cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3: September 2019" : 24 Documents clear
Tinjauan Kembali Mengenai Batasan Gradasi Agregat Kasar dalam Campuran Beton. (Hal. 118-125) Prasanti, Prilly Putri; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.55 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.118

Abstract

ABSTRAKPersyaratan gradasi agregat kasar pada SNI dinyatakan dalam modulus kehalusan. Modulus kehalusan yang disyaratkan untuk agregat kasar adalah 6,0–7,1. Batasan gradasi agregat kasar yang ditetapkan dalam SNI seringkali tidak dipenuhi dalam pelaksanaan pekerjaan beton, terutama jika menggunakan agregat kasar berukuran 40 mm, yang mengakibatkan modulus kehalusan agregat kasar lebih besar dari 7,1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai batasan gradasi agregat kasar untuk mengetahui pengaruh yang diakibatkan bila agregat kasar melampaui batasan rentang modulus kehalusan yang telah ditetapkan. Penelitian dilakukan dengan membuat campuran beton menggunakan cara Dreux untuk kuat tekan rencana 30 MPa, nilai slump rencana 30–60 mm dan 60–180 mm, serta modulus kehalusan agregat kasar 6,0; 6,5; 7,0; 7,5; dan 8,0. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa campuran beton dengan modulus kehalusan agregat kasar di atas 7,0 tidak berpengaruh terhadap kuat tekan beton, maka batasan gradasi agregat kasar dapat dikembangkan dari 7,1 hingga 8,0.Kata kunci: batasan gradasi, modulus kehalusan, agregat kasar, kuat tekan beton ABSTRACT The requirements of coarse aggregate gradation in SNI stated with the fineness modulus. The fineness modulus required for coarse aggregates is 6.0–7.1. The limitations set in SNI are often not met in the implementation of concrete work, especially if using 40 mm aggregates, resulting in fineness modulus greater than 7.1. Further research on the coarse aggregate gradation limits is needed to determine the effects when it exceeded. The research is done by making concrete mixtures using Dreux's method with concrete compressive strength design  30 MPa, slump design 30–60 mm and 60–180 mm, as well as the coarse aggregate fineness modulus 6.0, 6.5, 7.0, 7.5, and 8.0. The results reveal that concrete mixtures with coarse aggregate fineness modulus above 7.0 do not affect concrete compressive strength, so the coarse aggregate gradation limitation can be extended from 7.1 to 8.0.Keywords: gradation limits, fineness modulus, coarse aggregate, concrete compressive strength
Kajian Perbandingan Kinerja Struktur Dinding Geser Komposit Berdasarkan Tingkatan Gedung. (Hal. 20-29) Islamy, Dimas EL; Desmaliana, Erma; Diredja, Nessa Valiantine
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.996 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.20

Abstract

ABSTRAKSalah satu metode untuk meminimalisir simpangan horizontal yang terjadi akibat gaya gempa pada struktur adalah dengan pemasangan dinding geser. Dinding geser mampu memberikan kekuatan dan kekakuan pada struktur gedung. Pada teknologi terkini, dinding geser komposit pelat baja mampu menggabungkan kelebihan dan mengkompensasi kekurangan dinding geser beton dan pelat baja.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan dinding geser komposit terhadap tingkatan struktur gedung. Penelitian ini dilakukan pada tiga pemodelan struktur gedung dengan jumlah lantai yaitu 10 lantai, 20 lantai, dan 30 lantai dengan menggunakan metode respon spektrum dan analisis beban dorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simpangan atap yang terjadi pada struktur dengan dinding geser lebih kecil dibandingkan struktur tanpa dinding geser. Berdasarkan analisis beban dorong, penggunaan dinding geser komposit pelat baja dengan tebal 110 mm untuk tiga pemodelan berada pada tingkatan yang sama yaitu IO (immediate Occupancy) yangmana kekuatan dan kekakuan pada gedung hampir sama dengan kondisi sebelum terjadi gempa.Kata kunci: dinding geser komposit pelat baja, respon spektrum, analisis beban dorong, simpangan horizontal ABSTRACTOne of the method to minimize the displacement of structure affected by earthquake is by using shear wall. Shear wall can influence the ductility and stiffness to the structure. On the most recent technology, composite steel plate shear wall can combining the advantages and compensate the disadvantages  of concrete and steel shear wall. This study was conducted by using three models buildings with 10 story, 20 story, and 30 story with spectrum response methods and pushover analysis. The result of this study shows that  drift’s roof on structure using shear wall is smaller than the structure without one. Based on pushover analysis, when structure using shear wall with thickness 110 mm for three models are the same level in immediate occupancy which strength and stiffness in buildings is almost the same as the condition before earthquake.Keywords: composite steel plate shear wall, respons spectrum, pushover analysis, displacement
Tinjauan Ulang Mengenai Kadar Maksimum Lumpur Pasir dalam Campuran Beton Cara SNI Zulfikar Cozy; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.64

