cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 41 No. 2 (2023)" : 16 Documents clear
Tumbuhan dalam Konteks Permukiman dan Penguburan: Studi Fitolit dari Situs Doro Mpana, Dompu, Nusa Tenggara Barat Aldhi Wahyu Pratama; Anggraeni; Ni Putu Eka Juliawati
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.712

Abstract

Abstract. Plants in the Settlement and Burial Context: Phytolith Study from Doro Mpana Site, Dompu, West Nusa Tenggara. The Doro Mpana site in Dompu, West Nusa Tenggara is one of the sites with traces of human interaction with the surrounding vegetation. Excavations have revealed human activities in the past, specifically settlement and burial activities. Archaeobotanical research conducted at the Doro Mpana site aims to determine the use of plants by its inhabitants. The research took an archaeobotanical approach, using phytolith data from pottery residues. Eighteen fragments of pottery edges and 3 fragments of pottery bodies were taken from box S20B1, and 10 fragments of pottery edges and 4 fragments of pottery bodies were taken from box T1S20, which had a settlement context. Meanwhile, samples with burial context were taken from concentrated pottery in spit 7 of box S20B1 and spit 4 of box T1S20. Phytolith extraction was carried out using a heavy-liquid floatation method with SPt (Sodium Polytungstate) solution, and identification was done using ICPN 2.0 (International Code for Phytolith Nomenclature). The results showed the presence of various plants such as palm tree (Arecaceae), bamboo (Poaceae) and ginger plants (Zingeberaceae) that were likely utilised in the past by the inhibitants of the Doro Mpana Site in the XIII-XV centuries AD. Keywords: sediments, residue, phytolith, earthenware, Doro Mpana Site   Abstrak. Situs Doro Mpana di Dompu, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu situs dengan indikasi adanya interaksi manusia dengan tumbuhan di sekitarnya. Ekskavasi yang telah dilakukan menemukan adanya aktivitas manusia di masa lalu, yakni aktivitas permukiman dan penguburan. Penelitian arkeobotani yang dilakukan pada Situs Doro Mpana, bertujuan untuk mengetahui bentuk pemanfaatan tumbuhan oleh manusia pendukungnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pendekatan arkeobotani menggunakan data fitolit yang diambil dari residu gerabah. Sampel yang diambil adalah 18 fragmen tepian gerabah dan 3 fragmen badan gerabah dari kotak S20B1, serta 10 fragmen tepian gerabah dan 4 fragmen badan gerabah dari kotak T1S20 yang memiliki konteks permukiman. Sementara, sampel dengan konteks penguburan diambil dari gerabah terkonsentrasi pada spit 7 kotak S20B1 dan spit 4 kotak T1S20. Ekstraksi fitolit dengan metode heavy-liquid floatation dengan larutan SPt (Sodium Polytungstate) dan identifikasi menggunakan nomenklatur ICPN 2.0 (International Code for Phytolith Nomenclature). Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa tumbuhan seperti palem-paleman (Arecaceae), bambu (Poaceae) dan tumbuhan temu-temuan (Zingeberaceae) yang kemungkinan dimanfaatkan di masa lalu oleh manusia pendukung Situs Doro Mpana pada abad XIII–XV M. Kata kunci: sedimen, residu, fitolit, gerabah, Situs Doro Mpana
Dinamika Ekonomi di Lintasan Kereta Api Cirebon—Kadipaten pada Abad ke 19–20 M Rus Yanti; Dewangga Eka Mahardian; Iwan Hermawan; Katrynada Jauharatna
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.1995

