cover
Contact Name
Khamami Zada
Contact Email
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Phone
+6221-74711537
Journal Mail Official
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sharia & Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat Jakarta 15412 Telp. (62-21) 74711537, Faks. (62-21) 7491821 Website:http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ahkam E-mail: jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah
ISSN : 14124734     EISSN : 24078646     DOI : 10.15408
Core Subject : Religion, Social,
Focus and Scope FOCUS This journal focused on Islamic Studies and present developments through the publication of articles and research reports. SCOPE Ahkam specializes on islamic law, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Fatwa; Islamic Economic Law; Islamic Family Law; Islamic Legal Administration; Islamic Jurisprudence; Islamic Law and Politics; Islamic Legal and Judicial Education; Comparative Islamic Law; Islamic Law and Gender; Islamic Law and Contemporary Issues; Islamic Law and Society; Islamic Criminal Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2012)" : 15 Documents clear
Implementasi Total Quality Management dalam Pengelolaan Wakaf di Dompet Dhuafa Sudirman Hasan
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.983

Abstract

Abstract: The Implementation of Total Quality Management in Waqf Management of the Dompet Dhuafa. This article raises issues about the total quality management (TQM) in waqf management. TQM is a major issue in management, especially for large companies, in a framework to increase the quality of product output and to satisfy customers. TQM nowadays is not only adopted by profit oriented companies but also non-profit institutions. For example, the Dompet Dhuafa has achieved Quality Management System ISO 9001:2008 certification. This article concludes that the implementation of TQM in waqf management of the Dompet Dhuafa is relatively advanced since it gives serious attention to customers, both external dan internal. Similarly with process improvement and total involvement, Dompet Duafa  points to enthusiasm of planned and structured improvement as well as involving all elements of the organization comprehensively.Keywords: waqf, total quality management, waqf managementAbstrak: Implementasi Total Quality Management dalam Pengelolaan Wakaf  di Dompet Dhuafa. Tulisan ini mengangkat isu tentang total quality management (TQM) dalam pengelolaan wakaf. TQM merupakan salah satu terobosan manajemen yang umumnya dilakukan oleh perusahaan besar dalam rangka meningkatkan kualitas produk yang pada muaranya dapat memuaskan konsumen.  TQM tidak hanya diadopsi oleh lembaga-lembaga yang berorientasi pada keuntungan material (profit oriented) namun juga lembaga-lembaga yang berbasis non profit (non-profit oriented). Salah satunya adalah Dompet Dhuafa yang telah berhasil meraih sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008. Tulisan ini menyimpulkan bahwa Implementasi nilai TQM dalam pengelolaan wakaf di Dompet Dhuafa dapat dikatakan relatif maju karena perhatian lembaga ini kepada pelanggan, baik eksternal maupun internal, cukup bagus. Begitu pula dalam hal perbaikan proses dan keterlibatan total, Dompet Dhuafa menunjukkan semangat perbaikan yang terencana dan terstruktur serta melibatkan semua elemen organisasi secara komprehensif.Kata Kunci: wakaf, total quality management, manajemen wakafDOI: 10.15408/ajis.v12i1.983
The Repentance of the Ahmadiah Sect after the Emergence of the West Javanese Governor’s Regulation: A Case Study in Bogor (توبة جماعة الأحمدية بعد إصدار قرار رئيس الدائرة جاوى الغربية: دراسة واقعية في منطقة بوغور) Ahmad Mukri Aji
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.988

