cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol 8 no 2 (2018): manuskripta" : 5 Documents clear
Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi: Kajian Teologi Penciptaan Alam dan Manusia Doni Wahidul Akbar; Titin Nurhayati Ma'mun
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ancient manuscripts of Nusantara (Indonesian Archipelago) is the cultural heritage of the past in which high value, not only to the past also to the present. One of the scripts that have a significance the present for the people of the archipelago is the manuscripts Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. This study uses the philological and theological approaches. This manuscripts explains the value of Christian teachings that include the occurrence of the universe, the creation of man, the sins of mankind, man fell into sin, and God help the man rose from the sin that they do. The information actualized its spread through the Arabic Pegon alphabet and Javanese culture prevailing at that time namely the script used in the Qur'an. It shows that the manuscripts Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi as document the spread of Christianity in the Islamic period are in Java. The findings of this study is about the chronology of the creation of the universe and the creation of humans as well as Christian Godhead theology guidelines. === Naskah kuna Nusantara merupakan warisan budaya masa lalu yang isinya bernilai tinggi, tidak hanya untuk masa lalu juga untuk masa kini. Salah satu naskah yang memiliki arti penting kekinian bagi masyarakat Nusantara adalah naskah Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. Penelitian ini menggunakan teori filologi dan metode teologi. Naskah ini menjelaskan pokok-pokok ajaran Kristiani yang meliputi terjadinya alam semesta, penciptaan manusia, dosa manusia, manusia jatuh dalam dosa, dan usaha Tuhan membantu manusia bangkit dari dosa yang mereka perbuat. Informasi itu diaktualisasikan penyebarannya melalui budaya Jawa dan aksara yang berlaku pada saat itu yaitu aksara Arab Pegon yang digunakan dalam Alqur’an. Hal itu menunjukkan bahwa naskah Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi sebagai dokumen penyebaran ajaran Kristiani pada zaman Islam yang berada di Jawa. Temuan dari kajian ini adalah penjelasan tentang kronologi penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia serta pedoman teologi ketuhanan agama Kristen.
Revitalisasi Kearifan Lokal Naskah-naskah Primbon Koleksi Masyarakat Indramayu Nurhata Nurhata
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The primbon manuscript has concrete implications for social life, both concerning individual needs and collective needs of society. Various problems faced by the community some time ago, referring to the primbon as a reference, because the truth has been tested, like a roadmap that will direct someone to a specific goal. The use of primbon is generally through "smart people" or dukun, who are considered to have more ability. In Indramayu, there are at least five types of primbon namely petungan (calculation), pranata mangsa, ngalamat, prayers and spells, and predictions ‘ramalan'. Now the primbon manuscript is increasingly alienated from the inheritor's society, even though it contains a variety of local wisdom and knowledge that may still be relevant to today's society. Therefore, an effort is needed to in still awareness of the urgency of the primbon of the community and reintroduce the contents of the primbon manuscripts, which can be done through a philological approach. === Naskah Primbon memiliki implikasi konkrit bagi kehidupan sosial, baik menyangkut kebutuhan perorangan maupun kebutuhan masyarakat secara kolektif. Berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pada beberapa waktu lalu, merujuk pada primbon sebagai acuannya, karena kebenarannya telah teruji, ibarat petunjuk jalanyang akan mengarahkan seseorang pada tujuan tertentu. Penggunaan atas primbon pada umumnya melalui “orang pintar” atau dukun, yang dianggap memiliki kemampuan lebih. Di Indramayu, sedikitnya ada lima jenis primbon yaitu petungan (perhitungan), pranata mangsa, ngalamat, doa dan mantra, serta ramalan. Kini naskah primbon semakin terasing dari masyarakat pewarisnya, padahal di dalamnya memuat beragam kearifan lokal dan ilmu pengetahuan yang mungkin masih relevan bagi masyarakat dewasa ini. Oleh karena itu diperlukan usaha menanamkan kesadaran akan urgensi primbon bagi masyarakat serta memperkenalkan kembali kandungan isi dari naskah-naskah primbon, di antaranya dapat dilakukan melalui pendekatan filologi.
Praktik Literasi Agama pada Masyarakat Indonesia Tempo Dulu: Tinjauan Awal atas Naskah-naskah Cirebon Agus Iswanto
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The practice of literacy, especially on religious texts, has already exists in Indonesian society based on available written evidence. This paper examines religious manuscripts with the perspective of the study of religious literacy. Analyzed by contextual literacy approach, not an autonomous literacy approach, this paper discusses the practice of local literacy in a specific social context. Furthermore, the contribution of the Indonesia manuscripts to the study of local literacy (indigenous literacy) and religious literacy (faith literacy). Taking the case on several Islamic manuscripts in the Cirebon region which became one of the “granaries” of the Nusantara manuscripts in the West Java, this paper maps important issues in the study of local literacy and religious literacy reflected in these manuscripts, such as the identity negotiated and patron or literacy sponsor and the production of meaning in the literacy practice. This paper argues that the study of religious literacy practice reflected in the Indonesia manuscripts can contribute to the understanding of the production of the contextual meaning of religion that has been practiced by the community that underlies the production of these manuscripts. === Praktik literasi, terutama terhadap teks keagamaan, sudah ada dalam masyarakat Indonesia (Nusantara) berdasarkan bukti-bukti tertulis yang tersedia. Tulisan ini mengkaji naskah-naskah keagamaan dengan perspektif kajian literasi agama. Pokok bahasannya adalah praktik literasi lokal dalam konteks sosial yang spesifik dengan menggunakan pendekatan praktik literasi kontekstual dan ideologis, bukan dengan pendekatan literasi otonom. Lebih lanjut, kontribusi naskah-naskah Nusantara bagi kajian literasi lokal (indigenous literacy) dan literasi agama (faith literacy). Dengan mengambil kasus pada beberapa naskah keislaman di wilayah Cirebon yang menjadi salah satu “lumbung” bagi khazanah naskah Nusantara di wilayah Jawa Barat, tulisan ini memetakan isu-isu penting dalam kajian literasi lokal dan literasi agama yang terrefleksikan dalam naskah-naskah tersebut, seperti persoalan identitas yang dinegosiasikan dalam naskah dan patron atau sponsor literasi serta produksi makna dalam praktik literasi. Selain itu, kajian praktik literasi agama yang tercermin dalam naskah-naskah Nusantara dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang produksi makna agama yang kontekstual yang telah dipraktikkan oleh masyarakat yang melatari produksi naskah-naskah tersebut.
