Budianto Hakim
Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Biografi Lanskap Pusat Kerajaan Bone Muhammad Irfan Mahmud; Nur Ihsan Djindar; Fardi Ali Syahdar; Nasihin; Budianto Hakim; Syahruddin Mansyur; Andi Muhammad Saiful; Ade Sahroni
WalennaE Vol 18 No 2 (2020)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v18i2.437

Abstract

Bone merupakan salah satu situs pusat kerajaan Bugis yang menarik diungkap biografi lanskapnya, dari unit-unit kampung kecil tradisional (abad ke-14 M) hingga mencapai bentuk kota kolonial pada awal abad ke-20. Penelitian ini secara spasial berfokus pada situs dalam wilayah keruangan Kota Watampone dengan menggunakan metode pendekatan biografi lanskap. Metode penelitian melalui tahapan: (1) rekonstruksi sejarah dan arkeologi; (2) dokumentasi ingatan kolektif; dan (3) narasi biografi lanskap. Hasil penelitian menemukan 9 lapisan biografis secara vertikal. Dari jumlah lapisan biografis tersebut, memori kolektif warga kota hanya terkait Bola Soba sebagai ikon arsitektur serta 4 lapisan biografi peradaban terkait legacy tokoh, yaitu Kawerang (situs Manurunge), Macege, serta Tanah Bangkala dan Taman Arung Palakka (periode lanskap tanpa istana). Perubahan lanskap sangat dipengaruhi perubahan lokasi istana, mengikuti ruang hunian penguasa terpilih. Lanskap tidak saja menunjukkan biografi periodic ruang, tetapi juga identitas dan ‘legacy’ tokoh pada setiap lapisan peradaban.
CASTING RANGKA MANUSIA DI LEANG JARIE, MAROS : BENTUK PENGAWETAN DAN PENYELAMATAN DATA ARKEOLOGI Lenrawati lenrawati; Budianto Hakim
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.420

Abstract

Temuan rangka manusia Leang Jarie, berada dalam wilayah Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Temuan rangka ini memperlihatkan kondisi yang sudah mulai rapuh. Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan untuk dilakukan dokumentasi dan penyelamatan. Dokumentasi yang dilakukan melalui pembuatan replika. Replika atau duplikasi dihasilkan melalui pembuatan casting pada rangka manusia tersebut. Tujuan pembuatan replika manusia untuk pelestarian nilai budaya serta untuk penyelamatan data arkeologi sebagai bahan pembelajaran atau pameran. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data, pengelompokan data dan pembuatan replika rangka manusia di Leang Jarie. Pembuatan replika rangka manusia secara insitu memiliki tahapan dan proses kerja yang cukup memerlukan tenaga dan waktu, karena sebelum dilakukan casting diperlukan penanganan temuan terlebih dahulu agar objek tidak rusak akibat pembuatan pola cetakan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembuatan adonan untuk menghasilkan replika rangka manusia Leang Jarie, yang sesuai dengan bentuk aslinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa replika yang dihasilkan tidak 100% terekam secara keseluruhan tetapi beberapa informasi sudah dapat diamati tanpa perlu ke situs. Casting rangka manusia di Leang Jarie merupakan benda replika yang sengaja dibuat untuk dapat di pamerkan ke publik dan sebagai bentuk pelestariannya.     The human skeleton of Leang Jarie was discovered in the Simbang District of Maros Regency. The discovery of this skeleton indicates that its condition has deteriorated. This became one of the causes for documenting and rescue later. The production of replicas is used to document the process. Castings of the human skeleton are used to create replicas or duplications. The goal of creating human replicas is to conserve cultural values while also preserving archaeological data for use as educational materials or displays. In Leang Jarie, the process is data collecting, data aggregation, and the creation of a human skeleton model. Making an in-situ copy of a human skeleton has steps and labor processes that require a lot of energy and time, because it's required to handle the object first so that it doesn't get harmed while the mold pattern is being made. The production of dough to create a copy of Leang Jarie's human skeleton that is accurate to the original form is something that must be considered. The result revealed that while the replicas produced were not 100% accurate but some information could be observed without having to visit the site. The human skeleton casting at Leang Jarie is a reproduction that was created with the intention of being displayed to the public and preserved.
CASTING RANGKA MANUSIA DI LEANG JARIE, MAROS : BENTUK PENGAWETAN DAN PENYELAMATAN DATA ARKEOLOGI Lenrawati lenrawati; Budianto Hakim
WalennaE Vol 20 No 1 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i1.420

