cover
Contact Name
Umarwan Sutopo
Contact Email
eldusturie@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285745690180
Journal Mail Official
eldusturie@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Puspita Jaya, Ds Pintu, Kec Jenangan, Kab. Ponorogo, Jawa Timur 63492
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
El Dusturie: Jurnal Hukum dan Perundang-undangan
ISSN : 29622115     EISSN : 28307941     DOI : 10.21154/el-dusturie
El-Dusturie: Jurnal Hukum dan Perundangan merupakan jurnal peer-review dengan sistem double blind review yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah IAIN Ponorogo dengan ruang lingkup Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Khususnya dalam kaitannya dengan ketatanegaraan islam dan perkembangan isu-isu kontemporer
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2026)" : 6 Documents clear
Efektivitas Indikasi Geografis Dalam Melindungi Reputasi Produk Lokal: Analisis Yuridis Normatif Dan Kendala Implementasi Di Indonesia Thayyib, De Riziq
El-Dusturie Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Islam Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/eldusturie.v5i1.11353

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan hayati dan budaya yang menghasilkan berbagai produk lokal unggulan dengan nilai ekonomi tinggi, namun perlindungannya masih rentan terhadap pemalsuan dan klaim sepihak. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Indikasi Geografis (IG) sebagai instrumen perlindungan produk lokal dalam kerangka hukum kekayaan intelektual di Indonesia. Masalah utama yang diangkat (research gap) adalah ketidakefektifan regulasi saat ini (UU No. 20/2016) yang masih menyatukan rezim IG dengan hukum Merek, sehingga menimbulkan benturan konsep antara hak individual dan hak komunal.Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) untuk menelaah konsistensi norma serta doktrin hukum yang mendasari IG.Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendaftaran IG di Indonesia saat ini masih terkendala oleh ambiguitas norma dalam UU Merek, rendahnya kapasitas kelembagaan masyarakat produsen (MPIG), serta lemahnya pengawasan pasca-sertifikasi yang menyebabkan nilai ekonomi produk belum optimal. Sebagai kontribusi ilmiah, artikel ini merekomendasikan rekonstruksi hukum melalui pembentukan undang-undang IG bersifat sui generis yang memisahkan rezim komunal dari rezim merek dagang, penguatan sinergi "tripartit" antara pemerintah pusat, daerah, dan komunitas adat, serta pembentukan Direktorat IG khusus di bawah DJKI. Reformasi ini esensial untuk menjamin kepastian hukum, pelestarian budaya, dan kesejahteraan berkelanjutan bagi komunitas lokal. Keywords: Indikasi Geografis; Perlindungan Produk Lokal; Hak Kekayaan Intelektual Komunal.
Rekonstruksi Filosofis Dan Yuridis CSR Bagi Pembangunan Berkelanjutan Di Indonesia Defril Hidayat
El-Dusturie Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Islam Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/eldusturie.v5i1.12290

