cover
Contact Name
Uman Sumantri
Contact Email
jurnal.jalanjembatan@pu.go.id
Phone
+6287726088848
Journal Mail Official
jurnal.jalanjembatan@pu.go.id
Editorial Address
Direktorat Bina Teknik Jalan dan JembatanDirektorat Jenderal Bina MargaKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan RakyatJl. A.H Nasution No.264 Bandung 40294 Telp. (022) 7802251
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Jalan Jembatan
ISSN : 19070284     EISSN : 25278681     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Jalan-Jembatan adalah wadah informasi bidang Jalan dan Jembatan berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait yang meliputi Bidang Bahan dan Perkerasan Jalan, Geoteknik Jalan, Transportasi Dan Teknik Lalu-Lintas serta Lingkungan Jalan, Jembatan dan Bangunan Pelengkap Jalan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 35 No 1 (2018)" : 6 Documents clear
PENILAIAN KUALITAS FASILITAS PEJALAN KAKI (WALKABILITY ASSESSMENT) Senjaya Setianto; Tri Basuki Joewono
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.65

Abstract

ABSTRAK Berjalan kaki merupakan moda yang memiliki peranan penting terkait transportasi perkotaan. Peningkatan kualitas fasilitas pejalan kaki di suatu kawasan (walkability) dapat mendorong orang untuk berjalan kaki. Kawasan perguruan tinggi merupakan kawasan yang membututuhkan fasilitas pejalan kaki yang baik, sehingga dapat memfasilitasi mahasiswa untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari dengan hanya berjalan kaki. Studi ini bertujuan menentukan nilai indeks walkability untuk kawasan 20 kampus perguruan tinggi di kota Bandung dan menganalisis hasilnya. Studi ini menggunakan metode dan instrumen penilaian yang digunakan dalam studi Horacek et al. (2012), dengan melakukan beberapa penyesuaian berdasarkan regulasi yang berlaku di Indonesia. Dari hasil penilaian, hanya terdapat satu kampus dengan nilai indeks walkability lebih besar atau sama dengan 55, yang artinya cukup baik untuk untuk berjalan kaki. Sementara 19 kampus lainnya memiliki nilai indeks walkability kurang dari 55, yang artinya masih buruk untuk berjalan kaki. Dari 12 aspek yang dinilai, semua kampus telah memiliki fasilitas permanen untuk berjalan paling tidak di salah satu sisi jalan. Sementara untuk aspek bikeability, tidak terdapat satupun kampus dengan fasilitas yang layak layak untuk aspek tersebut. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar kawasan yang dinilai, belum mampu memenuhi kebutuhan pejalan kaki and menarik minat orang untuk berjalan kaki. Kata kunci: berjalan kaki, pejalan kaki, walkability, kawasan perguruan tinggi, transportasi perkotaan  ABSTRACT Walking is one of the most important mode in urban transportation. Increasing the quality of the pedestrian’s facilities in specific area (walkability) may encourage people to walk. Higher Education Institutions Area is an area that needs good pedestrian facilities, so it can facilitate their students to meet their daily necessities by walking. This study aims to determine the walkability index score for 20 higher educational institutions campus area and analyze its result. This study is using the assessment method and instrument that were being used on Horacek et al. (2012) studies, with adjusting the parameters using Indonesian regulations. From the results of the assessments, there’s only one campus with overall walkability index score greater than or equal to 55, which means fair enough for walking. While the other 19 campuses have walkability index score lower than 55, which means poor for walking. From 12 aspects that being assessed, all campuses already have permanent walking facility at least on one side of the road. But none of the campuses have a good bikeability facilities. These results indicate that most of the campuseses that were being assessed, hasn’t been able to fulfill pedestrian needs and attracts people to walk. Keywords: walking, pedestrian, walkability, higher education institutions, urban transportation
PEREDAM PASIF UNTUK PILON JEMBATAN GANTUNG TERHADAP BEBAN GEMPA PADA TAHAP KONSTRUKSI (PASSIVE DAMPER FOR SUSPENSION BRIDGE PYLON UNDER EARTHQUAKE LOAD DURING CONSTRUCTION PHASE) Winarputro Adi Riyono; Tommy Virlianda Warganegara
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.197

