cover
Contact Name
Auliya Ghazna Nizami
Contact Email
auliyanizami@uinsa.ac.id
Phone
+6281915490279
Journal Mail Official
jurnalkomparatif@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani No.117, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam
ISSN : -     EISSN : 30261643     DOI : https://doi.org/10.15642/komparatif.v3i2
The Komparatif furnishes an international and regional scholarly forum for research on Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic and other aspects of Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought in all times and places.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2022): Juni" : 5 Documents clear
Komparasi Pemikiran Wahbah Zuhaili dan Musdah Mulia tentang Penyelesaian Nusyuz Rahmayanti, Nurvita; Ulya, Zakiyatul
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1679

Abstract

bstract: Marriage is a legal bond between a man and a woman as husband and wife to form a prosperous and happy family. Not infrequently, domestic life is not always harmonious; differences of opinion cause fights and even blame each other. Each partner has rights and obligations that must be carried out according to applicable regulations. If they violate these provisions, it can be said to be nusyuz. Wahbah Zuhaili and Musdah Mulia have different opinions regarding the concept and completion of nusyuz. This study aims to discover the concept and completion of nusyuz according to Wahbah Zuhaili and Musdah Mulia. The research method used by the researcher is Library Research or literature study. The differences in opinion between Wahbah Zuhaili and Musdah Mulia focused on several aspects, one of which was the completion of nusyuz at the final stage and also the meaning of waḍribūhunna in verse An-Nisa' verse 34. In addition to differences, both of them also have similarities of opinion such as nusyuz can be done by the wife or husband. Keywords: Musdah Mulia, Nusyuz, Wahbah Zuhaili. Abstrak: Pernikahan adalah suatu ikatan yang sah antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri untuk membentuk sebuah keluarga yang sejahtera dan bahagia. Tak jarang dalam kehidupan rumah tangga tidak selalu harmonis dan terjadi pertengkaran yang disebabkan perbedaan pendapat bahkan menyalahkan satu sama lain. Setiap pasangan memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku, jika melanggar ketentuan tersebut maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai nusyuz. Wahbah Zuhaili dan Musdah Mulia memiliki perbedaan pendapat mengenai konsep serta penyelesaian nusyuz. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana konsep dan penyelesaian nusyuz menurut Wahbah Zuhaili dan Musdah Mulia. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu Library Research atau studi pustaka. Perbedaan pendapat Wahbah Zuhaili dan Musdah Mulia terfokus pada beberapa aspek salah satunya penyelesaian nusyuz pada tahap akhir dan juga makna tentang waḍribūhunna dalam ayat An-Nisa’ ayat 34. Selain perbedaan, keduanya juga memiliki persamaan pendapat seperti nusyuz dapat dilakukan pihak istri maupun suami. Kata Kunci: Musdah Mulia, Nusyuz, Wahbah Zuhaili.
Analisis terhadap Hasil Pemikiran Yusuf Qardhawi Berkenaan Nikah Misyar menurut Ulama Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah Kota Malang Kholil, Ahmad; Kasuwi Saiban; R. Cecep Lukman Yasin
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1682

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to find out the views of NU and Muhammadiyah scholars in Malang regarding Yusur Qardhawi's thoughts regarding misyar marriage. This research falls under the umbrella of qualitative descriptive research or empirical studies. Sort the information collected from interviews and documents into primary, secondary, and tertiary data, then edit, categorize, verify, and analyze. Based on these findings, the following can be put forward the views of NU and Muhammadiyah Malang clerics regarding Yusuf Qardhawi's fatwa regarding misyar marriage: first, NU and Muhammadiyah Malang ulema are of the view that misyar marriage is permissible as long as the conditions and pillars are met. On the second point, NU and Muhammadiyah clerics in the city of Malang said that maqashidun marriages in misyar marriages are possible but underutilized. Third, NU and Muhammadiyah clerics in the city of Malang are of the view that only a small part of the rights and obligations of husband and wife are fulfilled in misyar marriages. There is a strong tendency among NU scholars, especially those leaning towards the Shafi'i school, to consult the canonical works of the four schools in forming their own opinions. Muhammadiyah scholars, meanwhile, cite the Al-Qur'an and as-Sunnah as their main sources; they can also cite additional opinions from one of the four schools of thought, but only if both are authoritative and do not conflict with the Qur'an and As-Sunnah. Keywords: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Misyar Marriage   Abstrak: Tujuan penelitian berikut adalah untuk mengetahui pandangan ulama NU serta Muhammadiyah kota Malang menyikapi pemikiran Yusur Qardhawi berkenaan nikah misyar. Riset berikut berada di bawah payung penelitian deskriptif kualitatif atau studi empiris. Urutan informasi yang dikumpulkan dari wawancara dan dokumen menjadi data primer, sekunder, dan tersier, lalu edit, kategorikan, verifikasi, dan analisis. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, berikut dapat dikemukakan pandangan ulama NU dan Muhammadiyah Malang terhadap fatwa Yusuf Qardhawi berkenaan nikah misyar: Pertama, ulama NU dan Muhammadiyah Malang berpandangan bahwasanya nikah misyar diperbolehkan selama syarat dan pilar terpenuhi. Pada poin kedua, ulama NU serta Muhammadiyah kota Malang mengatakan bahwasanya pernikahan maqashidun dalam pernikahan misyar dimungkinkan tetapi kurang dimanfaatkan. Ketiga, ulama NU serta Muhammadiyah kota Malang berpandangan bahwasanya hanya sebagian kecil dari hak serta kewajiban suami istri yang terpenuhi pada pernikahan misyar. Ada kecenderungan kuat di kalangan ulama NU, terutama yang condong ke mazhab Syafi'i, untuk mengkonsultasikan karya kanonik keempat mazhab tersebut dalam membentuk pendapatnya sendiri. Para ulama Muhammadiyah, sementara itu, mengutip Al-Qur'an dan as-Sunnah dijadikan sumber utama mereka; mereka juga dapat mengutip pendapat tambahan dari salah satu dari empat mazhab, tetapi hanya jika keduanya otoritatif serta tidak bersebrangan dengan Al-Qur'an serta As-Sunnah. Kata Kunci: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Nikah Misyar  
Penggunaan Masker ketika Shalat Berjamaah sebagai Upaya Meminimalisir Penyebaran Covid-19 menurut Majelis Ulama Indonesia Pratama, Calvin; Jinan, Roihul; Muharram, Thoriq Zahir
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1901