Abstract

Abstract: This study analyzes the disharmony in the regulation of Corporate Social Responsibility (CSR) within Indonesia’s legal system and its implications for legal certainty and social justice. This research is a normative legal study employing a statutory approach, a conceptual approach, and a philosophical approach. Legal materials are analyzed using a qualitative-prescriptive method through grammatical, systematic, and teleological legal interpretation of CSR provisions in the Limited Liability Company Law, the Investment Law, and the Environmental Protection and Management Law. The findings indicate that CSR regulation in Indonesia remains sectoral, fragmented, and poorly integrated, as reflected in divergent definitions, inconsistencies in the scope of legal subjects, and weak enforcement mechanisms and sanctions. This condition generates legal uncertainty and undermines the effectiveness of CSR as an instrument for sustainable development. The novelty of this study lies in the philosophical and juridical reconstruction of CSR within the framework of legal development, positioning CSR not merely as an administrative obligation of corporations, but as a legal instrument for realizing social justice based on the values of Pancasila and Article 33 of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. This study provides a scholarly contribution by proposing a harmonization model of CSR regulation through the enactment of a standalone, comprehensive, and integrative CSR Law as a national legal framework. Such regulation is expected to unify principles, legal subjects, implementation mechanisms, reporting, and supervision of CSR, thereby enabling CSR to function optimally as a legal instrument for sustainable development and equitable social welfare.  Keywords: Corporate Social Responsibility; legal harmonization; social justice; sustainable development; legal certainty.   Abstrak: Penelitian ini menganalisis disharmoni pengaturan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam sistem hukum Indonesia serta implikasinya terhadap kepastian hukum dan keadilan sosial. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan filosofis. Bahan hukum dianalisis melalui teknik analisis kualitatif-preskriptif, dengan menggunakan penafsiran gramatikal, sistematis, dan teleologis terhadap ketentuan CSR dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Penanaman Modal, dan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan CSR di Indonesia masih bersifat sektoral, parsial, dan tidak sinkron, yang tercermin dari perbedaan definisi, ruang lingkup subjek hukum, serta ketiadaan mekanisme pengawasan dan sanksi yang tegas. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan melemahkan efektivitas CSR sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan. Kebaruan penelitian ini terletak pada rekonstruksi filosofis dan yuridis CSR dalam kerangka hukum pembangunan, yang menempatkan CSR tidak hanya sebagai kewajiban administratif korporasi, tetapi sebagai instrumen hukum untuk mewujudkan keadilan sosial berdasarkan nilai Pancasila dan Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945. Penelitian ini berkontribusi secara ilmiah dengan menawarkan model harmonisasi regulasi CSR melalui pembentukan Undang-Undang CSR yang berdiri sendiri, komprehensif, dan integratif. Undang-undang tersebut diharapkan mampu menyatukan prinsip, subjek, mekanisme pelaksanaan, pelaporan, serta pengawasan CSR secara nasional, sehingga CSR dapat berfungsi secara optimal sebagai instrumen hukum bagi pembangunan berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.   Keywords: Corporate Social Responsibility; harmonisasi hukum; keadilan sosial; pembangunan berkelanjutan; kepastian hukum. Abstract: This study analyzes the disharmony in the regulation of Corporate Social Responsibility (CSR) within Indonesia’s legal system and its implications for legal certainty and social justice. This research is a normative legal study employing a statutory approach, a conceptual approach, and a philosophical approach. Legal materials are analyzed using a qualitative-prescriptive method through grammatical, systematic, and teleological legal interpretation of CSR provisions in the Limited Liability Company Law, the Investment Law, and the Environmental Protection and Management Law. The findings indicate that CSR regulation in Indonesia remains sectoral, fragmented, and poorly integrated, as reflected in divergent definitions, inconsistencies in the scope of legal subjects, and weak enforcement mechanisms and sanctions. This condition generates legal uncertainty and undermines the effectiveness of CSR as an instrument for sustainable development. The novelty of this study lies in the philosophical and juridical reconstruction of CSR within the framework of legal development, positioning CSR not merely as an administrative obligation of corporations, but as a legal instrument for realizing social justice based on the values of Pancasila and Article 33 of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. This study provides a scholarly contribution by proposing a harmonization model of CSR regulation through the enactment of a standalone, comprehensive, and integrative CSR Law as a national legal framework. Such regulation is expected to unify principles, legal subjects, implementation mechanisms, reporting, and supervision of CSR, thereby enabling CSR to function optimally as a legal instrument for sustainable development and equitable social welfare. Keywords: Corporate Social Responsibility; legal harmonization; social justice; sustainable development; legal certainty. Abstrak: Penelitian ini menganalisis disharmoni pengaturan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam sistem hukum Indonesia serta implikasinya terhadap kepastian hukum dan keadilan sosial. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan filosofis. Bahan hukum dianalisis melalui teknik analisis kualitatif-preskriptif, dengan menggunakan penafsiran gramatikal, sistematis, dan teleologis terhadap ketentuan CSR dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Penanaman Modal, dan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan CSR di Indonesia masih bersifat sektoral, parsial, dan tidak sinkron, yang tercermin dari perbedaan definisi, ruang lingkup subjek hukum, serta ketiadaan mekanisme pengawasan dan sanksi yang tegas. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan melemahkan efektivitas CSR sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan. Kebaruan penelitian ini terletak pada rekonstruksi filosofis dan yuridis CSR dalam kerangka hukum pembangunan, yang menempatkan CSR tidak hanya sebagai kewajiban administratif korporasi, tetapi sebagai instrumen hukum untuk mewujudkan keadilan sosial berdasarkan nilai Pancasila dan Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945. Penelitian ini berkontribusi secara ilmiah dengan menawarkan model harmonisasi regulasi CSR melalui pembentukan Undang-Undang CSR yang berdiri sendiri, komprehensif, dan integratif. Undang-undang tersebut diharapkan mampu menyatukan prinsip, subjek, mekanisme pelaksanaan, pelaporan, serta pengawasan CSR secara nasional, sehingga CSR dapat berfungsi secara optimal sebagai instrumen hukum bagi pembangunan berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Keywords: Corporate Social Responsibility; harmonisasi hukum; keadilan sosial; pembangunan berkelanjutan; kepastian hukum.
Rekonstruksi Keadilan Perspektif Teori Hukum Progresif Di Indonesia Hidayatul Umam, Ardinta; Agus
El-Dusturie Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Islam Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/eldusturie.v5i1.12371