Abstract

ABSTRAK Vibrasi jembatan merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari akibat interaksi antara beban dan struktur. Vibrasi jembatan tidak hanya terjadi pada saat jembatan beroperasi, namun juga dapat terjadi saat masa konstruksi akibat beban transien. Jika vibrasi tersebut terlalu berlebih baik dari sisi magnitudo maupun frekuensi, maka dapat mengakibatkan gangguan pada saat masa konstruksi termasuk saat tahap pembangunan pilon. Vibrasi yang berlebih pada jembatan dapat dikendalikan dengan menggunakan sistem kontrol pasif. Pada kajian ini dibahas kontrol pasif dengan menggunakan sistem peredam untuk membatasi vibrasi lateral pada bagian pilon jembatan pejalan kaki tipe penggantung saat masa konstruksi. Peredam yang digunakan yaitu peredam tipe viscous dan peredam massa. Untuk skema pertama, peredam viscous diletakkan di bawah level lantai dan puncak pilon, sedangkan untuk skema kedua, peredam massa hanya diletakkan pada puncak pilon. Analisis struktur dilakukan dengan menggunakan analisis riwayat waktu dengan gempa masukan Imperial Valley 1940 yang telah diskalakan terhadap target spektra wilayah Jakarta berdasarkan SNI 2833:2016. Berdasarkan analisis diperoleh hasil nilai maksimum reduksi simpangan untuk sistem pilon dengan peredam viscous yaitu sebesar 20% sedangkan untuk peredam massa yaitu sebesar 56%. Nilai drift dan gaya geser dasar per tiang juga menunjukkan pilon dengan menggunakan peredam massa memiliki respon yang lebih baik dibandingkan pilon dengan peredam viscous. Hal ini menggambarkan penggunaan peredam massa pada puncak pilon lebih efektif dalam mereduksi vibrasi akibat gempa dibandingkan peredam viscous. Kata kunci: vibrasi, kontrol pasif, peredam viscous, peredam massa, analisis riwayat waktu ABSTRACT Bridge vibration is an inevitable phenomenon due to interaction between load and structure. Bridge vibration is not only occur during operational period, but also during construction period due to transient actions. If the vibration excessively arise in terms of magnitude or frequency, it will gives disturbances during bridge construction stage include pylon construction stage. Bridge excessives vibration can be controlled by using passive control system. In this study, the used of damper system to limit the lateral vibration of suspension pedestrian bridge pylonis explored. The damper system used are viscous damper and mass damper. For the first scheme, the viscous damper is positioned beneath the deck level and at the top of pylon level, whereas for the second scheme, the mass damper is placed only on the top of the pylon level. Structural analysis is then carried out by using time history analysis with acceleration input from Imperial Valley 1940 ground motion which is scaled to the target spectra of Jakarta based on SNI 2833:2016. From analysis, it is found that there exists amaximum displacement reduction of 20% for pylon with viscous damper and 56% for pylon with mass damper. In addition drift ratio and the maximum shear force per column also shows that pylon with mass damper has a better responses than pylon with viscous damper. This results shows the used of mass damper is more effective in limiting pylon vibration due to seismic loads compare to the viscous damper. Keywords: vibration, passive control, viscous damper, mass damper, time history analysis
AKURASI ALAT PENGHITUNG LALU LINTAS PLATO 2.1 BERBASIS PENGOLAHAN CITRA - BACKGROUND SUBSTRACTION (ACCURACY OF TRAFFIC COUNTER PLATO 2.1 BASED ON IMAGE PROCESSING - BACKGROUND SUBSTRACTION) Disi Mochamad Hanafiah
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.213

