cover
Contact Name
I Putu Udiyana Wasista
Contact Email
udiyanawasista@isi-dps.ac.id
Phone
+6281805390402
Journal Mail Official
jurnal.hastagina@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Program Studi Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah, Sumerta, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Hastagina: Jurnal Kriya dan Indsutri Kreatif
ISSN : -     EISSN : 28297393     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
 Jurnal ini menerbitkan karya tulis hasil penelitian baik berupa kajian dan penciptaan yang merujuk pada aspek keilmuan kriya yang meliputi jenis medianya seperti: 1) Kriya Logam; 2) Kriya Tekstil; 3) Kriya Keramik; 4) Kriya Kayu; dan 5) Kriya Kulit. Sedangkan berdasarkan fungsinya, yaitu: 1) Kriya Ritual; dan 2) Kriya Dekoratif. Begitupula pada pendekatan yang digunakan, meliputi: 1) Tradisional; 2) Kontemporer; dan 3) Ekologis (penggunaan material berkelanjutan).
Articles 116 Documents
STUDI PEMANFAATAN WARNA ALAM PADA PRODUK TEKSTIL Mukti, Made Wahyu Prisma; Sumantra, I Made; Karuni, Ni Kadek
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.2906

Abstract

Industri fast fashion dikenal karena kemampuannya untuk menghasilkan pakaian dengan cepat. Merek-merek fast fashion dapat merespons tren mode terbaru dengan mempercepat proses desain, produksi, dan distribusi. Hal ini memungkinkan mereka untuk menawarkan koleksi baru dengan cepat, seringkali dalam hitungan minggu. Produksi massal dalam industri fast fashion dapat memiliki dampak serius pada lingkungan. Proses pewarnaan tekstil, penggunaan bahan kimia, dan pengelolaan limbah yang kurang baik dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah. Selain itu, limbah tekstil dari pakaian yang tidak terpakai menjadi masalah serius. Proses produksi tekstil dan pakaian dalam industri fast fashion menggunakan banyak bahan kimia berbahaya, seperti pewarna sintetis dan zat kimia pengolahan tekstil. Limbah cair dari pabrik-pabrik dapat mencemari air, sedangkan pembuangan limbah padat dapat menyebabkan pencemaran tanah. Produksi kain dan pakaian memerlukan penggunaan air yang sangat besar. Proses pewarnaan dan finishing tekstil, khususnya pada serat sintetis, dapat menggunakan banyak air dan menciptakan limbah beracun yang mempengaruhi kualitas air. Pewarna alam dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pewarna sintetis dalam konteks maraknya fast fashion. Penggunaan pewarna alam dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dibandingkan pewarna sintetis. Pewarna alam sering kali lebih mudah diuraikan dan dapat dipecah oleh mikroorganisme secara alami. Ini meningkatkan potensi daur ulang dan mengurangi akumulasi limbah tekstil yang sulit terurai. Tumbuhan yang digunakan untuk pewarna alam sering ditanam dengan metode pertanian organik, mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia sintetis. Ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi dampak negatif pada ekosistem pertanian.
Proses Pembuatan Topeng Panca Di Sanggar Seni Citra Kara Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar: Proses Pembuatan Topeng Panca Di Sanggar Seni Citra Kara Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar Cahayana Putra, I Gede; Suardina, I Nyoman; Jana, I Made
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.2912

Abstract

Topeng Panca sebagai hasil dalam budaya Bali, berkaitan dengan upacara keagamaan, yang luarannya menyatu ke seni pertunjukan. Namun, dalam topik ini penulis lebih mempelajari proses pembuatan Topeng (Tapel) yang digunakan dalam pergelaran Topeng Panca. Untuk itu penulis menggunakan metode observasi, yaitu mengamati karakteristik dan bentuk Topeng Panca, dan wawancara kepada tokoh ahli dan budayawan, mengenai asal – usul tari Topeng Panca, dan juga dilakukan metode pengumpulan data melalui kepustakaan. Setelah data terkumpul dilakukan reduksi dan di analisis data, baik penggunaan bahan, teknik/proses pembuatan dan proses pewarnaan Tapel/Topeng Panca. Proses pembuatan Tapel/Topeng Panca, mengambil tempat, yaitu di Sanggar Seni Citra Kara, Br.Puaya, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar di rumah/studio Sang Guru Bapak I Made Muji. Proses penciptaan berlangsung selama lima bulan, menghasilkan sejumlah Topeng Panca, yaitu Topeng Keras, Topeng Tua, Topeng Arsa Wijaya, Topeng Penasar Wijil dan Topeng Sidakarya. Fungsi Topeng Panca ini, dapat digunakan untuk kepentingan upacara agama, kebutuhan masyarakat baik sebagai benda pajangan, maupun dijadikan benda cendramata.
Pengayaan Penerapan Ornamen Pada Usaha Arsitektur Bali di PT. Sraya Bali Style Batubulan, Sukawati, Gianyar Manan, Abdul; Arimbawa, I Made Gede; Suardana, I Wayan
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.2913

