cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 111 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2025)" : 111 Documents clear
Analisis Tradisi Dzikir Nasyid Sekumpul Martapura Alifullah Iqbal
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.873

Abstract

Dzikir nasyid merupakan salah satu bentuk tradisi keagamaan yang berkembang di Kalimantan Selatan, khususnya di Sekumpul, Martapura. Tradisi ini menggabungkan lantunan dzikir dengan nyanyian berirama yang khas, dan telah menjadi identitas spiritual masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejarah, makna, dan fungsi dzikir nasyid dalam konteks religius dan budaya di Sekumpul, serta kontribusinya dalam memperkuat spiritualitas umat Islam.Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana unsur-unsur lokal dan sufistik membentuk karakter dzikir nasyid di wilayah ini. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini mencakup pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran dzikir nasyid sebagai media dakwah, bentuk ekspresi spiritual, dan identitas budaya masyarakat Banjar. Penelitian ini juga diharapkan memberikan wawasan tentang bagaimana dzikir nasyid dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai spiritualnya.
Analisis Tradisi Brobosan Keranda Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam Almejiem Aditya Wijaya
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.874

Abstract

Tradisi brobosan merupakan bagian dari upacara adat kematian masyarakat Jawa yang melibatkan keluarga almarhum berjalan di bawah keranda jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi tersebut dari perspektif hukum Islam menggunakan pendekatan kaidah al-'adah muhakkamah. Data diperoleh melalui wawancara dengan Ustaz Abror Masrawi, seorang pengajar di Pondok Pesantren Darul Ilmi, yang menyatakan bahwa tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat selama tidak mengandung unsur kesyirikan atau dianggap wajib. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi brobosan dapat diterima dalam Islam sebagai bentuk pelestarian adat, selama pelaksanaannya tidak menyimpang dari nilai-nilai tauhid dan syariat. Tradisi ini memiliki nilai sosial yang relevan dengan tujuan syariat, yaitu menjaga harmoni dan hubungan sosial dalam masyarakat. Dengan demikian, tradisi brobosan mencerminkan bagaimana adat dan agama dapat berjalan selaras, sekaligus menjadi bentuk kearifan lokal yang patut dijaga.
Analisis Hukum Tentang Tradisi Batatamba Atau Pengobatan Tradisional Di Masyarakat Banjar Aulia Jannati
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.876

Abstract

Tradisi merupakan bagian dari warisan budaya dari generasi ke generasi dan memiliki peran penting dalam identitas masyarakat tertentu. Dalam masyarakat Banjar, praktik penyembuhan tradisional yang dikenal sebagai "Batatamba" merupakan contoh warisan budaya yang mempunyai keunikan tersendiri dan diwariskan secara turun temurun. Ritual batatamba yang dilakukan untuk mengobati berbagai penyakit fisik maupun psikis ini, melibatkan penggunaan bahan/barang, ramuan herbal dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan masyarakat Banjar terhadap ritual Batatamba, serta mengkaji kedudukan hukumnya dalam ajaran Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dengan teknik wawancara sebagai data primer dan tinjauan Pustaka sebagai data sekunder. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa tradisi Batatamba diyakini tidak hanya mampu mengatasi penyakit fisik tetapi juga masalah psikologis dan spiritual. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa Batatamba tetap menjadi praktik penting dengan menekankan perlunya pemahaman yang mendalam terhadap praktik penyembuhan tradisional.
Analisis Hukum Tentang Pembagian Harta Warisan Secara Rata Menurut Masyarakat Banjar Auliana
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.878

