cover
Contact Name
Cynthia Erlita Virgin Wuisang
Contact Email
cynthia.wuisang@unsrat.ac.id
Phone
+6281340240129
Journal Mail Official
mmatrasain@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Unsrat, JL Kampus Unsrat, Bahu Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Matrasain
ISSN : 18581137     EISSN : 27231720     DOI : https://doi.org/10.35792/matrasain
Journal of Media Matrasain publishes research results, critical studies/analysis, innovative ideas/thoughts and the results of design works in the fields of architecture and urban planning.
Articles 272 Documents
TINGKAT LIVABILITY PERMUKIMAN PESISIR DI KOTA MANADO (STUDI KASUS: KECAMATAN TUMINTING DAN KECAMATAN MALALAYANG) Tendean, Gracella R.; Rondonuwu, Dwight M. Rondonuwu; Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara memiliki karakteristik geografis yang didominasi oleh kawasan pesisir. Dua kecamatan pesisir yang mengalami perkembangan signifikan adalah Kecamatan Tuminting dan Kecamatan Malalayang. Permukiman pesisir menghadapi berbagai tantangan lingkungan sehingga berdampak dalam kelayakhunian permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting permukiman pesisir di Kecamatan Tuminting dan Kecamatan Malalayang berdasarkan 5 elemen ekistic permukiman dan menganalisis tingkat livability permukiman pesisir di Kecamatan Tuminting dan Kecamatan Malalayang dengan 7 variabel utama indeks Livable City dari Indonesia Most Livable City Index. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis skoring skala likert. Permukiman pesisir di Kecamatan Tuminting dan Kecamatan Malalayang menunjukkan karakteristik yang khas berdasarkan lima elemen ekistics. Hasil analisis terhadap tingkat livability permukiman pesisir di Kecamatan Tuminting dan Kecamatan Malalayang, diperoleh nilai indeks yang menggambarkan tingkat persepsi masyarakat terhadap sejumlah indikator yang telah diteliti. Kedua wilayah berada dalam kategori “Tinggi” (61% – 80%). Kecamatan Tuminting menunjukkan tingkat persepsi yang lebih positif dibandingkan Kecamatan Malalayang terhadap aspek yang diukur dalam penelitian ini, yang dapat dijadikan rekomendasi kebijakan untuk permukiman pesisir yang lebih layak huni dan berkelanjutan.
Pola Persebaran dan Keterjangkauan Area Pelayanan Fasilitas Pendidikan di Kota Bitung menggunakan Konsep Neighborhood Unit Meyza Supit; Sonny Tilaar; Surijadi Supardjo
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.62810

