cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2017)" : 362 Documents clear
Penurunan BOD dan COD Limbah Cair Industri Batik Menggunakan Karbon Aktif Melalui Proses Adsorpsi secara Batch Nikmatul Rochma; Harmin Sulistyaning Titah
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26300

Abstract

Industri tekstil merupakan pendukung pertumbuhan ekonomi di Kota Sidoarjo. Semakin tinggi permintaan tekstil batik, dapat meyebabkan peningkatan yang seimbang antara produksi dan limbah produksi. Kandungan limbah batik dengan zat organik seperti BOD dan COD yang tinggi, dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi karbon aktif batu bara pada proses adsorpsi. Karbon diaktivasi terlebih dahulu, bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja absorben selama proses adsorpsi. Aktivator yang digunakan adalah larutan kimia asam kuat-HCL. Penelitian ini menggunakan variasi absorben 86 gram, 190 gram, dan 278 gram. Sedangkan waktu kontak yang digunakan 2,5 jam dan 5 jam. Penelitian skala laboratorium ini menggunakan alat yang sederhana namun bersifat aplikatif dengan menggunakan botol bekas air mineral. Berdasarkan proses adsorpsi yang dilakukan, efisiensi penyisihan COD terbesar adalah 16.444,08 mg/L. Dengan persentase penyisihan sebesar 98,74 % pada waktu kontak 2,5 jam. Sedangkan efisiensi penyisihan BOD terbesar adalah 1.640,70 mg/L. Dengan persentase penyisihan sebesar 92,30 % pada waktu kontak 2,5 jam. Jumlah adsorben yang menghasilkan nilai efisiensi penyisihan tersebut adalah sebesar 190 gram. Didapatkan juga isoterm yang paling tepat adalah isoterm BET. Dengan nilai Y =0,5881ln(x) + 2,22 dan nilai Regresinya (R2) 0,8295. Berdasarkan perhitungan isoterm model BET, proses adsorpsi yang terjadi adalah adsorpsi secara fisika dan multilayer. Setelah proses adsorpsi akan dilakukan analisa karbon menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Untuk mengetahui perbedaan permukaan  sebelum dan sesudah proses adsorpsi dilakukan. Hasil Analisa SEM menunjukkan bahwa rongga  yang mulanya masih kosong telah tertutupi oleh adsorbat yang teradsorpsi. Adsorpsi terjadi pada multilayer pada pori karbon aktif yang terlihat berdasarkan hasil foto SEM. Kesimpulannya, karbon aktif ini dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan zat organik BOD dan COD pada limbah cair industri batik
Analisa Perubahan Ionosfer Akibat Gempa Bumi Sumatra Barat Tanggal 2 Maret 2016 Febrian Adi Saputra; Mokhamad Nur Cahyadi
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.28 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26469

Abstract

Pada saat gempa bumi terjadi, ada tiga jenis gelombang yang dihasilkan, yaitu : (1) Gelombang Acoustic (kecepatan 1 km/s)  yang dihasilkan dekat dari pusat gempa bumi, gelombang tersebut menyebar dan naik hingga ketinggian lapisan F di ionosfer dalam waktu 10 menit atau lebih. (2) Gelombang gravity (kecepatan 0.3 km/s) yang dihasilkan dari gelombang tsunami akibat dari gempa bumi yang besar, dan (3) Gelombang Rayleigh (kecepatan 4 km/s) yang dihasilkan dari gelombang permukaan dan merambat menjauh mengelilingi bumi dari pusat gempa bumi. Gelombang Acoustic yang dihasilkan secara tegak lurus dari kerak bumi selama gempa merambat ke ionosfer,  lalu membuat penyimpangan kerapatan elektron. Fenomena ini terdeteksi sebagai CIDs (Coseismic Ionosphere Disturbances), yaitu fluktuasi TEC yang terjadi 15 menit hingga 1 jam setelah gempa terjadi. Akibat dari penyimpangan tersebut , gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh satelit GNSS akan mengalami delay ketika melewati ionsfer kira-kira 300km dari permukaan bumi. Variasi ionosfer diamati pada saat time-delay ini berdasarkan kuantitas Total Electron Content (TEC). Nilai TEC dinyatakan dalam TECU, dimana 1 TECU sama dengan 1016 elektron/m2. Nilai anomali TEC tersebut akan menggambarkan besaran gangguan akibat adanya gempa. Indonesia sebagai negara yang sering terjadi gempa, perlu dilakukan pemantauan untuk mengetahui perubahan atmosfer akibat gempa, salah satunya yaitu dengan analisa TEC pada lapisan ionosfer. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perubahan TEC dua hari sebelum, saat, dan dua hari sesudah terjadinya gempa bumi di Sumatra Barat pada tanggal 2 Maret 2016 dengan metode pengolahan data GNSS dari stasiun CORS milik Badan Informasi Geospasial (BIG) yang berada di daerah Sumatra, yaitu stasiun CAIR, CBKT, CPAR, CPDG, dan CSEL. Hasil dari pengolahan data menunjukkan anomali TEC muncul pada waktu 11 – 15 menit setelah gempa dengan besar anomali 1,5 – 3,5 TECU yang direkam oleh satelit GPS nomor 17 dan 0,5 – 1,7 TECU yang direkam oleh satelit Glonass nomor 14.
Pengaruh Temperatur Austenisasi dan Proses Pendinginan Terhadap Strukturmikro dan Proses Pendinginan Baja Paduan 05CCrMnSi Kharisma Yuko Rasyidy; Suwarno Suwarno
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.527 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26796