Abstract

Abstrak: Pertaubatan Jamaah Ahmadiyah Pasca Terbitnya Peraturan Gubernur Jawa Barat: Studi Kasus di Wilayah Bogor. Gerakan Ahmadiyah telah menyebar ke setiap penjuru Negeri dengan membawa misi kesesatan yang merusak. Beragam fatwa bermunculan guna melarang gerakan ini, bahkan mengkafirkannya. Seperti larangan dari Lembaga Pengembangan Syariah di Dunia Islam, Lembaga Fiqhiyyah Râbithah al-‘Alam al-Islâmî, Lembaga Fikih Islam Organisasi Konferensi Islam, dan perhimpunan ulama-ulama di Kerajaan Arab Saudi, serta fatwa-fatwa ulama Mesir, Syiria, Maroko, India, Indonesia, dan sebagainya. Terakhir, adanya Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Barat melarang gerakan ini. Keputusan ini membawa pengaruh, terlihat dengan bertaubatnya beberapa anggota Ahmadiyah. Adapun alasan mereka adalah kembali ke agama Islam yang benar.Kata Kunci: Ahmadiyah, paham sesat, fatwa ulama, Peraturan Gubernur Jawa Barat, pertaubatan AhmadiyahAbstract: The Repentance of  the Ahmadiah Sect after the Emergence of  the West Javanese  Governor’s Regulation: A Case Study in Bogor. The movement of the Ahmadiah has spread all over the country, carrying a misguided mission that causes harm. Various Islamic verdicts (Fatwa) have been promulgated to ban this movement, moreover, some of these verdicts have outcast the movement as infidel. Like the prohibitions from the Institution of Shariah Development in the Islamic World, Institution of the Fiqhiyyah Râbithah al-‘Alam, al-Islâmî, Institution of Islamic Tought of the Islamic Conference Organization, the Association of Islamic Scholars of  the Saudi Arabia as well as verdicts of Islamic scholars from Egypt, Syria, Maroko, India, Indonesia and etc. Lastly, there is the West Javanese Governor’s decision prohibiting this movement. This decision carries influence, seen by the repentance of some of sect members, returning them to their true  Islamic religion.Keywords: Ahmadiyah, astray sect, Islamic verdict, West Java Governor Regulation, Ahmadiah repentanceDOI: 10.15408/ajis.v12i1.988
Integrasi Pendekatan Bayâni, Burhânî, dan ‘Irfânî dalam Ijtihad Muhammadiyah Afifi Fauzi Abbas
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.979

Abstract

Abstract: Integration Approach of Bayânî, Burhânî, and ‘Irfânî in Muhammadiyah Ijtihâd. Al-Jabirî offers three approaches (bayânî, burhânî, and ‘irfânî) to Islamic studies. The Bayânî approach is the philosophical study of knowledge development system that positions the text (revelation) as an absolute truth. The Burhânî approach is structured on the reasoning of Burhânî starting from the ta’aqqulî process of abstraction to reality. In the mean time, the approach of ‘irfânî is an understanding based on spiritual experience and intuition (dzawq, qalb, wijdân, bashîrah).  If each is permitted to proceed on their own (parallel), the benefit achieved will be minimal. Thus, if the interrelationship with each other is linear, one of them will arise as superior among the others. Muhammadiyah tries to interweave the three of them, a complementary and functional relationship, so they will have the spiral circular relationship.Keywords: bayânî, ‘irfânî, burhânî, textual, contextualAbstrak: Integrasi Pendekatan Bayâni, Burhânî, dan ‘Irfânî dalam Ijtihad Muhammadiyah.  Al-Jâbirî menawarkan tiga pendekatan (bayânî, burhânî, dan ‘irfânî) untuk studi keislaman. Pendekatan bayânî merupakan studi filosofis terhadap sistem bangunan pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai suatu kebenaran mutlak. Pendekatan burhânî berpola dari nalar burhânî,  bermula dari proses abstraksi yang bersifat ta‘aqqulî terhadap realitas. Sedangkan pendekatan ‘irfânî adalah pemahaman yang bertumpu pada pengalaman batin dan intuisi (dzawq, qalb, wijdân, bashîrah). Jika masing-masing dibiarkan berjalan sendiri-sendiri (paralel), nilai manfaat yang dapat diraih akan sangat minim. Demikian pula, jika dibiarkan hubungan antara yang satu dengan yang lainnya bersifat linear, maka hanya memunculkan yang satu lebih unggul dari yang lainnya. Muhammadiyah mencoba ketiganya dijalin berkelindan, saling melengkapi, dan fungsional sehingga hubungannya bersifat spiral sirkular.Kata Kunci: bayânî, ‘irfânî, burhânî, tekstual, kontekstualDOI: 10.15408/ajis.v12i1.979
Paradigma Formalisasi Hukum Islam di Indonesia Rahmatunnair Rahmatunnair
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.984