Abstract

ABSTRAK Penempatan sensor fisik di dalam lapisan perkerasan jalan sudah tidak memungkinkan lagi untuk diterapkan mengingat banyaknya kendaraan berat yang melintas di ruas jalan dan kegiatan overlay yang menyebabkan sensor mudah tidak berfungsi. PLATO 2.1 merupakan teknologi pengolahan citra video yang dikembangkan di Pusat Litbang Jalan dan Jembatan menggunakan metode background substraction. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui akurasi PLATO 2.1 dalam penghitungan volume lalu lintas. Metode yang dilakukan adalah membandingkan data volume lalu lintas yang dihitung secara manual dengan data yang dihitung menggunakan PLATO 2.1. Selanjutnya algoritma dalam PLATO 2.1 dimodifikasi dan digunakan untuk menghitung volume lalu lintas. Data volume lalu lintas yang dihasilkan dibandingkan terhadap data volume lalu lintas manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan penghitungan kendaraan secara manual dan PLATO 2.1 adalah 30% untuk lalu lintas normal dan 3% untuk lalu lintas sedang. Setelah dilakukan modifikasi pada algoritma, yaitu dengan memisahkan algoritma pendeteksian motor dengan mobil dan mengganti metode area counting dari dua menjadi tiga area, ternyata dapat menghasilkan penghitungan yang lebih baik. Perbedaan penghitungan kendaraan PLATO 2.1 dan modifikasi PLATO 2.1 adalah 3% untuk lalu lintas normal dan 5% untuk lalu lintas sedang. Kata kunci: volume lalu lintas, background substraction, modifikasi algoritma, alat penghitung volume lalu lintas, pengolahan citra video ABSTRACT Placement of physical sensors in the pavement layer is no longer possible to apply given the many heavy vehicles that cross the road and overlay activities that cause the sensor easily does not work. PLATO 2.1 is a video image processing technology developed at IRE using the background substraction method. This research intends to know the accuracy of PLATO 2.1 in calculating traffic volume. The method used is to compare the traffic volume data calculated manually with the data calculated using PLATO 2.1. The next algorithm in PLATO 2.1 is modified and used to calculate the volume of traffic. The resulting traffic volume data is then compared against the traffic volume data manually. The results showed that the difference in vehicle count manually and PLATO 2.1 is 30% for normal traffic and 3% for medium traffic. After modification of the algorithm, separating the motor detection algorithm by car and changing the counting area method from two to three, it can produce better calculation. The difference in the calculation of the PLATO 2.1 vehicle and the modification of PLATO 2.1 is 3% for normal traffic and 5% for medium traffic. Keywords: traffic volume, background substraction, algorithm modification, traffic counters, video image processing
UJI COBA MODEL FISIK SISTEM BRIDGE WEIGH IN MOTION SEDERHANA PADA JEMBATAN GELAGAR BAJA KOMPOSIT (TRIAL MODEL OF A SIMPLE BRIDGE WEIGH IN MOTION SYSTEM ON STEEL GIRDER COMPOSITE BRIDGE) Widi Nugraha; Gatot Sukmara
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.227