Abstract

Abstract. The Economic Dynamics along the Cirebon-Kadipaten Railway Route in the 19th–20th Centuries. The Dutch East Indies government built many facilities and infrastructures related to the economy. The railway line, which began construction in the 19th century, became one of the driving forces that transformed the Cirebon—Kadipaten region into bustling economic centres. Cirebon-Kadipaten is one of the ancient routes formerly traversed by trains from the Dutch company Semarang-Cheribon Stroomtram Maatschappij (SCS), leaving behind many archaeological traces. The SCS route also enlivened the economic centres along its western path, such as sugar factories and markets. The ebbs and flows of the economy along the western route and its impact on urban development remain unknown. Through literature reviews and field surveys, this paper identifies economic centres along the western SCS route and assesses the extent to which this route impacted urban development in an effort to reconstruct local history. The research results indicate active economic centres peaking in the early 20th century. Sharp economic fluctuations began occurring in the late 20th century due to economic decline, affecting the takeover of economic assets, decreased trading activities, and repurposing of economic buildings. This decline ultimately marked the end of the economic golden age along the western route (Kadipaten) coinciding with the demise of the railway line that supported it, and urban development entered a stagnant phase. These setbacks eventually marked the end of the economic golden age along the western route (Kadipaten) coinciding with the demise of the railway line that supported it, and urban development remained stagnant. However, there were tendencies towards eastern development again at the beginning of the millennium, reminiscent of the 19th century, characterized by bustling local markets, local artisans, and Pecinan shophouses.   Keywords: Cirebon, Semarang Cheribon Stroomtram, Kadipaten, railway, economic centres   Abstrak. Pemerintah Hindia Belanda membangun banyak sarana dan prasarana yang berkaitan dengan perekonomian. Jalur kereta api yang mulai dibangun pada abad ke-19 menjadi salah satu motor penggerak yang mengubah daerah Cirebon--Kadipaten menjadi kantung-kantung ekonomi yang tidak pernah sepi. Cirebon—Kadipaten merupakan salah satu jalur kuno yang dulu pernah dilintasi kereta api buatan perusahaan Belanda bernama Semarang-Cheribon Stroomtram Maatschappij (SCS) yang banyak meninggalkan bukti arkeologis. Lintasan SCS juga turut meramaikan kantung-kantung ekonomi yang dilaluinya di jalur barat, seperti pabrik gula dan pasar.  Bagaimana pasang surut perekonomian di jalur barat dan dampaknya terhadap perkembangan kota, masih belum diketahui. Melalui studi pustaka dan survei lapangan, tulisan ini mengidentifikasi kantung-kantung ekonomi di sepanjang jalur barat SCS dan menakar sejauh mana jalur tersebut berdampak terhadap perkembangan kota sebagai upaya rekonstruksi sejarah lokal. Hasil penelitian menunjukkan kantung-kantung ekonomi aktif dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Fluktuasi ekonomi yang tajam mulai terjadi pada akhir abad ke-20 sebagai imbas dari kemunduran ekonomi (malaise) yang berdampak pada pengambilalihan aset ekonomi, penurunan aktivitas perdagangan, serta pengalihfungsian bangunan-bangunan ekonomi. Kemunduran tersebut pada akhirnya menandai berakhirnya masa keemasan perekonomian di jalur barat (Kadipaten) bersamaan dengan matinya jalur kereta api yang menghidupinya, dan perkembangan kota berada pada fase stagnan, tetapi ada kecenderungan pada awal millennium, perkembangan tersebut kembali ke arah timur, seperti pada abad ke-19, yang ditandai dengan berkembangnya keramaian di pasar-pasar lokal, pengrajin lokal, dan ruko-ruko di Pecinan.  Kata kunci: Cirebon, Semarang Cirebon Stroomtram, Kadipaten, kereta api, kantung ekonomi
Candi Keboireng: Aspek Keagamaan dan Kronologinya Muhammad Azzam Al Haq; Niken Wirasanti
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.3002

