cover
Contact Name
Dharma Permana
Contact Email
dharma.permana@yarsi.ac.id
Phone
+628158295947
Journal Mail Official
dharma.permana@yarsi.ac.id
Editorial Address
Departement of Pharmacology, Faculty of Medicine, YARSI University, Jakarta 10510, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Yarsi Journal of Pharmacology
Published by Universitas Yarsi
ISSN : -     EISSN : 27164578     DOI : https://doi.org/10.33476/yjp
Core Subject : Health,
Yarsi Journal of Pharmacology (YJP) is an electronic open-access journal, focusing in the field of Pharmacology and Clinical Pharmacy, and it publishes two times yearly (January-June and July-December). YJP aims to improve scientific and knowledge of therapeutic uses of drugs and the journal accepts original research articles, review articles and case report.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020" : 5 Documents clear
Kajian Penggunaan Antibiotik Spektrum Luas Pada Pasien Intensive Care Unit (ICU) RS. Islam Jakarta Cempaka Putih Selama Periode 1 Januari 2016 – 31 Desember 2016 Putri Ayu Kartika Sari; Sakura Muhammad Tola
Yarsi Journal of Pharmacology Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/yjp.v1i2.2201

Abstract

Latar Belakang: Intensive Care Unit (ICU) merupakan tempat berkembangnya bakteri yang resisten/multiresisten antibiotik. Hal tersebut tejadi karena pasien ICU merupakan pasien yang berada pada kondisi imunokompremais dan penggunaan antibiotik lebih dari satu jenis dalam waktu lama sehingga memudahkan terjadinya transmisi infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik spektrum luas pada ICU RSIJ Cempaka Putih periode 1 januari-31 Desember 2016.Metode: Penelitian ini menggunakan studi deskriptif analitik, dengan metode cross-sectional. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 100 pasien, pemakaian antibiotik tertinggi yaitu meropenem (28,4%), seftriakson (19,1%), diikuti dengan antibiotik lain. Pola variasi peresepan antibiotik dalam penelitian ini menggunakan 1 jenis sampai >2 jenis antibiotik. Pada hasil sensitivitas uji kultur didapatkan pola resistensi bakteri tertinggi ditemukan yaitu Staphylococcus sp (96%), diikuti Acinetobacter baumanii (91%), Klebsiella sp (81%), dan bakteri lain dengan pola resistensi antibiotik terhadap beberapa antibiotik yaitu terhadap beberapa antibiotik diantaranya seftriakson, meropenem, seftriakson, doripenem, gentamisin, imipenem, eritromisin, seftazidim, dan sefotaksim.Kesimpulan: Penggunaan antibiotik pada pasien ICU RSIJ. Cempaka Putih periode 1 Januari-31 Januari 2016 yang paling banyak adalah meropenem dan seftriakson. Pola resistensi bakteri tertinggi pada pasien ICU RSIJ. Cempaka Putih ditemukan pada Staphylococcus sp (96%) sedangkan untuk antibiotik yang memiliki resistensi tertinggi pada bakteri yaitu eritromisin (95%).
Gambaran Penggunaan Mood Stabilizer Pada Pasien Gangguan Afektif Bipolar di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Periode Januari-Juni 2017 Muhamad Bayhaqi Rachman; Nasrudin Noor
Yarsi Journal of Pharmacology Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/yjp.v1i2.2202