Abstract

ABSTRAK Pada umumnya, penggunaan sistem WIM untuk mengukur beban kendaraan dan lalu lintas di Indonesia saat ini masih mengandalkan sistem WIM temporer. Survei tersebut pada umumnya dilakukan untuk durasi paling lama satu minggu. Pada tahun 2015, Puslitbang Jalan dan Jembatan, Kementerian PUPR (Pusjatan) mengembangkan sebuah sistem WIM yang relatif baru di Indonesia. Sistem WIM ini memanfaatkan struktur jembatan dengan mengukur respons elemen jembatan akibat beban kendaraan yang melintas sebagai data dasar untuk diolah dengan sebuah algoritma untuk menghitung beban kendaraan (sistem bridge WIM). Luaran dari sistem bridge WIM ini adalah beban kendaraan yang dihitung berdasarkan respons struktur jembatan dan kecepatan kendaraan yang dihitung berdasarkan selisih waktu saat kendaraan melintas pada dua sensor berurutan yang jarak antarsensornya diketahui. Pusjatan pada tahun 2016 melakukan implementasi dari konsep teknologi bridge WIM sederhana dengan memasang sensor strain transducer pada Jembatan Cipeles, sebuah jembatan gelagar baja komposit dengan panjang bentang 30 m, berlokasi di Ruas Jalan Nasional Bandung-Cirebon, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Proses kalibrasi dari sistem ini dilakukan dengan mengukur respons struktur jembatan untuk beban kendaraan truk yang beratnya diketahui. Hasil dari perhitungan beban kendaraan dengan bridge WIM sederhana ini memberikan simpangan terhadap pengukuran beban kendaraan statis. Hasil kalibrasi menunjukkan sekitar 3,87% perbedaan dengan muatan truk yang dikenal secara statis. Perhitungan kecepatan kendaraan menggunakan sistem bridge WIM ini, memberikan simpangan sebesar 9,3% dibandingkan terhadap pengukuran dengan speed gun untuk sepuluh kendaraan yang melintas di atas jembatan. Kata Kunci: jembatan, weigh in motion, sensor, beban kendaraan, kecepatan kendaraan ABSTRACT Generally, the use of a temporarily WIM system to measure vehicular loads and traffic are common practices in Indonesia. It takes about maximum one week of survey. In 2015, a relatively new WIM system in Indonesia is developed by IRE, Ministry of Public Works and Housing. This WIM system uses bridge structural responses due to vehicle loads as input to the system which is then calculated by using an algorithm to determine the vehicle loads (bridge WIM system). The output of this bridge WIM system are vehicle loads that are calculated by using bridge structural responses and vehicle speeds that are calculated by differences of vehicle passing time on two adjacent sensors, with the distances between them as defined. The bridge responses were measured by using strain transducers attached on the bridge. In 2016, IRE implemented a simple bridge WIM concept by installing strain transducer on Cipeles Bridge. This bridge is a steel girder composite bridge with 30 m span located in Bandung-Cirebon National Road, Sumedang Regency, West Java. To calibrate the system, bridge responses were measured by statically known truck load. The calibration results shows about 3,87% differences with statically known load truck. In addition, in terms of vehicle speed, it shows about 9,3% differences with speed gun measurements. Keywords: bridge, weigh in motion, sensors, vehicular load, vehicle speed
PENANGANAN VIBRASI JEMBATAN GANTUNG ASIMETRIS DENGAN TMD BERDASARKAN KRITERIA KENYAMANAN (COUNTERMEASURE OF ASYMMETRIC SUSPENSION BRIDGE VIBRATION USING TMD BASED ON COMFORT CRITERIA) Tommy Virlianda WN
