cover
Contact Name
LAILATUL RIF'AH
Contact Email
rifah.lala12@gmail.com
Phone
+6282234437947
Journal Mail Official
ahmad.zaenuri@unkafa.ac.id
Editorial Address
Jl KH Syafii no 07 desa Suci Kec Manyar Kabupaten Gresik
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
JADID
ISSN : 28287797     EISSN : 2828917X     DOI : https://doi.org/10.33754/jadid.v4i01
This Journal specializes in studying the theories and practices of quranic and islmic communication is intended to express original researches and current issues. This journal welcomes the contributions of scholars from related fields warmly that consider the following general topics Tafsir Quran Pemikiran Islam dalam Quran Hemeneutik Komunikasi Islam Broadcasting Strategi Dakwah Islam
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2022): Maret" : 7 Documents clear
APLIKASI JIHAD DALAM KEHIDUPAN; KAJIAN TAFSIR MAQA>S}IDI> Arif Budiono
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.505

Abstract

Artikel ini akan membahas seluk-beluk tafsir maqa>s}idi>, mulai dari sejarah, pemahaman dan hubungannya dengan metode penafsiran lainnya, dan langkah-langkah (masa>lik) dalam tafsir Maqashidi. Tafsir maqa>s}idi>, yang istilahnya telah muncul baru-baru ini, sebenarnya praktis ada sejak fase pertama dari interpretasi al-Qur’an, yaitu di era shahabah dan tabi’in. Jadi dalam praktiknya, tafsir maqa>s}idi> bukanlah sesuatu yang baru dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Berdasarkan maslahah, tafsir maqa>s}idi> memiliki posisi penting yang memediasi dua interpretasi arus utama, yaitu interpretasi pandangan harfiah (tekstual) dan interpretasi kontekstual. Dengan keistimewaan ini, diharapkan bahwa tafsir maqa>s}idi> dapat benar-benar mewujudkan tujuan utama ajaran Islam secara umum, dan syari’at Islam pada khususnya. Penelitian ini adalah jenis normatif dengan pendekatan al-maqa>s}id al-shari>’ah. Sumber data berasal dari sumber sekunder dengan bahan primer, yaitu kitab-kitab ushul. Hasil penelitian ini memberikan penjelasan bahwa Tafsir Al-Qur’an, sebagai sebuah proses maupun produk, tidak mungkin bisa dilepaskan dari tujuan mendatangkan mashlahah sebagai tujuan utama dari al-maqa>s}id al-shari>’ah. Oleh karenanya adanya tafsir berparadigma al-maqa>s}id al-shari>’ah  (Tafsir maqa>s}idi>) merupakan suatu keniscayaan. Langkahnya meliputi: 1)Teks dan hukum tergantung pada tujuannya (al-Nusu>s wa al-Ah}ka>m bi Maqa>shidiha>), 2) Mengumpulkan antara kepentingan umum dan khusus (al-Kulliyya>t al-’A<mmah dan al-Kulliyya>t al-Khassah), 3) Membawa manfaat dan mencegah kerusakan secara benar (Jalb al-Masha>lih} wa Dar’ al-Mafa>sid), dan 4) Mempertimbangkan dampak hukum (I’tiba>r al-Maa>lat). Kata kunci ; Al-Qur’an, jihad, tafsir maqasidi
KESOMBONGAN IBLIS DALAM AL-QUR’AN (Kajian Tafsir Tematik) Misbahul Munir
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.506

Abstract

Sombong termasuk sifat yang berbahaya karena ia dapat merusakkan hubungan vertikal manusia dengan Allah dan dapat merusakkan hubungan horizontal mereka dengan manusia lainnya. Dalam sejarah, karakter kesombongan yang pertamakali dilakukan adalah kesombongan yang dilakukan oleh iblis. Kisah kesombongan iblis diceritakan secara jelas dalam Al Quran, yaitu QS. al-A‘raf : 12. QS. al-Hijr: 33, QS. al-Isra’: 61, QS. al-Isra’: 62, QS. Shad: 76. Dengan mengetahui kisah kesombongan iblis ini, diharapkan manusia dapat mengambil hikmah untuk tidak terjerembap dalam kesombongan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yang  membahas secara mendalam tentang kesombongan Iblis dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini termasuk kajian kepustakaan (library research), yakni dengan menulusuri berbagai kitab-kitab tafsir dan literatur lainnya untuk menemukan data-data yang menjelaskan kesombongan iblis dalam Alquran. Iblis melakukan kesombongan dalam dua bentuk. Pertama, iblis menganggap bahwa dirinya lebih istimewa dari pada Nabi Adam karena ia terbuat dari api sedangkan Adam hanya dari tanah. Menurut logika iblis, api lebih mulia dari pada tanah. Kedua, iblis merasa memiliki kemampuan untuk menggoda dan menggelincirkan manusia agar sama seperti dirinya, tidak layak masuk surga dan menjadi makhluk Allah yang terlaknat. Dari kisah kesombongan iblis ini bisa diambil hikmahnya, yaitu: Pertama; perintah Allah adalah mutlak wajib dilaksanakan tidak boleh ada tawar-menawar, mengabaikan perintah Allah menimbulkan konsekwensi hukuman dari-Nya. Kedua; Meninggalkan perintah Allah disertai dengan ingkar atas kewajibannya bisa masuk menjadi golongan kafir. Ketiga; umat islam harus senanttiasa mempertebal iman untuk mengantisipasi godaan iblis yang telah mendeklarasikan permusuhan kepada manusia sejak diusir dari surga. Keyword: Kesombongan, iblis, tafsir tematik
Perumusan Produk Dakwah Muslim Designer Community (MDC) Mohammad Nurrokim; Mohammad Akbar Djuanda
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.511