Abstract

Abstract: Formalization of an Islamic Law Paradigm in Indonesia. Formalization of Islamic law in Indonesia in principle is an effort of transformation of substantive values of Islamic Law within the system of National law. Indonesia is a constitutional state, so the formalization of Islamic law must refer to the constitution of the state. Therefore, the transformative paradigm of the means of formalization of Islamic law within the constitutional system is an appropriate choice and provides for broader prospects. Thus, the formalization of Islamic law in formal symbolic manner, especially in an effort to establish an Indonesian Islamic State, will only undergo distortions and will not provide benefits for the Islamic community in Indonesia.Keywords: formalization, Islamic law, national constitutionAbstrak: Paradigma Formalisasi Hukum Islam di Indonesia. Formalisasi hukum Islam di Indonesia pada prinsipnya merupakan upaya transformasi nilai-nilai subtanstif hukum Islam dalam sistem hukum Nasional. Indonesia adalah negara hukum, sehingga formalisasi hukum Islam mesti mengacu pada hukum negara. Oleh karena itu, paradigma transformatif bagi upaya formalisasi hukum Islam dalam sistem hukum Nasional adalah pilihan yang tepat dan memberikan prospek yang lebih besar. Dengan demikian, formalisasi hukum Islam secara formal simbolik apalagi dengan upaya mendirikan negara Islam Indonesia, hanya akan mengalami distorsi dan tidak banyak memberikan kebaikan bagi umat Islam Indonesia.Kata Kunci: formalisasi, hukum Islam, hukum NasionalDOI: 10.15408/ajis.v12i1.984
Al-Bid‘ah versus al-Mashlahah al-Mursalah and al-Istihsân: Al-Syâthibî’s Legal Framework Asep Saepudin Jahar
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.975

Abstract

Abstrak: al-Bid‘ah versus al-Mashlahah al-Mursalah dan al-Istihsân: Kerangka Hukum al-Syâthibî. Tulisan ini mengkaji pandangan Abû Ishâq al-Shâthibî (w. 790/1388) tentang bidah versus al-mashlahah al-mursalah  dan al-istihsân. Karya al-Syâthibî tentang konsep bidah dalam kitabnya, al-I'tishâm, sebagai respons terhadap ulama di zamannya yang menganggap bahwa al-mashlahah al-mursalah dan al-istihsân sebagai bentuk inovasi (al-bid‘ah). Tulisan ini akan mengelaborasi signifikansi gagasan al-Syâthibî dalam isu bidah yang memformulasikan kerangka syariah berbasis teks dan rasio dengan non-syariah. Pembahasan tentang bidah sebagai perbuatan yang bertentangan dengan prinsip syariah akan dianalisis dengan prinsip legalitas al-mashlahah al-mursalah  dan al-istihsân sebagai bagian dari metodologi penggalian hukum setelah Alquran, Sunah, ijmak, dan qiyâs. Tulisan ini juga ingin menguraikan keunggulan al-Syâthibî dalam epistemologi hukum dibanding ulama lain yang membahas isu serupa.Kata Kunci: al-istihsân, bidah, al-mashlahah al-mursalah, faqîh, teori hukumAbstract: Al-Bid‘ah versus al-Mashlahah al-Mursalah and al-Istihsân: Al-Syâthibî’s Legal Framework. This paper discusses with the juridical basis of Abû Ishâq al-Shâthibi’s (d. 790/1388) argument against those who considered al-mashlahah al-mursalah  (public interest) and al-istihsân (juristic preference) to be forms of innovation. The present discussion will examine the efficacy of al-Syâthibî’s distinction between al-bid‘ah (innovation), which is foreign and even contradictory to the shariah and the validity of the legal principles of al-mashlahah al-mursalah  and al-istihsân as subsidiary, yet valid sources of law under the Quran, the Sunnah, ijmâ’, and qiyâs (ratio legis). In addition, it will be shown how al-Syâthibî’s epistemological reliance on legal theory distinguished him from jurists who shared quite different views on the same matter. In the concluding remarks, the relevance of this theory with contemporary Muslim society with respect to pursuing legal practices is underlined.Keywords: al-istihsân, al-bid‘ah, al-mashlahah al-mursalah, faqîh, legal theoriesDOI: 10.15408/ajis.v12i1.975
Nilai Etis Risiko dalam Investasi “Mudharâbah” yang Dilakukan Bank Islam Menuju Penanganan Fikih Perbankan (المخاطر الأخلاقية في المضاربة التي تجريها المصارف الإسلامية رؤية لمعالجة فقهية مصرفية ) Hamzah Abdul Karim Hamad
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.989

