cover
Contact Name
M. Zaenuri S Hidayat
Contact Email
zaenuri4n6@gmail.com
Phone
+628156976270
Journal Mail Official
pdfiindonesia@gmail.com
Editorial Address
Medical Faculty, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto Jl. Dr. Gumbreg, Medical Street, Mersi, Purwokerto Central Java 53122 Telp. (0281) 622022, Fax. (0281) 624990
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
ISSN : 26562391     EISSN : 3032310X     DOI : https://doi.org/10.20884/jfmi
Core Subject : Health,
Indonesian Forensic and Medical Journal is an official scientific media and professional organization of the Indonesian Forensic Doctors Association (PDFI) which is twice edition a year (June & December). This journal contains the results of research, literature reviews, case reports, case studies and other scientific results in the Forensic Medicine and Medicolegal Science Field. The editorial board accepts submissions of manuscripts for publication, from academics of Forensic Medicine and Medicolegal, Professionals and other academic communities who fulfill the published requirements in accordance with the guidelines of writing, and have been reviewed by partners
Articles 69 Documents
STUDI DIATOM DI DI PARU DAN LAMBUNG TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) PADA BERBAGAI KEADAAN TENGGELAM DI PERAIRAN TAWAR Hestiyani, Rani Afifah Nur
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2024.5.2.12476

Abstract

Kasus tenggelam menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian karena cedera yang tidak sengaja di seluruh dunia, dengan Indonesia memiliki kejadian tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan tinggi. Pemeriksaan diatom pada organ tubuh korban tenggelam merupakan metode penting dalam identifikasi lokasi dan penyebab kematian, dalam kondisi tenggelam yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran diatom pada organ paru dan lambung tikus putih Rattus norvegicus dalam berbagai keadaan tenggelam di perairan tawar Sungai Pelus, Banyumas. Metode penelitian dengan eksperimental menggunakan 20 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) yang ditenggelamkan ke dalam Sungai Pelus dalam berbagai keadaan tenggelam yaitu hidup (H), pingsan (P), dan mati (M). Sebelum ditenggelamkan kelompok tikus P diinjeksi ketamin 0,2 cc pada setiap tikus, hingga pingsan dan kelompok tikus M diberi perlakuan inhalasi kloroform hingga mati. Organ paru dan lambung diambil dari 3 kelompok tikus tersebut untuk diamati jumlah dan jenis diatom yang ditemukan. Sampel air sungai diambil untuk membandingkan jumlah dan jenis diatom di lokasi tenggelam dan organ tikus perlakuan. Hasil pemeriksaan diatom didapatkan 12 genus diatom yang teridentifikasi. Gambaran diatom yang ditemukan pada organ paru dan lambung dalam berbagai keadaan tenggelam lebih banyak ditemukan pada organ paru tikus hidup (H) dibandingkan kelompok tikus pingsan (P), bahkan mati (M). Jumlah diatom pada organ paru lebih banyak ditemukan (70%) dibandingkan jumlah diatom di organ lambung (30%). Kesimpulan penelitian ini, yaitu gambaran diatom lebih banyak ditemukan pada organ paru Rattus norvegicus yang mati akibat tenggelam dalam kondisi hidup dibandingkan pingsan bahkan mati.
PERBEDAAN KARAKTERISTIK LUKA AKIBAT PERSETUBUHAN SUKA SAMA SUKA DIBANDINGKAN DENGAN AKIBAT KEKERASAN SEKSUAL Mahila, Niufti ayu Dewi
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.1.3024

