cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2" : 6 Documents clear
Faktor Kenyamanan Sirkulasi Pengunjung Pada Forest Walk Babakan Siliwangi Ditinjau Dari Segi Desain Ramp Reza Phalevi Sihombing; Widia Shofa Utami; Ferdio Ariatama Purwanto; Ilham Nurhadi
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3670

Abstract

Abstrak  Perkembangan sebuah kota terjadi dengan sangat pesat terutama di kawasan-kawasan strategis. Perkembangan ini ditunjang dengan adanya tuntutan dari kebutuhan masyarakat kota yang semakin beranekaragam macamnya terutama dalam hal kenyamanan dan pelayanan serta fasilitas infrastruktur yang ada di kota. Perubahan ini mempengaruhi semua komponen tatanan yang ada di dalamnya seperti ruang publik, pengaruh keberadaan ruang publik dan bangunan disekitarnya. Kebutuhan akan ruang publik untuk mewadahi suatu minat dan aktivitas pun sangat di perlukan. Kondisi Kota Bandung saat ini sudah memiliki banyak ruang publik yang terdapat di berbagai area. Babakan Siliwangi merupakan salah satu ruang publik yang berada di tengah Kota Bandung. Adanya suatu objek berupa jembatan (Forest Walk) pada area tersebut memberikan dampak yang signifikan, dimana pada mulanya berupa area passif kemudian berubah menjadi area aktif. Babakan Siliwangi (Forest Walk) yang kini menjadi ruang publik memerlukan standarisasi desain dalam segi keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjungnya, dikarenakan pengunjung tempat tersebut tidak hanya para remaja melainkan semua kalangan baik dari anak kecil sampai orang dewasa bahkan orang-orang penyandang disabilitas dapat bermain dan menikmati ruang publik ini. Forest Walk ini terdiri dari beberapa titik ramp yang memiliki elevasi berbeda – beda di tiap titiknya sehingga memiliki kemiringan dan tingkat kecuraman yang berbeda – beda pula, sehingga perlu ditinjau kembali mengenai standarisasi desain ramp yang berpengaruh terhadap kenyamanan para pengunjung. Kajian ini bertujuan untuk menganalisa desain ramp pada Forest Walk yang berpengaruh terhadap kenyamanan pengunjung serta mendapatkan perbandingan antara ramp yang sudah memiliki ukuran sesuai dengan standar dan yang kurang sesuai. Metoda penelitian yang digunakan pada kasus studi ini menggunakan metode kuantitatif. Metoda kuantitatif dengan cara mengukur ramp yang terdapat di Forest Walk lalu membandingkannya dengan standar ukuran ramp yang sudah ada. Kata kunci: ramp, standar ukuran ramp, Forest Walk, kenyamanan sirkulasi.
Studi Ruang Ergonomis pada Unit Hunian Rusunami Grand Asia Afrika Ghahzul Fikri A; Anggaraup Anggaraup P; Murdiono Siringoringo; Mamiek Nur Utami
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3691

Abstract

Abstrak Hunian vertikal sebagai solusi pemecahan masalah keterbatasan lahan di perkotaan, sehingga hunian di lahan perkotaan dibuat vertikal dengan luasan yang terbatas. Rumah susun Grand Asia Afrika merupakan hunian vertikal yang berada di perkotaan dan merupakan rumah susun sederhana milik (rusunami) dengan segmentasi kalangan menengah. Besaran luas unit yang tersedia sangat terbatas,sehingga aktifitas penghuninya tidak terpenuhi secara optimal. Untuk merancang sebuah bangunan rumah susun seorang arsitek memerlukan analisa studi ruang agar disetiap aktifitasnya dapat terpenuhi secara optimal. Oleh karena itu studi ruang menjadi elemen penting pada saat mendesain hunian vertikal di perkotaan. Ruang adalah tempat manusia untuk melakukan berbagai aktivitas. Agar mendapatkan sebuah ruang yang optimal, dalam proses analisa studi ruang harus memperhatikan beberapa hal yaitu studi antropometri dan studi ergonomi ruang. Dengan memperhatikan studi antropometri dan ergonomi pengguna ruang akan memperoleh sebuah ruang yang nyaman, efisien dan optimal sesuai aktifitas manusia. Dengan metode penelitian kuantitatif peneliti melakukan survey lapangan serta mengambil teori-teori sebagai acuan analisis. Hasil analisis menunjukan bahwa ketersiediaan ruang pada unit hunian ini belum memenuhi aktifitas pengguna secara optimal. Dalampenelitian ini penulis membuat sebuah usulan desain interior yang ergonomi agar segala aktifitas pengguna hunian dapat terpenuhi secara optimal. Kata kunci: Studi Ruang, Rusunami, Ergonomi, Fleksibilitas.
Pencahayaan Alami Dalam Desain Bukaan Fasad Kafe Kalpa Tree Bandung Gendis Dwi Rahma Widasari; Syntikhe Amanda Christie; Muhamad Rhizki Fadilah
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3662