Abstract

Abstrak: Munculnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di Indonesia semakin menguat akibat munculnya dominasi praktik penegakan hukum yang kaku, tekstual dan hanya berfokus terhadap kepastian hukum. Kondisi ini mencpitakan kesenjangan antara legalitas formal dan keadilan substantif dimana adanya kegagalan hukum dalam merespons dinamika sosial dan rasa kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi paradigma penegakan hukum dari sekedar penerapan aturan menjadi perwujudan keadilan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konsep hukum progresif dengan mekanisme partisipasi publik sebagai instrumen pengawasan aktif yang belum banyak di kaji secara mendalam pada penelitian terdahuklu. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual (conseptual research) untuk membedah doktrin keadilan serta pendekatan peraturan perundang-undangan. Teknik analisis bahan hukum dilakukan dengan preskriptif menggunakan logika deduktif guna merumuskan model penegakan hukum yang ideal. Temuan Utama dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa rekonstruksi keadilan substantif menuntut adanya reformasi pada tiga dimensi sistem hukum yang fundamental : (1) Reformasi kultur dan pola pikir (legal mindset) aparat penegak hukum agar lebih responsif; (2) Restruktutisasi kelembagaan yang transparan; (3) Penguatan budaya hukum kepada masyarakat. Sehingga studi ini menyimpulkan bahwa partisipasi publik bukan sekedar pelengkap melainkan juga menjadi elemen mutlak (conditio sine qua non) yang penting untuk mendorong penegakan hukum yang akuntabel dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan. Kata Kunci: Rekonstruksi; Keadilan Substantif; Hukum Progresif; Pengawasan dan Partisipasi Publik
Reformasi Legislatif : Polemik Tunjangan DPR Dan Konsolidasi Partai Perspektif Geopolitik Iriani, Dewi; Aisyah; Martha Eri Safira; Mohammad Pradhipta Erfandhiarta; Gusnia Putri Zahrotul Afifah
El-Dusturie Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Islam Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/eldusturie.v5i1.12378

