cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 39 No. 1 (2021)" : 10 Documents clear
TIPE HUNIAN DAN KARAKTERISTIK BUDAYA SAMPUNGIAN DI SITUS GUA LAWA, PONOROGO Jatmiko; Ruly Fauzi
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Settlement Type and Characteristic of ‘Sampung Culture’ at Lawa Cave Site, Ponorogo. Lawa Cave, located in Sampung (Ponorogo, East Java), is an eponym site for the Sampungian culture. Its status within the cultural framework of the Javanese prehistory remains unclear. This article aims to reveal the type and characteristic of settlement in Lawa Cave, including its position within the historical framework of cave habitation in the archipelago. The descriptive-explanative approach reveals that the distribution of artifacts in Lawa Cave shows a distinctive feature. The bifacial arrowhead reported by Callenfels is associated with bone and pebbles (milling stones) in a relatively thick unit of cultural layer. Based on the emergence of milling stones, the inhabitants of Lawa Cave may have known simple agricultural activities through processing wild plants as their food source. Based on this, Sampungian can be categorized as part of the Para-Neolithic culture, which is also found in several sites in Mainland Southeast Asia. Abstrak. Gua Lawa yang berada di Sampung (Ponorogo, Jawa Timur) merupakan situs eponim bagi budaya Sampungian yang statusnya di dalam kerangka kebudayaan prasejarah Pulau Jawa masih belum jelas. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tipe hunian dan karakteristik budaya Sampungian di Gua Lawa serta kaitannya dengan sejarah perkembangan hunian gua di Nusantara. Melalui pendekatan deskriptif-eksplanatif terlihat bahwasannya distribusi artefak di Gua Lawa menunjukkan suatu ciri khas tersendiri. Himpunan artefak mata panah bifasial, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Callenfels, faktanya berasosiasi dengan artefak tulang dan kerakal pada suatu unit lapisan budaya yang cukup tebal. Berdasarkan kemunculan artefak kerakalpenggerus, diperkirakan masyarakat penghuni Gua Lawa telah mengenal aktivitas agrikultur sederhana melalui pengolahan tumbuhan liar tertentu sebagai sumber pangan mereka. Berdasarkan hal tersebut, Sampungian dapat dikategorikan sebagai bagian dari budaya Para-Neolitik yang juga dijumpai pada sejumlah situs di Asia Tenggara Daratan.
PEMANFAATAN FAUNA VERTEBRATA DAN KONDISI LINGKUNGAN MASA OKUPASI 8.000 – 550 BP DI SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Budianto Hakim; Yulastri; Salmia; Suryatman
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Utilization Of Vertebrate Fauna And Environmental Conditions Of Occupational Period 8.000 – 550 BP On The Site Of Leang Jarie, Maros, South Sulawesi. Vertebrate Remains from Leang Jarie Site at 8.000-550 BP Occupation in Maros Karst Area, South Sulawesi. The purpose of this study is to provide an overview of vertebrate fauna in Maros Pangkep karstic area, as one of the occupation areas at 8.000 years ago, Specifically, the purpose of this study is to describe of faunal remains found in the 2018-2019 excavation at Leang Jarie Site, Maros, South Sulawesi. This goal is achieved by using the Number of Identified Specimens (NISP) and Minimum Number of Individuals (MNI) calculation methods. The results of the study then showed that the fauna lived alongside human at this site included: fish, lizards, snakes, birds, frogs/toad, small Sulawesi cuscus, microchiroptera, megachiroptera, Sulawesi monkeys, rats, weasel/ferrets, babirussa and sus celebensis, anoa, buffaloes, and dogs. The results of the analysis and identification show that the presence of fauna on the Leang Jarie site is strongly influenced by humans who inhabit this site, this can be seen from the variety of fauna that lives following the changes of humans who inhabit Leang Jarie Sites at 8.000 to 550 BP. This study is one of the references of fauna that have lived and used as a food source or as human life support in this area. Abstrak. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang fauna vertebrata di kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu wilayah hunian sejak 8.000 tahun yang lampau, khususnya tentang jenis fauna pada ekskavasi 2018 dan 2019 di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penghitungan number of identified specimens dan penghitungan minimum number of individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang hidup berdampingan dengan manusia di situs itu, antara lain ikan, kadal/biawak, ular, burung, katak/kodok, kuskus kecil Sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi Sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing. Hasil analisis dan identifikasi menunjukkan bahwa keberadaan fauna di Situs Leang Jarie sangat dipengaruhi oleh manusia yang menghuni situs itu. Hal itu terlihat dari variasi fauna yang hidup mengikutiperubahan manusia yang mendiaminya pada 8.000 sampai 550 BP. Penelitian ini merupakan salah satu referensi informasi fauna yang pernah hidup dan dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang hidup manusia di wilayah tersebut.