Abstract

ABSTRAK Dalam lima tahun terakhir, Kota Bitung mengalami perubahan peningkatan serta penurunan jumlah penduduk. Seiring dengan pertumbuhan ini, penting untuk memastikan bahwa fasilitas pendidikan di daerah tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, baik dari segi jumlah, kapasitas, maupun aksesibilitasnya agar mudah dijangkau dari tempat tinggal penduduk. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis spasial dengan tujuan untuk menghitung kebutuhan fasilitas Pendidikan menengah yang ada hingga tahun 2044 dan mengetahui bagaimana pola sebaran fasilitas pendidikan serta jangkauan pelayanan fasilitas pendidikan menengah di Kota Bitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahun 2044 memiliki proyeksi penduduk sebanyak 165.696 jiwa dengan jumlah kebutuhan fasilitas SMP paling sedikit 5 fasilitas dan kebutuhan fasilitas SMA/SMK paling sedikit 15 fasilitas. Pola sebaran spasial fasilitas pendidikan tingkat SMP dan SMA/SMK Kota Bitung memiliki pola yang sama yaitu cenderung acak. Untuk SMP yaitu (T=1,18) sedangkan untuk SMA/SMK yaitu (T=0,81). Berdasarkan SNI untuk radius jangkauan pelayanan fasilitas pendidikan Tingkat SMP terhadap permukiman yang terlayani di Kota Bitung yaitu sebesar 81% dan untuk fasilitas SMA/SMK yaitu sebesar 90%. Serta berdasarkan jumlah penduduk yang terlayani untuk fasilitas SMP yaitu 176.514 jiwa dan untuk fasilitas SMA/SMK yaitu 194.606 jiwa. Sedangkan berdasarkan standar neighborhood unit, untuk daerah jangkauan SMP yang terlayani adalah sebesar 86% dan untuk fasilitas SMA/SMK sebesar 77%, dengan jumlah penduduk yang terlayani untuk fasilitas SMP yaitu 187.983 jiwa dan untuk fasilitas SMA/SMK yaitu 167.446 jiwa. Kata Kunci : Fasilitas Pendidikan, Kebutuhan, Pola Sebaran, Keterjangkauan, Kota Bitung ABSTRACT In the last five years, Bitung City has experienced changes in terms of population increase and decrease. Along with this growth, it is important to ensure that educational facilities in the area are able to meet the needs of the community, both in terms of quantity, capacity, and accessibility so that they are easily accessible from where residents live. This study uses quantitative descriptive analysis and spatial analysis with the aim of calculating the need for existing secondary education facilities until 2044 and finding out the distribution pattern of educational facilities and the reach of secondary education facilities in Bitung City. The results of the study show that in 2044 the population projection is 165,696 people with the number of junior high school facility needs of at least 5 facilities and the need for senior high school/vocational high school facilities of at least 15 facilities. The spatial distribution pattern of junior high school and senior high school/vocational high school educational facilities in Bitung City has the same pattern, which tends to be random. For junior high schools, it is (T=1.18) while for senior high schools/vocational high schools it is (T=0.81). Based on the SNI for the radius of service coverage of junior high school level educational facilities to the settlements served in Bitung City, it is 81% and for senior high school/vocational high school facilities it is 90%. And based on the number of residents served for junior high school facilities, it is 176,514 people and for senior high school/vocational high school facilities it is 194,606 people. Meanwhile, based on the neighborhood unit standard, the service coverage area for junior high schools is 86% and for senior high school/vocational high school facilities it is 77%, with the number of residents served for junior high school facilities being 187,983 people and for senior high school/vocational high school facilities being 167,446 people.  Keywords: Educational Facilities, Needs, Distribution Patterns, Affordability, Bitung City
Evaluasi Pusat - Pusat Permukiman Di Kota Tomohon Kheysie Palit; Sonny Tilaar; Surjadi Supardjo
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.62825

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan pesat permukiman di Kota Tomohon mendorong kebutuhan akan evaluasi distribusi dan fungsi pusat-pusat permukiman agar selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi 44 kelurahan di Kota Tomohon dengan pendekatan spasial dan kombinasi kuantitatif-kualitatif, menggunakan empat metode, analisis: skalogram, indeks sentralitas, aksesibilitas, dan gravitasi. Hasil kajian menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara sebagian penetapan pusat pelayanan dalam RTRW Kota Tomohon 2014–2034 dengan kondisi aktual. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa tidak semua kelurahan yang ditetapkan dalam dokumen perencanaan memiliki peran sesuai dengan karakteristik fasilitas dan interaksi wilayahnya. Penelitian ini merekomendasikan penyesuaian kebijakan perencanaan tata ruang agar pusat-pusat pelayanan permukiman di Kota Tomohon dapat berfungsi secara optimal, adil, dan merata. Kata kunci: Pusat Permukiman, Ketersediaan, Sarana, Evaluasi, Tomohon ABSTRACT The rapid growth of settlements in Tomohon City necessitates an evaluation of the distribution and function of settlement centers to align with the principles of sustainable development. This study evaluates 44 urban villages (kelurahan) in Tomohon City using a spatial and mixed-methods approach (quantitative and qualitative), applying four analytical methods: scalogram, centrality index, accessibility, and gravity analysis. The results indicate a mismatch between some of the designated service centers in the 2014–2034 Spatial Plan (RTRW) of Tomohon City and the actual conditions in the field. The analysis reveals that not all urban villages assigned as service centers possess the characteristics or supporting facilities to fulfill those roles effectively. This study recommends revising the spatial planning policies to ensure that settlement service centers in Tomohon City function optimally, equitably, and contribute to balanced regional development. Keywords : settlement center, availability, facilities, evaluation
Analisis Pengembangan Objek Benteng Cagar Budaya di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Sebagai Wisata Sejarah Fadiah J. Arif; Cynthia E.V Wuisang; Julianus A R Sondakh
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.63658