Abstract

Produk dakwah harus dirumuskan secara kreatif mengikuti perkembangan zaman. Salah satu bentuk dakwah yang banyak berkembang yaitu seni desain visual. Muslim Designer Community adalah organisasi dakwah yang berdakwah melalui medium desain visual. Studi ini mengkaji proses perumusan produk dakwah Muslim Designer Community (MDC) tahun 2016. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Informan utama penelitian ini yaitu salah satu founder MDC yang bernama Nur Hadi Ismail. Data-data dikumpulkan melalui wawancara langsung ke informan serta dokumentasi seputar MDC. Teori perumusan produk jasa oleh Kotler dan Amstrong digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan proses perumusan produk MDC. Penciptaan dan penyaringan ide meliputi berdirinya MDC, pembuatan logo, dan pembuatan produk dakwah visual. Pengembangan dan pengujian konsep meliputi ide produk, konsep produk, citra produk, dan pengujian konsep. Ide produknya adalah “karena dakwah tidak harus ceramah”. Konsep produknya adalah menyampaikan pesan dakwah lewat desain visual kreatif misalnya lewat poster, T-shirt, dan selainnya. Citra produknya adalah MDC sebagai komunitas dakwah yang menyampaikan pesan dakwah yang menarik, kreatif, dan inovatif. Pengembangan strategi pemasaran meliputi segmentasi pasar sasaran yaitu anggota dan penyebar karya. Sedangkan, distribusi produknya dilakukan secara online dan offline.  Analisis bisnis MDC adalah keuntungan dakwah atau sosial, bukan keuntungan bisnis.  Pengembangan produk dilaksanakan dengan berbagai cara. Lalu, pemasaran uji dilakukan MDC melalui pengujian konten dan ilustrasi penunjangnya. Terakhir, proses komersialisasi melalui pembuatan aplikasi di Google Playstore dan pameran di berbagai kota. Kata kunci: produk, dakwah, muslim designer community
PERAN MAJALAH AL-FIKRAH DALAM MENGEMBANGKAN DAKWAH BIL QOLAM KHAS PESANTREN Tiara Dian Ayu Fernanda; Noviana Aini
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.512

Abstract

 Media is a means of communication for the community, which is located between two parties, namely as intermediaries and liaisons. Media is a tool or means used to convey messages from communicators to audiences. In this day and age, da'wah media is a factor that determines the success of da'wah. Da'wah media has an important role for da'wah that is carried out because da'wah media is a component that is intertwined with one another to achieve da'wah goals. One of mass communication media is print media. namely mass media that use paper as a forum to convey written messages to their audiences or readers. The process of delivering messages through mass media is termed journalism activities. What makes the print media demands the expertise of the da'i in the world of writing. Da'i must be able to package his writings clearly and be skilled in the preparation of good words that can be understood by the reader. For the da'i understanding of the world of journalism is needed. Al-Fikrah magazine as a medium of information and Islamic thought and can be used as a medium for Islamic boarding school propaganda that is accepted by the wider community. This magazine tries to answer the challenges of the times and the globalization of the media and the needs of Muslims. Therefore, the formulation of the problem in this research are: (1) How is the Role of Al-Fikrah Magazine in Developing Bil Qolam Da'wah Typical of Islamic Boarding Schools (2) How is Bil Qolam's Da'wah in Al-Fikrah Magazine Typical of Islamic Boarding Schools.This study uses a qualitative approach, because it aims to determine the role of Al-Fikrah Magazine in developing da'wah bil qolam typical of pesantren and know the da'wah of bil qolam in Al-Fikrah Magazine typical of pesantren with theory role.                   The results showed that the role of magazinesal-fikrah The role of Al-Fikrah Magazine in developing the typical Islamic boarding school bil qolam da'wah is as a forum for students' writing creativity. Bil Qolam's Da'wah in the Al-Fikrah Magazine Typical of the Pesantren is namely the Al-Fikrah Magazine, can realize the thoughts of students and the existence of this media as an inspiration for students to devolep creativity in journalism.Keywords: Role of Al-Fikrah Magazine, Bil Qolam Da'wah, Islamic Boarding School.
TAFSIR MANUSIA ANJING Mohammad Rofiq
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.513