INTERPRETASI FUNGSI TEMBIKAR DARI SEKTOR ABH KAWASAN PERCANDIAN MUARAJAMBI BERDASARKAN ANALISIS RESIDU DENGAN MENGGUNAKAN METODE GAS CHROMATOGRAPHY-MASS SPECTROMETRY (GC/MS) Dian Sulistyowati; Dicky Caesario Wibowo; Hafiyyan Dinan Ardiansyah
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Interpretation Of The Pottery Function From The Abh Sector In Muarajambi Temple Based On Residual Analysis Using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS) Method. Pottery is one of the artifacts that found in most archaeological sites, and it found both in prehistoric and historic context. Even though mostly found in fragments, the availability of pottery can help archaeologists reconstruct culture in the past. There are many methods and attempts to analyze pottery from archaeological sites. One of the recent development is lipid analysis from the inner pores of pottery Selatan. By using Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC/MS) methods, an archaeologist can identify and characterize lipid in pottery. This paper focuses on the preparation and residue analysis stage of pottery samples from Kawasan Percandian Muarajambi. Since sample preparation rarely describes in books, we try to present a small part of lipid analysis before the results can be used as a pottery function. The analysis showed that there were organic chemical compounds left in the pottery samples, among others are vegetable and animal fats. Initial information obtained from the results of the analysis is that there is an indication that the pottery fragments function as cooking containers, this is reinforced by the presence of combustion compounds found in pottery residues and the absence of traces of contamination on the residues. However, the results of this analysis are initial indications that still need to be strengthened by contextual analysis, and cannot be applied in general to other sites in Kawasan Percandian Muarajambi. Abstrak. Tembikar merupakan salah satu artefak yang umum ditemukan pada situs arkeologi, baik situs masa prasejarah maupun masa sejarah. Walaupun sebagian besar dari temuan tembikar ditemukan dalam bentuk pecahan, keberadaan tembikar dalam satu situs arkeologi dapat membantu upaya rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu. Rekonstruksi ini dilakukan melalui berbagai metode analisis dan pendekatan, di antaranya analisis residu untuk mengetahui fungsi tembikar tersebut. Melalui metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS) dapat dideteksi keberadaan sisa organik residu dan memberikan penjelasan mengenai fungsi tembikar tersebut pada masa lalu. Tulisan ini berfokus pada tahap persiapan dan analisis residu beberapa sampel tembikar di Kawasan Percandian Muarajambi melalui metode GC/MS. Tahappenyiapan sampel menjadi penting karena hingga saat ini belum banyak tulisan yang menguraikan secara terperinci mengenai hal tersebut. Hasil analisis memperlihatkan adanya senyawa kimia organik yang tertinggal pada sampel tembikar di antaranya lemak nabati dan hewani. Informasi awal yang diperoleh adalah adanya indikasi bahwa fragmen tembikar tersebut berfungsi sebagai wadah memasak. Hal itu diperkuat oleh adanya senyawa hasil pembakaran pada residu tembikar dan tidak adanya jejak kontaminasi. Namun, hasil analisis ini adalah indikasi awal yang masih perlu diperkuat melalui analisis kontekstual, yang tidak dapat diberlakukan secara umum pada situs lain di Kawasan Percandian Muarajambi.