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.229

Abstract

ABSTRAK Belum adanya peraturan yang mengatur tentang batasan kenyamanan pada jembatan pejalan kaki di Indonesia menyebabkan para perencana jembatan hanya memenuhi kriteria perencanaan beban statik tanpa mempertimbangkan aspek kenyamanan pengguna dalam melintasi jembatan. Evaluasi beban dinamik pejalan kaki dilakukan pada sebuah jembatan gantung asimetris untuk desa yang merupakan produk rancangan dari Puslitbang Jalan dan Jembatan dan akan dievaluasi berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh British Standard. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat kenyamanan struktur jembatan adalah akselerasi jembatan. Hasil analisis terhadap jembatan tersebut dengan metoda analisis modal linier riwayat waktu yang dievaluasi terhadap 2 kelas jembatan yaitu kelas A dan kelas B menyatakan bahwa jembatan tidak memenuhi kriteria kenyamanan yang disyaratkan. Pemasangan TMD dilakukan untuk mengontrol getaran dari struktur dengan variasi massa sebesar 1%, 3% dan 5% agar struktur jembatan tersebut memenuhi batasan ijin kriteria kenyamanan. Pada analisis beban jembatan kelas A dibutuhkan minimum hanya 1 buah TMD yang dipasang dilokasi terjadinya akselerasi maksimum dengan rasio massa TMD sebesar 1% dan menghasilkan reduksi akselerasi struktur sebesar 3% untuk memenuhi syarat kenyamanan getaran jembatan. Sedangkan pada analisis beban jembatan kelas B dibutuhkan minimum 2 buah TMD dengan rasio massa sebesar 3% yang menghasilkan reduksi akselerasi struktur sebesar 54%. Kata kunci: jembatan pejalan kaki, kriteria kenyamanan, akselerasi, analisis modal linier, tuned mass damper ABSTRACT The absence of regulations governing the comfort limits on pedestrian bridges in Indonesia causes the bridge designers only satisfy to the static load design criteria without considering the comfort aspects of the footwalks when they crossed over the bridge. In this paper, the evaluation of the dynamic load of pedestrians is carried out on an asymmetric suspension bridge for the village. This bridge is designed by Institute of Road Engineering and will be evaluated according to the regulations issued by British Standard. A variable used to evaluate the bridge comfort level is acceleration on the deck. According to the result of bridge linear modal time history analysis, it was showed that the bridge does not meet the required comfort criteria for class A and class B. Then, a countermeasure is undertaken by using TMD with mass variations of 1%, 3% and 5% of the main structure mass to meet the limitation of comfort criteria. In class A bridge load analysis, it required minimum 1 TMD with mass ratio of 1% which produces 3% of acceleration reduction to meet the comfort requirement. Whereas, on load analysis of class B bridge, its was required at least 2 TMD with mass ratio of 3% which gives 54% acceleration reduction to meet the comfort requirement. Note that both schemes required TMD to be placed on the location where the maximum acceleration is found. Keywords: pedestrian bridge, comfort criteria, acceleration, linear modal analysis, tuned mass damper
STABILISASI DUA TAHAP MENGGUNAKAN KAPUR DAN SEMEN UNTUK MEMPERBAIKI DAYA DUKUNG TANAH EKSPANSIF (TWO STAGES STABILIZATION USING LIME AND CEMENT FOR BEARING CAPACITY IMPROVEMENT OF EXPANSIVE SOILS) Nyoman Suaryana; Silvester Fransisko
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58499/jurnal pusjatan.v35i1.230