Abstract

Penelitian ini mencari pengaruh temperatur austenisasi dan proses pendinginan terhadap baja paduan 05CcrMnSi. Baja paduan ditempa terlebih dahulu untuk mengurangi cacat porositas yang diakibatkan oleh proses pengecoran. Perlakuan panas pada penilitian ini meliputi pemanasan spesimen sampai temperatur austenit stabil (800oC, 850oC, dan 900oC) dan ditahan selama 1 jam kemudian didinginkan dengan tiga cara yaitu, pendinginan di air, udara, dan dapur. Pengujian terhadap spesimen meliputi pengamatan strukturmikro, pengujian kekerasan, dan ketangguhan impak. Hasil penempaan menunjukkan bahwa intensitas porositas dan ukuran porositas berkurang. Pengamatan strukturmikro menunjukkan bahwa dengan pendinginan di udara ditemukan strukturmikro martensit. Didapatkan strukturmikro perlit dan ferit pada proses pendinginan di dapur sedangkan pada proses pendinginan di air didapatkan strukturmikro martensit dan austenit sisa. Pada pendinginan di air, jumlah austenit sisa mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya temperatur austenisasi. Nilai kekerasan tertinggi didapatkan dari proses pendinginan di air, baik pada temperatur austenisasi 800oC, 850oC, maupun 900oC. Sementara itu nilai kekerasan terendah didapatkan oleh proses pendinginan di dapur. Pada ketiga proses pendinginan, tingginya temperatur austenisasi tidak berpengaruh terhadap nilai kekerasan spesimen. Dalam pengujian ketahanan impak, nilai impact strength dimiliki oleh spesimen dengan proses pendinginan di air kemudian diikuti oleh spesimen dengan proses pendinginan dapur dan udara.
Minimasi Waste dan Lead Time Pada Proses Produksi Leaf Spring Dengan Pendekatan Lean Manufacturing Riza Nur Madaniyah; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.046 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26863