KONSTRUKSI MASYARAKAT JAWA KUNO TERHADAP TRANSGENDER PEREMPUAN PADA ABAD KE 9-14 M Muhamad Alnoza; Dian Sulistyowati
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Construction of Ancient Java Community Towards Transgender Women in The 9th-14th Centuries. Transwomen in Indonesia are easily recognized by one's physical appearance. The survey stated that 89.3% of LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) groups have experienced discrimination and violence. The views of the Indonesian people towards transgender women today are influenced by the perspectives and constructions of society in the past. This paper is to reconstruct how the perspective of the ancient Javanese society towards trans women. Thepurpose of this research is to find the origin of the current Indonesian people's view of transgender women from past references. This study uses a descriptive analysis approach through the stages of data collection, analysis, and interpretation. It can be seen that the construction of society during the Javanese era considered transgender people as a group of people with disabilities. In addition to these constructions, for the royal group, trans women are part of the king's servants who have magical and political powers. Thus, trans women had an important position and privileges in the ancient Javanese kingdom. The position of transgender women can also be understood as an archipelago tradition, which places transwomen as a link between the human world and the world of gods, as can be found in bissu in South Sulawesi. Abstrak. Golongan transpuan di Indonesia mudah dikenali melalui penampilan fisik seseorang. Survei menyebutkan bahwa 89,3% kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) telah mengalami diskriminasi dan kekerasan. Pandangan masyarakat Indonesia terhadap transpuan dewasa ini dipengaruhi oleh perspektif dan konstruksi masyarakat pada masa lalu. Tulisan ini dimaksudkan untuk merekonstruksi bagaimana perspektif masyarakat Jawa Kuno terhadap transpuan. Tujuan penelitian adalah untuk mencari permulaan pandangan masyarakat Indonesia saat ini terhadap transpuan dari referensi masa lampau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi analisis melalui tahap pengumpulan data, analisis, dan interpretasi. Dapat diketahui bahwa konstruksi masyarakat pada masa Jawa Kuno menganggap transpuan sebagai golongan disabilitas. Di samping konstruksi tersebut, bagi golongan kerajaan, transpuan merupakan bagian dari abdi raja yang memiliki kekuatan magis dan politis. Dengan demikian, transpuan memiliki posisi yang penting dan hak-hak istimewa dalam kerajaan zaman Jawa Kuno. Posisi transpuan tersebut juga dapat dipahami sebagai suatu tradisi khas Nusantara, yang menempatkan transpuan sebagai penghubung dunia manusia dan dunia dewa, sebagaimana dapat dijumpai pula pada bissu di Sulawesi Selatan.
NASKAH KUNO “KAGHAS 1 SUKU SEMIDANG”: SEBUAH KAJIAN KRITIK SUMBER Wahyu Rizky Andhifani; Churmatin Nasoichah
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Ancient Manuscript “Kaghas 1 Semidang Tribe”: A Critical Source Study. Inscriptions and ancient Ulu script are found in South Sumatra and since 2009 an inventory has been carried out. The condition of these local inscriptions and manuscripts is generally well preserved and treated specially in the storage process and is a hereditary legacy that must be preserved. These ancient inscriptions and manuscripts are still widely owned by the community because they contain instructions or life guidelines for their children and grandchildren. This ancient manuscript is made of halim tree bark in the shape of sheets that are folded in rectangles similar to an accordion or an ancient book. The problem to be resolved is a review of source criticism of the ancient manuscripts of the Kaghas 1 Semidang tribe. The goal to be achieved is to examine the text from the point of view of source criticism by using the analytical description method. The script used is the Ulu script using the Pagaralam or Pasemah dialect. This manuscript contains Islamic teachings related to local genius or assimilation between the teachings of Islam and the culture of the Pasemah area. Abstrak. Prasasti dan naskah kuno beraksara Ulu sangat banyak ditemukan di wilayah Sumatra Selatan dan sejak tahun 2009 telah dilakukan inventarisasi. Kondisi prasasti dan naskah lokal tersebut secara umum terawat dan diperlakukan khusus dalam proses penyimpanannya dan merupakan warisan turun-menurun yang harus dijaga. Prasasti dan naskah kuno tersebut masih banyak dimiliki oleh masyarakat karena berisikan petunjuk atau pedoman hidup bagi anak cucu mereka. Naskah kuno ini terbuat dari kulit kayu pohon halim berbentuk lembaran yang dilipat-lipat segi empat mirip alat musik akordeon atau sebuah buku zaman dahulu. Permasalahan yang akan diselesaikan yaitu tinjauan kritik sumber terhadap naskah kuno kaghas 1 Suku Semidang. Tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk menelaah naskah tersebut dari sudut pandang kritik sumber dengan menggunakan metode deskripsi analisis. Aksara yang digunakan adalah aksara Ulu dengan menggunakan bahasa Melayu dialek Pagaralam atau Pasemah. Naskah ini memuat ajaran Islam terkait dengan local genius atau asimilasi antara ajaran Agama Islam dan budaya daerah Pasemah.
