cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2013)" : 218 Documents clear
Analisis Orientation Distribution Function (ODF) Unsur Nb dan Senyawa Intermetalik Superkonduktor Nb3Sn Kholifatul Aniswatin; Doty Dewi Risanti; Andika Widya Pramono
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.512 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3477

Abstract

Perkembangan tekstur pada bahan polikristal memngkinkan peningkatan sifat fisik bahan, diantaranya superkonduktivitas. Penelitian ini menggunakan pelet Nb-Sn hasil metalurgi serbuk dengan dan tanpa sintering. Sintering dilakukan pada temperatur 700 oC selama 96 jam. Tekstur Niobium (Nb) murni dan senyawa intermetalik Nb3Sn diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan XRD Brüker D8 Advance Goniometer berupa data pole figure, invers pole figure dan orientation distribution function (ODF). Secara umum, melalui analisa pole figure, proses sintering mengakibatkan perubahan orientasi distribusi kristal dari orientasi simetris atau acak menjadi orientasi pada arah tertentu. Dari hasil analisa ODF, diperoleh bahwa terdapat kecenderungan orientasi pada arah tertentu akibat kompaksi uniaxial. Disamping itu, terjadi perubahan intensitas dan perubahan orientasi akibat proses sintering. Berdasarkan analisa ODF, diketahui bahwa Niobium memiliki komponen utama Brass S dan Copper dan komponen penunjang Cube dan Goss. Intensitas maksimal komponen utama tersebut beralih pada S, Brass, Copper saat dilakukan sintering. Sedangkan Nb3Sn memiliki komponen utama Copper, S, Brass dan komponen penunjang Cube dan Goss. Setelah sintering, intensitas maksimal beralih pada komponen Copper, Goss dan Brass dengan intensitas Copper menurun dari 50,4 menjadi 39,3 multiple of a random distribution (m.r.d).
Pengujian Parameter Biji Sorghum dan Pengaruh Analisa Total Asam Laktat dan pH pada Tepung Sorghum Terfermentasi Menggunakan Baker’s Yeast (Saccharomyces Cereviceae) Amelinda Angelina; Theresia Rosiana; Nur Istianah; Setiyo Gunawan; Anil Kumar Anal
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.439 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3493

Abstract

Sorghum, Sorghum bicolor (L) Moench, adalah sereal paling penting kelima setelah beras, jagung, barley dan gandum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan substitusi biji sorghum terhadap tepung terigu bisa mencapai 50-75%, walaupun nilai protein pembentuk glutennya tidak dapat menyamai tepung terigu. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh waktu fermentasi terhadap penurunan total asam laktat, nilai pH, dan jumlah total khamir (baker’s yeast) tanpa menggunakan nutrient kimia tambahan . Analisa komposisi biji sorghum yang diinvestigasi dalam keadaan wet basis dari laboratorium menghasilkan kadar air, lemak, serat, protein, karbohidrat, dan abu masing-masing sebesar 12.85%, 3.10%, 0.56%, 5.87%, 75.82%, dan 1.79%. Untuk nilai energi total dengan metode bomb kalori didapatkan 4375.94 kcal/kg. Pengujian biji sorghum menghasilkan C-organik sebesar 12,47%. Berdasarkan analisa didapatkan hasil optimal dalam membuat tepung sorghum terfermentasi pada proses fermentasi 60 jam dengan jumlah yeast yang dihasilkan 1,7 x 105 sel/ml dengan kondisi yield % asam laktat 0,214%.
Pengambilan Minyak Atsiri dari Bunga Kenanga Menggunakan Metode Hydro-Distillation dengan Pemanas Microwave Moch. Aris Setyawan; Mohammad Zakariyya; mahfud mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.43 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3495