Abstract

Perusahaan leaf spring (PLS) adalah perusahaan yang memproduksi  leaf spring di Indonesia. Perusahaan ini mengalami beberapa permasalahan seperti terjadinya complaint customer dan internal defect. Dimana kedua permasalahan tersebut tidak sejalan dengan target perusahaan. Sehingga untuk dapat mencapai target yang diinginkan PLS amatan, maka diperlukan sebuah pendekatan untuk mengetahui berbagai aktivitas yang bernilai tambah, waste yang terjadi serta lead time proses produksi. Salah satunya dengan pendekatan lean manufacturing. Dengan strategi lean, perusahaan diharapkan mampu mengurangi terjadinya waste dan mengurang lead time proses produksi serta mampu meningkatkan rasio aktivitas yang bernilai tambah. Kondisi proses produksi leaf spring jenis multi leaf spring lokal pada perusahaan amatan akan digambarkan dalam value stream mapping. Waste yang terjadi akan diidentifikasi menggunakan metode waste assessment model, lalu dilakukan pemetaan secara detail menggunakan VALSAT dan analisis akar penyebabnya dengan root cause analysis (5 why), serta mengadopsi perhitungan RPN pada FMEA untuk mencari nilai RPN tertinggi dari akar penyebab hasil 5 Why. Pada kondisi awal, lead time yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 100 unit multi leaf spring lokal adalah 901.64 menit, serta waiting 651.68 menit. Sedangkan pada kondisi setelah perbaikan adalah total lead time sebesar 824.97 menit dan waiting 416.66 menit. Sehingga dengan perbaikan yang diusulkan dapat menurunkan lead time 8.5% dan penurunan waiting 36.06%.
Reduksi Waste pada Proses Produksi Kacang Garing Medium Grade dengan Pendekatan Lean Six Sigma Ikha Sriutami; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.916 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26882

Abstract

Kacang Garing merupakan produk pertama dan menjadi salah satu produk unggulan dari sebuah Perusahaan Kacang (PK). Kacang garing memiliki tiga jenis varian produk, yaitu Kacang Garing, Garlic, dan Sangrai. Masing-masing varian tersebut terbagi menjadi dua tingkatan kualitas, yaitu kualitas first grade dan kualitas medium grade. Dalam proses produksi Kacang Garing medium grade, masih sering ditemukan beberapa produk yang defect. Terdapat lima jenis defect, yaitu berat gramatur yang tidak sesuai, kemasan terlipat, end seal bermasalah, long seal bermasalah, dan kemasan bocor. Adanya defect mengindikasikan adanya waste dalam proses produksi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma. Value Stream Mapping digunakan untuk menggambarkan aliran fisik dan informasi yang terjadi pada proses produksi. Berdasarkan identfikasi waste yang telah dilakukan, didapatkan waste kritis adalah waste defect. Hasil dari kapabilitas proses menunjukkan nilai level sigma untuk defect gramatur tidak sesuai, kemasan terlipat, dan end seal bermasalah masih sangat rendah, yaitu 2,69; 2,21; dan 2,24. Sedangkan nilai level sigma untuk defect long seal bermasalah dan kemasan bocor adalah 3,02 dan 3,45. Kemudian dilakukan analisis akar penyebab waste untuk kelima defect tersebut dengan menggunakan 5 whys. Dari semua akar penyebab waste, dipilih akar penyebab yang paling kritis dengan menggunakan matriks penilaian risiko. Rekomendasi perbaikan diberikan untuk mengurangi terjadinya akar permasalahan tersebut. Apabila rekomendasi tersebut diterapkan maka akan terjadi peningkatan level sigma.
Reduksi Cacat pada Produk Kaca Lembaran Dengan Metode Six Sigma Milatul Afiah; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.107 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26885

Abstract

Perusahaan Flat Glass (PFG) merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi kaca lembaran dengan proses pengambangan (floating process). Perusahaan ini memiliki tiga jenis produk kaca lembaran (indo clear, panasap dan stopsol). Perusahaan Flat Glass (PFG) berupaya untuk menghasilkan produk bermutu tinggi. Dalam memenuhi permintaan, perusahaan ini memproduksi kaca lembaran di line produksi A1 dan line produksi A2. Namun, proses produksi tersebut masih menghasilkan produk defect yang tinggi. Perusahaan ini telah menetapkan Key Performance Indicator (KPI) mengenai tingkat kecacatan yaitu maksimal sebesar 4.48% dari jumlah produksi perusahaan. Akan tetapi, tingkat kecacatan masih melebihi target tersebut khususnya di line produksi A1. Jenis kaca Light Green Flat Glass (LNFL) merupakan produk yang dihasilkan dari line produksi A1 dengan tingkat kecacatan melebihi batas KPI. Setelah dilakukan perhitungan sigma level, didapatkan nilai hanya sebesar 3.63 sigma. Dari analisis pareto chart didapatkan tiga jenis defect kritis yaitu cullet defect, chipping defect dan bubble defect. Masing-masing jenis defect kritis tersebut dicari akar permasalahannya menggunakan Root Cause Analysis (RCA) dan dicari akar permasalahan kritis menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Kemudian, dilakukan usulan-usulan perbaikan terhadap akar permasalahan kritis. Lalu, dilakukan penentuan target perbaikan serta membandingkan sigma level antara kondisi eksisting dan target perbaikan.
Reduksi Produk Cacat pada Produksi Benang dengan Pendekatan Metode Lean Six Sigma Amelia Munawaroh; Moses Laksono Singgih
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.767 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26967