Abstract

Temuan rangka manusia Leang Jarie, berada dalam wilayah Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Temuan rangka ini memperlihatkan kondisi yang sudah mulai rapuh. Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan untuk dilakukan dokumentasi dan penyelamatan. Dokumentasi yang dilakukan melalui pembuatan replika. Replika atau duplikasi dihasilkan melalui pembuatan casting pada rangka manusia tersebut. Tujuan pembuatan replika manusia untuk pelestarian nilai budaya serta untuk penyelamatan data arkeologi sebagai bahan pembelajaran atau pameran. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data, pengelompokan data dan pembuatan replika rangka manusia di Leang Jarie. Pembuatan replika rangka manusia secara insitu memiliki tahapan dan proses kerja yang cukup memerlukan tenaga dan waktu, karena sebelum dilakukan casting diperlukan penanganan temuan terlebih dahulu agar objek tidak rusak akibat pembuatan pola cetakan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembuatan adonan untuk menghasilkan replika rangka manusia Leang Jarie, yang sesuai dengan bentuk aslinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa replika yang dihasilkan tidak 100% terekam secara keseluruhan tetapi beberapa informasi sudah dapat diamati tanpa perlu ke situs. Casting rangka manusia di Leang Jarie merupakan benda replika yang sengaja dibuat untuk dapat di pamerkan ke publik dan sebagai bentuk pelestariannya.     The human skeleton of Leang Jarie was discovered in the Simbang District of Maros Regency. The discovery of this skeleton indicates that its condition has deteriorated. This became one of the causes for documenting and rescue later. The production of replicas is used to document the process. Castings of the human skeleton are used to create replicas or duplications. The goal of creating human replicas is to conserve cultural values while also preserving archaeological data for use as educational materials or displays. In Leang Jarie, the process is data collecting, data aggregation, and the creation of a human skeleton model. Making an in-situ copy of a human skeleton has steps and labor processes that require a lot of energy and time, because it's required to handle the object first so that it doesn't get harmed while the mold pattern is being made. The production of dough to create a copy of Leang Jarie's human skeleton that is accurate to the original form is something that must be considered. The result revealed that while the replicas produced were not 100% accurate but some information could be observed without having to visit the site. The human skeleton casting at Leang Jarie is a reproduction that was created with the intention of being displayed to the public and preserved.
PEMANFAATAN FAUNA VERTEBRATA DAN KONDISI LINGKUNGAN MASA OKUPASI 8.000 – 550 BP DI SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN Fakhri; Budianto Hakim; Yulastri; Salmia; Suryatman
AMERTA Vol. 39 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Utilization Of Vertebrate Fauna And Environmental Conditions Of Occupational Period 8.000 – 550 BP On The Site Of Leang Jarie, Maros, South Sulawesi. Vertebrate Remains from Leang Jarie Site at 8.000-550 BP Occupation in Maros Karst Area, South Sulawesi. The purpose of this study is to provide an overview of vertebrate fauna in Maros Pangkep karstic area, as one of the occupation areas at 8.000 years ago, Specifically, the purpose of this study is to describe of faunal remains found in the 2018-2019 excavation at Leang Jarie Site, Maros, South Sulawesi. This goal is achieved by using the Number of Identified Specimens (NISP) and Minimum Number of Individuals (MNI) calculation methods. The results of the study then showed that the fauna lived alongside human at this site included: fish, lizards, snakes, birds, frogs/toad, small Sulawesi cuscus, microchiroptera, megachiroptera, Sulawesi monkeys, rats, weasel/ferrets, babirussa and sus celebensis, anoa, buffaloes, and dogs. The results of the analysis and identification show that the presence of fauna on the Leang Jarie site is strongly influenced by humans who inhabit this site, this can be seen from the variety of fauna that lives following the changes of humans who inhabit Leang Jarie Sites at 8.000 to 550 BP. This study is one of the references of fauna that have lived and used as a food source or as human life support in this area. Abstrak. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang fauna vertebrata di kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu wilayah hunian sejak 8.000 tahun yang lampau, khususnya tentang jenis fauna pada ekskavasi 2018 dan 2019 di Situs Leang Jarie, Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis penghitungan number of identified specimens dan penghitungan minimum number of individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fauna yang hidup berdampingan dengan manusia di situs itu, antara lain ikan, kadal/biawak, ular, burung, katak/kodok, kuskus kecil Sulawesi, kelelawar pemakan serangga, kelelawar pemakan buah, monyet sulawesi, tikus, musang, babi rusa dan babi Sulawesi, anoa, kerbau, dan anjing. Hasil analisis dan identifikasi menunjukkan bahwa keberadaan fauna di Situs Leang Jarie sangat dipengaruhi oleh manusia yang menghuni situs itu. Hal itu terlihat dari variasi fauna yang hidup mengikutiperubahan manusia yang mendiaminya pada 8.000 sampai 550 BP. Penelitian ini merupakan salah satu referensi informasi fauna yang pernah hidup dan dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan atau sisa fauna yang dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang hidup manusia di wilayah tersebut.
DEVELOPMENT OF STONE FLAKE ARTIFACT TECHNOLOGY IN THE EARLY HALF OF HOLOCENE AT LEANG BATTI, SOUTH SULAWESI: PERKEMBANGAN TEKNOLOGI ARTEFAK SERPIH BATU PADA PARUH AWAL HOLOSEN DI LEANG BATTI, SULAWESI SELATAN Suryatman; Fakhri; Ratno Sardi; Budianto Hakim
Berkala Arkeologi Vol. 40 No. 2 (2020)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v40i2.585