Abstract

PERBEDAAN KARAKTERISTIK LUKA AKIBAT PERSETUBUHAN SUKA SAMA SUKA DIBANDINGKAN DENGAN AKIBAT KEKERASAN SEKSUAL Niufti Ayu Dewi Mahila, dr. Hendro Widagdo Sp.FM.,(K). Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKKMK UGM/RSUP Dr. Sardjito ABSTRAK Latar Belakang : Kekerasan seksual didefinisikan sebagai, “setiap tindakan seksual, upaya untuk mendapatkan tindakan seksual, komentar atau tindakan seksual yang tidak diinginkan, atau tindakan untuk mengalihkan seksualitas perempuan. Tujuan : Mengidentifikasi perbedaan luka akibat kekerasan seksual dengan luka akibat hubungan seksual suka sama suka. Metode : Disajikan sebuah studi kasus seorang Mahasiswi Perempuan usia 23 tahun, lajang, mengaku di perkosa oleh teman kakaknya di kontrakan pelaku 5 hari sebelum subyek melakukan pemeriksaan di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta. Subyek mengaku memiliki riwayat hubungan seksual aktif dengan pacarnya selama kurang lebih 4 tahun, menggunakan Pil KB atau kondom sebagai alat kontrasepsi sebelum berhubungan seksual. Dilakukan pengelolaan pasien berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Hasil : Dari Pemeriksaan fisik didapatkan hasil, Luka memar pada tungkai kiri atas bagian depan, warna biru kehijauan, batas tegas diameter 3 cm. Tampak robekan lama pada Selaput dara arah jam 10,11,12,1 tidak sampai ke dasar, serta arah jam 4 dan 7 robekan sampai ke dasar. Tampak tanda kemerahan pada Introitus Vagina dan Fourcheet Posterior, lendir warna putih kekuningan, kental berbau menyengat, benjolan menyerupai kutil yang cukup banyak pada bibir luar kemaluan hingga bagian dalam liang vagina. Hasil pemeriksaan penunjang tidak ditemukan Spermatozoa, tes kehamilan negatif, tes Psikiatri tidak ada tanda depresi, Condyloma Acuminate positif, Vaginosis Bacteria Positif. Kesimpulan : Berdasarkan hasil Pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan penunjang didapatkan adanya tanda penetrasi pada liang senggama namun tidak ditemukan adanya ejakulat pada liang senggama. Didapatkan luka akibat penyakit menular seksual dari subyek namun belum terkonfirmasi pada pelaku, dan tidak ditemukan tanda kekerasan lain. Kata Kunci : Perkosaan, Hubungan seksual, Suka sama suka, Condyloma Acuminate, Vaginosis Bacteria, Spermatozoa. DIFFERENCE IN CHARACTERISTICS INJURIES CAUSED BY SEXUAL HARASSMENT AND SEXUAL INTERCOURSE WITHOUT COMPULSION Niufti Ayu Dewi Mahila, Hendro Widagdo MD., Sp.FM (K). Department of forensic medicine and medicolegal Faculty of Medicine, Public Health and Nursing Gadjah Mada University/ Sardjito Public Health ABSTRACT Background : Sexual violence is defined as, "any sexual act, attempt to gain sexual action, unwanted commentary or sexual action, or action to divert female sexuality. Aim : Identifying injuries caused by sexual harassment and sexual intercourse without compulsion. Method : Presented a Case study of a 23-year-old, female, single, who claimed to be in a rape by her brother's friend in the home of the perpetrator 5 days before the subject did examination at the Dr. Sardjito Yogyakarta Public Hospital. The subject claimed to be sexually active "Single partner" with her boyfriend for about 4 years, using contraceptive pills or condoms before having sexual intercourse with her boyfriend. Conducted management of patients in the form of anamnesis, physical examinations and supporting examinations such. Examination of patients in the form of anamnesis, physical examination and supporting examination. Results : From physical examination has results, bruises on the upper left leg 12 cm from the knee joint, shaped circular, colored Turquoise, firmly boundary, diameter 3 cm. The old tear in the hymen/hymen toward 10, 11 12, 1 o'clock, rips not to the base, as well as toward 4 and 7 o'clock rips to the base. Found redness of the mark on the posterior, genital and fourcheet, white mucus with strong smelling consistency, warts-like lumps with a lot of the main labia for the inner part of the intercourse. Results of supporting examination did not find any ejakulat, negative pregnancy test result, psychiatric test result there is no sign of depression, Condyloma Acuminate positive, Bacterial Vaginosis positive. Conclusion : Based on the results of physical examination and supporting examination there is a sign of penetration in the pubic hole but there is no ejakulat in the pubic hole of the subject. There are injuries caused by sexually transmitted diseases of the subject but not confirmed by the perpetrator. Keywords : Rape, Sexual Intercourse, Without Compulsion, Condyloma Acuminate, Vaginosis Bacteria, Spermatozoa.
KEKERASAN SEKSUAL TANPA DITEMUKAN ADANYA SPERMATOZOA PADA PEMERIKSAAN BILAS VAGINA Roycke, Pande Putu
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.2.7151