Abstract

Abstract: This article discusses the  Use of Masks During Congregational Prayers as an Effort to Minimize the Spread of Covid-19 According to the Indonesian Ulema Council (MUI) of Belu Regency and South Central Timor Regency, East Nusa Tenggara.  This research uses a descriptive research method with a qualitative approach, where this research seeks to tell problem solving based on data in the field. Research data are collected through observation, interviews, and literature review, and then analyzed with descriptive analysis techniques. The results of the study concluded that the law on the use of masks during congregational prayers as an effort to minimize the spread of Covid-19 according to the MUI of Belu Regency and SouthCentral Timor Regency, East Nusa Tenggara, there are similarities, namely allowed and legal prayers, because there are celebrations or urgent needs that if not implemented, it is feared that the spread of the Covid-19 virus will spread. The difference is in the legal basis that is used as the legal basis, the MUI of Belu Regency makes hadith and rules of jurisprudence as the legal basis, while the MUI of South Central Timor Regency makes the Qur'an and the rules of jurisprudence as the legal basis. Keywords: mask, prayer, law, MUI. Abstrak: Artikel ini membahas tentang Penggunaan Masker Ketika Shalat Berjamaah Sebagai Upaya Meminimalisir Penyebaran Covid-19 Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belu Dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, di mana penelitian ini berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah berdasarkan data-data di lapangan. Data penelitian dihimpun melalui observasi, wawancara, dan telaah pustaka, dan selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif analisis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, hukum penggunaan masker ketika shalat berjamaah sebagai upaya meminimalisir penyebaran Covid-19 menurut MUI Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur terdapat kesamaan yaitu diperbolehkan dan sah shalatnya, sebab adanya hajat atau kebutuhan mendesak yang apabila tidak dilaksanakan maka dikhawatirkan akan tersebarnya virus Covid-19. Adapun perbedaannya terdapat dalam dasar hukum yang dijadikan sebagai landasan hukum, MUI Kabupaten Belu jadikan hadis dan kaidah fikih sebagai dasar hukum, sedangkan MUI Kabupaten Timor Tengah Selatan jadikan Al-qur’an dan kaidah fikih sebagai dasar hukum. Kata Kunci: masker, shalat, hukum, MUI. 
Menyalurkan Zakat untuk Sekolah dan Pesantren perspektif Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’rani dan Syekh Mahmud Syaltut Bastoni, Ahmad; Hidayatullah , Erik; Rohman, Muhammad Taufiqur
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1934