Abstract

Perusahaan amatan adalah perusahaan yang memproduksi benang dan kain berlokasi di Pandaan. Penelitian pada Tugas Akhir ini hanya difokuskan pada Departemen Spinning pembuatan benang. Terdapat permasalahan yang terjadi pada departemen tersebut, yaitu adanya pemborosan (waste) dilantai produksi dan adanya complain dari internal customer yaitu Departemen Weaving. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai sigma dari kondisi eksisting dan mengurangi jumlah defect yang berada di lantai produksi. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini disesuaikan dengan framework DMAIC. Fase Define dimulai dari identifikasi kondisi eksisting melalui penggambaran Value Stream Mapping (VSM), activity Classification Diagram, dan penyebaran kuisioner menggunakan AHP untuk identifikasi waste kritis, serta identifikasi dari macam-macam Critical To Quality (CTQ). Pemborosan yang paling sering terjadi pada lantai produksi adalah adanya defect. Fase Measure yaitu dimulai dengan penghitungan nilai sigma dan pemilihan defect yang kritis menggunakan pareto diagram. Dari hasil penelitian rata-rata nilai sigma pada proses produksi benang yaitu sebesar 3,5 sigma. Fase Analyze yaitu dengan dilakukan analisis akar permasalahan adanya defect dengan menggunakan tools Root Cause Analysis (RCA). Setelah itu, dirancang kuesioner Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang diisi oleh salah satu orang ahli di perusahaan untuk menilai tingkat severity, occurrence, dan detection dari masing-masing akar permasalahan hingga didapatkan nilai Risk Priority Number (RPN). Dari hasil penelitian didapatkan tiga akar permasalahan yang memiliki nilai RPN tertinggi yaitu proses perawatan dan pengecekan komponen mesin produksi benang kurang baik, operator kurang memperhatikan standardisasi dalam peraturan (setting) mesin, dan komponen mesin pada proses produksi mengalami aus. Pada fase Improve dibangun rekomendasi perbaikan sesuai dengan akar permasalahan tersebut. Rekomendasi perbaikan yang diusulkan adalah adanya pembuatan SOP yang baik dan benar serta ditempel pada setiap mesin produksi, pembuatan form pengontrolan kondisi mesin, dan adanya pengadaan pengawas lapangan serta pemberia training secara rutin kepada operator dengan interval 3 bulan sekali. Dengan adanya improvement tersebut, defect dapat direduksi sebesar 45,72% dan nilai sigma meningkat menjadi 3,77 sigma.
Analisa Pengaruh Perubahan Rapat Arus Terhadap Pembentukan Passive Layer Al2O3 pada Proses Hard Anodizing Material QQA-250/4, AMS 4037 Muhammad Alief Rizal Romadhoni; Agussalim Agussalim; Doty Dewi Risanti
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.804 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27075