Abstract

Kekerasan seksual telah berada di dalam persimpangan yang mengkhawatirkan, hal Ini masih banyak masyarakat yang menganggap lazim, karena masyarakat kurang memahami bahaya kekerasan seksual. Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat dinamika pengaduan langsung terkumpul sebanyak 338.496 kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan dengan rincian, pengaduan ke Komnas Perempuan 3.838 kasus, lembaga layanan 7.029 kasus, dan BADILAG 327.629 kasus. Angka-angka ini menggambarkan peningkatan signifikan 50% KBG terhadap perempuan yaitu 338.496 kasus pada 2021 (dari 226.062 kasus pada 2020). Lonjakan tajam terjadi pada data BADILAG sebesar 52%, yakni 327.629 kasus (dari 215.694 pada 2020). Menurut World Health Organization (WHO) kekerasan seksual didefinisikan sebagai setiap tindakan seksual, upaya untuk mendapatkan tindakan seksual, komentar atau kemajuan seksual yang tidak diinginkan, atau tindakan untuk memperdagangkan seksualitas perempuan, dengan menggunakan paksaan, ancaman bahaya atau kekuatan fisik, oleh siapa pun tanpa memandang hubungannya dengan korban, dalam pengaturan apa pun, termasuk namun tidak terbatas pada rumah dan tempat kerja. Oleh karena itu disini akan dilakukan case study dimana studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui apakah kekerasan seksual harus selalu ditemukan spermatozoa pada pemeriksaan bilas vagina. Telah dilakukan pemeriksaan pada tanggal 15 mei 2022, ditemukan adanya memar pada dada kanan dan lengan atas kanan dan pada pemeriksaan vagina ditemukan robekan himen pada arah jam dua dan tiga, tidak sampai dasar dan robekan pada arah jam tujuh sampai dasar. Tidak tampak kemerahan dan tidak lecet. Diambil sampel berupa sembilan preparat kering dari introitus vagina, liang vagina, forniks posterior, dan satu spuit berisi cairan bilas vagina tidak ditemukan spematozoa. Ditentukan adanya kekerasan seksual, karena pada korban ditemukan paksaan, memar pada dada kanan dan lengan kanan atas serta robekan pada himen.
The REASON EVIDENCE FOR DISCLIPINARY BREACH CANNOT BE USED AS EVIDENCE FOR VIOLATION OF THE LAW klarisa, klarisa klarisa; Rustyadi, Dudut
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.1.8332

Abstract

There are 3 norms for doctors in carrying out their proffession. The norms in medical practice consists of ethical,disciplinary and the legal norms. The Indonesian Medical Disciplinary Honorary Council (MKDKI) is an institution that determines whether or not there are errors made by doctors and dentists in the application of medical and dental disciplines. The MKDKI only handles violations related to service standards, professional standards and the standard operating procedures for medical practice. Meanwhile, the errors based on legal terms can be caused by violations and intentional acts, the settlement process follows the criminal or civil justice system based on the case presented. There are similarities found between disciplinary and legal norms, which are both assess whether an act or action performed by a doctor is right or wrong in medical practicing. However, what is found to be interesting is that, whenever a doctor is found to be guilty by the MKDKI, which means evidence of violations of medical discipline is found, which includes violations of discipline, it cannot be used as an direct evidence in criminal and civil justice procedures to prove the doctor the guilty legally.
Prediction of Height from Various Limb Measurement Syafira, Aisha Dinda; Huspa, Fitri Agustina; Wahyudi, Kurnia
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.1.13038

Abstract

Height has an important role in forensic medicine and clinical context, namely for biological profile identification of missing or unknown individuals and to provide an easier way to assess nutritional status of bedridden patients or elderly. This literature review aims to explore the variations in height prediction formulas based on limb bone length and to identify the advantages and limitations of these prediction techniques. Scientific studies were selected from Google Scholar, Scopus, and PubMed. Boolean operators and filters were applied to limit only relevant studies. The inclusion criteria in this research are research published in journals in the period 2019-2024, in the form of articles and not pre-prints, in Indonesian or English, research conducted on living humans, full research access-text and free. The exclusion criteria in this research are child and elderly research participants, research participants who suffer from certain diseases, and research using supporting examinations or artificial intelligence. These studies were then selected by using PRISMA flow. 30 articles were included in this study from 367 results. Most of the studies show that there is a positive correlation between stature and limb bone length. Therefore, height can be predicted by limb bone length but should consider population variations such as age, gender, ethnicity, nutritional status, and medical conditions. Keywords: stature, estimation, prediction, limb bone length
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelanjutan Kasus Penganiayaan ke Persidangan Berdasarkan Visum Et Repertum di RSUP Dr. Kariadi Semarang Mahardika, I Made Raditya; Rohmah, Intarniati Nur; Utomo, RP Uva; Suharto, Gatot; Anggreliana, Wian Pisia
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.1.13340