Abstract

Abstract Intensive research in prehistoric caves in South Sulawesi has shown the cognitive capability of Sulawesi inhabitants that might not be possessed by other explorers in Wallacea. In the early half Holocene, the ability shown was to modify the shale tool known as the Toalean techno-complex. However, the view of the development of stone artifact technology in the period between before and early development of the Toalean techno-complex is rarely studied intensively. Leang Batti site is the occupation sites that can fill the information gap through the study of flakes artifact technology. 1376 artifacts were classified and analyzed for flakes by observing morphometric dynamics and tool type technology between the Early to Middle Holocene. The results that in the Early Holocene, the dominant technology was large flakes without modification. In the Middle Holocene, the size of the flakes began to change due to the influence of Toalean with the character of the modified flake technology began to enter in the basic concept of making tools, but not too strong. Abstrak Penelitian yang intensif di gua-gua prasejarah Sulawesi Selatan telah menunjukkan kemampuan kognitif penghuni Sulawesi yang mungkin jarang dimiliki populasi lain di Wallacea. Pada paruh awal Holosen kemampuan yang diperlihatkan adalah memodifikasi alat serpih yang dikenal dengan tekno-kompleks Toalean. Namun demikian, gambaran perkembangan teknologi artefak batu pada masa antara sebelum hingga awal perkembangan tekno-kompleks Toalean masih jarang diteliti secara intensif. Situs Leang Batti adalah situs hunian yang dapat mengisi kekosongan informasi melalui studi teknologi artefak serpih. Artefak berjumlah 1376 buah diklasifikasi dan dianalisis pada serpih dengan mengamati dinamika morfometrik dan teknologi tipe alat antara Holosen Awal hingga Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Holosen Awal, teknologi yang dominan adalah serpih yang digunakan sebagai alat secara langsung tanpa dimodifikasi. Pada fase Holosen Tengah, ukuran serpih mulai mengalami perubahan karena pengaruh Toalean dengan karakter teknologi serpih yang dimodifikasi mulai masuk dalam konsep dasar sipembuat alat, namun tidak terlalu kuat.