Abstract

ABSTRAK Kota Ternate di Provinsi Maluku Utara merupakan kota bersejarah yang menyimpan peninggalan arsitektur kolonial berupa benteng-benteng dari era Portugis, Spanyol, dan Belanda. Benteng Tolukko, Oranje, Kalamata, Kastela, dan Kota Janji memiliki nilai sejarah dan visual yang tinggi serta berada di lokasi strategis, menjadikannya berpotensi besar dikembangkan sebagai objek wisata sejarah. Namun, pengelolaan saat ini masih belum maksimal akibat kurangnya fasilitas pendukung, rendahnya keterlibatan masyarakat, serta tekanan dari aktivitas pembangunan kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi aktual benteng cagar budaya di Kota Ternate melalui pendekatan 4A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, dan Layanan Penunjang), serta merumuskan strategi pengembangan berbasis analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi SO (Strength-Opportunity) merupakan pendekatan yang paling relevan, yakni dengan mengoptimalkan kekuatan internal dan peluang eksternal melalui penguatan nilai sejarah serta partisipasi masyarakat. Rekomendasi pengembangan juga diarahkan melalui pendekatan penataan ruang berbasis pelestarian, seperti pembagian zona inti dan penyangga, guna mendorong pengembangan pariwisata sejarah yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar Kata Kunci: Benteng, Cagar budaya, Wisata sejarah, Pengembangan, 4A, Analisis SWOT, Kota Ternate ABSTRACT Ternate City in North Maluku Province is a historical city that holds colonial architectural relics in the form of forts from the Portuguese, Spanish and Dutch eras. Tolukko, Oranje, Kalamata, Kastela, and Kota Janji forts have high historical and visual value and are located in strategic locations, making them have great potential to be developed as historical tourism objects. However, current management is still not maximized due to the lack of supporting facilities, low community involvement, and pressure from urban development activities. This research aims to identify the actual condition of the cultural heritage fort in Ternate City through the 4A approach (Attraction, Accessibility, Amenity, and Supporting Services), and formulate a development strategy based on SWOT analysis. The results of the analysis show that the SO (Strength-Opportunity) strategy is the most relevant approach, namely by optimizing internal strengths and external opportunities through strengthening historical values and community participation. Development recommendations are also directed through a preservation-based spatial planning approach, such as the division of core and buffer zones, to encourage the development of sustainable historical tourism and improve the welfare of the surrounding community. Keywords: Fort, cultural heritage, historical tourism, development, 4A, SWOT analysis, Ternate City
Kajian Tingkat Risiko Bencana Multihazard di Kota Bitung Andini; Octavianus H.A Rogi; Rieneke L E Sela
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.63659

Abstract

Abstrak Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana akibat karakteristik fisik dan demografisnya. Kepadatan penduduk, wilayah terbangun yang luas, kapasitas terhadap risiko bencana yang rendah, topografi berbukit, curah hujan tinggi, serta struktur tanah dan batuan menjadi faktor utama penyebab risiko bencana di Kota Bitung. Berdasarkan data BPS tahun 2024, jenis bencana yang paling signifikan terjadi di Kota Bitung adalah banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat risiko bencana multihazard di Kota Bitung. Kajian ini mengacu pada pedoman PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012, dengan menghitung indeks ancaman, penduduk terpapar, kerugian, kerentanan, dan kapasitas. Metode yang digunakan adalah analisis spasial melalui overlay, skoring, serta pembobotan menggunakan ArcMap 10.8. Hasilnya, Kota Bitung secara umum masuk dalam klasifikasi risiko sedang. Pada tingkat kecamatan, Kecamatan Ranowulu termasuk kategori tinggi; Kecamatan Madidir, Aertembaga, dan Matuari kategori sedang; sedangkan Kecamatan Lembeh Selatan, Girian, Maesa, dan Lembeh Utara kategori rendah. Kata Kunci: Bencana, banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrim, risiko bencana multihazard.    ABSTRACT  City, located in North Sulawesi Province, is an area prone to disasters due to its physical and demographic characteristics. High population density, extensive built-up areas, and low capacity to cope with disaster risks, along with hilly topography, high rainfall, and soil and rock structure, are the main factors contributing to disaster risk in Bitung City. Based on 2024 BPS data, the most significant types of disasters occurring in Bitung City are floods, landslides, forest and land fires, and extreme weather. This study aims to assess the level of multihazard disaster risk in Bitung City. The assessment refers to the guidelines of PERKA BNPB No. 2 of 2012, by calculating the threat index, exposed population, losses, vulnerability, and capacity. The method used is spatial analysis through overlay, scoring, and weighting using ArcMap 10.8. The results show that, in general, Bitung City falls into the medium-risk classification. At the sub-district level, Ranowulu District is categorized as high risk; Madidir, Aertembaga, and Matuari Districts are in the medium category; while Lembeh Selatan, Girian, Maesa, and Lembeh Utara Districts are categorized as low risk.  Keywords: Disasters, floods, landslides, forest and land fires, extreme weather, multi-hazard disaster risk
Strategi Pengembangan Cagar Budaya di Kawasan Pusat Kota Lama Manado Sebagai Potensi Wisata Budaya Perkotaan Gabriella Tendean; Cynthia E.V Wuisang
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.63660