Abstract

Berdasarkan Badan Pusat Statistik Indonesia, pada tahun 2020 hanya sebanyak 52,43% korban kekerasan yang melapor kepada polisi. Akibat kejahatan yang tidak dilaporkan dapat menimbulkan banyak dampak baik bagi korban maupun masyarakat secara keseluruhan. Visum et Repertum (VeR) sebagai alat bukti yang sah di persidangan jika korban ingin melanjutkan kasus ke persidangan. observasional analitik ini dilakukan menggunakan sampel surat VER korban hidup yang mengalami penganiayaan di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2018-2022 yang sudah ada surat permintaan visum dari kepolisian. Data diolah menggunakan uji koefisien kontingensi dan uji multivariat untuk mengetahui korelasi antarvariabel. Pada faktor usia, jenis kelamin, jenis luka, jumlah luka, lokasi luka, ukuran luka dan hubungan pelaku dengan korban menunjukan hasil yang tidak signifikan. Kualifikasi luka (p<0,001; r=0,557) dan tindakan medis (p<0,001; r=0,440) berhubungan dengan kelanjutan kasus penganiayaan ke persidangan berdasarkan Visum et Repertum. Kualifikasi luka yang berat (p<0,001; OR=222,0). Faktor kualifikasi luka dan tindakan medis merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan kasus penganiayaan ke persidangan. Kualifikasi luka yang berat merupakan faktor yang paling berhubungan dengan dengan kelanjutan kasus penganiayaan ke persidangan berdasarkan Visum et Repertum.
DoA Profil Kasus DOA Sebelum, Selama, dan Sesudah Pandemi Covid-19 yang Ditangani di Instalasi Forensik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019-2023 nabuma, Syafrianto Syafri
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.2.13566

Abstract

Profil Kasus DOA Sebelum, Selama, dan Sesudah Pandemi Covid-19 yang Ditangani di Instalasi Forensik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019-2023
KNOWLEDGE AND ATTITUDES OF POLICE AND MEDICAL DOCTORS IN CENTRAL LAMPUNG REGENCY REGARDING ALCOHOL LEVEL TEST FOR MOTOR VEHICLE DRIVERS WIGUNA, I PUTU SUWARTAMA; Syukriani, Yoni Fuadah; Huspa, Fitri Agustina
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.2.14405

Abstract

Based on data from the Global Status Report on Road Safety published by the World Health Organization in 2018 and 2023, traffic accidents are one of the factors causing death in the world. One of the influencing factors is alcohol because it can interfere with concentration while driving. Various countries have tried to reduce the number of traffic accidents by checking drivers’ alcohol levels. Indonesia is one of the countries that has not implemented the test routinely, while the number of traffic accidents is still relatively high. For example, traffic accident victims in Lampung Province have increased between 2021 and 2022, and Central Lampung Regency ranks 2nd highest in traffic accidents in Lampung Province. Efforts to check alcohol levels require the involvement of police agencies and hospitals, including police officers and doctors. This research describes the knowledge, attitudes, and behaviour of police officers and doctors in Central Lampung Regency regarding alcohol level tests in drivers who have experienced traffic accidents. The research used an explanatory sequential mixed method design. Quantitative data regarding knowledge and attitudes were collected through questionnaires (n=77, 36 doctors, 41 police officers). The convenience sampling approach was used as the sampling method, then analyzed using SPSS ver.27. Data analysis was carried out using univariate, bivariate (Spearman test, Mann-Whitney test, Chi-square and Fisher exact tests), and multivariate logistic regression tests. Qualitative data to explain the knowledge, attitudes, and behaviour were collected through interviews through purposive sampling. The results showed that there were significant differences in knowledge, attitudes and behaviour between police and doctors (p<0,001); there is a weak correlation between knowledge and attitudes and behaviour of police and doctors (r=0,399). Age, length of service, gender, education, and occupation significantly correlate with the knowledge, attitudes and behaviour of police and doctors (p<0,05). The age factor has the most dominant relationship with knowledge (OR 3,4; p=0,02) in police and doctors. Qualitative data explained that young doctors have better knowledge, as well as more positive attitudes and behaviour towards alcohol level tests, compared to that of the police and older doctors. It can be concluded that there are significant differences between police and doctors in knowledge, attitudes and behaviour towards alcohol level tests of drivers involved in traffic accidents. It is suggested that the alcohol testing policy for drivers needs to be preceded by education for police and doctors using a different approach.
Sex Estimation SEX ESTIMATION BASED ON MAXILLARY SINUS DIMENSION MEASUREMENTS USING COMPUTED TOMOGRAPHY (CT) SCAN OF PARANASAL SINUS Hunafa, Alya Hasna
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2025.6.1.14951

Abstract

Sex estimation is a very important step in forensic identification. Personal identification will be accurate if 100% of the entire skeleton is obtain, but it cannot be done in several cases such as severe violence and mass disasters. Therefore, an identification parameters that are not easily damaged and are often intact is required, such as the maxillary sinus, which through this study aims is to determine the difference in volume of the maxillary sinus in male and female. This study is an observational study with cross sectional design used a total of 33 samples of Paranasal sinus from 17 men and 16 female in the radiology department of Sultan Agung Islamic Hospital Semarang for the period January – December 2024 who met the inclusion and exclusion criteria. The analysis showed that there are significant difference in there was a significant difference in the volume of the maxillary sinus in men and female, with a value of p = 0.003, with the average volume of the maxillary sinus in men being 20.67 cm3 and the dimension of the volume of the maxillary sinus in female being 16.7 cm3. Based on these results, it was concluded that there was a significant difference between male and female maxillary sinuses.