Abstract

Abstract: Ethical Values of Risk In Investing In “Mudharâbah” undertaken by Islamic Banks, towards the handling of Fiqh  Banking. This study aims at determining the risk in the behavior of speculation, the role of Islamic doctrine to alleviate and decrease the consequences and show the banking tools to alleviate them. The results of the study show some treatment of Islamic doctrine to decrease risks that originate from the results of speculation. The study shows that Islamic banking can control speculators using all methods, yet it is disallowed to speculate on the speculator’s profit for reasons that are shown in the context of the study. Also, the study also shows other means to alleviate these risks.Keywords:  ethical values risk, mudharâbah, investment, Islamic banks.Abstrak: Nilai Etis Risiko dalam Investasi “Mudharâbah” yang Dilakukan Bank Islam Menuju Penanganan  Fikih Perbankan.  Penelitian ini bertujuan menentukan risiko dalam perilaku spekulasi, peran doktrin Islam untuk meringankan dan mengurangi konsekuensi dan menunjukkan alat perbankan untuk meringankannya. Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa perlakuan ajaran Islam dalam mengurangi risiko yang berasal dari  hasil spekulasi. Studi ini menunjukkan bahwa boleh mengontrol spekulan dengan menggunakan semua cara, namun tidak diizinkan untuk berspekulasi pada laba obligator spekulan sebagai alasan yang ditampilkan dalam konteks penelitian. Studi ini juga menunjukkan tentang cara lain untuk meringankan risiko ini.Kata Kunci: etika nilai risiko, mudharâbah, investasi, bank IslamDOI: 10.15408/ajis.v12i1.989
Konsep Harta Bersama dan Implementasinya di Pengadilan Agama Mesraini Mesraini
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.980

Abstract

Abstract: The Concept of  Joint Assets and its Implementation in the  Religious Court. Legislation in Indonesia stipulates that any property acquired during marriage becomes joint property of husband and wife, without distinguishing who works and who registered the property. If the marriage come to an ends, either through death or divorce, the property must be divided equally. In general, this study found that a panel of judges in the religious court division decided a case of the distribution of joint property is not outside of the statutory rules. Since no agreement or reconciliation had been made   by the husband and wife in dispute about the portion of the division of their property, the judge decided that the joint property be divided in the same amount. However, if there is an agreement between husband and wife, the division of the joint property will be based on that agreement.Keywords: community property, Compilation of Islamic Law, judgment, Court of Religion.Abstrak: Konsep Harta Bersama dan Implementasinya di Pengadilan Agama. Perundang-undangan di Indonesia mengatur bahwa setiap harta yang diperoleh selama perkawinan dijadikan sebagai harta bersama suami isteri, tanpa membedakan siapa yang bekerja dan harta itu terdaftar atas nama siapa. Apabila perkawinan itu berakhir, baik karena kematian maupun karena perceraian, maka harta tersebut harus dibagi dua sama banyak nilainya. Penelitian ini menemukan data bahwa secara umum majelis hakim Pengadilan Agama dalam memutuskan perkara pembagian harta bersama tidak keluar dari aturan perundang-undangan tersebut. Selama tidak ada kesepakatan atau perdamaian yang dibuat oleh suami dan isteri yang bersengketa tentang porsi pembagian harta bersama, majelis hakim memutuskan harta bersama tersebut dibagi sama banyak. Namun, apabila terdapat kesepakatan antara suami dan isteri, pembagian harta bersama didasarkan atas kesepakatan yang mereka buat.Kata Kunci: harta bersama, Kompilasi Hukum Islam, putusan hakim, Pengadilan AgamaDOI: 10.15408/ajis.v12i1.980
Tanggung Jawab Bank Syariah dalam Penerapan Prinsip Kehati-hatian dan Good Corporate Governance Renny Supriyatni
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.985

Abstract

Abstract: The Responsibilities of Shariah Banking in the application of Prudential Principles and Good Corporate Governance. A Bank’s functions as an intermediary institution is interesting in relation to the importance of responsibilities to customers in applying the principles of Good Corporate Governance (GCG). The application of the principle of prudence and good corporate governance in shariah banking is useful in minimizing risks that may arise from moral hazards and avoid transactions in money laundering. The responsibility of shariah banks in the distribution of Islamic finance is basically just a little different from its application in commercial banks, caused by differences between systems that are applied by conventional banks with a shariah system which directly impact on the rules used and structures of shariah banks.Keywords: Shariah banks, principle of prudence, good governance, principles of shariahAbstrak: Tanggung Jawab Bank Syariah dalam Penerapan Prinsip Kehati-hatian dan Good Corporate Governance. Fungsi bank sebagai lembaga intermediasi menarik dalam kaitannya dengan pentingnya tanggung jawab bagi pihak nasabah dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Penerapan prinsip kehati-hatian dan Good Corporate Governance dalam Pembiayaan syariah berguna untuk meminimalisasi risiko yang mungkin timbul dari moral hazard dan menghindari transaksi yang bersifat money laundering. Tanggung jawab bank syariah dalam penyaluran pembiayaan syariah pada dasarnya hanya sedikit berbeda dengan penerapannya pada bank umum, dikarenakan adanya perbedaan antara sistem yang diterapkan oleh bank konvensional dengan sistem syariah yang secara langsung berdampak kepada aturan yang dipakai dan struktur dari bank syariah.Kata Kunci: bank syariah, prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, prinsip syariahDOI: 10.15408/ajis.v12i1.985
Islamic Law in the Pancasila State JM Muslimin
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.976

