cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi (Berkala)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (1997)" : 8 Documents clear
Peranan Sektor Informal Dalam Penyerapan Tenaga Kerja Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1932

Abstract

Konsep sektor informal pertama ka1i diperkenalkan oleh Keith Hart pada tahun 1971, kemudian dipopulerkan oleh ILO. Sektor informal merupakan kegiatan usaha yang terdiri dari unit berskala kecil yang memproduksi serta mendistribusikan barang dan pendapatan bagi dirinya masing-masing serta dalam usahanya dibatasi oleh faktor modal dan ketrampilan. Timbulnya sektor informal di kota tidak lain sebagai akibat adanya ketimpangan dalam pasar tenaga kerja. Dengan demikian bahwa bagi angkatan kerja yang tidak tertampung di sektor formal akan dihadapkan 2 masalah, apakah mereka terus menjadi pengangguran atau mereka harus bekerja di sektor informal. Pada kenyataannya karena mereka dituntut oleh kebutuhan hidup, terpaksa mereka harus berpartisipasi di sektor informal.
Pengaruh Kondisi Fisik Lingkungan Dan Aktivitas Sanitasi Penduduk Terhadap Kualitas Air Tanah Bebas Di Kotamadya Malang Sugeng Utaya
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1923

Abstract

Belakangan ini disinyalir babwa air tanah di daerah perkotaan telah terkena pencemaran. Pencemaran air tanah di daerah perkotaan ini amat temyata terkait dengan faktor lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan non-fisik. Faktor lingkungan fisik menyangkut kondisi lahan, material penyusun lahan, kedalaman muka preatik, dan sistem geohidrologi setempat. Faktor lingkungan non-fisik berkait dengan aktivitas sanitasi penduduk seperti cara penggunaan air dan cara pembuangan limbah. Peneliti­an ini bertujuan untuk (1) mengetahui kualitas air tanah bebas di Kotamadya Malang, (2) mengkaji pengaruh kondisi fisik ling­kungan terhadap kualitas air tanah bebas, (3) mengkaji pengaruh aktivitas sanitasi penduduk terhadap kualitas air tanah bebas. Penelitian ini memperoleh hasil antara lain (1) Parameter yang telah melampaui nilai maksimum ambang batas baku mutu air minum adalah kadar ion nitrit (di seluruh titik sampel), pH (di 40% titik sampel), dan kekeruhan (di 11 titik sampel), (2) Agihan kadar ion-ion nitrit, fosfat, sulfat, klorida, daya hantar listrik (DHL), BOD, dan suhu air. tanah bersesuaian dengan agihan penggunaan lahan, (3) Agihan bahan pencemar tidak bersesuaian dengan faktor litologi, (4) Kadar ion fosfat dan ROD dalam air tanah cenderung tinggi pada penduduk yang membuang limbah di selokan dan kadarnya cenderung tinggi pada penduduk yang membuang limbah di sungai, (5) Faktor kedalaman muka preatik berkorelasi negatif dengan kadar pH, DHL, kesadahan total, besi total, dan ion klorida dalam air tanah, (6) Secara signifikan kadar ion klorida dan besi total dalam air tanah dipengaruhi oleh faktor kedalaman muka preatik, jarak aliran air tanah, jarak sumber pencemar, jumlah konsumsi air, dan kepadatan penduduk, dan dari 5 variabel bebas tersebut, variabel kedalaman muka preatik menunjukkan pengaruh yang paling kuat dibanding variabel lain.
Perubahan Sosial Penglaju Di Desa Arjowinangun Kotamadya Malang Soetjipto T.H.
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1935

Abstract

Arus urbanisasi yang melanda daerah perkotaan merupakan salah satu sebab makin padatnya penduduk di kota­kota besar. Kepadatan itu dapat menimbulkan berbagai masalah bila tidak diimbangi dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Faktor penyebab meningkatnya kepadatan penduduk kota adalah laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Dalam kurun waktu 23 tahun jumlah penduduk Kotamadya Malang berkembang dari 412.698 jiwa menjadi 737.598 jiwa (terjadi peningkatan sebesar 324.900 jiwa atau lebih kurang 78,73 prosen). Bila dicermati, laju pertambahan penduduk Kotamadya Malang bukan semata-mata disebabkan oleh kelahiran, melainkan juga karena faktor urbanisasi yaitu arus perpindahan penduduk dari desa ke kota. Terkait dengan ha1 tersebut di atas, maka dilakukan penelitian tentang motivasi penduduk, Desa Aljowinangun dalam melakukan migrasi harian di Kotamadya Malang. Tujuan penelitian ini ada1ah memahami faktor-faktor dari dalam diri, dari dalam maupun dari luar desa, perubahan taraf hidup penglaju, dan peran penglaju asli maupun pendatang dalam melakukan migrasi harian, peran penglaju dalam perubahan sosial di Kotamadya Malang. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis etnometodologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anggapan umum dari ketiga desa itu dalam melakukan migrasi ke kota adalah penghasilan dari usaha tani tidak mencukupi, kurangnya kesempatan ketja di sektor pertanian dan non pertanian, rendahnya tingkat upah di desa di samping lahan pertanian yang semakin sempit, status sosial dan gengsi penglaju meningkat, dan meningkatnya perno (ketrima dan ketengen) penglaju dalam perubahan sosial.
Kekayaan Laut Pulau Maluku Paulus Endrapradana
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1924