Abstract

Latar belakang: Litium masih direkomendasikan sebagai pengobatan awal untuk fase manik gangguan bipolar, dengan terapi kombinasi yang disediakan untuk kasus-kasus berat atau sebagai pilihan berikutnya. Tetapi beberapa pengobatan alternatif telah diperkenalkan dalam guideline beberapa tahun terakhir, seperti obat antipsikotik atipikal dan antikonvulsan untuk terapi bipolar. Masih sedikit yang diketahui tentang bagaimana perubahan ini telah mengubah pola pemberian terapi terhadap pasien bipolar.Tujuan: untuk mengetahui gambaran penggunaan mood stabilizer pada pasien gangguan bipolar di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data secara retrospektif melalui rekam medis, penelitian ini dilakukan dengan mengolah data sekunder menggunakan rekam medis pasien dengan diagnosis Gangguan Bipolar, dengan cara penetapan consecutive sampling.Hasil: Dari penelusuran 96 rekam medis pasien dengan diagnosis ganguan afektif bipolar, mayoritas pasien diberikan politerapi atau terapi kombinasi sebanyak 81 (84,4%) pasien. Divalproex Na. adalah golongan mood stabilizer paling banyak diberikan dan di ikuti oleh pemberian lithium carbonate. Kesimpulan: Tidak Terdapat adanya perubahan dalam jenis obat yang diberikan, namun terdapat perubahan dalam pola peresepan terapi kombinasi yang diberikan. 
Penggunaan Obat Anti Mual dan Muntah pada Pasien Mual dan Muntah di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan Muhammad Falah; Dharma Permana
Yarsi Journal of Pharmacology Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/yjp.v1i2.2203

Abstract

Latar Belakang Mual dan muntah dapat diakibatkan dari beberapa penyakit yaitu Dyspepsia, Gastritis dan Nausea and Vomiting. Untuk penatalaksanaan mual muntah maka diberikan obat anti mual dan muntah.  Dalam islam, kita diwajibkan menjaga kesehatan dan memperhatikan makanan yang kita makanTujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat anti mual dan muntah pada pasien mual dan muntah di puskesmas Karang Rejo periode januari-April 2017 dan mengetahui pandangan islam mengenai hukum berobat dan pola makan pada pasien.MetodeMetode penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif dengan mengumpulkan data sekunder yang diperoleh dari medical record di Puskesmas Karang Rejo Tarakan. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien mual dan muntah yang mendapat obat anti mual dan muntah dengan data yang lengkap.Hasil dan DiskusiJumlah pasien mual dan muntah yang telah memenuhi kriteria inklusi sebanyak 604, pasien perempuan (66,1%), usia diatas 40 tahun (58%). Penyakit penyebab  mual dan muntah adalah Dyspepsia (55,4%), Gastritis (39,5%) dan Nausea and Vomiting (5,1%). Terapi tunggal paling banyak untuk Dispepsia dan Gastritis adalah Antasida dan terapi kombinasi adalah Antasida dan Ranitidine. Terapi tunggal paling banyak untuk Nausea and Vomiting adalah Domperidone dan terapi kombinasi adalah Antasida dan Domperidone.KesimpulanObat anti mual dan muntah yang paling sering untuk terapi tunggal adalah Antasida dan untuk terapi kombinasi adalah Antasida dan Ranitidine.
Sensitivitas Antibiotik Paten dan Generik Terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Konjungtivitis Zuresh Shafira Sharafina Faisal; Dharma Permana
Yarsi Journal of Pharmacology Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/yjp.v1i2.2204