Abstract

ABSTRAKLumpur pada pasir akan menghalangi lekatan antara pasta semen dengan permukaan pasir, yang berakibat kekuatan mortar berkurang, dan akhirnya kuat tekan beton juga akan ikut berkurang. Kandungan lumpur dalam pasir dibatasi yaitu tidak boleh lebih dari 5% menurut SNI. Namun demikian perlu diteliti lebih lanjut seberapa besar sebenarnya kandungan lumpur dalam pasir yang menyebabkan kuat tekan beton mengalami penurunan secara signifikan. Dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kadar lumpur dalam pasir terhadap kuat tekan beton pada umur 28 hari dengan variasi kadar lumpur yang terdapat pada pasir yaitu 0%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; 15%; dan 17,5%. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan ukuran diameter 10 cm tinggi 20 cm, slump rencana yang digunakan yaitu 30 mm-60 mm dan 60 mm-180 mm dengan kuat tekan beton rencana 30 MPa. Hasil penelitian menunjukan penurunan kuat tekan beton terjadi pada kadar lumpur lebih dari 5%. Penurunan kuat tekan beton terjadi pada kadar lumpur 5% sampai dengan kadar lumpur 15%, mencapai maksimal 16%.Kata kunci: lumpur, kuat tekan beton, pasir ABSTRACTThe sludge content in the sand will block the attachment between cement paste and the surface of the sand, resulting in reduced mortar strength, and finally the compressive strength of the concrete will also decrease. The sludge content in sand is limited to not more than 5% according to SNI. However, it needs to be investigated further on how much the actual sludge content in the sand that causes concrete compressive strength has decreased significantly. In this study to determine the effect of the level of sludge in the sand on the compressive strength of concrete at 28 days with variations in the levels of sludge found in sand, namely 0%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5%, 15% and 17.5%. The specimens used were cylindrical with a diameter of 10 cm in height 20 cm, the planned slump used was 30 mm-60 mm and 60 mm-180 mm with a concrete compressive strength of 30 MPa planned. The results showed a decrease in concrete compressive strength in sludge content of more than 5%. Decreasing concrete compressive strength occurs at 5% sludge content up to 15% sludge content, reaching a maximum of 16%.Keywords: sludge, compressive strength, sand
Tinjauan Kembali Mengenai Batasan Gradasi Agregat Kasar dalam Campuran Beton Prilly Putri Prasanti; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.118