Abstract

Abstrak Kawasan Kota Lama Manado menyimpan berbagai objek cagar budaya bernilai sejarah dan arsitektur, namun sebagian mengalami penurunan kualitas fisik, keterbatasan fasilitas, serta rendahnya kesadaran masyarakat. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata budaya perkotaan melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan posisi strategi berada pada kuadran agresif (growth), dengan prioritas pada pelestarian, peningkatan partisipasi masyarakat, pengembangan fasilitas wisata, pemanfaatan ruang publik, serta penguatan regulasi. Revitalisasi terpadu yang melibatkan pemerintah, swasta, komunitas, dan akademisi diharapkan mampu menjadikan Kota Lama Manado destinasi wisata budaya berdaya saing sekaligus mendukung pelestarian warisan sejarah dan pertumbuhan ekonomi lokal. Kata Kunci: Cagar budaya, Kota Lama Manado, wisata budaya, SWOT, strategi pengembangan Abstract The Old Town of Manado contains various cultural heritage sites of historical and architectural value, yet many face physical deterioration, limited facilities, and low public awareness. This study aims to formulate development strategies for the area as an urban cultural tourism destination using a qualitative descriptive approach and SWOT analysis. The findings place the strategy in the aggressive (growth) quadrant, prioritizing heritage preservation, community participation, tourism facility development, public space utilization, and regulatory reinforcement. An integrated revitalization involving government, private sector, communities, and academia is expected to transform Old Town Manado into a competitive cultural tourism destination that supports both heritage conservation and local economic growth. Keywords: Cultural heritage, Old Town Manado, cultural tourism, SWOT, development strategy.  
Kajian Daya Dukung Wisata (Carrying Capacity) Di Taman Wisata Alam Batu Angus Kota Bitung: -Daya dukung fisik (Phycical Carring Capacity/PCC) -Daya dukung rill (Real Carrying Capacity/RCC) -Daya dukung efektif (Effctive Carrying Capacity/ECC) Alamsyah Alam; Fela Warouw; Frits Ontang Poedjianto Siregar; Herman Teguh
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.64647