Abstract

Artikel ini membahas mengenai pembagian warisan secara rata. Pembagian warisan secara rata merujuk pada sistem pembagian harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup, di mana setiap ahli waris menerima bagian yang sama besar. Pembagian warisan seperti ini sering terjadi pada masyarakat Banjar dengan tujuan untuk menjaga kesetaraan dan mencegah konflik di antara semua ahli waris. Pembagian harta warisan secara merata hanya dapat dilaksanakan apabila semua ahli waris yang berhak telah memberikan persetujuan dan kesepakatan secara bersama-sama, tanpa ada keberatan dari pihak manapun. Jadi, pelaksanaan dari pembagian warisan secara rata bisa tidak diperbolehkan, jika terdapat perbedaan pendapat atau ketidaksetujuan di antara ahli waris.
Pelaksanaan Tradis Tolak Bala Keliling Kampung Pada Masyarakat Banjar Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Kelurahan Kelayan Timur, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin) Bambang Fahmiyannor
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.880

Abstract

Tradisi Tolak Bala merupakan salah satu bentuk warisan budaya masyarakat yang masih dipertahankan hingga kini, khususnya di Kelurahan Kelayan Timur, Banjarmasin. Tradisi ini bertujuan untuk menangkal bala dan bencana melalui serangkaian ritual keagamaan seperti doa, shalawat, mengarak kitab Shahih Bukhari, serta shalat berjamaah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini dianggap sebagai bentuk ikhtiar masyarakat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mempererat hubungan sosial. Meskipun tidak terdapat dalil spesifik dalam Alquran maupun hadis, tradisi ini tetap dilakukan dengan syarat tidak mengandung unsur syirik. Dalam konteks masyarakat majemuk, tradisi Tolak Bala mencerminkan adaptasi ajaran Islam dengan budaya lokal, yang diharapkan dapat menjaga harmoni sosial dan spiritual masyarakat.
Analisis Hukum Kebiasaan Masyarakat Banjar Menyiapkan Piduduk Ketika Ingin Melakukan Perkawinan Perspektif Ulama (Studi Kasus Kota Pelaihari) Cahaya Inayah; Diana Rahmi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.882

Abstract

Tradisi piduduk dalam perkawinan adat Banjar merupakan suatu tradisi yang bertujuan untuk menghormati leluhur dan memohon perlindungan agar pernikahan berlangsung lancar. Namun, tradisi ini kerap dipandang bertentangan dengan ajaran Islam karena adanya unsur meminta pertolongan kepada selain Allah SWT. Penelitian ini berfokus pada analisis tradisi piduduk dalam pernikahan adat Banjar dari sudut pandang pendapat Ulama. Penelitian dilakukan di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dan kajian pustaka, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menurut Ustadz H menunjukkan Jika piduduk dilaksanakan dengan niat untuk menghindari gangguan makhluk halus, tradisi ini termasuk `Urf Fasid tradisi yang harus dihindari. Sebaliknya, jika tradisi piduduk dilaksanakan dengan niat untuk permohonan berkah dan perlindungan kepada Allah SWT, sebagai ungkapan syukur atas nikmat pernikahan yang akan dilangsungkan serta memohon kelancaran dan keberkahan bagi pasangan pengantin maka tradisi ini boleh dilaksanakan dan termasuk ‘Urf Shohih.
Analisis Hukum Islam Terhadap Tradisi Batumbang Apam Pada Masyarakat Banjar Farah Huwaida
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.884

Abstract

Salah satu bagian dari tradisi di Indonesia adalah tradisi Batumbang Apam yang dilakukan pada masyarakat Banjar. Tradisi Batumbang Apam adalah tradisi masyarakat Banjar dalam rangka tasyakuran orang tua terhadap anaknya. Inti dari acara Batumbang Apam adalah pembacaan shalawat dan doa untuk anak, serta orang tua disyaratkan menyediakan kue apam serta uang logam yang nantinya akan dibagi-bagikan kepada seluruh masyarakat yang hadir dalam acara tersebut, khususnya anak-anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang kebolehan tradisi Batumbang Apam menurut hukum fikih. Alasan penelitian ini dilakukan adalah karena tradisi ini sering kali dilakukan oleh masyarakat, namun mereka belum mengetahui bagaimana hukum fikihnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggabungkan metode wawancara dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tradisi Batumbang Apam dihukumkan boleh, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dan tidak mengandung kemudharatan.
Analisis Hukum Tentang Kepercayaan Masyarakat Banjar Terhadap Babilangan Nama Sebelum Menikah Fauzia Hayati
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.886

