cover
Contact Name
Noor Hasanah
Contact Email
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Phone
+6282350565148
Journal Mail Official
jurnaltashwir@uinantasari.ac.id
Editorial Address
Jalan Jenderal Ahmad Yani KM. 4,5 Kel. Kebun Bunga Kec. Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin 70235
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Tashwir: Jurnal Penelitian Agama dan Budaya
ISSN : 23389702     EISSN : 30321166     DOI : https://doi.org/10.18592/jt
The focus of this journal is on important and actual issues regarding Islam, social and culture, such as; Religious Values, and Local Wisdom Issues, Islam Integration, History of Islam and Turats. o Contemporary Islamic Religious Social Phenomena o Islamic Spirituality o Religious Values o Local Wisdom Issues o Islam Integration o History of Islam dan Turats.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 02 (2024)" : 5 Documents clear
“BAPUKUNG” IDENTITAS BUDAYA LOKAL SUKU BANJAR DI TEMBILAHAN Andrian, Riko
TASHWIR Vol. 12 No. 02 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.14708

Abstract

Abstract: The bapukung tradition is a cultural heritage of the Banjar people that has existed since ancestral times. This tradition is practiced when a child is fussy, tired, or experiencing stomach pain and crying continuously. The bapukung method involves placing the child in a swing in a seated position, with the neck supported using a tapih (a traditional lower cloth), allowing the baby to sleep soundly for up to 12 hours. Bapukung is typically performed on babies aged 2 to 9 months. To help the baby fall asleep, lullabies containing prayers and parental hopes are often sung. This study employs a qualitative approach using ethnographic methods, viewing culture not merely as a product but as a continuously evolving process. Data collection was conducted through interviews and direct observations of the Tembilahan community who practice the bapukung tradition. The findings of this research indicate that, despite modernization and technological advancements influencing baby-carrying practices, the fundamental principles of the bapukung tradition are still upheld by the Banjar community in Tembilahan. This tradition remains an integral part of daily life and serves as an effort to preserve local cultural heritage. Keywords: Bapukung, Banjar Tribe Abstrak: Tradisi bapukung merupakan warisan budaya dari suku Banjar yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Tradisi ini dilakukan ketika anak sedang rewel, lelah, atau mengalami sakit perut serta menangis terus-menerus. Cara bapukung dilakukan dengan memasukkan anak ke dalam ayunan dalam posisi duduk, dengan bagian lehernya disangga menggunakan tapih (kain bawahan), sehingga bayi dapat tidur nyenyak selama sekitar 12 jam. Bapukung umumnya dilakukan pada bayi berusia 2 hingga 9 bulan. Untuk membantu bayi tidur, biasanya ada nyanyian pengantar tidur yang mengandung doa dan harapan orang tua untuk anaknya.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi etnografi yang melihat budaya tidak hanya sebagai hasil atau produk, tetapi sebagai suatu proses yang terus berkembang. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung kepada masyarakat Tembilahan yang melakukan tradisi bapukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun modernisasi dan pengaruh teknologi membawa perubahan dalam cara mengayun bayi, prinsip dasar dari tradisi bapukung tetap dijaga oleh masyarakat Banjar di Tembilahan. Tradisi ini masih hidup dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari upaya menjaga keutuhan budaya lokal. Kata Kunci: Bapukung, Suku Banjar
MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI MARTAPURA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN PERSFEKTIF SUNNAH Yulinda, Ratna; Riduan, Ahmad; Sya’ban, Muhammad Fuad
TASHWIR Vol. 12 No. 02 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15143

Abstract

Abstract: Public Martapura Riverbanks are people who live in the area located between the edge of the riverbed and the foot of the inner embankment, which is on the left and/or right side of the Martapura Riverbed. People still use the river for bathing, washing, cooking and fetching water. However, rivers are also used for urination, even as a place to defecate and dispose of rubbish. In the view of environmental ethics according to Islam, Muslims are reminded of the threats posed by natural destruction, therefore researchers examine community behavior from the perspective of the Sunnah. Researchers used a descriptive qualitative approach, through: interviews, observations and documentation studies. The people on the banks of the Martapura River still do not pay attention to maintaining the environment from a Sunnah perspective, because they still do not pay attention to cleanliness, especially disposing of domestic waste and rubbish along the Martapura River, and pay little attention to the quality of river water even though the river is the source of life for the community in their daily activities. Keywords: Public Martapura Riverbanks, Environment, Sunnah Abstrak: Masyarakat bantaran Sungai Martapura adalah masyarakat yang hidup di area yang terletak di antara tepi palung sungai dan kaki tanggul bagian dalam, yang berada di sisi kiri dan/atau kanan palung Sungai Martapura. Masyarakat masih memanfaatkan sungai untuk mandi, mencuci, memasak, dan mengambil air. Namun, sungai juga digunakan untuk membuang air kecil, bahkan sebagai tempat buang air besar (BAB) dan membuang sampah. Dalam pandangan etika lingkungan menurut Islam, umat Muslim diingatkan akan ancaman yang ditimbulkan oleh kerusakan alam, oleh sebab itu peneliti mengkaji perilaku masyarakat dalam persfektif Sunnah. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui: wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Masyarakat bantaran Sungai Martapura masih belum memperhatikan dalam hal menjaga lingkungan persfektif sunnah, karena masih belum memperhatikan kebersihan khususnya membuang limbah domestik dan sampah di sepanjang Sungai Martapura, dan kurang memperdulikan kualiatas air sungai padahal sungai merupakan sumber kehidupan masyarakat dalam beraktifitas sehari-hari. Kata Kunci: Masyarakat Bantaran Sungai, Lingkungan, Sunnah
KULTUR MASYARAKAT BANJAR DALAM MERESPON SAKIT: BANJAR CULTURE IN RESPONSE TO ILLNESS Nadia, Helsa
TASHWIR Vol. 12 No. 02 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15194