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung wisata di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Angus, Kota Bitung, sebagai dasar pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan teknik pengumpulan data primer melalui observasi, survei, dan wawancara. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi literatur, peraturan perundang-undangan, data statistik, dan sumber relevan lainnya. Analisis daya dukung wisata dilakukan menggunakan formula Tourism Carrying Capacity (Cifuentes, 1992) untuk menentukan kapasitas maksimum pengunjung yang dapat diterima kawasan tanpa menimbulkan tekanan terhadap lingkungan maupun penurunan kualitas pengalaman wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung fisik (Physical Carrying Capacity/PCC) kawasan TWA Batu Angus sebesar 2.057 orang per hari, daya dukung riil (Real Carrying Capacity/RCC) sebesar 838 orang per hari, dan daya dukung efektif (Effective Carrying Capacity/ECC) sebesar 586 orang per hari. Rata-rata kunjungan harian wisatawan masih berada di bawah batas daya dukung efektif, namun pada bulan Mei tercatat 802 orang per hari dan pada bulan Juni 668 orang per hari tahun 2022, jumlah tersebut melampaui batas yang ditetapkan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan terhadap sumber daya lingkungan dan menurunkan kenyamanan pengunjung. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengaturan arus kunjungan, peningkatan fasilitas pendukung, serta pengawasan kapasitas kawasan agar aktivitas wisata di TWA Batu Angus dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kata Kunci: TWA Batu Angus, Daya Dukung Wisata, Tourism Carrying Capacity, Pengelolaan Berkelanjutan ABSTRACT This study aims to analyze the tourism carrying capacity of Batu Angus Nature Tourism Park (TWA Batu Angus) in Bitung City as a basis for sustainable tourism management. The research employs both quantitative and qualitative methods, with primary data collected through observation, surveys, and interviews. Secondary data were obtained from literature reviews, regulations, statistical data, and other relevant sources. The analysis of tourism carrying capacity was conducted using the Tourism Carrying Capacity formula proposed by Cifuentes (1992) to determine the maximum number of visitors that can be accommodated without causing environmental degradation or reducing the quality of visitor experience. The results show that the Physical Carrying Capacity (PCC) of the Batu Angus Nature Tourism Park is 2,057 visitors per day, the Real Carrying Capacity (RCC) is 838 visitors per day, and the Effective Carrying Capacity (ECC) is 586 visitors per day. The average daily number of visitors remains below the effective carrying capacity limit; however, during May (802 visitors/day) and June (668 visitors/day) of 2022, visitor numbers exceeded this threshold. This condition potentially exerts pressure on environmental resources and decreases visitor comfort. Therefore, strategies for regulating visitor flow, improving supporting facilities, and monitoring the site’s capacity are required to ensure that tourism activities in TWA Batu Angus can be managed sustainably. Keywords: Batu Angus Nature Tourism Park, Tourism Carrying Capacity, Sustainable Management, Visitor Capacity
Analisis Komparatif Elemen Arsitektur Neo-Gotik Pada Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Tomohon: Kajian Visual Berbasis Variabel Terhadap Bangunan Era Hindia Belanda Austensean Stanislaus Lumunon; Priscilla Nelvy Gosal; Risty Uswatun Hasanah
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.66635