Abstract

Abstract: This article examines the law on distributing Zakat to schools and Islamic boarding schools from the perspective of Syaikh Abdul Wahhab al-Sya'rani and Syaikh Mahmud Syaltut. This article results from library research, which is descriptive and analytical using a comparative approach method. The data sources for this research are books by Shaykh Abdul Wahab al-Sya'rani and works by Mahmud Syaltut. Using documentation data processing techniques, the data is organized, edited and analyzed using an inductive mindset. The results of the research reached two conclusions. First, Shaykh Abdul Wahab Sya'rani agrees with the four schools of thought (Hanafi, Maliki, Syafi'i and Hambali), namely stating that it is not permissible to distribute Zakat to other than those mentioned by Allah in His word QS. At-Taubah, 9: (60). Zakat may not be distributed to build mosques, bridges, etc. The target does not have ownership rights regarding Zakat, even though it is a pious charity. The sentence innamā in that verse becomes a barrier to other than the eight groups that Allah has determined. Second, according to Syaikh Mahmud Syaltut, mosque financing is included in zakat expenditure as stated in the QS. At-Taubah, 9: (60) with the name sabilillah. In the current context, this opinion aligns with the idea of Al-Azhar cleric and reformer Sayid Muhammad Rasyid Ridha, who interpreted the meaning of sabilillah as unlimited groups of zakat recipients. Keywords: Zakat law, schools and Islamic boarding schools, comparative analysis, Syaikh Abdul Wahab al-Sya'rani, and Syaikh Mahmud Syaltut. Abstrak: Artikel ini mengkaji hukum menyalurkan zakat untuk sekolah dan pesantren perspektif Syaikh Abdul Wahhab al-Sya’rani dan Syekh Mahmud Syaltut. Tulisan ini adalah hasil penelitian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan metode pendekatan komparatif. Sumber data penelitian ini adalah kitab karya Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani dan karya Mahmud Syaltut. Dengan teknik pengolahan data dokumentasi data kemudian diatur, disunting, dan dianalisis dengan pola pikir induktif. Hasil penelitian mendapatkan dua kesimpulan. Pertama, Syaikh Abdul Wahab Sya’rani sependapat dengan mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), yaitu menyatakan tidak bolehnya mendistribusikan zakat kepada selain yang disebutkan Allah dalam firman-Nya QS. At-Taubah, 9: (60). Zakat tidak boleh didistribusikan untuk membangun masjid, jembatan dan lain sebagainya. Alasannya adalah, sasaran tersebut tidak memiliki hak kepemilikan dalam hal zakat, walaupun berfungsi sebagai amal soleh. kalimat innamā  dalam ayat itu menjadi pembatas terhadap selain delapan golongan yang telah ditentukan Allah. Kedua, menurut Syaikh Mahmud Syaltut, pembiayaan masjid termasuk dalam pembelanjaan zakat sebagaimana dinyatakan dalam QS. At-Taubah, 9: (60) dengan nama sabilillah. Pendapat ini, dalam konteks masa kini sejalan dengan pendapat ulama Al-Azhar dan tokoh pembaharu Sayid Muhammad Rasyid Ridha yang memaknai pengertian sabilillah dengan golongan penerima zakat tidak terbatas. Kata kunci: Hukum zakat, sekolah, dan pesantren, analisis komparatif, Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani, dan Syaikh Mahmud Syaltut
Tathawwur al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Mujtama’ al-Libyi Masoud, Amera J; Syafaq, Hammis
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 2 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v2i1.1958

Abstract

Abstract: This article discusses the development of Muslim women in Libya. Women in society play a role that surpasses the role of men in the growth and development of society, as women are half of society. Women in the pre-Islamic era were a commodity that men owned, and they did not have any rights. At the beginning of Islam's advent, women's status changed a lot, and women became entitled to many rights and status. In addition to obtaining all their rights recognized by the Islamic religion and accompanied by Libyan legislation, Libyan women have incited the inclusion of women's rights through the ratification of international conventions and women's participation in all fields. Women's rights are their right to education, their right to choose a husband, their right to litigation, to defend their financial rights and to remedy injustice against them, women's right to work and to hold public office, women's right to judicial and litigation functions,  women's right to political participation and community development, and women's right to health care. Keywords: Women, Muslimah, Islam, Libya.   الملخص: إن هذه المقالة تبحث تطور المرأة المسلمة في ليبيا. المرأة في المجتمع  تلعب دورًا يتفوق على دور الرجل في نماء المجتمع وتطوره، فالمرأة هي نصف المجتمع. كانت المرأة في الجاهلية عبارة عن سلعة تخضع لملكية الرجل ، ولم تكن لها أي من الحقوق. وبداية ظهور الاسلام تغير وضع المرأة كثيرا واصبحت المرأة لها كثيرا من الحقوق واصبحت لها مكانة. إن المرأة الليبية اضافة الي حصولها على جميع حقوقها التي اقرها الدين الاسلامي وواكبتها التشريعات الليبية التطور فحرضت على تضمين حقوق المرأة من خلال التصديق على المواثيق الدولية ومشاركة المرأة في كل المجالات. فحقوق المرأة هي حقّها  في التربية والتعليم، حقّها في اختيار الزوج وحقها في التَّقاضي والدِّفاع عن حُقوقها الماليّة ورفع الظلم عنها، حق المرأة  في العمل و تولي الوظائف العامة، حق المرأة في تولي الوظائف القضائية والتقاضي، حق المرأة في المشاركة السياسية و تنمية المجتمع، وحق المرأة والرعاية الصحية. الكلمات الرئيسيه: المرأة، المسلمة، اسلام، ليبيا.

Page 1 of 1 | Total Record : 5