Abstract

Seni kriya merupakan sebuah karya yang menekankan keterampilan tangan dalam proses berkarya dan mengutamakan bentuk-bentuk dan kerajinan yang diciptakan dengan fungsi tertentu, persoalan magang/praktik kerja mbkm ini, bertujuan ingin mengetahui keberadaan eksistensi perusahaan yang ada di PT. sraya bali style. Metode yang digunakan dalam penulisan ini yaitu observasi, wawancara, partisipasi, dokumentasi. Dalam pengumpulan data ini berharap mendapatkan pengetahuan adapun gambaran terkait pengolahan bahan, proses pembuatan, dan perwujudan. Hasil dari kegiatan magang/praktik kerja di PT. Sraya Bali Style dapat menjadi sebuah metode dalam berkarya dengan penerapan alih pengetahuan, alih keterampilan, dan alih teknologi. Kesimpulan dalam Pengayaan dilakukan di perusahaan PT. Sraya Bali Style sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan magang/praktik kerja dengan ini penulis mandalami semua pengatahuan yang ada terutama pada tehnik ukir tradisional yang ada di perusahaan tersebut sehingga penulis bisa menciptakan sebuah karya yang diterapkan pada hiasan dinding dengan motif ornamen madura.
Pengembangan Pengembangan Motif Dan Bentuk Mahkota Sendratari Tokoh Rama Di Sanggar Citra Kara, Banjar Puaya, Desa Batuan Sukawati Purnama, I Dewa Gede Wahyu; Wiyasa, I Nyoman Ngidep; Jaya CK., I Gusti Ngurah Agung
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.992

Abstract

Penulis memilih sanggar Citra Kara sebagai tempat MBKM untuk belajar dan menambah ilmu baik itu dalam hal pengetahuan, keterampilan maupun mempelajari teknologi baru yang belum penulis ketahui sebelumnya dan mengenalkan penulis dengan kondisi dilapangan bagaimana proses dalam bekerja khususnya membuat ukiran kulit Bali. Dalam kegiatan magang ini penulis belajar tentang cara membuat pola global untuk membuat mahkota  sendratari tokoh Rama, belajar menggambar pola ornament tatah kulit dengan benar, belajar tentang proses finishing pada ukiran kulit. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Pada projek magang MBKM ini penulis mencoba memadukan keterampilan yang penulis peroleh pada tempat magang, penulis padukan dengan ilmu pengetahuan tentang ornament yang telah penulis peroleh pada perguruan tinggi. Dalam hal ini penulis mencoba mengembangkan motif ukiran pada mahkota sendratari tokoh rama yang sebelumnya menggunakan patra punggel, penulis tambahkan dengan patra samblung dan ulanda untuk memunculkan pengembangan baru serta menerapkan teknik membuat ukiran kulit pada motif patra samblung dan ulanda yang penulis masukan pada mahota sendratari tokoh Rama, selain menambahkan motif ornament penulis juga menambahkan warna gradasi pada mahkota untuk memunculkan kebaharuan, karena pada mahkota sendratari yang penulis jumpai di Sanggar Citra Kara menggunakan warna emas dan tidak ada penambahan warna gradasi.  
Pengenalan Potensi Ekonomi Tanaman Porang Kepada Masyarakat Melalui Produk Batik Hanif, Nurmarilis Auliya; Darwanto
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 4 No 01 (2024): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v4i01.1707

Abstract

Porang batik from Madiun has capital problems that make it difficult for batik to develop, such as the absence ofregeneration. In the absence of regeneration, making porang batik is still not well known by the public. So from theseproblems, you can create a porang batik design by bringing out the characters on the porang plant so that it can attractthe public to better understand the potential of the porang plant. The problem in this design is how to create porangmotifs to be better known by the public. In addition, it also cultivates the porang plant as an inspiration for motifs thatcan be realized in designs into fabrics with the cold night batik technique. The method used is the Collin ClipsonMethod as a reference and principles of art by considering aesthetic aspects, materials, techniques, functions, andmarket segments. So that it is expected to be able to solve problems in the design of these products, in order to producea product that is functional and also worth selling. This design resulted in 8 designs of batik cloth with stylized andnaturalist styles. With the results of this design, it is able to present a touch or other style in the display of motifs withthe source of the idea of porang plants. Therefore, it is expected to be able to provide awareness to the public about theimportance and economic value of the porang plant.
Penciptaan Kostum Tari Pancering Dewata Mahendra, I Putu Agus; Suardina, I Nyoman; Suparta, I Made
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.1995