Abstract

ABSTRAK                                                          Gereja Katolik Hati Kudus Yesus di Tomohon merupakan salah satu peninggalan arsitektur era Hindia Belanda yang memiliki kekayaan elemen visual Neo-Gotik sekaligus variasi penyimpangan dari standar kanon Neo-Gotik di Belanda dan Eropa. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif setiap variabel elemen arsitektur Neo-Gotik berdasarkan standar referensi dari tradisi Belanda dan Eropa dengan kondisi visual nyata yang teramati pada bangunan, mencakup elemen yang hadir secara utuh, hadir dengan modifikasi, maupun tidak hadir sama sekali. Metode yang digunakan adalah deskriptif-komparatif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi lapangan sistematis, dokumentasi visual detail, dan komparasi terhadap indikator standar referensi untuk elemen Neo-Gotik dari literatur arsitektur. Analisis dilakukan terhadap 16 variabel elemen dan 3 tipologi denah, yang dikelompokkan dalam enam kategori: struktur kolom dan penopang, bukaan, atap dan langit-langit, simbol khas gotik, ornamen, serta menara. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 16 variabel elemen, 10 variabel teridentifikasi hadir pada bangunan, sebagian dengan modifikasi formal yang signifikan sementara 6 variabel tidak hadir. Kehadiran elemen seperti buttresses, stained glass, rose window, tracery, gable, pointed arches, moulding, portal, dan spire menunjukkan komitmen kuat terhadap kanon Neo-Gotik; sementara absennya clustered column, ribbed vaults, tympanum, jamb statue, gargoyle, dan pinnacle mencerminkan seleksi elemen berdasarkan pertimbangan struktural, keadaan setempat, dan ketersediaan material. Denah bangunan mengikuti tipologi rectangular (basilika), bukan crux immissa (salib latin) maupun hallenkirche (aula). Temuan ini mengkonfirmasi bahwa bangunan gereja ini merupakan representasi Neo-Gotik yang hibrid namun koheren secara visual dan simbolik, menghasilkan karakter arsitektur yang khas dan bernilai sebagai warisan budaya. Kata Kunci: Analisis Komparatif, Neo-Gotik, Hindia Belanda, Arsitektur Gereja, Tomohon ABSTRACT The Sacred Heart of Jesus Catholic Church in Tomohon is one of the architectural legacies of the Dutch East Indies period, distinguished by its rich Neo-Gothic visual elements as well as several deviations from the canonical Neo-Gothic standards established in the Netherlands and Europe. This study aims to conduct a comparative analysis of each Neo-Gothic architectural element based on reference standards derived from Dutch and European traditions and the actual visual conditions observed in the building, encompassing elements that are fully present, present with modifications, or entirely absent. A descriptive-comparative method with a case study approach was employed, involving systematic field observations, detailed visual documentation, and comparison with standard reference indicators for Neo-Gothic elements derived from architectural literature. The analysis examined sixteen architectural element variables and three floor-plan typologies, grouped into six categories: columns and supporting structures, openings, roofs and ceilings, characteristic Gothic symbols, ornaments, and towers. The findings indicate that, of the sixteen architectural element variables analyzed, ten are present in the building, some exhibiting significant formal modifications, while six are absent. The presence of elements such as buttresses, stained glass, rose windows, tracery, gables, pointed arches, mouldings, portals, and spires demonstrates a strong adherence to Neo-Gothic canon. In contrast, the absence of clustered columns, ribbed vaults, tympana, jamb statues, gargoyles, and pinnacles reflects a selective adaptation of architectural elements influenced by structural considerations, local conditions, and material availability. The building's floor plan follows a rectangular (basilica) typology rather than the crux immissa (Latin cross) or hallenkirche (hall church) forms. These findings confirm that the church represents a hybrid yet visually and symbolically coherent expression of Neo-Gothic architecture, resulting in a distinctive architectural character and reinforcing its significance as a cultural heritage asset. Keywords: Comparative Analysis, Neo-Gothic, Dutch East Indies, Church Architecture, Tomohon
Blending Wabi-Sabi Principles With Minahasan Cultural Identity In The Design Of The City Library And Learning Center Manado Gabriela Tabita Thambas; Cynthia Erlin Virgin Wuisang; Pingkan Peggy Egam
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.67033

Abstract

ABSTRACT Manado is currently experiencing a demographic bonus characterized by a growing proportion of productive-age population. This demographic condition presents an important momentum for the development of environments that support intellectual growth, creativity, and knowledge exchange. However, urban activities in Manado are largely concentrated in commercial spaces that are predominantly consumption-oriented. While these spaces function as popular gathering places, they are not designed to support meaningful learning processes or knowledge-oriented activities. At the same time, contemporary learning has evolved beyond conventional classroom settings and increasingly occurs in flexible and informal environments, including public spaces. Despite this shift, Manado still lacks adequate public facilities that intentionally nurture learning processes within the urban environment. This study proposes the design of a City Library and Learning Center in Manado as a public learning infrastructure that responds to this urban gap. The design integrates Wabi-Sabi architectural principles, which emphasize simplicity, natural materials, and harmony with nature, while also incorporating Minahasan cultural identity into the architectural expression. Through literature study, precedent analysis, and site analysis, the design explores spatial strategies that balance quiet learning environments with collaborative and interactive spaces. The resulting architectural proposal aims to create a public learning environment that supports both focused study and social knowledge exchange while reinforcing the cultural identity of Manado.  Keywords: Library, Learning Center, Wabi-Sabi, Minahasan Culture, Demographic Bonus, Manado.   ABSTRAK Manado saat ini sedang mengalami bonus demografi yang ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk usia produktif. Kondisi demografis ini menghadirkan momentum penting untuk pengembangan lingkungan yang mendukung pertumbuhan intelektual, kreativitas, dan pertukaran pengetahuan. Namun, aktivitas perkotaan di Manado sebagian besar terkonsentrasi di ruang komersial yang didominasi oleh orientasi konsumsi. Meskipun ruang-ruang ini berfungsi sebagai tempat berkumpul yang populer, mereka tidak dirancang untuk mendukung proses belajar yang bermakna atau aktivitas yang berfokus pada pengetahuan. Di sisi lain, pembelajaran kontemporer telah berkembang melampaui pengaturan kelas konvensional dan semakin terjadi di lingkungan yang fleksibel dan informal, termasuk ruang publik. Meski ada pergeseran ini, Manado masih kekurangan fasilitas publik yang memadai yang secara sengaja mendukung proses pembelajaran dalam lingkungan perkotaan. Studi ini mengusulkan desain Perpustakaan dan Pusat Belajar Kota di Manado sebagai infrastruktur pembelajaran publik yang menanggapi kesenjangan perkotaan ini. Desainnya mengintegrasikan prinsip arsitektur Wabi-Sabi, yang menekankan kesederhanaan, material alami, dan harmoni dengan alam, sambil juga memasukkan identitas budaya Minahasa ke dalam ekspresi arsitektural. Melalui studi literatur, analisis preseden, dan analisis lokasi, desain ini mengeksplor strategi ruang yang menyeimbangkan lingkungan belajar yang tenang dengan ruang kolaboratif dan interaktif. Proposal arsitektural yang dihasilkan bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar publik yang mendukung baik studi fokus maupun pertukaran pengetahuan sosial, sambil memperkuat identitas budaya Manado.  Keywords: Perpustakaan, Pusat Belajar, Wabi-Sabi, Budaya Minahasa, Bonus Demografi, Manado
Konsep Kota Layak Huni Di Kota Tomohon Enrique Schon Jonathan Tangkawarouw; Windy J Mononimbar; Pingkan Peggy Egam
MEDIA MATRASAIN Vol. 23 No. 1 (2026): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v23i1.68151