Abstract

ABSTRAKPersyaratan gradasi agregat kasar pada SNI dinyatakan dalam modulus kehalusan. Modulus kehalusan yang disyaratkan untuk agregat kasar adalah 6,0–7,1. Batasan gradasi agregat kasar yang ditetapkan dalam SNI seringkali tidak dipenuhi dalam pelaksanaan pekerjaan beton, terutama jika menggunakan agregat kasar berukuran 40 mm, yang mengakibatkan modulus kehalusan agregat kasar lebih besar dari 7,1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai batasan gradasi agregat kasar untuk mengetahui pengaruh yang diakibatkan bila agregat kasar melampaui batasan rentang modulus kehalusan yang telah ditetapkan. Penelitian dilakukan dengan membuat campuran beton menggunakan cara Dreux untuk kuat tekan rencana 30 MPa, nilai slump rencana 30–60 mm dan 60–180 mm, serta modulus kehalusan agregat kasar 6,0; 6,5; 7,0; 7,5; dan 8,0. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa campuran beton dengan modulus kehalusan agregat kasar di atas 7,0 tidak berpengaruh terhadap kuat tekan beton, maka batasan gradasi agregat kasar dapat dikembangkan dari 7,1 hingga 8,0.Kata kunci: batasan gradasi, modulus kehalusan, agregat kasar, kuat tekan beton ABSTRACT The requirements of coarse aggregate gradation in SNI stated with the fineness modulus. The fineness modulus required for coarse aggregates is 6.0–7.1. The limitations set in SNI are often not met in the implementation of concrete work, especially if using 40 mm aggregates, resulting in fineness modulus greater than 7.1. Further research on the coarse aggregate gradation limits is needed to determine the effects when it exceeded. The research is done by making concrete mixtures using Dreux's method with concrete compressive strength design  30 MPa, slump design 30–60 mm and 60–180 mm, as well as the coarse aggregate fineness modulus 6.0, 6.5, 7.0, 7.5, and 8.0. The results reveal that concrete mixtures with coarse aggregate fineness modulus above 7.0 do not affect concrete compressive strength, so the coarse aggregate gradation limitation can be extended from 7.1 to 8.0.Keywords: gradation limits, fineness modulus, coarse aggregate, concrete compressive strength
Kajian Perbandingan Kinerja Struktur Dinding Geser Komposit Berdasarkan Tingkatan Gedung Dimas EL Islamy; Erma Desmaliana; Nessa Valiantine Diredja
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.20

Abstract

ABSTRAKSalah satu metode untuk meminimalisir simpangan horizontal yang terjadi akibat gaya gempa pada struktur adalah dengan pemasangan dinding geser. Dinding geser mampu memberikan kekuatan dan kekakuan pada struktur gedung. Pada teknologi terkini, dinding geser komposit pelat baja mampu menggabungkan kelebihan dan mengkompensasi kekurangan dinding geser beton dan pelat baja.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan dinding geser komposit terhadap tingkatan struktur gedung. Penelitian ini dilakukan pada tiga pemodelan struktur gedung dengan jumlah lantai yaitu 10 lantai, 20 lantai, dan 30 lantai dengan menggunakan metode respon spektrum dan analisis beban dorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simpangan atap yang terjadi pada struktur dengan dinding geser lebih kecil dibandingkan struktur tanpa dinding geser. Berdasarkan analisis beban dorong, penggunaan dinding geser komposit pelat baja dengan tebal 110 mm untuk tiga pemodelan berada pada tingkatan yang sama yaitu IO (immediate Occupancy) yangmana kekuatan dan kekakuan pada gedung hampir sama dengan kondisi sebelum terjadi gempa.Kata kunci: dinding geser komposit pelat baja, respon spektrum, analisis beban dorong, simpangan horizontal ABSTRACTOne of the method to minimize the displacement of structure affected by earthquake is by using shear wall. Shear wall can influence the ductility and stiffness to the structure. On the most recent technology, composite steel plate shear wall can combining the advantages and compensate the disadvantages  of concrete and steel shear wall. This study was conducted by using three models buildings with 10 story, 20 story, and 30 story with spectrum response methods and pushover analysis. The result of this study shows that  drift’s roof on structure using shear wall is smaller than the structure without one. Based on pushover analysis, when structure using shear wall with thickness 110 mm for three models are the same level in immediate occupancy which strength and stiffness in buildings is almost the same as the condition before earthquake.Keywords: composite steel plate shear wall, respons spectrum, pushover analysis, displacement
Analisis Kinerja Persimpangan Jalan Laswi dengan Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung Menggunakan PTV VISSIM 9.0 Fadila Dwithami Ulfah; Oka Purwanti
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.74