Abstract

Hard anodizing merupakan salah satu perlakuan permukaan yang diberikan pada logam aluminium dengan memanfaatkan prinsip elektrolisis untuk membentuk lapisan pasif di atas permukaan logam dasar. Pada penelitian ini digunakan paduan aluminium 2024 T3, dimana material ini memiliki sifat mekanik material yang lebih kuat jika dibandingkan dengan aluminium murni, namun memiliki ketahanan korosi yang buruk diakibatkan kandungan unsur tembaga (Cu) pada campuran ini. Salah satu variabel yang mempengaruhi proses ini adalah rapat arus yang digunakan. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan 3 rapat arus, yaitu 2 A/dm2, 4 A/dm2, dan 6 A/dm2. Dari hasil penelitian yang didapatkan, nilai ketebalan, kekerasan, coating weight, dan ketahanan abrasi memiliki kecenderungan semakin tinggi pada setiap kenaikan rapat arus. Untuk sifat elektrokimia nilai Vcorr pada rapat arus 6 A/dm2 yang memiliki kecenderungan tahan terhadap terjadinya korosi yaitu sebesar -0,537 V dikarenakan kualitas oksida yang terbentuk memiliki porositas yang paling rendah. Kemudian untuk nilai Icorr didapatkan nilai paling kecil adalah pada rapat arus 4 A/dm2 dengan 7,82 x 10-9 A/cm2, hal tersebut mempengaruhi nilai laju korosi pada rapat arus ini menjadi yang paling rendah juga dengan nilai laju korosi sebesar 1,42 x 10-10 mm/yr. Berdasarkan penelitian ini, rapat arus 4 A/dm2 merupakan rapat arus yang paling optimum.
Studi Eksperimen Pengaruh Variasi Kecepatan Putar terhadap Temperatur dan Tensile Strength pada Friction Welding dengan Material High Density Polyethylene Miftahul Ahzabuddin; Yusuf Kaelani
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.534 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27192

Abstract

Pengelasan gesek atau disebut dengan friction welding adalah sebuah proses pengelasan solid-state dimana penyambungan terjadi oleh panas akibat perputaran permukaan bahan yang akan dilas terhadap permukaan lainnya di bawah pengaruh tekanan aksial (tekanan gesek dan tekanan tempa). Proses pengelasan ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan putar, durasi gesekan, tekanan aksial, sifat material dan kondisi permukaan benda kerja. Penelitian ini memvariasikan kecepatan putar sebesar 300 rpm, 520 rpm dan 750 rpm dalam durasi gesekan 15 detik dengan diberikan tekanan gesek sebesar 37,51 kgf/cm2 sampai mencapai temperatur tertentu, kemudian diberikan tekanan tempa sebesar 75,02 kgf/cm2. Material yang digunakan yaitu High density Polyethylene-300 (HDPE) Pengujian mekanik yang dilakukan adalah uji tarik dengan membandingkan HDPE yang disambung menggunakan lem perekat. Hasil penelitian ini kekuatan tarik terbaik didapatkan pada kecepatan 520 rpm sebesar 35,21 MPa dengan temperatur interface sebesar 70 °C. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan penyambungan lem. Temperatur pada jarak 7 mm merupakan daerah transisi antara terpengaruhi panas dengan temperatur lingkungan yang berpengaruh pada upset tertinggi sebesar 6 mm.
Studi Eksperimental Kedalaman Aus dan Koefisien Gesek Akibat Stick-Slip pada Reciprocating Wear Rahmat Raja Barita Siregar; Yusuf Kaelani
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.27208

Abstract

Dalam dunia industri sering ditemukan suku cadang yang mengalami gaya gesek statis dan kinetis. Perubahan gaya gesek dari statis ke kinetis disebut stick-slip friction. Pada daerah terjadinya stick-slip friction, dampak gaya gesek yang terjadi mempunyai nilai yang paling besar, sehingga fenomena stick-slip friction ini cukup berpengaruh terhadap umur pakai dari suatu material. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan variasi pembebanan terhadap keausan material dan nilai koefisien gesek saat terjadi fenomena stick-slip friction dengan menggunakan material pin baja ST-41 yang secara umum lebih mudah ditemukan di pasaran agar dapat bermanfaat secara lebih luas. Metode yang dilakukan adalah pengujian eksperimantal menggunakan tribometer tipe pin-on plate. Dari hasil penelitian ini didapatkan semakin besar pembebanan maka semakin besar keausan yang ditimbulkan oleh gesekan stick-slip. Selisih kedalaman titik gesekan stick-slip dan titik gesekan sliding pada pembebanan 20 N sebesar 39,5 μm  lebih kecil daripada pembebanan 30 N sebesar 40,5 μm, 30 N lebih kecil daripada 40 N sebesar 73 μm. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar pembebanan maka semakin besar keausan yang ditimbulkan oleh gesekan stick-slip. Nilai koefisien gesek pada area stick-slip dengan pembebanan 20 N sebesar 3.064677686, 30 N sebesar 2.624380797 dan 40 N sebesar 1.552499331 cenderung menurun seiring dengan meningkatnya besar pembebanan.