cover
Contact Name
Abdul Hafidz Miftahuddin
Contact Email
duludin212@gmail.com
Phone
+6281232801614
Journal Mail Official
duludin22@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Wahid Hasyim, No. 126 Krempyang Tanjunganom Nganjuk. Kode pos 64482.
Location
Kab. nganjuk,
Jawa timur
INDONESIA
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah
ISSN : 29629403     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Jas Merah: Jurnal Hukum dan Ahwal Syakhsiyyah, merupakan jurnal Hukum Keluarga Islam dan hukum perdata di Indonesia yang terbit secara berkala pada bulan Nopember dan bulan Mei. Memuat kajian-kajian tentang hukum antara lain perkawinan, perceraian, rujuk, pewarisan, hibah, wakaf, wasiat, dan hukum perdata lainnya di Indonesia. Jurnal Jas Merah dimaksudkan sebagai media publikasi karya akademis para peneliti, baik dari kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen), praktisi (hakim, panitera, pengacara, dll), serta penulis di bidang hukum.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 95 Documents
Hukum Mut’ah Akibat Perceraian Studi Perbandingan Pemikiran Imām an-Nawawī dan Ibn Ḥazm Muhamad Sahal; Slamet Arofik
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdebatan mengenai kewajiban Mut’ah (pemberian penghibur hati) bagi istri yang dicerai masih menyisakan disparitas pemahaman di kalangan ulama madzhab, khususnya antara pendekatan kondisional Imam Nawawi dan pendekatan universal Imam Ibn Hazm. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif metodologi istinbath kedua imam tersebut dalam menetapkan hukum mut’ah serta menemukan titik temu dan perbedaan fundamental di antara keduanya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi normatif-kualitatif dengan pendekatan usul al-fiqh al-muqaran (perbandingan metodologi hukum), mengkaji secara deskriptif-analitis teks-teks primer dari Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhażżab, Rawḍah al-Ṭālibīn, dan Al-Muḥallā bi al-Ātsār, serta literatur sekunder seperti Niẓām al-Ṭalāq fī al-Islām. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Nawawi membedakan hukum Mut’ah berdasarkan variabel waktu perceraian (qabla/ba’da dukhul) dan ada tidaknya penetapan mahar dengan menggunakan metode Qiyas dan Ta’līl. Sebaliknya, Imam Ibn Hazm mewajibkan Mut’ah secara mutlak untuk segala bentuk talak dengan metode Ẓāhirī (literal-tekstual). Keduanya bersepakat bahwa Mut’ah berfungsi sebagai jabr al-khāṭir (penambal luka hati) namun berbeda dalam cakupan penerapannya. Kesimpulannya, pendapat Ibn Hazm lebih dekat dengan semangat keadilan tekstual Al-Qur’an, sementara pendapat Nawawi lebih kontekstual dan graduatif.
Desakralisasi Mitos dan Rekayasa Spiritual Pernikahan Jilu dan Lusan Besan Dalam Adat Jawa M. Burhanuddin Ubaidillah; Faizatul Adawiyyah; Lailatul Zakiya
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid advancement of digital technology has transformed patterns of social interaction within families, including the increasing prevalence of online gaming among married adults. Excessive online gaming by husbands has emerged as a significant challenge to family resilience, potentially disrupting marital communication, emotional intimacy, and household responsibilities. This study aims to examine the dynamics of family resilience in households where husbands experience online gaming addiction by analyzing patterns of family adaptation and the risk of family disintegration. This research employed a normative juridical approach using library research, drawing upon scholarly literature, legal regulations, and relevant theoretical perspectives concerning family resilience and behavioral addiction. The findings indicate that online gaming addiction does not inevitably lead to family disintegration. Family resilience is influenced by the family's capacity to adapt through effective communication, emotional support, shared commitment, and balanced role distribution. However, persistent addictive behavior characterized by neglect of family obligations, financial irresponsibility, and deteriorating marital interaction significantly increases the likelihood of marital conflict and family breakdown. The study concludes that strengthening family resilience requires not only individual awareness of digital behavior but also collaborative adaptation among family members to maintain marital stability amid the challenges of the digital era.