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses penyulingan minyak kenanga dengan menggunakan metode Hydro-distillation dengan pemanas microwave. Selain itu, juga untuk mempelajari beberapa faktor yang berpengaruh seperti kondisi operasi daya microwave, rasio massa bahan terhadap pelarut air, dan kondisi bunga segar atau layu. Metode pemisahan minyak atsiri yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Hydrodistillation dengan pemanas microwave dalam keadaan atmosferik. Pertama-tama sampel bunga segar (S) dan bunga layu (L) yang telah dirajang dimasukkan ke dalam labu distiller bervolume 1000 mL sebanyak 100, 150, dan 200 gram untuk sampel bunga segar dan layu. Kemudian ditambahkan 300 mL aquades, sehingga rasio massa terhadap volume distiller yang digunakan berturut-turut adalah 0,4; 0,45; dan 0,5. Kondensor dialiri dengan air dan mulai dilakukan pemanasan menggunakan alat microwave pada daya 264, 400, dan 600 Watt. Proses pemisahan dilakukan selama 180 menit dengan pengamatan setiap 20 menit. Pada setiap pengamatan akan diperoleh minyak atsiri dan air distilat. Air distilat dimasukkan kembali ke dalam labu distiller dengan volume secukupnya untuk merendam bunga yang masih didalam labu. Sedangkan, minyak atsiri yang diperoleh ditampung dan diukur volume serta massanya, dan disimpan di dalam botol kecil. Dari hasil penelitian diperoleh data % rendemen, dan sifat fisik minyak kenanga berupa specific gravity, indeks bias, bilangan asam dan kadar β-caryophyllene dalam minyak kenanga. Dan dari data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa (1) metode Microwave Hydro distillation dapat digunakan untuk mengambil minyak atsiri dalam bunga kenanga, (2) minyak kenanga yang dihasilkan melalui metode Microwave Hydrodistillation memiliki properti fisik (indeks bias, specific gravity, dan bilangan asam) yang memenuhi SNI, (3) bunga kenanga segar memiliki % rendemen lebih besar daripada bunga layu, dan (4) untuk mendapatkan % rendemen yang maksimum, rasio yang tepat antara masa bahan beserta pelarut dibandingkan dengan volume distiller adalah 0,4 dengan daya 400 watt.
Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium sp.) dan Jerami (Oryza sativa) Melalui Reaksi Nitrasi Adly Rahmada; Putri Pramodya; Pantjawarni Prihatini; Mahfud Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.343 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3497

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bahan baku selulosa pada proses pembuatan nitroselulosa dari bahan selulosa kapas dan jerami dengan reaksi nitrasi, mempelajari pengaruh waktu dan suhu reaksi terhadap kualitas nitroselulosa yang dihasilkan, dan membandingkan kualitas nitroselulosa yang dihasilkan dari selulosa kapas dan jerami. Prosedur penelitian ini adalah menimbang dan memasak bahan baku dengan menggunakan larutan pemasak NaOH. Langkah selanjutnya adalah mereaksikan HNO3 dengan H2SO4 dan mengkondisikan reaktor sesuai dengan variabel suhu.Langkah berikutnya adalah mereaksikanbahan bakukapas atau jerami sesuai dengan variabel waktu. Langkah terakhir adalah mencucinya dengan aquadest dan larutan NaHCO3. Kemudian dilakukan pengukuran uji kelarutan untuk memperoleh persen yield dan uji FTIR. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah bahan baku selulosa jerami menghasilkan persen yield nitroselulosa produk lebih besar daripada kapas. Persen yield nitroselulosa jerami mencapai 86% sedangkan untuk kapas 68%. Pengaruh waktu reaksi nitrasi terhadap produk nitroselulosa didapatkan semakin bertambah waktu reaksi maka menghasilkan yield dan kandungan gugus nitro semakin besar. Sedangkan untuk pengaruh suhu reaksi didapatkan  semakin rendah suhu reaksi maka persen yield dan gugus nitro yang diperoleh semakin besar. Perbedaan kualitas nitroselulosa dari bahan baku kapas dan jerami ditunjukkan dengan substitusi gugus nitro dari produk nitroselulosa, maka dapat diketahui bahwa nitroselulosa dari kedua bahan baku memiliki kualias yang hampir sama dengan dua substitusi gugus nitro.
Simulasi Aplikasi Dynamic Vibration Absorber Sebagai Peredam Getaran Pada Mesin Ignitor Cooling Fan Di PT. PJB UP Gresik Cathlea Selly Ersandi; Yerri Susatio
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.206 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3501

Abstract

Semua mesin yang sedang beroperasi pasti akan menghasilkan getaran (vibrasi). Namun seiring dengan bertambahnya usia mesin mengakibatkan getaran yang semakin besar dapat menyebabkan kerusakan pada konstruksi mesin itu sendiri dan pondasi yang menopang mesin tersebut. Untuk dapat meredam getaran pada mesin tersebut dapat dilakukan dengan menambahkan peredam getaran untuk meminimalkan gaya eksitasi yang dihasilkan mesin. Salah satu metode peredaman getaran adalah dengan memasangkan Dynamic Vibration Absorber (DVA) pada bagian sistem tersebut. Pada tugas akhir ini akan dilakukan simulasi peredaman getaran menggunakan Dynamic Vibration Absorber (DVA) pada mesin Ignitor Cooling Fan di PT. PJB UP Gresik. Simulasi dilakukan dengan mengubah nilai parameter DVA yaitu m, k dan c sehingga didapatkan respon sistem yang terbaik yakni memiliki nilai amplitudo simpangan yang paling rendah. Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan diketahui bahwa semakin besar nilai massa maka semakin kecil amplitudo, sebaliknya semakin besar nilai konstanta pegas (k) dan redaman (c) maka semakin besar nilai amplitudonya. Respon optimumnya berada nilai amplitudo simpangan terendah 0,286. Nilai parameter getaran pada respon tersebut adalah pada massa (M) 500 kg, konstanta pegas (k) 3000 N/m dan redaman (c) 400 N.s/m. Dimana pada nilai paremeter tersebut dapat menurunkan amplitudo simpangan sebesar 63,84%.
Ekstraksi Minyak Atsiri Dari Akar Wangi Menggunakan Metode Steam - Hydro distillation dan Hydro distilation dengan Pemanas Microwave Maulana M Al Hanief; Halim Al Mushawwir W; mahfud mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.005 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3518