Kisah Raja “Kafir” Nusirwan dalam Naskah Ki Sarahmadu Brajamakutha: Kajian terhadap Repertoire Penyusunnya Binarung Mahatmajangga
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ki Sarahmadu Brajamakutha (KSB) is a manuscript collection of Widyapustaka, the library of Pakualaman Palace, Yogyakarta. This manuscript was written in Javanese script and language in macapat metre. KSB contains didactic stories on how to rule a kingdom, depicted in stories of prophets and kings mainly from the Middle East. Those stories are embeded in three texts: Tajusalatin, Hikayat Nawawi, and a text containing teachings of Paku Alam I and Paku Alam II. The “kafir king” story of Nusirwan appears in the manuscript as part of the Tajusalatin text. Despite being specifically mentioned as “kafir” or non-believer in the text, he is portrayed as a just king. The study of respon aesthetic of Wolfgang Iser is applied to the story of King Nusirwan as to how contemporary readers can understand the repertoire, making them easier to acquire the conventions on how the story was build, so that they can easily interpret the meaning as intended by the author. === Ki Surahmadu Brajamakutha (KSB) adalah manuskrip koleksi Widyapustaka, Perpustakaan Istana Pura Pakualaman, Yogyakarta. Manuskrip ini ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa dalam tembang macapat. KSB berisi cerita didaktis tentang bagaimana aturan seorang raja, menggambarkan kisah nabi-nabi dan raja dari Timur Tengah. Cerita cerita tersebut terdapat di dalam tiga teks: Tajusalatin, Hikayat Nawawi, dan sebuah teks yang berisi ajaran-ajaran Paku Alam I dan Paku Alam II. Cerita “raja kafir” Nusirwan muncul di dalam sebuah manuskrip sebagai bagian teks Tajusalatin. Meskipun di dalam teks secara khusus disebutkan sebagai “kafir” atau tidak percaya, ia digambarkan sebagai raja yang adil. Studi tentang estetika respons Wolfgang Iser diterapkan pada kisah Raja Nusirwan tentang bagaimana pembaca kontemporer dapat memahami repertoar, membuat mereka lebih mudah untuk memperoleh konvensi tentang bagaimana cerita itu dibangun, sehingga mereka dapat dengan mudah menafsirkan makna sebagaimana dimaksud oleh penulis.
Kearifan Lokal Mitos Pertanian Dewi Sri dalam Naskah Jawa dan Aktualisasinya sebagai Perekat Kesatuan Bangsa Trisna Kumala Satya Dewi; Heru Supriyadi; Sholeh Dasuki
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The agricultural myth of "Dewi Sri" contained in Javanese manuscripts contains local wisdom related to agriculture, fertility, food (rice) and actualized in the ritual of village cleaning (bersih desa) ceremonies. The term of village cleaning is also commonly referred to as sadran (nyadran), ruwah rosul, sedekah bumi, and manganan. In the ritual of village cleaning ceremonies some Javanese people still actuaize it with performng art of the Wayang Purwa with the lakon of Sri Sadana or Sri Mulih (Mbok Sri Boyong). In addition, there are also some people who implement village cleaning with Tayub performing arts. The performing arts in the ritual of village cleaning are the actualization of the agricultural myth, namely "Dewi Sri" as a symbol of "Goddess of Rice", "Goddess of Fertility". The ritual of village cleaning as local wisdom can be used as a social adhesive in the community (Java). Besides that, in the village cleaning there are also various functions such as expressing gratitude to the Almighty God for salvation and abundance of sustenance, fostering togetherness (harmony), and tolerance between citizens. === Mitos pertanian Dewi Sri yang termuat dalam naskah-naskah Jawa mengandung kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian, kesuburan, pangan (padi) dan diaktualisasikan dalam upacara ritual bersih desa. Istilah bersih desa biasa juga disebut dengan sadran (nyadran), ruwah rosul, sedekah bumi, dan manganan. Dalam upacara ritual bersih desa sebagian masyarakat Jawa masih mempagelarkan dengan seni wayang purwa dengan lakon Sri Sadana atau Sri Mulih (Mbok Sri Boyong). Di samping itu, juga ada sebagian masyarakat yang melaksanakan bersih desa dengan seni pertunjukan Tayub. Seni pertunjukan dalam ritual bersih desa tersebut merupakan aktualisasi mitos pertanian, yaitu “Dewi Sri” sebagai simbol “Dewi Padi”, “Dewi Kesuburan”. Upacara ritual bersih desa sebagai kearifan lokal tersebut dapat digunakan sebagai perekat sosial dalam masyarakat (Jawa). Selain itu, dalam bersih desa juga termuat berbagai fungsi seperti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas keselamatan dan limpahan rezeki, memupuk kebersamaan (guyub rukun), dan toleransi antarwarga.

Page 1 of 1 | Total Record : 5