TIPE HUNIAN DAN KARAKTERISTIK BUDAYA SAMPUNGIAN DI SITUS GUA LAWA, PONOROGO Jatmiko; Ruly Fauzi
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Settlement Type and Characteristic of ‘Sampung Culture’ at Lawa Cave Site, Ponorogo. Lawa Cave, located in Sampung (Ponorogo, East Java), is an eponym site for the Sampungian culture. Its status within the cultural framework of the Javanese prehistory remains unclear. This article aims to reveal the type and characteristic of settlement in Lawa Cave, including its position within the historical framework of cave habitation in the archipelago. The descriptive-explanative approach reveals that the distribution of artifacts in Lawa Cave shows a distinctive feature. The bifacial arrowhead reported by Callenfels is associated with bone and pebbles (milling stones) in a relatively thick unit of cultural layer. Based on the emergence of milling stones, the inhabitants of Lawa Cave may have known simple agricultural activities through processing wild plants as their food source. Based on this, Sampungian can be categorized as part of the Para-Neolithic culture, which is also found in several sites in Mainland Southeast Asia. Abstrak. Gua Lawa yang berada di Sampung (Ponorogo, Jawa Timur) merupakan situs eponim bagi budaya Sampungian yang statusnya di dalam kerangka kebudayaan prasejarah Pulau Jawa masih belum jelas. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tipe hunian dan karakteristik budaya Sampungian di Gua Lawa serta kaitannya dengan sejarah perkembangan hunian gua di Nusantara. Melalui pendekatan deskriptif-eksplanatif terlihat bahwasannya distribusi artefak di Gua Lawa menunjukkan suatu ciri khas tersendiri. Himpunan artefak mata panah bifasial, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Callenfels, faktanya berasosiasi dengan artefak tulang dan kerakal pada suatu unit lapisan budaya yang cukup tebal. Berdasarkan kemunculan artefak kerakalpenggerus, diperkirakan masyarakat penghuni Gua Lawa telah mengenal aktivitas agrikultur sederhana melalui pengolahan tumbuhan liar tertentu sebagai sumber pangan mereka. Berdasarkan hal tersebut, Sampungian dapat dikategorikan sebagai bagian dari budaya Para-Neolitik yang juga dijumpai pada sejumlah situs di Asia Tenggara Daratan.
PEMANFAATAN FAUNA VERTEBRATA DAN KONDISI LINGKUNGAN MASA OKUPASI 8.000 – 550 BP DI SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Budianto Hakim; Yulastri; Salmia; Suryatman
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Utilization Of Vertebrate Fauna And Environmental Conditions Of Occupational Period 8.000 – 550 BP On The Site Of Leang Jarie, Maros, South Sulawesi. Vertebrate Remains from Leang Jarie Site at 8.000-550 BP Occupation in Maros Karst Area, South Sulawesi. The purpose of this study is to provide an overview of vertebrate fauna in Maros Pangkep karstic area, as one of the occupation areas at 8.000 years ago, Specifically, the purpose of this study is to describe of faunal remains found in the 2018-2019 excavation at Leang Jarie Site, Maros, South Sulawesi. This goal is achieved by using the Number of Identified Specimens (NISP) and Minimum Number of Individuals (MNI) calculation methods. The results of the study then showed that the fauna lived alongside human at this site included: fish, lizards, snakes, birds, frogs/toad, small Sulawesi cuscus, microchiroptera, megachiroptera, Sulawesi monkeys, rats, weasel/ferrets, babirussa and sus celebensis, anoa, buffaloes, and dogs. The results of the analysis and identification show that the presence of fauna on the Leang Jarie site is strongly influenced by humans who inhabit this site, this can be seen from the variety of fauna that lives following the changes of humans who inhabit Leang Jarie Sites at 8.000 to 550 BP. This study is one of the references of fauna that have lived and used as a food source or as human life support in this area. Abstrak. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang fauna vertebrata di kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu wilayah hunian sejak 8.000 tahun yang lampau, khususnya tentang jenis fauna pada ekskavasi 2018 dan 2019 di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penghitungan number of identified specimens dan penghitungan minimum number of individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang hidup berdampingan dengan manusia di situs itu, antara lain ikan, kadal/biawak, ular, burung, katak/kodok, kuskus kecil Sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi Sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing. Hasil analisis dan identifikasi menunjukkan bahwa keberadaan fauna di Situs Leang Jarie sangat dipengaruhi oleh manusia yang menghuni situs itu. Hal itu terlihat dari variasi fauna yang hidup mengikutiperubahan manusia yang mendiaminya pada 8.000 sampai 550 BP. Penelitian ini merupakan salah satu referensi informasi fauna yang pernah hidup dan dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang hidup manusia di wilayah tersebut.