Abstract

ABSTRAK Saat ini,banyak kafe di Kota Bandung yang sangat beragam serta mempunyai keunikan desain arsitektur tersendiri. Salah satu kafe yang diteliti adalah Kafé Kalpa Tree Dine & Chill,yang berlokasi di Jalan Kiputih No.37,Ciumbuleuit,Kota Bandung. Kafe ini mengandalkan cahaya matahari sebagai sumber pencahayaan alaminya. Melalui desain jendela atau bukaan tersebut secara tidak langsung tercipta pengaturan tata pencahayaan alami yang optimal pada kafe tersebut. Hal ini tampak terlihat juga minimnya penggunaan pencahayaan buatan di ruang makan kafe pada siang hari. Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan bangunan. Standar minimal sistem pencahayaan alami dalam suatu bangunan yaitu 250 - 300 lux. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan survey lapangan,pengumpulan data primer dan sekunder serta mengukur tingkat pencahayaan rata-rata suatu ruangan diukur menggunakan Luxmeter. Proses pengukurannya meliputi penentuan luas ruangan, dimensi jendela,penentuan Titik Ukur Samping 1 (TUS 1),Titik Ukur Samping 2 (TUS 2),Titik Ukur Utama 1 (TUU 1),dan Titik Ukur Utama 2 (TUU 2) , serta pengambilan data pengukuran dengan Software Ecotect. Lalu dari hasil pengukuran dan analisa tersebut dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) kemudian didapatkan hasil besaran pencahayaan alami pada Kafe Kalpa Tree telah memenuhi standar. Kata kunci: desain bukaan, kafe, dimensi, jendela, pencahayaan alami, luxmeter, ecotect ,SNI ABSTRACT This time many cafes in Bandung are very diverse and have their own unique architectural design. One of the cafes studied was the Café Kalpa Tree Dine & Chill, which is located on Jalan Kiputih No.37, Ciumbuleuit, Bandung City. This cafe relies on sunlight as its natural lighting source. Through the design of windows or openings indirectly created an optimal natural lighting arrangement in the cafe. This seems to be seen also the minimal use of artificial lighting in the cafe dining room during the day. Lighting is one of the important factors in building design. The minimum standard of natural lighting systems in a building is 250 - 300 lux. The study was conducted with quantitative and qualitative methods. Data collection techniques are by field surveys, primary and secondary data collection and measuring the average level of lighting of a room measured using Luxmeter. The measurement process includes determining the area of the room, window dimensions, determining the Side Measuring Points 1 (TUS 1), Side Measuring Points 2 (TUS 2), Main Measuring Points 1 (TUU 1), and Main Measuring Points 2 (TUU 2), and taking measurement data with Ecotect Software. Then from the results of the measurement and analysis compared to Standar Nasional Indonesia (SNI), it was then obtained that the amount of natural lighting in the Kalpa Tree Cafe had suitable the standards. Keywords: openings design, cafe, dimensions, windows, natural lighting, luxmeter, ecotect, SNI
Penerapan Konsep Rasionalisme Pada Rancangan Arsitektur Bangunan Masjid Salman Bandung Utami Utami; Rafika Ghassani; Nurman Fadhillah; Nadya Ghifani Syahputri
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3692

Abstract

ABSTRAK Arsitektur rasionalisme merupakan gaya arsitektur yang terbentuk pada awal abad ke-20 dengan memandang keindahan dari suatu bangunan akan timbul dari fungsi elemen-elemen dari bangunan tersebut, bukan dari pola keindahan arsitektur itu sendiri. Dalam artian, gaya ini lebih pada pemikiran yang logis (rasional) sehingga akan terbentuk suatu bangunan murni tanpa unsur-unsur hiasan, estetika, ataupun ornamen-ornamen seperti berbentuk komposisi balok, kubus dan sebagainya. Pada tahun 1960-an, literatur barat mulai masuk ke dunia pendidikan arsitektur di Indonesia. Karya-karya dan pemikiran-pemikiran para arsitek terkemuka seperti Walter Gropius, Frank Llyod Wright, dan Le Corbusier menjadi referensi normatif dalam diskusi di kelas dan latihan di studio, sehingga karakter pendidikannya menjadi lebih akademis. Hal ini menimbulkan munculnya gaya-gaya baru dalam dunia arsitektur di Indonesia, salah satunya dalam arsitektur masjid. Gaya tersebut terus berkembang dan muncul pula gaya kontemporer. Masjid Salman Bandung merupakan masjid kontemporer pertama di Indonesia yang dibangun pada tahun 1963. Masjid ini dibangun dengan konsep arsitektur yang berani tampil beda dalam arti mampu melepaskan diri dari unsur-unsur yang biasanya sebuah bangunan masjid identik dengan penggunaan kubah. Penerapan konsep rasionalisme pada Masjid Salman Bandung ini diteliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan rasionalistik melalui observasi secara langsung terhadap objek studi dan studi literatur yang berhubungan dengan objek studi. Analisis dilakukan mengacu pada data-data hasil observasi lapangan berdasarkan aspek arsitektural berupa bentuk dan elemen arsitektur. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa penerapan konsep rasionalisme pada rancangan arsitektur bangunan MAsjid Salman diterapkan dengan baik. Salah satunya adalah kesederhanaan bentuk Masjid Salman yang memiliki atap datar dengan material beton yang di ekspose. Kata kunci: arsitektur rasionalisme, elemen bangunan, arsitektur masjid, gaya kontemporer. ABSTRACT The architecture of rationalism is an architectural style that was formed in the early 20th century by looking at the beauty of a building that will arise from the function of the elements of the building, not from the pattern of the beauty of the architecture itself. In a sense, this style is more on logical (rational) thinking so that a pure building will be formed without ornamental, aesthetic, or ornamental elements such as beam composition, cube and so on. In the 1960s, western literature began to enter the world of architectural education in Indonesia. The works and thoughts of prominent architects such as Walter Gropius, Frank Llyod Wright, and Le Corbusier became normative references in class discussions and exercises in the studio, so that the character of his education became more academic. This raises the emergence of new styles in the world of architecture in Indonesia, one of which is in the architecture of the mosque. The style continues to grow and contemporary styles emerge. Salman Mosque Bandung is the first contemporary mosque in Indonesia which was built in 1963. This mosque was built with an architectural concept that dared to appear different in the sense that it was able to escape from the elements that usually a mosque building is identical to the use of domes. The application of the concept of rationalism to the Salman Mosque in Bandung was examined using descriptive qualitative and rationalistic methods through direct observation of the object of study and study of literature related to the object of study. The analysis is carried out referring to data from field observations based on architectural aspects in the form of architectural forms and elements. The results of the study also showed that the application of the concept of rationalism to the architectural design of the mosque of Masjid Salman was well applied. One of them is the simplicity of form from the Salman Mosque which has a flat roof with exposed concrete material. Keywords: architectural rationalism, building elements, mosque architecture, contemporary style
Perubahan Tatanan Ruang Dalam Terhadap Aksesibilitas dan Sirkulasi Pengguna Pada Bangunan Stasiun Bandung Riantiza Avesta; Ashri Farhana Dea; Billiandi Muhammad Fitri; Ahmad Tijani; Tasya Puspita Puspita
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3678