Abstract

Pemerintahan berencana akan memberikan tunjangan perumahan anggota DPR sebesar Rp50.000.000 per bulan, tunjangan tersebut diatur dalam Surat Sekjen DPR RI Nomor B/733/RT.01/09/2024 Tahun 2024 dan Pasal 7 Undang-Undang No.12. Tahun 1980 Tentang fasilitas Rumah Jabatan Anggota (RJA). Tunjangan DPR tersebut menimbulkan polemik di masyarakat, sehingga menimbulkan dampak kemarahan dan kegaduhan masyarakat secara luas. Permasalahan yang akan dikaji ialah : 1) Bagaimana Konsolidasi Partai Politik Dalam Upaya Pencegahan Polemik Tunjangan DPR ? 2). Bagaimana Reformasi Legistatif Anggota DPR Secara Total Dalam Mewujudkan Demokrasi Goepolitik. Metodologi penelitian penulis merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian library, melalui pendekatan penelitian ; pendekatan studi kasus yang mengamati dan mengkaji kasus polemik kenaikan tunjangan DPR, pendekatan peraturan perundang-undangan yakni Undang-Undang MD3 Nomor 17 Tahun 2014, Pasal 7 Undang-Undang No 12 Tahun 1980 Tentang Fasilitas Rumah Jabatan Anggota (RJA), Surat Sekjen DPR RI Nomor B/733/RT.01/09/2024 Tahun 2024. Pendekatan konseptual dengan menggunakan teori kekuasaan lembaga legislative, teori konsolidasi partai politik dan teori geopolitik global. Hasil penelitian 1) Pembatalan atas aturan kenaikan tunjangan rumah untuk anggota DPR, dipengarui konsolidasi partai politik yang duduk di parlemen. Maka diperlukan upaya pencegahan polemik tunjangan DPR dengan memperkuat sistem peradilan dan membangun rule of law, Pemberantas korupsi dan peramasan asset koruptor, badan legislative professional, desentralisasi parlemen dan partisipasi rakyat. 2) Geografi politik negara terhadap luas wilayah, penduduk, budaya suatu negara akan mempengaruhi politik disetiap negara akan berbeda dalam membuat undang-undang oleh legislative atau parlemen. Legislatif dalam membuat undang-undang (legislasi) berpihak pada kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi partai politik maupun anggota DPR. Permasalahan yang terjadi di legislative anggota DPR yang telah dianggap menurunkan kreditabilitas anggota DPR, maka diperlukan reformasi legistatif anggota DPR secara total dalam mewujudkan goepolitik demokrasi
Cybercrime Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam: Tantangan Formulasi Sanksi Di Era Digital Ahmad Farid; Hajid Aflah al-Hafidz; Maulana Firmansyah; Saiin, Asrizal
El-Dusturie Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Islam Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/eldusturie.v5i1.12671

Abstract

Abstract: Cybercrime from the perspective of Islamic criminal law presents significant challenges in formulating appropriate sanctions in the digital era, particularly as the rapid development of information technology has generated new forms of crime that are not explicitly addressed in classical Islamic legal literature. This study aims to evaluate the extent to which the principles of Islamic criminal law can accommodate the phenomenon of cybercrime and how contemporary ijtihad can be applied to formulate fair and relevant sanctions. Using a normative legal approach through the analysis of classical and contemporary Islamic legal sources, this study finds the necessity of reformulating the concepts of jarīmah and ta‘zīr within the digital context to preserve the continued relevance of Islamic criminal law. This reformulation involves expanding the concept of jarīmah to include the protection of digital data as māl mutaqawwim (legally recognized property) and developing proportionate digital ta‘zīr sanctions based on the severity and impact of the offense. Such reformulation must remain aligned with the objectives of maqāṣid al-sharī‘ah the protection of religion, life, intellect, lineage, and property given that cybercrime poses significant threats to moral and social security. Therefore, the enforcement of Islamic criminal law should emphasize preventive and educational measures while also engaging constructively with positive law to establish a comprehensive and adaptive legal framework responsive to modern technological developments.Keywords: Cybercrime; Islamic Criminal Law; Ta’zir, Digital Era; Sanction Formulation  Abstrak: Kejahatan siber dari perspektif hukum pidana Islam menghadirkan tantangan besar dalam merumuskan sanksi yang tepat di era digital, terutama karena pesatnya perkembangan teknologi informasi telah melahirkan bentuk-bentuk kejahatan baru yang tidak dibahas secara eksplisit dalam literatur klasik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip hukum pidana Islam mampu mengakomodasi fenomena cybercrime serta bagaimana ijtihad kontemporer dapat diterapkan untuk merumuskan sanksi yang adil dan relevan. Dengan menggunakan pendekatan hukum normatif melalui analisis sumber-sumber hukum Islam klasik dan modern, penelitian ini menemukan perlunya reformulasi konsep jarimah dan ta’zir dalam konteks digital guna menjaga relevansi hukum Islam. Reformulasi tersebut dilakukan dengan memperluas konsep jarīmah pada perlindungan data sebagai māl mutaqawwim dan merumuskan sanksi ta‘zīr digital yang proporsional sesuai tingkat dampaknya. Reformulasi hukuman ini perlu selaras dengan maqāṣid al-syarī‘ah untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, mengingat kejahatan digital juga mengancam keamanan moral dan sosial. Oleh karena itu, penegakan hukum Islam harus mengedepankan aspek preventif, edukatif, serta bekerja sama dengan hukum positif agar tercipta sistem hukum yang komprehensif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi modern. Kata Kunci: Kejahatan Siber; Hukum Pidana Islam; Ta’zir; Era Digital; Perumusan
Rekonstruksi Kebijakan Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam Mengatasi Pengangguran Perspektif Maqasid Al-Syari’ah Nasution, Saipul; Azrul Amirullah, Muhammad; Bin Basri, Mokmin; Jamhuri
El-Dusturie Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Islam Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/eldusturie.v5i1.13335

