cover
Contact Name
Daud Aris Tanudirjo
Contact Email
jurnal.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
janus.jurnalarkeologinusantara@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada Sosiohumaniora t., Nr. 3, Bulaksumur, Sleman, Special District of Yogyakarta, Indoneisa, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Janus
ISSN : -     EISSN : 29879612     DOI : https://doi.org/10.22146/janus
JANUS focuses on publishing archaeological articles to attract readers from various backgrounds. The focus of the journal is to advance the study of archaeology in Indonesia or those related to Indonesian archaeology. The articles in the journal specifically discuss the values, views, and meanings of archaeological remains that strengthen theories, improve the quality of criticism, or methodological innovations in Indonesian archaeological investigations. Articles submitted cover archaeology and related fields of archaeology in Indonesia, presented in the context of Indonesian culture focusing on the development of critical scientific works. The editorial board of JANUS only accepts and publishes research articles and book reviews according to the focus and scope of the journal.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2024): Edition 2" : 5 Documents clear
Representasi Dewa Surya dalam Bentuk Arca di Jawa Surya, Pratama Dharma
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13222

Abstract

The depiction of the deities in sculptural form was an important aspect of Hindu-Buddha cultural development in the Nusantara from the fifth to the sixteenth centuries. Sculptures of the Surya deity are among the archaeological finds reflecting this cultural influence, especially in Java. This study explores the representation of the Surya deity through a literature review, observations, and descriptive-comparative analysis of seven sculptures found in the administrative regions of East Java, Central Java, and the Special Region of Yogyakarta. This study uses iconographic approach, and the results show that sculptures of Surya deity are characterized by distinctive iconographic features, such as hands in varadahastamudra and/or holding lotus flowers, sitting cross-legged on a lotus pedestal, or standing/sitting on a chariot drawn by seven horses. These representations reflect symbolic concepts associated with fertility, health, and balance in the lives of past societies. This study highlights the iconographic features and symbolic role of Surya deity sculptures as an integral part of Java’s archaeological landscape. === Penggambaran tokoh dewata dalam bentuk arca merupakan bagian penting dari perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Nusantara pada abad ke-5 hingga ke-16 Masehi. Arca Dewa Surya merupakan salah satu temuan arkeologis yang mencerminkan pengaruh kebudayaan tersebut, terutama di Jawa. Penelitian ini membahas representasi Dewa Surya berdasarkan studi pustaka, observasi, dan analisis deskriptif-komparatif terhadap tujuh arca yang ditemukan di wilayah administratif Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan ikonografis dan hasilnya menunjukkan bahwa arca Dewa Surya digambarkan dengan ciri ikonografis khas, seperti tangan bersikap varadahastamudra dan/atau memegang bunga teratai, sikap duduk bersila di atas teratai, atau sikap berdiri/duduk di atas kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Representasi ini mencerminkan konsep simbolis yang terkait dengan kesuburan, kesehatan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat masa lalu. Penelitian ini memberikan gambaran tentang ciri ikonografis arca Dewa Surya dan peran simbolisnya di Jawa.
Fasilitasi Penyandang Disabilitas di Halaman Candi Borobudur Kurniawan, Jati
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13236

