cover
Contact Name
Armadi Chairunnas
Contact Email
armadisajami@gmail.com
Phone
+628122777768
Journal Mail Official
jurnalbiokatalis@gmail.com
Editorial Address
Jalan Mayjend Katamso, Baruga, Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Biokatalis: Jurnal Ilmu Biologi dan Pendidikan Biologi
ISSN : -     EISSN : 30320291     DOI : https://doi.org/10.69972/biokatalis.v1i1.27
BIOKATALIS: Jurnal Ilmu Biologi dan Ilmu Pendidikan Biologi merupakan jurnal ilmiah pada bidang ilmu biologi dan pendidikan biologi. Jurnal ini menerima naskah dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris meliputi ilmu biologi (ekologi, zoologi, botani, mikrobiologi, genetika, bioteknologi, fisiologi, toksikologi, dan kearifan lokal flora dan fauna) dan pendidikan biologi (kurikulum, media pembelajaran, materi pembelajaran biologi, strategi pembelajaran, evaluasi/penilaian, kurikulum).
Articles 13 Documents
PREVALENSI INFEKSI KECACINGAN DAN STUNTING PADA BALITA DI KELURAHAN SUKOREJO GUNUNGPATI Ananda Haniifa Aulia; Sudaryanto Sudaryanto; Yustiana Arie
Biokatalis : Jurnal Ilmu Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 1 No. 2 (2024): TERBITAN JUNI
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69972/biokatalis.v1i2.152

Abstract

Stunting merupakan suatu keadaan malnutrisi atau ketidakcukupan zat gizi. Stunting banyak terjadi pada balita akibat kurang gizi yang dimulai semenjak masih didalam kandungan hingga lahir. Indonesia termasuk dalam tiga negara tertinggi di Asia Tenggara yang memiliki prevalensi stunting balita cukup tinggi dengan rata-rata 36,4%. Angka kejadian kecacingan di Indonesia banyak terjadi pada anak sekolah dasar sekitar 2,5% dari total 60% kejadian infeksi kecacingan di seluruh penduduk Indonesia. Infeksi kecacingan pada balita terbukti nyata mengganggu kesehatan. Faktor yang mempengaruhi stunting balita karena rendahnya pemberian air susu ibu eksklusif, imunisasi yang tidak lengkap, dan penurunan asupan makanan bergizi yang disebabkan oleh rendahnya status sosial ekonomi keluarga. Infeksi kecacingan dapat disebabkan berbagai jenis cacing seperti cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura), dimana cara penularannya melalui tanah yang disebut Soil transmitted helmiths. Infeksi kecacingan berhubungan dengan status gizi balita yang buruk akibat dari menurunnya asupan kalori dan protein yang dibutuhkan tubuh balita, malabsorbsi, menyebabkan kehilangan darah dan retardasi mental anak. Dampak infeksi kecacingan bagi balita dapat menghambat perkembangan, pertumbuhan dan kecerdasan balita. Pentingnya deteksi stunting balita dan penemuan adanya infeksi kecacingan melalui pemeriksaan feces sebagai upaya pencegahan gangguan kesehatan pada balita, khususnya di kelurahan Sukerjo Gunungpati. 
Eksplorasi Cendawan Antagonis terhadap R. lignosus pada Tanaman Pala: Potensial Pengendali Hayati Ariska, Nana; Taufiq, Taufiq
Biokatalis : Jurnal Ilmu Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 2 No. 1 (2025): TERBITAN JANUARI (On Process)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69972/biokatalis.v2i1.356

Abstract

Pala adalah komoditas tanaman dengan harga tinggi; setiap komponennya memberikan kontribusi ekonomis yang signifikan, terutama dalam pakan bibit. Namun, salah satu kendala utama dalam pembudidayaan pala adalah serangan hama dan penyakit; salah satu penyakit yang menjadi ancaman terhadap peningkatan hasil dari tanam pala sendiri yaitu busuk putih; jamur Rigidoporus lignosus.Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi genus jamur antagonis yang memiliki potensi dalam pengendalian penyakit busuk pohon kepala Metode isolasi jamur antagonis dilakukan dengan metode pengenceran, sedangkan isolasi Rigidoporus lignosus menggunakan metode tanam langsung Proses identifikasi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis pada sampel serta uji antagonik dimaksimalkan dengan teknik kultur ganda. Kesimpulan yang dapat diturunkan adalah bahwa pada rhizosfer, tanaman  tanaman pala yang ada di Perkebunan wilayah barat Aceh tidak ditemukan jamur antagonis yang dapat melakukan pengendalian terhadap penyakit busuk putih ini.
Distribusi Telescopium Telescopium Pada Vegetasi Mangrove di Desa Ollo, Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi Agusrinal, Agusrinal; Muhsimin, Muhsimin; Khaery, Aqmal; Izal, Izal
Biokatalis : Jurnal Ilmu Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 2 No. 1 (2025): TERBITAN JANUARI (On Process)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69972/biokatalis.v2i1.347

Abstract

Penelitian ini menganalisis distribusi dan kelimpahan Telescopium telescopium pada vegetasi mangrove di Desa Ollo, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Dengan menggunakan metode survei kuadrat acak, parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, kandungan organik tanah (KOT), dan jenis substrat diukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa T. telescopium memiliki kelimpahan tertinggi pada tegakan Bruguiera gymnorrhiza, mencapai 1,571 individu per meter persegi, dengan pola distribusi seragam yang mengindikasikan adanya kompetisi antarindividu. Studi ini mengidentifikasi faktor utama yang mempengaruhi distribusi, termasuk suhu (30-34°C), salinitas (35-39‰), dan KOT tinggi pada substrat berlumpur (23,83%-24,52%). Kondisi ini menyediakan habitat optimal bagi T. telescopium, spesies detritivor yang bergantung pada bahan organik. Namun, degradasi habitat akibat aktivitas manusia, seperti deforestasi mangrove dan polusi, menjadi ancaman signifikan bagi spesies ini. Temuan ini menekankan pentingnya inisiatif konservasi mangrove untuk mendukung populasi T. telescopium dan keanekaragaman hayati ekosistem pesisir. Penelitian ini memberikan wawasan berharga untuk merumuskan strategi pengelolaan mangrove yang berkelanjutan di Wakatobi, terutama dalam mitigasi kehilangan keanekaragaman hayati.

Page 2 of 2 | Total Record : 13