cover
Contact Name
Hadrianus Tedjoworo
Contact Email
htedjo@unpar.ac.id
Phone
+6222420476
Journal Mail Official
melintas@unpar.ac.id
Editorial Address
Department of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Jl. Nias 2, Bandung 40117, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
ISSN : 08520089     EISSN : 24068098     DOI : https://doi.org/10.26593
The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, philosophy of culture and anthropology, phenomenological philosophy, epistemology, ethics, business ethics, philosophy of religion, religious studies, theology, dogmatic theology, systematic theology, theology of sacrament, moral theology, biblical theology, and pastoral theology.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 24 No. 1 (2008)" : 16 Documents clear
RICHARD RORTY DAN RUANG PUBLIK PARA “PENYAIR”? : SEBUAH TEMATISASI KONSEP RUANG PUBLIK DI DALAM FILSAFAT POLITIK RICHARD RORTY Antonius A.W., Reza
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.696 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.959.57-81

Abstract

How are we to define the concept of public sphere in contemporary society? How can we understand the drive that mobilizes it? And, how can we distinguish public life from the private ? This article follows Richard Roty's point of view in answering the questions. According to him, philosophers andsocial scientists have lost their monopoly in the process of defining public life. Their positions are replaced by poet, novelist, or journalist. The concept of public sphere is also changing, from 'rational' to 'poetic' public sphere. In the latter, public life is moved by contingency. The nature of humans and society is deprived from its metaphysical foundation. Rorty's ideas in this respect  may help identify what actually is happening in contemporary society.
UNCLOAKING THE UNIVERSAL CIVILIZED OR CULTURED MAN : EXPOSING THE HIDDEN DIMENSION OF GENDER IN PHILOSOPHY AND CONTEMPORARY DISCOURSES ON CIVILIZATION AND CULTURE Dominique G.M., Natividad
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.789 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.955.1-10

Abstract

Artikel ini mendaku bahwa setiap upaya yang hendak memikirkan ulang  isu-isu sosial dalam konteks global saat ini akan selalu lemah manakala tidak melibatkan isu gender. Isu gender bukanlah hanya perspektif  feminisme Barat, melainkan merupakan persoalan seluruh dunia. Ditunjukan bahwa tidak dimasukkannya perspektif feminisme akan melahirkan konsepsi-konsepsi yang tidak tepat tentang “kodrat manusia”, yang akan berakibat pada melesetnya wacana filsafat dan politis tentang kebutuhan dankepentingan yang mesti ditangani. Ditekankan pula perlunya wacana global – khususnya Posmodernisme dan Poskolonialisme- memerhitungkan buruh dan migrasi sebab dua gejala itu pun sangat menentukan bagaimana isu gender dipahami dan dihayati dalam situasi konkritnya.
Apa yang Salah dengan Demokrasi? Wijaya, Irianto
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.289 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.960.83-98

Abstract

The value of every social ideal, including democracy, is always determined by two criteria, coherence and applicability. The power of democracy to fulfill these criteria  depends on its ability to solve two kinds of social problems, the normative and the factual problems. Scepticism toward democracy usually concerns its ability to handle the latter, in which there is an old Platonian challenge that it must deal with. Democracy would be able to answer the challenge satisfactorily as long as we recognize the distinction between procedural and substantive rationality.
DESYMPHONICA VERITATE : THE CASE FOR PLURALISM IN A RELATIVISTIC ENVIRONMENT Bonazzi, Andrea
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.077 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.956.11-27

Abstract

Artikel ini memertimbangkan kembali relativisme moraldalam hubungannya dengan pluralitas kebudayaan danposisi-posisi filosofis. Mengingat bahwa umumnyaHukum Hume dipakai sebagai dasar epistemologis bagirelativisme, maka pada “pars destruens” diajukan kritik atasHukum Hume yang memerlihatkan bahwa nalar manusiadapat melampaui penginderaan. Relativisme sebagaikondisi dasar bagi masyarakat pluralistik dan demokratisdikritik juga sebagai tidak benar. Sedang pada “parsconstruens” diajukan peran filsafat Katolik dalam dunia'glokal' kini sebagai ditandai pencarian 'kebenaran publik'warta Kristiani, sejenis bentuk baru “teologi natural(filosofis)”.
PENGERTIAN RELATIF DALAM MEMBAHAS GEJALA ALAM Brotosiswojo, Benny Suprapto
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.249 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.961.99-114