Abstract

ABSTRAKPersimpangan Jalan Laswi – Jalan Gatot Subroto merupakan salah satu persimpangan di Kota Bandung yang menghubungkan daerah perkantoran, pendidikan, dan pusat perbelanjaan dengan daerah permukiman. Permasalahan yang terjadi yaitu, besarnya volume arus lalu lintas sehingga menyebabkan panjangnya antrian, dan lamanya tundaan. Tujuan peneletian ini adalah menganalisis kinerja persimpangan eksisting, dan menganalisis pengaruh optimalisasi waktu siklus terhadap kinerja persimpangan tersebut. Berdasarkan kondisi eksisting persimpangan, kinerja persimpangan sudah tidak bisa dianalisis menggunakan MKJI 1997 karena diperoleh  adalah 1,2036 atau simpang sudah lewat jenuh, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan PTV VISSIM 9.0. Hasil analisis kinerja persimpangan kondisi eksisting, dan optimalisasi waktu siklus (skenario pangaturan fase sinyal B3) yaitu, penurunan panjang antrian dan tundaan rata-rata simpang sebesar 9,70%, dan penurunan tundaan rata-rata simpang sebesar 19,57%.Kata kunci: persimpangan, panjang antrian, tundaan, lewat jenuh, optimalisasi waktu siklus ABSTRACTIntersection of Laswi road with Gatot Subroto road is one of the intersections in Bandung City that connects offices areas, education areas, and shopping centers areas with residential areas. Problems that occur is the amount of traffic flow that causes the length of the queue, and the length of delay. The purpose of this research was to analyze the performance of the existing intersection, and analyze the optimization of cycle times against the performance of these intersections. Based on existing intersection conditions, intersection performance cannot be analyzed using MKJI 1997 because   adalah 1.2036 or the intersection is over saturated, so the analysis continued using PTV VISSIM 9.0. The results of the intersection performance analysis of existing conditions, and optimization of cycle time (B3 signal phase settings scenario) that is, a decrease in the queue length of the average intersection by 9.70%, and a delay decrease of the intersection average by 19.57%.Keywords: intersection, queue length, delay, over saturated, optimization of cycle time
Re-design Breakwater di PPI Tulandale Berdasarkan Analisis Hidrodinamika dan Sedimentasi Regina Eugeny Destin Wirawan; Yessi Nirwana Kurniadi; Fitri Suciaty
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.30

Abstract

ABSTRAKPangkalan Pendaratan Ikan Tulandale berada di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Breakwater di PPI Tulandale tidak dapat melindungi kolam pelabuhan dari gelombang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah re-design breakwater pada PPI Tulandale agar dapat melindungi kolam pelabuhan. Simulasi hidrodinamika, transpor sedimen dan transformasi gelombang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Mike 21 untuk 2 buah skenario. Pada skenario alternatif 1, mulut pelabuhan di perkecil menjadi 50 m dan skenario alternatif 2 pada kondisi breakwater eksisting ditambah bangunan breakwater tegak lurus garis pantai sepanjang 200 m. Simulasi dilakukan selama 15 hari. Hasil analisis pada pemodelan, kondisi arus saat pasang purnama dan perbani bergerak dari arah barat daya kearah timur laut dengan kecepatan 0,00–0,08 m/s untuk alternatif 1, sedangkan kecepatan arus alternatif 2 arus sebesar 0,08–0,16 m/s. Hasil pemodelan hidrodinamika, transpor sedimen dan transformasi gelombang menunjukan bahwa bentuk re-design breakwater pada alternatif 2 efektif untuk melindungi kolam pelabuhan di PPI Tulandale karena dapat mereduksi gelombang sebesar 46,7% dari gelombang diluar kolam pelabuhanKata kunci: re-design breakwater, hidrodinamika, sedimentasi ABSTRACTTulandale Fishing Port Tulandale is located in Rote Ndao district, The province of Nusa Tenggara Timur. The Breakwater in Tulandale Fishing Port could not protect the port basin from the height of waves. The aimed of this study is to re-design breakwater in Tulandale Fishing Port in order to protect the port basin. The Hydrodynamic, sediment transport and waves transformation simulation are applied in this study by using mike 21 software for 2 scenarios. In the first scenario, the port basin width is reduced to 50 m and the second scenario is using the existing breakwater condition with the added breakwater building Perpendicular along the coast line for 200m. The simulation run of 15 days. The result show that the condition during the spring tide and neap tide move from south west to north east with 0.00-0.08 m/s for first scenario, while the current speed for the second scenario is is 0.08-0.16 m/s. Hydrodynamic result, sediment transport and wave transformation model that the shape of re-design breakwater on the second scenario more effective to protect the port basin at The Tuandale Fishing Port because the wave decrease at 46.7% from outside the port basin.Keywords: re-design breakwater, hydrodynamics, sedimentation
Pembesaran Gaya Dalam dan Rasio Kekuatan Elemen Struktur Baja untuk Berbagai Koefisien Modifikasi Respon (R) Wahyu Satria Komara; Kamaludin Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.86