Abstract

Abstract. Keboireng Temple: Its Religious Aspects and Chronology. Various aspects of the existence of temples can be studied, one of which is the religious background underlying the construction of the temple. Generally, the identification of the religious background of temple buildings can be based on the presence of the main deity statue worshipped in the temple. However, not all temples are rediscovered in intact condition, one of which is the Keboireng Temple. Therefore, the identification of the religious background of Keboireng Temple is carried out by utilising the data of decorative elements (kāla), written source data (inscriptions and ancient manuscripts), and toponyms. The kāla of Keboireng Temple is unique because it is depicted grasping and biting an object until it bends. Such a depiction of kāla is not commonly found. The Mūla Maluruŋ inscription mentions the existence of a place of worship of Bhairawa, one of the terrifying manifestations of the Hindu deity Śhiva, in Kapulungan. Other data sources were used to find the connection between the toponym of Kapulungan and Keboireng Temple. The analysis of the unique depiction of kāla, the description in the Mūla Maluruŋ inscription, and the identification of the Kapulungan toponym lead to the conclusion that Keboireng Temple in its original context was a temple for followers of the Bhairawa sect that flourished during the Siŋhasāri period. Keywords: Keboireng Temple, Religious Background, Kāla Ornament, Kapulungan, Bhairawa   Abstrak. Terdapat berbagai aspek yang dapat dikaji mengenai keberadaan candi, salah satunya adalah latar keagamaan yang mendasari pembangunan candi tersebut. Pada umumnya, identifikasi latar keagamaan bangunan candi dapat didasarkan pada keberadaan arca utama yang dipuja di candi. Namun, tidak semua candi ditemukan kembali dalam keadaan utuh, salah satunya adalah Candi Keboireng. Oleh karena itu, identifikasi latar keagamaan Candi Keboireng dilakukan dengan memanfaatkan data ragam hias (kāla), data sumber tertulis (prasasti dan naskah kuno), dan toponimi. Kāla Candi Keboireng memiliki keunikan karena digambarkan menggenggam dan menggigit sebuah objek hingga bengkok. Penggambaran kāla tersebut tidak umum dijumpai. Prasasti Mūla Maluruŋ menyebutkan adanya tempat pemujaan Bhairawa, salah satu manifestasi Dewa Śiwa dalam agama Hindu yang berwujud mengerikan, di Kapulungan. Sumber data lain digunakan untuk mencari keterkaitan antara toponimi Kapulungan dengan Candi Keboireng. Analisis terhadap penggambaran kāla yang unik, keterangan dalam prasasti Mūla Maluruŋ, serta identifikasi atas toponimi Kapulungan menghasilkan kesimpulan bahwa Candi Keboireng dalam konteks aslinya merupakan sebuah kuil untuk penganut aliran Bhairawa yang berkembang pesat pada masa Siŋhasāri.  Kata kunci: Candi Keboireng, Latar Keagamaan, Kāla, Kapulungan, Bhairawa
Analisis Kuantitatif Pemeringkatan Penilaian Bangunan Cagar Budaya di Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Andi Putranto; Syehkhan Dartiko Aji; Jalu Naufal Falah
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.3555