Abstract

Konsep relativitas hasil studi manusia tentang realita alam secara perlahan-lahan menyadarkan kita betapa sempitnya cakrawala pandangankita tentang alam dan betapa miskinnya perbendaraan kata yang kita milikisebagai alat komunikasi selama ini.
CONSCIENCE AND SOCIAL ACCEPTABILITY AMONG THE IBANI IN NIGER DELTA, NIGERIA Jaja, Jones M.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.577 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.957.29-38

Abstract

Makalah ini membahas posisi nurani dalam kehidupan moralmasyarakat Ibani. Ditengarai bahwa bagi suku tersebutpengembangan dan perubahan kehidupan moral tidaklahcukup dipercayakan hanya pada pendidikan tradisional,keluarga dan komunitas. Dibutuhkan kesanggupan menerima,dan pemahaman diri tentang, kebesaran sang Pencipta,kekuatan dasyat yang mampu mengubah individu sebagaipercik ilahi dan memampukan nuraninya memilah putusanputusanmoral.
Chronicles - April 2008 Tedjoworo, Hadrianus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.895 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.962.133-162

Abstract

'Chronicles' is a journal column of "MELINTAS" which contains information about the various events, congresses, conferences, symposia, necrologies, publications, and periodicals in the fields of philosophy and theology.
THE UNION OF MIND AND BODY IN THE CARTESIAN DUALISM Riyanto, Armada
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.443 KB) | DOI: 10.26593/mel.v24i1.958.39-55

Abstract

Dalam disiplin ilmu filsafat sejak Yunani Awali, manusiadimengerti sebagai terdiri dari badan dan jiwa. BagiSokrates manusia adalah jiwa-nya. Sebab, badan tidakmenampilkan kodrat kemanusiawian yang sesungguhnya.Plato melanjutkan Sokrates dengan “menyangkal”kepentingan keberadaan badan. Problem filosofis klasikitu berlanjut pada pemikiran René Descartes yangmenyatakan bahwa badan adalah res extensa (itu yangmemiliki keluasan), sementara jiwa res cogitans (itu yangberpikir). Karena itu, dalam Descartes istilah yang lebihtepat untuk jiwa adalah “mind” daripada “soul”. Tetapisoal paling krusial dari definisi ini ialah bagaimanamungkin yang material bersatu sedemikian rupa denganres cogitans sehingga menyusun sebuah kesatuan tunggaleksistensi manusia yang begitu memesona? Pertanyaaninilah yang menjadi status questionis dari artikel ini.
UNCLOAKING THE UNIVERSAL CIVILIZED OR CULTURED MAN : EXPOSING THE HIDDEN DIMENSION OF GENDER IN PHILOSOPHY AND CONTEMPORARY DISCOURSES ON CIVILIZATION AND CULTURE Dominique G.M., Natividad
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.955.1-10

Abstract

Artikel ini mendaku bahwa setiap upaya yang hendak memikirkan ulang  isu-isu sosial dalam konteks global saat ini akan selalu lemah manakala tidak melibatkan isu gender. Isu gender bukanlah hanya perspektif  feminisme Barat, melainkan merupakan persoalan seluruh dunia. Ditunjukan bahwa tidak dimasukkannya perspektif feminisme akan melahirkan konsepsi-konsepsi yang tidak tepat tentang “kodrat manusia”, yang akan berakibat pada melesetnya wacana filsafat dan politis tentang kebutuhan dankepentingan yang mesti ditangani. Ditekankan pula perlunya wacana global – khususnya Posmodernisme dan Poskolonialisme- memerhitungkan buruh dan migrasi sebab dua gejala itu pun sangat menentukan bagaimana isu gender dipahami dan dihayati dalam situasi konkritnya.
DESYMPHONICA VERITATE : THE CASE FOR PLURALISM IN A RELATIVISTIC ENVIRONMENT Bonazzi, Andrea
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.956.11-27

Abstract

Artikel ini memertimbangkan kembali relativisme moraldalam hubungannya dengan pluralitas kebudayaan danposisi-posisi filosofis. Mengingat bahwa umumnyaHukum Hume dipakai sebagai dasar epistemologis bagirelativisme, maka pada “pars destruens” diajukan kritik atasHukum Hume yang memerlihatkan bahwa nalar manusiadapat melampaui penginderaan. Relativisme sebagaikondisi dasar bagi masyarakat pluralistik dan demokratisdikritik juga sebagai tidak benar. Sedang pada “parsconstruens” diajukan peran filsafat Katolik dalam dunia'glokal' kini sebagai ditandai pencarian 'kebenaran publik'warta Kristiani, sejenis bentuk baru “teologi natural(filosofis)”.

Page 1 of 2 | Total Record : 16