Abstract

Karya kostum Tari Pancering Dewata terinspirasi dari gambar pada kalender mengenai lima dewa penguasa penjuru mata angin,  lengkap dengan wahana dan atributnya. Hal ini yang merangsang munculnya ide untuk menciptakan sebuah kostum tari dengan imajinasi dan mereinterpretasi konsep panca dewata. Pancering Dewata memiliki arti inti atau pusat dari segala dewa. Sastra-sastra Hindu menjelaskan bahwa pusat dari segala dewa dan semesta adalah Siwa. Dewa Siwa menjadi pusat segala dewa yang menaungi segala arah  semesta dan penjuru mata angin. Tujuan penciptaan Kostum Tari Pancering Dewata ini adalah sebagai pemenuhan luaran program Projek Independen MBKM yang menitik beratkan pada inovasi baru melalui kemerdekaan belajar bersama sanggar atau pihak terkait, guna terciptanya karya yang lebih kreatif. Penciptaan karya kostum Tari Pancering Dewata menggunakan metode penciptaan seni kriya SP.Gustami yang dijelaskan dalam buku yang berjudul Butir-Butir Mutiara Estetika Timur ‘’ide dasar penciptaan seni kriya indonesia’’, Terdapat tiga tahap penciptaan, yaitu: ekspolrasi, perancangan, dan perwujudan. Eksplorasi meliputi aktivitas penjelajahan menggali sumber ide dengan langkah indentifikasi dan perumusan masalah mengenai sumber kreatif pencipta dalam memaknai Pancering Dewata. Perancangan, ide dibangun berdasarkan perolehan butir penting dari hasil analisis yang dirumuskan dalam visualisasi gagasan bentuk sketsa alternatif dan terpilih sebagai acuan reka bentuk. Perwujudan, pembuatan model sesuai sketsa terpilih atau gambar teknik yang telah disiapkan menjadi model prototype sampai ditemukan kesempurnaan karya yang dikehendaki. Berdasarkan eksplorasi, eksperimen teknik dan bahan, inovasi dan capaian proses bimbingan dalam projek MBKM dengan mengutamakan teknik tatahan kulit tradisional Bali, dihasilkan 5 (lima) set Kostum tari Pancering Dewata menggunakan kulit sapi sebagai bahan utama dalam pembuatannya.  Luaran ini bermanfaat dalam pengembangan bentuk tari dengan tema Dewata dalam masyarakat, sehingga memiliki daya guna dan aplikatif.
Perancangan Batik Tulis Warna Alam Teknik Negative Painting Dengan Inspirasi Semanggi Surabaya Nariswari, Syahda Putri; Affanti, Tiwi Bina
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i01.2733

Abstract

Perancangan berjudul “Perancangan Batik Tulis Warna Alam Teknik Negative Painting dengan Inspirasi Semanggi Surabaya” merupakan sebuah karya yang dilatarbelakangi oleh kurangnya minat masyarakat terhadap motif batik Semanggi Surabaya. Produk batik semanggi kurang berkembang dan berdaya saing dikarenakan adanya beberapa permasalahan salah satunya motif yang kurang variatif dan ketidakmampuan dalam menghadapi persaingan dengan produk batik lainnya. Tujuan dari perancangan ini adalah memberikan tampilan batik Semanggi Surabaya yang lebih menarik dan khas sesuai tren masa kini sehingga minat masyarakat terhadap motif batik ini dapat meningkat. Perancangan produk batik ini menerapkan metode pendekatan menurut SP. Gustami, yang mengemukakan 3 tahap 6 langkah. Ketiga tahap tersebut adalah tahap eksplorasi atau pengumpulan data, perancangan atau pembuatan sketsa dan desain, terakhir adalah perwujudan. Hasil perancangan ini sebagai berikut: (1) Motif semanggi, motif kerupuk, dan motif sambal. Perancangan ini berhasil membuat 6 desain panel. (2) Produk tersebut berupa kain panjang untuk wanita berusia 20-30 tahun kalangan menengah. Kain panjang tersebut menggunakan teknik batik tulis yang terinspirasi dari teknik negative painting pada cat air dan menggunakan pewarna alam berupa serbuk antara lain: tegeran, tingi, daun mangga, secang, dan teh hijau. Bahan untuk produk ini berupa kain katun sutra.
Perancangan Motif Topeng Dengan Teknik Batik Cap Berbahan Kertas Untuk Cardigan Intania, Nur Annisa; Affanti, Tiwi Bina
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 4 No 01 (2024): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v4i01.2735