Abstract

Abstract. Quantitative Analysis for Ranking Assessment of Cultural Heritage Buildings in Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta. Many cultural heritage buildings in Kulon Progo Regency can be dated back to the period before and during Indonesia’s colonial period. According to the Law of the Republic of Indonesia Number 11 of 2010 Concerning Cultural Conservation, a building could be categorized as Cultural Heritage if it has passed the registration, assessment, or assessment process, or until authorities may establish its rank.  The assessment of cultural heritage buildings is carried out to prepare a recommendation text to designate them as cultural heritage. Therefore, this research tries to re-evaluate cultural heritage buildings using quantitative analysis methods with weighting factors to obtain a final value which produces a ranking of cultural heritage buildings related to aspects of protection, development and utilization while still being guided by preservation principles based on the numbers obtained as final assessment. It is hoped that the results of the assessment using this formula will be used in ranking according to the final value obtained by each cultural heritage building which is closely related to its utilization and development while still being guided by the principles of cultural heritage preservation. The results of this research propose four classes, namely 1) Buildings with low utilization and preservation; 2) Buildings with moderate utilization and preservation; 3) Buildings with high utilization and preservation, and; 4) Buildings with very high utilization and preservation. These four classes are strongly related to the priority level of future handling activities for these buildings if conditions require maintenance, both in terms of protection, development, and utilization. Keywords: Cultural Heritage Buildings, ranking, Kulon Progo, Quantitative Analysis   Abstrak. Cukup banyak bangunan cagar budaya yang berasal dari masa prakolonial serta masa kolonial di Kabupaten Kulon Progo. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, bangunan disebut sebagai Cagar Budaya jika telah melalui proses pendaftaran, pengkajian dan dirumuskan dalam naskah rekomendasi untuk ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan peringkatnya. Penilaian bangunan cagar budaya dilakukan untuk menyusun naskah rekomendasi dalam rangka penetapannya. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menilai kembali bangunan cagar budaya dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dengan faktor pembobot untuk memperoleh nilai akhir yang menghasilkan peringkat bangunan cagar budaya berkaitan dengan aspek pelindungan, pengembangan, serta pemanfaatan dengan tetap berpedoman pada kaidah pelestarian berdasarkan angka yang diperoleh sebagai penilaian akhir. Hasil penilaian dengan formula ini diharapkan akan digunakan dalam pemeringkatan sesuai nilai akhir yang diperoleh tiap bangunan cagar budaya yang berkaitan erat dengan pemanfaatan, pengembangan dengan tetap berpedoman pada prinsip pelestarian cagar budaya. Hasil penelitian ini mengusulkan empat kelas, yaitu 1) Bangunan dengan ketermanfaatan dan kelestarian rendah; 2) Bangunan dengan ketermanfaatan dan kelestarian sedang; 3) Bangunan dengan ketermanfaatan dan kelestarian tinggi, dan; 4) Bangunan dengan ketermanfaatan dan kelestarian sangat tinggi. Keempat kelas ini berhubungan kuat dengan tingkat prioritas kegiatan penanganan ke depannya terhadap bangunan-bangunan tersebut jika terjadi kondisi yang memerlukan penanganan, baik dalam pelindungan, pengembangan, maupun pemanfaatannya. Kata kunci: Bangunan Cagar Budaya, pemeringkatan, Kulon Progo, Analisis Kuantitatif
Pembangunan Infrastruktur di Pulau Sangihe Besar oleh Pemerintah Hindia Belanda Dwi Kurnia Sandy; Salma Fitri Kusumastuti
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.3611

Abstract

Abstract. Infrastructure Development on Sangihe Besar Island by Netherlands Indies Goverment. Sangihe Besar Island is a part of present-day North Sulawesi Province. The island became a significant political and economic hub of the Sangihe-Talaud archipelago during the occupation of the Netherlands Indies Government in 19-20 century. This article aims to elucidate the background of infrastructure construction on the island held by the Netherlands Indies Government. The research includes archaeological, historical, and satellite image data which are compiled as maps. It reveals that the presence of the Netherlands Indies Government was motivated by their demand for copra. Various facilities such as roads, offices, schools, markets, ports, religious places, prisons, and others were built to support the copra production monopoly. Additionally, political, economic, and environmental aspects were identified as the primary considerations preferred by the Netherlands Indies Government to determine the location for infrastructure development. The results also indicate that the regions of Tahuna, Manganitu, and Tamako were essential for extensive infrastructure enlargement by the government. Keywords: Sangihe Besar Island, Infrastructure Planning, Netherland Indies Government, Copra Monopoly   Abstrak. Pulau Sangihe Besar yang secara administratif termasuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Utara saat ini, pernah menjadi pusat politik dan ekonomi.  Kepulauan Sangihe-Talaud pada masa Pemerintahan Hindia Belanda di abad 19-20. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap alasan pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Sangihe Besar beserta pertimbangan yang mendasarinya. Data berupa tinggalan arkeologis, sejarah, citra satelit Pulau Sangihe Besar disajikan ke dalam peta yang dapat digunakan untuk menjelaskan dinamika yang telah terjadi. Pembahasan dari data tersebut mengungkap bahwa kehadiran Pemerintah Hindia Belanda didasari oleh motif perdagangan khususnya kebutuhan atas kopra. Pemerintah Hindia Belanda membangun berbagai fasilitas seperti jalan, perkantoran, sekolah, pasar, pelabuhan, sarana ibadah, dan penjara untuk mendukung upaya monopoli terhadap komoditas ini. Terdapat tiga dasar pertimbangan utama dalam menentukan lokasi pembangunan infrastruktur yaitu, aspek politik, ekonomi, dan lingkungan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa wilayah Tahuna, Manganitu, dan Tamako merupakan tiga lokasi dengan pembangunan infrastruktur yang paling masif. Kata Kunci: Pulau Sangihe Besar, Infrastruktur, Pemerintah Hindia Belanda, Monopoli Kopra
Cover Amerta Volume 41, Nomor 2, Tahun 2023 BRIN
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Amerta Volume 41, Nomor 2, Tahun 2023 BRIN
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appendix Amerta Volume 41, Nomor 2, Tahun 2023 BRIN
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan dalam Konteks Permukiman dan Penguburan: Studi Fitolit dari Situs Doro Mpana, Dompu, Nusa Tenggara Barat Wahyu Pratama, Aldhi; Anggraeni; Juliawati, Ni Putu Eka
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.712