Abstract

Allah SWT memberikan tamtsil atau perumpamaan manusia yang mendustakan ayat-ayat al-Qur’an dengan hewan yang sangat hina yaitu anjing. Anjing merupakan hewan yang memiliki kebiasaan menjulurkan lidahnya, sebab memiliki sifat yang buruk, baik dari sifat lahir maupun batinnya. Hikmah yang terdapat pada tamtsil manusia anjing ini merupakan perumpamaan bagi pendusta ayat-ayat Allah yaitu memberikan pembelajaran kepada manusia tentang pentingnya bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan dan cara menggunakan nikmat Allah itu agar tidak kufur, sebab betapa buruk dan hinanya orang yang mengingkari nikmat Allah, sampai ia dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sesat. Dari empat kisah yang berbeda dari artikel ini dan dikaitkan pada Al-Qur’an Surat Al- A’raf ayat 175-176 pada prinsipnya merupakan perumpamaan bagi setiap orang yang telah mengetahui kebenaran kemudian ia menolaknya. Ia memiliki ilmu tetapi digunakan untuk meraih tujuan-tujuan pribadi dan berusaha mendapatkan kebanggaan dan nama baik di hadapan manusia. Seseorang yang menghambakan dirinya pada hawa nafsunya, maka sebenarnya ia telah memilih jalan yang sesat dalam kehidupannya. Dalam Al-Qur’an sangat jelas perumpamaannya, terlebih bagi orang yang berilmu atau memahami agama (syari’ah) dengan baik namun ia menyelewengkannya, orang yang memiliki sifat seperti ini diserupakan seperti anjing.Keyword: Perumpamaan, Manusia Anjing, dan Syahwat.
MALU DALAM AL-QUR’AN Dina Uzlifatun Nada; Lailatul Rif’ah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v2i1.613

Abstract

The Holy Qur'an and sunnah have mentioned that the nature of shame (al-hayã) is the basic nature of akhlakul karimah that can encourage humans to do good and stay away from the prohibition of sharia, because 'shame' is concerned with self-esteem and honor. Shame is the main source of goodness and the element of glory in every work. Looking at the development of increasingly advanced times along with the development of today's technology, the phenomenon of moral collapse in society is increasingly rife. The urgency of planting an attitude of shame is expected to make every soul embedded in the nature of muraqabah, namely maintaining or feeling always supervised so as to form an attitude that is always wary of the Laws of God) and the nature of tajalli, namely if the soul is filled with ethical pearls and bodies that are accustomed to doing noble deeds, and realize the condition of a faithful, moral and civilized society. So here researchers use the study of shame in the Qur'an to study verses about the attitude of shame in the Qur'an and to find out how to cultivate shame in society. This approach in research uses a library research approach. Using this type of qualitative research. The method that researchers use is the thematic interpretation method, which is a way of interpreting the Qur'an by studying a certain theme and then collecting verses related to the verse that the researcher took. Then explained one by one from the nuzuli side, semantics, and interpretations are connected one verse with another verse so that it is collected to form a complete and comprehensive idea of the Qur'an's view of a theme studied. Some things that can cause a person to have a shy nature and this trait will be ingrained and grow in themselves, namely: staying away from habits caused by at least shame, strengthening faith and trust in the heart, forcing themselves to behave in shame recommended by religion.
LARANGAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM AL-QUR’AN Umi Rosyidah; Lailatul Mas’udah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v2i1.614

Abstract

In today's era, all aspects of life have advanced and become modern. However, these good advances in science and technology are not accompanied by positive attitudes and behaviors. One of the negative attitudes that is the result of advances in science and technology is exaggeration. Exaggeration is an attitude that goes beyond reasonable limits. Several types of exaggeration occur in this modern era, including excess in eating, drinking, dressing, and using wealth. In the Qur'an, Allah has forbidden excess. But society now ignores this prohibition. even though Allah will not prohibit something if there is no mafsada or harm in it. The problems in this study are as follows: (1) How is the verse about the prohibition of excess in the Qur'an interpreted? and (2) What is the danger of excess in the Qur'an? The approach in this study uses a library research approach. By using this type of qualitative research, The method that the author uses is a method of conceptual thematic interpretation, which is a way of interpreting the Qur'an by taking a certain theme, collecting all the verses related to that theme, and seeking a complete understanding from it. In this case, the author takes the theme of the prohibition of excess in eating, drinking, dressing, and using wealth (which is material), which is explained in QS. AlA'raf (7): 31, QS. Furqan (25): 67, QS. Al-An'am (6): 141, QS. An-Nisa' (4): 6, QS. Al-Isra '(17): 26, 27, and 29.From the results of the study, it can be concluded that excess is prohibited if it exceeds the limits of needs, abilities, economics, shari'a, or even to the point of leaving obligations, and can cause mafsada for the perpetrator or those around him. As for the dangers of being extravagant, including that excess in eating and drinking can cause various diseases, excess in dressing tends to be arrogant, which is a character highly disliked by Allah. Likewise, excessive spending on assets can lead to poverty. Moderation and middle-of-the-road attitudes (neither excessive nor stingy) are Islamic guidelines in matters of wealth, society, and religion. Because avoiding excess and adopting a simple life can increase faith and make it easier to face all the tests given by Allah. Keywords: Al-Qur?an, Larangan, Berlebih-lebihan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7