cover
Contact Name
Nanang Dwi Ardi
Contact Email
wahanafisika@gmail.com
Phone
+62222004548
Journal Mail Official
wahanafisika@gmail.com
Editorial Address
Program Studi FISIKA FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No 229 Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Wahana Fisika : Jurnal Fisika dan Terapannya
ISSN : -     EISSN : 25491989     DOI : https://doi.org/10.17509/wafi
- Material physics - Instrumentation physics - Geophysics - Astronomy - Computational physics - Biophysics - Theoritical physics - another applied physics
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2019): June" : 7 Documents clear
STUDI DISTRIBUSI NEUTRONIK FLUKS PADA REAKTOR NUKLIR SEDERHANA Isnaini Nur Islami; Hilma Tismawati; Moch Nurul Subkhi
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.15565

Abstract

STUDI DISTRIBUSI NEUTRONIK FLUKS PADA REAKTOR NUKLIR SEDERHANA. Materi dasar teknologi reaktor nuklir telah dipelajari pada kuliah fisika reaktor di jurusan fisika fakultas sains dan teknologi Universitas Islam Negeri Bandung. Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk mempelajari sistem perhitungan neutronik berdasarkan persamaan difusi satu dimensi serta menentukan distribusi neutron pada reaktor satu dimensi dengan menggunakan model matematika. Perhitungan ini penting dilakukan untuk menjaga kekritisan reaktor yang didasarkan kepada pengendalian reaksi fisi berantai dalam reaktor, meskipun demikian kegiatan ini tidak dapat dilakukan secara eksperimen di laboratorium. Analisis distribusi fluks neutronik dengan menggunakan Metode numerik untuk persamaan difusi satu grup  dapat diaplikasikan pada reaktor nuklir sederhana. Simulasi reaktor telah dilakukan pada model reaktor satu dimensi menggunakan GUI software dan Octave.  Perhitungan dilakukan dengan memvariasikan ukuran mesh atau interval dari panjang teras (dx). Grafik distribusi fluks neutron sepanjang diameter teras diperoleh berbentuk parabola terbalik yang dapat dikatakan cukup baik dengan menggunakan tebakan fluks awal 1,25E+05 n/cm2.s, dan k-eff 1,025.
SIFAT OPTIK CARBON DOTS (C-DOTS) DARI DAUN BAMBU HASIL SINTESIS HIJAU BERBANTUKAN GELOMBANG MIKRO Permono Adi Putro; Akhiruddin Maddu
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.15569

Abstract

Carbon dots (C-dots)  adalah tipe baru dari nanopartikel berpendar yang dapat mudah disintesis dari sumber alami. Sintesis C-dots dari daun bambu telah berhasil dilakukan menggunakan teknik sintesis hijau berbantukan gelombang mikro. Teknik sintesis hijau dilakukan dengan menggunakan air sebagai pelarut non-kimia dan sumber alami. Sintesis dilakukan menggunakan variasi konsentrasi prekursor untuk dipelajari pengaruhnya terhadap sifat fisik dan sifat optiknya. Sifat fisik C-dots menunjukkan warna transparan di bawah cahaya tampak, dan warna hijau di bawah laser UV 405 nm. Sifat optik C-dots dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis, dan spektrofotometer dengan sumber eksitasi 405 nm. Konsentrasi prekursor mempengaruhi intensitas eksitasi dan emisi, namun pergeseran Stokes C-dots memiliki kestabilan yang sangat baik dalam larutan berair. Pergeseran Stokes berasal dari keadaan transisi n–π* dari struktur ikatan aromatik C=O pada permukaan C-dots. Kami peroleh C-dots yang berpotensi untuk diaplikasikan sebagai bioimaging seluler in vivo dan in vitro dan biosensing ion logam dan garam.
IDENTIFIKASI AKUIFER BERDASARKAN METODE GEOLISTRIK SUSUNAN SCHLUMBERGER DI KECAMATAN PEJAGOAN, KEBUMEN Nandian Mareta Hermawan; Chusni Ansori
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.14303