Abstract

AbstrakSebagai salah satu bangunan perhubungan dan perekonomian utama di Jawa Barat, Stasiun Kereta Api Bandung memiliki jumlah pengguna yang cukup tinggi, baik yang berasal dari kawasan Bandung Raya maupun dari luar Bandung. Oleh karena tingkat pertumbuhan ekonomi dan mobilitas di kota Bandung yang cukup pesat, maka bangunan stasiun yang pertama kali diresmikan pada tahun 1884 ini, mengalami beberapa perubahan maupun pengembangan dari segi bentuk bangunan dan fungsi ruang dalam bangunan, diantaranya adalah penambahan bangunan peron disebelah utara pada tahun 1909 oleh arsitek Belanda FJA Cousin yang menghadap Jl. Kebon Kawung, pemindahan muka stasiun utama dari bangunan peron selatan menuju bangunan peron utara pada tahun 1990, hingga perubahan tata cara pemesanan tiket dari loket manual menjadi digital (e-ticket) pada tahun 2013, yang mana perubahan-perubahan ini berpengaruh terhadap tatanan dan fungsi ruang dalam dan juga mempengaruhi alur sirkulasi dan aksesibilitas pengguna didalam stasiun. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif analitis meliputi metode kualitatif dan kuantitatif, pembahasan teori-teori berdasarkan studi literatur dan studi pustaka, observasi secara langsung, survey, dan data lapangan. Kata kunci: stasiun kereta api bandung, ruang dalam, sirkulasi dan aksesibilitas 
Identifikasi Babakan Siliwangi Sebagai Ruang Terbuka Publik Di Kota Bandung Dwi Kustianingrum; Fiqry Fadhilla; Fadhli Arifin Bachdar; Muhammad Agung Hidayat
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3689

Abstract

Abstrak Saat ini di Kota Bandung sedang gencar merevitalisasi atau mengembalikan fungsi ruang terbuka yang sebelumnya tidak aktif bahkan terbengkalai menjadi ruang terbuka publik aktif yang dapat menampung kegiatan baik secara individu maupun secara berkelompok. Salah satu ruang terbuka publik yang terdapat di kota Bandung adalah Babakan Siliwangi yang merupakan sebuah kawasan ruang terbuka publik yang direncanakan secara penataan kota dan arsitektural menjadi wadah untuk menampungberbagai aktivitas sosial masyarakat di kota Bandung, seperti aktivitas olahraga dan aktivitas rekreasi dengan cara menikmati keindahan alam dan suasana dari hutan kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ruang terbuka publik Babakan Siliwangi Bandung yang ditinjau berdasarkan fungsi, aktivitas, dan fitur dominan dengan metode penelitian deskriptif analitis. Hasil pembahasan dapat menggambarkan bahwa Babakan Siliwangi Bandung dapat berfungsi sebagai ruang terbuka publik berdasarkan pertimbangan fungsi, aktivitas, dan fitur dominan. Kata Kunci : Ruang Terbuka Publik, Fungsi, Aktivitas, Fitur Dominan, Babakan Siliwangi

Page 1 of 1 | Total Record : 6