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh minyak atsiri dari akar wangi dengan modifikasi metode steam-hydro distillation dan hydro distillation yaitu menggunakan pemanasan microwave kemudian membandingkan hasilnya dengan penelitian sebelumnya. Modifikasi ini diharapkan lebih efisien dalam masalah lama penyulingan dan kualitas serta kuantitas rendemen minyak yang lebih baik dan banyak. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu steam-hydro distillation dan hydro distillation dengan pemanfaatan gelombang mikro. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah akar wangi jenis pulus wangi yang tumbuh di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Variabel yang digunakan adalah bahan baku yang dicacah dan bahan baku utuh dengan variasi massa bahan 50 gr, 60, gr, 70 gr, 80 gr, dan 90 gr dengan pelarut air sebanyak 450 ml dalam labau distiller berukuran 1000 ml. Lama penyulingan adalah lima jam dengan pengamatan tiap 30 menit serta daya yang digunakan adalah 400 Watt. Analisa terhadap hasil minyak atsiri yang diperoleh antara lain analisa GC-MS, spesific gravity, indeks bias, dan bilangan asam. Hasil dari penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang tidak memanfaatkan gelombang mikro. Dari hasil penelitian diperoleh % rendemen kumulatif, sifat fisik, sifat kimia, dan kandungan komponen minyak dari metode steam-hydro distillation lebih baik dibandingkan metode hydro distillation ditandai dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan SNI.  Sementara itu jika dibandingkan dengan metode terdahulu dapat disimpulkan bahwa penggunaan gelombang mikro lebih efisien dalam waktu dan kuantitas serta kualitas minyak yang lebih baik dibandingkan tanpa penggunaan gelombang mikro
Sintesis Natrium Silikat dari Lumpur Lapindo sebagai Inhibitor Korosi Ahmad Fauzan Adziimaa
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (898.528 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3533

Abstract

Lumpur Lapindo mempunyai potensi yang cukup besar untuk dijadikan sebagai sumber silika di Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan sintesis senyawa natrium silikat dari silika lumpur Lapindo sebagai inhibitor korosi. Sintesis natrium silikat dilakukan dengan mereaksikan silika hasil ekstraksi dengan natrium hidroksida (NaOH) 7M. Pengujian efisiensi inhibitor natrium silikat dilakukan pada larutan lumpur Lapindo suhu 100oC dan larutan garam NaCl 3,5% suhu kamar. Sampel uji korosi yang digunakan adalah nodular ductile cast iron yang biasa digunakan pada pipa air. Hasil eksperimen dengan uji XRD menunjukkan bahwa silika hasil ekstraksi adalah berbentuk amorf. Pengujian FTIR menunjukkan natrium silikat memiliki gugus fungsi  Si-O(Na)  dan O-Si-O yang muncul pada bilangan gelombang 954,44 cm-1 dan 876,63 cm-1. Hasil uji korosi menunjukkan efisiensi optimal sebesar 60,73% dalam larutan lumpur Lapindo dan 42,37% dalam larutan NaCl 3,5%. Penambahan natrium silikat hingga 6 ml dan 4 ml dapat efektif menurunkan laju korosi pada pipa ductile cast iron dalam larutan lumpur Lapindo dan NaCl 3,5%.
Pembuatan Biodiesel dari Minyak Nyamplung (Calophyllum inophyllum L) dengan Reaksi Transesterifikasi Menggunakan Katalis K2O/H-Za Berbasis Zeolit Alam Archita Permatasari; Wahyu Mayangsari; Ignatius Gunardi
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.505 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3537

