Purse Seiner 15-30 GT) Yustin Yusuf; Lusia Manu; Alfred Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.18904

Abstract

Productivity of purse seiner contributes to fishing catch. The purpose of this research was determined the productivity of scads purse seiner > 15 GT - 30 GT which landed at the Bitung Oceanic Fishing Port during 2016. Descriptive method with purposive sampling technique used in this research. The results indicated that were 8 purse seiners having the productivity value is greater than 1.2 tons with the highest production of 216.51 tons. Keywords: productivity, purse seiner, scads, Bitung ABSTRAKProduktivitas kapal purse seine berkontribusi terhadap hasil penangkapan ikan.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui produktivitas kapal purse seine penangkap ikan layang (Decapterus sp.) berukuran > 15 GT – 30 GT yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Bitung selama tahun 2016. Metode deskriptif dengan teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan terdapat 8 kapal yang nilai produktivitasnya lebih besar dari 1,2 ton dengan produksi sebesar 216,51 tonKata-kata kunci: Produktivitas, kapal purse seine, ikan layang, Bitung
Komposisi hasil tangkapan jaring insang dasar di perairan Desa Talise Tambun, Kecamatan Likupang Barat (Composition catches of bottom gillnet in Talise Tambun Waters of Likupang Barat District) Fransina Kawarnidi; Ivor L. Labaro; Fanny Silloy
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.18906

Abstract

The bottom gill nets are the most common fishing gear in coastal areas, with different mesh sizes.The catch of bottom gill nets is generally dameral fish with different sizes and species. Scientific information about the difference of catch composition in the 3-inch and 4-inch mesh size of bottom gill nets is still poorly available. It is therefore necessary to study a composition of the catch on two bottom gill net mesh sizes of 3 inches and 4 inches, comparing the composition of the quantity and weight of the catch and identify the species of fish caught.  This research was done in coastal waters of Talise Tambun village, Likupang Barat District of Minahasa Utara Regency for two weeks October 2017; following a descriptive method based on case studies. Two unit bottom gill nets were operated seven trips to data colected; and the data were analyzed by composition species analysis and weight composition.The results showed that the composition of the catch quantity of bottom gill net 3-inch 64 fish and 48 species dominated by Rengginan fish 21.88%, while the catching composition of 4-inch mesh size amounted to 91 fishes and 63 species dominated by Swangi as 14.29% .  The weight catch composition of the 3-inch bottom gill net was dominated by sharks of 25.16% with a weight of 33.386 kg, while the 4-inch bottom gill net catch weights were dominated by snapper as 35.71% with a weight of 101,502 kg.The results of the analysis showed that the 3-inch mesh size of bottom gill net catch composition of both the quantity, the species and the catch weight was better than the 4-inch capture composition.Keywords: Bottom gillnet, weight, composition ABSTRAKJaring insang dasar adalah alat tangkap yang banyak ditemukan diwilayah pesisir, dengan ukuran mata jaring yang berbeda-beda.Hasil tangkapan jaring insang dasar umumnya ikan damersal dengan ukuran dan jenis yang berbeda.Informasi Ilmiahtentang perbedaan komposisi hasil tangkapan pada jaring insang dasar mata 3 inci dan 4 inci masih kurang tersedia.Untuk itu perlu suatu penelitian yang bertujuan mengetahui komposisi hasil tangkapan pada dua ukuran mata jaring insang dasar 3 inci dan 4 inci, membandingkan komposisi jumlah dan bobot hasil tangkapan dan mengidentifikasi jenis ikan yang tertangkap.Penelitian ini dilaksanakan di perairanDesa Talise Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara;  selama 2 minggu, pada bulan Oktober 2017;  dikerjakan dengan mengikuti metode deskriptif yang didasarkan pada studi kasus.Dua unit jaring insang dasar PA Multifilament dengan besar mata masing-masing 3 dan 4 inci dioperasikan selama 7 trip untuk mengumpulkan data; dan data dianalisis dengan analisis komposisi jenis dan komposisi bobot.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jumlah tangkapan  jaring insang dasar mata 3 inci sebanyak  64 ekor dan 48 jenis yang didominasi oleh ikan Rengginan sebesar 21.88%, sedangkan komposisi tangkapan jaring insang dasar 4 inci berjumlah 91 ekor dan 63 jenis yang didominasi oleh  ikan Swangi sebanyak 14.29 %.  Selanjutnya komposisi bobot tangkapan jaring insang dasar mata 3 inci didominasi oleh ikan Hiu sebesar 25.16 % dengan  bobot 33,386 kg, sedangkan komposisi bobot tangkapan jaring insang dasar mata 4 inci didominasi oleh ikan kakap sebanyak 35.71% dengan bobot 101,502 kg. Hasil analisis menunjukkan bahwa komposisi tangkapan jaring insang dasar mata 3 inci baik jumlah, jenis maupun bobot tangkapan lebih baik dibandingkan dengan komposisi tangkapan jaring insang dasar mata 4 inci.Kata-kata Kunci: Jaring insang dasar, bobot, komposisi.
Kajian Produktivitas Perikanan Tuna Cakalang Tongkol yang Tertangkap dengan Kapal Pukat Cincin (purse seine) 20 – 30 GT di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (Productivity of Tuna, Skipjack, Tuna Frigate Catched by Purse Seiner 20 - 30 GT Landed in Bitung Oceanic Fishing Port) Fransisco W. Prasetyo; Lusia Manu; Revols R.D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.18909