Abstract

Abstract. Plants in the Settlement and Burial Context: Phytolith Study from Doro Mpana Site, Dompu, West Nusa Tenggara. The Doro Mpana site in Dompu, West Nusa Tenggara is one of the sites with traces of human interaction with the surrounding vegetation. Excavations have revealed human activities in the past, specifically settlement and burial activities. Archaeobotanical research conducted at the Doro Mpana site aims to determine the use of plants by its inhabitants. The research took an archaeobotanical approach, using phytolith data from pottery residues. Eighteen fragments of pottery edges and 3 fragments of pottery bodies were taken from box S20B1, and 10 fragments of pottery edges and 4 fragments of pottery bodies were taken from box T1S20, which had a settlement context. Meanwhile, samples with burial context were taken from concentrated pottery in spit 7 of box S20B1 and spit 4 of box T1S20. Phytolith extraction was carried out using a heavy-liquid floatation method with SPt (Sodium Polytungstate) solution, and identification was done using ICPN 2.0 (International Code for Phytolith Nomenclature). The results showed the presence of various plants such as palm tree (Arecaceae), bamboo (Poaceae) and ginger plants (Zingeberaceae) that were likely utilised in the past by the inhibitants of the Doro Mpana Site in the XIII-XV centuries AD. Keywords: sediments, residue, phytolith, earthenware, Doro Mpana Site   Abstrak. Situs Doro Mpana di Dompu, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu situs dengan indikasi adanya interaksi manusia dengan tumbuhan di sekitarnya. Ekskavasi yang telah dilakukan menemukan adanya aktivitas manusia di masa lalu, yakni aktivitas permukiman dan penguburan. Penelitian arkeobotani yang dilakukan pada Situs Doro Mpana, bertujuan untuk mengetahui bentuk pemanfaatan tumbuhan oleh manusia pendukungnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pendekatan arkeobotani menggunakan data fitolit yang diambil dari residu gerabah. Sampel yang diambil adalah 18 fragmen tepian gerabah dan 3 fragmen badan gerabah dari kotak S20B1, serta 10 fragmen tepian gerabah dan 4 fragmen badan gerabah dari kotak T1S20 yang memiliki konteks permukiman. Sementara, sampel dengan konteks penguburan diambil dari gerabah terkonsentrasi pada spit 7 kotak S20B1 dan spit 4 kotak T1S20. Ekstraksi fitolit dengan metode heavy-liquid floatation dengan larutan SPt (Sodium Polytungstate) dan identifikasi menggunakan nomenklatur ICPN 2.0 (International Code for Phytolith Nomenclature). Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa tumbuhan seperti palem-paleman (Arecaceae), bambu (Poaceae) dan tumbuhan temu-temuan (Zingeberaceae) yang kemungkinan dimanfaatkan di masa lalu oleh manusia pendukung Situs Doro Mpana pada abad XIII–XV M. Kata kunci: sedimen, residu, fitolit, gerabah, Situs Doro Mpana
Dinamika Ekonomi di Lintasan Kereta Api Cirebon—Kadipaten pada Abad ke 19–20 M Yanti, Rus; Dewangga Eka Mahardian; Iwan Hermawan; Jauharatna, Katrynada
AMERTA Vol. 41 No. 2 (2023)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2023.1995