Abstract

Tradisi Babilangan merupakan salah satu kepercayaan yang masih kuat dipegang oleh masyarakat Banjar dalam menentukan kecocokan pasangan dan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi tradisi Babilangan dengan hukum Islam serta implikasinya dalam konteks masyarakat modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian empiris dan normatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pelaku tradisi Babilangan dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Babilangan merupakan proses penghitungan aksara nama untuk meramalkan keberuntungan atau sebaliknya dalam kehidupan mendatang seseorang yang melibatkan perhitungan numerik dari aksara nama calon pengantin, yang kemudian diinterpretasikan untuk meramalkan kehidupan pernikahan mereka. Praktik ini berakar dari percampuran budaya Melayu Banjar dan Islam, dengan tujuan mencari keberkahan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Secara hukum Islam, Babilangan dapat dipandang sebagai upaya ikhtiar yang tidak bertentangan dengan syariat jika dilakukan dengan niat yang baik. Konsep maṣlaḥah dalam Islam memberikan ruang bagi praktik-praktik yang dapat mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat. Namun, penting untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan ajaran agama agar tidak menyimpang ke arah takhayul. Secara hukum Islam, Babilangan dapat dikategorikan sebagai 'urf fi'li atau kebiasaan yang bersifat amali, dan dapat dikategorikan sebagai 'urf-shahih jika tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.
Analisis Hukum Kepercayaan Masyarakat Banjar Terhadap Penggunaan Tali Haduk Sebagai Pelindung Diri Perspektif Hukum Islam Febria Rahma
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.888

Abstract

Kepercayaan terhadap kekuatan supranatural dan makhluk halus merupakan bagian integral dari berbagai budaya di dunia,termasuk pula masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Salah satu manifestasi kepercayaan tersebut adalah penggunaan tali haduk yang dipercaya dapat melindungi diri dari gangguan makhluk halus. Fenomena ini menarik untuk diteliti karena di satu sisi menunjukkan kekayaan budaya lokal, namun di sisi lain juga menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepercayaan masyarakat Banjar terhadap tali haduk dalam perspektif hukum islam. Diharapkan penelitian ini bisa memberikan kontribusi dalam memahami dinamika interaksi antara kepercayaan tradisional dan ajaran Islam dalam konteks masyarakat Banjar, serta memberikan rekomendasi bagi masyarakat dalam menyikapi praktik-praktik yang mengandung unsur kepercayaan terhadap hal-hal yang ghaib.
Analisis Hukum Tentang Tradisi Batajak Tihang Saat Membangun Rumah Pada Masyarakat Banjar Fiqri Norrahman
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v3i1.890

Abstract

Tradisi batajak tihang merupakan bagian dari upacara adat masyarakat Banjar dalam proses membangun rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hukum melaksanakan tradisi tersebut. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan Ustaz Abror Masrawi, seorang pengajar di Pondok Pesantren Darul Ilmi, yang menjelaskan bahwa selama tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat Islam selama tidak mengandung unsur kesyirikan maka boleh saja dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batajak tihang dapat diterima dalam Islam sebagai bentuk pelestarian budaya lokal, selama pelaksanaannya tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat. Tradisi ini memiliki nilai sosial yang sejalan dengan tujuan syariat, yakni mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan sosial di masyarakat. Dengan demikian, tradisi batajak tihang mencerminkan bagaimana adat dan agama dapat berjalan selaras, sekaligus menjadi bentuk kearifan lokal yang patut dijaga.

Page 2 of 12 | Total Record : 111