Abstract

The purpose of this research is to distinguish the productivity of purse seiner 20 - 30 GT and the fluctuation of Tuna, Skipjack and Tuna frigate landed in Bitung Ocean Fishing Port for the period of 2011 to 2015. Survey method with descriptive approach was applied in this research. The result indicated that the production reached the peak on 2011 to 2012 and subsequently decreased until 2015. In general, the production of every single purse seiner has shown a tendency to increase.Keywords : productivity, tuna, skipjack, tuna frigate, purse seiner, Bitung. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui produktivitas kapal dan fluktuasi hasil tangkapan ikan Tuna, Cakalang, Tongkol yang menggunakan  kapal purse seine 20 – 30 GT di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung untuk periode tahun 2011 sampai 2015. Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode survei dengan pendekatan secara deskriptif. Puncak produksi terjadi pada tahun 2011 sampai tahun 2012 dan selanjutnya mengalami penurunan  sampai tahun 2015. Perkembangan produksi per trip secara umum dari setiap kapal menunjukkan kecenderungan untuk naik.Kata-kata kunci: produktivitas, tuna, cakalang, tongkol, kapal purse seine, Bitung.
Studi tentang sertifikasi hasil tangkapan ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (Study on Fish Catch Certification in Samudera Bitung Fishing Port) Arthur B. Samola; Johnny Budiman; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.19369

Abstract

European Union is nowadays the largest market in the world for fisheries products; it is also the strickest country in controlling the food security. It has also established requirements for marine fisheries products (fresh or processed products) exported directly or indirectly to European Union must be free of IUU Fshing. The fish catch certification follows the legal aspects and national reguaations in line with international regulations. Fish catch certification consists of Initial Sheet, Derivative Sheet, and Simplified Derivative Sheet. The objectives of the study are to know the issuance procedure of fish catch certificate in the form of preliminary document, the issuance procedure of fich catch certificate iin the form of derivative document as export supporting document, and the issuance procedure of fish catch certificate in simple form of derivative document. This study was carried out in September - November 2016 in Samudera Bitung Fisheries Port. The initial sheet is used for >20 GT-fishing vessels and proposed by the ship owner or its representative, the derivative sheet was used for the fish processing unit, and the simplified derivative sheet was export and fishing document for < 20 GT-fishing boat. This document is fish catch certificate under agreement between DG MARE and Indonesian government.Keywords: IUU fshing, certification, initial sheet, derivative sheet, simplified derivative sheet Abstrak[1]Uni Eropa saat ini merupakan pasar terbesar di dunia untuk produk perikanan, namun merupakan negara yang paling ketat dalam pengaturan keamanan pangan. Juga telah menetapkan persyaratan bagi produk hasil tangkapan ikan di laut (segar maupun olahan) yang akan diekspor ke Uni Eropa secara langsung maupun tidak langsung harus bebas dari praktek IUU Fshing.  Pelaksanaan Sertifikasi Hasil Tangkapan Ikan mengacu pada dasar hukum dan peraturan nasional serta dengan mengikuti ketentuan aturan international. Sertifikasi Hasil Tangkapan Ikan terdiri atas 3 jenis yaitu Lembar Awal (Initial Sheet), Lembar Turunan (Derivative Sheet) dan Lembar Turunan yang Disederhanakan (Simplified Derivative Sheet). Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk, mengetahui prosedur penerbitan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Awal (SHTI-LA), prosedur penerbitan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan (SHTI-LT) dan prosedur penerbitan Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan Lembar Turunan yang Disederhanakan (SHTI-LTS). Penelitian ini dilakukan pada bulan September - November 2016 di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (PPS). Dokumen  Lembar Awal digunakan untuk kapal penangkap berukuran  >20 GT, dokumen Lembar Turunan untuk unit pengolahan ikan, dan dokumen Lembar Turunan yang diserhanakan sebagai dokumen ekspor dan penangkapan ikan bagi kapal penangkap berukuran  < 20 GT. Dokumen yang disebut terakhir adalah sertifikat hasil tangkapan ikan di bawah kesepakatan antara DG MARE dan pemerintah Indonesia.Kata-kata Kunci: IUU fshing, sertifikasi, lembar awal, lembar turunan, lembar turunan yang disederhanakan
Studi tentang pelayanan terhadap kapal perikanan Di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa Kota Manado (Study on Fishery Ship Service at Tumumpa Coastal fishing port (PPP) at Manado City) Nikodemus Kirwelakubun; Mariana E. Kayadoe; Janny F. Polii; Frangky F. Kaparang; Fransisco P.T. Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 3 No. 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.1.2018.19377