Abstract

Abstract. The Economic Dynamics along the Cirebon-Kadipaten Railway Route in the 19th–20th Centuries. The Dutch East Indies government built many facilities and infrastructures related to the economy. The railway line, which began construction in the 19th century, became one of the driving forces that transformed the Cirebon—Kadipaten region into bustling economic centres. Cirebon-Kadipaten is one of the ancient routes formerly traversed by trains from the Dutch company Semarang-Cheribon Stroomtram Maatschappij (SCS), leaving behind many archaeological traces. The SCS route also enlivened the economic centres along its western path, such as sugar factories and markets. The ebbs and flows of the economy along the western route and its impact on urban development remain unknown. Through literature reviews and field surveys, this paper identifies economic centres along the western SCS route and assesses the extent to which this route impacted urban development in an effort to reconstruct local history. The research results indicate active economic centres peaking in the early 20th century. Sharp economic fluctuations began occurring in the late 20th century due to economic decline, affecting the takeover of economic assets, decreased trading activities, and repurposing of economic buildings. This decline ultimately marked the end of the economic golden age along the western route (Kadipaten) coinciding with the demise of the railway line that supported it, and urban development entered a stagnant phase. These setbacks eventually marked the end of the economic golden age along the western route (Kadipaten) coinciding with the demise of the railway line that supported it, and urban development remained stagnant. However, there were tendencies towards eastern development again at the beginning of the millennium, reminiscent of the 19th century, characterized by bustling local markets, local artisans, and Pecinan shophouses.   Keywords: Cirebon, Semarang Cheribon Stroomtram, Kadipaten, railway, economic centres   Abstrak. Pemerintah Hindia Belanda membangun banyak sarana dan prasarana yang berkaitan dengan perekonomian. Jalur kereta api yang mulai dibangun pada abad ke-19 menjadi salah satu motor penggerak yang mengubah daerah Cirebon--Kadipaten menjadi kantung-kantung ekonomi yang tidak pernah sepi. Cirebon—Kadipaten merupakan salah satu jalur kuno yang dulu pernah dilintasi kereta api buatan perusahaan Belanda bernama Semarang-Cheribon Stroomtram Maatschappij (SCS) yang banyak meninggalkan bukti arkeologis. Lintasan SCS juga turut meramaikan kantung-kantung ekonomi yang dilaluinya di jalur barat, seperti pabrik gula dan pasar.  Bagaimana pasang surut perekonomian di jalur barat dan dampaknya terhadap perkembangan kota, masih belum diketahui. Melalui studi pustaka dan survei lapangan, tulisan ini mengidentifikasi kantung-kantung ekonomi di sepanjang jalur barat SCS dan menakar sejauh mana jalur tersebut berdampak terhadap perkembangan kota sebagai upaya rekonstruksi sejarah lokal. Hasil penelitian menunjukkan kantung-kantung ekonomi aktif dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Fluktuasi ekonomi yang tajam mulai terjadi pada akhir abad ke-20 sebagai imbas dari kemunduran ekonomi (malaise) yang berdampak pada pengambilalihan aset ekonomi, penurunan aktivitas perdagangan, serta pengalihfungsian bangunan-bangunan ekonomi. Kemunduran tersebut pada akhirnya menandai berakhirnya masa keemasan perekonomian di jalur barat (Kadipaten) bersamaan dengan matinya jalur kereta api yang menghidupinya, dan perkembangan kota berada pada fase stagnan, tetapi ada kecenderungan pada awal millennium, perkembangan tersebut kembali ke arah timur, seperti pada abad ke-19, yang ditandai dengan berkembangnya keramaian di pasar-pasar lokal, pengrajin lokal, dan ruko-ruko di Pecinan.  Kata kunci: Cirebon, Semarang Cirebon Stroomtram, Kadipaten, kereta api, kantung ekonomi

Page 1 of 2 | Total Record : 16