Abstract

This design is motivated by young people who currently have difficulty learning about batik and a culture that is almost extinct in Yogyakarta. Today's young people find batik difficult to work on considering the time it takes to make batik, especially written batik. One of the cultures in Yogyakarta which is currently almost extinct is Wayang Topeng Wayang. This culture is almost extinct due to the rarely played by the puppeteer's family. The purpose of this design is to provide an easy way for young people to learn batik and to make batik cardigans from paper stamps with motifs from Wayang Topeng Pedalangan Yogyakarta. The design of this cardigan product applies the art design approach according to SP. Gustami, who put forward 3 stages and 6 steps in the creative process. The three stages are the exploration or data collection stage, the design or sketching and design, the last is embodiment. The results of this design are as follows: (1) Dancer motifs, puppeteer motifs, and musician motifs are used as the main motifs with supporting motifs inspired by the ornaments in the saron in the form of leaves, flowers, and mlungker. (2) The product is made into a cardigan for middle class women aged 20-30 years. The cardigan uses stamped batik technique with remasol dab coloring. The cardigan material is Japanese cotton fabric.
- PENGEMBANGAN BATIK BOROBUDUR SEBAGAI CINDERAMATA WISATA: - Aryanti, Dias Febri; Hidayat, Sujadi R.
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 3 No 02 (2023): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v3i02.2738

Abstract

Candi Borobudur menjadi wisata andalan Kota Magelang sebagai bukti keagungan budaya nenek moyang zaman dahulu. Sebagai tempat wisata tidak lepas dari namanya cenderamata, tetapi khas Borobudurnya belum diolah secara maksimal sebagai bentuk cenderamata. Candi Borobudur dijadikan sebagai sumber inspirasi batik yaitu Batik Borobudur sebagai salah satu cenderamata batik khas Kota Magelang. Perancangan ini mengembangkan elemen visual Candi Borobudur dijadikan sebagai sumber ide kreatif motif batik dengan penambahan elemen-elemen visual Relief Karmawibhangga untuk pembuatan cenderamata berupa produk yang diminati oleh wisatawan khususnya usia dewasa awal yaitu outer. Metode penciptaan yang digunakan untuk membantu proses penciptaan karya meliputi 3 tahap yaitu tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Pada metode perancangan dimulai dari analisis data, strategi pemecahan masalah, uji coba, dan gagasan awal perancangan. Penerapan metode penciptaan digunakan untuk memperkuat konsep dari observasi hingga realisasi karya. Perancangan menghasilkan produk cenderamata sumber ide dari Candi Borobudur sebagai ikon Kota Magelang dengan penggambaran desain deformasi dekoratif. Perwujudan karyanya menggunakan teknik batik tulis dan pewarnaan remasol menggunakan teknik colet. Penerapan motif batik pada bentuk outer sebagai pembaharuan bentuk produk cenderamata yang sudah ada untuk memperkenalkan Batik Borobudur dan meningkatkan nilai jualnya.
Inovasi Visual Motif Ecoprint Teknik Blanket Untuk Bahan Pakaian Marthaningrum, Idha Kusuma; Affanti, Tiwi Bina
Hastagina : Jurnal Kriya Seni Vol 4 No 01 (2024): Hastagina : Jurnal Kriya dan Industri Kreatif
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/hastagina.v4i01.2764

Abstract

The background to this design is the lack of ecoprint pattern development using the blanket technique. In the market, most ecoprints with this technique come in the form of the same background color, although in fact it is still possible to develop patterns by utilizing the blanket application technique. So that new designs of ecoprint can be realized, engineered by the application of cloth blankets. The purpose of this design is to get a new visual pattern that is more varied than blanket technical textiles. as well as to satisfy the consumer tastes of ecoprint textile fans in particular. This design method uses the design approach Sp. Gustami explained that in the creation of craft works, it is carried out through three stages-six steps. The first stage of exploration which includes observation, and search for library sources. Second, the design stage, namely making several sketches, and making technical drawings. The third stage, embodiment, is the process of formation, and continued with the assessment and evaluation of the finished work” (Gustami, 2007:329). The result of this design is an ecoprint blanket fabric with a variety of different patterns from other blanket fabrics, with the result that several ecoprint fabric patterns have been engineered to apply blankets, namely in the form of 3 design ecoprint blankets which are included in the form of clothing textiles using natural dyes.

Page 6 of 12 | Total Record : 116