INTERPRETASI FUNGSI TEMBIKAR DARI SEKTOR ABH KAWASAN PERCANDIAN MUARAJAMBI BERDASARKAN ANALISIS RESIDU DENGAN MENGGUNAKAN METODE GAS CHROMATOGRAPHY-MASS SPECTROMETRY (GC/MS) Dian Sulistyowati; Dicky Caesario Wibowo; Hafiyyan Dinan Ardiansyah
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Interpretation Of The Pottery Function From The Abh Sector In Muarajambi Temple Based On Residual Analysis Using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS) Method. Pottery is one of the artifacts that found in most archaeological sites, and it found both in prehistoric and historic context. Even though mostly found in fragments, the availability of pottery can help archaeologists reconstruct culture in the past. There are many methods and attempts to analyze pottery from archaeological sites. One of the recent development is lipid analysis from the inner pores of pottery Selatan. By using Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC/MS) methods, an archaeologist can identify and characterize lipid in pottery. This paper focuses on the preparation and residue analysis stage of pottery samples from Kawasan Percandian Muarajambi. Since sample preparation rarely describes in books, we try to present a small part of lipid analysis before the results can be used as a pottery function. The analysis showed that there were organic chemical compounds left in the pottery samples, among others are vegetable and animal fats. Initial information obtained from the results of the analysis is that there is an indication that the pottery fragments function as cooking containers, this is reinforced by the presence of combustion compounds found in pottery residues and the absence of traces of contamination on the residues. However, the results of this analysis are initial indications that still need to be strengthened by contextual analysis, and cannot be applied in general to other sites in Kawasan Percandian Muarajambi. Abstrak. Tembikar merupakan salah satu artefak yang umum ditemukan pada situs arkeologi, baik situs masa prasejarah maupun masa sejarah. Walaupun sebagian besar dari temuan tembikar ditemukan dalam bentuk pecahan, keberadaan tembikar dalam satu situs arkeologi dapat membantu upaya rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu. Rekonstruksi ini dilakukan melalui berbagai metode analisis dan pendekatan, di antaranya analisis residu untuk mengetahui fungsi tembikar tersebut. Melalui metode analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC/MS) dapat dideteksi keberadaan sisa organik residu dan memberikan penjelasan mengenai fungsi tembikar tersebut pada masa lalu. Tulisan ini berfokus pada tahap persiapan dan analisis residu beberapa sampel tembikar di Kawasan Percandian Muarajambi melalui metode GC/MS. Tahappenyiapan sampel menjadi penting karena hingga saat ini belum banyak tulisan yang menguraikan secara terperinci mengenai hal tersebut. Hasil analisis memperlihatkan adanya senyawa kimia organik yang tertinggal pada sampel tembikar di antaranya lemak nabati dan hewani. Informasi awal yang diperoleh adalah adanya indikasi bahwa fragmen tembikar tersebut berfungsi sebagai wadah memasak. Hal itu diperkuat oleh adanya senyawa hasil pembakaran pada residu tembikar dan tidak adanya jejak kontaminasi. Namun, hasil analisis ini adalah indikasi awal yang masih perlu diperkuat melalui analisis kontekstual, yang tidak dapat diberlakukan secara umum pada situs lain di Kawasan Percandian Muarajambi.