Abstract

ABSTRAKPerencanaan struktur bangunan yang elastis membuat dimensi struktur yang di desain menjadi lebih besar sehingga biaya pembangunan struktur menjadi meningkat. Struktur bangunan harus di desain dengan suatu konsep tertentu sehingga bangunan tersebut dapat menahan beban yang terjadi secara efisien. Perencanaan struktur bangunan gedung dengan menggunakan koefisien modifikasi respon () ialah merencanakan bangunan untuk mengalami proses plastifikasi pada elemen struktur ketika terjadi gempa. Penelitian ini membandingkan model struktur bangunan dari rangka baja yang terdiri dari 10 lantai, dengan variasi koefisien modifikasi respon () yaitu, =3; 3,5; 4,5; 5; 6; 7; dan 8. Ketujuh model ini juga di dianalisis sesuai dengan sistem penahan gaya seismiknya. Analisis pada penelitian ini menggunakan program ETABS2015. Dari hasil analisis, diperoleh bahwa Semakin kecil nilai koefisien modifikasi respon () yang digunakan mempengaruhi rasio lentur yang terjadi. Perbesaran lentur pada kolom 18 (C18) ketika nilai =3 sebesar 52,47%.Kata kunci: koefisien modifikasi respon (), daktilitas, pembesaran gaya dalam ABSTRACTPlanning an elastic building structure makes the dimensions and designed structures larger and it can increases the cost of the construction itself. The building structures must be designed with a certain concept so, that the building can withstand the loads efficiently. A structure planning using the response modification coefficient () is to plan the building to experience a process of plasticization of the structural elements during an earthquake. This study compares the building structure model of a steel frame consisting of 10 floors, with variation in the modification coefficient of response () from =3; 3,5; 4,5; 5; 6; 7; until 8. The seven models are also analysed according to the seismic force retaining system.  The analysis in this study using the ETABS2015 program. From the results of the analysis, it was found that the smaller the value of the  response modification coefficient used will affects the bending ratio that occurs. The flexural force when the value of =3 in column 18 (C18) is 52.47%.Keywords: response modification coeffient, ductility, inner force enlargement
Studi Mengenai Kadar Maksimum Abu Terbang Sebagai Subtitusi Semen pada Campuran Beton dengan Kuat Tekan Tetap Dewindha Putri Dewanti; Abinhot Sihotang
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.42