Analisis Faktor Penyebab Perceraian di Pengadilan Agama Nganjuk Tahun 2017–2019 Perspektif Kompilasi Hukum Islam Abd. Basit Misbachul Fitri; Halimatus Sa’adah
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze divorce cases at the Nganjuk Religious Court during 2017–2019 from the perspective of the Indonesian Compilation of Islamic Law (Kompilasi Hukum Islam/KHI). Specifically, the research examines the number of divorce cases, identifies the dominant factors causing divorce, and analyzes their conformity with the legal provisions governing divorce under the KHI. This study employs a qualitative empirical legal research method with a field research approach. Primary data were obtained through interviews with judges and court officials of the Nganjuk Religious Court, while secondary data were collected from court documents, legislation, and relevant literature. Data were gathered through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman interactive model, including data reduction, data display, and conclusion drawing, with source triangulation employed to ensure data validity. The findings indicate that divorce cases remained consistently high during the 2017–2019 period, with divorce petitions filed by wives (cerai gugat) significantly exceeding divorce petitions filed by husbands (cerai talak). Economic problems constituted the most dominant cause of divorce, followed by continuous marital disputes and abandonment by one spouse. From the perspective of the Compilation of Islamic Law, the causes of divorce identified in this study generally correspond to the grounds for divorce stipulated in Article 116 of the KHI. In judicial practice, however, judges more frequently rely on Article 19 letter (f) of Government Regulation Number 9 of 1975 concerning continuous disputes and the impossibility of reconciliation as the principal legal basis for granting divorce.
Praktik Hybrid Waris Dalam Pembagian Warisan Keluarga di Desa Kelutan Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk Roudlotul Jannatil Firdaus; Nizam Fauzida
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia's pluralistic legal system has given rise to various inheritance distribution practices that combine Islamic inheritance law and customary law. This study aims to examine the forms of hybrid inheritance practices in Kelutan Village, Ngronggot District, Nganjuk Regency, and to identify the factors encouraging the integration of Islamic and customary inheritance principles. This research employed a qualitative method with an empirical approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed descriptively using the perspectives of Islamic inheritance law, customary law, and maqāṣid al-sharīʿah. The findings reveal three inheritance distribution models practiced by the community: distribution based entirely on Islamic inheritance law (farā'iḍ), distribution based on customary law through the akad rukun mechanism, and a hybrid model combining both systems. The hybrid model is the most widely practiced. In this model, inheritance is first distributed according to farā'iḍ, after which male heirs voluntarily transfer part of their shares to female heirs through akad rukun to preserve family harmony and achieve a socially accepted sense of justice. This practice reflects legal adaptation within Indonesia's pluralistic legal system by accommodating religious obligations alongside local customary values, provided that the redistribution remains voluntary and continues to uphold the principles of justice, public benefit, and family harmony.
Dinamika Ketahanan Rumah Tangga pada Keluarga dengan Suami Pecandu Game Online dalam Menghadapi Risiko Disintegrasi Ahmad Mustakim; Yusuf Muzaki
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi sosial masyarakat secara fundamental, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu fenomena yang semakin sering ditemukan adalah kecanduan game online pada suami yang berdampak signifikan terhadap ketahanan keluarga. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana perilaku adiktif game online memengaruhi relasi suami-istri, komunikasi keluarga, stabilitas ekonomi, serta dinamika adaptasi dan disintegrasi rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) terhadap berbagai literatur terbaru mengenai kecanduan game online dan ketahanan keluarga. Hasil kajian menunjukkan bahwa kecanduan game online tidak hanya memunculkan penurunan kualitas komunikasi dan pengabaian tanggung jawab keluarga, tetapi juga memicu konflik emosional, ketidakstabilan ekonomi, dan melemahnya relasi afektif dalam rumah tangga. Namun demikian, sebagian keluarga mampu membangun mekanisme adaptasi melalui komunikasi interpersonal yang intensif, pembatasan penggunaan media digital, serta penguatan nilai religius dan emosional keluarga. Artikel ini juga menegaskan bahwa ketahanan rumah tangga di era digital tidak lagi hanya diuji oleh faktor ekonomi dan sosial konvensional, tetapi juga oleh kemampuan keluarga dalam mengelola risiko adiksi digital secara konstruktif dan berkelanjutan.

Page 10 of 10 | Total Record : 95