KONSTRUKSI MASYARAKAT JAWA KUNO TERHADAP TRANSGENDER PEREMPUAN PADA ABAD KE 9-14 M Muhamad Alnoza; Dian Sulistyowati
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Construction of Ancient Java Community Towards Transgender Women in The 9th-14th Centuries. Transwomen in Indonesia are easily recognized by one's physical appearance. The survey stated that 89.3% of LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) groups have experienced discrimination and violence. The views of the Indonesian people towards transgender women today are influenced by the perspectives and constructions of society in the past. This paper is to reconstruct how the perspective of the ancient Javanese society towards trans women. Thepurpose of this research is to find the origin of the current Indonesian people's view of transgender women from past references. This study uses a descriptive analysis approach through the stages of data collection, analysis, and interpretation. It can be seen that the construction of society during the Javanese era considered transgender people as a group of people with disabilities. In addition to these constructions, for the royal group, trans women are part of the king's servants who have magical and political powers. Thus, trans women had an important position and privileges in the ancient Javanese kingdom. The position of transgender women can also be understood as an archipelago tradition, which places transwomen as a link between the human world and the world of gods, as can be found in bissu in South Sulawesi. Abstrak. Golongan transpuan di Indonesia mudah dikenali melalui penampilan fisik seseorang. Survei menyebutkan bahwa 89,3% kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) telah mengalami diskriminasi dan kekerasan. Pandangan masyarakat Indonesia terhadap transpuan dewasa ini dipengaruhi oleh perspektif dan konstruksi masyarakat pada masa lalu. Tulisan ini dimaksudkan untuk merekonstruksi bagaimana perspektif masyarakat Jawa Kuno terhadap transpuan. Tujuan penelitian adalah untuk mencari permulaan pandangan masyarakat Indonesia saat ini terhadap transpuan dari referensi masa lampau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi analisis melalui tahap pengumpulan data, analisis, dan interpretasi. Dapat diketahui bahwa konstruksi masyarakat pada masa Jawa Kuno menganggap transpuan sebagai golongan disabilitas. Di samping konstruksi tersebut, bagi golongan kerajaan, transpuan merupakan bagian dari abdi raja yang memiliki kekuatan magis dan politis. Dengan demikian, transpuan memiliki posisi yang penting dan hak-hak istimewa dalam kerajaan zaman Jawa Kuno. Posisi transpuan tersebut juga dapat dipahami sebagai suatu tradisi khas Nusantara, yang menempatkan transpuan sebagai penghubung dunia manusia dan dunia dewa, sebagaimana dapat dijumpai pula pada bissu di Sulawesi Selatan.
NASKAH KUNO “KAGHAS 1 SUKU SEMIDANG”: SEBUAH KAJIAN KRITIK SUMBER Wahyu Rizky Andhifani; Churmatin Nasoichah
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Ancient Manuscript “Kaghas 1 Semidang Tribe”: A Critical Source Study. Inscriptions and ancient Ulu script are found in South Sumatra and since 2009 an inventory has been carried out. The condition of these local inscriptions and manuscripts is generally well preserved and treated specially in the storage process and is a hereditary legacy that must be preserved. These ancient inscriptions and manuscripts are still widely owned by the community because they contain instructions or life guidelines for their children and grandchildren. This ancient manuscript is made of halim tree bark in the shape of sheets that are folded in rectangles similar to an accordion or an ancient book. The problem to be resolved is a review of source criticism of the ancient manuscripts of the Kaghas 1 Semidang tribe. The goal to be achieved is to examine the text from the point of view of source criticism by using the analytical description method. The script used is the Ulu script using the Pagaralam or Pasemah dialect. This manuscript contains Islamic teachings related to local genius or assimilation between the teachings of Islam and the culture of the Pasemah area. Abstrak. Prasasti dan naskah kuno beraksara Ulu sangat banyak ditemukan di wilayah Sumatra Selatan dan sejak tahun 2009 telah dilakukan inventarisasi. Kondisi prasasti dan naskah lokal tersebut secara umum terawat dan diperlakukan khusus dalam proses penyimpanannya dan merupakan warisan turun-menurun yang harus dijaga. Prasasti dan naskah kuno tersebut masih banyak dimiliki oleh masyarakat karena berisikan petunjuk atau pedoman hidup bagi anak cucu mereka. Naskah kuno ini terbuat dari kulit kayu pohon halim berbentuk lembaran yang dilipat-lipat segi empat mirip alat musik akordeon atau sebuah buku zaman dahulu. Permasalahan yang akan diselesaikan yaitu tinjauan kritik sumber terhadap naskah kuno kaghas 1 Suku Semidang. Tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk menelaah naskah tersebut dari sudut pandang kritik sumber dengan menggunakan metode deskripsi analisis. Aksara yang digunakan adalah aksara Ulu dengan menggunakan bahasa Melayu dialek Pagaralam atau Pasemah. Naskah ini memuat ajaran Islam terkait dengan local genius atau asimilasi antara ajaran Agama Islam dan budaya daerah Pasemah.

Page 1 of 1 | Total Record : 10