Abstract

ABSTRAKPenggunaan beton dalam proyek konstruksi yang semakin besar, menuntut penggunaan semen yang semakin tinggi. Upaya yang banyak dilakukan adalah melakukan substitusi semen dengan suatu bahan yang sifatnya sama dengan semen. Abu terbang (fly ash) menjadi salah satu alternatif dalam pengurangan penggunaan semen. Pembuatan campuran beton normal digunakan cara SNI, dan untuk campuran beton abu terbang digunakan perancangan campuran beton metode Dreux dengan permodelan blended cement. Kuat tekan rencana yang dirancang sebesar 40 MPa dengan substitusi semen oleh abu terbang sebesar 0% sampai dengan 50%, dengan nilai pertambahan 5%. Ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan pengujian berupa kuat tekan beton dilakukakan saat umur beton mencapai 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Hasil kuat tekan beton umur 28 hari menunjukkan kadar maksimum substitusi semen oleh abu terbang menggunakan cara Dreux Gorrise dengan permodelan blended cement hanya mencampai kadar 20% abu terbang.Kata kunci: beton abu terbang, Dreux Gorrise, kuat tekan, semen blended ABSTRACTThe use of concrete in construction projects is getting bigger, demanding the use of cement which is increasingly high. The current effort is to do cement substitution with a material that has the same properties of cement. Fly ash is an alternative in reducing the use of cement. The preparation of normal concrete mixtures is used by SNI method, and for fly ash concrete mixtures, the Dreux method as a blended cement modeling concrete mixture design is used. The planned compressive strength of 40 MPa with cement substitution by fly ash is 0% to 50%, with a 5% increase. The maximum size of coarse aggregate used is 20 mm, and testing in the form of concrete compressive strength is done when the concrete reaches 7 days, 14 days, and 28 days. The results of 28 days old concrete compressive strength showed the maximum cement substitution level by fly ash using the Dreux Gorrise method with blended cement modeling only reaching 20% fly ash content.Keywords: fly ash concrete, Dreux Gorrise, compressive strength, blended cement
Analisis Tebal Lapis Perkerasan Jalan dengan Meninjau Sifat Fisik Agregat Lapis Fondasi Bawah pada Ruas Jalan Sofi-Wayabula Pulau Morotai Nurul Fauziah Endah Ningtyas; Samun Haris
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.97

Abstract

ABSTRAKJalan sebagai sarana penunjang transportasi darat memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan manusia. Salah satu material penting dalam pembuatan jalan adalah agregat. Sifat fisik agregat menjadi salah satu faktor penentu tebal lapisan struktur perkerasan. Ruas jalan Sofi–Wayabula adalah ruas jalan nasional strategis di Pulau Morotai dengan menggunakan perkerasan lentur. Agregat yang digunakan untuk lapis fondasi bawah pada ruas jalan ini adalah kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tebal lapis fondasi bawah berdasarkan koefisien kekuatan relatif ( ) yang didapat dari nilai CBR kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai dan agregat Eks. Palu pada struktur perkerasan lentur. Dari hasil perhitungan metode Manual Perkerasan Jalan 2017 didapatkan tebal lapis fondasi bawah sebesar 15 cm, bernilai sama, baik menggunakan kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai, maupun agregat Eks. Palu. Sedangkan, dengan menggunakan Pedoman Perkerasan Jalan Lentur 2011 didapat tebal lapis fondasi bawah sebesar 15,054 cm untuk kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai dan 14,608 cm untuk agregat Eks. Palu.Kata Kunci: perkerasan lentur, koefisien kekuatan relatif, lapis fondasi bawah. ABSTRACTRoads as a means of supporting land transportation have an important role to meet human needs. One of important material in road construction is aggregate. The aggregate physical properties become one of the determinants of the pavement thickness structure layer. The road segment of Sofi-Wayabula is a strategic national road in Morotai Island by using flexible pavement. The aggregate used for the sub-base course of the road is combination of aggregate Ex. Palu with Ex. Morotai aggregate. The purpose of this research is to analyze the thickness of the sub-base course based on relative strength coefficient  (a3) obtained from the value of CBR combination of aggregate Ex. Palu with Ex. Morotai aggregate and aggregate Ex. Palu on flexible pavement structures. From the calculation results of the Pavement Road Manual method 2017, the thick of sub-base course is 15 cm, have equal value using the combination of Ex. Palu aggregate with Ex. Morotai aggregate or the Ex.Palu aggregate. Meanwhile, by using Flexible Road Pavement Guideline 2011 the thickness of the sub-base course is 15,054 cm for combination of Ex.Palu aggregate with Ex. Morotai aggregate and 14,608 cm for Ex.Palu.Keywords: flexible pavement, relative strength coefficient, sub-base course.

Page 2 of 3 | Total Record : 24