Abstract

IDENTIFIKASI AKUIFER BERDASARKAN METODE GEOLISTRIK SUSUNAN SCHLUMBERGER DI KECAMATAN PEJAGOAN, KEBUMENNandian Mareta1*, Chusni Ansori11Balai Informasi dan Konservasi Kebumian, LIPI, Jl. Kebumen-Karangsambung KM 19, Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah *Penulis Penanggungjawab. E-mail: nand015@lipi.go.id /nandianthea@gmail.com ABSTRAKIdentifikasi airtanah menggunakan metode geolistrik susunan Schlumberger telah dilaksanakan di kecamatan Pejagoan, Kebumen. Pejagoan ini merupakan salah satu kecamatan di Kebumen yang cukup cepat perkembangan penduduknya, sehingga kebutuhan sumberdaya air juga meningkat. Setiap musim kemarau resiko kekurangan air selalu terjadi di bagian utara wilayah kecamatan. Penelitian tentang potensi airtanah dalam masih jarang dilakukan, sehingga dilakukanlah kegiatan ini. Susunan Schlumberger merupakan salah satu metode dalam geolistrik untuk mengetahui variasi litologi bawah permukaan melalui perbedaan tahanan jenis batuan. Pengukuran geolistrik dilakukan di 13 lokasi secara sounding, panjang bentangan rata-rata 200-250 meter, dengan kedalaman yang dihasilkan antara 65 meter sampai 140 meter. Berdasarkan nilai tahanan jenis, dapat diinterpretasikan litologi yang dijumpai berupa soil, batu lempung tufaan basah, batupasir tufaan basah, batupasir tufaan kering, batu gamping dan tufa kering. Soil terdapat pada lapisan paling atas, dengan kedalaman 10 meter, ditandai dengan nilai tahanan jenis yang tidak sepenuhnya stabil. Batulempung tufan basah mempunyai nilai tahanan jenis kecil (kurang dari 20 ohmmeter). Batupasir tufan basah dengan nilai tahanan jenis 20-100 ohmmeter. Batupasir tufan kering dan batugamping nilai tahanan jenis antara 100 – 1.000 ohmmeter, sedangkan nilai tahanan jenis sangat besar (2.000 ohmmeter) diinterpretasikan sebagai tufa kering. Litologi yang dapat berfungsi sebagai akuifer setengah permeabel adalah batulempung tufaan basah dan batupasir tufaan basah.  Batulempung tufaan basah berada pada kedalaman 9 - 16 m, banyak mengalami kekar sehingga dimungkinkan sebagai akuifer dangkal.  Batupasir tufaan basah, pelamparannya lebih luas dapat berfungsi sebagai akuifer pada kedalaman 52 m dengan ketebalan 38 m. Sedangkan sebagai akuifer dangkal terdapat pada kedalaman 4 meter sampai 13 meter. Potensi air tanah pada akuifer dangkal sangat dipengaruhi oleh kondisi musim.Kata Kunci: Geolistrik, susunan Schlumberger, vertical electrical sounding, akuifer ABSTRACT Groundwater identification using the Schlumberger arrangement geoelectric method has been carried out in Pejagoan sub-district, Kebumen. Pejagoan is one of the sub-districts in Kebumen which has a fairly rapid development of its population, so that water resource needs are also increasing. Every dry season the risk of water shortages always occurs in the northern part of the sub-district. Research on the potential of deep groundwater is still rare, so this activity is carried out. Schlumberger arrangement is one of the geoelectric methods to determine subsurface lithology variations through different types of rock resistance. Geoelectric measurements were carried out in 13 locations by sounding, with an average stretch of 200-250 meters, with a depth of between 65 meters and 140 meters. Based on the type of resistivity value, it can be interpreted as lithology found in soil, wet tuff claystone, wet tuff sandstone, dry tuff sandstone, limestone and dry tuff. Soil is found in the uppermost layer, with a depth of 10 meters, which is characterized by a value of type resistance that is not completely stable. Wet tuff claystone has a small resistance value (less than 20 ohmmeter). Wet tuff sandstones with resistivity values of 20-100 ohmmeter. Dry tuff sandstones and limestone type resistivity values between 100 - 1,000 ohmmeter, while very large resistance values ( 2,000 ohmmeter) are interpreted as dry tuffs. The lithology that can function as a semi-permeable aquifer is wet tuff claystone and wet tuff sandstone. Wet tuff claystone is at a depth of 9-16 m, has a lot of strength so it is possible as a shallow aquifer. Wet tuff sandstones, wider dispersion can function as aquifers at a depth of 52 m with a thickness of 38 m. Whereas as a shallow aquifer there is a depth of 4 meters to 13 meters. The potential of groundwater in shallow aquifers is strongly influenced by seasonal conditions. Keywords: Geoelectric, Schlumberger arrangement, vertical electrical sounding, aquifer
EVOLUSI DINAMIK SUN'S BIRTH CLUSTER DAN PENCARIAN SOLAR SIBLINGS DI BIMASAKTI Rendy Darma; Mochamad Ikbal Arifyanto
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.15706