Abstract

Maluku terkenal sebagai propinsi Seribu Pulau. Kawasan di bagian timur tanah air ini mempunyai bentang Timur-­Barat maupun Utara-Selatan yang amat luas. Hampir 90% dari luas wilayahnya terdiri dari palung dan lubuk taut, termasuk yang terdalam di dunia. Di dalamnya terdapat potensi kekayaan alam yang tidak terbilang banyaknya. Namun sampai pada peradaban dan teknologi kita sekarang ini masih sedikit sekali yang kita per­gunakan untuk kemakmuran kita. Ironisnya lebih banyak kekayaan yang diambil secara tidak sah oleh bangsa lain. Bagaimana kita dapat memanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kehidup­an bangsa kita merupakan topik pembahasan ini.
Modus Penggunaan Metode Kontrasepsi Keluarga Berencana Pada Pola Permukiman Penduduk Di Daerah Pedesaan Kabupaten Malang Djoko Soelistijo
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1941

Abstract

Akseptor KB di daerah pedesaan memiliki metode kontrasepsi yang tidak selalu proporsional yang seimbang. Hal ini dapat di1ihat adanya daerah IUD, daerah PQ., daerah SUNTIK, yang berarti telah terjadi penyadapan inovasi dan informasi KB pada tingkat yang seragam atau hampir seragam. Atas dasar kenyataan yang ada, metode kontrasepsi KB di daerab pedesaan akan banyak dipengaruhi oleh pola pemukiman penduduk.
Hubungan Antara Sarana Transportasi Dan Pola Perjalanan Wisatawan Dengan Pencemaran Lingkungan Daerah Wisata Pantai Malang Selatan I Kemang Astina
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1927

Abstract

Pantai Malang selatan merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang sedang dikembangkan oleh pemerintah daerah kabupaten Malang. Salah satu dampak negatif dari kegiatan pariwisata adalah pencemaran lingkungan fisik berupa sampah. Sampah dihasilkan dalam kegiatan wisata terutama dari kemasan makanan dan minuman. Pembangunan sektor pariwisata "peka" terhadap pencemaran lingkungan; tetapi kegiatan pariwisata merupakan pencemar yang cukup tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara jenis sarana transportasi dan pola perjalanan wisatawan dengan pencemaran lingkungan daerah tujuan wisata. Berdasarkan data yang dikumpulkan diperoleb hasil: terdapat hubungan yang signiflkan antara jenis sarana transportasi dan pola perjalanan dengan pencemaran daerah wisata.
Profesionalisasi Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Jabatan Guru Yusuf Suharto
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1943

Abstract

Di dalam menghadapi gelombang perubahan yang dibawa oleb revolusi industri dan revolusi informasi, maka peran sumber daya manusia menjadi semakin penting. Untuk dapat beranjak pada terbentuknya manusia Indonesia masa depan yang memiliki kepekaan, kemandirian, dan tanggung jawab. Sumber daya manusia harus benar-benar dipersiapkan sebagai tenaga pro­fesional yang mampu mengatisipasi setiap perubahan yang terjadi. Perlu disadari bahwa pendidikan adalah unsur yang sangat ber­peran membentuk kepribadian manusia yang tidak hanya terbatas pada masalah fisik saja, tetapi dalam sikap dan tindak kerjanya. Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, lem­baga pendidikan mempunyai andil yang sangat besar untuk mem­persiapkan anak didik yang nantinya akan mengelola negara. Oleh karena itu berhasil tidaknya mereka, akan sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan para guru dalam mendidiknya. Ber­dasarkan hal tersebut maka perlu adanya upaya untuk mem­profesionalisasikan jabatan guru. Untuk dapat mencetak guru yang profesional antara lain diperlukan adanya program pre-service yang benar-benar mapan. Harus disadarai bahwa tanggung jawab dosen sebagai tenaga pendidik di LPTK cukup besar, yang akan membawa dampak terhadap pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Para dosen di LPTK harus dapat mencetak calon-calon guru yang tangguh dan mempunyai kemampuan profesional sebagai awal yang dipersyaratkan. Untuk dapat mencetak guru yang profesional diperlukan pula dosen-dosen yang profesional.
Penanaman Sistem "Bule" Suatu Aplikasi Teknologi Pola Tanam Campuran Achmad Fatchan
Jurnal Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/pg.v4i1.1929

Abstract

Masyarakat pedesaan umumnya bermata-pencaharian di bidang pertanian, di samping pertanian dan sawah, tebu merupakan usaha pertanian yang akhir-akhir ini banyak diminati oleh petani karena relatif lebih menguntungkan. Akan tetapi usaha tani tebu sebagian besar masih dilakukan dengan "monoculture system" (sistem monokultur) (Deptan, 1977). Pada hal, sistem "Bule" (campuran tanaman tebu dengan kedele) jauh lebih menguntungkan. Pola tanam tersebut lebih menguntungkan karena merupakan penanaman sistem tanam tumpangsari yang baik, dapat dilakukan lahan sawah dan atau tegal, secara nyata melakukan sistem pengendalian hama terpadu yang baik dan merupakan salah satu pola pertanian yang ramah lingkungan (Deptan,1984 dan Fatchan, 1995). Dengan menerapkan penanaman sistem Bule tidak saja meningkatkan pendapatan petani tetapi juga secara tidak langsung menghemat devisa negara, karena mengurangi impor kedele yang setiap tahun dilakukan oleh pemerintah Indonesia (Deptan, 1978).

Page 1 of 1 | Total Record : 8