Abstract

Borobudur Temple Compound is one of the Super Priority Tourism Destinations with a target of 2,000,000 foreign tourist and 5,000,000 domestic tourists per year. One group of targeted tourist are people with physical disabilities who need attention when visiting temples. Facilities in zone 1 of Borobudur Temple for Persons with Physical Disabilities are available but are still limited. This article discusses the gap in facilities for tourists with physical disabilities as a basis for improving facilities at Borobudur Temple. Increasing facilities for Persons with Physical Disabilities, apart from making Borobudur Temple tourism inclusive, is also a fulfillment of visitors' rights which will also have a positive impact on Borobudur Temple, both as a World Cultural Heritage and as a Super Priority Tourism Destination. === Kompleks Candi Borobudur menjadi salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas dengan target kunjungan wisata mancanegara sebanyak 2.000.000 orang dan wisatawan domestik 5.000.000 orang pertahun. Salah satu kelompok target pengunjung wisata adalah Penyandang Disabilitas Fisik yang memerlukan perhatian saat berkunjung ke candi. Fasilitas di halaman zona 1 Candi Borobudur bagi Penyandang Disabilitas Fisik sudah tersedia namun masih terbatas. Tulisan ini membahas kesenjangan fasilitas bagi wisatawan Penyandang Disabilitas Fisik sebagai dasar peningkatan fasilitas di Candi Borobudur. Peningkatan fasilitas bagi Penyandang Disabilitas Fisik selain untuk menjadikan wisata Candi Borobudur bersifat inklusif, juga merupakan pemenuhan hak-hak pengunjung yang juga akan memberikan dampak positif bagi Candi Borobudur, baik sebagai Warisan Budaya Dunia maupun sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas.
Wisata Bersepeda sebagai Wisata Warisan Budaya yang Berkelanjutan di Yogyakarta Wachidah, Inas Amatullah El; Prasodjo, Tjahjono
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.13408

Abstract

Over the past five years, cycling tourism has seen significant development as part of sustainable tourism, including in Yogyakarta. Its popularity has also expanded into the heritage-based tourism sector, with the utilization of Cultural Heritage Areas as one of the attractions for cycling tourism. This paper aims to address how how cycling tourism in heritage areas can be carried out sustainably. Data collection methods included observation, literature review, and interviews. Observations of cycling tourism practices were conducted through a case study approach. The frameworks of Heritage Tourism Sustainability and Transformative Experience Tourism were used to analyze and interpret the data collected and the presented case study. The conclusions indicate that cycling tourism in heritage areas, which is gaining popularity in Yogyakarta, can be optimized as a heritage tourism product capable of maintaining sustainability, both for cultural heritage sites and for the communities living around them, by adhering to key principles derived from this study as well as considering challenges that may arise in its development. === Dalam lima tahun terakhir, wisata bersepeda telah mengalami perkembangan yang signifikan sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan, termasuk di Yogyakarta. Popularitas wisata bersepeda juga meluas ke sektor pariwisata berbasis warisan budaya, dengan pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya sebagai salah satu daya tarik wisata bersepeda. Tulisan ini berupaya menjawab bagaimana wisata sepada di kawasan cagar budaya dapat dilakukan secara berkelanjutan (sustainable). Metode pengumpulan data dilaksankan melalui observasi, studi pustaka dan wawancara. Pengamatan praktik wisata bersepeda diperoleh melalui studi kasus. Pendekatan Heritage Tourism Sustainability dan Transformative Experience Tourism digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan data yang diperoleh dan terhadap studi kasus yang disajikan. Kesimpulan yang didapatkan menyatakan bahwa wisata bersepeda di kawasan cagar budaya yang semakin populer di Yogyakarta dapat dioptimalkan menjadi produk wisata warisan budaya yang mampu menjaga keberlanjutan, baik dari sisi objek cagar budaya maupun masyarakat yang tinggal di sekitarnya, dengan mempertimbangkan beberapa prinsip kunci hasil dari kajian ini serta tantangan yang mungkin dihadapi dalam proses pengembangannya.
Kain Sebagai Pasĕk-Pasĕk dalam Upacara Penetapan Sῑma Masa Mpu Siṇḍok: Korelasi Jenis Kain dan Kedudukan Penerimanya Anisa, Siti Nur
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.16559