Abstract

Sebagian besar bintang-bintang di galaksi terbentuk di dalam gugus bintang, baik gugus terbuka maupun gugus bola. Begitu juga dengan Matahari, yang diperkirakan terbentuk pada 4,6 milyar tahun lalu di dalam sebuah gugus terbuka (sun’s birth cluster). Bintang-bintang yang terbentuk bersamaan dengan Matahari di dalam sun’s birth cluster, disebut sebagai solar siblings. Argumen ini didukung oleh penemuan radioisotop berumur pendek dan objek-objek Edgeworth-Kuiper yang memiliki inklinasi dan eksentrisitas tinggi di Tata Surya. Pekerjaan ini bertujuan untuk mempelajari evolusi dinamik sun’s birth cluster selama 4,6 milyar tahun dan mencari keberadaan solar siblings di Bimasakti dalam radius 1 kpc dari Matahari. Simulasi N-benda dilakukan untuk memahami evolusi dinamik sun’s birth cluster dan sebaran solar siblings saat ini dalam pengaruh potensial gravitasi Bimasakti. Sebanyak 2 juta bintang dari katalog GAIA DR2 digunakan untuk mencari solar siblings dalam radius 1 kpc dari Matahari. Hasil dari pekerjaan ini menunjukkan bahwa sun’s birth cluster mengalami kehancuran pada usia kurang dari 1 milyar tahun setelah pembentukannya, akibat adanya gangguan pasang surut Bimasakti yang menyebabkan solar siblings terlepas dari sun’s birth cluster dan menyebar di sekitar orbit Matahari saat ini. Semakin besar jumlah bintang sun’s birth cluster yang dimodelkan, semakin banyak solar siblings yang dapat ditemukan di sekitar Matahari. Analisis kinematika dan fotometri solar siblings menunjukkan setidaknya terdapat 14 hingga 19 kandidat solar siblings pada katalog GAIA DR2 dalam radius 1 kpc dari Matahari.
ANALISIS KARAKTERISTIK SISTEM KONTROL TEMPERATUR BERBASIS AUTONICS TK4S-14RN UNTUK PROTOTIPE PENGERING BAHAN PAKAIAN Desi Silvia Astuti; Ahmad Aminudin; Waslaluddin Waslaluddin
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.15053

Abstract

Penelitian tentang analisis karakteristik sistem dari sistem kontrol temperatur berbasis Autonics TK4S-14RN yang berbasis Autonics TK4S-14RN.
STRESS ON SPUR GEAR AND SIMULATION FOR MICRO HYBRID SYSTEMS BY ANSYS WORKBENCH Anisul Islam; Md. Mashrur Islam
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.15174

Abstract

Spur gears are the most well-known kind of gears used in hybrid vehicle’s power transmission. They have straight teeth, and are mounted on parallel shafts. In some cases, many spur gears are utilized without a moment's delay to make huge rigging decreases. In this paper how stress creates on a spur equip under various conditions and conditions and reenactments of a rigging system (two spur gears) is assessed by Ansys workbench. For this static structural and dynamic analysis modeling is utilized. A couple of spurs equip tooth in real life is by and large subjected to two sorts of cyclic stress: contact stress and twisting stress including bowing fatigue. The two stresses may not accomplish their greatest esteems at a similar purpose of contact fatigue. These sorts of failure can be limited by analysis of the issue amid the outline organize and making appropriate tooth surface profile with legitimate assembling strategies.
SUATU STUDI PEMODELAN VISKOELASTIK MATERIAL BENANG VIZ 100% WOOL 36 TEX MENGGUNAKAN PENDEKATAN FISIKA Valentinus Galih Vidia Putra; Andrian Wijayono; Irwan .; Tina Martina; Cahaya Rosyidan
Wahana Fisika Vol 4, No 1 (2019): June
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v4i1.15500

Abstract

Suatu model matematis viskoelastik untuk menentukan besar koefisien viskos serta koefisien elastik suatu benang tekstil telah dikaji pada penelitian ini. Suatu persamaan matematis benang tekstil viz. 100% wool yang memiliki nomor benang 36 tex atau 36 (g/km) telah dirumuskan menggunakan mekanika klasik. Hasil studi memperlihatkan bahwa pemodelan ini dapat digunakan untuk menentukan sifat viskoelastik material berdasarkan sifat stress relaxation.

Page 1 of 1 | Total Record : 7