Abstract

To achieve the purpose of fisheries development the most important thing to note is the development of fishing ports. This research is to assess the service of fishing vessel in PPP Tumumpa concerning: mooring service, loading and unloading service, port and shipping administration services.  Primary data in this study were collected by conducting a direct survey to the PPP location. Data obtained from this study were analyzed by using qualitative analysis. The number of fishing vessels based in PPP Tumumpa are 166 ships, 41% of them are between 20-30 GT with 4,5-5,5 in breadths. With harbour length of 50 m, the number of fising vessels, berthing in the same time was only 8-9 ships. During 2016, the least number of ship visits was in February of 89 ships, and the most visits were in October of 233 ships. The mooring activity at PPP Tumumpa needed to queue for 2-3 days. The time required for the uploading and unloding activities is reasonable. The uploading and unloading activities at PPP Tumumpa were very disturbed by some facilities that were not in good condition. Fishery ship administration service in PPP Tumumpa has been running folowing the SOPs.keywords: fishing vessel, unloading and loading, fishing port ABSTRAKUntuk mencapai tujuan pembangunan perikanan hal yang paling penting diperhatikan adalah pelabuhan perikanan. Penelitian ini untuk menilai pelayanan kapal perikanan di PPP Tumumpa menyangkut  pelayanan tambat labuh, pelayanan bongkar-muat, pelayanan administrasi pelabuhan dan pelayaran. Data primer dikumpulkan dengan cara melakukan survei langsung ke lokasi PPP, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif.Kapal perikanan yang berpangkalan di PPP Tumumpa sebanyak 166 buah, dan 41% diantaranya berbobot antara 20-30 GT dengan lebar kapal rata-rata 4,5-5,5 m. Dengan panjang dermaga 50 m, jumlah kapal yang dapat berlabuh secara bersamaan hanya sebanyak 8-9 unit. Selang tahun 2016 kunjungan kapal dan penerbitan SPB paling sedikit pada bulan Februari sebanyak 89 kapal dan paling banyak pada bulan Oktober sebanyak 233 kapal. Kegiatan tambat labuh di PPP Tumumpa membutuhkan waktu antre 2-3 hari. Waktu yang dibutuhkan tambat labuh dan melakukan aktivitas bongkar muat sudah sesuai. Kegiatan bongkar muat sangat terganggu karena beberapa fasilitas dalam keadaan rusak. Pelayanan administrasi kapal perikanan di PPP Tumumpa sudah berjalan sesuai tahapan pada SOP.Kata-kata kunci : kapal perikanan, bongkar-muat, pelabuhan perikanan

Page 11 of 22 | Total Record : 212