Abstract

Kebutuhan dunia akan minyak bumi telah mencapai 10.000 juta ton pertahun. Eksploitasi secara berlebihan dan berkepanjangan mengakibatkan cadangan minyak bumi terus berkurang, dimana hal tersebut dapat diatasi dengan sumber energi alternatif terbarukan seperti biodiesel. Katalis yang digunakan adalah K2O/H-Za dengan loading KI 1%, 2%, 4% dan 6%. Minyak nyamplung melalui proses esterifikasi kemudian dilakukan proses transesterifikasi dengan katalis K2O/H-Za dengan variabel berat terhadap minyak sebesar 5%, 10%, 15% dan 20% dan suhu 500C, 600C dan 700C. Dari penelitian ini didapatkan bahwa semakin tinggi % loading KI, % yield juga semakin tinggi, dimana % yield tertinggi sebesar 32,301% dengan loading KI 6%. Massa katalis terbaik didapatkan pada variabel 10% massa minyak dengan % yield 36,807%. Semakin tinggi suhu reaksi, % yield biodiesel yang dihasilkan semakin tinggi, dengan % yield tertinggi pada suhu reaksi 700C sebesar 36,807%. Kondisi reaksi transesterifikasi terbaik adalah katalis dengan loading KI 6%, massa katalis 10% massa minyak dan pada suhu 700C. Namun berdasarkan densitas dan viskositasnya, biodiesel minyak nyamplung dengan katalis K2O/H-Za tidak memenuhi SNI 04-7182-2006 karena % yield biodiesel yang dihasilkan kecil.
Pemisahan dan Pemurnian Phthalic Acid Ester dari Minyak Nyamplung William Ekaputra Taifan; Hadryan Ivander; Setiyo Gunawan
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.279 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3553

Abstract

Minyak nyamplung dikenal sebagai minyak yang tidak dapat dikonsumsi. Oleh sebab itu, penelitian tentang minyak ini hanya fokus pada konversi minyak menjadi biodiesel. Pada penelitian ini, kami berusaha untuk memisahkan resin beracun dari fraksi metanol menggunakan ekstraksi pelarut diikuti kolom kromatografi. Resin beracun ini diidentifikasi sebagai phthalic acid ester (PAE). PAE ini biasanya digunakan sebagai zat aditif di industri polimer. Minyak nyamplung mengandung 1,8% PAE, yang masih jauh melebihi nilai ambang batas. Isolasi PAE dari minyak ini diharapkan dapt mengubah minyak yang tidak dapat dikonsumsi menjadi suplemen makanan yang bernilai. Proses isolasi PAE dimulai dengan memisahkan senyawa yang diinginkan dari lipid menggunakan ekstraksi pelarut bertingkat dengan metanol dan n-heksan. Analisa mass spectra dari fraksi pertama dan fraksi kedua metanol menunjukkan kandungan PAE sebesar 60% dan 6% pada tiap fraksi. Fraksi heksan tidak mengandung PAE. PAE yang terkandung pada fraksi metanol diisolasi lebih lanjut dari asam lemak menggunakan liquid column chromatography dengan n-heksan – etil asetat sebagai mobile phase. Bis- 2ethylhexyl phthalate diidentifikasi pada ketiga fraksi sesuai dengan hasil analisa GC-MS. Fraksi pertama diambil pada kondisi mobile phase 5% etil asetat, sedangkan fraksi kedua merupakan campuran 5% etil asetat dan 10% etil asetat. Fraksi ketiga diambil pada kondisi mobile phase 10% etil asetat mengandung PAE sebesar 98%. Fraksi keempat merupakan campuran 10% dan 15% mobile phase dan mengandung PAE sebesar 97%. Akhirnya, kandungan PAE pada fraksi metanol sebesar 58%. Dari hasil analisa, dapat disimpulkan bahwa mobile phase yang optimum untuk kromatografi adalah 10- 15% etil asetat dalam n-heksan.
Pengeringan Low Rank Coal Dengan Menggunakan Metode Pemanasan Tanpa Kehadiran Oksigen Lutfi Al Baaqy; Genta Arias; M. Rachimoellah
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.411 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh ukuran partikel batubara dan kondisi operasi (temperatur) pengeringan terhadap heating value dan persentase removal dari moisture content batubara. Batubara yang digunakan pada penelitian ini berasal dari Kelurahan Batuah KM.32 Samarinda Seberang. Penelitian ini dimulai dengan tahap persiapan meliputi penyeragaman ukuran batubara dan persiapan alat pengeringan. Batubara yang telah seragam ditimbang seberat 200 gram, selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki pemanas untuk dipanaskan sesuai dengan variabel temperatur. Pemanasan yang dilakukan disertai dengan aliran gas Nitrogen untuk mencegah terjadinya oksidasi. Batubara yang telah dikeringkan selanjutnya dianalisa kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, kadar karbon tetap dan nilai kalornya. Pada penelitian ini temperatur mempunyai peran penting pada pengurangan moisture content dan kenaikan heating value dari batubara. Batubara dengan ukuran lolos 4-10 mesh memiliki nilai kalor dan moisture removal lebih besar. Temperatur pengeringan yang optimal pada 150°C sedangkan dekomposisi volatile matter mulai terjadi pada temperatur 200°C. Luas permukaan batubara menjadi tidak efektif pada penelitian ini, sedangkan rongga antar partikel batubara menjadi faktor penting dalam transfer massa batubara selama proses pengeringan. Pengurangan moisture content batubara terbukti dapat meningkatkan nilai kalor batubara