Abstract

Abstract: The high unemployment rate indicates an imbalance between job availability and the quality of human resources (HR) produced by the national development system. Most HR development policies are still oriented towards conventional economic approaches that emphasize productivity and economic growth alone, thus paying little attention to the dimensions of ethics, social justice, and holistic human welfare. This study aims to analyze the role of human resource development in addressing unemployment through the perspective of Maqasid al-Shari'ah and to formulate a framework for reconstructing public policy based on Islamic political values. This study uses a qualitative method with a library research approach that examines classical and contemporary literature in the fields of Islamic politics, Islamic economics, and normative sources such as the Qur'an and hadith related to the concept of work and human development. Data analysis is conducted descriptively-qualitatively through normative-theological and sociological approaches to connect Islamic principles with human resource development strategies in the modern context. The results show that Islam views HR development as an integral process that encompasses the development of human intellectual, spiritual, and moral aspects. Within the framework of Maqasid al-Shari'ah, efforts to address unemployment are closely related to the protection of human reason, life, and property. Therefore, the state has a strategic responsibility to formulate policies on education, job training, economic empowerment, and equitable job creation. This research confirms that integrating the values ​​of the maqasid al-Shari'ah into human resource development policies can be an alternative approach to addressing unemployment while achieving sustainable social welfare.   Keywords: Human Resource Development; Unemployment; Islamic Politics; Maqasid Al-Shari'ah, Public Policy.   Abstrak: Tingginya tingkat pengangguran menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan lapangan kerja dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan oleh sistem pembangunan nasional. Sebagian besar kebijakan pembangunan SDM masih berorientasi pada pendekatan ekonomi konvensional yang menekankan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi semata, sehingga kurang memperhatikan dimensi etika, keadilan sosial, dan kesejahteraan manusia secara holistik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pembangunan sumber daya manusia dalam mengatasi pengangguran melalui perspektif Maqasid al-Shari'ah serta merumuskan kerangka rekonstruksi kebijakan publik berbasis nilai-nilai politik Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research yang mengkaji literatur klasik dan kontemporer dalam bidang politik Islam, ekonomi Islam, serta sumber-sumber normatif seperti Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan konsep kerja dan pembangunan manusia. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui pendekatan normatif-teologis dan sosiologis guna menghubungkan prinsip-prinsip Islam dengan strategi pembangunan sumber daya manusia dalam konteks modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam memandang pembangunan SDM sebagai proses integral yang mencakup pengembangan aspek intelektual, spiritual, dan moral manusia. Dalam kerangka maqasid al-syari’ah, upaya penanggulangan pengangguran berkaitan erat dengan perlindungan terhadap akal, jiwa, dan harta manusia. Oleh karena itu, negara memiliki tanggung jawab strategis dalam merumuskan kebijakan pendidikan, pelatihan kerja, pemberdayaan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja yang berkeadilan. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi nilai-nilai maqasid al-syari’ah dalam kebijakan pembangunan SDM dapat menjadi pendekatan alternatif dalam mengatasi pengangguran sekaligus mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan. Kata kunci: Pembangunan Sumber Daya Manusia; Pengangguran; Politik Islam; Maqasid Al-Syari’ah; Kebijakan Publik.

Page 1 of 1 | Total Record : 6