Abstract

Latar Belakang: Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva. Konjungtivitis disebabkan oleh beberapa bakteri, diantaranya Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis menempati urutan ke-10 terbesar penyakit pada pasien rawat jalan Rumah Sakit di Indonesia pada tahun 2009. Pengobatan konjungtivitis menggunakan antibiotik generik dan paten.Tujuan: Untuk mengetahui sensitivitas antibiotik paten dan generik terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Moraxella catarrhalis.Material dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental mengunakan pengujian mikrobiologi. Bakteri penyebab Konjungtivitis didapatkan dari laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berupa bakteri Staphylococcus aureus (ATCC 12600), Pseudomonas aeruginosa (ATCC 10145), dan Moraxella catarrhalis (ATCC 25238). Uji sensitivitas menggunakan metode disc diffusion Kirby-Bauer dan dibandingkan dengan standar Kirby-Bauer. Antibiotik yang digunakan dalam uji sensitivitas yaitu Gentamisin paten dan generik serta Kloramfenikol dan Siprofloksasin.Hasil dan Diskusi: Antibiotik Kloramfenikol lebih sensitif dibandingkan antibiotik Siprofloksasin dan Gentamisin terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Antibiotik Siprofloksasin lebih sensitif dibandingkan antibiotik Kloramfenikol dan Gentamisin terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa.  Antibiotik Gentamisin lebih sensitif dibandingkan antibiotik Siprofloksasin dan Kloramfenikol terhadap bakteri dan Moraxella catarrhalis. Antibiotik Gentamisin paten dan generik memiliki sensitivitas yang sama terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Moraxella catarrhalis. Antibiotik Gentamisin paten dan generik menunjukkan pola sensitivitas yang hampir sama dimana generik sedikit lebih sensitif dibandingkan paten terhadap Staphylococcus aureus.Kesimpulan: Antibiotik Kloramfenikol paling sensitif terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Antibiotik Sirofloksasin paling sensitif terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Antibiotik Gentamisin paling sensitif terhadap bakteri Moraxella catarrhalis. Antibiotik Gentamisin paten dan generik menunjukkan pola sensitivitas yang hampir sama.
Sensitivitas Antibiotik Paten Dan Generik Terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Jerawat Mayya Fiqi Kamala; Dharma Permana
Yarsi Journal of Pharmacology Vol. 1 No. 2 (2020): July 2020
Publisher : Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/yjp.v1i2.2205

Abstract

Latar Belakang : Jerawat atau akne vulgaris adalah gangguan inflamasi dari folikel pilosebasea. Prevalensi jerawat pada masa remaja cukup tinggi, yaitu berkisar antara 47-90% selama masa remaja. Bakteri penyebab Jerawat yang sering menyebabkan Jerawat  diantaranya adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acne. Untuk mengobati Jerawat digunakan antibiotik baik paten maupun generik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas antibiotik paten dan generik terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acne penyebab Jerawat.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan pengujian mikrobiologi. Bakteri penyebab Jerawat didapatkan dari laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berupa bakteri Propionibacterium acnes ATTC 11827, Staphylococcus epidermidis ATTC 12228, dan Staphylococcus aureus ATTC 12600 PK/5. Beberapa mikroba penyebab Jerawat dilakukan uji sensitivitas antibiotik dengan metode difusi agar (Kirby Bauer). Antibiotik yang digunakan dalam uji sensitivitas yaitu Doksisiklin, Eritromisin dan Klindamisin paten dan generikHasil dan Diskusi : Antibiotik Doksisiklin mempunyai sensitivitas paling tinggi dibandingkan dengan Klindamisin dan Eritromisin terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne sedangkan sensitivitas antibiotik Klindamisin paling tinggi terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Antibiotik Eritromisin resisten terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Sensitivitas antibiotik Doksisiklin dan Eritromisin paten lebih tinggi dari generik terhadap bakteri Staphylococcus aureus, namun antibiotik Klindamisin generik mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi dari paten. Untuk bakteri Staphylococcus epidermidis, sensitivitas antibiotik Klindamisin paten lebih tinggi dari generik sedangkan antibiotik Doksisiklin paten maupun generik tidak ada perbedaan rata-rata diameter zona hambat. Pada bakteri Propionibacterium acne, sensitivitas antibiotik Eritromisin paten lebih tinggi dari generik sedangkan antibiotik Doksisiklin dan Klindamisin paten maupun generik tidak ada perbedaan rata-rata diameter zona hambat. Kesimpulan : Antibiotik Doksisiklin paling sensitif terhadap bakteri penyebab Jerawat Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne dibandingkan dengan Klindamisin dan Eritromisin. Antibiotik Klindamisin paling sensitif terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Antibiotik Eritromisin resisten terhadap Staphylococcus epidermidis. Perbedaan rata-rata diameter zona hambat dan sensitivitas antibiotik paten dan generik tidak berbeda jauh dan hampir sama.

Page 1 of 1 | Total Record : 5