Abstract

The type and quantity item as pasĕk-pasĕk received in the sīma establishing ceremony is different each receiver. This diversity is determined by the recipient’s position. Cloth and money are commonly used as pasĕk-pasĕk. A person’s social status can be known based on the type of cloth they wear. This research aims to mapping the distribution of cloth as pasĕk-pasĕk, reconstructing the correlation between individual position and the types of cloth received in the sīma ceremony, and reconstructing the ranking of cloth based the exclusivity of its ownership. The study uses inductive reasoning. The observation is focused on the type of wḍihan cloth mentioned in Mpu Siṇḍok’s inscription and position of the individual recipients. This study shows that each type of cloth has its own distribution scope related to the hierarchy of government official: central level, watak and wanua. Wḍihan gañjar haji and wḍihan bwat kliṅ are the type of cloth with the highest social value because they are only intended for Śrῑ Mahārāja. === Jenis serta jumlah barang sebagai pasĕk-pasĕk yang diterima dalam upacara sīma berbeda tiap penerimanya. Keberagaman tersebut ditentukan berdasarkan kedudukan penerima. Kain dan uang umum dijadikan sebagai pasĕk-pasĕk. Status sosial seseorang dapat diketahui berdasarkan jenis kain yang dipakainya. Penelitian ini bertujuan memetakan distribusi kain sebagai pasĕk-pasĕk, rekonstruksi korelasi jabatan individu dan jenis kain yang diterimanya dalam upacara sīma, serta membuat rekonstruksi pemeringkatan kain berdasarkan eksklusifitas kepemilikannya. Penelitian menggunakan penalaran induktif. Pengamatan difokuskan pada penyebutan jenis kain wḍihan dan jabatan dari individu penerimanya yang disebutkan dalam prasasti masa pemerintahan Mpu Siṇḍok. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tiap-tiap jenis kain memiliki ruang lingkup distribusi tersendiri terkait dengan penjenjangan pejabat pemerintahan: tingkat pusat, watak, dan wanua. Kain jenis wḍihan gañjar haji dan wḍihan bwat kliṅ merupakan kain dengan nilai sosial tertinggi sebab hanya diperuntukan bagi Śrῑ Mahārāja.
Melengkapi Pembacaan Lapik Arca Ganesa Berprasasti di Museum Penataran Blitar dengan Metode Fotogrametri Sambodo, Goenawan A
JANUS Vol 2 No 2 (2024): Edition 2
Publisher : Department of Archaeology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/janus.17771

Abstract

The square shaped-base of the Ganesa statue has an inscription that is thought to be a continuation of the Kinewu inscription found on the back stelae of the Ganesa statue. Both objects, the base and the Ganesa statue, are collections of the Museum Penataran Blitar. The Kinewu inscription has been read and translated, but part of the inscription on the square shaped-base of the statue has not been able to be read completely. Re-reading the Kinewu inscription including the inscription on the square-shaped base of the Ganesa statue was carried out using the photogrammetry method. The results of the photogrammetry are in the form of 3D modeling that allows better reading of inscriptions whose surfaces are relatively worn-out. This method shows that the square-shaped base of the statue has conformity with the Ganesa statue, thus they are considers as one object and need to be displayed altogether. === Lapik arca Ganesa memiliki prasasti yang diduga meripakan keberlanjutan dari prasasti Kinewu yang terdapat di bagian belakang sandaran (stelae) arca Ganesa. Kedua objek tersebut baik lapik arca maupun arca Ganesa merupakan koleksi Museum Penataran Blitar. Prasasti Kinewu telah dibaca dan diterjemahkan isinya, namun bagian dari prasasti pada lapik arca belum dapat dibaca secara lengkap. Pembacaan ulang prasasti Kinewu termasuk juga prasasti pada lapik arca Ganesa dilakukan dengan menggunakan metode fotogrametri. Hasil dari metode fotogrametri berupa pemodelan 3D yang memungkinkan pembacaan lebih baik terhadap prasasti yang permukaannya relatif aus. Metode ini menunjukkan bahwa lapik arca tersebut merupakan satu kesatuan dengan arca Ganesa, sehingga perlu ditampilkan dalam satu displai yang utuh.

Page 1 of 1 | Total Record : 5