Abstract

Dalam menangani penyakit, masyarakat Banjar menggabungkan nilai-nilai tradisi, agama, dan modernitas. Studi ini menyelidiki perilaku kesehatan masyarakat Banjar, terutama dalam hal pencegahan, pengobatan, dan mempertahankan keseimbangan dalam aktivitas sehari-hari. Metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk menggambarkan praktik pengobatan tradisional yang masih digunakan, seperti penggunaan tanaman obat dan ritual spiritual. Selain itu, doa-doa dan tokoh agama yang terlibat dalam proses penyembuhan menunjukkan kekuatan agama Islam. Sebaliknya, orang Banjar menggunakan layanan medis modern untuk mengobati penyakit yang lebih parah. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi pengobatan tradisional dan modern menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman sambil mempertahankan identitas budaya mereka. Ada kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan spiritual untuk kesehatan. Penelitian ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara tradisi dan inovasi medis untuk menciptakan layanan kesehatan yang holistik dan sesuai dengan nilai-nilai budaya.
GAYA KOMUNIKASI DAKWAH GURU TUNGKAL Rifqi, Muhammad; Hasanah, Mir'atun
TASHWIR Vol. 12 No. 02 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15225

Abstract

Penelitian ini melihat gaya komunikasi dakwah Guru Tungkal, atau KH Fakhruddin Nur, seorang penceramah dari Jambi, di era modern. Penelitian ini menyelidiki konten ceramah yang ditemukan di saluran YouTube Abang Santribanjar dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Untuk menyampaikan pesan keagamaan secara efektif, Guru Tungkal menggunakan kombinasi komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi verbalnya menggunakan bahasa Banjar yang diselingi humor, yang membuat pesan lebih mudah dipahami dan diterima oleh penonton lokal. Sementara itu, elemen non-verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tangan, dan intonasi suara meningkatkan penyampaian pesan dan menciptakan suasana ceramah yang interaktif dan menarik. Akhlak, tauhid, dan ibadah adalah tema dakwah yang paling umum, dengan penekanan pada nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan rasa syukur. Selain itu, Guru Tungkal dan media digital sebagai platform penting untuk memperluas audiensnya dan menjangkau lebih banyak generasi. Penelitian ini menekankan peran penting yang dimainkan oleh media digital dalam mendukung dakwah yang inklusif dan relevan di era modern. Hasilnya memungkinkan mubaligh dan praktisi dakwah untuk membuat strategi komunikasi yang lebih kontekstual dan efektif.
RAJAH DALAM TRADISI MASYARAKAT ACEH utami, Rizka; Auliana, Nisa
TASHWIR Vol. 12 No. 02 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v12i02.15491

Abstract

Abstract: Some people in Aceh believe that there are individuals who possess the ability to call upon guardian spirits or khadam that protect them. This is known as "rajah," which is understood as a mantra and prayer, or symbols such as tattoos in certain tribes. This article employs a qualitative approach with ethnographic methods and a sociological perspective. The research findings indicate that Rajah is a form of traditional healing that combines spiritual and symbolic elements, usually performed by individuals considered to have special skills, such as shamans or spiritual experts. In the context of magical healing, rajah is used to counter or neutralize negative energy that may be sent through supernatural means, such as black magic, curses, witchcraft, or peunyaket donya, a term unique to Aceh referring to diseases caused by the malevolent intentions of others. This process typically involves the writing of specific symbols, recitations of prayers, or mantras that are believed to possess the power to protect or heal. The practice aims not only to address physical issues but also to restore the spiritual balance of a person believed to be disturbed by negative energy. In Acehnese culture, peunyaket donya reflects the belief in the influence of magic in daily life, a belief still held by some members of the community. Keywords: Aceh community, Rajah Abstrak:Sebagian masyarakat Aceh percaya bahwa ada individu yang memiliki kemampuan untuk memanggil roh penjaga atau khadam yang melindungi dirinya. Hal tersebut dikenal dengan ungkapan rajah yang dimaknai sebagai mantra dan do’a atau simbol-simbol seperti tato pada suku tertentu. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan pendekatan sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rajah merupakan salah satu bentuk pengobatan tradisional yang memadukan elemen spiritual dan simbolik, biasanya dilakukan oleh individu yang dianggap memiliki keahlian khusus, seperti dukun atau ahli spiritual. Dalam konteks pengobatan magis, rajah digunakan untuk melawan atau menetralkan energi negatif yang bisa dikirimkan melalui cara-cara gaib, seperti teluh, guna-guna, santet, atau peunyaket donya, yang merupakan istilah khas Aceh untuk penyakit yang disebabkan oleh niat jahat orang lain. Proses ini biasanya melibatkan penulisan simbol tertentu, bacaan doa, atau mantra yang diyakini memiliki kekuatan untuk melindungi atau menyembuhkan. Tujuan praktik ini tidak hanya untuk mengatasi masalah fisik, tetapi juga untuk memulihkan keseimbangan spiritual seseorang yang diyakini terganggu oleh energi negatif. Dalam budaya Aceh, peunyaket donya mencerminkan keyakinan terhadap pengaruh magis dalam kehidupan sehari-hari, yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat. Kata Kunci: Masyarakat Aceh, Rajah

Page 1 of 1 | Total Record : 5