Abstract

ABSTRAK Tanah ekspansif banyak dijumpai di Indonesia dan umumnya tidak digunakan untuk bahan jalan. Pemanfaatan tanah tersebut untuk bahan jalan menjadi penting terutama pada daerah yang tidak mempunyai agregat seperti pada Trans Papua Kabupaten Merauke Ruas Tanah Merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas stabilisasi dua tahap untuk meningkatkan sifat fisik tanah ekspansif atau tanah lempung plastisitas tinggi. Penelitian dilakukan dengan metoda eksperimental melalui pengujian di laboratorium dan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilisasi dengan kapur dapat menurunkan sifat plastisitas material tanah, dengan kadar kapur 4% dapat menurunkan nilai indeks plastisitas dari 30% menjadi 17% setelah pemeraman 2 hari. Stabilisasi dengan kapur dapat meningkatkan nilai UCS tanah dan peningkatan cukup nyata terjadi pada jumlah pemakaian kapur 6%. Demikianpun stabilisasi dengan semen, dapat meningkatkan UCS tanah, peningkatannya semakin tinggi sesuai dengan meningkatnya persentase kadar semen. Dengan melakukan stabilisasi dua tahap menggunakan kapur dan semen, nilai UCS mengalami peningkatan dibandingkan dengan menggunakan kapur atau semen saja. Hasil pengujian menunjukkan stabilisasi dua tahap dapat meningkatkan nilai UCS dari 1,90 kg/cm2 menjadi 9,05 kg/cm2 dengan kadar kapur 6% pada tahap pertama, dan dengan menggunakan semen sebanyak 8% pada tahap kedua dapat meningkatkan nilai UCS dari 9,05 kg/cm2 menjadi 14,55 kg/cm2, sehingga dapat digunakan untuk lapis fondasi pada jalan dengan volume lalu-lintas yang rendah. Kata Kunci: stabilisasi dua tahap, kapur, semen, indeks plastisitas, kuat tekan bebas ABSTRACT There are many expansive soils found in Indonesia and are generally not used for road material. Utilization of the expansive soils for road material will be important especially in the area that are difficult to find aggregates, as in Trans Papua Kabupaten Merauke Ruas Tanah Merah. This research aims to know effectiveness of two stages stabilization for improving properties of expansive soils or high plasticity clays. A research has been carried out based on experimental methods through testing in the laboratory and analysis. The results showed that stabilization with lime can reduce material plasticity properties of soil, with lime 4% can lower plasticity index value from 30% to 17% after 2 days of mellowing time. Stabilization with lime can increase the value of UCS and a significant increase happening on lime proportion of 6%. Likewise also the stabilization with cement, the value of UCS can improve, the higher its increase the higher the increasing percentage of the ratio of cement. By doing a two stage stabilization using lime and cement, the value of UCS has increased compared to using lime or cement only. The test results showed a two-stage stabilization can increase the value of UCS from 1.9 kg/cm2 becomes 9.05 kg/cm2 with lime 6% on the first stage, and by using cement as much as 8% on a second stage can increase the value of UCS from 9.05 kg/cm2 becomes 14.55 kg/cm2, so it can be used as a base layer on a road with low traffic volume. Key words: two stage stabilization, lime, cement, plasticity index, UCS.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 1 (2025) Vol 41 No 2 (2024) Vol 41 No 1 (2024) Vol 40 No 2 (2023) Vol 40 No 1 (2023) Vol 39 No 2 (2022) Vol 39 No 1 (2022) Vol 38 No 2 (2021) Vol 38 No 1 (2021) Vol 37 No 2 (2020) Vol 37 No 1 (2020) Vol 36 No 2 (2019) Vol 36 No 1 (2019) Vol 35 No 2 (2018) Vol 35 No 1 (2018) Vol 34 No 2 (2017) Vol 34 No 1 (2017) Vol 33 No 2 (2016) Vol 33 No 1 (2016) Vol 32 No 3 (2015) Vol 32 No 2 (2015) Vol 32 No 1 (2015) Vol 31 No 3 (2014) Vol 31 No 2 (2014) Vol 31 No 1 (2014) Vol 30 No 3 (2013) Vol 30 No 2 (2013) Vol 30 No 1 (2013) Vol 29 No 3 (2012) Vol 29 No 2 (2012) Vol 29 No 1 (2012) Vol 28 No 3 (2011) Vol 28 No 2 (2011) Vol 28 No 1 (2011) Vol 27 No 3 (2010) Vol 27 No 2 (2010) Vol 27 No 1 (2010) Vol 26 No 3 (2009) Vol 26 No 2 (2009) Vol 26 No 1 (2009) Vol 25 No 3 (2008) Vol 25 No 2 (2008) Vol 25 No 1 (2008) Vol 24 No 3 (2007) Vol 24 No 2 (2007) Vol 24 No 1 (2007) Vol 23 No 3 (2006) Vol 23 No 2 (2006) Vol 23 No 1 (2006) Vol 22 No 4 (2005) Vol 22 No 3 (2005) Vol 22 No 2 (2005) Vol 22 No 1 (2005) Vol 21 No 4 (2004) Vol 21 No 3 (2004) Vol 21 No 2 (2004) Vol 21 No 1 (2004) Vol 20 No 4 (2003) Vol 19 No 3 (2002) Vol 19 No 2 (2002) Vol 19 No 1 (2002) Vol 18 No 2 (2001) Vol 18 No 1 (2001) Vol 17 No 2 (2000) Vol 17 No 1 (2000) Vol 16 No 3 (2000) Vol 16 No 2 (1999) Vol 15 No 4 (1999) Vol 15 No 1 (1998) Vol 15 No 3 (1997) Vol 15 No 1 (1997) No 4 (1997) No 2 (1997) Vol 13 No 2 (1996) Vol 13 No 1 (1996) No 4 (1996) No 3 (1996) Vol 12 No 3 (1995) Vol 12 No 2 (1995) Vol 12 No 1 (1995) Vol 11 No 1 (1994) Vol 10 No 3 (1993) Vol 10 No 2 (1993) Vol 10 No 1 (1993) Vol 9 No 4 (1993) Vol 9 No 3 (1992) Vol 9 No 2 (1992) Vol 9 No 1 (1992) Vol 8 No 3 (1992) Vol 7 No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1991) No 1 (1990) No 2 (1989) No 1 (1989) No 4 (1987) No 2 (1987) No 1 (1987) No 1 (1986) No 3 (1985) No 3 (1984) No 2 (1984) No 1 (1984) More Issue