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan kota di Indonesia, khususnya di Kota Tomohon, menghadapi tantangan dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menilai kondisi Tomohon berdasarkan kriteria kota layak huni dari Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP), menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun Tomohon memiliki karakteristik yang mendukung konsep kota layak huni, ada variasi dalam kriteria tersebut. Indikator terbagi menjadi empat kuadran: Kuadran Mencakup fasilitas pejalan kaki dan akses bagi difabel; Kuadran II mencakup kebersihan lingkungan dan fasilitas kesehatan; Kuadran III mencakup perlindungan sejarah sejarah dan ketersediaan lapangan kerja; Kuadran IV mencakup pencemaran lingkungan dan angkutan umum. Hasil penelitian ini jelas menunjukkan posisi indikator kota layak huni di Tomohon dan membantu mengidentifikasi prioritas untuk perbaikan kebijakan. Hasil pengelompokan indikator ke dalam kuadran IPA dapat dijadikan sebagai analisis pendekatan dalam memahami tingkat kepentingan dan tingkat kinerja masing-masing aspek kelayakhunian kota. Pengelompokan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kajian dan evaluasi kondisi kota layak huni secara terstruktur. Kata Kunci: Kota Layak Huni, Important Performance Analysis, Perencanaan dan Evaluasi, Kota Tomohon ABSTRACT The city of Manado, as the capital of North Sulawesi Province, has geographical characteristics dominated by Urban growth in Indonesia, particularly in Tomohon City, faces challenges in creating a sustainable urban environment. This study assesses the condition of Tomohon based on the livable city criteria of the Indonesian Association of Planners (IAP), using qualitative descriptive analysis and Importance Performance Analysis (IPA). The results indicate that although Tomohon has characteristics that support the concept of a livable city, there is variation in these criteria. Indicators are divided into four quadrants: Quadrant I covers pedestrian facilities and access for people with disabilities; Quadrant II covers environmental cleanliness and health facilities; Quadrant III covers the protection of historical buildings and the availability of employment; Quadrant IV covers environmental pollution and public transportation. The results of this study clearly show the position of livable city indicators in Tomohon and help identify priorities for improvement policies. The results of grouping indicators into IPA quadrants can be used as an analytical approach in understanding the level of importance and performance of each aspect of city livability. This grouping can be used as a consideration in a structured study and evaluation of livable city conditions. Keywords: Livable City, Important Performance Analysis, Planning and Evaluation, Tomohon City