Abstract

Abstrak: Hukum Islam di Negara Pancasila. Menurut al-Mâwardî dan Ibn Taymiyyah, konsep asal penerapan hukum Islam terletak pada kemestian adanya negara Islam. Tetapi, kenyataannya konsep negara Islam itu sendiri bervariasi dari waktu ke waktu. Maka, konsep yang final dan nyata tidaklah jelas wujudnya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa dalam praktiknya hukum Islam dapat diterapkan di manapun selaras dengan konteks sosio-kultural serta perkembangan dan kemajuan. Republik Indonesia adalah contoh yang baik bagaimana hukum Islam dapat diterapkan. Meski negara secara esensial tetap dalam kondisi sekuler, ide tentang penerapan syariah tidaklah secara ekstrem dilarang. Yang perlu dicatat adalah ide tersebut haruslah diperdebatkan dalam ranah publik, sehingga secara alamiah diketahui bahwa negara Pancasila memiliki batasnya sendiri untuk dapat mengakomodasi syariah di satu pihak, dan di pihak lain syariah sendiri merasakan keperluan adanya batasan tersebut dengan memperhatikan konteks Indonesia.Kata Kunci: Pancasila, khilâfah, sekuler, perdebatanAbstract: Islamic Law in the Pancasila State. According to al-Mâwardî and Ibn Taymiyyah the original concept of applying Islamic law lies on the existence of Islamic state. But, the concept of the Islamic state varies from time to time. Thus, the final and real concept always remains unclear. It can be said that in practical sense, Islamic law can be implemented anywhere in accordance with the socio-cultural context and its progress and development. The Republic of Indonesia is a good example of how shariah can be applied. Despite the State remaining relatively secular, in essence, the idea of the application of shariah is not strictly excluded. Nevertheless, these concepts should be debated in public until it is widely known that the Pancasila state is limited in accommodating shariah on the one hand and how shariah can be practised freely by the Indonesian Islamic society on the other.Keywords: Pancasila, khilâfah, secular, debateDOI: 10.15408/ajis.v12i1.976
Titik Kritis Penentuan Awal Puasa dan Hari Raya di Indonesia Maskufa & Wahyu Widiana
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v12i1.981

Abstract

Abstract: The Critical Points of Determining the Fasting Month and  Feast Day in Indonesia. There are four major madzhab in determination the fasting month and feast day in Indonesia, namely: madzhab of ru’yah al-hilâl, madzhab of  hisâb wujûd al-hilâl, madzhab of imkân al-ru‘yah, and madzhab of global ru‘yah. The four madzhabs have different criteria in ascertaining the commencement of the fasting month and the celebration after fast (lebaran). When the position of the moon does not fulfill the criteria, then it is almost ascertainable by the differences that appear. However, if the position of the moon is under the horizon or passes a minimum limit, then the difference will not happen.Keywords: ru’yah al-hilâl, hisâb wujûd al-hilâl, imkân al-ru’yah, global ru’yah.Abstrak: Titik Kritis Penentuan Awal Puasa dan Hari Raya di Indonesia. Ada empat mazhab besar dalam penentuan puasa dan hari raya di Indonesia, yakni: mazhab rukyah hilal, mazhab hisab wujûd al-hilâl, mazhab imkân al-ru’yah, dan mazhab rukyah global. Keempat mazhab tersebut mempunyai kriteria yang berbeda-beda dalam memastikan saat mulai puasa dan berlebaran. Ketika keadaan hilal tidak memenuhi kriteria yang ada, maka hampir dapat dipastikan perbedaan akan muncul. Akan tetapi,  bila keadaan hilal sudah di bawah ufuk atau melampaui batas minimal imkân al-ru’yah, maka perbedaan tidak akan terjadi.Kata Kunci: ru’yah al-hilâl, hisâb wujûd al-hilâl, imkân al-ru’yah, rukyah  globalDOI: 10.15408/ajis.v12i1.981

Page 1 of 2 | Total Record : 15